Nalika kabeh wong usreg lan kaweden marga anane pawarta saka Badan Meteorologi dan Geofisika, sing ngandharake menawa Gunung Merapi bakal njeblug; pamarintah paring pambiwara supaya wong-wong ing tlatah saerenging gunung padha mlayu ngungsi, nylametake dhiri. Kalebu Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana X uga paring dhawuh. Nanging kepriye sikep lan tanggapane Mbah Marijan? Piyambake ora mosik lan tetep mbegegeg emoh ngungsi. Malah nalika kahanane gunung Merapi dianggep banget mbebayani, Mbah Marijan malah munggah menyang pucuking gunung. Pungkasane, kasunyatan gunung ora njeblug kanthi mbebayani. Wong-wong padha gumun marang panemu lan sikepe mbah Marijan iki.

Kraton Kotagede
Tulisan berikut adalah cerpen dalam bahasa Jawa yang menggambarkan satu moment sejarah yang telah menjadi legenda kisah turun-temurun banyak diceritakan oleh kawula Mataram sejak dulu; yaitu kisah tragis berjodohnya Putri Pembayun dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya. ..Saat itu Panembahan Senapati merintis kerajaan Mataram berpusat di wilayah bekas hutan Mentaok, tanah pemberian Sultan Hadiwijaya di Pajang (yang sekaligus ayah angkat P. Senapati) kepada ayah kandungnya = Ki Pemanahan, karena telah berjasa dalam mengalahkan Arya Penangsang dari Jipang. Ada seorang pemimpin muda tanah perdikan di sebelah selatan yang tidak mau tunduk kepada pusat kekuasaan baru di Mataram itu. Dialah Ki Ageng Mangir… (lagi…)
Jangan tertawakan saya bila nyatanya memang belumlah lama saya mengetahui nama Joseph Stiglitz dan sekedarnya tahu siapakah dia itu. Hal itu karena sebagai wong ndeso tentunya saya memang tidak begitu berkepentingan dengan pemikiran pakar-pakar ekonomi internasional. Saya pertama mengetahuinya justru karena saya membuka-buka buku tulisan Amien Rais
berjudul “Agenda Mendesak Bangsa: SELAMATKAN INDONESIA” yang dijajakan di kios buku di kompleks utara Taman Pintar Yogyakarta baru beberapa minggu lalu. Baru setelah itulah saya mencari tahu lebih lanjut tentang Joseph Stiglitz dengan browsing di internet ini.
Ber-Boedi Oetomo
oleh:
Lambang Trijono,
Sosiolog Fisipol UGM
Perkumpulan Boedi Oetomo berdiri tahun 1908. ‘Kelahiran’ ini dijadikan bangsa kita sebagai pijakan awal sejarah pertama kali lahirnya kebangkitan nasional Indonesia sebagai bangsa modern. Apa sebenarnya esensi dari pergerakan ini dan pelajaran apa yang harus dipetik generasi sekarang, untuk menjawab tantangan hidup bangsa sekarang dan di masa mendatang, memasuki abad 21 penuh tantangan ini?
Diarsipkan di bawah: Mutiara Sejarah, Yogyakarta | Tag: kebangkitan nasional, Sejarah, Yogyakarta
Seratus Tahun
“Boedi Oetomo”
Organisasi Pemuda
Bangsa Indonesia
( 20 Mei 1908 – 20 Mei 2008 )
Sbgmn blog ini saya maksudkan utk menuturkan dan mewadahi wacana dialog antar budaya di era post-modern (sejauh pemahaman saya); berikut ini saya ceritakan pengalaman saya sbg seorang Islam yg memelihara anjing. Bukan utk memancing perdebatan, apalagi dlm hal keagamaan, namun justru utk memahami antar budaya yg dilandasi oleh perbedaan adat-kebiasaan masyarakat lokal yg antara lain didorong oleh kebutuhan masyarakat setempat. Semoga maklum dan bermanfaat.
Kata “wong ndeso” tentu kini semakin dikenal setelah sering diucapkan oleh Tukul Arwana dalam acara “Empat Mata” di TV Trans 7 yang biasa ditayangkan Senin-Jum’at jam 21.30-23.00 WIB (bukan promosi acara TV, lho; hampir semua orang sudah tahu, kok). Tukul Arwana sendiri sih adalah orang Jawa asal dari Semarang, jadi ia tentu sangat paham dengan makna kata “wong ndeso”. (lagi…)
Saya ragu apakah di Pilpres 2009 nanti (bila masih diberi Tuhan hidup) akan menggunakan hak pilih saya. Hingga kini belum ada calon yang saya anggap cocok serta meyakinkan. Semoga saja bila saatnya tiba nanti, perbandingan profil dari para kandidat yang muncul itu menjadi lebih jelas; sehingga sebagai warga negara yang baik saya akan datang ke TPS dgn kemantapan untuk ikut menunaikan dan memberikan hak suara saya.
… Jujur, hingga kini saya memang justru menjadi heran bila disebutkan bahwa Sri Sultan HB X menduduki peringkat teratas atau terkuat dari hasil2 polling atau survey. Saya berpikir, apa sih keistimewaan Ngarso Dalem Sri Sultan HB X itu? Apa sih yang ada di benak orang2 yg disurvey atau di-polling itu; ttg performance kepemimpinan Sri Sultan HB X? Lha wong saya sebagai wong ndeso Yogya saja hanya menganggap Sri Sultan HB X itu sbg pemimpin yg biasa2 saja kok? Wah, ini sungguh aneh. Memang begitulah saya berpikir.
Perlu dan mohon diketahui oleh semuanya ya, … kalaulah Yogyakarta itu disebut Istimewa; maka yg istimewa itu adalah budayanya atau bahkan mungkin adalah rakyatnya itu sendiri ! Apakah kalian pikir yang istimewa itu adalah Sultan-nya, yang sekarang?
Tulisan berikut ini adalah tulisan dari seorang sepuh mantan pejabat tinggi di PemDa DIY yang memberikan gambaran tentang kondisi pendidikan (atau budaya pemondokan mahasiswa?) di Yogyakarta sejak awal kemerdekaan hingga perbandingannya dengan perkembangan terkini.
Dalam sejarah tanah air kita, banyak para raja dan kaum bangsawan menjadi tokoh perlawanan terhadap kaum penjajah. Hal ini tentulah sesuatu yang wajar. Kekuatan asing yang datang menyerbu juga mengancam secara langsung kekuasaan para raja sendiri. Namun sebagai rakyat jelata (dan mungkin keturunan rakyat jelata sejak dulu pula, meski simbah kita merasa bangga kalau punya riwayat yang dihubungkan dengan silsilah keluarga kraton), kita dapat bertanya sejauh manakah sesungguhnya peran keluarga raja-raja dan para bangsawan itu dalam pertahanan dan ketahanan bangsa menghadapi penjajah. Benarkah mereka itu adalah para patriot pelindung rakyat bumi pertiwi dari cengkeraman bangsa asing? Ataukah justru mereka adalah orang atau kelompok kelas yang merasa berhak untuk menguasai rakyat bumi pertiwi ini, lalu mereka berebutan kuasa sendiri di antara sesama bangsawan kalangan kerabat raja itu? Dan (karena itu) sesungguhnya kenyataannya mereka mengorbankan kepentingan rakyat bumi pertiwi hanya untuk saling berebut bagian isi piring kekuasaan? (lagi…)



