Karya ini terbit pertama kali tahun 1982 sebagai cerita bersambung di Harian Kompas, dan bahkan pada tahun 1983 sempat difilmkan. Saat diterbitkan dalam bentuk buku, maka trilogi ini pertama dulu terbit menjadi 3 buku yaitu; Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Di tahun 2008 Penerbit Gramedia merilisnya menjadi satu buku setebal 800-an halaman.
Ada beberapa novel/roman sejarah ditulis orang; namun yang menceritakan masa-masa Mataram pasca Sultan Agung rasanya memang tidak banyak ditemukan. Romo Mangun bukan hanya sekedar mengisi ruang kosong itu; namun merangkai cerita rakyat ini menjadi berlanjut, dengan meramunya dengan fakta-fakta dan tafsir sejarah dengan penggambaran latar budaya yang cukup lengkap. Orang Jawa yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan budaya ini serta berminat terhadap peninggalan budaya dan perkembangannya di masa lalu akan mendapatkan perluasan wawasan keseluruhannya serta pemahaman terhadap runtut konteks waktu-nya. Sedangkan, orang bukan Jawa akan memperoleh pengetahuan tentang beberapa tinggalan kekayaan budaya Jawa, seperti: tembang-tembang Macapat, ilmu titen dalam primbon, katuranggan (terutama kuda tapi mungkin juga wanita), macam-macam folklore Jawa, dan seterusnya. Dalam merangkai cerita, Romo Mangun mengutip filosofi, pepatah dan syair-syair dalam tembang Jawa Macapat, tidak lupa ditambah dengan humor-humor segar slengekan atau plesetan tembung unen-unen.
Beberapa resensi/review tentang buku ini telah ditulis orang di situs-buku ataupun blog; maka tentu tidak banyak bermanfaat bila saya sekedar menceritakan kembali isi buku dan alur ceritanya. Bagi orang Jawa apalagi Yogyakarta (lokasi di mana sebagian besar peristiwa dalam cerita ini berpusat terjadi); cerita Rara Mendut adalah cerita rakyat yang telah diwariskan turun temurun dari mulut ke mulut melewati beberapa generasi. Bukan pula mengulas dengan membandingkannya dengan cerita yang selama ini beredar di masyarakat; namun marilah mengupas karya ini untuk memahami kondisi Mataram dan perkembangan peradaban masyarakatnya yang sesungguhnya kala itu. Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa kali posting.
Seri No. ISBN: 978-979-22-3583-8
Penulis :Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU) 20108005|23
Tahun Terbit: 2008
Jumlah Halaman: 800 hlm.
Berat Buku: 800 gram (utk soft-cover)
Dimensi (L x P): 15 cm X 23 cm
Harga: antara Rp 75 rb (edisi softcover yg ter-diskon) hingga Rp 130 rb (hardcover di toko buku mahal), hingga Januari 2010 ini.
Diarsipkan di bawah: Sejarah | Tag: Amangkurat I, Kerajaan Mataram, Mataram, Panembahan Rama, Pangeran Pekik, Pangeran Purbaya, Raden Kajoran, sejarah Mataram, Speelman, Trunajaya, VOC
Putra dan pengganti Sultan Agung (-Hanyakrakusuma) sebagai penguasa atas kerajaan Mataram adalah Susuhunan Amangkurat I (1646-1677 M). Program pokok pemerintahannya adalah usaha mengkonsolidasikan kerajaan Mataram, mensentralisasikan administrasi dan keuangan, serta menumpas semua perlawanan. Dia ingin merubah kerajaan yang telah didasarkan Sultan Agung pada kekuatan militer dan kemampuan untuk memenangkan atau memaksakan suatu mufakat menjadi suatu kerajaan yang bersatu, yang sumber-sumber pendapatannya dimonopoli untuk kepentingan raja. Apabila berhasil maka dia akan merombak politik Jawa, tetapi usaha-usahanya itu sudah ditakdirkan mengalami kegagalan; fakta-fakta geografi, komunikasi, dan populasi yang menentukan bahwa kekuasaan administratif di Jawa harus didesentralisasikan tidak dapat diubah dengan perintah raja. Sebagai akibat dari kebijakan-kebijakannya, Amangkurat I mengucilkan orang-orang yang kuat dan daerah-daerah yang penting, yang akhirnya menyebabkan berkobarnya suatu pemberontakan yang terbesar selama abad XVII; hal ini mengakibatkan tumbangnya wangsa tersebut dan campurtangan VOC.
Diarsipkan di bawah: Serba-serbi | Tag: cinta dan uang, facebook, puisi dan politik, siaran televisi
Sajak-e gemblung? Jebul pancen tenan.
Bapak2, Ibu2, kubuat empat sajak-e.
Ayo dibaca. Smoga mnghibur ya?
Dadu Sudah Dilempar
Dadu sudah dilempar
Dada makin berdebar
Mana yang ‘kan terkapar?
Ku di sini menanti
Bertepuk-tangan lagi
Menambal baju sendiri
Apa yang ’kan kuberi
Jangan kautanya lagi
Jatahku menagih janji
Kau tak minta do’a
Kau tak minta restu
Apa-apaan kamu?
-oOo- (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Sejarah
Tanggal 17 Agustus ini kita genap 64 tahun merdeka. Berikut ini beberapa petikan peristiwa yang terjadi pada awal masa kemerdekaan; masa di mana orang merasa bangga dengan CARA HIDUP SEDERHANA. (lagi…)
Tersebutlah ada sepasang suami-istri (kakek-nenek) ‘orang kaya lama’ yang masih hidup di kampungku hingga tahun-tahun 1990-an. Mereka adalah Mbah X sekaliyan. Mbah X kakung (juragan gabah) meninggal sekitar tahun 1995, sedangkan Mbah X putri (juragan gula kelapa) baru meninggal sekitar tahun 2004. Mbah X adalah juragan gabah jaman dulu. Dia punya banyak sawah, luas; dan sungguh-sungguh juragan gabah dan beras. Tipikal seperti itulah yang disebut orang kaya di desaku sampai sebelum tahun 1980-an atau awal 1980-an.
Ada satu pola hubungan ekonomi yang dikendalikan oleh juragan-juragan gabah seperti Mbah X sekaliyan ini pada tahun-tahun sebelum 1970-an dan sebelumnya lagi. Banyaknya buruh tani yang hanya menjadi petani penggarap dan tidak punya sawah yang cukup (kalaupun punya hanya terlalu sempit), menjadikan bila suatu saat mereka butuh beras/gabah untuk makan, maka mereka akan berhutang kepada si juragannya yaitu juragan si pemilik sawah atau juragan gabah itu (yang mungkin/kemungkinan besar sawahnya digarapnya). Mereka belum tentu mampu mengembalikan hutang berasnya itu (dengan beras, apalagi uang) dan mereka juga tidak mau / tidak punya barang/harta berharga untuk jaminan. (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Sejarah | Tag: Kerajaan Mataram, militer Jawa abad ke-17, Sultan Agung, Sultan Agung Hanyakrakusuma
Sultan Agung (memerintah 1613-1646), raja terbesar dari Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda (ing) Krapyak, setelah ayahandanya ini wafat pada tahun 1613. Dalam kenyataannya dia tidak memakai gelar sultan sampai tahun 1641; mula-mula dia bergelar pangeran atau panembahan dan sesudah tahun 1624 dia bergelar susuhunan (yang sering disingkat sunan, gelar yang juga diberikan kepada kesembilan wali). Namun demikian, disebut Sultan Agung sepanjang masa pemerintahannya dalam kronik-kronik Jawa, dan gelar ini biasanya dapat diterima oleh para sejarawan. Dia adalah yang terbesar di antara raja-raja pejuang dari Jawa. Tidak semua peperangan yang tertulis dalam kronik-kronik Jawa dapat dicek kebenarannya dalam sumber-sumber VOC, tetapi gambaran umum tentang penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh Mataram tampaknya tepat. (lagi…)
Kini televisi telah dapat marak menampilkan dan mengulas visi-misi dari paket-paket pasangan Capres-Cawapres. Hal seperti ini tidak terbayangkan pada 15 tahun yang lalu, saat membicarakan ttg suksesi saja (istilah halus utk niat menjungkalkan Soeharto dari kursinya krn sudah terlalu membosankan), sepertinya dianggap tabu.
Tapi karena menyangkut alasan menjaga citra dan tata-krama; bolehlah kita maklumi bahwa yang namanya “DEBAT” sekalipun, maka baru akan tampil jadi “DEBUT” sajalah. Sudah bagus, kok. Bandingkan saja dengan lima belas tahun yang lalu itu tadi. Dulu itu, Menteri Penerangan saja selalu “minta petunjuk Bapak Presiden”.
Kini di jaman internet, Blog dapat menjadi pelengkap, menjadi ‘perekam’ media lain, lalu menyajikannya bagi orang-orang lain yang tak sempat menonton atau membacanya langsung.
Maka setelah ‘rekaman’ penampilan Prabowo dan wawancara dengan Boediono saya tampilkan, tidak lengkap rasanya bila tidak menampilkan sosok dari paket pasangan yang satunya sekalian. Maka berikut ini adalah ‘rekaman’ wawancara wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) dengan Jusuf Kalla, yang dimuat di Harian Jogja; Rabu, 9 Juni 2009:
Bagaimana visi dan misi bila jadi Presiden? (lagi…)
Meleset dari yang saya harapkan, setelah menunggu-nunggu, ternyata TVRI pada pd Senin 1 Juni 2009 jam 22.00 WIB tidak menayangkan acara Dialog Aktual Plus, yang sudah di-announce pada episode sebelumnya oleh host acara itu katanya akan akan menampilkan Boediono. Saya cukup jengkel dan menggerutu karenanya. Tidak ada pemberitahuan secuil meski lewat running-text sekalipun. Saya nggak jadi muji TVRI, dah.
Namun kekecewaan saya ini atau siapapun kiranya tidak usah berlarut-larut. Kini kita syukuri hampir tiap malam, apalagi setelah masuk masa kampanye ini, kita dapat melihat bahasan-bahasan visi-misi capres-cawapres kita di banyak stasiun TV. Selain itu toh kita juga masih dapat baca di koran atau media-massa lain. Pendeknya masa waktu kampanye menjadikan media yang massal dapat menjangkau publik pemilih menjadi pilihan yang efektif bagi para capres-cawapres. Blog di internet dapat menjadi ‘perekam’ yang menyajikannya bagi orang-orang lain yang tak sempat menonton atau membacanya langsung.
Berikut ini adalah ‘rekaman’ wawancara wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) dengan Boediono, yang dimuat di Harian Jogja; Selasa, 9 Juni 2009: (lagi…)
Diarsipkan di bawah: budaya politik | Tag: cerpen Jawa, money politics, pilkades
Jaya Sentika lenger-lenger. Minangka botohe Juragane Badrun sing wis melu muter-muter nyebar wuwur dheweke ngira menawa Juragane Badrun bakal menang awit sing disebari wuwur paling ora separo saka kabeh sing milih lan ora ana sing nulak kejaba Nardi lan kanca-kancane.
Diperbarui dengan tambahan mengikuti tanggapan pembaca.
Ini adalah sebuah cerpen (cerita pendek) dalam bahasa Jawa yang saya kutipkan dari sebuah majalah berbahasa Jawa. Sebuah snap-shot yang jujur dan pas-serta-tanggap memotret kenyataan kebiasaan yang masih begitu banyak terjadi di masyarakat tentang praktik politik-uang dalam Pemilihan Kepala Desa (PilKaDes) .
‘Wuwur’, memang sebuah kata yang tidak cukup lazim (lagi) digunakan dalam percakapan sehari-hari baik di Yogya dan Jawa Tengah sekalipun. Saya tidak tahu daerah asal budaya penulis dan apakah kosa kata ini juga biasa digunakan dan dipahami di sana. ‘Wuwur’, dalam pemahaman saya orang pinggiran Yogya, berarti menabur-nabur atau menyebar-nyebar butir-butiran kecil dalam jumlah banyak.
Ini adalah sebuah potret, entah potret dari masa lalu, masa kini maupun yang masih berlanjut di hari esok. Entah pula apakah sebuah model sistem kampanye yang lebih bertanggungjawab-moral dan lebih rasional akan dapat menggesernya ataukah tidak.
Menjelang PilPres 8 Juli nanti masing2 paket pasangan capres-cawapres dlm pre-kampanye mereka sudah mulai menggulirkan isu-isu ttg kebijakan yg akan dijalankannya bila terpilih. Prabowo Subianto dr Gerindra dalam iklan2nya di televisi sejak menghadapi PilLeg lalu menggemborkan ttg gelora Indonesia Raya bermodalkan kekuatan rakyat (paling tidak begitulah yg dikatakannya); SBY dr Demokrat selaku capres incumbent -yg hasil polling bbrp lembaga survey masih menyatakan dia yg paling populer- ternyata memilih Boediono sebagai pasangannya sbg cawapres. Tersebar rumor sorotan –terutama dr yg kurang setuju- bahwa Boediono ini adalah seorang penganut paham ekonomi neo-liberal. Sdgkan, JK masuk kunjungan ke pasar2 tradisional.
Kita tentu patut bersyukur bila kini media massa terutama televisi dapat marak menampilkan dan mengulas visi-misi dari paket2 pasangan Capres-Cawapres ini. Hal seperti ini tidak terbayangkan pada 15 tahun yang lalu, saat membicarakan ttg suksesi saja (istilah halus utk niat menjungkalkan Soeharto dari kursinya krn sudah terlalu membosankan), sepertinya dianggap tabu, pamali. Kini publik dapat menilai visi-misi orang yg akan mereka pilih sbg pemimpin nomer satu Republik ini, dari bbrp pilihan, lewat media televisi. Tentu kita patut bersyukur.
Dr banyak stasiun televisi yg menayangkan itu dg modelnya masing2, TVRI dg acara Dialog Aktual Plus juga menghadirkan capres/cawapres ini. Pada Kamis 28 Mei 2009 jam 22.00-23.00 WIB ditampilkanlah Prabowo Subianto, sedangkan pada pd Senin 1 Juni 2009 y.a.d, akan ditampilkan Boediono.
Pd saat menampilkan Prabowo ini, host didampingi oleh bbrp akademisi FE-UI a.l.: Prof. Sri Edi Swasono, Dr. Nina; dan Prof. Irwan dari Universitas Andalas. Berikut ringkasan yg sempat saya catat: (lagi…)









