Sebagai tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara tidak seperti Ivan Illich atau Rabrindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah sebagai siksaan yang harus segera dihindari. Ki Hajar berpandangan bahwa melalui pendidikan akan terbentuk kader yang berpikir, berperasaan, dan berjasad merdeka serta percaya akan kemampuan sendiri. Arah pendidikannya bernafaskan kebangsaan dan berlanggam kebudayaan.
Seorang tokoh seperti Ivan Illich pernah berseru agar masyarakat bebas dari sekolah. Niat deschooling tersebut berangkat dari anggapan Ivan Illich bahwa sekolah tak ubahnya pabrik yang mencetak anak didik dalam paket-paket yang sudah pasti. “…bagi banyak orang, hak belajar sudah digerus menjadi kewajiban menghadiri sekolah”, kata Illich. Demikian pula halnya dengan Rabindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah seakan-akan sebuah penjara. Yang kemudian ia sebut sebagai “siksaan yang tertahankan”.
Ada benarnya ketika setiap pendidikan harus mampu mengarah dan mengubah status quo. Dan ini tidak berarti benar ketika menganggap sekolah tidak penting. Anak-anak dengan senang hati, umumnya masih berangkat ke sana. Kita, dan mereka, tahu; bukan mata pelajaran serta ruang kelas itu yang membikin mereka betah. Melainkan teman dan pertemuan. Bisa saja, Illich dan Tagore keliru. Sekolah juga keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.
Namun, banyak kalangan sering menyejajarkan Ki Hajar Dewantara dengan Rabindranath Tagore, seorang pemikir, pendidik, dan pujangga besar kelas dunia yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional India, karena mereka bersahabat dan memang memiliki kesamaan visi dan misi dalam perjuangannya memerdekakan bangsanya dari keterbelakangan.
Tagore dan Ki Hajar sama-sama dekat dengan rakyat, cinta kemerdekaan dan bangga atas budaya bangsanya sendiri. Tagore pernah mengembalikan gelar kebangsawanan (Sir) pada raja Inggris sebagai protes atas keganasan tentara Inggris dalam kasus Amritsar Affair. Tindakan Tagore itu dilatarbelakangi kecintaannya kepada rakyat. Begitu juga halnya dengan ditanggalkannya gelar kebangsawanan (Raden Mas) oleh Ki Hajar. Tindakan ini dilatarbelakangi keinginan untuk lebih dekat dengan rakyat dari segala lapisan. Antara Ki Hajar dengan Tagore juga merupakan sosok yang sama-sama cinta kemerdekaan dan budaya bangsanya sendiri. Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari “strategi” untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana; apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi.
Di barat, Paulo Freire hadir dengan konsep pendidikan pembebasan. Di sini, Ki Hajar Dewantara menjadi pahlawan pendidikan nasional karena pendidikan sistem among yang ia kembangkan di taman siswa. Ungkapannya sangat terkenal; “tut wuri handayani”, “ing madya mangun karsa”, dan “ing ngarsa sung tulada”. Istilah inipun tak hanya populer di kalangan pendidikan, tetapi juga pada berbagai aspek kehidupan lain.
Siapakah sebenarnya tokoh pelopor pendidikan bangsa ini?
Siapa sih, yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Pejuang gigih, politisi handal, guru besar bangsa, pendiri Taman Siswa, memang sudah diakui oleh sejarah. Tapi sebagai pribadi yang keras tapi lembut, ayah yang demokratis, sosoknya yang sederhana, penggemar barang bekas, belum banyak orang tahu. Bahkan bagaimana tiba-tiba dia dipanggil dengan nama Ki Hajar Dewantara juga belum banyak yang tahu.
Tokoh peletak dasar pendidikan nasional ini terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, dilahirkan di Yogyakarta pada hari Kamis, tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Pendidikan dasarnya diperoleh di Sekolah Dasar ELS (sekolah dasar Belanda) dan setelah lulus, ia meneruskan ke STOVIA (sekolah kedokteran Bumi putera) di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia tergolong penulis tangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
Selain menjadi seorang wartawan muda R.M. Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Boedi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang di seksi propaganda. Dalam seksi propaganda ini dia aktif untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya kesatuan dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 dia mendirikan Indische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka, organisasi ini didirikan bersama dengan dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo. Organisasi ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada pemerintahan kolonial Belanda tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, yang dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh penjajah saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda !
KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT LANJUTANNYA
Kembali
59 Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar








yoi! lam knal
Komentar oleh ardianzzz Kamis, 13 Maret 2008 @ 10:19 amitu tuh yang namanya pahlawan sejati! menurutku jika beliau masih hidup pasti males dikasih gelar pahlawan & dikasih bintang jasa…
yoi!
zzz
Tentang Nama Ki Hadjar Dewantara
Ada kisah menarik tentang nama Ki Hadjar Dewantara. Sebenarnya waktu kecil dia diberi nama R.M. Suwardi yang lahir dari pasangan K.P.A. Suryaningrat dan. R.A. Sandiah. Pangeran Suryaningrat yang masih keturunan Sultan Hamengku Buwono II ini, memang mendambakan anak laki-laki. Tapi dia agak kecewa saat melihat kondisi fisik bayi Suwardi. Beratnya kurang dari 3 kg, perutnya buncit dan suara tangisnya terlalu lembut untuk bayi lelaki.
Komentar oleh Kang Nur Kamis, 10 April 2008 @ 5:14 pmMelihat ini, Pangeran yang humoris ini lantas memberi paraban (nama olok-olok), Jemblung (buncit). Nama ini ditambahi oleh sahabat Pangeran Suryaningrat, Kyai Soleman, pengasuh pondok pesantren di Prambanan, dengan nama Trunogati. Tapi berlainan dengan ayahnya, Kyai Soleman lebih dalam melihat aura bayi ini. Menurutnya, Suwardi yang lembut justru nanti akan didengar orang di seluruh negeri. Sementara perut buncitnya memberi firasat kelak ia akan menyerap dan mencerna ilmu yang banyak. Bahkan setelah dewasa ia akan menjadi orang penting (Truno = pemuda; wigati = penting). Tapi oleh kalangan terdekatnya Suwardi kecil lebih populer dengan Jemblung Joyo Trunogati alias Denmas Jemblung.
Dan terbukti, Suwardi tumbuh menjadi pemuda dengan watak dan kepribadian yang dikenal orang di kemudian hari. Sahabat setianya, E.F. Eugene Dowes Dekker melukiskan pribadinya sebagai berikut, “… di dalam tubuhnya yang lemah itu bersemayamlah daya kemauan keras yang selalu dimenangkannya setiap kali ia memperjuangkan sesuatu….”
Yang unik justru bagaimana dia mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sebelum Taman Siswa berdiri, Suwardi membentuk semacam kelompok diskusi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik, budayawan, dan filsuf. Forum diskusi “Selasa Kliwonan” (karena diadakan setiap hari/malam Selasa Kliwon) ini dipimpin Ki Ageng Suryomentaram, adik Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Rupanya kemampuan Suwardi dalam hal ilmu keguruan dan pendidikan amat menonjol. Suatu hari R.M. Sutatmo Suryakusumo (anggota Volksraad/Boedi Oetomo) yang memimpin diskusi dengan spontan mengubah kebiasaannya memanggil Suwardi dengan sebutan Ki Ajar.
Cara ini kemudian diikuti oleh teman-teman lainnya. Ketika itu Suwardi menerima julukan tersebut sebagai kelakar semata. Tapi enam tahun kemudian, 23 Februari 1928, Suwardi secara resmi berganti nama Ki Hajar Dewantara. Bernard H.M. Viekke, penulis buku Geschiedenis van de Indischen Archiepel (1947), memberi interpretasi nama itu: “seorang guru yang berhasil menanamkan paham sinkretisme kepercayaan-kepercayaan di Jawa zaman dulu.”
[maf] Buletin “folder BUKU” Vol. 4/Th. 1/Mei 2003
Sekolah adalah salah satu sarana dalam proses pendidikan, orang terdidik seperti KH.Dewantara patut kita pelajari dan teladani, cinta kemerdekaan dan cinta kebudayaan bangsa sendiri sepatutnya kita lestarikan. tulisan Kang Nur sangat bagus. terima kasih
Komentar oleh sulaiman Jumat, 29 Agustus 2008 @ 10:33 amSaya dulu pernah membaca biografi Ki Hajar Dewantara, tapi lupa dimana bukunya sekarang sudah lama banget. Masih ingat di salah satu ceritanya beliau yang dilahirkan di lingkungan keraton sebagai seorang ningrat tetapi selalu berbaur dengan warga biasa. Dan ketika di sekolah, anak-anak orang Belanada memanggil dia dengan olok olok “Suriname-gat” plesetan dari Suryaningrat. Kekompakan beliau dengan saudara-saudaranya sangat menyentuh sekali.
Kang Nur:
Komentar oleh yulism Jumat, 29 Agustus 2008 @ 11:56 pmYa, Bu Yuli. Saya bukan orang Taman Siswa atau alumni-nya; tapi sesungguhnya mengharapkan agar ada pihak (terutama Tamansiswa) dapat menerbitkan buku2 yg memuat tulisan pokok2 pemikiran juga biografi Ki Hajar juga. Tentu itu akan banyak bermanfaat bagi generasi muda Indonesia.
Mas artikel di atas bagus , kalau boleh saya minta dikit aja ya ? mohon dibalas.
Kang Nur:
silakan.
Komentar oleh krist Rabu, 3 September 2008 @ 10:13 amlha ya silakan mas Krist, krn tujuan saya menampilkan tulisan di blog (apalagi yg juga hanya mengutip tulisan orang di majalah) adalah agar dapat dibagi kpd lebih banyak orang sehingga bermanfaat.
wah penggemar pak ki hajar dewantara yah. Arti dewantara apa yah…karena kalau ki hajar artinya bapak hajar hahaha sori oot. sy lagi pucing
maafkan
Kang Nur:

Komentar oleh uwiuw Sabtu, 18 Oktober 2008 @ 6:48 pmLha sudah pake Ki kok pake Bapak lagi? Jadi Saudara Mas Bang Uwiuw dong?
Lihat tu di atas:
Bernard H.M. Viekke, penulis buku Geschiedenis van de Indischen Archiepel (1947), memberi interpretasi nama itu: “seorang guru yang berhasil menanamkan paham sinkretisme kepercayaan-kepercayaan di Jawa zaman dulu.”
pucing? meoong..
Bagus sih Artikelnya tapi tolong donk artiin pake bahasa sunda biasa untuk tuugas BIar LeBIh MuDah OK!
sAyA TunggU JAwaBanya SEE YoU!!!!
Kang Nur:
Komentar oleh DICKY BONA PUTRA Sabtu, 15 November 2008 @ 7:17 pmAda-ada saja.. hua..ha..ha..
salute buat kang nur
ngak berani koment yang miring diriku
Kang Nur:
kalo gitu komentar mas Suwung ini sama dengan “suwung” adanya dong ?
Komentar oleh suwung Rabu, 19 November 2008 @ 10:39 amwuaa..
Adakah ini tulisan Anda sendiri. Kalau ya, adakah buku sumber yang Anda gunakan? Kalau tidak, tulisan dari mana? Makasih. Saya sedang mencari sumber-sumber tertulis tentang pendidikan.
Kang Nur:
Komentar oleh suparlan Rabu, 3 Desember 2008 @ 1:55 pmLihat tulisan kelanjutannya.
saya berterima kasih sekali mulai bermunculan para pemerhati muda yang berkenan membuka cerita lama ketika bangsa kita ini semakin bingung mencari berbagai profil kebangsaan yang sebenarnya, sayapun bukannya hendak mengatakan pribadi kebangsaan yang tepat adalah pribadi kebangsaan eyang Ki Hajar Dewantara, bukan begitu maksud saya, namun saya bersyukur bila kita mau belajar dari salah seorang tokoh pendidikan kebangsaan bagaimana beliau dulu ketika masih hidup sebegitu bangganya menjadi bangsa kita ini yaitu bangsa Indonesia…dan masih banyak peninggalan orisinil beliau tentang konsep kebangsaan terutama pendidikan kebangsaan yang sangat berhubungan dengan kodrat alam, keTuhanan, kemanusiaan, kemerdekaan, kebudayaan dsb. banyak buku-buku baru yg saya baca baik produk dalam maupun luar negeri dengan konsep-konsep pendidikan yg berkemasan istilah-istilah trend masa kini sebenarnya akarnya telah pernah diutarakan oleh beliau sang teratai yang akarnya konon mengikat hati dunia…
Komentar oleh zulkarnain Sidabutar, EdD Minggu, 4 Januari 2009 @ 5:25 pmsekali alhamdulillah and matur nuwun sanget kagem Kang Nur…jayalah pendidikan bangsaku…walau kini tlah jauh…aku rindu…
tamansiswaku
[...] http://nurdayat.wordpress.com/2008/03/10/ki-hajar-dewantara-1889-1959-sosok-yang-keras-tapi-tidak-ka… [...]
Ping balik oleh Efkaes - Among « Ki Lilik Setiono, S.Pd.Si. Minggu, 5 April 2009 @ 9:42 amSelamat HARDIKNAS (Hari pendidikan Nasional) bukan “Hardik, Nas!”
Komentar oleh pondokhati Sabtu, 2 Mei 2009 @ 12:48 pm[...] http://nurdayat.wordpress.com/2008/03/10/ki-hajar-dewantara-1889-1959-sosok-yang-keras-tapi-tidak-ka… [...]
Ping balik oleh prifil kompleks « Ki Lilik Setiono, S.Pd.Si. Kamis, 4 Juni 2009 @ 1:05 amAlhamdulillah, saya gembira membaca tulisan dan komentar. Sesungguhnya di akhir hayatnya beliau pernah berwasiat agar dirinya tetap dipandang sebagai orang biasa. Dan menanti ajal dengan membenarkan bacaan Yassin yang dibacakan oleh Ki Iman Sudijat. Satu tanda bahwa beliau betapapun juga sangat berhamba kepada TuhanNya. Pada saat yang sama, menjelang kewafatannya ia berwasiat kepada Bung Karno untuk menegakkan NKRI atas dasar Filosofi Bangsa yang digariskan oleh para Bapak Bangsa. Beliau tidak pernah mewariskan harta pusaka kepada anak cucunya, semua yang diwariskan kepada kami hanyalah semangat mengabdi mencari ridlo Illahi dengan memberikan darma bakti untuk negeri dan kemanusiaan itu sendiri. Semua hal tentang Eyang mungkin bisa di-share-kan dengan kami.Sangat senang melihat saudara-saudara kita yang peduli, tidak saja bagi pengembangan Budaya dan Pendidikan tapi juga semangat melestarikan nilai2 kepahlawanan itu sendiri. Salam
Komentar oleh Nanang Rekto Minggu, 2 Agustus 2009 @ 10:14 pmKami keluarga besar Ki Hajar, sangat berterimakasih atas perhatian saudara-saudara. Memang Ki Hajar pernah berwasiat agar kalau pun ada Biography yang ditulis, biarkan dia ditulis oleh orang lain agar apapun yang dikatakan mengenai beliau diserahkan sepenuhnya kepada publik. Beliau sangat memahami filosofi Sunan Kalijaga yang disarikan dari hadis Nabi yang artinya: Barangsiapa berlaku taat dan meninggalkan maksiat, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya kekayaan tanpa harta benda, kemenangan tanpa merendahkan lawan, tanpa pasukan. Yang diterjemahkan oleh Sunan Kalijaga: Digdaya tanpa aji2, sugih tanpa bandha, mletik tanpa suthang, menang tanpa ngasorake. Dan memang Ki Hajar hanya mewarisi semangat para pendahulunya, baik Pangeran Diponegoro, Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Serang, ayahanda beliau sendiri dan tentu saja, belajar kearifan dari tokoh2 pejuang kemanusiaan lainnya. Bagi kami, beliau hanyalah seorang Ayah yang penuh kasih, Ayah saya-Ki Bambang Sukowati Dewantara mengatakan: Eyangmu adalah batu karang yang lembut. Satu hal, beliau mewarisi sifat humoris dari ayahnya Pangeran Suryaningrat yang bernama lain Abdullah Sajat. Nuwun
Komentar oleh Nanang Rekto Minggu, 2 Agustus 2009 @ 10:25 pmMari kita Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia
Komentar oleh Indo Selasa, 11 Agustus 2009 @ 10:52 amMohon info kepada para pakar ataupun keluarga Besar KiHajar Dewantar jika sekiranya mengetahui dimana saya bisa mendapatkan buku gratis atau download gratis buku Ki Hajar Dewantara yg berjudul:
Komentar oleh Trunojoyo Rabu, 14 Oktober 2009 @ 2:16 pmBAGIAN PERTAMA: PENDIDIKAN.
Saya sangat ingin memiliki buku tsb karena sgt membutuhkannya untuk studi. Saya seorang guru. Email saya: rudy_srb@yahoo.com
Terima kasih
rian emang ngefans sama ki hajar dewantara ………….!!!!!!!!!!!!!!!!
Komentar oleh rian Jumat, 30 Oktober 2009 @ 11:38 amthxnk’s ats info’a……
Komentar oleh octha Jumat, 1 Januari 2010 @ 11:14 amCoy q cari keistimewaan dari ki Hadjar Dewantoro please cariin npa? pucing nich mikirin Ki Hajar Coy?
Komentar oleh dewi Rabu, 27 Januari 2010 @ 7:50 pmki hajar dewantara memang seorang yang baik.
Komentar oleh lita Senin, 22 Februari 2010 @ 2:19 pmaku suka ki hajar dewantara
Komentar oleh pinochio Selasa, 23 Februari 2010 @ 5:20 pmsaya suka kehidupan ki hajar dewantara
ki hajar dewantara orangnya lembut pintar dan jenius aku sangat bangga pada bapak pedidikan aku mau jadi seperti bapak pedidikan
Komentar oleh antika Rabu, 24 Februari 2010 @ 4:39 pmka aQ gi Da TUgaS bWT gEOGrFi b.SUNda toLONG banTuin Donk!!!
Komentar oleh dua_rr Jumat, 12 Maret 2010 @ 1:57 pmSalam intelektual Muda..
harapan saya selaku putra bangsa, ingin kisah-kisah para pejuang tidak hanya diaplikasikan dalam dunia maya seperti ne namun alangkah baik-a jika kisah2 tersebut kembali menemani murid2 dibangku sekolahnya seperti dulu….
MARI KEMBALI KITA MENGENANG SEJARAH
Terima kasih
Komentar oleh Intelektual Muda Minggu, 28 Maret 2010 @ 4:54 pmAPAKAH U PERNAH KE MAKAM KI HAJAR DEWANTORO
Komentar oleh fitriah mekah sari Rabu, 14 April 2010 @ 7:47 pmaQ gie cari keistimewaan Ki Hajar Dewantara nieh..? Tapi d’sni gag da.. Pdhal kn nie wat tgas. Tlong cariin dunx..! PLECE….
Komentar oleh AYUN Kamis, 15 April 2010 @ 11:34 amaku arep ngolehke kisah sang ki hajar dengan detail, wktu mendirikan taman siswa, isoooo?
Komentar oleh amin Rabu, 5 Mei 2010 @ 5:14 pm
<3
Komentar oleh reyas Jumat, 23 Juli 2010 @ 8:00 pm
:*
Komentar oleh reyas Jumat, 23 Juli 2010 @ 8:01 pmtolong artiin dong biografinya dalam bahasa sunda
Komentar oleh ulfi Rabu, 4 Agustus 2010 @ 5:51 pmtolong artiin dalam bahasa sunda
Komentar oleh ulfi Rabu, 4 Agustus 2010 @ 5:53 pmaU cK 5 gRtx
Komentar oleh dewi Rabu, 25 Agustus 2010 @ 1:09 pmaU cK 5 crTX
Komentar oleh dewi Rabu, 25 Agustus 2010 @ 1:10 pmki hajar dewantara kau pahlawan ku
Komentar oleh jasmine Sabtu, 18 September 2010 @ 8:30 pmmakasiiiiiiiihhhhhhhhhhhh saya sering bikin mading arena buat seklah tiap bulan bulan ini temanya pendidikan sooo, artikelnya sangat bermannfaaatt untuk mading dengan topik pendidikan….. makasiiiiiiiiiiiiihhhhhhh……..
Komentar oleh melinda Kamis, 7 Oktober 2010 @ 7:53 pmhehehe
Komentar oleh ada aja Senin, 11 Oktober 2010 @ 2:50 pmBeliau (Ki Hajar) memiliki sahabat sekaligus partner dalam mendirikan Taman Siswa, yakni Ki Tjokro Dirdjo (R. Soemarsono). Beliau ini juga berjasa membuat konsesp Taman siswa dan berjasa atas Taman Siswa.
Makam Ki Cokro inipun ada disamping makam Ki Hajar.
R. Andy Yoga Pramudhita, SE
Komentar oleh Sabda Jagad Rabu, 20 Oktober 2010 @ 7:54 amQWu bangga skali kepada KI HAJAR DEWANTARA ea tu phlawan nasiOnal
Komentar oleh aulia Senin, 25 Oktober 2010 @ 3:06 pmsebagai bangsa yang besar kita tidak boleh melupakan jas merah….
Komentar oleh prasetyo Sabtu, 11 Desember 2010 @ 7:34 pmtrlalu panjang cerita na
Komentar oleh lena Minggu, 9 Januari 2011 @ 11:26 ampucinkk gtw
prh baah
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA is Good for next generation,,,pkokoke sip lah….
Komentar oleh Arif Yuli S Minggu, 23 Januari 2011 @ 2:56 pmYAHUUUT….. AKU HARUS BELAJAR LEBIH GIAT LAGI
Komentar oleh Amalia Senin, 14 Maret 2011 @ 9:43 pmBaguz Bgt
Komentar oleh Guna Sabtu, 9 April 2011 @ 4:30 pming ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
Komentar oleh H.Karmin Sabtu, 30 April 2011 @ 2:55 pming madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan
Kita perlu prihatin bahwa semboyan ini tinggal berbekas pada lambang pendidikan.
saluut buat pahlawan satu ni…..
Komentar oleh fadlianty yahya Sabtu, 17 September 2011 @ 8:47 amartikel ini bagus buat hasil tugas ??? yeeaaaccchhh
Komentar oleh eka ayu Senin, 31 Oktober 2011 @ 6:20 pmWow, luar biasa..
Komentar oleh Chavendha voleyvell Minggu, 20 November 2011 @ 8:00 pmSmg anak skrg dpet makin mendalami jasa para phlawan ia..,, yg lbih smpurna lg bza jd kya yg diataz, ok:) indonesia merdeka !!
Itu cerita’a bagus dan kita juga harus menghargai’a
Komentar oleh Vinda ayu Kamis, 12 Januari 2012 @ 5:27 pmwah, pahlawan’ indonesia itu hebat berani mempertaruhkan nyawa, demi bangsa indonesia, dengan bgitu aku berjanji akan menjaga bumi pertiwi, serta merawatnya, aku juga harus mempunyai semangat juang sperti , semua pahlawan, semangat juang tsb dengan cara rajin belajar, agar aku bisa mengerjakan UN ( ujian nasional ) amin
Komentar oleh raden roro resha ika lestari sausan Selasa, 17 Januari 2012 @ 3:10 pmya, walaupun aku msh kls 3 smp, aku akan bljr dgn rajin
Y ampun,,,
Komentar oleh Nadiya Minggu, 22 Januari 2012 @ 4:53 amq ng’fans bngt sma KHD,,,
beliau b’jsa bngt buat bangsa kita,,
dan pdli trhdp rakyat jelata ,,
klo beliau g bkn sclh TAMAN SISWA ,bsa jadi skrng kita msh d’ja”h . . .
Y ampun,,,,
Komentar oleh Nadiya Minggu, 22 Januari 2012 @ 4:59 amq ng’fans bngt ma KHD . . .
Beliau tu br’jsa bngt ma bangsa kta,,,
dan bliau pdli ma rkyt jelata,dnng mmbuat sclh “taman siswa”,dan mnjdkan rkyt indonesia mnjdi pintar,,,
bsa jadi skrng kita msh d’ja”h ma belanda/jepang,,,
saya ingin bangsa INDONESIA Telahabadi dan tiada persekutan bangsa bangsa kami yang sudah menjajah bangsa (eropa)datang ke indonesia ?indonesia sudah berkorban untuk merdeka BANGSA INDONESIA MERDEKE>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> (untukmasadepan kami<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Komentar oleh zaenal Senin, 6 Februari 2012 @ 3:33 pmgablok
Komentar oleh zaenal Senin, 6 Februari 2012 @ 3:34 pmhahahayerr ..
tuk tambah” ilmu ..
ADx
Komentar oleh ardhi Sabtu, 18 Februari 2012 @ 4:17 pmYK
SUU …!!
ada yang bahasa sunda nya ga ? biasa untuk tugas nih
Komentar oleh Tika Minggu, 19 Februari 2012 @ 7:04 pmhehe
lucu artinya:)
Komentar oleh beta_vina Minggu, 15 April 2012 @ 1:11 amsemoga bisa di terima
Komentar oleh beta_vina Minggu, 15 April 2012 @ 1:12 amnamaku Indonesi, ayahku Rakyato, ibuku Rakyati baca di yantosalim.blogspot.com
Komentar oleh Yanto Salim Senin, 16 April 2012 @ 8:45 am