The Nurdayat Foundation


Ki Hajar Dewantara (1889-1959): Sosok yang Keras tapi Tidak Kasar (2)
Kamis, 13 Maret 2008, 4:47 pm
Filed under: Sejarah

Ki Hadjar saat mudaKeras tapi Tidak Kasar. Inilah ciri khas kepribadian Ki Hajar yang diakui rekan-rekan sejawatnya. Kras maar nooit grof, keras namun tidak pernah kasar. Kesetiaan pada sikapnya ini terlihat jelas pada setiap kiprahnya.

Ketika partainya, Partai Hindia atau Indische Partij (IP) dibredel pemerintah Belanda (1912), dia tidak putus asa. Kritik pedas kepada penjajah juga dilancarkan lewat artikelnya dalam de Express November 1913, berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya saya orang Belanda). Dengan sindiran tajam, tulisan itu menyatakan rasa malunya merayakan hari kemerdekaan negerinya dengan memungut uang dari rakyat Hindia yang terjajah. Soewardi bahkan mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement – UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. Karuan saja, akibat tulisan itu Ki Hajar dibuang ke Belanda pada Oktober 1914. Padahal dia baru saja mempersunting R.A. Sutartinah. Jadi, terpaksa dia harus berbulan madu di pengasingan.

Dalam masa pembuangan itu tidak dia sia-siakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga berhasil memperoleh Europesche Akte. Setelah kembali ke tanah air di tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Diwujudnyatakan bersama rekan-rekan seperjuangan dengan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922, sebuah perguruan yang bercorak nasional.

Perguruan nasional Taman Siswa mencoba memadukan model pendidikan barat dengan budaya-budaya negeri sendiri. Namun, kurikulum pemerintah Hindia Belanda tidak diajarkan, karena garis perjuangan Ki Hajar bersifat non-kooperasi terhadap pemerintah kolonial. Sifatnya mandiri.

Tak hanya dalam bersikap, secara fisikpun Ki Hajar memiliki keberanian yang mencengangkan. Ini terkuak dalam peristiwa rapat umum di Lapangan Ikada (sekarang Monas), 19 September 1945. Saat itu pemerintah R.I. menghadapi tantangan, apakah presiden dan jajaran kabinetnya berani menembus kepungan senjata tentara Jepang di sekeliling lapangan. Sebagian menuntut Presiden, Wapres, dan segenap anggota kabinet hadir di Lapangan Ikada agar tidak mengecewakan rakyat. Yang lain menolaknya denga n pertimbangan keselamatan.

Akhirnya, semua sepakat untuk hadir. Tapi, siapa menteri yang harus membuka jalan memasuki Lapangan Ikada, sebelum rombongan presiden. Karena ada kemungkinan Jepang membantai rombongan menteri yang pertama masuk Ikada untuk mencegah keberhasilan Pemerintah RI menyatakan eksistensinya kepada rakyat dan dunia internasional. Pada saat kritis inilah sebagai Menteri Pengajaran Ki Hajar unjuk keberanian. Bersama Menlu Mr. Achmad Subarjo, Mensos Mr. Iwa Kusuma Sumantri, ia menyediakan tubuhnya menjadi tameng. Padahal bapak enam anak itu bisa dibilang tak lagi muda. Ketika diingatkan oleh Sesneg Abdul Gafur Pringgodigdo, “Ingat, Ki Hajar ‘kan sudah tua.” “Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa,” jawab Ki Hajar enteng.

Sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan pendiri Tamansiswa, Ki Hajar memang tidak sendirian berjuang menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan. Namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia. Ki Hajar bukan saja seorang tokoh dan pahlawan pendidikan ini tanggal kelahirannya 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan hari Pendidikan Nasional, selain itu melalui surat keputusan Presiden RI no. 395 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 Ki Hajar ditetapkan sebagai pahlawan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oleh Ki Hajar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada di tahun 1957.

Orang seringkali lupa, semboyan tutwuri handayani adalah bagian dari kesatuan yang lengkapnya berbunyi, ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah menghidupkan gairah, di belakang memberi pengarahan. Mungkin, peristiwa di atas sekaligus bisa memberi jawaban, apakah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin kalau anak buahnya terancam bahaya.

Masalah pendidikan memang rumit. Terlebih lagi jika anggaran dananya juga sedikit. Program pendidikan yang dicita-citakan bangsa ini begitu besar, namun kesadaran pendidikannya masih sering tercium aroma komersial. Akibatnya, nilai-nilai pendidikan tergeser begitu jauh dari pusarannya.
(-o0o-)

 

 

Sumber: Bulletin Folder Buku vol.4/Th.I/Mei 2003

 

folder BUKU: menyemarakkan budaya membaca

adalah media alternatif yang memberikan informasi tentang dunia per-buku-an dan seluk-beluknya. Wadah untuk menampung kreativitas berolah-pikir dalam mengupas gagasan-gagasan sebuah buku.

Penanggungjawab: komunitasKECIL

Alamat: Kepuh GK 3 / 1023 Yogyakarta 55222 Telp. 0274 – 545563

E-mail: folderbuku@yahoo.com Milis:folderbuku@yahoogroups.com

 

Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

About these ads

19 Komentar so far
Tinggalkan komentar

terimakasih ternyata masih ada yang mengingat dan mengagumi Ki Hajar Dewantara, tidak sekedar namanya akan tetapi juga pemikiran cemerlang beliau, semoga tulisan ini bisa membangkitkan memori bangsa Idonesia yang mulai “melupakan” beliau

Kang Nur:
Apa kang Aziz ini malah masih kerabat keturunan Ki Hajar ya? Saya kira para kerabat dan atau orang2 Taman Siswa memang ada perlunya mengangkat/meng-ekspose lagi pemikiran2 dari Ki Hajar agar dapat dikaji-dipelajari oleh generasi sekarang. Saya melihat buku2 ataupun tulisan2 ttg Ki Hajar memang masih kurang di-ekspose.

Komentar oleh Aziz

Trimakasih menulis tentang banyak hal berkaitan dengan Ki Hadjar Dewantara, Budaya, dll. Sungguh, semuanya berguna … tabik dalem. Salam kenal dari TUREN – Jawa Timur.

Kang Nur:
Terima kasih kembali, atas kunjungan dan tanggapannya. :)

Komentar oleh a elwiq pr

Oh ya, makasih di tulisan kedua sumbernya udah disebutkan. Tapi itu dikutip secara keseluruhan atau bagaimana?

Kang Nur:
Ya, ini dikutip keseluruhan kata per kata sebagaimana aslinya yang dimuat di buletin tersebut. :)

Komentar oleh suparlan

Ungkapan Ki Hajar Dewantara sebagaimana dikutip “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya… dst”, merupakan suatu ungkapan penentangan yang berani menurut saya.
Saya begitu bangga punya sosok pahlawan seperti beliau di negeri ini.
O ya saya juga ngajar di Taman Siswa, tapi saya kaget ketika aku tahu bahwa Taman Siswa yang tempatku mengajar tidak memiliki keterkaitan dengan Taman Siswa Ki. Hajar. {stkip taman siswa kab. bima}kalau bisa minta tolong bantu kita bang untuk sumber sejarah mengenai Taman Siswa (Hp.081237046982). makasih sebelumnya

Komentar oleh Yusuf

trimaksih da banyak menulis mengenai KHD, tp q butuh bantuna mengenai KHD jg kira2 bagaimana sih pandangan KHD mengenai BUDI PEKERTI? tlong ya beri komentar

Komentar oleh lukman

bang tmpat yang masih mnyediakan buku2 kHD dmn ya?

Kang Nur:
aduh maaf, saya juga tidak tahu. coba saja ke Tamansiswa Yogyakarta

Komentar oleh lukman

Salam kenal Mas Nur,
Tulisan yang luar biasa.
Izinkan kami menyalin sebagian dari tulisan ini ke SUPERPEDIA, Rintisan Kamus Pendidikan Gratis Berbahasa Indonesia di http://superpedia.rumahilmuindonesia.net

Sumber akan tetap kami cantumkan.

Terima kasih.

Kang Nur :
Silakan. Silakan. Saya juga hanya mengutip dari bulletin tsb.
Sengaja saya mengutipnya, krn menurut saya isinya memang bermanfaat ‘tuk orang banyak. Smoga brmanfaat bagi lebih banyak orang lagi.

Komentar oleh SUPERPEDIA

KI HAJAR DEWANTORO INI BAIK DI TIRU KERJA KERASNYA DALAM MEMBERI PENDIDIKAN KE PADA ORANG-ORNG YANG EKONOMINYA KURANG. DAN AKU INGIN KI HAJAR DINOBATKAN SEBAGAI PAHLAWAN YANG RELA BERKORBAN DEMI RAKYATNYA ……………………….
AKU BERJANJI AKAN MENELADANI SIFAT-SIFAT KI HAJAR DEWANTORO

Kang Nur:
bagus sekali. beliau mmg pantas diteladani :)

Komentar oleh CLARA

ki hajar dewantara itu tokoh yang sangat mulia dan baik hatinya.

Komentar oleh be,eng

sya sangat ska sjarah apalagi klau d critakan oleh mbah sya tntang prjuangan ktika jmana dhulu. tp knapa klau mmbaca’y sngat mlas dri pda d critakan. oleh ssorang. bleh mnta solusinya????

Komentar oleh kiki.andrean

wow .. saya sekarang lebih mengenal ki hajar dewantara …

Komentar oleh vina

tolong artiin dalam bahasa sunda

Komentar oleh ulfi

bagus ceritanya merdekaaa…….20x……!!!!!!

Komentar oleh Angga (Sang Pencari Sejarah)

[...] Penulis mengcopy dari: KLIK DISINI [...]

Ping balik oleh Ki Hajar Dewantara (1889-1959): Sosok yang Keras tapi Tidak Kasar « nurul perspectives

semangat KH. Dewantara,mestinya di integrasikan dalam dunia pndidkn indonesia yg sdah tergser dari ruh dan ciri khas…..

pendidikan + kesejahteraan = kemerdekaan

Komentar oleh wanandi kabu

Mas Nurdayat terima kasih telah membuka sejarah pada publik, kami generasi penerus dari perguruan taman siswa cirebon mencoba meneladani, maaf klo boleh tau siapa Kang Mas Nurdayat ini… makasih

Komentar oleh OTONGYANA

The benefits that result. Traditionally
for a streamlined and elegant look.

Komentar oleh grass




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: