The Nurdayat Foundation


Enam (6) Alasan Mengapa Aku Kurang Respek kepada Ngarso Dalem Sinuwun Herdjuno Darpito (Sultan HB X)
Selasa, 1 April 2008, 6:50 pm
Filed under: Budaya, Yogyakarta | Tag: , , ,

Bila orang Yogyakarta kini ditanyai seberapakah mereka menghormati Sultan HB X dibandingkan daripada Ayahanda beliau Sultan HB IX, aku yakin 90 % dari mereka akan menjawab, “Wah, jauh mas. Sultan yang sekarang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Ayahandanya.” Tidak percaya? Buktikanlah sendiri dengan mendatangi penduduk desa di pelosok-pelosok Yogyakarta. Itu tidak mengherankan. Yang justru mengherankan adalah mengapa Sultan yang popularitasnya di masyarakat Yogyakarta sudah menurun ini belum juga introspeksi, mawas diri; dan masih menganggap dirinya besar dan sangat dicintai rakyat. Ia masih menganggap bahwa rakyat Yogyakarta sangat tergantung kepada dirinya. Ia masih menganggap dirinya pantas untuk masuk bursa cawapres RI pada Pemilu mendatang.

Berikut ini beberapa kekurangan yang aku soroti pada diri Sri Sultan HB X ini :

  1. Kecerdasan dan pendidikannya kurang meyakinkan.

Ayahanda beliau (Sinuwun Dorodjatun, Sri Sultan Hamengku Buwono IX) menjalani studi di Belanda pada tahun 1940-an, sedangkan Sinuwun Herdjuno Darpito (hanya) berstudi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Tidak diceritakan apakah Sinuwun Dorodjatun sampai menyelesaikan studinya apa tidak, karena beliau dipanggil pulang saat Ngarso Dalem Sri Sultan HB VIII menderita sakit parah menjelang wafat; namun bagaimanapun studi di luar negeri tentu memiliki nilai lebih. Bukan pula kurang menghargai Fakultas Hukum UGM, almamater Sri Sultan HB X, namun beliau memang juga hanya tercatat sebagai mahasiswa berprestasi biasa2 saja di situ, dan baru dapat menyelesaikan studi setelah menempuh jangka waktu lama (meskipun diceritakan bahwa itu juga karena Sinuwun Herdjuno Darpito sudah me-‘nyambi’ kerja di PG Madukismo, sebelum kuliahnya selesai). Karena kecerdasan Herdjuno Darpito yang terbatas ini, tampak bahwa beliau ini sering kurang pas dalam menanggapi/merespon isu-isu yang muncul di masyarakat. Referensi dari orang2 asing yang beliau pakai dalam orasi2nya tidaklah menampilkan pencerahan2 yang memadai, ataupun ketercerahan.

  1. Kiprah dan kapasitas-nya memang belum me-nasional.

Bila kini ada beberapa (tokoh) partai yang melamar Sinuwun Herdjuno Darpito (Sri Sultan HB X) untuk menjadi calon wakil presiden pada Pemilu 2009 mendatang, sejujurnya sesungguhnya aku menilai bahwa beliau Sultan HB X ini belum akan mampu untuk memikul amanat tersebut. Ini tentunya berbeda halnya dengan Ayahanda beliau yang pernah memikul amanat jabatan menteri beberapa kali sebelum terakhir beliau menjadi Wakil Presiden (tahun 1977). Sri Sultan HB X pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Menteri Dalam Negeri dan MenKo EkuIn (seingat saya); sehingga amatlah pantas beliau mendapat amanat jabatan WaPres itu. Kemampuannya telah teruji melewati beberapa kali jabatan dan cukup berhasil menjalankan itu semua. Tetapi bagaimana halnya dengan Sultan HB X? Ia belum pernah memiliki pengalaman apapun di tingkat nasional. Sungguh sebenarnya bahwa ia hanyalah tokoh kaliber daerah belaka. Ia dikenal di tingkat nasional semata sebagai simbol budaya. Bahkan selama menjabat sebagai Gubernur DIY nyatanya ia tidak berhasil menorehkan prestasi apapun yang pantas dikenang oleh rakyat Yogyakarta. Apa yang dapat diharapkan dari seorang yang seperti itu dalam kiprahnya di tingkat nasional nanti? Ada-ada saja.

  1. Tidak memiliki prestasi sedikitpun selama menjabat sebagai Gubernur DIY maupun Sultan Keraton Ngayogyakarta.

Herdjuno Darpito adalah nol besar. Apa saja hasil kerjanya selama menjabat sebagai Gubernur ataupun Sultan? Tidak ada. …Orang Yogyakarta memang terlalu baik. Mereka menghormati Herdjuno Darpito karena masih memandang kepada Sinuwun Dorodjatun (Sri Sultan HB IX), ayahandanya. Namun bila Herdjuno Darpito masih akan kebanyakan bertingkah, mereka lama-lama nanti akan muak juga. Tidak hanya tidak mampu mencatatkan prestasi, Herdjuno Darpito juga tercatat turut terlibat bersalah dalam proyek2 pemerintah propinsi DIY yang gagal, contohnya kasus CDMA. Yang banyak dikambinghitamkan dalam kasus CDMA ini adalah Bambang SP, mantan SekWilDa Yogyakarta; padahal Sultan HB X sebagai Gubernur juga terlibat dalam kesalahan perencanaan proyek tersebut.

Apa prestasinya sebagai Sultan selama ini? Adakah prestasinya dalam bidang kebudayaan, di mana Keraton Yogyakarta adalah salah satu pusat nilai budaya Jawa? Tidak. Ia bahkan berani menggusur bangunan peninggalan kakek buyutnya (Sri Sultan HB VII) yang bernilai sejarah, untuk diratakan dengan tanah dan selanjutnya dibangun mall Ambarukmo Plaza di atasnya. Bila Anda datang ke Yogyakarta dan masuk Ambarukmo Plaza, ingatlah Anda bahwa Anda berdiri di atas peninggalan seorang kakek yang dihancurkan oleh cucundanya sendiri dalam rangka memperoleh keuntungan ekonomi bagi kantongnya.

Berkait dengan kekayaan milik Keraton/Sultan yang sebagian besar telah banyak dipinjam-pakai oleh rakyat, ia pun tak mampu mengelolanya bagaimana agar tertib-lancar penggunaan hak pakai itu dan berguna bagi rakyat . Yaitu antara lain adalah tanah2 Sultan Ground. Antara tahun 1999-2002-an banyak terjadi kasus konflik horizontal di masyarakat karena oknum Paniti Kismo (jawatan di keraton yang mengurusi tanah2 Sultan Ground) telah memberikan Layang Kekancingan kepada pihak2 tertentu yang mau membayar kepada oknum(2) tersebut; padahal tanah2 itu telah banyak dipakai oleh masyarakat untuk kepentingan umum.

  1. Herdjuno Darpito banyak melontarkan idiom2 magis-mistis ke publik, seakan menyatakan dirinya adalah raja Jawa yang sakti yang selalu mendapat wangsit dari alam gaib, sekaligus mencobakan itu seakan mengetes kepercayaan dan kesetiaan rakyat Yogyakarta khususnya dan sekitarnya umumnya akan hal tersebut.

Paling tidak aku mencatat ia melakukan itu pada dua kejadian alam: 1. Badai tropis yang berasal dari Laut Selatan (sekitar tahun 2004?) 2. Krodha Merapi tahun 2005 (bangkitnya aktivitas gunung Merapi tahun 2005).

Pada kejadian no. 1 ia memberi isyarat kepada rakyat Yogyakarta untuk membuat sesaji berupa sayur lodeh. Kebanyakan rakyat Yogyakarta mentaatinya, terutama orang2 sederhana yang tinggal di desa2. Namun hal ini menimbulkan kurang simpati juga bagi orang2 rasionalis-modern dan Islam-purifikasi, karena seakan Sultan mengajak rakyat Yogya untuk kembali hidup dengan kepercayaan2 mistik-klenik. Bagaimanapun juga baiknya ‘sesaji’ itu merupakan simbol budaya, mungkin akan lebih simpatik bila Sultan mengajak orang untuk banyak berdoa di tempat2 ibadah sesuai dengan agamanya.

Pada kejadian no. 2 Sultan memerintahkan penduduk lereng Merapi untuk mengungsi meninggalkan rumahnya. Kalau seingat saya, kalau Sultan sudah memberikan dhawuh (perintah), beliau selalu seakan ingin memberikan kesan kepada rakyat banyak, bahwa itu dilakukannya karena ia sudah mendapat wangsit/wisik dari alam ghaib. Kejadian no.1 memberikan-meninggalkan memori yang kuat kepada rakyat akan hal tersebut, terutama bagi yang biasa mengikuti berita lewat media koran. Media ramai memuat dan membahas ‘sayur lodeh’ Sultan itu. Lalu, pada kejadian no.2-lah baru Sultan ketemu batunya. Mbah Maridjan selaku abdi dalem Surakso Hargo (penjaga gunung) Merapi justru menjadi orang yang paling teguh untuk tidak mentaati perintah Sultan tersebut. Mbah Maridjan bilang bahwa ia hanya akan turun gunung bila mendapat perintah dari Raja yang telah menugaskannya. Padahal yang menugaskannya adalah Sinuwun Ngarso Dalem Sri Sultan HB IX yang sudah di alam baka. Ia bersikap seperti itu adalah karena kesetiaannya yang lugu, namun bagi cukup banyak orang ini juga terlihat sebagai sebuah pembangkangan yang lucu.

  1. Gaya Herdjuno Darpito dalam berkomunikasi dengan wartawan kurang simpatik.

Pada saat Sultan HB IX menjabat Sultan (yaitu sekitar tahun 1940 hingga wafatnya pada tahun 1988), aktivitas kewartawanan belum sedinamis sekarang; sehingga Sultan HB IX tidak perlu merumuskan suatu gaya tersendiri sebagai Sultan saat berkomunikasi dengan wartawan itu. Namun ketika kini Sultan HB X menjabat dalam situasi sekarang, ia harus mampu merumuskan dan menampilkan gaya dan cara berkomunikasi yang sesuai untuk menjawab model-model komunikasi cara sekarang. Dan ia memang belum berpikir tentang itu. …Seharusnya ia mampu menampilkan cara berkomunikasi yang anggun, penuh kewibawaan namun tetap rendah hati, mengasihi rakyat serta tetap tampil sederhana. Lalu bagaimana yang ditampilkannya kini? Yang terlihat adalah ia memang sering memakai bahasa Jawa saat menanggapi wartawan itu; namun itu tidak menampilkan apa-apa, selain hanya terkesan bahwa beliau meremehkan wartawan!

  1. Putri kedua beliau hamil sebelum menikah.

Beliau memiliki 5 (lima) orang puteri. Puteri sulungnya (yaitu sekarang dikenal dgn nama GKR Pembayun) menikah lebih akhir daripada puterinya yang kedua. Puteri keduanya itu menikah dengan anak dari pengusaha daging sapi ‘Andini Sakti’, ia masih berdarah keturunan Cina. Tidak lama setelah pernikahan diresmikan, pasangan itu berangkat ke Australia, katanya untuk keperluan studi. Beberapa bulan kemudian diberitakan bahwa puteri kedua Sultan HB X itu telah melahirkan. Bila dihitung waktunya dari sejak saat pernikahan, tentulah belum saatnya ia telah melahirkan itu. Itu adalah kisah nyata yang sudah terjadi bertahun lalu, dan menjadi rahasia umum di Yogyakarta. Orang Yogya (dulu, termasuk saya) menutupi dan merahasiakan hal itu, namun kini saya ingin memberitahukannya kepada khalayak yang lebih luas.

-o0o-

Kembali
sebab&DAMPAK-nya

klik TULISAN saya berikutnya yg TERKAIT LANGSUNG dgn TOPIK INI

Link2 tulisan lainnya yg terkait topik ini, a.l.:
Raja Jawa di Panggung Politik
Diskusi di Forum DETIK: Sri Sultan calon Presiden 2009
Diskusi di Forum DETIK: Sri Sultan HB X for President
Diskusi di Forum KOMPAS: Layakkah Sultan Hamengkubuwono jadi Presiden?
Wong Mataram dan Problem “Rosa-rosa”
taksidoberkucing bilang

Up-dated tak begitu terkait:
Gusti Nurastuti Wijareni ikut jadi 33 Finalis Miss Indonesia 2009
10 Finalis-nya :
1. (Putri) – Sulawesi Barat
2. (Nina)- DKI Jakarta
3. (Acha)- Sumatra Utara
4. (Vita)- N Aceh Darussalam
5. (Leida)- Sumatra Selatan
6. Gusti Nurastuti Wijareni (Gusti Reni) – DI Yogyakarta
7. (Lani)- Sulawesi Utara
8. (Vivi)- Bali
9. (Thirzza)- Kalimantan Barat
10. (Vicka)- Jawa Tengah

About these ads

113 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Tulisan ini bukanlah dimaksudkan sebagai “character assasination” seorang kawulo terhadap Raja-nya. Dan lagi, apalah arti suara satu orang kawulo dibandingkan ribuan orang kawulo lain yg berdemo meneriakkan keinginannya agar Sultan HB X ditetapkan sebagai Gubernur DIY kembali. Namun, bagi sesama warga DIY, saya ingin mengingatkan bahwa menginginkan dikukuhkannya keistimewaan DI Yogya bukanlah identik dengan mengkultuskan Sultan HB X. Sultan HB X hanyalah manusia biasa sebagaimana kita2, yg dapat khilaf dan salah. Maka, daripada setiap kali menuntut “Penetapan Gubernur”, mending berpikir yang lebih rasional; yaitu, keistimewaan yg seperti apakah yg dinginkan oleh rakyat Yogya itu…
Karena itu mohon komentar dari pembaca semua, baik yg warga DIY naupun bukan.

Komentar oleh Kang Nur

kalo saya sih ntah kenapa dari kecil suka sama sultan
n ak akan dukung sultan tuk jd presiden
hehehe
beda pendapat boleh kan?

Kang Nur @ myviolet :
emangnya sudah ketemu Sultan HB X berapa kali? di mana? acara apa?…
apa masih famili ya?… kalo suka ya musti ada alasannya dong. apa karena suka dengar mitos2 hebat ttg beliau?… kalo tak ada alasannya ya itu namanya: pokoknya, pokoknya. Pokoknya Sultan, pokoknya Sultan; kalo gak Sultan gak mau. Gitu?

Komentar oleh myviolet

wah sejarah keraton ya..

Kang Nur @ hanggadamai :
Ini blog tidak dimaksudkan melulu hanya memuat artikel2 ttg kraton, hal yg terkait dgn kraton (Yogya), atau sejarah kraton melulu. Namun, maunya sih; semacam bagaimana menemukan dan mempertahankan ‘kearifan lokal’ di tengah dunia ‘post-modern’ seperti sekarang yg biasa digambarkan para pakar.
Kraton ditampilkan (apalagi hal aktual ttg wacana keistimewaan Yogyakarta) adalah untuk mengungkap wacana bagaimana mempertahankan tradisi lokal itu di era kosmopolitan-global itu.
Terkait dgn itu Sultan HB X juga pernah berorasi ttg “Bangsa Yang Belum Selesai”.

Komentar oleh hanggadamai

wah, kalau saya jujur tidak paham tentang profil para sultan di jogja..
tapi saya sangat cinta jogja dengan kebudayaan-nya, dan berharap tidak ada pilkada di jogja..
bagaimana boss?

Kang Nur @ Kang Lahapasi :
Ada baiknya memang kita membongkar profil para Sultan utk pembelajaran politik, penciptaan budaya politik yang rasional. …
Saya akan memakai “kerangka post-modern”. Yaitu menerima keberagaman realitas, unsur, permainan; dengan logikanya masing-masing tanpa harus saling menindas atau menguasai.…
Yogyakarta (DIY) adalah sebuah entitas budaya dan budaya politik yang khas. Saya kira itu kita sepakati; atau paling tidak, banyak warga rakyat se-Indonesia menyepakatinya. Yang saya herankan dan maka saya anggap ter-balik2 adalah tanggapan dari warga rakyat Indonesia yang mungkin tak mengenal budaya Yogyakarta dengan baik dan tak mengenal performance Sultan (HB X). Saya kira logika dan tanggapan mereka adalah ter-balik2. Kang Lahapasi tidak saya masukkan ke dalam kelompok itu. Dari koment Kang Lahapasi, saya kira Kang Lahapasi pernah merasakan atmosfer budaya Yogyakarta, maka cukup memahaminya, dan juga menginginkan budaya itu bertahan.
Bagi sebagian besar rakyat Yogyakarta, meski loyalitas ketundukan-ketaatan kami kawulo Mataram kepada Ngerso dalem Kanjeng Sultan HB X (Sinuwun Herdjuno Darpito) tidaklah sebesar ketaatan-kecintaan kami kepada Ngerso dalem Sinuwun Dorodjatun (Sultan HB IX); kami pernah merasakan keteduhan kharisma kebijaksanaan seorang Raja. Itulah kharisma Ngerso dalem njeng Sultan HB IX. Kharisma pemimpin, yang memang seorang raja, yang mencintai dan dicintai oleh kami rakyatnya. Kami merindukan seorang raja, raja kami, yang pantas kami cintai.
Setelah Ngerso dalem Sultan HB IX dengan tabah dan tegar mempertahankan Ngayogyakarta dari cengkeraman Belanda saat itu; beliau direlakan oleh Kawulo Ngayogyakarta untuk mengawal dan mengabdi berkiprah turut mengembangkan Republik Indonesia yang baru berdiri. Itu adalah juga wujud bukti mewakili komitmen kami kawulo Ngayogyakarta untuk setia berdiri-berjuang di belakang Republik Indonesia. Dan beliau raja kami telah menunjukkan darma-baktinya itu. Darma bakti seorang Raja Yogyakarta terhadap Republik ini.
Undang-undang Keistimewaan (UUK) untuk DI Yogyakarta sangat kami harapkan untuk segera dibahas dan dikeluarkan oleh DPR (Pusat). Semestinya Pemerintah Pusat (Kementerian/Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia) dan wakil-wakil rakyat di DPR (Pusat) segera memperhatikan itu. Kalau warga rakyat Indonesia masih menghargai (budaya/budaya politik) Yogyakarta, perhatikanlah bagaimana UUK yang mau dikeluarkan oleh Pemerintah bersama DPR itu; bukannya sekedar ikut mengurus siapa dan bagaimana caranya memilih Gubernur Yogyakarta. Sumbangkanlah saran bagaimana Keistimewaan Yogyakarta ini musti diatur oleh Undang-undang, dalam kerangka bagian (=salah satu propinsi) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saya kira tahun 2008 ini
belum akan ada

Pilkada Gubernur Yogyakarta. Gubernur masih akan ditetapkan oleh/lewat mekanisme Rapat Paripurna DPRD Propinsi DI Yogyakarta setelah mempertimbangkan segenap aspirasi kawulo Ngayogyakarta. Dan itu berarti Sultan HB X masih akan ditetapkan sebagai Gubernur DI Yogyakarta (lagi), dan Sri Paku Alam IX sebagai wakilnya (lagi). Dan saya kira, …yang seperti
itulah yang terbaik untuk saat ini

.

Komentar oleh lahapasi

sebagai rakyat kita wajib mengkoreksi pemimpin yang ………..
mas gimana kalau bikin lagu atuh seperti slank

mampir ya ke blog saya

Kang Nur @ Kang Muhammad Rachmat:
Mengingatkan wakil rakyat adalah hak kita, tapi mengingatkan seorang Raja?? Pantaskah kita??
Dalam budaya Yogya, itu masih akan dianggap tidak sopan. Ora ilok (kata orang Yogya, dan Jawa umumnya). Kita hanya dapat ber-bisik2 di lorong2 kampung, gardu2 ronda dsb; dan sebagian besar orang kampung di Yogya masih sangat menghormati Sultan.

Komentar oleh Muhammad Rachmat

aku kurang tau tentang sultan, tapi aku pernah dengar pihak kraton tuh sudah berjasa banget sama yogya.

Kang Nur @ Yu Marsini :
Kalau kita menengok sejarah, tentulah akan kita lihat bahwa Yogyakarta itu sendiri adalah kota pusat kerajaan yang mulai dirintis dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1682 Saka (=
+ tahun 1756 M, sesudah perjanjian Giyanti). Maka dapat dikatakan bahwa pendiri kota Yogyakarta adalah Sultan Hamengkubuwono I itu sendiri. (Ket.: Sebelum menempati di lokasi kraton sekarang, Hamengkubuwono juga pernah beristana di bilangan Ambarketawang Gamping Sleman).
… Bahkan sebelum itu, kerajaan Mataram Islam sejak pendirinya Panembahan Senapati (-)hingga Sultan Agung (-) juga beribukota di wilayah Yogyakarta (yaitu di Kotagede, Kerto dan Pleret = masuk wilayah Kodya Yogya dan Bantul).
… Dengan demikian, sejarah lahir dan berkembangnya kota Yogyakarta memang sangat terkait erat dengan sejarah lahir dan berkembangnya kraton-kraton itu.
Wilayah Yogyakarta (bukan hanya Kotamadya Yogyakarta; namun juga dengan 4 Kabupaten lainnya yang masuk propinsi DI Yogyakarta) sejak dulu hingga kini memang tidak pernah lepas dari kraton dalam hal pengurusan kebijakan publik-nya, termasuk semenjak memasuki jaman Republik Indonesia.
Maka masalahnya kini memang = seberapakah Kraton (dan Pakualaman) itu kini di jaman Republik yang makin demokratis dan jaman di mana daerah-daerah mendapat otonomi yang lebih luas itu, memiliki wewenang politik di Propinsi Istimewa Yogyakarta ini. Itulah salah satu pokok kebutuhan yang penting menjadi esensi bahasan/jabaran di dalam Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang akan ditetapkan.
Peran kraton terhadap sejarah keberadaan Yogyakarta jelas tak dibantah lagi; karena dapat dikatakan bahwa tanpa ada kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maka Yogyakarta mungkin memang tidak pernah akan ada. Saya berani menyatakan bahwa memang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat-lah yang melahirkan kota Yogyakarta.
Peran besar lain kraton yang masih dapat disoroti dari berbagai segi adalah peran kraton (Yogyakarta; Kasultanan dan Pakualaman) terhadap awal perjuangan pendirian Republik Indonesia ini sendiri. Saat itu, sejak dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga Jepang; pemerintahan kolonial-pendudukan itu menghadapi kenyataan bahwa tidak bisa tidak, maka selalu memposisikan kraton Yogyakarta sebagai wilayah khusus yang memiliki kedaulatan tersendiri dengan pengaturan kebijakan publik tersendiri. Maka, ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, dan lalu Sultan dan Paku Alam menyatakan berdiri bergabung bersama Republik; adalah wajar bila Pemerintah Republik di bawah Soekarno selanjutnya saat itu memberikan status Istimewa, apalagi mengingat peran Yogyakarta bagi keberadaan Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan itu juga sangat besar.
Begitulah pandangan saya terhadap posisi kraton (Kasultanan) atas Yogya dan Republik Indonesia.
Sedangkan, sorotan saya terhadap profil Sultan HB X adalah lebih merupakan wujud harapan saya sebagai warga propinsi Yogyakarta agar beliau mampu meningkatkan performance kinerja-nya yang optimal sebagai Gubernur Yogyakarta. Jadi, itu urusan lain lagi. Melihat antusiasme kawulo Ngayogyakarta, bukan mustahil beliau diinginkan oleh sebagian besar warga Yogyakarta sebagai Gubernur Seumur Hidup! …Saya berpikir, …bagaimana nasib perkembangan kemajuan Yogyakarta bila akan dipimpin Seumur Hidup oleh seorang Gubernur yang kinerjanya biasa-biasa saja seperti itu? Tidakkah hanya akan jalan di tempat saja?
Penghargaan kita terhadap jasa kraton semoga tidak menumpulkan atau membutakan daya kritis penglihatan kita terhadap kinerja kebijakan dan pelayanan publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah di bawah pimpinan seorang Gubernur. Maybe the king can do no wrong, but a-gouvernor-of-a-province’s public-policy in this democratic republic really can do wrong.

Komentar oleh marsini

wew, kritikan yang tajam dan pedas. Apakah kritikan ini merupakan pendapat pribadi anda? Karena jika khalayak umum juga berpendapat demikian, mungkin lebih baik jika anda memasukkan juga pendapat umum beserta sumbernya. Karena saya yeng membaca merasa seolah ada dendam pribadi anda dengan sri sultan. Lagipula buat saya pemakaian kata bodoh kiranya kurang pantas untuk seorang tokoh masyarakat. Meskipun anda merasa ini adalag blog pribadi anda dan anda bebas berpendapat, tapi hendaknya tidak membuat tulisan yang bersifat menghakimi dan memojokkan. Meskipun saya juga setuju tentang penggusuran bangunan bersejarah menjadi sebuah mall bukanlah tindakan yang bijak terutama sebagai sultan terhadap peninggalan bangsanya sendiri. Maaf saya hanya bisa komentar.

Kang Nur @ Yu Risdania :
Maturnuwun Yu. Terimakasih. Atas berkat komentar Yu ini, maka dengan ini saya telah menghapus beberapa perkataan ‘bodoh’ dan juga mengubah sedikit bbrp kalimatnya. Maaf bila tulisan saya sebelumnya sangat tidak sopan, kepada semuanya yg telah pernah membacanya. Saya hanyalah orang awam yang masih belajar mengungkapkan pikiran dan aspirasi lewat blog. Maaf dan terima kasih.

Komentar oleh risdania

hahahahhahaa….
akhirnya, ada yang nulis juga..
memang Sri Sultan yang sekarang susah kalo mo dibandingin sama Sultan HB VIII dan IX..
tapi kayaknya masalah putrinya hamil di luar nikah itu ndak ada hubungannya sama gaya kepemimpinan beliau.
lain perkara.. ^^

Komentar oleh -tikabanget-

[…] Ini sayah dapet dari Momon dan Antogirang. Tentang 6 alasan mengapa Kang Nur ituh ndak gitu respek sama Ngarso Dalem Sinuwun Hardjuno Darpito alias Sri…. […]

Ping balik oleh tikabanget’s dagdigdug » Ada apa dengan Sri Sultan HB X ituh..

hehe, masih mending lah, daripada di negeri sebelah, rajanya malah rebutan kekuasaan..

kalo menurut Anda sultan ini ndak cocok, lalu siapa yg anda rasa cocok? ada solusi?

atau Anda yang mau maju? hehehe..

Kang Nur @ Mbakyu Tikabanget, Kakang Zam Jengjeng Matriphe; DKK, DLL, DSB :
Saya ini sekedar wong ndeso yg sok-trendy ikut2 nyemplung di media teknologi-komunikasi-informasi yg disebut blog di internet ini. Yah, sekedar wong ndeso bodho yang bagai latah coba2 buka ‘kios’ untuk jualan. Lebih dari sebulan sudah’kios’ saya ini saya buka, tapi tak banyak ‘pembeli’ datang berkunjung. Saya berpikir: bagaimana sih biar ‘kios’ saya ini dikunjungi banyak orang? Saya benar2 orang baru dan kurang berpendidikan yang hingga kini sesungguhnya belum tahu apa dan bagaimana blog itu bekerja. Artikel2 di blog ini sesungguhnya masih asal muat saja. Lalu…, saya asal nekat saja nulis ttg Sultan ini. Ya, asal nulis. Saya menulis ttg kesan subjektif saya. Saya belum dan tidak berpikir akan dampak yg dapat ditimbulkan dari tulisan ini, bagi saya sendiri ataupun bagi orang banyak.
Sekarang saya malah menjadi ketakutan sendiri akan dampak dari tulisan saya ini. Wah. He..he..he… :) :)
Tapi saya bangga juga bahwa gubug reyot saya ini akhirnya dikonangi dan dikunjungi juga oleh Mbakyu2 dan Kakang2 blogger senior. Kepada Mbakyu2 dan Kakang2 blogger senior, terutama yg domisili Yogya, pertama saya mengucapkan KULONUWUN dulu di dunia blog ini. Semoga Kakang2 dan Mbakyu2 blogger senior berkenan membimbing saya agar tidak salah langkah di dunia yang baru saya masuki ini. Maturnuwun sebelumnya dari saya wong ndeso katrok.

Komentar oleh zam

setuju dengan tika, masalah diluar nikah mah gak ada hubungannya dengan kepemimpinan (omong-omong kok namanya gak disebutin?gimana nih sumbernya???) , pendidikan juga gak perlu orang pinter buat mimpin, yang penting dia punya nurani.Indonesia tuh dah banyak wong pinter dab!!! tapi do keblinger

Kang Nur say:
Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Hingkang Jumeneng Kaping X lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Maret 1946 (tahun depan berusia 63 tahun).
Beliau menikahi Tatik Sudradjad, gadis dari Yogyakarta juga, yang kelak sbg Permaisuri bergelar Gusti Kanjeng Ratu Hemas. GKR Hemas itu kini bersama 3 orang terpilih lainnya adalah menjadi anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) mewakili daerah pemilihan Yogyakarta.
Tiga orang rekan beliau sbg DPD yaitu: SUBARDI (mantan tokoh PSS Sleman), Ali Warsito (mantan Ketua PW Muhammadiyah Yogya), dan Hafidh Asrom (pengusaha muslim).
Putri-putri beliau yaitu: RAy Nurmalitasari (GKR Pembayun), RAy Nurmagupita, RAy Nurkamnari Dewi, RAy Nurabrajuwita dan RAy Nurastuti Wijareni. Pada Mei 2006 cucu beliau sudah tiga; dua lelaki, satu perempuan. Sekarang sudah berapa, saya gak tahu; sudah lama gak dolan ke kraton.
Sultan HB IX, ayahanda beliau, dalam usia 61 tahun (tahun 1973); dipilih menjadi Wakil Presiden dan menjabat hingga tahun 1978; setelah sejak tahun 1946 selalu menduduki jabatan2 penting di Kabinet.

Komentar oleh veta

OOT: headernya tuh pabrik rusak di barat stadion pacar ya?

Komentar oleh veta

[…] Sultan yang sekarang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Ayahandanya.” Tidak percaya?– sumber addthis_url = […]

Ping balik oleh Super Mandra Bros » Blog Archive » Kenapa gak respek ama SULTAN HB X

Wah Kang Nur berani juga ya memilih kata. Tapi gpp Blog Anda ya kuasa Anda. Salut untuk tulisannya

Komentar oleh t3guhbs

apa ya?…itu sih bukan kritik menurutku tp kayak terkesan propaganda meski mgk “SANG PENULIS” ga bermaksud bgtu..agak (?) kekanak2an si tulisane. ak ga tau sberapa jauh “SANG PENULIS” mencerna bahan sebelum menuangkannya ke dalam tulisan.. emg, jgj lambat laun menjadi terkesan sebagai kota kapitalis, tp ga bisa lah menunjuk Sultan sebagai tersangka tunggal atas semua itu..tulisan ttg Sultan itu ko klo diterjemahkan dalam gambar, seperti “kerbau yg bernafas dg tersengal2 (emosi)”..last but not least, seberapa jauh sih anda tau ttg kebudayaan jawa?

Kang Nur say:
okey
ya

Komentar oleh katatun

saya cuma pendatang di sini.
tapi sejauh yg saya rasaken Sultan yah biarkan saja jadi gubernur sekali periode lagi. tapi dgn syarat, selama periode itu dipersiapkan transisi demokrasi, spy rakyat Yogya siap kalau dipimpin bkn oleh Sultan lg.

Komentar oleh rezco

kang nur abdi dalem yah tau banyak nih.

Kang Nur:
Belum kang aRul; tapi bisa juga abdi dalem “punokawan”, ‘oceh2an’. Punokawan adalah manusia2 bertubuh dan berwajah aneh, asalnya dari dewa kayangan yg dikutuk, menjalani hidup di dunia sbg orang Sudra-Paria bertugas mengawal dan mendampingi pengembanan tugas para Ksatria agar tidak salah jalan. ‘Oceh2’an berarti semacam burung beo atau berkicau yg sengaja dipelihara dan disayangi, meskipun lengking suaranya dapat memanaskan telinga, namun tetap saja sengaja dipiara. Bisa pula abdi dalem “wulucumbu”, yaitu orang2 berpenampilan super-aneh mengerikan sejak lahir yg me-nari2 di tengah2 orang banyak saat perayaan2 kraton. Kami menari dengan mimik yg tak dapat ditebak oleh yg menontonnya, sesungguhnya mau tertawa atau menangis.

Komentar oleh aRuL

Wah, asyik. Lebih asyik lagi, hemat saya, klo soal hamil sebelum nikah gak usah dijadikan sorotan, bos.

Komentar oleh bah reggae

Kang Nur, apakah nomornya sengaja satu semua? (Mungkin untuk menyiratkan bahwa semua poin penting? Hehe.)

Komentar oleh isman

Kang Nur, Anda sangat berani :)
Saya telah menuliskan tanggapan saya tentang tulisan ini di blog saya :)

Komentar oleh Donny Verdian

zam:

hehe, masih mending lah, daripada di negeri sebelah, rajanya malah rebutan kekuasaan..

kalo menurut Anda sultan ini ndak cocok, lalu siapa yg anda rasa cocok? ada solusi?

jangan mengalihkan diskusi zam, pembahasan ini kan tentang beberapa opini kenapa sri sultan tidak layak menjadi kepala pemerintahan. Mari kita fokus pada topik ini saja, nanti kalau diperluas akhirnya cuma debat kusir.

kalau soal ada tidaknya calon gubernur selain sultan, saya yakin jogja punya potensi yang banyak.

Komentar oleh hermansaksono

“asu koe…bangsat….njelek-njelekin sultan ku…tak pateni koe…asu”

yen perlu alamate biangane siji ki, email aku wae. wong iki tangga beda rt. ben disate wae asu siji ki, pancen golek memolo kok.

Kang Nur @ loboe:
malem minggu wingi sing mabuk2an neng pos ronda kae kowe2 yo? kok durung kapok2? njaluk takpolo po piye? nek arep mabuk2an ojo neng papan umum! ora suwe meneh kowe arep tak parani karo pak lurah bareng petugas polsek.

Komentar oleh loeboe

wah …
aku baru tau
kalo ternyata sultan kuliahnya (cuma) di fak hukum UGM

Komentar oleh pacarkecilku

Welhadalah. Ciloko iki nek pintere didelok seko sekolahe ning ngendi. Aku ki nduwe konco okeh sing lulusan luar negeri ning yo kemplung je.

Komentar oleh bpdp

wah wah… saya juga kuliahnya (cuma) fakultas hukum ugm, ya itu lah garisan nasib :mrgreen:

Komentar oleh Dimas

Ada beberapa poin yang saya setuju dengan tulisan ini. Poin 2, 3, dan 4. Sementara poin 1 dan 6 menurut saya itu agak di luar konteks kepemimpinan memang. :P

Sisanya, saya setuju dengan Herman. :D

Komentar oleh Goenawan Lee

secara profilnya saya nggak bisa mengkritisi ya…

tapi kalo secara teknik penulisan ada dua salah ketik yang fatal menurut saya… yang manakah itu…??? silahkan baca ulang :)

Komentar oleh plain love

Fatal? Setuju! hehe

Komentar oleh handaru

emm… harus ada keseimbangan dalam kehidupan..
tidak semua padi no 1 melahirkan padi no 1 juga…. :D

Komentar oleh wahyu

Mending ini daripada Soeharto…

Kang Nur:
wah, kalo Soeharto mah saya gak ikut2. tapi krn ini Ngarso Dalem…., Sultan, justru saya ikut2

Komentar oleh Mas Kopdang

Ngarso Dalem juga manusia bung, tak luput dari kekurangan. Saya yakin Sultan IX pun juga demikian adanya, tak ada manusia yg sempurna di dunia ini bung !!!
Kaloupun Ngarso Dalem mencalonkan diri buat rebutan kursi RI 1 esok, sah2 aja menurut saya, buat saya itu adalah salah satu indikasi Ngarso Dalem sudah mulai mendapat kepercayaan bukan dari masyarakat Jogja saja, dan mustinya kita bangga dong akan hal itu.
Satu hal terakhir, soal statement terakhir anda yg mengatakan bahwa tulisan anda bukan bermaksud sbg “pembantaian karakter” kayaknya ngaco banget deh, jelas2 anda telah membantai karakter seseorang lewat tulisan anda ini.

Komentar oleh aconk

Mas, Nek persoalan anaknya jangan dibawa bawa ndak relevant dengan issue kepemimpinannya itu, juga soal pendidikannya , ingat lo Pak Harto iku yo ra sekolah dhuwur buktine iso, SBY ?? S3 ? gimana coba hasile? kita perlu Pemimpin yang JUJUR dan didukung RAKYAT

Komentar oleh Norman

penilaian seperti ini rada susah bagi saya. ewuh pakewuh…. apalagi akyu bukan orang Yogya, cuman ngeliat dari jauh.

Kang Nur say:
Tlatah Bhumi Sambhara Buddhara (Borobudur) adalah tempat asal leluhur orang2 Mataram, tempat berjayanya Wangsa Syailendra yg telah mengharumkan nama bumi nusantara dengan karya besar nenek moyang itu, Borobudur. Kiranya semua orang Indonesia juga bangga dan mencintai Borobudur. Kami dan kita semua tentu bangga mendapatkan kunjungan dan tanggapan dari pendekar asal Borobudur,

Komentar oleh bumisegoro

kuliah (cuma) UGM ya ? Jadi berpikir, semua orang sebelum kemerdekaan lebih berkualitas daripada kita dong, kan semuanya lulusan belanda atau lulusan sekolah belanda, lah wong kita waktu itu blum punya kampus :-) Saya rasa masih lebih berkualitas yang kuliah daripada presiden yang gak lulus kuliah :-D

Saya rasa mas Nur perlu lebih menata ulang penulisannya, mana yang fakta, mana yang dugaan, mana yang interpretasi pribadi. Sehingga tidak terjadi salah persepsi di kalangan pembaca blog ini.

Anyway, salut sudah memulai menulis !

Kang Nur:
Semua orang yg (justru) terlalu mempermasalahkan soal UGM itu; apalagi yg hanya karena ‘sensi’ pribadi; tidak akan saya ‘reken’. Saya menulis itu, adalah bagai “krn melihat sungai yg kering, maka saya akan men-cari2 dan meng-obok2 mata airnya”. Ikan2 sudah menggelepar, mata air harus bertanggungjawab. Ini blog tidak saya maksudkan sbg blog genit ABG selebritis, masih mending bikin blog ala dukun asal gunung. Bgmn kans Sultan maju Presiden menurut penilaian Konsultan Marketing? Trimakasih kunjungannya.

Komentar oleh andrias ekoyuono

loh kowe muntir?

Kang Nur @ loeboe :
boe…, saupomo aku pancen muntir; nanging wis mesthi yen muntir-ku iki dudu amergo wedi karo dhuapurmu sing ora kalap tur ketok banget goblog-mu iki. Upomo aku muntir iku, pancen aku isih duwe roso wedi mundhak aku kuwalat lan kesiku, saka walat-perbowo Ngarso Dalem piyambak, utowo pikantuk duka-ne lan ora antuk pangestu-ne para pinisepuh lan aji sepuh ing tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat, mergo ora anayogyani marang atur-tulisku; …dadi dudu mergo dhuapurmu.

Komentar oleh loeboe

Mas, sampeyan dendam to sama sultan?

Saya nggak kenal sama Sultan, tapi dari gaya bicara sampeyan kayaknya sampeyan bukan orang Jogja yang kebanyakan saya kenal ngabdi sama sinuhun-nya, atau minimal nggak mencaci.

Atau sampeyan sudah kenalan sama gaya liberal. Yang jelas, saya seneng di Jogja. Keberadaannya khas, dan masyarakatnya masih jauh dari liberal.

Kang Nur:
Lebih tepatnya Kang Abdullah; bila sampeyan tidak lupa tentunya ya masih ingat? :) bahwa budaya Wong Samin itu adalah juga masuk dalam wilayah budaya Jawa juga. Wong Samin adalah mengikuti ajaran keyakinan dari pepundhen Mbah Samin Surosentiko. Wong Samin adalah kawulo alit yg tinggal di pinggir2 hutan (jati, terutama sekitar Blora-Ngawi). Mereka dapat dikatakan sbg golongan anarkis-klasik Jawa yg terutama menonjol tenar di abad ke-19 M, yg menentang kolonial Belanda namun juga merasa TIDAK terlindungi oleh kekuasaan para Sunan/Sultan Mataram. Yg dapat dilakukan memang hanyalah dgn cara berperilaku gila. Pengaruh budaya dan gaya berpikir mereka menyebar ke wilayah2 lain. Orang2 Yogya-Mataraman seperti saya juga mengagumi mereka.
Hingga kini di wilayah Yogya-Mataraman, bila ada orang yg suka melakukan sikap pemberontakan, maka banyak orang lain tetangga2nya akan menyebutnya sebagai “Wong Samin”.
Jangan lupa bahwa di wilayah Yogya sendiri juga bertebaran anak-cucu keturunan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Bara api semangat kejuangan kerabat keturunan Ki Ageng Mangir masih ada. Dialah seorang kepala tanah perdikan yg terbunuh di tangan mertuanya sendiri, Kanjeng Panembahan Senapati. Apakah semua orang Bantul merasa malu bila diingatkan bahwa di antara mereka pernah lahir tokoh sejarah yg akan selalu terkenang sbg pemberontak itu: Ki Ageng Mangir?
Saya tidak paham dgn yg kata “liberal” yg sampeyan pakai.

Komentar oleh abdullah

Maksud yang ingin anda capai bagus sekali. Tapi ada beberapa poin yang menurutku terlalu personal dan tidak ada hubungannya dengan kemampuan beliau menjadi seorang pemimpin.

Kang Nur:
wah, matur nuwun sanget kakangmas Dino saking pawiyatan luhur Delaware sampun kerso nglonggaraken wekdal lan kerso paring pangandikan wonten nggubug kulo mriki

Komentar oleh Dino

wah2, sembrono sekali sampean berasumsi bahwa 90% rakyat jogja akan berkata seperti itu…..
sampean kan belom pernah nanya ke semua orang jogja?
walaupun saya juga ndak berani mbantah karena saya juga ndak punya data pasti yang bisa dijadikan dasar bantahan saya.
tapi kalo misalnya saya bilang 90% rakyat jogja sangat mencintai sultan,anda bisa mbantah?

Kang Nur:
soal angka 90% itu emang saya akui itu bukan bahasa ilmiah maksudnya; seperti kata “setengah mati”. lha ukuran setengah (50%) mati itu bagaimana pula ngukurnya, ‘kan? ini adalah opini yg ekspresif dari wong ndeso yg kurang berpendidikan. kalo mau cari tulisan2 yg ilmiah ‘kan sudah banyak di blog lain?

Komentar oleh anakrojo

nur, sakjatine kowe ki wis tetak durung? ketoke/ngakune uwis mung kelakuane durung. ki gur takon lo, dadi kowe rasah nesu.

Kang Nur say:
Aku adalah orang asing di dunia ini, singgahku di sini hanyalah sementara dalam perjalanan ini, dan aku mengingat siksaku di kubur telah menanti bila aku mati. Bertemu dgn anak manusia sepertimu adalah selingan yg menghibur, boe. :D :D :D

Komentar oleh loeboe

[…] hermansaksono. Sebuah opini yang menarik, 6 alasan kenapa yang bersangkutan kurang respek terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono X. Artikel yang mungkin […]

Ping balik oleh fistonista » Blog Archive » tidak respek terhadap sultan hb x

huahuahuaa….tau aja ya….

Komentar oleh zackycute

Menarik sekali uraian Kang Nur ini, dimana 97,672% (Sorry angka ini saya dapat melalui perenungan dan perkiraan tanpa dasar yang mendalam)populasi masyarakat Jogja lebih suka memuja Sultan, tapi kang Nur ini berani membuka profil kekurangan beliau (kalau tidak dinamakan buruk).
Cuman di bagian akhir uraian Kang Nur saya agak terkejut. Tadinya saya pikir dasar-dasar profesional dan kompetensi yang akan dipakai oleh Kang Nur untuk menilai Sultan. Tapi ternyata uraian tentang Kehamilan pranikah putri Sultan menjadi dasar Kang Nur untuk menilai Sultan.
Seperti kata Kang Nur bahwa Sultan itu hanya manusia biasa, saya setuju. yang saya tidak setuju adalah mengapa kejadian yang dialami oleh anak beliau (kalaupun ini benar) menjadi alasan Kang Nur untuk menilai negatif beliau juga. Ini selain tidak essensial tapi juga tidak tepat sasaran selain juga berlawanan dengan statement awal kang Nur bahwa beliau juga manusia biasa.
Sedikit akhirnya yang mengganjal di hati saya (walaupun sedikit tapi tetap mengganjal kan?) bahwa dihati saya juga memberikan penilaian terhadap kang Nur sebagai penulis bahwa Kang Nur mungkin mempunyai kepentingan tertentu sehingga memposting tulisan ini. Mudah-mudahan saya salah tapi mohon penjelasannya.
Mohon maaf disini saya hanya berusaha mencari alasan agar di hati saya tidak muncul prasangka negatif bahwa Kang Nur ini hanya asal ngomong dengan tendensi tertentu. Wassalam.

Kang Nur @ Kang Roman :
Wa ‘alaika salam.
Ya. Saya 76,792% tertarik juga dg komentar Kang Roman. Pengertian bahwa masyarakat Jogja memuja Sultan itu kurang tepat, apalagi bila yg dimaksud ‘Sultan’ adalah semata figur personal Sinuwun Herdjuno Darpito. Orang Jogja itu agak narcis dgn budayanya sendiri. Sesungguhnya yg mereka puja adalah budaya mereka sendiri, sedangkan / padahal “Sultan” adalah simbol dari budaya.
Tulisan ini memang OPINI SUBJEKTIF saya.
SETUJU.
YA SUDAH YA, KALO BEGITU. YA KALO SAYA SALAH; SAYA MINTA MAAF, YA?
Sedikit saja mengganjal, apalagi yang besar ‘kan?
Semua orang punya kepentingan. Sbgmn Kang Roman mau berkomentar di sini. Apa kepentingan Kang Roman?
Kepentingan saya adalah bagaimana agar orang2 seperti Kang Roman ini berkesempatan utk berlatih berkomentar di blog.
Tidak usah nangis.

Komentar oleh Roman

Wa ‘alaika salam.
Ya. Saya 76,792% tertarik juga dg komentar Kang Roman. Pengertian bahwa masyarakat Jogja memuja Sultan itu kurang tepat, apalagi bila yg dimaksud ‘Sultan’ adalah semata figur personal Sinuwun Herdjuno Darpito.>>> Menarik sekali uraian Kang Nur ini, dimana 97,672% (Sorry angka ini saya dapat melalui perenungan dan perkiraan tanpa dasar yang mendalam)populasi masyarakat Jogja lebih suka memuja Sultan, tapi kang Nur ini berani membuka profil kekurangan beliau (kalau tidak dinamakan buruk)>>> Lho, bukanya ini saya maksutkan untuk menonjolkan hal dimana Kang Nur adalah sedikit diantara jutaan rakyat jogja yang mempunyai opini berbeda dari yang lainnya. dan saya kira karena itulah Kang Nur ini Unik dan jarang ada padanannya :)

Orang Jogja itu agak narcis dgn budayanya sendiri. Sesungguhnya yg mereka puja adalah budaya mereka sendiri, sedangkan / padahal “Sultan” adalah simbol dari budaya.>>>Saya kira Kang Nur yang narsis dengan menggunakan opini pribadi yang cenderung subjektif dalam membuat ulasan tentang kompetensi seorang pemimpin.

Tulisan ini memang OPINI SUBJEKTIF saya.
SETUJU.>>> saya juga setuju :)

YA SUDAH YA, KALO BEGITU. YA KALO SAYA SALAH; SAYA MINTA MAAF, YA? >>> Lo, Kang Nur salah apa sama saya???

Sedikit saja mengganjal, apalagi yang besar ‘kan?
Semua orang punya kepentingan. Sbgmn Kang Roman mau berkomentar di sini. Apa kepentingan Kang Roman?>>>Kepentingan saya adalah mencoba melakukan argumentasi yang sehat dan objektif dalam segala hal :)

Kepentingan saya adalah bagaimana agar orang2 seperti Kang Roman ini berkesempatan utk berlatih berkomentar di blog.>>> tentu saja, terima kasih atas kesempatannya.

TIDAK USAH NANGIS.>>>hahaha KANG NUR ini seperti anak yang masie kecil aja, menganggap orang lain gampang nangis hanya karena orang lain tidak sepakat dengan pendapatnya. Wah njenengan kayaknya harus banyak belajar lagi tentang “cermin dibelah karena buruk rupa”.

Wasssalam, eh dirumah cermin njenengan yang tinggal satu itu jangan dirusak juga, ntar simboknya njenengan bingung lo nyarinya :))

Komentar oleh Roman

Emang kalo (cuma) lulusan UGM kenapa ????
Anda yakin yang lulusan Amerika atau Zimbabwe, lebih unggul ???? Pendapat sepihak ini ????

Entah Putri no 2 hamil duluan, entah yang ini, Putri Sultan no 1 dan 3 sekolah di sekolah yang notabene sekolah katolik (Stece)padahal Ngarso Dalem kan Hamengku buwono imam agung sayidin panotogomo khalifatolah.
Itu juga bukan masalah kan….??

Gimana mas Nur…
Masih kurang yang mau diblow up ??

Kang Nur: :( Wah, Pras ini satu lagi yg mmprmasalahkan soal UGM itu ya? Ssungguhnya itu bukan poin utama yg saya maksud dari paragraf itu. Silakan lihat komentar saya kpd Andrias Ekoyuono. :)
Soal hamil itu mmg saya kira yg dianggap paling ‘kontroversial’ bagi pembaca. Saya agak menyesal telah menuliskan itu.. Saya mewacanakan ini adalah dlm kerangka perspektif budaya, bukan agama, apalagi yg lebih sempit dari itu. Shg tentunya yg Pras sebutkan itu tentu mmg tidak masalah. Akan Pras&pmbaca smua dapati bahwa saya cukup pluralis (mnghormati kemajemukan). :) Dialog saling pemahaman-lah yg saya harapkan berlanjut. ..Saya mmg masih punya janji utk menulis lagi pandangan saya ttg ini, utk mendapatkan kejernihan dan makin menjadikan saya belajar bijak, bukannya cari sensasi saja. :)

Komentar oleh Pras

Posting yang bagus dan pedas. :-)
Saya sendiri sebagai wong Jogja nggak begitu kenal dengan Sultan. Tapi saya masih berharap semoga saja beliau tidak sejelek yang kita kira.

Kang Nur: Ya. Trimakasih :) Saya menulis ini juga tidak ingin utk mem-besar2kan prasangka. Mari kita mendoakan yg baik2 dan terbaik utk Sultan dan kita semua.

Komentar oleh Wahyu Wibowo

Salam kenal,

6 pertanyaan untuk 6 alasan itu :

1. Muhammad SAW tidak pernah sekolah, kenapa bisa jadi Rasul dan menghasilkan karya yang sangat brilian ?
2. pasca suharto, setiap PEMILU & PILPRES kenapa setiap pemimpin partai & calon presiden mesti sowan ke HB X ?
3. Kenapa seorang Habibie yang punya prestasi segudang malah tidak dipercaya menjadi presiden ?
4. lagi-lagi Muhammad SAW, kenapa Islam bisa berkembang luas padahal ajarannya tidak dengan logika (wahyu) ?
5. Lagi-lagi Habibie, kenapa orang yang selalu ramah dengan pers ini, dengan mudah dilupakan rakyat ?
6. Apakah HB X harus jadi Muhammad dan habibie dulu untuk jadi Presiden ?

Salam,

Buyung Maulana
(Bukan orang Jawa)

Kang Nur say:
Salam kenal juga,
Saya telah mengunjungi blog MOST Bang Buyung. Saya salut atas prakarsa itu; dan sbg orang Yogya tentu turut bangga bila Sultan dikagumi oleh org2 luar Jawa/Yogya, bahkan Bang Buyung membuat blog khusus ber-content Sultan. Orang Yogya sendiri kini masih bersikap ambigu & gamang thd langkah Sultan ataupun thd keistimewaan Yogya. Di satu sisi ingin mempertahankan kearifan nilai budaya lokal namun di sisi lain juga ingin menerapkan prinsip demokrasi modern yg meritokratis, check & balancing, dan accountable. Ini bagai buah simalakama. Paling tidak, begitulah pendapat saya. Apakah ini “zero-sum game”? Saya kira juga tidak semestinya begitu.
Sbg pemilik blog, sesungguhnya saya telah ingin menyerahkan semua wacana terkait ini kepada publik pembaca saja; namun saya akan mencoba menjawab bbrp pertanyaan bang Buyung ini:
1. Sbg rasul & khatamun nabiyyin, Al-Amin Al-Musthofa Muhammad saw dibimbing langsung oleh Tuhan Allah swt. Ke-ummi-an beliau justru mjd bagian dari mu’jizat, membuktikan bahwa diin yg beliau bawa bukan hasil dari mempelajari ajaran orang2 saja.
2. Pertanyaan ini mustinya lebih tepat ditujukan kpd para pemimpin partai & calon presiden itu, mengapa mereka melakukannya? Apa itu perlu, bermanfaat, dan mendidik? Utk 2009 mendatang, saya kira tidak semua akan melakukan itu.
3. Prestasi segudang apa? Yg mana? Melepaskan Timor Timur? Menjual pesawat utk ditukar dgn beras ketan? Sbg anak murid Soeharto? Pd Pemilu 1999, Golkar sbg wadah berangkat Habibie memang sedang dijauhi rakyat.
4. Ajaran Muhammad adalah dari Tuhan Allah swt, sbgmn Tuhan Allah swt juga sebelumnya telah mengirimkan nabi-rasul utusan-Nya kpd umat2 terdahulu. Tidak ada rasul lagi setelah Muhammad. Demikian iman Islam. Isi ajaran wahyu tetaplah logis; mengajak utk hanya menyembah, berdoa dan mohon pertolongan kepada-Nya.
5. Tidak semua orang yg ramah dgn pers akan dicintai rakyat; krn yg akan dinilai rakyat memang perbuatannya, pemahaman-penghayatannya thd kehendak aspirasi rakyat; bukan “topeng2” yg ia buat. Pemimpin yg menjadi bagian dr rakyat, itu akan baik.
6. Itu memang betul. Gus Dur, Megawati dan SBY dapat menjadi presiden juga tidak harus ‘menjadi Muhammad dan Habibie’ dulu.
Yg saya tuliskan pd posting di atas memang saya akui itu betul2 adalah Opini Subjektif. Saya memang tidak mengemukakan fakta, namanya saja ‘kan opini? Itu berasal dari perspektif cerapan saya setelah bbrp tahun mengikuti berita di media ttg Sultan. :)

Komentar oleh Buyung Maulana

:D saya tersedak baca point pertama. Apakah harus sekolah tinggi dulu, baru bisa jadi pemimpin? Yakin tuh? Bagaimana dengan Soeharto? Gak sekolah di luar aja, bisa memerintah slm 32 tahun. Bukan karena militer, tapi karena kecerdasannya bisa menggenggam sebuah negara selama puluhan tahun. Analisis ini kurang akurat dan kurang mendalam.

Untuk yang lainnya, saya sependapat dengan tulisan Buyung Maulana. Salam.

Kang Nur: :) Wah, tidak usah tersedak. :) Poin pertama itu memang selalu menimbulkan penafsiran yg melenceng dari yg saya maksudkan. Lihat komentar saya ke Andrias Ekoyuono. Salam balik. :)

Komentar oleh Maya Noviana

Kang Nur,
Ketidaksukaan kita pada seseorang adalah merupakan kelemahan dari orang tersebut.
dengan kritikan, harapannya orang tersebut dapat memperbaiki kelemahannya.
6 pertanyaan saya sebenarnya untuk mempertegas arah argument kritikan kang nur terhadap sultan,
tidak respek bukan berarti tidak setuju kan ?
Saya sendiri mengumpulkan informasi dan pemikiran sultan di website http://www.most.or.id itu sebenarnya juga adalah sebagai bentuk kritik terhadap cara memilih pemimpin di negeri ini.
Kita, masyarakat awam, hanya tau SBY adalah seorang mantan tentara yang menjadi menteri sebelum jadi presiden, tanpa pernah tau hasil pemikiran dan prestasinya. Begitu juga dengan Gus Dur, Mega, Amien, Akbar, Kalla dll..
Masyarakat harus diberitahu secara jelas tentang kapasitas calon-calon yang akan jadi pemimpin negeri sebelum dipilih
masyarakat harus tau kelebihan dan kekurangan dari calon-calon ini
jangan sampai kita memilih pemimpin hanya karena penampilan fisik, ketenaran dan pesonanya saja, seperti yang sedang trend sekarang ini
kalo memilih pemimpin cuma berdasarkan ketenaran saja, kenapa tidak memilih Chris John yang juara dunia dan terkenal. Bangsa kita kan punya budaya kekerasan yang sangat kental ?
salam
Buyung Maulana

Kang Nur:
Ya, saya sepakat dgn langkah & pandangan Bang Buyung, termasuk utk membikin website http://www.most.or.id itu. Saya kira pembaca yg lain juga sepakat dan mendapatkan manfaat dari membuka website tsb. Itu langkah positif, yg mencerdaskan, logis, perbuatan yg bertanggungjawab dan rasional di masa keterbukaan ini. Jadinya, para tokoh dilihat bukan hanya sekedar dari mitos2 dan kabar burung belaka atau gosip. Itu sumbangsih tersendiri yg telah dibuat Bang Buyung. Semoga makin banyak pihak2 lain yg berbuat dgn pandangan seperti Bang Buyung ini. Salut :)

Komentar oleh Buyung maulana

ow…cm pendapat to

Kang Nur:
Lha iya lah, Dik Arie… blog ‘kan juga utk menampung pendapat2 yg tidak mungkin diungkapkan lewat media lain :)

Komentar oleh ariebp

Ada pola yang unik dalam memahami kepemimpinan berbasis keturunan. Hal yang sama bisa kita katakan tentang Megawati. Pak Karno, memiliki kehebatan, namun anaknya bisa juga tidak memilikinya.

Sultan Agung adalah raja besar Mataram-Islam, tapi Amangkurat I ? Begitu juga dalam panggung sejarah kepemimpinan di berbagai belahan dunia.

Ada kecenderungan manusia untuk melakukan benchmark kinerja seorang pemimpin keturunan dengan pemimpin sebelumnya. Karena kita memiliki ekspektasi yang terlampau tinggi terhadap sesuatu maka kitapun akan kecewa ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi…

Sri Sultan HB IX memang sudah dipersiapkan oleh ayahandanya HB VIII untuk menggantikannya. Putra Mahkotalah, sehingga setiap aspek didikan diperhatikannya.

Ada beberapa hal yang barangkali patut diperhatikan dalam menilai beliau. Penilaian saya bukan disebabkan karena saya mendukung Sultan, karena saya-pun juga masih mempertanyakan beliau.

(1) Sri Sultan HB X, di sisi lain bukanlah dipersiapkan sejak awal.

(2) Kondisi kultur masyarakat berbeda, sehingga beliau tidak harus menanggapi semua “bawelan” masyarakat. Bahkan nenek saya jaman dahulu sempat khawatir kalo saya wetonnya menyamai Sultan HB IX. Beliau pernah bilang, “nok, mugo-mugo anakmu lahire ora sak iki yo, mengko ndhak kuwalat karo Ratu (Sultan neptune Sabtu Pahing). Saking menghormati rakyat terhadap pemimpinnya, disitu tidak ada protes…jadi nurut…

(3) Waktu jadi Gubernur DIY, Sultan memiliki tanggungjawab sebagai pemimpin informal sekaligus pemimpin formal Gubernuran…Sebagai Sultan, dia dituntut untuk mengayomi rakyat kecil sak mlarat-mlarate….sebagai gubernur kriteria indikatornya adalah PAD yang meningkat….

Bagaimanapun, anak yang lahir di luar nikah itu merupakan salah satu kriteria dalam menilai aspek personal Sultan. Di negara manapun saya kira juga begitu.

Yang jadi masalah adalah, siap ngga sich masyarakat Jogja melihat dua jenis figur kepemimpinan dalam diri SUltan ? (Formal : gubernur dan informal Sultan).

Salah satu tanggungjawab SUltan sebagai pimpinan Kraton maupun gubernuran adalah : DHUWIT…

DHUWIT itu penting buat ngasih makan abdi dalem-abdi dalem, rakyat bila pas melakukan pisowanan…dari manakah uang itu didapatkan ? Dari langit ?

Itulah tantangan Sultan HB X….

Namun demikian, saya khawatir, Sultan X bisa menjadi lebih bingung ketika harus memegang beberapa mahkota di kepalanya…
Bagaimanapun dua kepala dua pendapat, seribu kepala seribu pendapat…apabila seribu pendapat minta dipenuhi, jelaslah tidak mungkin….

Kang Nur:
Wah, komentar Kakang(mbok? kok itu pake ‘nok’ saat nenek ngendiko?) Kalammunyeng ini cukup berisi dan jernih lho, bila dibandingkan komentar2 dr yg lain2nya.
Amangkurat I ada disinggung/ditampilkan pada novel trilogi YB Mangunwijaya yg saya baca: Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri sbg anak raja besar yg kurang terasuh baik, bahkan kalo tidak salah dan lupa di situ dia digambarkan menderita semacam oedipus complex (atau cinderella complex?), bahkan necrophilia. Itu juga kalo istilah2 yg sy gunakan ini benar dan tepat.
Ttg hal dipersiapkan ato tidak a.l. dr membaca buku “Tahta untuk Rakyat” riwayat Sri Sultan HB IX, kalo sy pikir2, sy agak heran juga btapa sepertinya Ngarso Dalem Sri Sultan IX dulu seperti sudah “melepaskan begitu saja” masa depan Yogyakarta kepada perkembangan jaman belaka. ‘Kan seperti itu ‘kan ya?
Saya qra itu saja yg dapat saya tambahkan..

Komentar oleh kalammunyeng

Kalau Sultan HB IX gak usah diperdebatkan lagi soal kepiawaian kepemimpinannya dan prestasinya serta kepeduliannya terhadap kawulonya.
Namun jika putra beliau, yaitu Sultan HB X, ya gak bisa dibandingkan dengan ayahandanya, seperti bumi sama langit perbandingannya.
Mau menilai kelayakan Sultan HB X sebagai Presiden/Wakil Presiden RI, gampang-gampang aja kriterianya, sekelumitnya adalah sebagai berikut :

Apa prestasi nyata yang telah dilakukan oleh Sultan HB X selama memimpin sebagai Gubernur propinsi DIY ?. Banyak hal tak dapat dikatakan sebagai cemerlang. Antara lain misalnya :

1. Kota Pelajar

Soal pudarnya Pamor kota Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. Apakah Sultan HB X mampu nguri-uri dan mengembangkan hal ini ?. Padahal ini warisan paling berharga dari Ngarso Dalem ingkang kaping Sedoso yang dengan kewaskitaannya menghibahkan tanah Bulak Sumur untuk kampus UGM.
Kota Pelajar memberikan kemaslahatan yang luar biasa adil merata dan berkelanjutan yang dirasakan oleh kalangan pengusaha kakap, pengusaha retailer, pensiunan pemilik rumah kos-kosan sampai simbok-simbok penjual pecel.
Namun, dengan keadaan kota Yogyakarta sekarang ini maka ‘devisa luar daerah’ yang mengalir dari para orangtua mahasiswa/pelajar perantau menjadi surut, tak lagi jadi primadona bagi orangtua-orangtua yang ada di seluruh pelosok Indonesia.
Bagaimana tidak surut jika para orangtua khawatir dengan situasi pergaulan kota Yogyakarta yang tak lagi kondusif, kumpul kebo, narkoba, free seks, dsb, tak mampu dibendung oleh kewibaan ngarso dalem.
Strategi pembangunannya (termasuk tata ruang dan bantuan permodalan) tak lagi mendukung eksistensi Yogyakarta sebagai kota Pelajar.
Dulu tahun 1980-an zaman saya sekolah di SMAN 2 Jetis, 30%-40% teman satu kelas saya berasal dari luar propinsi DIY. Bisa dibayangkan berapa devisa yang masuk ke DIY setiap bulannya lantaran pelajar perantau itu ?.
Namun hari ini, coba dilihat, surut bukan ?.

2. Kota Pariwisata

Ini juga warisan berharga dari Sultan HB IX yang dengan cerdik beliau memperbolehkan tanah keraton untuk pembangunan sistem BOT dari dana pampasan perang Jepang bagi pembangunan hotel Ambarukmo.
Namun, setelah masa BOT itu selesai, bukannya Sultan HB X melakukan renovasi terhadap hotel yang monumental itu, malahan di BOT kan untuk pembangunan Ambarukmo Mal.
Kalau kita bicara visi misi yang dipunyai Sultan HB X, maka kewaskitaan panggraitonya sebagai pemimpin yang visioner perlu dipertanyakan.
Apa yang mau diraih dengan Mal itu untuk memperkuat pamor DIY sebagai Daerah Tujuan Wisata ?. Turis asing diiming-imingi agar datang berkunjung ke Yogyakarta dengan adanya Ambarukmo Mal itu ?.

3. Aspek Religius

Mataram setelah era Sultan Agung, susah mencari figur bangsawan kraton yang religius ke-Islam-annya dapat dibanggakan.
Sultan HB X ini memang bergelar Haji, karena sudah menunaikan rukun Islam yang kelima.
Namun bagaimana dengan sikap Sultan HB X tentang RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi ?.
Ini bukan soal pertarungan ideologi Sektarian dengan Sekuler, namun soal adat ketimuran dan aspek religius Islam.
Apakah karena berlindung di balik budaya busana kemben maka dapat dengan serta merta menafikan kebutuhan RUU tersebut ?. Padahal justru ‘kemben modern’ ala thanktop yang memperlihatkan pusar dan belahan dada yang sekarang tren di Mal-Mal di kota Yogyakarta, apakah itu yang akan dilestarikan oleh Keraton ?.
Apa kemaslahatannya bagi Pamor Yogyakarta sebagai kota Pelajar ?.
Apa justru tidak makin ngeri orangtua dari luar DIY mengirim anaknya belajar di Yogyakarta karena Sultannya justru mendukung budaya permisif dengan menentang RUU APP ?.
Belum lagi jika bicara soal Ahmadiyah.
Agak mengherankan jika diklaim bahwa kaum santri Muhammadiyah yang berasal dari Kauman itu mendukung sikap Sultan HB X dalam menentang pembubaran Ahmadiyah.

4. Pertanian , Pertambangan

Yogyakarta sebagai daerah endapan muntahan lava gung berapi sangatlah subur, walau wilayahnya relatif kecil. Oleh sebab itu maka Sultan HB IX pada zaman Romusha Jepang membangun Selokan Mataram yang menghubungkan kali Opak dengan kali Progo.
Dua manfaat yang langsung didapatkan rakyat dari kewaskitaan beliau, pertama rakyatnya terhindar dari Romusha karena dispensasi adanya proyek itu, kedua irigasi teknis selokan mataram ini membuat intensifikasi pertanian di Yogyakarta pun berkembang lebih dulu sebelum Republik ini berfikir tentang program itu.
Namun apakah yang dilakukan oleh Sultan HB X untuk pertanian ?.
Malah beliau lebih suka menggusur para petani untuk memuluskan penambangan pasir besi PT JMM kepunyaan kerabat keraton.
Sejarah menunjukkan, pertanian yang padat karya itu lebih mensejahterakan rakyat jelata dibandingkan pertambangan yang padat modal dan teknologi itu.

Monggo poro priyayi Ngayogyokarto Hadiningrat dipun penggalih, monopo sampun sak mesthinipun menawi Ngarso Dalem meniko mimpin Republik meniko. Menopo mboten langkung prayogi nglereskan lan nerasaken program pembangunan wonten tlatah ipun piyambak rumiyin ?.

Babakan keluargi inggih puniko putri-putri nan ndalem, inggih priyantun Ngayogyokarto sampun mangertosi kados punopo lelampahanipun.

Menawi mimpin keluargi kemawon dereng jejeg, kados punopo menawi mimpin negari ?.
Jika memimpin keluarga saja belum benar, bagaimana jadinya jika memimpin negara ?.

Nyuwun agungipun samodro pangaksami, nyuwun dipun apunten sedoyo kelancangan lan kelepatan kawulo.
Matur sembah nuwun.

Kang Nur:
maka selanjutnya saya ikut kata2 orang saja, bahwa yang namanya manusia memang akan selalu memiliki kekurangan di samping kelebihannya

Komentar oleh karyo rumekso

Kang Nur, kebetulan ortu & mbah & mbah buyut saya orang Yogya asli, maka sejak dilahirkan sampai selesai kuliah saya pun tinggal di Ngadisuryan.
Cuma sekarang sudah 10 tahun pergi merantau ke Jakarta.
Kalau tentang Sultan HB IX memang brilian dan visioner, segudang alasan betapa briliannya beliau, Selokan Mataram yg menghubungkan Opak dengan Progo yang merupakan trik untuk menghindarkan rakyatnya dari Romusha sekaligus memajukan pertanian, hibah tanah Bulak Sumur yang menjadi cikal bakal kota Pelajar-nya Yogya yang mendatangkan devisa dari daerah lain bagi rakyat Yogya, BOT hotel Ambarukmo, PG Madukismo yang terhindar dari Nasionalisasi, etc, etc, etc.
Tapi Sultan HB X sebagai penerusnya menurut saya tidak mampu mengembangkannya, kok mengembangkannya lha wong nguri-nguri mempertahankan saja ndak bisa.
Predikat kota Pelajar yang menghidupi rakyat Yogya mulai dari mbok bakul pecel, para pensiunan pemilik yg meng-kost-kan rumah tinggalnya, sampai retailer busana, ikut menikmati berkah berjibunnya para pelajar luar daerah yg menuntut ilmu di Yogya. Bayangkan devisa setiap bulannya yg didatangkan pelajar pendatang ini bagi perekonomian kota Yogya.
Namun, hari ini apakah yang Sultan HB X lakukan untuk nguri-nguri peninggalan pendahulunya itu ?.
Luntur sudah. Gimana nggak luntur di saat orangtua2 para pelajar itu di luar Yogya khawatir anaknya kumpul kebo di Yogya, justru Sultan HB X beserta GKR Hemas malahan dengan lantang menentang RUU Anti Pornografi, kepiye tho iki ?.
BOT hotel Ambarukmo telah habis waktunya, malahan dibuat Mall. Kenapa tidak direnovasi saja hotel itu ?. Emangnya turis asing akan ngiler berkunjung ke Yogya karena adanya Mall Ambarukmo Plaza (Mall Amplas, istilah keponakan saya) ?.
Kalau menurut saya kalau kita memang mau pilih Sultan Hamengkubuwono X menjadi Presiden RI itu bukan karena landasan kecemerlangan Kinerja & Prestasinya.
Tapi kita pilih Sultan Hamengkubuwono X menjadi Presiden RI karena ketetapan hati & sikap Pluralisme-nya yang telah ditegaskannya dengan berani & kemantapan hati dalam sikap ideologi politiknya Menentang RUU Anti Pornografi & sikap ideologi politiknya mendukung Hak Hidup Ahmadiyah.
Begitu menurut penilaian subyektif saya.

Kang Nur:
Dg segala pengetahuan, wawasan dan kemampuan Kang Karyo utk menulis ini; sesungguhnya Kang Karyo dapat membikin blog sendiri di mana di situ Kang Karyo dapat menuliskan segenap pengetahuan yg Kang Karyo miliki ini utk dibaca dan bermanfaat bagi banyak orang. :D
Namun demikian, saya sangat berterima kasih krn komentar2 ‘komprehensif’ Kang Karyo telah menjadikan posting saya di blog ini scr keseluruhan menjadi lebih lengkap dan berbobot. Semoga memberikan wawasan ‘lain’ utk pembaca.
Trima kasih

Komentar oleh Karyo Rumekso

Kang Nur, Ysh.
Setelah bakda acara Pisowanan Ageng yang ternyata merupakan acara Deklarasi pen-Capres-an Sri Sultan HB X, saya jadi kepikiran, jangan2 sebenarnya yang dimaui oleh Ngarso Dalem ini adalah menjadi Presiden RI tapi juga sekaligus tetap memegang jabatan Gubernur DIY untuk masa jabatan Seumur Hidup.
Apakah nantinya suksesi tahta keraton Kasultanan Yogyakarta juga akan dimungkinkan adanya ‘Sultan Wanita’ mengingat beliau hanya mempunyai seorang istri dan tidak mempunyai anak laki-laki, apa nantinya juga begitu ya ?.
Gimana menurut Kang Nur ?.

Kang Nur:
Kalaupun Ngarso Dalem menginginkan tetap memegang jabatan Gubernur, sekaligus ingin menjadi Presiden; saya kira itu adalah hak beliau. Namun tentu semuanya memang akan harus melewati proses dan prosedur yang konstitusional, politik juga hukum. Membutuhkan dukungan simpati, juga tata aturan hukum yang akan diberlakukan.
Ttg suksesi tahta kraton, saya sbg orang yg tinggal di Yogya pernah mendengar bisik2 ‘bawah tanah’ bahwa di kalangan kerabat kraton sendiri belum ada kesepahaman pandangan.

Komentar oleh Karyo Rumekso

Wah, saya setuju itu, karena akan menambah pengetahuan dan wawasan bagi kita orang awam ini, jika kang Nur bersedia membahas seputar pencapresan Sri Sultan HB X dikaitkan :
1. Konsekuensi dampak dan pengaruhnya terhadap pembahasan UU Keistimewaan Yogyakarta.
2. Konsekuensi dampak dan pengaruhnya terhadap sistim pengisian jabatan Gubernur yang akan dipilih langsung oleh rakyat lewat Pilkada, ataukah merupakan hak tradisionalnya Sultan Yogya yang berlaku Seumur Hidup dan Turun Temurun, ataukah kombinasi keduanya.
3. Sistim tata urutan suksesi di keraton Yogya dan siapa yang berhak memutuskan suksesinya itu dari Sri Sultan HB X kepada GKR Pembayun, ataukah kepada saudara laki-lakinya Sri Sultan HB X, atau kepada siapa ?.
Kita tunggu ya kang Nur.

Kang Nur:
Saya juga hanya orang awam. Saya tidak akan menulis ttg hal2 yg tidak saya ketahui dan saya merasa tidak mampu.
Ttg hal antara RUU Keistimewaan dengan hal pencalonan Sultan HB X sbg Presiden; saya kira kita sendiri semua jangan justru terseret dan terbawa-bawa untuk merancukannya. Kalaupun ada pihak2 yg sengaja atau lalu kini merancukannya, itu adalah urusan tanggung-jawab scr moral ataupun yg lainnya di antara mereka sendiri. Namun, kita sendiri jangan justru ter-bawa2.

Komentar oleh Hadiwijoyo

Kang Nur, di bawah ini ada tulisan yang saya dapat dari seorang kawan, entah dari mana asalnya.
Gimana komentar dan pembahasanya menurut Kang Nur ? :

Dewasa ini di tengah tuntutan demokratisasi di segala bidang, sungguh tak mudah menjadi seorang Sultan yang menduduki kursi singgasana di dampar kencono Keraton Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.

Betapa tidak, Sri Sultan Hamengkubuwono X hari ini menghadapi problematika dilematisnya pilihan dan agenda yang saling menghimpit. Bukannya tak muskil ketidak-tepatan dalam menyikapinya justru akan berakibat bukan sinergi yang saling melengkapi sebagai hasilnya, namun malahan dapat berakibat saling meniadakan. Golek upet malah kelangan deleg, begitu pepatah petitih jawa mengajarkan tentang bahayanya menggapai sesuatu yang besar tanpa pertimbangan yang matang akan membuat sesuatu yang telah berada di tangannya justru terlepaskan.

Semua itu mengharuskan beliau -sebagai tokoh sentral kelompok-kelompok kekuatan sosial politik di Yogyakarta- mampu dalam waktu sesegera mungkin memutuskan dengan diiringi kearifbillahan dan kewaskitoan panggraitonya seorang raja yang gung binatoro.

Ada persoalan desakan kawulonya yang menginginkan beliau melaju ke tampuk pucuk pimpinan nasional, mengingat kapasitasnya yang dinilai oleh kawulonya sebagai sudah sepantasnya beliau duduk di Istana Merdeka menjadi Presiden Republik Indonesia.

Tak dapat disalahkan keinginan dan pertimbangan akan pentingnya agenda tersebut diatas untuk diperjuangkan dengan segenap hati. Mengingat konstelasi dan konfigurasi politik nasional saat ini pun memperlihatkan adanya peluang yang cukup besar bagi beliau untuk merebut kesempatan yang memungkinkan ketokohan beliau lingkupnya lebih menasional secara formal.

Walau kebulatan tekad kawulo kasultanan Yogyakarta yang memadati acara Pisowanan Ageng dikatakan sebagai kebulatan tekad yang lonjong. Mengingat menurut beberapa pihak, acara Pisowanan Ageng niat awalnya adalah untuk ajang acara membahas Keistimewaan Yogyakarta yang kemudian oleh beberapa kelompok telah digeser menjadi ajang acara Deklarasi Sri Sultan Hamengkubuwono X menjadi Calon Presiden tahun 2009.

Selain itu, di lain pihak ada pula desakan dari sebagian kawulonya perihal agenda tentang status dan posisi Sultan Yogya sebagai Gubernur dengan masa jabatan Seumur Hidup, serta merupakan jabatan tradisional yang berlaku Turun Temurun bagi Sultan Yogya di masa mendatang.

Agenda ini pun bukan tak beralasan jika ditilik dari segi kemaslahatannya bagi ketentraman kehidupan kawulo propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adanya kepastian dan kestabilan politik akan menyumbang kepada kepastian dan kestabilan serta ketentraman yang akan berpengaruh kepada kesejahteraan kehidupan seluruh kawulo di tlatah Mataram. Dalam arti masyarakat Yogya akan terbebaskan dari hiruk pikuk perebutan jabatan Gubernur setiap lima tahun sekali, yang tak dapat dipungkiri akan menyita banyak sumber daya dan perhatian. Tersedotnya perhatian dan sumber daya untuk berebut jabatan Gubernur dikhawatirkan akan dapat memalingkan para pamong dan jajaran pranoto projo dari kewajiban utamanya memikirkan kesejahteraan rakyat.

Namun ini pun bukannya tak berproblem jika dikaitkan dengan tarik ulur kepentingan antar kelompok kekuatan politik lokal di Yogya. Tak dapat dipungkiri, ada pula sebagian kecil dari kelompok kawulonya yang mengharapkan jabatan Gubernur propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah saatnya mekanisme pemilihannya diserahkan ke tangan yang paling berhak, yaitu melalui mekanisme pemilihan langsung alias Pilkada.

Tuntutan demokratisasi atas jabatan publik yang menentukan hajat hidup rakyat banyak ini adalah hal yang sangat masuk akal dan sudah semestinya. Mengingat dewasa ini, di negara manapun sudah teramat langka didapati sebuah negara yang masih menerapkan sistim Monarki Absolut.

Belum sepenuhnya bulat dan difahami kawulonya sebenarnya apa yang dikehendaki Sri Sultan Hamengkubuwono X terkait pernyataan ‘gojekan politik’ beliau dalam hal jabatan Gubernur Propinsi Yogyakarta. Muncul surat GKR Hemas sebagai anggota DPD-RI yang mengusulkan agar pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menyatakan ‘tak mau dicalonkan kembali menjadi gubernur’ itu dimasukkan sebagai konsideran dalam RUU Perubahan Ketiga Atas UU No 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan DIY.

Tak ayal, surat ini mengejutkan beberapa pihak dan memunculkan tuduhan miring terhadap garwo dalem –GKR Hemas – perihal tindakannya yang dinilai telah menelikung Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai suaminya. Padahal menurut beberapa sumber, pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang tidak mau dicalonkan kembali sebagai Gubernur DIY itu baru sebagai wacana saja, belum sebagai keputusan final dari Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Tentu ini menambah ruwetnya problematika persoalan yang memang sudah ruwet. Belum lagi jika dikaitkan dengan keadaan keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono X yang sampai dengan saat ini belum dianugerahi satu orang pun putra laki-laki yang secara tradisi sistim suksesi tahta keraton akan menjadi pewaris tahta urutan pertama, dan selanjutnya akan berhak menggantikan beliau sebagai Sultan.

Problematika ini memang belum mengemuka di ranah publik, namun menurut rumor, hal ini telah menjadi keprihatinan dibawah permukaan di kalangan para kadang sentono dan kerabat dalem. Ini juga akan merupakan persoalan tersendiri yang relatif pelik jika dikaitkan dengan wacana pembahasan Keistimewaan Yogya yang berkait dengan jabatan Gubernur di masa mendatang.

Walau sebenarnya hal ini bukanlah tanpa yurisprudensi, sejarah pernah mencatat, bahwa pewaris dampar kencono Kasultanan Demak Bintoro pasca Sultan Trenggono secara sah formal bergeser ke Sultan Hadiwijoyo yang jumeneng noto di Pajang, yang biasa dikenal dengan julukan di masa mudanya sebagai Mas Karebet alias Joko Tingkir.

Akhirul kalam, Gusti Alloh itu tak pernah dan tak akan pernah salah dalam menentukan takdir-Nya. Gusti Alloh telah mentakdirkan Sinuwun Herdjuno Darpito yang hari ini duduk di dampar kencono Kasultanan Yogyakarta, dan Gusti Alloh pun tentu tak akan memberikan beban persoalan kepada hamba-Nya melebihi kapasitas hamba-Nya itu dalam memikul persoalan. Sesungguhnya, oleh-Nya persoalan itu dianugerahkan kepada hamba-Nya yang terpilih sebagai batu ujian ketakwaan hamba-Nya itu.

Para kawulo Yogya sangat percaya bahwa Ngarso Dalem tentu sangat memahami bahwa segala keputusan dan kebijakan beliau yang terkait dengan segala hal yang saling tumpang tindih dan tarik menarik itu akan sangat berpengaruh kepada kehidupan rakyatnya di masa kini maupun di masa mendatang. Apalagi Sinuwun Dorodjatun telah memberikan suri tauladan yang sangatlah arifbillah, yaitu ngugemi prinsip bahwa jabatan itu adalah amanah maka Tahta (diperuntukkan dan dipersembahkan) untuk (kemaslahatan) Rakyat.

Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Ttg surat usulan GKR Hemas itu saya tidak tahu. Ttg suksesi (intern) Kraton, pilihan yg lebih mungkin adalah antara putri dalem atau rayi dalem. Kawula Ngayogya akan rela menerimanya. Ttg selebihnya dan hal2 yg lainnya saya tidak tahu. Mungkin pembaca lain ada yg tahu?

Komentar oleh Trenggono

Rayi Nurdayat, apakah dalam sejarah Kerajaan Mataram dan Kasunanan Surokarto serta Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat itu pernah ada yurisprudensi dimana pernah ada Panembahan/Sultan/Sunan yang tidak mempunyai anak laki-laki yang kemudian pengganti yang duduk di tahtanya adalah anak perempuannya ?.

Kang Nur:
wah Mbah Maridjan ini makai istilah yg saya kurang paham artinya: yurisprudensi. Apa ya artinya? Warisan aturan hukum? kalau artinya itu, saya juga tidak tahu mbah. Tapi sepertinya kok tidak ada ya? Belum pernah baca di manapun atau lihat atau dengar. Tidak ada to mbah? Krn urutan sejak Panembahan Senapati hingga sekarang ya memang mudah dicari-dilihat-dilacak kok. Artinya, menjadi wacana pun dulu itu belum pernah. Namun, kini ketika sudah jaman emansipasi bahkan pengarus-utamaan gender; tentu kemungkinan bahwa GKR Pembayun akan menjadi nominasi kandidat utama pengganti ayahanda beliau juga besar.

Komentar oleh Maridjan

Setahu saya, sejak zaman Panembahan Senopati sampai Mataram pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, kok belum ada ya Sunan atau Sultan yang Wanita itu ?.
Apakah Sri Sultan Hamengkubuwono X berkehndak mau mendobrak tradisi sejarah itu ?.

Kang Nur:
Ya, memang belum pernah ada, Bang Abdurrahman. Di satu artikel di koran GKR Pembayun bilang bahwa Sri Sultan HB X (ayahanda beliau) juga tidak pernah ngobrol/membicarakan ttg masalah2 politik. :(?? Lha ini justru bila memang begitu, justru mengherankan saya. Bila Ngarso Dalem tidak pernah membicarakan ttg politik (bukan hanya keistimewaan Yogya, nasional; namun juga suksesi Kraton); bagaimana nanti bila sudah tiba waktunya utk mengambil keputusan. Apakan tidak akan terjadi ketidak-pastian? Mengapa hal2 seperti itu tidak dibicarakan oleh/kepada/ber-sama2 dgn kerabat kraton Yogya sejak sekarang?

Komentar oleh Abdurrachman

Kang Nur, apakah emansipasi dan pengarus-utamaan gender dapat dijadikan landasan argumen yang cukup kuat dalam mendobrak tradisi mekanisme suksesi di kerajaan Mataram ?.
Kalau Sultan HB X dan isterinya GKR Hemas tentu senang dan bergembira jika tahta dapat diwariskan kepada GKR Pembayun.
Tapi bagaimana dengan adik laki-laki Sultan HB X ?. Apakah mereka mau menerimanya dengan senang hati dan bergembira juga ?.
Saya kira, jika agenda mewariskan tahta kepada GKR Pembayun ini dijalankan maka sangat besar potensinya untuk jadi bibit perpecahan yang cukup serius di lingkungan Kasultanan Yogyakarta.
Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Apakah ‘tahta’ itu hanya dipahami sebagai penguasaan atas harta warisan kraton dan penguasaan atas asset2 material warisan kraton ? Ataukah ‘tahta’ juga dipahami sebagai beban moral sbg pengayom kerabat, budaya, juga rakyat ?
Dan suara serta pandangan dari rakyat memang tidak akan berpengaruh ya? Soalnya ini kan memang hak sepenuhnya Kraton/Kasultanan itu sendiri ?

Komentar oleh Salikh mBeling

wah..keliatan banget ni yg nulis blog ini cuma anak yg kebanyakan kepaitan…tidak cerdas. Selalu ngeles kalo orang2 yg protes utk poin 1 (soal UGM, soalnya semua 1) adalah orang2 yg melenceng dari maksud penulis, ya…makanya belajar nulis yg bener, baca buku yg banyak biar bisa ngebedain mana fakta, mana pendapat.

Kang Nur:
Whaow, luarr biasa. Komentar Anda luar biasa brillian. Nulis komentar saja begini hebat, apalagi bila nulis artikel. :lol:

Komentar oleh numpang

…Enam tahun terakhir, sebanyak Empat Puluh Delapan buah program studi di Tiga Puluh buah PTS yg ada di propinsi DIY, telah resmi ditutup, karena kurang peminat… (http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/20/00451914/10.program.studi.di.pts.ditutup)
Kalau yg itu termasuk kategori fakta atau pendapat ?.
Terlalu cerdaskah sehingga banyak program studi di kota Pelajar yg menjadi kurang peminat ?.

Komentar oleh Salikh mBeling

halah aku ra mudheng..

Komentar oleh anton

Cuma Satu Comment saya:
TAK ADA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI.
Inilah Kelemahan Utama Bangsa Indonesia..
Suka Saling Menghina.

Komentar oleh Brajamusti

1. soal sri sultan kuliah (hanya) di UGM.
kang nur lulusan luar negeri? apa jaminan lulusan luar negeri bisa pimpin negeri ini dengan baik? apa berarti dengan anda bilang (hanya) UGM tidak pantas memimpin negeri ini? apa segala sesuatu kalo dari luar negeri itu sudah pasti baik?berarti sia-sia dong orang yang kuliah di Indonesia karena mereka tidak lebih baik dari lulusan luar negeri.
2. perbandingan anda dengan sri sultan apa? apakah anda lebih baik dari sri sultan?
3. anda menilai prestasi sri sultan 0 besar, terus apa prestasi yang anda catatkan buat bangsa ini?
4. bukankah budaya kita kental dengan namanya magis?
5. kenapa harus simpatik ketika ditanya wartawan? anda cukup simpatik?
6. kalo putri beliau hamil sebelum nikah memang kenapa? kenapa aib keluarga orang anda harus publikasikan? mau aib keluarga anda dipublikasikan orang?

maaf jika pertanyaan di atas banyak menyinggung, anda maupun orang lain.
Intinya adalah, mari kita berkaca pada diri sendiri apakah kita sudah baik dari orang yang kita kritik. tidak usah bertanya apa yang sudah orang buat untuk bangsa ini, tapi apa yang sudah kita buat bagi bangsa ini.

Komentar oleh ngabojeg

Saya setuju comment dari Saudara Ngabojeg.
Kenapa Aib keluarga orang disebar-sebarkan kayak gini saudara Nur? Kalo aib keluarga anda disebar-sebarkan bagaimana perasaan anda? Kalo putri kedua ngarso dalem hamil sebelum menikah emang apa urusan anda? anda nggak rugi kan? kata anda Sultan juga prestasinya nol besar, lalu anda sudah menyumbangkan apa untuk bangsa dan negara ini?

Komentar oleh Revan

Ati-ati neng ndalan Kowe Nur!

Komentar oleh mansyur

–Prihatin–
————
Khawatir juga sih, beberapa kali kampung halamanku ini kena bencana. Sang Pencipta sudah memperingatkan kepada masyarakat Jogja yang aku rasa lingkungannya tak sebersih yang dulu. Buruknya budaya barat telah mengotori daerah yang seharusnya terus mempertahankan budaya timur, kerajaan yang masih berdiri di Nusantara. Coba lihat pergaulan bebas di Jogja?

Ingin rasanya bisa matur, berkirim pesan kepada sang pemimpin untuk introspeksi atas bencana yang menimpa daerahnya, peringatan atas amanah yang diembannya.

Yuk, kawulo2 yang menjadi beban Sultan ini juga bisa tahu diri, introspeksi terhadap lingkungannya. Berdoa untuk kebaikan masyarakat Kesultanan Ngayogyakarta.

Wassalamualaikum ya Yogyakarta.

Komentar oleh hanson

wah mas .. wong ra ono seng sempurno .. ono apik e ono elek e … tur aq milih ngomong seng apik2 wae … nek ono wong seng d panuti ki mesti adem ayem tentrem .. cobo nek ra ono seng dipanuti … kepiye jal ??

Komentar oleh deanet

mas nur, Sultan itu bukan malaikat. jadi beliau-beliau pastilah punya kelebihan dan kekurangan dan itu bukan hanya HBX saja. kalau memang pamor HBX tidak sebesar HBIX dikarenakan HBX tidak lahir dijaman perang dan ikut perang melawan penjajah seperti HBIX.
juga saya mau bilang, kata teman saya pihak kraton sudah tau website ini sejak awal anda buat. tapi anda selamat karena keluarga beliau bukanlah orang pendendam yg bisa membabat orang-orang yg menjelek-jelekkan tanpa alasan tepat seperti anda. itulah bedanya orang berpendidikan dan tidak berpendidikan. padahal anda bisa saja disidangkan karena menjelekkan nama baik seseorang. tapi anda masih aman hingga sekarang kan?
itu juga bedanya mana orang yg punya hati dan tdk punya hati.

Komentar oleh katrok

jujur sebagai warga jogja aku sangat mengagumi Ngarso Dalem dan keluarganya,,,beliau adalh gubernur sekaligus raja yang memimpin jogja dengan tetap mempertahankan adat2 kraton.aku sangat tertarik dengan semua berita tentang kraton.aku paling tertarik dengan isu kehamilan jeng Ita diluar nikah itu…tetapi apa bener…emng sih acara pernikahannya seperti gak dipublikasikan(yang saya tahu sejauh ini hanya pernikahan GKR Pembayun dan GKR Maduretno)…tetapi bagaimanapun juga Ngarso Dalem adalah raja dan gubernur kita yang wajib kita hormati…menurutku beliau tetap pengayom untuk warga jogja.

Komentar oleh wahyu

Nuwun Sewu Kang Nur,
Bagi kami di Semarang, ada sedikit sejarah yang bisa dibagi, HB IX sebenarnya hendak mengembalikan tahta kepada keturunan Gatot Menol dengan mendaupkan anak perempuannya dengan Pak Surya…dari Magelang keturunan Gatot Menol yang sekarang jadi Patih Lawu..
Sayang HB IX keburu meninggal sebelum mengembalikan tahta
Yang tahu adalah paman HB X yang meninggal saat perebutan tahta yang lalu dikatakan abdi dalem meninggalnya karena kualat sama HB X…panjenengan pirsa namanya kalau saya lupa habis bukan orang Yogya & jauh dari Kraton…

Bagi saya wong Semarang, Feodalisme di Indonesia matinya mati ngorak bukan karena revolusi seperti Prancis, masih banyak kultus individu terhadap para Ningrat

Saya tunggu postingan terbarunya

Komentar oleh tomy

Mungkin jika tidak ada kraton ngayojokarto hadiningrat,maka tidak akan pernah ada negara NKRI…lihat sejarah.

Komentar oleh budi wahyono

se-respek-respek-nya saya kepada anda saya masih lebih respek kepada ngarsa dalem HB X

Komentar oleh nurul

sih urip to kang nur

Komentar oleh joksin

si penulis cuma pgn eksis doang. .
pgn eksis ko ngubuka aib org. .

Komentar oleh ketul

mas sampeyan orang jawa atau bukan mas??kalo bukan org jawa ya sy lumrah,sebab sampeyan tidak pnya etika dan tata krama terhadap org lain terutama sultan HB X..Sultan memimpin yogya begitu bagus dan tdk ada masalah, trus knp sampeyan seolah2 mengolok2 beliau..sadar diri mas,sampeyan bukan siapa2 dan tdk ada 1 org pun yg mengunggulkan sampeyan..terus terang sy ndak terima sampeyan menulis ini..Ingat mas,yogya 100% milik keraton,tanpa sultan RI tdk ada mas..DAN INGET LAGI MAS suatu saat anda akan mendapat KARMA akibat anda senang menjelek2kan orang lain, entah nanti terjadi pada anda,keluarga,anak cucu sampeyan dansemoga lebih PEDIH…jujur aku ndak terima!!!salam buat yogyaku

Komentar oleh jarwo kwatrok

Pemilik blog ini benar2 GOBLOG!!!!!!!!!!!!! apakah karena seseorang lulusan dari luar negeri lantas dia dapat dikatakan pandai/jenius? belum tentu bodoh!!!! pemilik blog ini sungguh bodoh!! mendasari pemikirannya dilandaskan dari parameter lulusan luar negeri lebih mumpuni daripada lulusan dalam negeri!! lihatlah Thomas alfa edison yg memiliki bakat jenius, sedangkan ia tdk lulus sekolah dasar, lihat juga bagaimana anak2 indigo yg lebih jenius daripada kebanyakan anak2 seusianya! terkadang anak indigo tdk lulus sekolah, padahal dia jenius! persepsi anda mengacu kpd paradigma yg salah!! dasar anda bodoh!!

Komentar oleh pemilik blognya bego

pak sultan 10 sebaiknya jadi camat kraton aja, ndak perlu jadi gubernur apalagi presiden, ngoyoworo.
sukseskan pilkada DIY

Komentar oleh wong djokdja

studi di luar negeri tentu memiliki nilai lebih? saya tidak sepakat tempat pendidikan dijadikan tolok ukur menilai kapabilitas seseorang. wajar orang berpendidikan barat mendewakan barat, sebab dengan tolok ukur barat.

Komentar oleh Habbatussauda

Biasa wong urip neng alam donyo, ono sing mbangun ono wae ngrusak!
Menawi ngoten niku nggeh mboten nopo-nopo.
Koyo kacang ninggalake lanjaran

Komentar oleh Jaya Jogja

[…] terlalu ramai jadi bahan pembicaraan di blogosphere, akan tetapi terus terang artikel yang berjudul ENAM (6) ALASAN MENGAPA AKU KURANG RESPEK KEPADA NGARSO DALEM SINUWUN HERDJUNO DARPITO (SULTAN HB X) karya “Kang Nur” cukup membuat saya tergelitik untuk menuliskan artikel ini. Artikel […]

Ping balik oleh Soal Respek Pada HB X (Tanggapan Tulisan Kang Nur) — Donny Verdian

aduh rasa rasa postingan ini terlalu membuka aib seseorang…ada baiknya jika disampaikan hal-hal positifnya jika ia tidak menjabat. misalnya ia lebih banyak waktu luang utk anak dan cucu-cucunya…

Komentar oleh Kopi Tribulus

sungguh memalukan kata-katanya…..kalo bicara itu tolong melihat satu hal dasar yaitu suasana….”wang sinawang”, kalo orang jawa bilang….dengan siapa kita bicara, apa yang kita bicarakan , apa tujuan kita bicara, dan dalam kondisi apa kita bicara…..

Komentar oleh simon

saya pikir keluarga kerajaan yg lain misal kerajaan inggris, tidak akan luput dari kritikan rakyat & punya aib juga.

kalaupun aib-nya atau kekurangannya dibicarakan di
ranah publik, tidak ada salahnya juga.

masalah cocok atau tidaknya ngarso dalem menjadi
pemimpin, kan sudah ada mekanisme pemilihannya
kalo memang diinginkan oleh semua/mayoritas kenapa
tidak, yg tidak suka atau menganggapnya tidak mampu
menjadi pemimpin tentu saja harus legowo.

Komentar oleh Fajar Sulaksono

Tulisan gak bermutu jelas mengandung provokasi, bung bikin tulisan tuh yang berbobot, bikin tulisan kok ngomongin kekurangan orang lain.

Komentar oleh gak mutu

bagus kok, aku juga dari dulu gak respek ma sultan, dia orang yg gak punya pendirian, cuma bisa ikut kesana kemari, waktu reformasi dah kayak pahlawan kesiangan bgt, semua juga tau dia begundale harto, ngaku reformis dih, gusdur juga ngatain dia, sultan mencla mencle

Komentar oleh bobo

TIDAK SEHARUSNYA KAMU BILANG ITU!!!!
DIA ADALAH RAJA KITA…………..

Komentar oleh DIra

Mencari KELEMAHAN ORANG DAN KEBURUKAN ORANG memang MUDAH tetapi mengolok-olok AIB orang (Mbak pembayun ) juga tidak lah baik ,,,,saya tidak akan membela siapa-siapa wong saya juga tidak akan dapat apa-apa (misal dari Sultan) hanya sebagai MANUSIA saya terinspirasi oleh tulisan anda ,,,,,kadang SEMUA AIB bisa terjadi pada DIRI KITA, KELUARGA KITA , anak-anak kita KELAK SAPA TAHU ????naudzubilah jadi KADANG AKU BERTANYA ,,, bagaimana bila aku mengolok-olok aib orang lalu suatu ketika giliran keluargaku terkena aib ALANGKAH MALUNYA AKU …..DALAM AGAMA (khususnya) MUSLIM HAL ITU JUGA TIDAKLAH BIJAKSANA sekali lagi aku tidak membela sapa2 ato menyalahkan atau memaki anda INI KAN BLOG ANDA :) HEHEHEHE santai dab …tapi hanya sekedar berkomentar karena terinspirasi tulisan anda ….okelah dab sekian dulu comment saya wasalam terimakasih

Komentar oleh mari

Ada benarnya opini ini! Seperti yg di jelaskan tentang penggusuran tanah ambarukmo! Tidak ada hak sama sekali salah satu ahli waris individu mengusik tanah yg berada di ambarukmo! Meskipun saya hanya canggah daripada eyang Hb 7 tapi saya sangat menghormati beliau mendiang eyang Hb 7! Maaf kan saya sultan apabila saya berkata lancang akan tetapi ini adalah aset keluarga kami! Termasuk anda!

Komentar oleh R. Aziz

Salah satu yg paling mencolok adalah beliau orangnya termasuk tidak “pamer kekayaan”.

Komentar oleh Muslim Tradisional

mantap

Komentar oleh bracuk

Di masa reformasi seperti ini semua orang bisa menuliskan apa saja lwt dunia maya sebagai konskuensi perkembangan dunia global yang tentu saja mempunyai dampak positip maupun negatif nya….. menanggapi tulisanmu di blok ini saya kira tidak semua benar karena semua yang di lakukan sudah di pertimbangkan mengenai baik buruknya, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, perbedaan adalah anugrah dan kalau kita mau melihat orang kembar pun juga punya perbedaan!

Kalau saya lihat dari komentarmu emang kamu seorang politikus yang pandai berbicara dan belum prakteknya sesuai, emang dapat uang berapa kamu membuat blok seperti ini????

yang jelas saya tetap mengagumi sosok seorang sultan yang sekarang maupun sebelumnya…. jd kamu itu kalau saya lihat hanya mau memperkeruh dan mengobok2 kota jogja aja!

Komentar oleh susilo

[…] Via hermansaksono. Sebuah opini yang menarik dari seorang blogger, 6 alasan kenapa yang bersangkutan kurang respek terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono X. […]

Ping balik oleh tidak respek terhadap sultan hb x ? « his randomness

Excellent post however , I was wondering if you could write a litte more on this
subject? I’d be very thankful if you could elaborate a little bit more. Appreciate it!

Komentar oleh Twitter Retweet

In the event you feel your height lets you down, if you really feel that becoming of a lesser height than average is holding you back or in case your lack of stature brings you feelings of low esteem or self worth, then shoe lifts insoles could be the answer

http://palmier-savoir.net/userinfo.php?uid=2577

Komentar oleh rormallopycof

I really like your blog.. very nice colors & theme.
Did you create this website yourself or did you hire
someone to do it for you? Plz respond as I’m looking to create my own blog and would like to know where u got this from. many thanks

Komentar oleh comparatif ampli home cinema

sympa mais aujourd’hui” il faut “a venir mon site registre des creations

Komentar oleh registre des creations

You missing facebook app called fLove or facebookLove.com

Komentar oleh online dating free messaging

I visited various websites but the audio feature for audio
songs present at this website is truly superb.

Komentar oleh terrain.design.upenn.edu

Hey there just wanted to give you a brief heads up and let you know a
few of the pictures aren’t loading properly. I’m not sure why but I think its a linking issue.
I’ve tried it in two different browsers and both show the same results.

Komentar oleh click through the next web site

Generally I do not learn article on blogs, however I would
like to say that this write-up very pressured me to try and do it!
Your writing taste has been amazed me. Thanks,
quite nice post.

Komentar oleh Lois

It’s an awesome paragraph designed for all the online visitors; they will take benefit from it I am sure.

Komentar oleh exercises to relieve lower back pain

I will right away grasp your rss as I can’t to find your email subscription link or e-newsletter service. Do you’ve any?
Please allow me understand in order that I may just subscribe.
Thanks.

Komentar oleh toenail fungus

Attractive portion of content. I simply stumbled upon your site and in accession capital to assert that I acquire actually loved account your blog posts.
Anyway I will be subscribing for your augment or even I achievement you get right of entry to constantly quickly.

Komentar oleh Rzeszów kredyty - szybka pozyczka

I was wondering if you ever thought of changing the page layout of your site? Its very well written; I love what youve got to say. But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better. Youve got an awful lot of text for only having one or two pictures. Maybe you could space it out better?

Komentar oleh too legit to quit

I’m gone to inform my little brother, that he should also pay a quick visit this weblog on regular basis to take updated from latest information.

Komentar oleh patricia

Thanks for the good writeup. It actually used to be a
entertainment account it. Glance advanced to far added agreeable from you!
However, how could we be in contact?

Komentar oleh Haarausfall

You’ve got great stuff right here.

Komentar oleh Get the facts

WOW just what I was looking for. Came here by searching
for chase credit

Komentar oleh Luz

Hi my loved one! I want to say that this article is amazing,
great written and come with approximately all vital infos.
I’d like to see more posts like this .

Komentar oleh jimmy

Some really quality content on this website , saved to fav. gdkeddegcadf

Komentar oleh Johna628

sebuah opini yang tidak berkualitas……………. buang buang energi aja………….

Komentar oleh cah biyen

Inspiring quest there. What occurred after? Good luck!

Komentar oleh Raul

Walo saya tidak lahir lahir di Jogja, tapi saya sudah sama di Jogja, karna cita2 saya memang ingin studi di Jogja, dan bahkan sekarang ingin tak mau meninggalkan Jogja, ingin menetap di Jogja.. ya menurut saya, Jogja adalah kota yang paling nyaman..
So, bilamana ada sisi negatif dari seorang pemimpin, ada baiknya bila kita memberi saran kepadanya, bukan mengumbar kesalahannya, membangun lingkungan politis yang baik, bukan menjatuhkannya..
Pro penetapan tetap masih yang istimewa di Jogja ini

Komentar oleh Taufik Fahrudin




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: