The Nurdayat Foundation


GKR Pembayun Tak Mau Berandai-andai
Minggu, 20 April 2008, 1:37 pm
Filed under: Yogyakarta | Tag:

Masyarakat kadang terlalu berlebihan memperlakukan serta berharap kepada keluarga keraton. Apapun bentuknya, jika terlalu berlebih, jadinya memang kurang enak. Itu yang dirasakan GKR Pembayun, puteri sulung Sri Sultan HB X. “Saya dan adik-adik juga manusia biasa. Perlakukanlah kami seperti masyarakat biasa,” katanya.

Tingginya penghormatan kepada keraton, juga terlihat dari semangat masyarakat yang mendorong cepat diketoknya UU Keistimewaan DIY dengan gubernur sistem penetapan dwitunggal Sri Sultan-Sri Pakualam. Menurut istri KPH Wironegoro yang akrab disapa Mbak Sari ini, soal pro-kontra keistimewaan DIY, gelombang massa yang pro penetapan adalah kelompok masyarakat yang sadar sejarah.

“Mereka yang pro pemilihan gubernur terbagi dua. Kelompok yang tahu sejarah tapi ingin melupakan, serta mereka yang memang sama sekali tak memahami sejarah,” tambahnya.

Memang, lanjut Mbak Sari ketika ditemui di ndalem Wironegaran, saat ini sangat tidak mungkin bagi seseorang menjabat gubernur seumur hidup. Faktor usia sangat berpengaruh terhadap kinerja. Sulit dibayangkan betapa beratnya bila sudah berusia 70 atau 80 tahun masih jadi gubernur.

Zaman memang terus berubah. Ada beberapa konsep mengemuka terkait keistimewaan DIY. Antara lain pemisahan antara kepala daerah dan kepala pemerintahan.

Pro-kontra terus bergulir. Mbak Sari mengaku, ayahandanya tak pernah bicara atau apalagi curhat seputar keistimewaan DIY. “Ngarso Dalem tak pernah cerita seputar politik kepada anak-anaknya,” ungkapnya.

Sempat mengemuka, seandainya UU Keistimewaan kelak menegaskan adanya Pilgub, ada kelompok menyodorkan nama GKR Pembayun sebagai cagub. Tapi, Mbak Sari sendiri mengaku, sampai sekarang belum berpikir terjun ke gelanggang politik. “Soal politik, saya tak mau berandai-andai. Jalani saja apa yang ada. Saya merasa lebih enjoy kiprah di bidang sosial,” tegasnya.

Mbak Sari merasa lebih sreg bergelut di beberapa organisasi sosial yang digelutinya, antara lain sebagai Ketua Umum Karang Taruna DIY, Ketua Asosiasi Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera DIY serta beberapa organisasi sosial lainnya.

“Semua urusan bisnis saya serahkan adik-adik. Saya lebih enak kerja sosial. Sembilan puluh persen hidup saya untuk kerja sosial,” akunya.

(+dar)

Sumber: Minggu Pagi no. 03 minggu III April 2008 halaman 1 bawah

Artikel terkait:

Perkawinan GKR Pembayun-Nieko

UPPKS DIY

Pernikahan Agung Pengantin Keraton Yogya

Foto-foto peresmian Anand Krishna Centre Joglosemar

KEMBALI

About these ads

7 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wa 90% untuk kerja sosial
mudah2an dibalas amal perbuatannya

Kang Nur say:
Lha ya kerjanya para putri itu ‘kan emang kudu banyak kegiatan sosial, to? Seperti mendiang Lady Di di Inggris itu, ‘kan? mungkin juga utk mewakili keluarga kerajaan. Ya, mudah2an dibalas amal perbuatannya.

Komentar oleh hanggadamai

oh ya…?! entah, bingung, harus salut ato nggak…

Komentar oleh iphan

Kang Nur, nyuwun pangapunten ya kalau saya selalu ke-gatel-an nulis komentar di blog-nya panjenengan. Soalnya, unik and asyik banget postingan-postingan jenengan itu, sangat jarang ditemukan yg serupa di blog-blog lainnya.

Semoga komentarku nggak mbikin panjenengan merasa tergangu lan terus dadi nesu. Wah, cilaka kalau itu, bakalan kena banned atau discard komentarku. Kalau dah begitu gatelnya di tanganku ini bakalan gak ilang-ilang seharian. Rak ora opo-opo tho kang ?. Jo nesu yo ?. Dimaklumi aja, mungkin anggep saja saya lagi kesambet sawabnya Mbah Samin Surosentiko atau malah Ki Ageng Mangir Wonoboyo opo yo ?

Ini cerita omong kosong, kebetulan kok ya dari mbaca-mbaca di internet, di suatu saat, weladalah lha kok nemuin tulisan di majalah Gatra edisi yg lama, bisa juga sih dibaca di http://www.gatra.com/2002-12-03/artikel.php?id=22901 Judulnya : Joko Piturun untuk Putri Pembayun.

Isinya asyik, menyiratkan geliat dinamikanya trend ‘kemajuan budaya Jawa di masyarakat Yogya’, salah satu paragrafnya : …Cepat atau lambat, HB X pun akan menunjuk penggantinya. Tapi siapa? Kelima anaknya semua perempuan. Sang permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, sempat menyentil bahwa di era baru, “Tak masalah perempuan jadi sultan,” katanya. Jika itu benar-benar terjadi, putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, tentu yang akan mewarisi keris Kiai Joko Piturun, yang biasa dipakai putra mahkota…

Asyiknya itu, melihat Gusti Kanjeng Ratu nyengkelit keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek (wah benar-benar era baru bagi Yogya, jadi punya yg mirip Srikandi opo Cut Nyak Dien itu kang ?) terus menyandang gelar Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sewelas (wah jadi tambah modern Yogya, jadi punya Ratu seperti negoro Londo yg punya Ratu Juliana ya kang ?).

Piye kang asyik tho ?.

Kang Nur:
Mas Salikh, kalau berkaitan dgn jabatan Sultan; bukankah itu lebih berkaitan dgn masalah budaya? juga urusan yg ‘lebih internal’ Kraton Kasultanan?
Lebih terkait budaya, artinya, maka tidak terkait langsung dgn otorita pengambilan kebijakan publik utk pemerintahan propinsi Yogyakarta, namun lebih kepada urusan2 simbolis budaya. Jadi dalam hal ini, bila agama juga tak melarang pemimpin wanita, mengapa dipermasalahkan?
Bila itu terkait internal kraton scr budaya, apakah kita/kami warga awam Yogya berhak terlalu ikut campur?
Ya memang asyik. Apa salahnya?
Artikel di Gatra di atas, lebih baik kita tertarik ttg data2 beaya pengelolaan Kraton itu. Itu adalah lebih riil perlu diperhitungkan agar pengelolaan kegiatan budaya dapat tercukupi.

Komentar oleh Salikh mBeling

maaf saya memberanikan jeng sari, mudah-mudahan, kerajaan mataram maju terus, karena tidak hanya memikirkan masalah duniawi, tapi yang lebih penting adalah bathin bagi seluruh rakyat Indonesia

Komentar oleh deny kusdiany

Bagi kami, yang penting membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Karena itu, siapapun penggantinya hendaknya memahami akan makna Sultan dan Sayidin Panatagama. Hangayomi semua dan pintu pertama sebagai wali negeri adalah taat kepada Tuhan dan bersedia meneladani perilaku sebagai ngabdurRahman-hamba Allah yang memiliki sifat welas asih. Lucu kan kalo Sultan tidak bisa jadi teladan dalam kasih sayang. Semoga juga Kesultanan mampu menerjemahkan filosophi dari gelar kesultanan itu sendiri. Omong2, sedih juga liat masjid Kauman, ada tempat khusus untuk Sultan. Di sisi Allah, yang dilihat hanyalah takwa. Kalau Sultan Shof sholatnya terpisah kan memutus barisan shof. Sekedar ngemutaken. Wilayah kekuasaan manusia dengan walayah Gusti jelas berbeda. Sudah saatnya, Sultan bercermin kembali kepada pribadi Sampeyan Dalem kaping I dan IX. Semoga manfaat. Semoga menjadi sampeyan dalem yang bersifat Abdurrahman dan khalifah Allah yang bijak bestari serta hidup sederhana seperti khalifah Umar Bin Abdul Azis.

Komentar oleh Nanang Rekto

apa enaknya kerja sosial mending ikut ngurus perusahaan atau menjadi pengganti sultan sebagai gubernur kan lebih afdol apalagi di zaman yang serba berubah begini ok

Komentar oleh deny kusdiany

eh nemu artikel unik :p
pertama salam kenal buat yang punya blog ya.
sekarang komennya
hmm, kayaknya seru juga kl anak keturunan langsung yang jadi pewaris tahta berikutnya. kan di jawa juga mengenal raja2 perempuan to jaman2 dulu gt.
tp yg jelas g terlalu suka kl pemerintahan lepas dari keraton. entah kenapa kok ada ketakutan ntar keraton jogja jd kayak keraton solo yang kadang terkesan tidak terurus.

Komentar oleh Sesy




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: