The Nurdayat Foundation


PERLAWANAN MATARAM TERHADAP KOMPENI BELANDA PADA MASA SULTAN AGUNG (1)
Sabtu, 25 Oktober 2008, 1:36 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , ,

Opini Prolog:

Tentara Mataram di masa pemerintahan Sultan Agung melakukan penyerbuan ke benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Mataram ternyata gagal, sumber dari Mataram sendiri menceritakan bagaimana setelahnya Sultan Agung memberikan hukuman kepada panglima bawahannya yang paling dianggap bertanggungjawab atas kegagalan itu (pasca 1628), terutama juga kepada prajuritnya yang berkhianat (pasca 1629). Laskar Dipati Ukur dari tanah Pasundan (awalnya) juga turut membantu penyerbuan Mataram ke Batavia itu. … Bagaimana cerita, laporan dan pengakuan dari pihak Kompeni Belanda sendiri tentang jalannya peristiwa itu? Posting berikut ini banyak menyajikan keterangan-keterangan terkait itu yang kemungkinan besar didapat dari sumber resmi pihak Kompeni Belanda itu sendiri.

 

Antara Tahun 1602 -1628 M

Keadaan bagi Kompeni menjelang tahun 1602 sangat gawat, sikap permusuhan dinyatakan oleh Mataram dan Banten.

Pada tahun 1603 VOC memutuskan untuk mengangkat Jan Pieterszoon Coen sebagai kepala tata buku yang mempunyai wewenang atas kantor dagang di Banten dan Jakarta.

Pada tanggal 18 Agustus 1618 tentara Mataram melakukan penyerbuan ke kantor dagang VOC di Jepara. Sebelum penyerbuan ini, pimpinan dari kantor dagang, yaitu Balthasar van Eynthoven dan Cornelis Maseuck dipanggil oleh raja Hulubalang (sebutan Belanda untuk raja/Adipati) dan kemudian ditahan. Alasannya adalah perampokan-perampokan yang telah dilakukan kapal-kapal Belanda terhadap jung-jung Jepara. Di samping itu juga karena kelakuan dan tindakan Balthasar van Eynthoven yang tidak senonoh. Kedua alasan tersebut adalah alasan yang jelas, namun alasan yang sebenarnya adalah karena janji-janji Belanda terhadap Mataram tidak ditepati dan sudah berlangsung empat tahun. Di pihak lain Belanda mencoba-coba untuk menuntut raja supaya memenuhi janji-janji yang telah disampaikan oleh utusan VOC pertama van Surck. VOC juga mencoba-coba membatalkan janji-janji yang telah diberikan van Surck kepada Mataram.

Dalam penyerbuan ke Jepara ini jatuh beberapa korban di pihak Kompeni; tiga orang terbunuh, beberapa luka-luka dan sisanya dijadikan tawanan.<!–[if !supportFootnotes]–>[a]<!–[endif]–> Sebelumnya Sultan Agung telah mensinyalir akan bahaya yang datang dari kantor dagang di Jepara, setelah mendengar bahwa kantor dagang Kompeni di Jakarta diperkuat. Kemungkinan kantor dagang di Jepara juga dapat membahayakan kerajaannya. Mataram mau berdagang dengan orang asing, asalkan saja orang asing itu tidak mencoba merebut daerah kekuasaannya.

Dari pihak VOC Coen merasa bahwa Kompeni memerlukan beras akan tetapi kejadian di Jepara sangat mengganggu pikirannya. Oleh sebab itu ia mengirim utusan Jacob van der Marct ke Jepara untuk menemui raja Hulubalang. Jacob van der Marct diperintahkan untuk bertindak sebaik mungkin dalam usaha pembelian beras. Usaha pembelian beras ini berhasil. Tetapi setelah beras ini diterima ia mengadakan suatu balasan terhadap penyerbuan ke kantor dagang Kompeni di Jepara. Kantor dagang ini diserang oleh 160 orang Kompeni, rumah-rumah di sekitar kantor dagang ini dibakar, kira-kira tiga puluh orang Jawa terbunuh dalam serangan ini; jung-jung yang berada di sekitar Jepara dan Demak dibakar. Dalam penyerbuan ini mereka berhasil merebut beras yang terdapat di atas jung-jung.

Pada tahun 1619 Coen yang belum puas dengan penyerangan ke Jepara telah mengerahkan 400 orang-orang Kompeni. Keadaan pertahanan Jepara ternyata lebih baik, sehingga tidak mudah bagi Kompeni untuk menyerbu kota itu.

Motif dari penyerangan Kompeni ini di samping untuk membalas penyerangan orang-orang Mataram pada tahun 1618 terhadap kantor dagang VOC juga untuk merusakkan kantor dagang Inggris dan untuk membuat orang-orang Cina pindah ke Jakarta.<!–[if !supportFootnotes]–>[b]<!–[endif]–> Dalam penyerbuan ini, kantor dagang Inggris dibakar dan beberapa puluh orang Jawa terbunuh. Situasi antara Kompeni dan Mataram antara 1620 hingga 1628 dalam keadaan bermusuh-musuhan. Bagi raja-raja, Batavia merupakan suatu kota yang merugikan kerajaannya. Hubungan antara Mataram dan Malaka dipersukar oleh Batavia. Bagi Sultan Agung, hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari Batavia yaitu dengan menghancurkan kota tersebut. Sudah berkali-kali Sultan Agung mengirim utusan kepada VOC untuk mengirim wakil kepadanya tetapi hal ini tidak dilakukan Kompeni.

Atas dasar ini Sultan Agung mengadakan persiapan untuk menyerbu Batavia. Pantai utara mulai tertutup bagi pedagang dari orang asing. Mereka yang datang ke Mataram ditahan bahkan kantor dagang Inggris ditutup.

Pada bulan April 1628, Kyai Rangga dikirim ke Batavia dengan 14 perahu yang memuat beras. Rangga ini datang untuk meminta kepada VOC untuk membantu Mataram menyerbu Banten. Akan tetapi VOC menolak memberi bantuan atas dasar ditutupnya pelabuhan-pelabuhan di pantai utara.

 

Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1628 M

Pada tanggal 22 Agustus 1628, 50 kapal muncul di depan Batavia dengan perbekalan yang sangat banyak. Hal ini membuat Kompeni menjadi sangat prihatin. Setelah 2 hari muncul lagi 7 buah perahu yang singgah untuk meminta ijin perjalanan ke malaka. VOC mencoba untuk tidak mempertemukan kapal-kapal yang tiba dahulu dan yang belakangan karena khawatir kapal-kapal yang baru datang akan memberi senjata-senjata pada perahu lainnya. Usaha ini gagal. Pada pagi hari 20 buah perahu menyerang pasar dan benteng yang belum siap. Orang-orang Mataram yang datang dengan perahu-perahu itu naik ke darat. Mereka berhasil mencapai benteng. Penyerbuan ini berlangsung sampai pagi. Banyak korban jatuh.<!–[if !supportFootnotes]–>[c]<!–[endif]–> Tujuh perahu yang datang pada tanggal 24 Agustus 1628, ketika melihat hasil penyerbuan ke benteng yang mengakibatkan banyak korban, tidak mau mendekati Batavia tetapi mendekati Marunda di mana pada keesokan harinya suatu pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa mendarat. Dalam menghadapi kekuatan Mataram, Kompeni mengorbankan daerah sekitar benteng. Kampung di sekitarnya dibakar dan diratakan dengan tanah. Pada waktu tentara Mataram menarik diri ke daerah-daerah yang agak jauh yang berpohon, membuat benteng-benteng mereka dari bambu anyaman. Meskipun demikian mereka berhasil maju juga karena mereka menggali parit-parit dan membuat benteng seperti yang tersebut di atas. Taktik VOC untuk menghadapi pasukan yang telah maju sekali adalah dengan mengirim sejumlah tentara Kompeni ke parit-parit ini yang dilindungi oleh 150 penembak sehingga orang-orang ini berhasil mengusir tentara Mataram dari parit-parit ini. Dan korban yang tercatat pada peristiwa ini diperkirakan antara tiga puluh sampai empat puluh orang.

Pada tanggal 21 September 1628 tentara Mataram menyerang benteng Hollandia. Mereka mencoba menaiki benteng tersebut dengan tangga. Sambil menjalankan penyerangan ini, di bagian lain mereka mereka membunyikan alarm untuk mengurangi perhatian pada penyerbuan atas benteng Hollandia. Akan tetapi orang Belanda dapat mencium bahwa tujuan tentara Mataram hanya benteng Hollandia, oleh sebab itu mereka merubah perhatian menjadi penyerangan. Dengan segala kekuatan mereka menyerang parit-parit dan pusat kanan tentara Mataram, sehingga banyak menimbulkan korban. Karenanya kerugian manusia terlalu banyak di pihak Mataram. Dari tawanan-tawanan yang ditahan Kompeni mereka dapat keterangan bahwa masih terdapat kira-kira 4.000 anggota tentara Mataram yang berkeliaran di hutan mencari makanan. Terhadap mereka Kompeni mengutus Jacques Lefebres untuk menyerang sisa-sisa laskar ini. Dengan jumlah yang tidak kecil yaitu 2.866 orang, Jacques Lefebres mengadakan penyerbuan. Ia memulai dengan menyusuri sungai di tepi mana terdapat Tumenggung Baureksa. Penyerbuan terhadap perkampungan laskar Mataram di mana Baureksa berada menemui perlawanan yang hebat dan pertempuran berlangsung satu lawan satu.

Kompeni pada akhirnya berhasil memusnahkan isi perkampungan ini, akan tetapi mereka lupa merusak benteng. Tumenggung Baureksa dan putranya gugur dalam pertempuran ini. Banyak perahu Mataram yang berlabuh di sungai Marunda dimusnahkan. Setelah penyerbuan ke perkampungan pasukan Mataram sepanjang sungai Marunda selesai, tentara Kompeni pulang. Api mesiu belum habis terbakar, ketika bantuan baru pasukan Mataram datang. Dengan segera pasukan Mataram dapat mempersiapkan diri lagi. Bilamana tak ada tembakan yang berasal dari dua perahu Kompeni Belanda dan bilamana kota Batavia tidak mempunyai tembok yang tinggi, maka pastilah seluruh kota Batavia sudah jatuh ke tangan laskar Mataram. Pimpinan dari bantuan yang baru adalah Tumenggung Sura Agul-Agul dan bersaudara Kyai Dipati Mandurareja dan Upasanta.<!–[if !supportFootnotes]–>[d]<!–[endif]–> Mereka menyangka bahwa pasukan yang pertama datang telah berhasil menguasai kota Batavia. Ketika ia melihat bahwa kota masih dalam tangan Kompeni, maka timbul suatu akal yaitu seperti telah pernah dilakukan terhadap Surabaya, yaitu dengan membendung sungai. Akan tetapi perbuatan ini hanya cocok untuk Surabaya, tapi tidak untuk Batavia.

Suatu usaha untuk menyerbu benteng Hollandia gagal dan oleh sebab itu sebagai hukuman terhadap gagalnya usaha menundukkan musuh, Mandurareja dan Upasanta, bersama-sama dengan anak-buahnya dibunuh dengan ditusuk dengan keris atau tombak. Dengan kegagalan Mataram menduduki Batavia pada akhir tahun 1628, maka penyerbuan Mataram yang pertama berakhir pula.

Selanjutnya…

 

Opini Penutup posting ini:

Tidak diragukan lagi bahwa Mataram pada masa Sultan Agung adalah satu kekuatan besar. Setelah masa Demak, kiranya Mataram inilah kerajaan terkuat di Jawa pada abad ke-17 itu. Seluruh Jawa Tengah, hampir seluruh Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat adalah takluk dan menjadi pendukung kekuatan Mataram. Pengaruh Mataram pada masa ini juga sampai ke Gowa-Tallo di Makasar, juga Palembang di Sumatra. Mataram juga melakukan hubungan perdagangan langsung sampai ke Malaka. Namun saat itu ada pula Cirebon dan Banten. Mataram menghormati Cirebon (meski Cirebon tidak terlalu kuat) karena Mataram menganggap bahwa Cirebon adalah penerus Sunan Gunung Jati. Namun terbukti dari keterangan dari beberapa sumber bahwa terhadap Banten, Mataram bersaing. Dalam pandangan masa kita kini anak bangsa Indonesia, dapat kita nilai bahwa persaingan Mataram-Banten ini, ketidakkompakan antara Mataram dan Banten ini; adalah salah satu penyebab mengapa Kompeni Belanda di Jayakarta/Batavia tetap tidak dapat terkalahkan saat itu. Tidak ada persatuan di antara ‘sesama anak bangsa’. Visi nasionalisme Indonesia, nusantara, tentu memang belum terbentuk saat itu. Bila saja Mataram menyerang Kompeni dari timur, lalu Banten dari barat, bukan mustahil saat itu Kompeni kalah di Batavia.

Beberapa analis sejarah memberikan penilaian bahwa Sultan Agung Mataram terlalu berambisi untuk mengenyahkan Kompeni Belanda dari Batavia, padahal kenyataannya kekuatan yang disusun dimilikinya belum memadai untuk sampai dapat mengalahkan mereka. Persaingan-persaingan dagang dan pengaruh kekuasaan di antara semua aktor-aktor utama saat itu memang sungguh terasa. Selain Belanda, saat itu di Jawa juga (masih) ada perwakilan dagang Inggris, sementara Portugis mengincar Malaka. Sementara itu, di antara sesama kerajaan-kerajaan nusantara sendiri juga saling bersaing. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Mataram meminta dukungan kerja sama dari sesama kerajaan nusantara untuk mengenyahkan Kompeni Belanda. Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Mataram telah melakukan upaya diplomasi itu. Mungkin Mataram sudah merasa paling kuat. Bila ada upaya minta bantuan, Mataram masa Sultan Agung justru malah mengupayakan untuk minta bantuan dari Portugis di Malaka (sebelum akhirnya pada th 1641 Malaka diduduki juga oleh VOC).

 

 

Dikutip dari Buku Sejarah Nasional Indonesia III, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1984. Editor: Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto. Hal. 71-76.

KLIK DI SINI UNTUK POSTING KELANJUTAN POSTING INI !

Lihat juga posting terkait di blog lain:

Tragedi Batavia 1628-1629

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Sultan Agung 1628-1629 : Menghitung Alam Melumpuhkan Batavia

Strategi Pertanian yang Mendukung Militer di Jaman Sultan Agung

Pentas Teater ‘Rekonstruksi Serangan Mataram ke Batavia 1628′

Sultan Agung, One of My Inspiration I (fun style)

Djakarta Tempo Doeloe: Kampung Melayu-Priok, Matraman

Pengaruh Serangan Mataram 1628 bagi Majalengka

Sejarah Pasundan terkait dg Mataram

Daendels, Sultan Agung dan Jalan Pos

Nama-nama Jalan di Bandung

Kisah Sara Specx Batavia 1629

Misteri Kuburan JP Coen

Pembuatan film Sultan Agung oleh Pemda Bantul

Souw Beng Kong, ‘Kapitan’ Pertama Tionghoa yg diangkat JP Coen

 

 

<!–[if !supportEndnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[a]<!–[endif]–> H.J. de Graaf, “De Regering van Sultan Agung vorst van Mataram 1613-1645 en Die van Zijn Voorganger Panembahan Sedeng-Krapyak”, VKI s’Gravenhage, 1958, hal 60

About these ads

8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

saya juga bangga sbg orang yg tumbuh di lingkungan budaya mataram

Kang Nur:
ya :) saya/kita sekedar tak dapat mengingkari jati diri kita, juga baik bila menggali warisan nilai2 sejarah leluhur. kita sadar banyak juga kekurangan di masa lalu yg menjadikan kita menjadi dapat ber-otokritik atas sejarah leluhur.

Komentar oleh cahpesisiran

Di bangku sekolah dulu… sy tidak suka pelajaran sejarah karena hapalannya.. maklum sy tidak pintar menghapal.
Sy lebih suka analisis sejarahnya…
makasih

Kang Nur:
Tentu yg tak dapat ditinggalkan juga adalah nilai2 ‘pelajaran’ (=ibrah) yg dapat diambil dari rangkaian peristiwa sejarah itu. Analisis saya kira baru dapat dilakukan bila sajian fakta-nya benar dulu. Dari keterkaitan antara banyak faktor sampai peritiwa2 itu terjadi; hingga dampak2 lanjutan dari peristiwa2 itu; Sejarah memiliki nilai pelajaran hikmah yg dapat menjadikan kita lebih bijaksana.

Komentar oleh cenya95

Semoga tulisan tentang Mataram ini bisa jadi pencerahan dan penyeimbang, karena akhir2 ini muncul Mataram Era baru yaitu Mataram Sakti yg isinya bukan peninggalan kuno tapi sepeda motor…

Kang Nur:
hua..ha..ha… :lol: ada2 saja Pak Marsudiyanto ini..
lha.. yg namanya nama itu memang kan bisa dituduh me-niru2 krn kemiripan2. ada juga yg memang sengaja mendompleng ketenaran. namun bisa jadi juga utk ‘ngalap berkah’
nama Bapak ini juga mirip2 pak Menteri Dalam Negeri: Mardiyanto. Teman saya ada yg bernama Sumardiyanto. ..lha Bapak? ‘su’-nya ada di tengah.. :lol:

Komentar oleh marsudiyanto

wah… sejak sekian lama… saya baru tahu kalo kang Nur nge-link blog saya di sini… hehehe… saya juga baru baca komentar yang kang nur tulis di blog saya.
sumber-sumber itu ada beberapa buku sejarah yang berbahasa belanda, Indonesia dan berbahasa Sunda. saya lupa judulnya, buku tersebut dipinjamkan oleh Museum Sejarah Jakarta dan koleksi kantor saya….

duh jadi kangen dengan kegiatan menulis lagi…..
dah lama gak nulis serius euy….

thanks

Komentar oleh ksatriapetir

kalau mau cari/download film’y dimana ya masalah ‘y film sultan agung amat sangat bersejarah

Komentar oleh rian

20th Teater Jubah Macan mempersembakan
Pagelaran kolosal “Opera Sutawijaya”
Skenario : B.W Purbanegara
Sutradara : Bagus Suitrawan

pukul 19.00- selesai
9 dan 10 April 2010. Konsert Hall TBY Yogyakarta.

Komentar oleh Bob Maulana Singadikrama

Hi there would you mind letting me know which hosting company
you’re using? I’ve loaded your blog in 3 completely different internet browsers and I must say this blog loads
a lot faster then most. Can you suggest a good internet hosting
provider at a reasonable price? Thanks, I appreciate it!

Komentar oleh Online Casinos

I do not even know how I finished up right here,
however I assumed this put up was once great.

I do not know who you might be however definitely you are going to a famous blogger in the event you aren’t already. Cheers!

Komentar oleh Online Casinos




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: