The Nurdayat Foundation


PERLAWANAN MATARAM TERHADAP KOMPENI BELANDA PADA MASA SULTAN AGUNG (2)
Kamis, 30 Oktober 2008, 9:06 am
Filed under: Sejarah | Tag: , , , ,

Opini Pembuka untuk posting ini:

Prajuritan Kraton Yogya awal abad ke-20 M

Merinding berdiri bulu kuduk saya bila membaca kisah riwayat pertempuran tentara Mataram saat menyerbu benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Mata sembab berkaca-kaca, dan lebih dari itu yang terasa adalah hati yang ngilu, nyeri, pedih, perih merasakan kegagalan. Menyesali dari kegagalan para leluhur yang yang serasa ini adalah fatal karena akan berdampak bagi berabad-abad sesudahnya. Seakan ini adalah perlawanan terbesar yang mampu dikerahkan oleh leluhur kita pada masa itu, namun terpaksa harus gagal karena kurangnya persiapan, perhitungan dan kerjasama yang lebih menyeluruh.

Bayangkanlah teriakan-teriakan aba-aba dari Tumenggung Baureksa di akhir tahun 1628 saat harus memimpin anak buahnya bertempur satu lawan satu melawan tentara Kompeni di sela-sela rimbun pohon hutan di luar Batavia. Prajurit-prajurit Mataram bagaikan melolong-lolong, melengking pekik mereka ingin merampungkan tugas mulia yang dibebankan oleh Sang Raja untuk mengenyahkan bangsa asing yang ingin menjajah ini. Sampai dengan keluh tertahan tubuh mereka ambruk satu per satu karena jantung tertembus timah panas atau dada terbelah sangkur. Air Sungai Marunda pun berubah merah teraliri darah putra-putra pertiwi dari Mataram.

Apakah bayangan tentang kekalahan itu tak pernah muncul sebelumnya di benak para prajurit Mataram ini? Mereka harus pulang. Mereka yang masih selamat, yang nyawanya belum terpisah dari raga, dalam kondisi letih, mungkin juga bingung bercampur malu terpaksa harus pulang menghadap Sang Raja-nya. Entah apa yang akan mereka dapat nanti. Kyai Dipati Mandurareja dan Tumenggung Upasanta tepekur tak mampu menengadahkan wajahnya. Menunggu keputusan Sang Raja.

Ketika rembulan berdarah terbit

Angin yang meniup dari buritan dan membawa pulang ke Mataram adalah angin kematian

Mati di pertempuran atau mati di alun-alun adalah tidak akan ada beda lagi

Segala keletihan dan kepedihan adalah sudah diniati karena keyakinan

Raungan perwira nan ksatria adalah juga lolongan pedihnya

Duri kekuasaan asing yang menancap di ulu hati tidak tercabut juga

Serasa membelah perut sendiri pun akan dilakukan

Derasnya keringat yang mengalir hari-hari kemarin, lalu cucuran darah, segera akan tersusul dengan cucuran air mata

Hening yang mencekam, bukan lagi terpikir nyawa sendiri, tercenung anak cucu nanti

Sunyi sepi mencekam, menunggu keputusan sakral

Harga diri Mataram

Tibalah saat Sang Raja mengadili, tak kuasa menolaknya. Mereka ksatria, tak berlepas diri dari tanggung jawab akan sebuah kegagalan. Hanya bisik titip untuk masa depan anak istri. Ini kegagalan yang bersejarah. Rintih tertahan saat dada sobek tertombak hukuman Raja. “Kami adalah orang yang gagal”.

Mataram gagal! Dan sejak itu, tidak ada lagi perlawanan gagah dari satu kekuasaan resmi pribumi yang mampu menyerang Kompeni dengan demikian frontal-nya.

Mataram gagal! Abad-abad berikutnya hanyalah abad yang penuh dengan hina-dina. Mempermalukan anak-cucu sampai tujuh belas turunan.


Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1629 M

Meskipun Mataram tidak berhasil merebut benteng Batavia dan menundukkan Kompeni pada tahun 1628, mereka tidak begitu saja menyerah. Tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1629 tentara Mataram berangkat lagi menuju Batavia dengan perlengkapan senjata-api. Keberangkatan mereka dari ibukota Mataram adalah pada bulan Juni. Pada akhir bulan Agustus 1629 penjaga-penjaga Kompeni yang ditempatkan beberapa kilometer di sungai Ciliwung telah melihat barisan depan.[i] Sebagian pasukan Mataram mencoba mengusir ternak Kompeni akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Kompeni.

Pada tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Mereka datang berkuda membawa bendera, panji-panji dan mereka juga membawa gajah. Cara yang dipakai Mataram untuk membawa beras ke sekitar Batavia sebagai bekal bagi prajurit-prajurit adalah pengiriman seorang utusan yang bernama Warga, untuk (pura-pura?-peng.) minta maaf kepada Kompeni mengenai hal yang telah terjadi. Kompeni menerima warga dengan baik. Sementara itu orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal. Padi itu akan ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan ke Batavia. Siasat ini kemudian dibocorkan oleh seorang anak buah dari salah satu perahu warga, sehingga ketika Warga tiba di Batavia untuk kedua kalinya ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita, bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Mataram pun terbuka. Setelah mendapat keterangan ini Kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal, di mana perahu-perahu Mataram, rumah-rumah dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis, setelah Tegal mendapat perusakan, Kompeni mengarahkan perhatiannya terhadap Cirebon. Kota ini juga mendapat gilirannya. Persediaan padi di sini pun habis dibakar oleh VOC. Akibat dari dimusnahkannya gudang beras Mataram, usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama. Meskipun demikian mereka toh mendekati benteng Hollandia dengan mengadakan pendekatan melalui parit-parit. Benteng Hollandia dapat mereka rusakkan. Setelah berhasil, mereka menuju benteng Bommel, akan tetapi di sini mereka gagal.

Pada hari-hari berikutnya Mataram maju ke Benteng dan pada tanggal 21 September 169 tembakan mulai terhadap benteng VOC. Mereka membiarkan menembak benteng hingga persediaan mesiu habis. Sementara tembakan-tembakan dilancarkan terhadap benteng Belanda, Jan Pieterszoon Coen mendadak meninggal diserang suatu penyakit.

Dari beberapa tawanan diketahui bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan, dan hal ini memang menyebabkan kelemahan mereka. Setelah berusaha untuk menyerang selama kurang lebih 10 hari pada akhir bulan September 1629 mereka mulai menarik diri sambil banyak meninggalkan korban.

 


Antara Tahun 1630-1645

Setelah gagal menduduki Batavia, perundingan antara Mataram dan VOC dibuka kembali pada tahun 1630, akan tetapi utusan-utusan yang dikirim Kompeni tidak memenuhi syarat Mataram. Desas-desus bahwa Mataram akan melancarkan suatu serangan lagi terhadap Batavia terdengar oleh Kompeni. Dengan cepat mereka mengirim armada terdiri dari 8 buah kapal, awaknya berjumlah 693 orang. Mereka mendapat perintah untuk memusnahkan semua perahu-perahu Mataram dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan sepanjang pantai utara Jawa. Pelayaran ke Timur tidak begitu berhasil.[ii] Tetapi sementara itu hubungan dengan Mataram diusahakan.

Mataram antara tahun 1630-1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal Kompeni. Armada diperkuat dengan pembuatan perahu baru di Jepara. Dengan perahu-perahu ini mereka membuat perairan antara Banten dan Batavia tidak aman. Mereka sangat berhasil membuat Kompeni pusing dengan serangan-serangan kecil-kecilan yang dilancarkan Mataram terhadap kapal-kapal Kompeni setelah perang tahun 1629 M.

Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. Harapan akan bantuan ini kemudian hilang, karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara.

Pemerintahan Mataram tahun 1641 mengadakan perpindahan penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Barat di daerah Sumedang yang ternyata sangat mengkhawatirkan VOC. Sebenarnya perpindahan ini adalah sebagai persiapan terhadap penyerangan terhadap Banten yang tidak mau tunduk kepada Mataram.

Hubungan antara Kompeni dan Mataram setelah tahun 1642, tidak begitu baik, karena tawanan-tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. Oleh sebab itu Kompeni selalu mencari jalan untuk mencoba memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda itu.

Keadaan menjadi tegang ketika Inggris menawarkan membawa seorang utusan Mataram ke Mekah, yang sebenarnya suatu kemungkinan bagi Belanda, untuk melepaskan tawanannya bilamana Sultan meminta kapal Belanda untuk membawa utusan ini. Oleh sebab itu kapal Inggris yang membawa utusan ini dicegat, utusan Mataram dan hadiah untuk ke Mekah ditahan oleh VOC dan dibawa ke Batavia.

Peristiwa lain adalah ketika VOC merasa bahwa Jambi dan Palembang mengancam keamanan VOC, maka VOC mencegat suatu armada Mataram yang terjadi dari 80 perahu yang sedang menghantar kembali raja Palembang.

Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun 1645 tidak mengalami perbaikan.

-o0o-

KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT POSTING SEBELUM INI ! (Perlawanan tahun 1628 M)


[i] H.J. de Graaf, “De Regering van Sultan Agung vorst van Mataram 1613-1645 en Die van Zijn Voorganger Panembahan Sedeng-Krapyak”, VKI s’Gravenhage, 1958, hal. 149

[ii] H.J. de Graaf, ibid, hal. 149

About these ads

34 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Kang Nur, cerita juga dong tentang Mataram yang sangat berambisi menguasai Jawa. Pertempuran dengan orang Tuban, Pasuruan dan Blambangan. Juga tentang pertempuran sengit untuk menguasai Surabaya. Cerita juga tentang tentara Mataram yang menyerbu dan memburu anak turun Sunan Ampel.

Kang Nur:
Saya kurang paham dlm menangkap maksud arah komentar Mas Bootdir ini. Ttg hal itu memang kita semua tahu, ada penaklukan2 sejak dari jaman Panembahan Senapati, P. Krapyak, hingga jaman Sultan Agung masih dilakukan. Dlm hal ini, kita perlu melihat bahwa antara ‘persatuan & kekuatan’ dengan ‘kemanusiaan, HAM & demokrasi’ itu, seringkali memang berada dalam posisi diametral. Mengapa Mataram harus bersusah payah itu, menurut saya juga krn banyak jalur keturunan penguasa di/dari masa lalu yg tidak mau mengakui pemerintahan Mataram atasnya.
Sepeninggal (sultan) Hadiwijaya di Pajang, Mataram memang tumbuh menjadi kekuatan baru yg ingin terus menambah dan memperluas pengaruh kekuasaannya. Hal itu telah dilakukan sejak raja pertamanya = Panembahan Senapati (mudanya= Sutawijaya, anak angkat Hadiwijaya sendiri). Hal itu juga diteruskan oleh penguasa penerusnya.
Ttg usaha2 perluasan kekuasaan Mataram pada jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, dapat dilihat pada posting “Ekspedisi Militer Sultan Agung Mataram”. Silakan klik.

Komentar oleh bootdir

Orang Eropa datang ke Hindia Timur dan ke negara2 lainnya di Asia dan Afrika untuk menggerus kekayaan alam kita. Hal ini agar biaya bahan mentah menjadi minimum jikalau mereka berhasil menguasai sumbernya dan mereka akan menjualnya dengan harga tinggi di Eropa. Sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Namun, semuanya berubah setelah revolusi industri. Negara2 Eropa mulai memerlukan pasar untuk barang2 yang diproduksinya, dan negara2 jajahan/kolonial termasuk potensi yang besar untuk daerah pemasaran.

Namun…. makin lama… orang Eropa sadar bahwa dengan membuat barang2 industri yang mempunyai value-added yang tinggi, faktor biaya bahan2 mentah menjadi sangat insignifikan. Ketika negara2 kolonial merdeka, mereka harus membeli bahan2 mentah dari bekas kolonial mereka. Namun toh tidak begitu banyak mempengaruhi kemakmuran mereka karena mereka menjual hasil2 akhir produk industri mereka dengan value-added yang sangat tinggi dan kita terpaksa membeli barang2 mereka karena kita belum bisa menirunya. Nah, di sini pelajaran bagi kita…. kita menjual bahan mentah relatif dengan harga rendah dan kita membeli hasil barang2 industri mereka dengan harga yang sangat tinggi…. hmmm…. wah maaf nih agak sedikit OOT hehehe….

Kang Nur:
Apakah yg Bang Yari mau bilang ini adalah bahwa: Kolonialisme-penjajahan itu akan selalu ada di setiap jaman dgn mengikuti pola2 perekonomian yg berkembang saat itu? … Saya kira memang demikian. :) Manusia kuat yg serakah akan mengeksploitir manusia lain yg lemah.

Komentar oleh Yari NK

Sy suka posting ini. Walau bukan orang Jawa, sy merasa peperangan Mataram juga milik sy sebagai putra negeri ini hheheeh.. Mau bagaimana lagi, kita semua sudah terikat nasib yg sama? Semoga sampai akhir jaman, juga bersama :D

Kang Nur:
Salut Bang Uwiuw. Kesatuan kebangsaan kita semoga selalu abadi. Sama2 pernah menderita di bawah penjajahan, maka kita akan terus berusaha agar menjadi bangsa yg bermartabat dan terhormat di muka bumi ini. Jangan lagi kita dijajah.

Komentar oleh uwiuw

mataraman…
di jakarta jadi matraman..
ada toko buku yang gede: Gramedia.

Kang Nur: :) Ya. Betul

Komentar oleh Mas Kopdang

Tak dapat dipungkiri bahwa Mataram era Sultan Agung kembali kental aroma ke-Islam-annya. Termasuk dalam ‘penyerangan Batavia’ ini juga kental aroma ‘perang Agama’ dalam upaya membendung ekspansi kerajaan Eropa yang membawa ‘Misi Kristenisasi’ di Nusantara.

Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati adalah ‘gong’ yang menutup dan menghabisi ‘peran politik’ dari para Sunan yang tergabung di Walisongo yang hakikatnya adalah berperan sebagai ‘Dewan Syuro Wali Negara’.

Era berdirinya dinasti Mataram itu juga menandai awal dari ‘Sekularisasi’ penyelengaraan pemerinthan di tanah Jawa.

Sebelumnya, di era Majapahit, jelas merupakan Kerajaan Hindu. Peran Biksu sangat menentukan dalam menentukan dan mengkukuhkan serta melegitimisasi para Raja duduk di singgasananya.

Kemudian Kasultanan Demak Bintoro, jelas merupakan Kasultanan Islam. Para Sunan yang silih berganti generasi duduk di Walisongo yang berperan besar dalam menentukan dan mengkukuhkan serta melegitimisasi para Raja duduk di singgasananya. Peran Walisongo ini menyerupai peran dan wewenang MPR dalam memilih Presiden.

Mataram memang unik, teramat banyak ambivalensi dan ambiguitas dalam corak ragam tata pemerintahan dan tata negara serta tata masyarakatnya.

Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia III keluaran DepDikBud terbitan Balai Pustaka yg saya punya; disebutkan di situ bahwa Mataram-Sultan Agung pernah meminta kerja sama Kompeni Belanda utk menundukkan Banten ! Dlm pemahaman saya, riwayat ini memang bersumber dari catatan Kompeni Belanda sendiri.
Bila riwayat yg saya sebut di atas itu benar adanya, maka saya meragukan bila dinyatakan bahwa penyerangan Sultan Agung ke Batavia itu “terdorong oleh motif “perang agama””. Saya cenderung menganggap bahwa serangan Sultan Agung ke Batavia 1628 & 1629 memang krn Sultan Agung ingin menghancurkan dominasi VOC atas perdagangan. Mataram saat itu juga melakukan perdagangan ke Malaka, a.l.: ekspor beras. Kehadiran VOC di Batavia telah mengganggu jalur dagang / alur perdagangan Mataram ke Malaka.
Saya setuju bila dikatakan bahwa: Mataram memang unik, teramat banyak ambivalensi dan ambiguitas di dalamnya.
Pandangan saya selanjutnya mengikuti paparan buku Sejarah Nasional Indonesia III itu:
Saat Portugis datang, masalah agama memang menjadi salah satu motif para raja/kerajaan nusantara yg saat itu kebanyakan adalah Islam, utk melawan; namun, perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa raja2/kerajaan2 nusantara itu sendiri berubah menjadi oportunis/sekuler. Sepertinya mereka hanya mementingkan utk mempertahankan dominasi kekuasaan belaka, tanpa memandang lagi dgn siapa/pihak mana/beragama apa – mereka akan bersekutu. Mereka (kerajaan2 nusantara) itu lalu memakai adagium politik: “If you can’t beat them, join them!” Krn mereka tidak mampu lagi menghadapi/menyaingi kekuatan (maritim, khususnya pd awalnya) VOC, lalu mereka malah menyerah dan bersekutu; atau minimal melakukan perjanjian2 yg semakin melemahkan posisi sendiri.

Komentar oleh Salikh_mBeling

Kang Nur, fakta bahwa Sultan Agung ingin menyerang Banten (juga Sultan Agung lah yang menghabisi Giri Kedaton) menurut saya tidaklah dapat menafikan bahwa dalam penyerangan ke Batavia adanya aroma atau nuansa atau paling tidak mambu-mambu atau tergarami atau tertunggangi oleh motivasi ‘membendung misi kristenisasi’ yang dibawa oleh VOC.
Namanya juga Politik, apalagi Mataram dinasti keturunan Panembahan Senopati (termasuk Sultan Agung) menerapkan sekulerisasi dalam tata pemerintahannya.
Justru kalau kita menyusuri jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan keturunan mantan laskar Mataram yang tidak pulang ke Mataram pasca gagalnya penyerangan ke Batavia akan menunjukkan cukupnya kadar keislaman dari mantan laskar Mataram itu.
Apalagi jika kita renungkan bahwa memobilisasi lebih dari 100.000 laskar dalam suatu ekspedisi militer dengan jarak yang luar biasa jauh (Kerta ke Batavia) memerlukan laskar yang militan. Sedangkan militansi orang Jawa Mataram pada dasarnya tak beranjak dari seputar Kukilo, Turonggo, Pusoko, lan Wanito, saja. Sehingga dengan apalagi yang dapat diharapkan ampuh membangkitkan militansi mereka kecuali dengan memotivasi mereka dengan dasar Agama ?.
Motivasi ini pula yang membuat ‘Perang Sabil’ yang dikobarkan Pangeran Diponegoro menjadi sulit dipadamkan.
Memang tak dapat dipungkiri terdapat perbedaan kadar kekentalan landasan ideologi yang cukup jauh dari peristiwa Penyerbuan Batavia-nya Sultan Agung dengan Perang Sabil-nya Pangeran Diponegoro.
Boleh dikata penyerbuan Sultan Agung ke Batavia memang karena faktor persaingan politik ekonomi Mataram versus VOC, namun menurut saya juga terwarnai oleh motivasi membendung perkembangan Nasrani di tanah Jawa. Sambil menyelam minum air, mungkin begitulah.
Sayangnya, langkah jejak Sultan Agung ini dikhianati oleh para keturunannya, termasuk juga yang dilakukan oleh para keturunannya pada hari ini.
Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Lihat alinea III pada sub judul Antara 1630 -1645: Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. (=untuk menyerang Batavia yang di bawah penguasaan VOC). Harapan akan bantuan ini kemudian hilang, karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara…. Ini adalah kalimat yg saya ambil sepenuhnya dari paparan buku Sejarah Nasional Indonesia III itu sendiri, jadi bukan kalimat buatan saya.
Orang boleh berspekulasi dan ber-persepsi sendiri2 ttg peristiwa sejarah; namun saya kira yg menjadi pegangan utama kita adalah fakta2 yg ada, yg disepakati dan sudah diakui bersama memang benar2 terjadi.
Saya belum jelas ttg: “…jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan keturunan mantan laskar Mataram yang tidak pulang ke Mataram pasca gagalnya penyerangan ke Batavia akan menunjukkan cukupnya kadar keislaman dari mantan laskar Mataram itu.” …? Apa arti yang dimaksud dgn kalimat ini? Apakah misalnya seperti kampung Matraman di Jakarta? Atau bagaimana?
Serbuan laskar Sultan Agung ke Batavia juga tidak terpaut lama dengan serbuan pasukan Mataram ke Surabaya. Maka dapat kita rangkai bahwa usaha menaklukkan Batavia pun tidak lepas dari kerangka niat Sultan Agung utk menguasai Jawa, yg memang demikian itu telah bermula sejak masa Senapati.

Komentar oleh Salikh mBeling

Terbakarnya gudang persediaan beras…
Kegagalan Mataram yang menyesakkan hati rakyat seluruh Nusantara….

Komentar oleh tengkuputeh

Kang Nur, kalau tidak salah, akibat kekalahan Mataram ini, Sultan Agung menghukum beberapa ratus anak buahnya. Kira-kira bagaimana menafsirkan tindakan raja tersebut, apa ia meniru sistem harakiri Jepang, tapi kalau yang ini semestinya raja sendiri yang bunuh diri. Ataukah, ia begitu kejam dan haus darah. Satu faktor lain yang menjadi pertimbangan bagi kekalahan Mataram adalah orang-orang Ambon pimpinan kapten Jongker yang kelak berhasil menawan Diponegoro, meski ia sendiri juga tertipu mentah-mentah oleh Belanda. Dalam penyerbuan ke Batavia, sekutu VOC ini kan yang memotong jalur perbekalan beras, sehingga tentara yang mengepung kota mati kelaparan.

Komentar oleh hp

Boleh. . . Boleh mangtaff tnan critane. . . .

Komentar oleh Sopyan etawa

Terima kasih. Tulisan yang menarik.

kira2 di mana saya mendapatkan tulisan tentang riwayat Adipati Suro Agul-agul, Tumenggung Bahurekso, Adipati Uposonto dan Mandurorejo yang relatif lengkap?

terima kasih.

Kang Nur:
saya sendiri juga masih men-cari2, mas. yg saya tulis di atas adalah hasil dari persepsi baca2 majalah ataupun kisah yg pernah saya dengar, browsing jg di ini internet, lalu mem-banding2kan-nya, men-seleksi-nya mana yg lebih masuk akal, lalu ditambah persepsi dan interpretasi pribadi. saya sendiri sangat mengharap kalau ada penulis novel sejarah yg mau membuat buku ttg Sultan Agung. semoga saja para ahli tertarik utk menggarapnya, saya sendiri hanya orang awam yg masih kekurangan kemampuan dan bahan. *data2 banyak saya ambil dr Buku Sejarah Nasional Indonesia III.

Komentar oleh wongpekalongan

Kang, saya sdh hampir 17 tahun tinggal di Karawang JaBar. Ternyata sejarah berdirinya Kota Karawang ini berkaitan erat dengan prajurit Sultan Agung yang mendirikan pos logistik untuk penyerangan ke Batavia. Bahkan Adipati pertama Karawang ini ditunjuk oleh pemerintah Mataram. Peninggalan masa lalu yg masih ada sampai sekarang adalah areal persawahan yg membentang luas di kabupaten ini (tentu saja prajurit2 Mataram menularkan keahliannya bagaimana bercocok tanam padi, saat membuat pos logistik), maka hingga sekarang Karawang masih dijuluki sebagai kota lumbung padi. Lebih herannya lagi, di Karawang juga ditemukan petilasan Jaka Tingkir. Critanya bagaimana kok Mas Karebet sampai di Karawang, saya belum mendapatkan referensinya.

Kang Nur:
pak GusKar, mohon maaf se-besar2nya bhw saya lama baru mnanggapi koment pak GusKar. Bukanny krn saya mnganggap koment pak GusKar kurang penting; namun justru krn koment pak GusKar tinggi nilainya, bagi posting ini scr keseluruhan, dan smoga brmanfaat besar bagi pembaca smua. Krn nilainya yg tinggi tsb, saya justru kesulitan utk menanggapinya; krn khawatir akan mngurangi nilai koment pak Guskar yg sudah sangat brnilai.
Ttg Karawang mnjadi ‘kota lumbung padi’, saya kira ada benarnya.
Ttg petilasan Jaka Tingkir; saya kurang dapat mempercayainya bila yg dimaksud adalah Jaka Tingkir = Mas Karebet = Hadiwijaya, sultan Pajang; .. krn dr selama ini yg saya ketahui dr sumber2 yg saya dapatkan, tidak ada cerita mengenai Jaka Tingkir – Karebet melakukan perjalanan hingga Tanah Pasundan. Demikian tanggapan saya. Trims.

Komentar oleh guskar

mungkin perlu di catat pula bahwa tidak ada Indonesia atau nusantara sebelum tahun 1900an…………

semua daerah berjuang untuk kemakmuran daerahnya sendiri……….

jadi apakah kegagalan Mataram adalah kegagalan Indonesia? mungkin bukan, karena Indonesia pada saat itu belum ada…..

Komentar oleh Gema

kang Nur ketemu lagi
ngomong-ngomong ni aku tu menurut silsilah masih satu sisilah dengan Mbah Karebet lho. Tapi ndak paham tentang sejarahnya, kapan-kapan bisa dong ditelusuri sejarahnya

Komentar oleh Abdullah

yah bagus aja cerita yang ada mataram
bagaimana mereka harus berusaha melawan belanda pada jaman itu

Komentar oleh kristo

semoga aja bangsa yang suka menjajah di ringankan hukumannya di akhirat…. amiin
Belanda, kan pernah ngalamin pahitnya penjajahan. emang yaa bangsa begitu pada ngga punya hati nurani.

Komentar oleh ANGGITA

iwaw. .
g.mna.x lw Q hdp pd zaman dlu.
iIch. . serEeEm .

Komentar oleh ipec junior

dengan hormat,saya pengin banget lihat wajah mataram asli. poenya fotonya ngak….? trmksh

Komentar oleh iwan

20th Teater Jubah Macan mempersembakan
Pagelaran kolosal “Opera Sutawijaya”
Skenario : B.W Purbanegara
Sutradara : Bagus Suitrawan

pukul 19.00- selesai
9 dan 10 April 2010. Konsert Hall TBY Yogyakarta.

Komentar oleh Bob Maulana Singadikrama

berapa tentara mataram menyerbu?10000orang
berapa org belanda di batavia?200-1000 orang
belanda ada meriam?mataram ada meriam?
kenapa setelah gagal dihukum mati?kenapa tidak digunakan tenaganya lagi untuk serangan balik?kenapa tidak bekerjasama dgn banten?dasar Agung raja haus darah dan kuasa?mengusir penjajah?siapa yang menjajah?siapa menyerbu pati,surabaya,madura?

Komentar oleh cristiano

tulisan yang menarik, dan menambah wawasan saya.
Sepengetahuan saya, daerah logistik Mataram guna penyerbuan Batavia itu adalah: Kampungbaru (Pasar Rebo), Bekasi, Karawang, Cianjur, Cimanuk, Sukabumi dan Sumedang-larang serta daerah2 sekitar Jateng kulon. Mohon koreksi bila saya salah.
Yang utama adalah, saya terharu biru, bahwa para laskar Mataram dibawah pimpinan senopati Tumenggung Suro Agul Agul dkk, mampu merangsek ke Batavia, walau akhirnya gagal.
Namun, ada eskander ini, kampung2 (baca: daerah) di luar batavia menjadi maju dan berkembang pertaniannya.
Moho ijin, saya ikut copy artikel ini, untuk saya baca2 dan sebagai bahan pengetahuan saya apabila diskusi dg teman2 saya.
Terima kasih.

Komentar oleh Gus Tom

salut bgt …
soal.x cerita.nya lengkap sekali dan ada sedikit efek dramatis nya …
hm … klo boleh tanya,
tlong beritau rangkuman dari: latar belakang, jalan perlawanan, dan akhir perlawanan …
cuma itu aja …
mohon bantuan nya ya kang nur ….

Komentar oleh laras

Iwan menulis:
dengan hormat,saya pengin banget lihat wajah mataram asli. poenya fotonya ngak….? trmksh
Komentar oleh iwan Minggu, 13 Desember 2009 @ 12:48 am

—————–
Mas Iwan, maksudnya mataram asli bagaimana?

Coba klik page Bumi Mataram yang saya bikin di facebook.

Komentar oleh Radityo Djadjoeri

kang nur mau nnya neh tolong diceritakan juga waktu ada bebrapa prajurit atau pnglima mataram yang lari ke tuban

Komentar oleh chupid

trims ya kakak2 yg sdh membuat nie,…!!! tgz quw jd dah selesai dech
1x lg trims ya

Komentar oleh insyati saja

Merinding berdiri bulu kuduk saya bila membaca kisah riwayat pertempuran tentara Mataram saat menyerbu benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Mata sembab berkaca-kaca, dan lebih dari itu yang terasa adalah hati yang ngilu, nyeri, pedih, perih merasakan kegagalan. Menyesali dari kegagalan para leluhur yang yang serasa ini adalah fatal karena akan berdampak bagi berabad-abad sesudahnya. Seakan ini adalah perlawanan terbesar yang mampu dikerahkan oleh leluhur kita pada masa itu, namun terpaksa harus gagal karena kurangnya persiapan, perhitungan dan kerjasama yang lebih menyeluruh.
Bayangkanlah teriakan-teriakan aba-aba dari Tumenggung Baureksa di akhir tahun 1628 saat harus memimpin anak buahnya bertempur satu lawan satu melawan tentara Kompeni di sela-sela rimbun pohon hutan di luar Batavia. Prajurit-prajurit Mataram bagaikan melolong-lolong, melengking pekik mereka ingin merampungkan tugas mulia yang dibebankan oleh Sang Raja untuk mengenyahkan bangsa asing yang ingin menjajah ini. Sampai dengan keluh tertahan tubuh mereka ambruk satu per satu karena jantung tertembus timah panas atau dada terbelah sangkur. Air Sungai Marunda pun berubah merah teraliri darah putra-putra pertiwi dari Mataram.

Apakah bayangan tentang kekalahan itu tak pernah muncul sebelumnya di benak para prajurit Mataram ini? Mereka harus pulang. Mereka yang masih selamat, yang nyawanya belum terpisah dari raga, dalam kondisi letih, mungkin juga bingung bercampur malu terpaksa harus pulang menghadap Sang Raja-nya. Entah apa yang akan mereka dapat nanti. Kyai Dipati Mandurareja dan Tumenggung Upasanta tepekur tak mampu menengadahkan wajahnya. Menunggu keputusan Sang Raja.
Ketika rembulan berdarah terbit
Angin yang meniup dari buritan dan membawa pulang ke Mataram adalah angin kematian
Mati di pertempuran atau mati di alun-alun adalah tidak akan ada beda lagi
Segala keletihan dan kepedihan adalah sudah diniati karena keyakinan
Raungan perwira nan ksatria adalah juga lolongan pedihnya
Duri kekuasaan asing yang menancap di ulu hati tidak tercabut juga
Serasa membelah perut sendiri pun akan dilakukan
Derasnya keringat yang mengalir hari-hari kemarin, lalu cucuran darah, segera akan tersusul dengan cucuran air mata
Hening yang mencekam, bukan lagi terpikir nyawa sendiri, tercenung anak cucu nanti
Sunyi sepi mencekam, menunggu keputusan sakral
Harga diri Mataram
Tibalah saat Sang Raja mengadili, tak kuasa menolaknya. Mereka ksatria, tak berlepas diri dari tanggung jawab akan sebuah kegagalan. Hanya bisik titip untuk masa depan anak istri. Ini kegagalan yang bersejarah. Rintih tertahan saat dada sobek tertombak hukuman Raja. “Kami adalah orang yang gagal”.
Mataram gagal! Dan sejak itu, tidak ada lagi perlawanan gagah dari satu kekuasaan resmi pribumi yang mampu menyerang Kompeni dengan demikian frontal-nya.
Mataram gagal! Abad-abad berikutnya hanyalah abad yang penuh dengan hina-dina. Mempermalukan anak-cucu sampai tujuh belas turunan.

Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1629 M
Meskipun Mataram tidak berhasil merebut benteng Batavia dan menundukkan Kompeni pada tahun 1628, mereka tidak begitu saja menyerah. Tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1629 tentara Mataram berangkat lagi menuju Batavia dengan perlengkapan senjata-api. Keberangkatan mereka dari ibukota Mataram adalah pada bulan Juni. Pada akhir bulan Agustus 1629 penjaga-penjaga Kompeni yang ditempatkan beberapa kilometer di sungai Ciliwung telah melihat barisan depan.[i] Sebagian pasukan Mataram mencoba mengusir ternak Kompeni akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Kompeni.
Pada tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Mereka datang berkuda membawa bendera, panji-panji dan mereka juga membawa gajah. Cara yang dipakai Mataram untuk membawa beras ke sekitar Batavia sebagai bekal bagi prajurit-prajurit adalah pengiriman seorang utusan yang bernama Warga, untuk (pura-pura?-peng.) minta maaf kepada Kompeni mengenai hal yang telah terjadi. Kompeni menerima warga dengan baik. Sementara itu orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal. Padi itu akan ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan ke Batavia. Siasat ini kemudian dibocorkan oleh seorang anak buah dari salah satu perahu warga, sehingga ketika Warga tiba di Batavia untuk kedua kalinya ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita, bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Mataram pun terbuka. Setelah mendapat keterangan ini Kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal, di mana perahu-perahu Mataram, rumah-rumah dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis, setelah Tegal mendapat perusakan, Kompeni mengarahkan perhatiannya terhadap Cirebon. Kota ini juga mendapat gilirannya. Persediaan padi di sini pun habis dibakar oleh VOC. Akibat dari dimusnahkannya gudang beras Mataram, usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama. Meskipun demikian mereka toh mendekati benteng Hollandia dengan mengadakan pendekatan melalui parit-parit. Benteng Hollandia dapat mereka rusakkan. Setelah berhasil, mereka menuju benteng Bommel, akan tetapi di sini mereka gagal.
Pada hari-hari berikutnya Mataram maju ke Benteng dan pada tanggal 21 September 169 tembakan mulai terhadap benteng VOC. Mereka membiarkan menembak benteng hingga persediaan mesiu habis. Sementara tembakan-tembakan dilancarkan terhadap benteng Belanda, Jan Pieterszoon Coen mendadak meninggal diserang suatu penyakit.
Dari beberapa tawanan diketahui bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan, dan hal ini memang menyebabkan kelemahan mereka. Setelah berusaha untuk menyerang selama kurang lebih 10 hari pada akhir bulan September 1629 mereka mulai menarik diri sambil banyak meninggalkan korban.

Antara Tahun 1630-1645
Setelah gagal menduduki Batavia, perundingan antara Mataram dan VOC dibuka kembali pada tahun 1630, akan tetapi utusan-utusan yang dikirim Kompeni tidak memenuhi syarat Mataram. Desas-desus bahwa Mataram akan melancarkan suatu serangan lagi terhadap Batavia terdengar oleh Kompeni. Dengan cepat mereka mengirim armada terdiri dari 8 buah kapal, awaknya berjumlah 693 orang. Mereka mendapat perintah untuk memusnahkan semua perahu-perahu Mataram dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan sepanjang pantai utara Jawa. Pelayaran ke Timur tidak begitu berhasil.[ii] Tetapi sementara itu hubungan dengan Mataram diusahakan.
Mataram antara tahun 1630-1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal Kompeni. Armada diperkuat dengan pembuatan perahu baru di Jepara. Dengan perahu-perahu ini mereka membuat perairan antara Banten dan Batavia tidak aman. Mereka sangat berhasil membuat Kompeni pusing dengan serangan-serangan kecil-kecilan yang dilancarkan Mataram terhadap kapal-kapal Kompeni setelah perang tahun 1629 M.
Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. Harapan akan bantuan ini kemudian hilang, karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara.
Pemerintahan Mataram tahun 1641 mengadakan perpindahan penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Barat di daerah Sumedang yang ternyata sangat mengkhawatirkan VOC. Sebenarnya perpindahan ini adalah sebagai persiapan terhadap penyerangan terhadap Banten yang tidak mau tunduk kepada Mataram.
Hubungan antara Kompeni dan Mataram setelah tahun 1642, tidak begitu baik, karena tawanan-tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. Oleh sebab itu Kompeni selalu mencari jalan untuk mencoba memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda itu.
Keadaan menjadi tegang ketika Inggris menawarkan membawa seorang utusan Mataram ke Mekah, yang sebenarnya suatu kemungkinan bagi Belanda, untuk melepaskan tawanannya bilamana Sultan meminta kapal Belanda untuk membawa utusan ini. Oleh sebab itu kapal Inggris yang membawa utusan ini dicegat, utusan Mataram dan hadiah untuk ke Mekah ditahan oleh VOC dan dibawa ke Batavia.
Peristiwa lain adalah ketika VOC merasa bahwa Jambi dan Palembang mengancam keamanan VOC, maka VOC mencegat suatu armada Mataram yang terjadi dari 80 perahu yang sedang menghantar kembali raja Palembang.
Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun 1645 tidak mengalami perbaikan.
-o0o-

KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT POSTING SEBELUM INI ! (Perlawanan tahun 1628 M)

[i] H.J. de Graaf, “De Regering van Sultan Agung vorst van Mataram 1613-1645 en Die van Zijn Voorganger Panembahan Sedeng-Krapyak”, VKI s’Gravenhage, 1958, hal. 149
[ii] H.J. de Graaf, ibid, hal. 149
Like this:
Suka
Be the first to like this.
24 KOMENTAR

24 Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar

Kang Nur, cerita juga dong tentang Mataram yang sangat berambisi menguasai Jawa. Pertempuran dengan orang Tuban, Pasuruan dan Blambangan. Juga tentang pertempuran sengit untuk menguasai Surabaya. Cerita juga tentang tentara Mataram yang menyerbu dan memburu anak turun Sunan Ampel.

Kang Nur:
Saya kurang paham dlm menangkap maksud arah komentar Mas Bootdir ini. Ttg hal itu memang kita semua tahu, ada penaklukan2 sejak dari jaman Panembahan Senapati, P. Krapyak, hingga jaman Sultan Agung masih dilakukan. Dlm hal ini, kita perlu melihat bahwa antara ‘persatuan & kekuatan’ dengan ‘kemanusiaan, HAM & demokrasi’ itu, seringkali memang berada dalam posisi diametral. Mengapa Mataram harus bersusah payah itu, menurut saya juga krn banyak jalur keturunan penguasa di/dari masa lalu yg tidak mau mengakui pemerintahan Mataram atasnya.
Sepeninggal (sultan) Hadiwijaya di Pajang, Mataram memang tumbuh menjadi kekuatan baru yg ingin terus menambah dan memperluas pengaruh kekuasaannya. Hal itu telah dilakukan sejak raja pertamanya = Panembahan Senapati (mudanya= Sutawijaya, anak angkat Hadiwijaya sendiri). Hal itu juga diteruskan oleh penguasa penerusnya.
Ttg usaha2 perluasan kekuasaan Mataram pada jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, dapat dilihat pada posting “Ekspedisi Militer Sultan Agung Mataram”. Silakan klik.

Komentar oleh bootdir Kamis, 30 Oktober 2008 @ 4:28 pm

Orang Eropa datang ke Hindia Timur dan ke negara2 lainnya di Asia dan Afrika untuk menggerus kekayaan alam kita. Hal ini agar biaya bahan mentah menjadi minimum jikalau mereka berhasil menguasai sumbernya dan mereka akan menjualnya dengan harga tinggi di Eropa. Sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Namun, semuanya berubah setelah revolusi industri. Negara2 Eropa mulai memerlukan pasar untuk barang2 yang diproduksinya, dan negara2 jajahan/kolonial termasuk potensi yang besar untuk daerah pemasaran.

Namun…. makin lama… orang Eropa sadar bahwa dengan membuat barang2 industri yang mempunyai value-added yang tinggi, faktor biaya bahan2 mentah menjadi sangat insignifikan. Ketika negara2 kolonial merdeka, mereka harus membeli bahan2 mentah dari bekas kolonial mereka. Namun toh tidak begitu banyak mempengaruhi kemakmuran mereka karena mereka menjual hasil2 akhir produk industri mereka dengan value-added yang sangat tinggi dan kita terpaksa membeli barang2 mereka karena kita belum bisa menirunya. Nah, di sini pelajaran bagi kita…. kita menjual bahan mentah relatif dengan harga rendah dan kita membeli hasil barang2 industri mereka dengan harga yang sangat tinggi…. hmmm…. wah maaf nih agak sedikit OOT hehehe….

Kang Nur:
Apakah yg Bang Yari mau bilang ini adalah bahwa: Kolonialisme-penjajahan itu akan selalu ada di setiap jaman dgn mengikuti pola2 perekonomian yg berkembang saat itu? … Saya kira memang demikian. Manusia kuat yg serakah akan mengeksploitir manusia lain yg lemah.

Komentar oleh Yari NK Kamis, 30 Oktober 2008 @ 10:07 pm

Sy suka posting ini. Walau bukan orang Jawa, sy merasa peperangan Mataram juga milik sy sebagai putra negeri ini hheheeh.. Mau bagaimana lagi, kita semua sudah terikat nasib yg sama? Semoga sampai akhir jaman, juga bersama

Kang Nur:
Salut Bang Uwiuw. Kesatuan kebangsaan kita semoga selalu abadi. Sama2 pernah menderita di bawah penjajahan, maka kita akan terus berusaha agar menjadi bangsa yg bermartabat dan terhormat di muka bumi ini. Jangan lagi kita dijajah.

Komentar oleh uwiuw Jumat, 31 Oktober 2008 @ 10:49 pm

mataraman…
di jakarta jadi matraman..
ada toko buku yang gede: Gramedia.

Kang Nur: Ya. Betul

Komentar oleh Mas Kopdang Kamis, 6 November 2008 @ 4:38 pm

Tak dapat dipungkiri bahwa Mataram era Sultan Agung kembali kental aroma ke-Islam-annya. Termasuk dalam ‘penyerangan Batavia’ ini juga kental aroma ‘perang Agama’ dalam upaya membendung ekspansi kerajaan Eropa yang membawa ‘Misi Kristenisasi’ di Nusantara.

Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati adalah ‘gong’ yang menutup dan menghabisi ‘peran politik’ dari para Sunan yang tergabung di Walisongo yang hakikatnya adalah berperan sebagai ‘Dewan Syuro Wali Negara’.

Era berdirinya dinasti Mataram itu juga menandai awal dari ‘Sekularisasi’ penyelengaraan pemerinthan di tanah Jawa.

Sebelumnya, di era Majapahit, jelas merupakan Kerajaan Hindu. Peran Biksu sangat menentukan dalam menentukan dan mengkukuhkan serta melegitimisasi para Raja duduk di singgasananya.

Kemudian Kasultanan Demak Bintoro, jelas merupakan Kasultanan Islam. Para Sunan yang silih berganti generasi duduk di Walisongo yang berperan besar dalam menentukan dan mengkukuhkan serta melegitimisasi para Raja duduk di singgasananya. Peran Walisongo ini menyerupai peran dan wewenang MPR dalam memilih Presiden.

Mataram memang unik, teramat banyak ambivalensi dan ambiguitas dalam corak ragam tata pemerintahan dan tata negara serta tata masyarakatnya.

Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia III keluaran DepDikBud terbitan Balai Pustaka yg saya punya; disebutkan di situ bahwa Mataram-Sultan Agung pernah meminta kerja sama Kompeni Belanda utk menundukkan Banten ! Dlm pemahaman saya, riwayat ini memang bersumber dari catatan Kompeni Belanda sendiri.
Bila riwayat yg saya sebut di atas itu benar adanya, maka saya meragukan bila dinyatakan bahwa penyerangan Sultan Agung ke Batavia itu “terdorong oleh motif “perang agama””. Saya cenderung menganggap bahwa serangan Sultan Agung ke Batavia 1628 & 1629 memang krn Sultan Agung ingin menghancurkan dominasi VOC atas perdagangan. Mataram saat itu juga melakukan perdagangan ke Malaka, a.l.: ekspor beras. Kehadiran VOC di Batavia telah mengganggu jalur dagang / alur perdagangan Mataram ke Malaka.
Saya setuju bila dikatakan bahwa: Mataram memang unik, teramat banyak ambivalensi dan ambiguitas di dalamnya.
Pandangan saya selanjutnya mengikuti paparan buku Sejarah Nasional Indonesia III itu:
Saat Portugis datang, masalah agama memang menjadi salah satu motif para raja/kerajaan nusantara yg saat itu kebanyakan adalah Islam, utk melawan; namun, perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa raja2/kerajaan2 nusantara itu sendiri berubah menjadi oportunis/sekuler. Sepertinya mereka hanya mementingkan utk mempertahankan dominasi kekuasaan belaka, tanpa memandang lagi dgn siapa/pihak mana/beragama apa – mereka akan bersekutu. Mereka (kerajaan2 nusantara) itu lalu memakai adagium politik: “If you can’t beat them, join them!” Krn mereka tidak mampu lagi menghadapi/menyaingi kekuatan (maritim, khususnya pd awalnya) VOC, lalu mereka malah menyerah dan bersekutu; atau minimal melakukan perjanjian2 yg semakin melemahkan posisi sendiri.

Komentar oleh Salikh_mBeling Sabtu, 8 November 2008 @ 8:46 am

Kang Nur, fakta bahwa Sultan Agung ingin menyerang Banten (juga Sultan Agung lah yang menghabisi Giri Kedaton) menurut saya tidaklah dapat menafikan bahwa dalam penyerangan ke Batavia adanya aroma atau nuansa atau paling tidak mambu-mambu atau tergarami atau tertunggangi oleh motivasi ‘membendung misi kristenisasi’ yang dibawa oleh VOC.
Namanya juga Politik, apalagi Mataram dinasti keturunan Panembahan Senopati (termasuk Sultan Agung) menerapkan sekulerisasi dalam tata pemerintahannya.
Justru kalau kita menyusuri jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan keturunan mantan laskar Mataram yang tidak pulang ke Mataram pasca gagalnya penyerangan ke Batavia akan menunjukkan cukupnya kadar keislaman dari mantan laskar Mataram itu.
Apalagi jika kita renungkan bahwa memobilisasi lebih dari 100.000 laskar dalam suatu ekspedisi militer dengan jarak yang luar biasa jauh (Kerta ke Batavia) memerlukan laskar yang militan. Sedangkan militansi orang Jawa Mataram pada dasarnya tak beranjak dari seputar Kukilo, Turonggo, Pusoko, lan Wanito, saja. Sehingga dengan apalagi yang dapat diharapkan ampuh membangkitkan militansi mereka kecuali dengan memotivasi mereka dengan dasar Agama ?.
Motivasi ini pula yang membuat ‘Perang Sabil’ yang dikobarkan Pangeran Diponegoro menjadi sulit dipadamkan.
Memang tak dapat dipungkiri terdapat perbedaan kadar kekentalan landasan ideologi yang cukup jauh dari peristiwa Penyerbuan Batavia-nya Sultan Agung dengan Perang Sabil-nya Pangeran Diponegoro.
Boleh dikata penyerbuan Sultan Agung ke Batavia memang karena faktor persaingan politik ekonomi Mataram versus VOC, namun menurut saya juga terwarnai oleh motivasi membendung perkembangan Nasrani di tanah Jawa. Sambil menyelam minum air, mungkin begitulah.
Sayangnya, langkah jejak Sultan Agung ini dikhianati oleh para keturunannya, termasuk juga yang dilakukan oleh para keturunannya pada hari ini.
Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Lihat alinea III pada sub judul Antara 1630 -1645: Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. (=untuk menyerang Batavia yang di bawah penguasaan VOC). Harapan akan bantuan ini kemudian hilang, karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara…. Ini adalah kalimat yg saya ambil sepenuhnya dari paparan buku Sejarah Nasional Indonesia III itu sendiri, jadi bukan kalimat buatan saya.
Orang boleh berspekulasi dan ber-persepsi sendiri2 ttg peristiwa sejarah; namun saya kira yg menjadi pegangan utama kita adalah fakta2 yg ada, yg disepakati dan sudah diakui bersama memang benar2 terjadi.
Saya belum jelas ttg: “…jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan keturunan mantan laskar Mataram yang tidak pulang ke Mataram pasca gagalnya penyerangan ke Batavia akan menunjukkan cukupnya kadar keislaman dari mantan laskar Mataram itu.” …? Apa arti yang dimaksud dgn kalimat ini? Apakah misalnya seperti kampung Matraman di Jakarta? Atau bagaimana?
Serbuan laskar Sultan Agung ke Batavia juga tidak terpaut lama dengan serbuan pasukan Mataram ke Surabaya. Maka dapat kita rangkai bahwa usaha menaklukkan Batavia pun tidak lepas dari kerangka niat Sultan Agung utk menguasai Jawa, yg memang demikian itu telah bermula sejak masa Senapati.

Komentar oleh Salikh mBeling Minggu, 9 November 2008 @ 12:27 pm

Terbakarnya gudang persediaan beras…
Kegagalan Mataram yang menyesakkan hati rakyat seluruh Nusantara….

Komentar oleh tengkuputeh Rabu, 31 Desember 2008 @ 6:54 pm

Kang Nur, kalau tidak salah, akibat kekalahan Mataram ini, Sultan Agung menghukum beberapa ratus anak buahnya. Kira-kira bagaimana menafsirkan tindakan raja tersebut, apa ia meniru sistem harakiri Jepang, tapi kalau yang ini semestinya raja sendiri yang bunuh diri. Ataukah, ia begitu kejam dan haus darah. Satu faktor lain yang menjadi pertimbangan bagi kekalahan Mataram adalah orang-orang Ambon pimpinan kapten Jongker yang kelak berhasil menawan Diponegoro, meski ia sendiri juga tertipu mentah-mentah oleh Belanda. Dalam penyerbuan ke Batavia, sekutu VOC ini kan yang memotong jalur perbekalan beras, sehingga tentara yang mengepung kota mati kelaparan.

Komentar oleh hp Kamis, 12 Februari 2009 @ 2:12 pm

Boleh. . . Boleh mangtaff tnan critane. . . .

Komentar oleh Sopyan etawa Senin, 16 Maret 2009 @ 8:47 am

Terima kasih. Tulisan yang menarik.

kira2 di mana saya mendapatkan tulisan tentang riwayat Adipati Suro Agul-agul, Tumenggung Bahurekso, Adipati Uposonto dan Mandurorejo yang relatif lengkap?

terima kasih.

Kang Nur:
saya sendiri juga masih men-cari2, mas. yg saya tulis di atas adalah hasil dari persepsi baca2 majalah ataupun kisah yg pernah saya dengar, browsing jg di ini internet, lalu mem-banding2kan-nya, men-seleksi-nya mana yg lebih masuk akal, lalu ditambah persepsi dan interpretasi pribadi. saya sendiri sangat mengharap kalau ada penulis novel sejarah yg mau membuat buku ttg Sultan Agung. semoga saja para ahli tertarik utk menggarapnya, saya sendiri hanya orang awam yg masih kekurangan kemampuan dan bahan. *data2 banyak saya ambil dr Buku Sejarah Nasional Indonesia III.

Komentar oleh wongpekalongan Sabtu, 6 Juni 2009 @ 2:24 pm

Kang, saya sdh hampir 17 tahun tinggal di Karawang JaBar. Ternyata sejarah berdirinya Kota Karawang ini berkaitan erat dengan prajurit Sultan Agung yang mendirikan pos logistik untuk penyerangan ke Batavia. Bahkan Adipati pertama Karawang ini ditunjuk oleh pemerintah Mataram. Peninggalan masa lalu yg masih ada sampai sekarang adalah areal persawahan yg membentang luas di kabupaten ini (tentu saja prajurit2 Mataram menularkan keahliannya bagaimana bercocok tanam padi, saat membuat pos logistik), maka hingga sekarang Karawang masih dijuluki sebagai kota lumbung padi. Lebih herannya lagi, di Karawang juga ditemukan petilasan Jaka Tingkir. Critanya bagaimana kok Mas Karebet sampai di Karawang, saya belum mendapatkan referensinya.

Kang Nur:
pak GusKar, mohon maaf se-besar2nya bhw saya lama baru mnanggapi koment pak GusKar. Bukanny krn saya mnganggap koment pak GusKar kurang penting; namun justru krn koment pak GusKar tinggi nilainya, bagi posting ini scr keseluruhan, dan smoga brmanfaat besar bagi pembaca smua. Krn nilainya yg tinggi tsb, saya justru kesulitan utk menanggapinya; krn khawatir akan mngurangi nilai koment pak Guskar yg sudah sangat brnilai.
Ttg Karawang mnjadi ‘kota lumbung padi’, saya kira ada benarnya.
Ttg petilasan Jaka Tingkir; saya kurang dapat mempercayainya bila yg dimaksud adalah Jaka Tingkir = Mas Karebet = Hadiwijaya, sultan Pajang; .. krn dr selama ini yg saya ketahui dr sumber2 yg saya dapatkan, tidak ada cerita mengenai Jaka Tingkir – Karebet melakukan perjalanan hingga Tanah Pasundan. Demikian tanggapan saya. Trims.

Komentar oleh guskar Rabu, 10 Juni 2009 @ 9:18 pm

mungkin perlu di catat pula bahwa tidak ada Indonesia atau nusantara sebelum tahun 1900an…………

semua daerah berjuang untuk kemakmuran daerahnya sendiri……….

jadi apakah kegagalan Mataram adalah kegagalan Indonesia? mungkin bukan, karena Indonesia pada saat itu belum ada…..

Komentar oleh Gema Selasa, 21 Juli 2009 @ 9:56 am

kang Nur ketemu lagi
ngomong-ngomong ni aku tu menurut silsilah masih satu sisilah dengan Mbah Karebet lho. Tapi ndak paham tentang sejarahnya, kapan-kapan bisa dong ditelusuri sejarahnya

Komentar oleh Abdullah Jumat, 31 Juli 2009 @ 9:18 am

yah bagus aja cerita yang ada mataram
bagaimana mereka harus berusaha melawan belanda pada jaman itu

Komentar oleh kristo Kamis, 15 Oktober 2009 @ 11:04 am

semoga aja bangsa yang suka menjajah di ringankan hukumannya di akhirat…. amiin
Belanda, kan pernah ngalamin pahitnya penjajahan. emang yaa bangsa begitu pada ngga punya hati nurani.

Komentar oleh ANGGITA Senin, 2 November 2009 @ 3:14 pm

iwaw. .
g.mna.x lw Q hdp pd zaman dlu.
iIch. . serEeEm .

Komentar oleh ipec junior Senin, 23 November 2009 @ 2:13 pm

dengan hormat,saya pengin banget lihat wajah mataram asli. poenya fotonya ngak….? trmksh

Komentar oleh iwan Minggu, 13 Desember 2009 @ 12:48 am

20th Teater Jubah Macan mempersembakan
Pagelaran kolosal “Opera Sutawijaya”
Skenario : B.W Purbanegara
Sutradara : Bagus Suitrawan

pukul 19.00- selesai
9 dan 10 April 2010. Konsert Hall TBY Yogyakarta.

Komentar oleh Bob Maulana Singadikrama Selasa, 9 Maret 2010 @ 11:50 am

berapa tentara mataram menyerbu?10000orang
berapa org belanda di batavia?200-1000 orang
belanda ada meriam?mataram ada meriam?
kenapa setelah gagal dihukum mati?kenapa tidak digunakan tenaganya lagi untuk serangan balik?kenapa tidak bekerjasama dgn banten?dasar Agung raja haus darah dan kuasa?mengusir penjajah?siapa yang menjajah?siapa menyerbu pati,surabaya,madura?

Komentar oleh cristiano Jumat, 30 April 2010 @ 5:05 am

tulisan yang menarik, dan menambah wawasan saya.
Sepengetahuan saya, daerah logistik Mataram guna penyerbuan Batavia itu adalah: Kampungbaru (Pasar Rebo), Bekasi, Karawang, Cianjur, Cimanuk, Sukabumi dan Sumedang-larang serta daerah2 sekitar Jateng kulon. Mohon koreksi bila saya salah.
Yang utama adalah, saya terharu biru, bahwa para laskar Mataram dibawah pimpinan senopati Tumenggung Suro Agul Agul dkk, mampu merangsek ke Batavia, walau akhirnya gagal.
Namun, ada eskander ini, kampung2 (baca: daerah) di luar batavia menjadi maju dan berkembang pertaniannya.
Moho ijin, saya ikut copy artikel ini, untuk saya baca2 dan sebagai bahan pengetahuan saya apabila diskusi dg teman2 saya.
Terima kasih.

Komentar oleh Gus Tom Kamis, 6 Mei 2010 @ 11:25 am

salut bgt …
soal.x cerita.nya lengkap sekali dan ada sedikit efek dramatis nya …
hm … klo boleh tanya,
tlong beritau rangkuman dari: latar belakang, jalan perlawanan, dan akhir perlawanan …
cuma itu aja …
mohon bantuan nya ya kang nur ….

Komentar oleh laras Selasa, 31 Agustus 2010 @ 10:30 pm

Iwan menulis:
dengan hormat,saya pengin banget lihat wajah mataram asli. poenya fotonya ngak….? trmksh
Komentar oleh iwan Minggu, 13 Desember 2009 @ 12:48 am

—————–
Mas Iwan, maksudnya mataram asli bagaimana?

Coba klik page Bumi Mataram yang saya bikin di facebook.

Komentar oleh Radityo Djadjoeri Rabu, 22 Desember 2010 @ 8:25 am

kang nur mau nnya neh tolong diceritakan juga waktu ada bebrapa prajurit atau pnglima mataram yang lari ke tuban

Komentar oleh chupid Senin, 11 Juli 2011 @ 12:59 am

trims ya kakak2 yg sdh membuat nie,…!!! tgz quw jd dah selesai dech
1x lg trims ya

Komentar oleh insyati saja Selasa, 25 Oktober 2011 @ 2:40 pm

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Komentar oleh fffffhfthf

lol lol and last sorry im just playing

Komentar oleh fffffhfthfllllol

Greetings! Very useful advice within this post! It is the little changes that will make the most important changes.
Thanks a lot for sharing!

Komentar oleh website traffic

you tend to be fortunate you don’t have to wait 7 a lot more minutes

Komentar oleh lionsdirectory.com

You really make it seem so easy with your presentation but I find this topic to be actually something which I think I
would never understand. It seems too complex and very broad for me.
I am looking forward for your next post, I will try to get the hang of it!

Komentar oleh bridging loan

saya kurang mengerti dgn sejarah diatas??!!

Komentar oleh nabilah ummi kaltsum

tapi penjelasan nya keren juga wkwkwkw

Komentar oleh nabilah ummi kaltsum

An impressive share! I have just forwarded this onto a colleague who had been conducting
a little homework on this. And he actually bought me dinner because I discovered
it for him… lol. So allow me to reword this.
… Thank YOU for the meal!! But yeah, thanx for spending some time to discuss this subject here on your internet site.

Komentar oleh Emory

Thank you for every other magnificent article. The place
else may just anybody get that kind of information in such an ideal approach of writing?
I have a presentation subsequent week, and I’m on the
search for such information.

Komentar oleh kid ink my own lane album download




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: