Diarsipkan di bawah: Serba-serbi | Tag: cinta dan uang, facebook, puisi dan politik, siaran televisi
Sajak-e gemblung? Jebul pancen tenan.
Bapak2, Ibu2, kubuat empat sajak-e.
Ayo dibaca. Smoga mnghibur ya?
Dadu Sudah Dilempar
Dadu sudah dilempar
Dada makin berdebar
Mana yang ‘kan terkapar?
Ku di sini menanti
Bertepuk-tangan lagi
Menambal baju sendiri
Apa yang ’kan kuberi
Jangan kautanya lagi
Jatahku menagih janji
Kau tak minta do’a
Kau tak minta restu
Apa-apaan kamu?
-oOo-
Cintaku Terpanting-Pontang
Duduk-duduk di sini
Nikmati mentari pagi
Tamanku sungguh asri
Orang-orang mulai pergi
Mencari sesuap nasi
Sampai senja ‘kan nanti
Aku belum beranjak
Punggung blum juga tegak
Seperti kena tertembak
Diri tertembak cinta
Tak diduga dinyana
Malah bingung terasa
Rasanya campur-aduk
Bukannya aku mabuk
Tapi mikir hari esok
Cinta ni yang ke berapa
Jangan pula kautanya
Sungguh malu rasanya
Ada cinta karna biasa
Tidak biasa mana bisa?
Toh tidak bisa dipaksa?
Bercanda jadi sungguhan
Terjebak permainan
Bukan kehendak tuan
Apa adanya jalani saja
Akhir cerita bagaimana
Apakah kuasa kita?
Sambil mikir cari uang
Juga banyaknya hutang
Cintaku terpanting-pontang.
-o0o-
Fisbuk Bikin Mabuk
Media baru namanya Fisbuk
Belum ada di jaman duluk (he he he.. maksa
)
Baru ada stlah internet
Masuk rumah juga hp-set
Dijinjing laptop bukan hanya warnet
Bikin orang kecanduan online
Kayak kagak ada kerjaan lain
Siapa kamu yang begitu
Gak usah mungkir, silakan ngaku
-o0o-
Tivi Berani Genit
Masih ingat jaman dulu
Saat tivi sekampung cuma satu
Siaran berita isinya cuma orang rapat
Kalo gak ikut penataran didamprat
Itu jaman Pe Empat
Aparat-aparat juga keparat
Atas petunjuk Bapak Presiden
Mengalahkan tampilnya sinden
Itulah jaman Harmoko
Hari-hari omong kosong
Siaran tivi sore-malam
Pagi-siang entah kemana
Masih banyak putih-hitam
Jarang punya yang berwarna
Kini tivi banyak sekali
Semuanya bersolek diri
Bukan hanya tingkat nasional
Tapi juga ada di lokal
Satu sama lain bersaing
Acaranya mencari rating
Apa sih arti rating
Ah itu tidaklah penting
Rating tinggi banyak iklan masuk
Agar uang pun bisa menumpuk
Dulu tivi negara berikan penerangan-penyuluhan
Kini tivi swasta mana bisa tahan?
Gaji karyawan itu dari iklan
Maka harus pinter jualan
Untuk menarik pembeli
Tak jarang bikin sensasi
Tayangkan berita cepat-cepat
Padahal belum tentu akurat
Bangga bila jadi yang pertama
Padahal isinya belum tentu bisa dipercaya
Nyiarkan polisi nangkap teroris
Beritanya bikin meringis
Nyiarkan gempa, di mana banyak duka
Jadi yang pertama, apa artinya?
Banyak pula dibikin sinetron
Aku heran kok banyak yang suka nonton
Isi ceritanya banyak mengada-ada
Tak sesuai kenyataan yang ada
Bila laris dipanjang-panjangkan
Tentulah ‘tuk menangguk iklan
Sinetron religi ada dibuat
Malah isinya kebanyakan mistik
Bukannya menambah iman jadi kuat
Malah seperti mengajarkan syirik
Ada horor ada penampakan
Ada dewasa ada esek-esek
Bila tontonan tanpa tuntunan
Anak bangsa bisa jadi brengsek
Maka ada Komisi Penyiaran
Buat masyarakat melakukan pengawasan
-o0o-
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>










Apik tenan Kang
puisi penak. Gampang dipahami..
Komentar oleh ariefmas Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 7:02 pmSetuju dengan komentator terdahulu…
Sajake gemblung tapi enak dirasakke.
Suegerrrr, ora mboseni, ora marakke mblenger.
Sukses terus buat Mas Nur…
Komentar oleh marsudiyanto Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 10:48 pmada-ada saja.. Kang..
Komentar oleh dan Minggu, 25 Oktober 2009 @ 9:28 pmbanyak sindiran dan kritik ya Kang?
mantab tenan kang
Komentar oleh sersan Senin, 9 November 2009 @ 4:00 amsalam kenal kang blog ayaran
Komentar oleh rudis Senin, 9 November 2009 @ 4:01 amjos gandos Mas
karena sibuk berfesbuk
Komentar oleh tomy Kamis, 12 November 2009 @ 3:22 pmblognya nggak diapdet sampai buluk