The Nurdayat Foundation


Pergolakan Mataram di Masa Amangkurat I

Putra dan pengganti Sultan Agung (-Hanyakrakusuma) sebagai penguasa atas kerajaan Mataram adalah Susuhunan Amangkurat I (1646-1677 M). Program pokok pemerintahannya adalah usaha mengkonsolidasikan kerajaan Mataram, mensentralisasikan administrasi dan keuangan, serta menumpas semua perlawanan. Dia ingin merubah kerajaan yang telah didasarkan Sultan Agung pada kekuatan militer dan kemampuan untuk memenangkan atau memaksakan suatu mufakat menjadi suatu kerajaan yang bersatu, yang sumber-sumber pendapatannya dimonopoli untuk kepentingan raja. Apabila berhasil maka dia akan merombak politik Jawa, tetapi usaha-usahanya itu sudah ditakdirkan mengalami kegagalan; fakta-fakta geografi, komunikasi, dan populasi yang menentukan bahwa kekuasaan administratif di Jawa harus didesentralisasikan tidak dapat diubah dengan perintah raja. Sebagai akibat dari kebijakan-kebijakannya, Amangkurat I mengucilkan orang-orang yang kuat dan daerah-daerah yang penting, yang akhirnya menyebabkan berkobarnya suatu pemberontakan yang terbesar selama abad XVII; hal ini mengakibatkan tumbangnya wangsa tersebut dan campurtangan VOC.

Amangkurat I memperlihatkan perangainya sudah semenjak awal masa pemerintahannya. Pada tahun 1637, ketika masih berstatus sebagai putra mahkota, dia telah terlibat dalam suatu skandal yang melibatkan istri seorang abdi dalem senior, Tumenggung Wiraguna. Pada tahun 1647 raja baru tersebut mengutus Wiraguna ke Ujung Timur, seolah-olah untuk mengusir pasukan-pasukan Bali, dan di tempat yang jauh dari keluarga dan para pendukungnya itu dia dibunuh. Sesudah itu, keluarga Wiraguna di Mataram dan orang-orang lain yang terlibat dalam skandal tahun 1637 tersebut dibunuh. Saudara laki-laki raja, Pangeran Alit, memihak Wiraguna pada tahun 1637, dan ketika mengetahui sahabat-sahabatnya sedang dibunuh, dia mencari dukungan di kalangan para pemimpin Islam. Rupa-rupanya mereka menyerang istana tetapi dapat dipukul mundur, dan Pangeran Alit gugur dalam pertempuran. Kini Amangkurat I berganti melawan para pemimpin Islam. Sebuah daftar para pemimpin agama yang terkemuka disusun dan mereka semuanya dikumpulkan di halaman istana. Kemudian, menurut duta VOC, Rijklof van Goens, antara 5.000 dan 6.000 orang pria, wanita, dan anak-anak dibantai.

Pada tahun 1647 Amangkurat I pindah ke istananya yang baru di Plered, tepat di sebelah timur laut Karta. Istana baru ini lebih banyak dibangun dari batu merah daripada dari kayu seperti istana yang lama, mungkin semacam contoh kepermanenan dan kekokohan yang ingin dilihat Amangkurat I di seluruh pelosok kerajaannya. Pekerjaan di Plered tersebut berjalan terus setidak-tidaknya sampai tahun 1666. Waktu kompleks istana baru itu bertambah besar, susuhunan baru itu semakin kejam. Teman-teman lama ayahnya menghilang satu demi satu, beberapa di antaranya mungkin karena usia lanjut, tetapi kebanyakan karena mereka dibunuh atas perintah raja. Pada tahun 1648 van Goens menyebutkan tentang ‘cara pemerintahan mereka yang aneh … orang-orang tua dibunuh dalam rangka memberi tempat kepada yang masih muda! (Gezantschapsreizen, 67). Di antara orang-orang paling terkemuka yang menjadi korban raja ini adalah ayah mertuanya sendiri Pangeran Pekik dari Surabaya, yang dibunuh bersama-sama dengan sebagian besar anggota keluarganya pada tahun 1659. Jiwa paman raja pun, yang merupakan satu-satunya saudara laki-laki Sultan Agung yang masih hidup, Pangeran Purbaya, terancam tetapi berhasil selamat karena adanya campur tangan ibu suri.

Kegiatan Amangkurat I meniadakan kesepakatan orang-orang terkemuka yang sangat penting artinya bagi kedudukan raja Jawa. Dia membunuh orang-orang yang dicurigai menentangnya, baik di istana maupun di seluruh pelosok kerajaannya, dan tentu saja menimbulkan kegelisahan dan ketakutan di antara orang-orang yang masih hidup. Tampak jelas perpecahan di daerah-daerah di luar perbatasan kerajaan. Karena menuntut kepatuhan yg sebenarnya tidak dapat dipaksakannya, maka tindakan Amangkurat I tesebut telah mendorong sekutu-sekutu dan vazal-vazalnya untuk meninggalkannya. Pada tahun 1650 dia memerintahkan tentara Cirebon menyerang Banten, dan pada akhir 1657 tentara Mataram sendiri bergerak menyerang Banten. Kedua serangan tersebut mengalami kegagalan, sehingga tidak hanya memperkuat perasaan benci Banten terhadap Mataram namun kemungkinan besar juga menyebabkan Cirebon meragukan manfaat dari sikap tunduknya kepada Amangkurat I. satu-satunya upayanya untuk menguasai Ujung Timur pada tahun 1647 mengalami kgagalan, sehingga sesudah itu wilayah ini tetap bebas dari pengaruh Mataram. Pihak Bali menyerang pesisir timur, dan Mataram tidak dapat berbuat apa-apa. Di luar Jawa hanya Palembanglah yang masih tetap menyatakan setia dengan harapan yang sangat tipis bahwa Mataram akan bersedia membantunya; pertama-tama melawan musuh mereka bersama, Banten, dan kemudian dalam perang melawan VOC (1658-1659). Jambi dengan tegas menolak kekuasaan Mataram sesudah tahun 1663 dan memilih bekerja sama dengan VOC. Kalimantan juga sama sekali bebas dari pengaruh Mataram sesudah sekitar tahun 1659. Selama peperangan-peperangannya dengan VOC, Sultan Hasanuddin dari Gowa mengirim utusan-utusan ke Mataram pada tahun 1657 dan 1658. Akan tetapi, Amangkurat I meminta supaya Hasanuddin datang sendiri ke istananya sebagai tanda takluk, yang jelas tidak akan dilakukan oleh Hasanuddin. Sebagai akibatnya maka sudah jelas bahwa hubungan Gowa-Mataram menjadi dingin.

Alasan-alasan yang telah menyebabkan terjadinya perpecahan di daerah pinggiran kerajaan ini pada dasarnya bersifat kemiliteran. Amangkurat I tidak sanggup menyelenggarakan ekspedisi-ekspedisi seperti yang telah dijalankan oleh Sultan Agung. Hal ini adalah akibat langsung dari pemerintahannya yang lalim. Dia tidak berani meninggalkan istananya yang dikawal ketat dan menempatkan dirinya di tengah-tengah para komandan yang tidak dapat diandalkan bagi keselamatan jiwanya. Demikian pula halnya, dia tidak berani mempercayakan pimpinan atas pasukan utama kepada orang lain. Dengan demikian, kelalimannya telah menyebabkan hancurnya mufakat orang-orang terkemuka yang telah mengucilkan kerajaan ini dan tidak memungkinkannya membentuk suatu pasukan yang besar, memimpinnya, atau mempercayakan pipmpinannya kepada orang lain. Oleh karena itulah, maka para sekutu dan para taklukannya di daerah-daerah yang terpencil mendapat kesempatan yang baik untuk melepaskan kesetiaan mereka. Sementara itu, Amangkurat I memperlihatkan secara jelas sekali bagi orang-orang yang kuat bahwa kepentingan pribadi mereka dapat terlayani dengan sebaik-baiknya dengan kemerdekaan.

Hubungan raja dengan VOC mula-mula tampak bersahabat. Pada tahun 1646 dia menyetujui suatu perjanjian persahabatan yang mengatur pertukaran tawanan, dan VOC mengembalikan uang yang telah dirampasnya dari seorang utusan Sultan Agung yang sedang dalam perjalanan ke Mekah pada tahun 1642. Amangkurat I tampaknya menganggap perjanjian ini sebagai bukti tunduknya Batavia kepada kekuasaannya, dan VOC tidak merasa perlu menyatakan penafsiran lain. Serangkaian perutusan VOC mengunjungi istana antara tahun 1646 dan 1654, dan pos perdagangan VOC di Jepara dibuka kembali pada tahun 1651. Hubungan dagang VOC dengan daerah pesisir berkembang lagi.

Dimulainya lagi perdagangan Jawa-VOC di daerah pesisir telah mengakibatkan timbulnya suatu krisis internal baru di Jawa. Barang-barang yang dibutuhkan VOC -terutama beras dan kayu- adalah hasil-hasil daerah pesisir. Barangkali para pengusaha, pedagang, dan pejabat-pejabat di daerah pesisir utaralah yang memperoleh sebagian besar keuntungan dengan berlangsungnya lagi perdagangan ini, sedangkan yang diperoleh raja rupanya kurang daripada yang diinginkannya. Oleh karena itulah, maka Amangkurat I mulai melakukan pengawasan yang semakin ketat terhadap daerah pesisir sehingga membangkitkan kembali antagonisme yang mendalam antara daerah pesisir dan daerah pedalaman.

Pada tahun 1651 Amangkurat I memerintahkan diadakannya suatu sensus, mungkin untuk mempermudah penarikan pajak. Dia juga mengeluarkan keputusan bahwa tak seorang pun warganya dapat mengadakan perjalanan ke luar Jawa, sehingga secara langsung memukul kepentingan para saudagar dari daerah pesisir. Susuhunan juga mengangkat dua orang gubernur daerah pesisir, yang satu untuk mengawasi bagian barat dan yang lain untuk bagian timur. Pada tahun 1652 dia melarang sama sekali ekspor beras dan kayu. Dia memberitahu pihak Belanda bahwa tindakan ini bukan suatu langkah yang ditujukan terhadap mereka tetapi terhadap Banten, dan bahwa mereka dapat memperoleh beras dengan jalan mengutus seorang duta kepadanya untuk merundingkan jumlah dan harganya. Dengan kata lain, dia berusaha menjamin keuntungan dari perdagangan VOC langsung tersalur ke dalam perbendaharaan raja. Pihak Belanda mengeluh mengenai pembatasan-pembatasan tersebut, tetapi Amangkurat I tetap pada pendiriannya. Sementara itu, warganya di daerah pesisir menderita karena adanya tuntutan raja yang berupa uang tunai dari mereka dan gangguan raja terhadap perdagangan mereka.

Pada tahun 1655 Amangkurat I memerintahkan agar pelabuhan-pelabuhan ditutup sama sekali. Dalam teori, bahkan para nelayan pun tidak diperbolehkan berlayar. Para pejabat dikirim untuk mengambil alih kapal-kapal yang besar dan memusnahkan semua kapal yang kecil. Tampaknya tindakan-tindakan tersebut dimaksudkan untuk mempermudah pengumpulan pajak, tetapi di balik itu semua terlihat jelas adanya keinginan raja untuk menghancurkan daerah pesisir apabila dia tidak dapat menguasainya. Pada tahun 1657 pelabuhan-pelabuhan tersebut tiba-tiba dibuka kembali, tetapi pada tahun 1660 dinyatakan tertutup lagi bagi semua pedagang; dan kali ini pos perdagangan VOC di Jepara juga ditutup. Penutupan pelabuhan yang kedua ini konon, setidak-tidaknya sebagian, merupakan pembalasan atas tindakan VOC menghancurkan Palembang pada tahun 1659. VOC merasa tertarik kepada Palembang yang merupakan sumber lada untuk beberapa waktu lamanya, dan pada tahun 1642 VOC telah berhasil mencapai suatu perjanjian yang memberinya hak monopoli. Akan tetapi pertentangan-pertentangan terus berlanjut, dan pada tahun 1657 kapal-kapal VOC yang berada di sana diserang. Sebagai akibatnya, VOC menyerang dan membakar Palembang pada tahun 1659; berdirilah kembali pos VOC di sana. Amangkurat I tergoncang karena dihancurkannya satu-satunya sekutunya yang tersisa di luar Jawa ini. Akan tetapi, tampak jelas bahwa alasan untuk ditutupnya pelabuhan-pelabuhan tersebut lebih luas daripada itu karena semua saudagar, bukan hanya VOC saja, dilarang berdagang di pelabuhan-pelabuhan. Akan tetapi, pelabuhan-pelabuhan tersebut dibuka kembali pada tahun 1661.

Usaha-usaha Amangkurat I untuk menguasai daerah pesisir dan keinginannya untuk memonopoli perdagangan dengan VOC tentu saja memiliki kaitan yang sangat erat. Dia tampaknya memiliki empat sasaran pokok: (1) menjamin supaya pajak dari perdagangan daerah pesisir langsung tersalur ke istana; (2) menegakkan kembali hubungan ‘vazal’ VOC yang menurut keyakinannya telah ditetapkan di dalam perjanjian tahun 1646; (3) menerima hadiah-hadiah VOC yang dapat meningkatkan kemegahan dan keagungan istananya, misalnya kuda Persia, dsb.; dan (4) menerima uang VOC untuk meringankan kekurangan dana yang kronis di kerajaannya. Tujuan-tujuan ini dapat tercapai dengan jalan meruntuhkan ekonomi daerah pesisir dan memaksa agar VOC mengadakan semua pembeliannya secara langsung dengan istana. Amangkurat I terus mendesak agar VOC mengirimkan duta-dutanya kepadanya dengan ancaman kalau tidak pelabuhan-pelabuhan akan ditutup kembali. Perutusan-perutusan VOC dikirim ke Plered pada tahun 1667, 1668, dan 1669, tetapi hanya sedikit kemajuan dicapai ke arah penyusunan rencana-rencana dagang yang stabil dan bersahabat, dan perutusan yang terakhir malah tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanannya ke Plered. Seperti yang akan dibahas di bawah ini, pada masa itu keraton sudah mendekati saat kehancurannya.

Sementara itu, VOC mendapat kemajuan di Indonesia Timur. Seperti halnya tindakan menghancurkan Palembang pada tahun 1659 telah menggoncangkan Amangkurat I, maka begitu pula ditaklukkanya Gowa pun telah menggoncangkan dirinya sepuluh tahun kemudian. Dia sekarang mulai menyadari bahwa VOC bukan hanya merupakan sumber keuangan tetapi juga sumber bahaya. Itulah yang semakin membulatkan tekadnya untuk menguasai daerah pesisir. Kedua orang gubernur daerah pesisir yang diangkat pada tahun 1651 telah digantikan oleh empat orang gubernur pada tahun 1657. Pada tahun 1669 wewenang tersebut dikurangi dan wakil-wakil langsung dari istana yang disebut umbul dikirim untuk mengawasi administrasinya. Kehidupan ekonomi dan administrasi daerah pesisir selanjutnya menjadi kacau, dan mendung mulai menggumpal.

Sulit untuk mengetahui berapa kuat perlawanan terhadap Amangkurat I sebelum akhir tahun 1660-an. Pasti tersebar luas perlawanan yang laten, mungkin hampir bersifat universal, tetapi hanya beberapa orang yang mempunyai pengaruh cukup besar untuk memimpin suatu kudeta atau pemberontakan yang dapat menyelamatkan diri dari pembunuh-pembunuh yang tak ada henti-hentinya itu. Akan tetapi, pada tahun 1660-an muncul seseorang yang posisi maupun kekuatannya atas pasukan cukup memadai untuk menjamin dirinya mempunyai harapan untuk selamat dan berhasil. Orang itu adalah putra raja sendiri, putra mahkota, yang kelak akan bergelar Susuhunan Amangkurat II (1677-1703).

Putra mahkota adalah putra Amangkurat I dengan seorang putri Surabaya, putri Pangeran Pekik. Dia sebenarnya dibesarkan oleh keluarga ibunya, sehingga tidaklah mengherankan kalau dia mempunyai beban mental yang berat sebagai akibat pembunuhan yang dilakukan  ayahnya terhadap keluarga itu dan Pangeran Pekik pada tahun 1659.  Wataknya sewaktu remaja hanya sedikit yang diketahui, kecuali bahwa dia mempunyai kelemahan terhadap wanita-wanita cantik yang menimbulkan konflik dengan ayahnya yang mempunyai selera yang sama. Pada tahun 1660 pihak Belanda mendengar desas-desus bahwa Amangkurat I bermaksud membunuh putranya, dan bahwa pada tahun 1661 dia telah melakukannya. Segera terbukti bahwa hal itu tidak benar, tetapi pada tahun 1663 terdengar desas-desus lain mengenai usaha raja yang gagal untuk meracun putranya. Ada kemungkinan bahwa kelompok putra mahkota gagal dalam usaha percobaan kudeta pada tahun 1661, yang mengakibatkan dibunuhnya banyak di antara pendukungnya. Apabila hal itu benar, maka jelas  bahwa putra mahkota sendiri telah berhasil menyelamatkan diri dari tindakan balas dendam ayahnya, mungkin karena pengawal pribadinya yang sangat kuat.

Pada tahun 1668-1670 terjadi lagi konflik antara putra mahkota dengan ayahnya mengenai seorang wanita. Perpecahan antara ayah dan anak sekarang telah menjadi sempurna, kalau hal itu bukan telah terjadi selama satu dasawarsa. Mulai tahun 1660 putra mahkota sudah berusaha menjalin hubungan tersendiri dengan VOC. Antara tahun 1667 dan 1675 dia mengirim sembilan perutusan ke Batavia untuk meminta apa saja, dari ayam Belanda sampai kuda Persia dan gadis-gadis Makasar. Mungkin tujuannya yang sebenarnya adalah untuk menjajagi apakah dia dapat mengharapkan dukungan VOC ataukah tidak. Enam orang pangeran lain di istana masing-masing juga mempunyai pengawal bersenjata dan tempat tinggal yang dijaga, di antaranya adalah Pangeran Puger yang kelak akan menjadi Susuhunan Pakubuwana I (1704-1719). Kini Plered telah menjadi suatu kumpulan kamp-kamp bersenjata. Para pangeran terpecah-belah oleh perasaan iri dan ambisi mereka dalam suatu lingkungan politik di mana pembunuhan merupakan harga yang harus dibayar bagi suatu langkah yang keliru.

Putra mahkota sudah beberapa lama berhubungan dengan seseorang yang kelak akan memainkan peranan penting dalam kekacauan mendatang. Orang itu adalah Raden Kajoran yang juga dipanggil dengan nama Panembahan Rama, seorang suci yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Kajoran adalah suatu tempat yang terletak kira-kira dua puluh enam kilometer di sebelah timur laut istana, di kawasan tempat suci Tembayat. Pada tahun 1630-an daerah ini agaknya telah menjadi suatu pusat perlawanan terhadap Sultan Agung, dan pada tahun 1633 Sultan Agung telah mengadakan semacam ziarah ke makam Sunan Bayat di sana. Raden Kajoran adalah keturunan keluarga Sunan Bayat dan mempunyai ikatan perkawinan dengan keturunan kerajaan Mataram. Bahkan yang lebih penting, putrinya yang sulung menikah dengan seorang pangeran dari Madura yang bernama Raden Trunajaya (1649(?)-1680) yang tidak senang dengan pemerintahan Amangkurat I. Apabila nanti tidak ada campur-tangan VOC, maka hampir dapat dipastikan bahwa Trunajaya akan menjadi pendiri suatu wangsa baru di Jawa. Dia mempunyai cukup banyak alasan untuk membenci Amangkurat I, karena ayahnya telah dibunuh di istana pada tahun 1656 dan jiwanya sendiri terancam oleh suatu persekongkolan istana beberapa waktu kemudian. Jadi dia melarikan diri ke Kajoran dan menjadi menantu Raden Kajoran.

Raden Kajoran memperkenalkan Trunajaya kepada putra mahkota sekitar tahun 1670, dan hasilnya adalah suatu persekongkolan yang paling menentukan dalam menentang Amangkurat I. Trunajaya akan melancarkan suatu pemberontakan, dan apabila raja dapat dikalahkan maka putra mahkotalah yang akan menjadi susuhunan yang baru. Trunajaya akan mendapatkan kekuasaan atas Madura dan, agaknya, sebagian Jawa Timur, dan mungkin pula akan menjadi kepala pejabat administrasi (patih) untuk seluruh kerajaan. Raden Kajoran meramalkan bahwa Trunajaya akan menjadi seorang pahlawan besar dan Mataram akan runtuh. Putra mahkota kembali ke istana untuk menunggu terjadinya peristiwa itu, sedangkan Trunajaya berangkat ke Madura untuk membangun pangkalan bagi pemberontakan tersebut. Di sana dia menghimpun kekuatan dan merebut kekuasaan atas Pamekasan di Madura Tengah bagian Selatan. Dari pangkalan ini dia berhasil merebut kekuasaan atas seluruh Madura selama tahun 1671.

Ujung tombak pemberontakan adalah orang-orang non-Jawa. Pertama-tama berhimpun prajurit-prajurit Madura, kemudian satuan-satuan prajurit yang ganas dari Indonesia Timur, yaitu orang-orang Makasar. Setelah meninggalkan kampung halaman mereka setelah kekalahan Gowa pada tahun 1669 dan karena pemerintahan Arung Palakka bersifat menindas maka gerombolan-gerombolan orang Makasar berlayar ke Jawa, yang sebagian besar mencari nafkah dengan merompak dan merampok. Suatu kelompok berangkat ke Banten, tetapi sewaktu situasi di sana menjadi genting mereka pergi dan pada tahun 1674 sampai di Jepara dengan tujuan meminta tanah kepada Amangkurat I untuk dijadikan tempat tinggal mereka. Mereka tidak diijinkan menghadap ke istana, tetapi tampaknya putra mahkota mengijinkan mereka menetap di daerah pesisir Jawa Timur di suatu tempat yang bernama Demung (sekarang Besuki). Semakin banyak orang Makasar bergabung dengan mereka dan pada tahun 1675 mereka bersekutu dengan Trunajaya dan mulai menyerang pelabuhan-pelabuhan Jawa. Harapan akan dibaginya barang-barang ranmpasan dari suatu peperangan yang besar di Jawa tentu benar-benar membangkitkan semangat orang-orang buangan tersebut.

Kini kerajaan Mataram mulai mengalami disintegrasi. Raja sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan, tetapi kelaliman dan pembunuhan masih terus berlanjut. Pada tahun 1674-1676 bahaya kelaparan merajalela dan berjangkit wabah penyakit. Terlihat adanya berbagai pertanda yang tidak baik: Gunung Merapi meletus pada tahun 1672, terjadi beberapa gempa bumi dan gerhana bulan, dan hujan turun tidak pada musimnya. Lagipula, akhir abad Jawa telah dekat. Tradisi istana Jawa mempercayai suatu siklus abad-abad yang menunjukkan runtuhnya kerajaan-kerajaan  pada akhir setiap abad. Ketika tahun Jawa 1600 (yang dimulai pada bulan Maret 1677) hampir tiba, tersebar ramalan-ramalan bahwa hari-hari terakhir Mataram sudah dekat. Dalam sebuah negara serapuh kerajaan Amangkurat I, maka pemikiran-pemikiran semacam itu hanya akan memperbesar kemungkinan bahwa pertahanan dianggap sia-sia apabila tantangan terhadap raja akan muncul pada akhirnya.

Pada tahun 1675 benar-benar berkobar pemberontakan. Orang-orang Makasar menyerang dan membakar pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur sampai Tuban. Kubu-kubu pertahanan yang dimiliki pelabuhan-pelabuhan tersebut telah dihancurkan oleh Sultan Agung setelah dia berhasil merebutnya, dan oleh karena itu kota-kota ini hampir tidak dapat mempertahankan diri. Angkatan Laut VOC juga berhadapan dengan orang-orang Makasar, dan hanya memperoleh kemenangan yang kecil. Pasukan Madura di bawah pimpinan Trunajaya kini memasuki Jawa dan merebut Surabaya. Kesetiaan daerah pesisir terpecah-belah. Pelabuhan-pelabuhan dari Juwana ke timur tampaknya mendukung pemberontakan tersebut, sedangkan pelabuhan-pelabuhan yang letaknya ke barat (terutama Cirebon) tampaknya masih tetap setia kepada Amangkurat I. Namun demikian timbul kecurigaan  tentang sikap semua penguasa daerah pesisir itu. Istana juga terpecah-belah. Satu pihak mendukung permintaan bantuan kepada VOC. Pihak lainnya, yang tampaknya dipengaruhi oleh Panembahan Giri, mengajukan usul atas dasar agama tidak dijalin kerja-sama dengan orang-orang Kristen. Kedudukan putra mahkota memang sangat sulit. Dia tetap berada di istana, menguntungkan dirinya, tanpa memperlihatkan keterlibatannya. Pemberontakan meluas ketika kekuatan-kekuatan Trunajaya dan orang-orang Makasar memperoleh kemenangan-kemenangan lebih lanjut di daerah pesisir. Pihak pemberontak menghimbau agar orang-orang Jawa mendukung mereka demi agama Islam dan telah mendapatkan tanggapan yang positif. Panembahan Giri sekarang merestui mereka dengan mengatakan bahwa Mataram tidak akan pernah sejahtera selama VOC masih tetap berada di Jawa. Hal ini menunjukkan semakin besarnya unsur anti-VOC selain sikap anti-Amangkurat I dalam pemberontakan tersebut, yang menjadi masalah bagi putra mahkota yang agaknya sudah cenderung kepada VOC.

Titik balik militer yang sangat menentukan terjadi pada tahun 1676. Peranan putra mahkota dalam pemberontakan itu telah dicurigai oleh pihak susuhunan, tetapi tidak jelas apakah Amangkurat I sendiri mempercayai tuduhan-tuduhan tersebut ataukah mungkin berpendapat bahwa dia tidak berkesempatan melakukan pembalasan dendam terhadap putranya. Apapun masalahnya, dia menunjuk putra mahkota sebagai pimpinan pasukan yang dikirim untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan Trunajaya. Pangeran-pangeran lain juga dikirim bersamanya, termasuk saudara dan sekaligus musuh utamanya, Pangeran Singasari. Kemungkinan besar raja menginginkan kematian putra mahkota selama penyerangan tersebut. Mungkin pula putra mahkota bermaksud melancarkan suatu perang pura-pura terhadap Trunajaya tetapi dicegah untuk melakukan yang demikian karena ada pangeran-pangeran lainnya. Tentara kerajaan bertempur melawan Trunajaya di Godogog di daerah pesisir timur laut pada bulan Oktober 1676, dan mengalami disintegrasi. Di antara korban yang tewas di pihak Mataram adalah pangeran Purbaya yang sudah berusia sangat lanjut, satu-satunya saudara Sultan Agung yang cukup lama hidupnya untuk menyaksikan kehancuran kerajaan Sultan Agung.

Setelah kejadian di Godogog, pemberontakan itu menyebar semakin cepat. Banyak pembesar Jawa yang tidak mau lagi mengakui Amangkurat I sebagai raja mereka dan bergabung dengan kaum pemberontak. Pada awal tahun 1677 pasukan-pasukan pemberontak menguasai semua pelabuhan. Bahkan Cirebon pun jatuh ke tangan kaum pemberontak, tetapi kapal-kapal perang Banten segera muncul di sana untuk memaksakan pengaruh Banten.

Aspirasi Trunajaya sekarang meningkat. Pada tahun 1676 dia telah memakai gelar panembahan (orang yang dihormati) dan raja. Dia mulai menyatakan dirinya adalah keturunan Majapahit dan berhak atas tahta Mataram. Dengan kata lain, putra mahkota Mataram sudah tidak dapat lagi mengendalikan pemberontakan yang dirancangnya. Akan tetapi, Trunajaya pun sudah tidak dapat lagi mengendalikan orang-orang Makasar, sekutunya yang sukar untuk diperintah, yang kepentingannya tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah siapa yang memerintah Jawa.

Tentu saja pihak Belanda sangat memperhatikan peristiwa-peristiwa tersebut, dan telah terlibat dalam permusuhan terhadap orang-orang Makasar. Putra mahkota maupun Trunajaya meminta meriam, mesiu, dan perlengkapan lainnya kepada VOC. VOC menghendaki tegaknya stabilitas di daerah pesisir sehingga perdagangan dapat berjalan dengan baik, dan sekarang VOC harus memutuskan apa yang dapat dilakukan demi tercapainya stabilitas seperti itu. Pada akhir tahun 1676 Batavia mengambil keputusan akan melakukan campur-tangan terbatas dengan tujuan untuk mengupayakan semacam penyelesaian. Orang yang diserahi tugas ini adalah Laksamana Speelman, yang telah berhasil menaklukkan Makasar. Dia diperlengkapi dengan + 1500 orang serdadu, tetapi diperintahkan untuk tidak bergerak memasuki wilayah pedalaman. Batavia tidak ingin terlibat dalam perang besar di Jawa, karena serdadu-serdadunya mungkin diperlukan di tempat lain: Malaka sedang diganggu oleh orang-orang Melayu dari Johor dan tampak jelas bahwa Banten dan negara-negara lainnya juga sedang menggalang persekongkolan untuk melawan VOC. Sangat disangsikan pula manfaatnya melancarkan suatu peperangan di Jawa, karena beberapa orang merasa yakin bahwa VOC dapat menaklukkan Jawa hanya dengan menghancurkan pulau tersebut dan melibatkan VOC dalam pengeluaran yang sangat besar. Bagaimanapun juga, logika dari tindakan campur-tangan itu segera akan membawa VOC untuk memasuki daerah pedalaman.

Pada bulan Februari 1677 Amangkurat I dan VOC memperbarui perjanjian tahun 1646 yang sudah lama tidak berarti lagi. Pihak Belanda berjanji akan membantu raja melawan musuh-musuhnya, tetapi raja harus membayar semua biaya yang dikeluarkan untuk bantuan semacam itu dan memberikan konsesi-konsesi ekonomi kepada VOC, misalnya pembebasan dari cukai. Terbentuknya persekutuan itu hanya mempercepat berkobarnya pemberontakan. Kesadaran terhadap Islam tampaknya telah begitu kuat tertanam di kalangan kaum pemberontak, dan tersebar ramalan-ramalan bahwa Tuhan tidak akan memberkahi Jawa selama orang-orang yang beragama Kristen masih berada di sana. Pada bulan Mei 1677 VOC melakukan campur-tangan di daerah pesisir. Mereka berhasil memukul mundur Trunajaya dari Surabaya sehingga memaksa pasukannya mundur lebih jauh lagi memasuki daerah pedalaman dan hal ini justru telah mendorong lebih banyak lagi orang Jawa untuk bergabung dengannya.

Sekarang pemberontakan sudah mencapai puncaknya. Istana Plered diserang dan jatuh ke tangan pasukan Trunajaya. Hari keruntuhannya tidak jelas, tetapi sudah pasti antara akhir bulan Mei dan akhir bulan Juni 1677. Kronik-kronik Jawa menyebutkan bahwa ketika musuh semakin mendekat, prajurit-prajurit raja berkerumun di depan istana tetapi raja mengatakan supaya mereka tidak menentang kehendak Tuhan; hari terakhir abad itu telah tiba dan bersamaan dengan itulah saat runtuhnya Mataram. Tradisi Jawa juga menyebutkan bahwa hampir seabad sebelumnya pulung yang jatuh di Sela Gilang telah meramalkan kepada Senapati bahwa Mataram akan jatuh pada zaman cicit laki-lakinya, yaitu Amangkurat I. Raja telah meninggalkan istana sebelum musuh-musuhnya sempat mencapainya. Dia menyerahkan istana kepada putranya, Pangeran Puger, dan membawa serta putra mahkota bersamanya ke arah barat laut menuju daerah pesisir. Putra mahkota, yang telah begitu lama tetap selamat di antara musuh-musuhnya dalam keluarga kerajaan, hanya mempunyai sedikit harapan dapat selamat di tangan bekas pelindungnya Trunajaya. Puger tidak mampu melawan kaum pemberontak, dan terpaksa melarikan diri dan meninggalkan istana untuk mereka. Trunajaya merampok Plered dan sesudah itu bergerak mundur ke arah timur menuju Kediri dengan membawa serta harta kekayaan Mataram. Kemudian Puger menduduki istana lagi dan memakai gelar kerajaan Susuhunan Ingalaga, sehingga dimulailah suatu masa ketegangan yang panjang antara dirinya dengan saudaranya, putra mahkota.

Amangkurat I tidak kuasa mengatasi penderitaan selama pelariannya. Dia wafat pada bulan Juli 1677; pada tanggal 13 Juli 1677 putranya memakamkannya di TegalWangi (ke selatan dari Tegal), di pesisir utara. Dulu ketika raja melarikan diri, ia harus meninggalkan harta kekayaannya dan sebagian tanda-tanda kebesaran kerajaan yang sempat dibawanya lari sekarang menjadi milik putra mahkota. Dengan demikian, hanya dengan tanda-tanda kebesaran kerajaan yang keramat tersebut namun tanpa harta kekayaan, suatu pasukan, sebuah istana, atau kerajaan; Susuhunan Amangkurat II (1677-1703) memulai masa pemerintahannya. Dia hanya mempunyai satu alat yang memungkinkannya untuk mengangkat dirinya sebagai penguasa di Jawa; dia harus menghubungi VOC supaya mau bertempur di pihaknya.

….

(dikutip dari: Buku M.C. Ricklefs (Monash University) copyright 1981,  Sejarah Indonesia Modern, cetakan ke-9 = November 2007 terbitan Gadjah Mada University Press; Bab II. Perjuangan Memperebutkan Hegemony, + th. 1630-1800 M, sub bab 7. Jawa, + 1640-1682 M; hal. 104-115)

Lampiran Pembanding – Pelengkap:

http://nurdayat.files.wordpress.com/2010/01/amangkurat-raffles-history.doc

About these ads

17 Komentar so far
Tinggalkan komentar

pamuji rahayu..
hemmm… tragis ya Ki… kerajaan besar runtuh dengan campur tangan pihak lain.. disamping itu demi kepentingan pribadi…, apa karena keberpihakan VOC dl pada kesultanan Jogya dan Kasunanan Surakarta.. hingga sampai saat ini ornamen maupun asesoris pakaian ada corak dan bentuk serta seragam VOC ya Ki…, dalam ritual apa saja pasti seragam keprajuritan selalu pakai pakaian dengan asesoris belanda…, apa karena menghargai bantuannya atau karena memang suka meniru niru..?
nuwun Ki
salam katresnan
rahayu..

Komentar oleh hadi wirojati

Memang mengerikan sekali watak pemimpin yang jauh dari agama seperti Amangkurat I. Heran sekali manusia Jawa waktu itu kok tetap sendiko dawuh di bawah kakinya, disuruh membunuh musuh politik mau juga…. wah.. wah.

Komentar oleh wardoyo

cerita mataram apalagi kalau udah cerita Amangkurat 1 kanyaknya hampir sama dengan cerita negara sekarang ini yang terlalu banyak menampilkan politik

Kang Nur:
Lha iya no, pada masa Sultan Agung-lah dikatakan Mataram mencapai puncak kebesaran-nya. Beliau digantikan oleh Amangkurat 1. Amangkurat 1 itu kan raja, yg berkuasa saat itu menggantikan Sultan Agung? Jadi ya segala perbuatan raja akan berakibat bagi rakyat; dan Kebijakan yg berakibat bagi rakyat banyak itulah Politik.

Komentar oleh rudis

thanks infonya ya…

Kang Nur:
sama-sama, mbak.. skedar berbagi khasanah milik anak bangsa kita sendiri

Komentar oleh donapiscesika

Feodalisme di Indonesia (baca Jawa) memang mati ngorak…mati sendiri… karena manusianya lebih suka kultus individu
& wong Jawa kalahe ya sama wong Jawa..suka kerah sehingga pihak lain bias mengambil keuntungan darinya
Dengan adanya ACFTA sekarang ini akankah bangsa ini bangkit kesadaran untuk bersatu? Atau makin terpuruk kedalam kehancurannya?

Komentar oleh tomy

makasih bos
cari bukunya ah

Kang Nur:
ya, mas. karya Ricklefs pantas mnjadi rujukan.

Komentar oleh suwung

sejarah yang panjang dari sebuah bad Conspiracy…..

Komentar oleh febri

terima kasih dan mohon maaf sebelumnya,cerita sejarah kebesaran mataram sekitar tahun 2007 saya membaca buku tulisan bapak purwadi tentang sejarah mataram,sebelumnya saya membaca koran radar karawang sekitar tahun yang sama seorang tokoh di daerah /Dawuan/Cikampek/Karawang (bapak Drs.Maman Lukman Hakim)membuat tulisan tentang mataram konon mengirim pasukan 3500personal ke batavia saat itu mengusir penjajah dan mempertahankan pulau jawa,menurut dari cerita ke cerita,di karawang dua makam yaitu Wirasaba dan Ardiarsa, dan di cikampek ada makam Ardikusumah(suyeng rono) peninggalan benda-benda pusaka di Dawuan/Cikampek bahkan ada ratusan,sejak saya kecil benda tersebut oleh pemegang/tohoh selalu dirawat dgn baik sampai saat ini…saya menelusuri hal ini agar tdk keliru untuk diri saya…pertanyaannya apa benar di daerah dawuan/Cikampek…dulunya tempat persinggahan (base camp) tentara mataram,sekian dulu pade terima kasih.

Komentar oleh wahyono

Salam Kenal Mas Nur…, saya Rahmat Widada, penulis & peminat sejarah Mataram. Saya ingin nimbrung di forum ini untuk berbagi informasi (dan sekaligus “promosi”. Boleh curang dikit yaa..!)
Begini…, kawan-kawan yang tertarik pada sejarah Mataram Islam, saya telah menulis novel yang mengambil seting Mataram, khususnya ketika di berpusat di Karta & Pleret, di era Amangkurat I. Judulnya BABAD MATARAM: Anak-anak Kaliyuga.
Memang era Amangkurat I yang berpusat di Pleret (pasca Sultan Agung) diceritakan oleh banyak sejarahwan maupun “juru kisah” sebagai era paling kelam dalam sejarah kerajaan ini. Dari B.H.M Vlekke, H.J. van de Graaf, M.C. Ricklefs hingga Y.B. Mangunwijaya, juga penulis Babad Tanah Jawa serta lakon ketoprak Mataram, semua menampilkan gambaran yang senada:masa Amangkurat I adalah gerhana panjang.
Pada era ini terjadi pembantaian ribuan santri dan ulama.Mereka dituduh bersekutu dengan Pangeran Alit untuk melakukan makar. Menyusul mangkatnya Ratu Malang (istri Amangkurat I), puluhan abdi dalem Kaputren dikurung tanpa diberi makan dan minum hingga mati karena mereka dituduh meracuni Ratu Malang; lalu diikuti perburuan gadis-gadis untuk menggantikan sang ratu. Dalam hal ini, kemudian muncullah tragedi kematian Rara Oyi, gadis belia calon istri Amangkurat I, yang dihukum mati karena ketahuan menjalin hubungan cinta dengan Pangeran Adipati Anom (Putra Mahkota). Tragisnya hukuman itu harus dilaksanakan melalui tangan kekasihnya sendiri!
Dengan mengambil latar sejarah tersebut, disertai riset pustaka dari karya sejarahwan yang antara lain saya sebut itu, juga dari babad dan cerita tutur di Pleret (saya berasal dari Pleret), saya membangun imajinasi historis tentang imbas kekuasaan yang despotis tersebut atas kaum lemah dan terpojok (rakyat jelata seperti petani, tukang,wong mbarang [seniman jalanan], dan terlebih-lebih yang perempuan!)
Saya sebut novel ini sebagai “babad kaum pinggiran”, yakni kisah orang-orang yang selalu terpojok dan tergencet dan (nyaris) tak punya kesempatan untuk “menampilkan” kisahnya sendiri!
Saat ini, novel tersebut sedang saya carikan penerbit yang mau menerbitkannya.
Dan inilah pembuka dan Bab I


BABAD MATARAM:
Anak-Anak Kaliyuga

***
O, dunia dukana rawa-rawa berahi
sucikanlah tubuhmu dengan airmata anak-anakku
berputarlah bersama kesedihan mereka
hingga hening mengantarmu
pada makrifat Sastra Jendra
(Percakapan rahasia Resi Gotama dan Begawan Wisrawa)
***
Gelegar Kemarahan
DENTUMAN-DENTUMAN dahsyat meriam Sapujagat terdengar membahana, memecahkan kedamaian satu pagi di Mataram. Denyut kehidupan seolah mandek beberapa tindak. Di Pasar Pleret orang-orang berhenti tawar-menawar. Para botoh dan penonton di arena sabung ayam dan adu kemiri bungkam seketika. Mereka tak lagi bersorak sorai. Kambing-kambing di pasar hewan pun berhenti mengembik. Kegaduhan para pandai besi yang sedang menempa peranti dan senjata di sudut tenggara pasar tak terdengar lagi.
Semua tertegun!
Pelan-pelan segugusan rasa cemas muncul seiring dengan pertanyaan-pertanyaan di benak kawula Mataram. Apakah Mataram hendak berperang lagi? Ataukah ada pemberontakan? Ataukah Susuhunan menghendaki gugur gunung untuk memperluas laut buatan Segarayasa?
Diam-diam orang berharap bahwa dentuman-dentuman meriam peninggalan Kanjeng Sultan Agung itu hanyalah untuk menyambut tamu-tamu penting kerajaan.
Belum juga habis orang bertanya-tanya, tiba-tiba muncullah serombongan penunggang kuda dari tikungan sebelah selatan pasar. Dari pakaian seragamnya, tampaknya mereka adalah para prajurit istana. Kuda-kuda mereka menderap kencang kesetanan, meninggalkan bubungan debu di belakangnya.
Tiba di depan pasar yang berupa tanah kosong dengan beberapa pohon gayam, keben, dan sawo sebagai peneduhnya, sebagian dari para prajurit itu segera menyebar, menutup setiap kemungkinan bagi orang untuk lari dari pasar. Sebagian lagi merangsek masuk pasar tanpa turun dari kuda. Kerumunan tersibak. Dengan tunggang langgang dan ketakutan, mereka menyelamatkan diri. Serba tergopoh-gopoh para penjual menghindarkan barang-barangnya dari terjangan kuda.
Begitu kuda-kuda itu berhenti, sang pemimpin prajurit berteriak, “Kalian semua, tetaplah di tempat masing-masing! Buka telinga kalian lebar-lebar! Kanjeng Ratu Wetan, Ratu Mas Truntum, telah mangkat. Sekomplotan selir diduga telah meracuni beliau. Kami ke sini untuk mencari Nyai Gambir, abdi dalem Kaputren yang biasa menyediakan sirih pinang. Pagi tadi dia diutus untuk menemui penjual tembakau Kedu. Adakah dari kalian yang melihatnya di sini?”
Padamlah harapan orang-orang di Pasar Pleret. Gelegar meriam Sapujagat itu ternyata disulut oleh api amarah Susuhunan Amangkurat. Muncul kembali dalam benak mereka kejadian belasan tahun silam. Kala itu dentuman serupa pernah terjadi. Lalu tak berapa lama kemudian kaum santri diburu-buru. Mereka dikumpulkan dan dibantai di tanah lapang. Begitu ganasnya pembantaian itu sehingga dalam jangka waktu sepenanak nasi, ribuan jiwa melayang. Tak peduli apakah mereka itu laki-laki ataupun perempuan, dewasa ataupun anak-anak. Mereka dituduh sebagai penghasut Pangeran Alit agar merebut tahta Mataram yang berujung pada kematian Pangeran Alit.
Kini petaka maut apa yang bakal menyusul dentuman dahsyat itu?
Seisi pasar tercekam ngeri. Suasana benar-benar hening sehingga ketika salah satu dari kuda-kuda prajurit itu meringkik dengan suara yang terdengar seperti kuda setan dari alam gaib. Tiba-tiba seorang perempuan tua merangkak meninggalkan kerumunannya. Dengan gemetar tubuh tua dan kurus itu menuju ke arah para prajurit. Bersujud ia di depan para prajurit. Buah-buah kaum Hawa di dadanya yang telah lisut terjulur memelas hampir menyentuh tanah.
“Ampun Ndara. Saya Ginem.”
“Apa peduli kami?”
“Hamba jangan dihukum. Hamba berjualan sirih pinang dan tembakau. Tiga hari yang lalu Nyai Gambir memang berbelanja di tempat hamba. Benar-benar hanya membeli sirih. Tak ada keperluan lain. Begitu Ndara.”
“Pagi ini bagaimana, adakah dayang-dayang Kaputren itu ke sini?”
“Ampun, Ndara. Belum ada pembeli.”
“Jangan bohong, nenek kempot.”
“Ampun, Ndara. Ampun! Mana berani hamba membohongi prajurit Ngarsa Dalem.”
Tanpa banyak kata lagi, dua prajurit segera maju dan menyeret nenek penjual sirih pinang itu ke belakang kuda-kuda. Tak ayal lagi tubuh renta itu pun jatuh bangun. Debu-debu menyapu muka keriputnya. Tiada hentinya nenek malang itu berucap dengan suara gemetar dan pelo, “Oalah Gusti, minta ampun, iki gek lelakon apa?”
“Ayo, siapa lagi mau menyerah. Daripada kami sendiri yang menyeret kalian. Kami sudah punya catatan orang-orang yang terlibat dalam persekongkolan itu!”
Orang-orang tak ada yang bergerak maju. Tampak para prajurit berusaha menyabarkan diri untuk menunggu. Namun, setelah beberapa jenak tak ada gelagat apa pun, pemimpin mereka meledak, “Geledah!”
Lalu sang pemimpin melecutkan cambuk ke udara. Dengan sigap anak buahnya menyebar, menyerbu, dan memeriksa anjungan-anjungan dagangan. Mereka membalikkan bangku-bangku, melongok isi karung-karung, bahkan memecahkan klenthing penjual jamu dan boreh yang sebenarnya mustahil dipakai untuk bersembunyi, sekalipun oleh seorang anak kecil.
Sementara itu, sebagian prajurit yang lain menggiring para penjual dan pengunjung pasar untuk dibariskan di depan pasar. Maka terciptalah satu barisan panjang manusia serba sengsara. Dengan sorot mata serba pasrah, seperti sapi-sapi menanti giliran dijagal, mereka menunggu diperiksa. Mereka yang tak dicurigai punya sangkut paut dengan persekongkolan itu segera dilepaskan.
Tampak dalam barisan itu seorang bocah belasan tahun menjelang akil balik. Anak itu terus menangis ketakutan. Di pinggangnya tergantung buntalan kecil dari kain kumal berisi biji-biji kemiri aduan. Jalu, bocah laki-laki itu segera berlari menjauh dari barisan begitu ia selesai diperiksa dan dinyatakan bebas.
Namun, bocah lelaki itu tak segera pulang. Ia masih cemas menunggu giliran Warsi, kakak perempuannya, diperiksa. Satu, dua, tiga…, lima! Ya, setelah tiga orang lagi, giliran kakaknya tiba.
Jalu meremas-remas buah kemiri di dalam buntalannya dengan gelisah.
Saat giliran Warsi tiba untuk menghadap para prajurit, sorot mata Jalu tak lepas dari kakak perempuannya itu. Mereka memang tidak menampar atau menendang Warsi, tapi tindakan mereka sungguh lebih menyakitkan: memaksa kakaknya membuka kemben. Melihat itu semua, Jalu hanya bisa menelan segenap sakit hati dan amarahnya.
“Ayo buka, Ndhuk!” prajurit itu membujuk.
Warsi bersikukuh mempertahankan diri.
“Kamu ingin kami yang membukanya?”mata prajurit itu melebar, memancarkan berahi kambing bandot. Dengan nekat ia lalu menjulurkan tangan ke arah kemben Warsi. Ketika jari-jarinya yang besar dan kasar menjamah kain penutup dada perawan kencur itu, si bandot terperanjat, “Hei, Ndhuk, bukankah kembenmu ini adalah seragam abdi dalem Kaputren? Warnanya saja sudah kucel.”
Warsi sendiri kaget dan seketika lututnya terasa lumer. Mukanya pucat, darah seolah tersedot keluar dari tubuhnya. Dengan suara bergetar gadis yang berangkat mekar itu berucap, “Ampun, Tuan. Ini kemben pemberian orang. Hamba bukan abdi dalem cepuri mana pun.”
“Itu bisa dijelaskan nanti di keraton, Cah Ayu. Sekarang kamu ikuti saja perintah kami!”
“Manut wae, Ndhuk, manut! Nek manut ki kepenak kok! Kami ‘kan sudah berpengalaman …,” timpal yang lain ditingkahi tawa jorok. Lalu seorang prajurit segera menggelandang Warsi untuk bergabung dengan Nyai Ginem dan tawanan lain. Warsi meronta-ronta sekuat tenaga sambil melolong dan menjelaskan bahwa ia bukanlah abdi dalem keraton. Namun, semua usahanya sia-sia.
Serta merta Jalu berteriak-teriak keras keranjingan, “Jangan hukum Mbakyu Warsi! Jangan! Kakakku tidak bersalah. Kemben…, kemben itu dari Nyai Gambir.” Lalu bocah itu segera berlari menyusul. Namun, seorang kakek segera menangkap dan menahan bocah itu dalam rangkulan lengannya yang keriput. “Sssst, diamlah, Kulup!” bujuknya. “Tak ada gunanya berteriak-teriak. Itu hanya akan membuat para prajurit tambah nekat. Jangan sampai kamu ditangkap pula, Kulup!”
Jalu diam. Ia hanya bisa menatap kakaknya yang terus meronta-ronta sambil menangis mengiba-iba minta pengampunan.
Hari itu untuk pertama kalinya, Jalu tidak merasa kagum lagi kepada kegagahan prajurit Mataram.
***

Komentar oleh rahmat widada

eh, belum nyenthang untuk respons via email saya.

Komentar oleh rahmat widada

Semoga bangsa kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. Hingga kini ada kekuatan asing yang tidak suka Indonesia bisa damai bersatu.

Komentar oleh seno widihardjo

baca sejarah memang terkadang banyak yg bisa diambil hikmahnya, tapi terkadang sejarah hanya sebagai sebuah catatan.. terimakasih untuk cerita sejarahnya Kang, dulu seringnya denger babat mataram di radio, kalo sekarang sudah ga mengudara lagi…he.he . salam kenal

Komentar oleh Kadi

copy dulu mas, lalu tak bacannya pelan2. wah menarik sekali.
teman2 mohon, jangan menyalahkan budaya atau tradisi orang jawa. dimana pun sejarah pasti ada sebuah lorong kelam yang harus di lewati. alangkah baiknya jika sejarah kelam tersebut dijadikan sebuah kaca benggala agar tidak terjadi lagi. itulah daya tarik dari sejarah dan budaya jawa. trims satriotomo-gombal

Komentar oleh widodogb

terima kasih atas catatan yang sangat penting bagi pembelajaran kita semua. Saya tunggu cerita amangkurat 2

Komentar oleh teguh

Salam,Mas Nur dan teman-teman. Numpang woro-woro. Akhirnya novel itu terbit juga. Tapi judulnya diganti, bukan lagi Babad Mataram: Anak-anak Kaliyuga, tetapi Gadis-gadis Amangkurat–Cinta yang Menikam. Penerbit Narasi, Maret 2011.

Komentar oleh Rahmad Widada

Amangkurat I jg berperan mematikan tradisi kelautan jawa. Bah! terkutuklah kau amangkurat I.

Komentar oleh dildaar80

Jangan mengarang cerita bohong
Jgn mengira ngira cerita seakan akan itu hal yg sebenarnya yg terjadi padahal sedikitpun jauh dr kebenarannya.
Banyak kejanggalan dlm ceritanya so analisa terlebih dahulu. Pergi ke Inggris prancis n Portugis cari sejarahnya disana krn negara negara luar lebih jujur dlm menceritakan kejadian yg sebenarnya…
Wassalam..

Komentar oleh agus dimyati, SH




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: