Filed under: Sejarah
Panembahan Senapati tiga hari tiga malam tinggal di Laut Kidul, selalu berkasih-kasihan dengan Rara Kidul. Di sana setiap hari diberi petunjuk tentang ilmu orang menjadi raja yang memimpin manusia, jin dan peri. Senapati berkata, “Ni mas, terima kasih atas segala ajaranmu. Saya yakin jika kelak ada musuh, Ni Mas akan membantu, tetapi siapa yang akan aku utus memberi tahu?”
Rara Kidul menjawab, “O, itu mudah saja. Jika Paduka mau memanggil, sedekap dalam sikap semedi menengadah ke langit, pasti saya segera datang; membawa bala jin, setan, peri-prahyangan. Lengkap dengan alat perangnya.”
Senapati berkata lagi, “Ni Mas, saya pamit pulang ke Mataram. Pesan-pesanmu pasti saya laksanakan.”
Ia segera berjalan di air seperti di daratan saja.
Setelah sampai di Parangtritis, ia terkejut melihat Sunan Kali Jaga duduk tafakur di bawah Parangtritis. Senapati segera bersujud dan mohon ampun sebab memamerkan kesaktian menempuh air.
Sunan Kali Jaga berkata, “Senapati berhentilah bersombong diri memamerkan kedigdayaan. Itu namanya takabur. Para wali tidak mau berbuat demikian, takut akan murka Allah. Jika kamu ingin menjadi raja, selalu bersyukurlah sebagai makhluk ciptaan-Nya. Marilah bersama ke Mataram , saya ingin melihat rumahmu.”
Lalu mereka berangkat bersama.
Sesudah sampai di Mataram, Sunan menyaksikan rumah Senapati belum berpagar; Sunan berkata, “Rumahmu tidak berpagar bata. Itu tidak baik. Kamu dapat disebut orang sombong, sebab tidak ada curiga karena mengandalkan kesaktian, teguh kedigdayaan. Ibarat kerbau sapi tanpa kandang, tentu akan terlepas ke mana-mana. Kerbau-sapi tadi sebaiknya diikat, kalau malam dikandangkan, di luar dijaga orang serta berserah kepada Allah. Demikianlah dalam kamu dalam mendirikan rumah sebaiknya, pakailah pagar yang disebut pagar bumi. Orang-orang Mataram jika musim kemarau perintahkan membuat bata. Jika sudah banyak, buatlah kotaraja.”
Sunan lalu mengambil tempurung, diisi air, dituangkan berkeliling sambil berdzikir. “Kelak jika kamu membangun kota, ikutilah ini.”
Senapati bersedia. Sunan lalu kembali pulang.
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar








Sunan Kalijaga adalah seorang yang menterjemahkan Islam dalam kearifan lokal tanpa kehilangan esensi. Luar biasa. Semoga Allah menerima segala amal ibadah beliau dan melipat gandakan segala pahala yang beliau terima.
Komentar oleh tengkuputeh Kamis, 23 Februari 2012 @ 7:43 pm