The Nurdayat Foundation


Politik Etis dan Kondisi Umum Indonesia pada Awal Abad ke-20 (2)
Selasa, 12 Februari 2008, 4:53 pm
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Rakit-rakit di sungai Ciliwung tahun 1913Kegiatan pendidikan masa Politik Etis inipun berdampak pula terhadap cara pandang. Misalnya saja, anak-anak pribumi yang pernah bersekolah di sekolah-sekolah Belanda tidak sedikit yang terpengaruh oleh cara-cara hidup kebelanda-belandaan dengan segala variasi hidupnya.i Oleh karena itu tidak heran kalau timbul kelompok elite baru di tengah-tengah masyarakat pribumi. Di samping itu, karena tempat-tempat pendidikan Belanda itu rata-rata terpusat di kota-kota, maka terjadilah urbanisasi kalangan pemuda di pedesaan ke kota-kota untuk belajar di sana. Kelanjutan dari kondisi ini adalah terjadilah polarisasi kehidupan antara desa dengan kota. Kota menjadi makin elite dan makin diminati oleh orang-orang di desa. Kecenderungan mengagumi elite baru dan dunia perkotaan seperti itu bekas-bekasnya masih terasa sampai sekarang ini.

Hal yang kurang menguntungkan dari timbulnya elite baru di atas adalah adanya kebanggaan kalau disebut dengan istilah “priyayi” bagi mereka yang dapat masuk kedalam sistem birokrasi pemerintahan Belanda. Sebaliknya, masyarakat luas menjadi mamt mendambakan status sosial tersebut. Tidak jarang pegawai juru ketik di kantor pemerintahan Belanda sudah disebut “ndara” (bahasa Jawa) yang menunjukkan sebutan feodal. Memang harus diakui, bahwa pada waktu itu gerak mobilitas sosial vertikal masih sangat sempit dan terbatas, dan karena itu lewat pendidikan menjadi satu-satunya pilihan.

Di samping itu, kondisi sosial masyarakat Indonesia juga tidak lebih baik. Kondisi ekonomi, terutama, secara umum boleh dikatakan masih sangat memprihatinkan. Mata pencaharian penduduk masih terkonsentrasi pada lapangan pertanian dan perladangan. Bahan ekspor dari komoditas pertanian kebanyakan (dan memang dengan sengaja) dikuasai oleh Belanda. Menurut Frans Husken, proses pemiskinan penduduk pribumi Indonesia, terutama di Jawa, adalah mulai sejak pemberlakuan cultuuurstelsel (tanam paksa) pada tahun 1830 yang secara efektif berlaku sampai tahun 1870. Cultuuurstelsel ini atas perintah Gubernur Jenderal Van den Bosch dengan tujuan “peningkatan semaksimal mungkin produksi pertanian untuk pasar Eropa”.ii Komoditas yang menguntungkan pada periode cultuurstelsel ini adalah tebu, kopi dan nila.iii

Pada masa periode berikutnya, yaitu sejak 1870 sampai menjelang Politik Etis, pemerintah Belanda berganti mengadakan onderneming (usaha perkebunan), terutama dalam hal tanaman tebu dan kopi, swasta diikutkan dalam usaha perkebunan, namun dalam hal persebaran kemakmuran tidak sebagaimana diharapkan. Pengusaha perkebunan tetap sedikit, dan biasanya justru berafiliasi dengan pemerintah kolonial, sementara itu pekerja kasar jauh lebih besar dan upah kasar di onderneming tersebut kebanyakan tidak menjanjikan hidup layak dan juga tidak bermasa depan. Sementara itu, kalau mereka ingin menggarap tanah sendiri lahannya tidak ada, dan kalau ada tentu relatif sangat sempit.iv

Hal di atas baru dari satu segi. Segi yang lain, kehidupan para petani sendiri juga kurang menguntungkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan beban pajak yang harus ditanggung oleh masyarakat, dan sementara itu modernisasi pertanian untuk meningkatkan pendapatan petani tidak pernah dilakukan. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara besarnya pendapatan riil para petani dengan keharusan mengeluarkan uang untuk membayar pajak. Kondisi seperti ini dengan sendirinya mudah sekali memicu ketidakpuasan masyarakat dan pada akhirnya mudah pula berujung menjadi kerusuhan sosial dan tidak kecil kemungkinan memuncak berbentuk pemberontakan bersenjata. Studi Dr. Sartono Kartodirdjo terhadap pergolakan petani di banten (1888) membuktikan hal seperti itu.v Dalam studi tersebut disinggung pula bagaimana posisi tokoh agama dalam wacana pemberontakan bersenjata tersebut.
Selanjutnya…

 

 

 

i Ada Disertasi menarik tentang pengaruh kebudayaan kebelanda-belandaan ini yang ditulis oleh Djoko Soekiman. Lihat: Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX) (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000).

ii Frans Husken, Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980 (jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1998), hlm. 75.

iii ibid., hlm 75-76.

iv ibid., hlm 87-88.

v Baca: Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888. Penerjemah: Hasan Basari. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984).

 

 

About these ads

3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Semua tergantung kesigapan kita menghadapi perkembangan lingkungan strategis
salam

Kang Nur:
ya, sejarah dan pemahaman kita atasnya smoga menjadikan kita semakin bijak dalam menentukan sikap menghadapi situasi-kondisi apapun demi kelangsungan kehidupan bangsa yang terjamin

Komentar oleh cenya95

Menyadarkan kita untuk memperhatikan lembaga pendidikan yg asli dan sudah ada sebelum belanda menjalankan politis etis.

Komentar oleh Muzammil

sejarah masa lalu akan membuat kita untuk lebih maju & semangat………

Komentar oleh yuliana astuti




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: