The Nurdayat Foundation


Liris: Anak Seribu Masjid
Jumat, 22 Februari 2008, 4:42 pm
Filed under: Serba-serbi | Tag: , , , ,

masjid di desa pelosokMasjid bertebaran
Celoteh-celoteh anak meningkahi wirid simbah
Polah jiwa-jiwa murni … dalam keteduhan restu kasih sayang …
Perindu Maut
Allaahu Akbar
Di Serambi-Nya
Kaki kecil dan tangan mungil merajut ikatan ridho
Ribuan mata jernih menatapi Aksara-Nya
Lidah-lidah belajar melafal
……………………………..
Assalaamu ‘alaikum Yaa Ahli Warits !
Beratus anak jin Muslim menghampiri, sangat manis menatap
Mengucap:Assalaamu ‘alaikum Yaa Warotsaatul Islam
Ahlan wa sahlan sahabat kasat mata
Gegas-gegas kaki kecil, binar-binar bola mata mungil

Menyenangkan ?
Dunia?
Dunya wal akhiroh, Ngger !
Kau merdeka sebagai khalifah-Nya

Anak-anak … panah
Akan melesat jua ia tercipta, menanti bentangnya busur
T…t …terbisik …kasih untuk tunas

Di atas kepang, di hampar tikar, ataupun di jerambah keramik
Hati-hati kecil merangkak, berguling-guling. Mungil-mungil berpegang tali

Ini padang pasir, adik
Gurun pengembaraanmu. Bukan selimut hangat untuk buai tidurmu
Ini padang pasir, adik
Kala irodat kasih Allah membungkus badai terik. Mengumpul Zam-Zam
Menyejuk pemenuh panggilan-Nya

Al-Amin, Juni 1996

Rangkaian kata di atas kutulis saat aku tengah berupaya mengajar Qur’an bagi adik-adikku di mushola depan rumahku. Kurasakan budaya agamis pedesaan tak kuat berakar di dusunku, sementara pengaruh budaya kota lebih mudah diambil negatif-nya saja. Dalam upayaku meningkatkan mutu pengajaranku, aku bergaul dengan banyak pengasuh TPA dari wilayah lain.
Aku sering melihati suasana masjid-masjid itu. Lalu kutatap dusunku dan mushola depan rumahku…
Dusunku belumlah maju dalam hal dakwah. Saat itu aku masih kuliah, dan belum lama berselang dari itu melepaskan jabatanku dari Wakil Ketua Karang Taruna dan Ketua Remaja Masjid di dusunku. Kegiatan sosialku di dua kumpulan organisasi pemuda yang telah bertahun-tahun itu segera kuanggap kurang bermanfaat. Aku merasa segala prakarsaku tak pernah mendapat perhatian yang cukup dari kalangan tua, sementara remaja adik-adikku telah mendapat pengaruh negatif pergaulan pinggiran. Remaja-remaja itu beberapa telah mulai berkebiasaan minum minuman keras. Aku merasakan misi perjuanganku di dua organisasi itu bakal tak ada yang meneruskan.

Aku mengalihkan fokus kegiatan sosialku ke pengasuhan belajar Qur’an bagi adik-adikku, anak-anak tetanggaku usia SD. Aku menemukan keteduhan dan kesejukan di situ. Kurasa masyarakat dusunku saat itu tengah menuju kepada kebingungan karena longsornya nilai-nilai ikatan lama, sementara nilai-nilai ikatan baru belum terbentuk. Kalangan tua kurang mengenal agama dan belum cukup menerima dakwah, sehingga anak mudanya pun kurang kuat memegang agama sebagai nilai idiil. Orang tua kurang senang dengan pembaharuan, tapi mereka juga tidak jelas akan mewariskan nilai apa untuk generasi penerusnya. Aku dan beberapa temanku mencoba mencari nilai-nilai idiil tersendiri bersumberkan dari agama, namun itu tak dimengerti oleh adik-adikku remaja. Aku mengalihkan perhatianku untuk membina adik-adik usia SD.

Saat itu mushola depan rumahku telah berdiri selama 8 tahun, namun kurang tampak peningkatan dalam kemakmuran jama’ahnya. Hanya dipakai untuk berjama’ah sholat waktu Maghrib, Isya’ dan Subuh; rata-rata hanya diikuti 8-9 orang. Hampir semua berusia di atas 60 tahun. Pemuda remaja hanya 1-2 saja yang nongol dalam seminggu.

Aku merasa pandangan idealisku dalam pengembangan masyarakat dan dakwah tak mendapat sambutan dari masyarakat dusunku sendiri, maka saat aku bertemu dengan pengasuh-pengasuh TPA(Taman Pendidikan Al-Qur’an) selingkup kecamatan, aku merasa mendapat teman dan semangat baru. Meski teman dakwah di dusunku hampir tak ada, di luar sana masih banyak pemuda yang seperjuangan.

Kupikir kalau remajanya saja sudah tak tersentuh oleh pembinaan yang benar dari kalangan orang tua, bagaimana pula generasi sesudahnya nanti? Apa mereka tak akan lebih tercerai-berai dari agama seperti anak ayam kehilangan induknya? Ini adalah generasi yang hilang. Generasi yang hilang. Tak adanya dakwah di waktu puluhan tahun yang lalu, mewujud menjadikan masyarakat desa yang tak memiliki ketahanan nilai dalam perubahan sosial.

Dalam kegalauan itu; aku merasakan ketenangan, kesejukan dan ketenteraman begitu aku bersila mengajarkan Qur’an kepada manusia-manusia kecil anak-anak tetanggaku ini, semampuku. Paling tidak, itulah yang mampu aku lakukan; sekalian aku sendiri dapat sambil memperdalam pemahamanku terhadap Qur’an.

Aku sering merasa terharu terhadap adik-adikku ini. Kurasakan upaya dan ketekunanku tak sia-sia. Mereka mencintaiku sebagai kakak pembimbing mereka, seakan lebih tulus dalam membalas rasa cintaku kepada mereka. Lihatlah betapa adik-adik ini pun dapat terbimbing dengan baik, asalkan ada yang mau meluangkan waktu untuk mereka. Mengapa orang tua masih kurang perhatian terhadap pendidikan agama bagi anak-anaknya?

-o0o-


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Nice post…

Komentar oleh mr.awalk




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: