The Nurdayat Foundation


Kisah Pak Lik Mukiyanto dan Seangkatannya
Jumat, 29 Februari 2008, 3:27 am
Filed under: Sejarah | Tag: , ,

tertuduh komunis ditangkap tentara akhir 1965“Kowe kuwi tas seko Jakarta, Muk? Jare Jakarta ki ono gegeran, Jendral-jenderal dho dipateni?, ” (Kamu ini barusan dari Jakarta, Muk? Katanya di Jakarta itu ada kehebohan, Jenderal-jenderal pada dibunuhi?) tanya nenekku pada suatu hari di bulan Oktober tahun 1965 kepada Pak Lik Mukiyanto (bukan nama sebenarnya).

“Ah, mboten onten nopo-nopo kok mbokdhe…,” (Ah, tidak ada apa-apa kok mbokdhe) jawab Pak Lik Mukiyanto.

Begitulah Ibuku menceritakan kepadaku perihal tanya jawab antara nenek dengan Pak Lik Mukiyanto di saat itu. Menurut kesaksian Ibuku, nenek menanyai Pak Lik Mukiyanto itu di sebelah timur sumur, di dekat pagar batas pekarangan nenek-kakek. Pekarangan rumah kakek-nenek memang bersebelahan dengan pekarangan orang tua Pak Lik Mukiyanto; namun berbatas jalan kampung/dusun. Itulah suasana desa di wilayah Sleman Yogyakarta, sekitar 12 kilometer sebelah barat laut dari pusat kota Yogya, yang masih banyak dirimbuni pepohonan saat itu. Pekarangan kakekku seluas + 7500 m2, masih utuh hingga sekarang. Kakekku pernah menjadi Kamituwo desa (semacam Kepala Bagian Sosial Desa saat ini), namun telah meninggal pada tahun 1950.

Pak Lik Mukiyanto saat itu masih bujangan, usianya sekitar 25-an. Nenekku kelahiran sekitar tahun 1900-an, meninggal pada tahun 1985. Ibuku masih saudara misan dengan Pak Lik Mukiyanto, yaitu nenekku masih sepupu dengan ayah Pak Lik Mukiyanto. Karena keluarga nenek urutannya lebih tua, maka Pak Lik memanggil nenek mbokdhe, dan memanggil Ibuku mbakyu, dan maka aku memanggilnya Pak Lik.

Ayah Pak Lik Mukiyanto adalah seorang petani pemilik lahan yang rajin, sekaligus pedagang. Sebut saja nama ayah Pak Lik itu Mbah Sorbo (bukan nama sebenarnya). Saat itu ibuku, juga ayahku, sudah menjadi guru sekolah dasar, mengajar di sekolah yang tak jauh dari tempat tinggal nenek, sudah beranak 2 kakakku. Ayah-ibu memang saat itu masih ikut tinggal bersama nenek, karena hanya ibulah anak nenek yang masih tinggal di rumah. Anak-anak simbah (nenek-kakek), yaitu pakdhe-budhe-ku, bersekolah minimal sampai sekolah menengah di jaman Belanda-Jepang dulu, pergi kerja di tempat lain atau ikut suami. Tiga orang anak mbah Sorbo juga bersekolah sampai lanjutan atas. Pak Lik Mukiyanto sendiri bersekolah sampai ke fakultas keguruan Gadjah Mada (saat itu). Maka, sampai kini orang-orang banyak menuliskan namanya dengan tambahan gelar B.A.

Sebagai generasi muda saat itu, tak heran kiranya bila PakLik ikut dalam arus suasana jaman yang revolusioner saat itu. Dikisahkan ia sering kumpul-kumpul dengan teman-temannya dari lain-lain tempat. Kalau jaman sekarang, mungkin bolehlah ia disebut semacam aktivis begitu. Kebanyakan tetangganya saat itu yaitu orang-orang desa tentu tidak begitu tahu apa sebenarnya yang dikerjakan PakLik dengan teman-temannya itu.

Sampailah pada akhir bulan September 1965, tetangga, yang pasti yaitu nenekku, mengetahui bahwa ia pergi berangkat ke Jakarta bersama teman-temannya.

Dalam situasi perkembangan arus lalu-lintas komunikasi-informasi yang masih terbatas saat itu, ternyata nenekku yang sudah berumur 65-an saat itu tahu juga akan kabar pembunuhan jenderal-jenderal di Jakarta pada malam 1 Oktober 1965 itu. Entah ia mendengar dari radio atau dari Mbah Lurah, aku tak tahu. (Mbah Lurah adalah sebutanku untuk adik nenek lain ibu yang menjadi Lurah Desa saat itu). Radio saat itu juga hanya dipunyai oleh beberapa orang saja, mungkin hanya orang-orang kaya dan perangkat-perangkat desa.

Menurut beberapa kabar yang beredar kemudian yang diceritakan pakdhe, budhe dan paklik2ku juga tetangga yang tahu; katanya organisasi yang diikuti oleh Pak Lik Mukiyanto di mana ia aktif di dalamnya itu adalah Pemuda Rakyat, organisasi pemuda underbouw Partai Komunis Indonesia.

Karena suasana yang tintrim (genting dan mencekam) saat itu, Mbah Lurah selaku Lurah Desa malah tidak pernah tinggal dan tidur di rumahnya sendiri yang letak pekarangannya bersudutan saja dengan pekarangan simbah (nenek). Menurut kisah Ibu, beberapa kali Mbah Lurah pulang ke rumah nenek sembunyi-sembunyi mengendap-endap mengetok-ngetok jendela pada malam buta. Kata Ibu, Mbah Lurah tak berani pulang ke rumahnya sendiri karena ia mendapat ancaman dari sekelompok orang.

Kabar yang beredar menyebutkan telah ada rapat-rapat juga oleh sekelompok orang yang merencanakan untuk membagi-bagi tanah atau sawah yang dimiliki orang-orang yang bertanah luas untuk dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Konon katanya tanah nenek dan Mbah Lurah juga mau dijadikan sasaran, dan rumahnya mau diduduki. Namun, itu semua nyatanya tidak pernah terjadi.

Saat itu kiranya beberapa generasi muda yang berpendidikan cukup tinggi di lingkungan desa nenek telah terpengaruh dan tertarik untuk bergabung dengan organisasi-organisasi underbouw PKI. Seorang pemuda dari desa tetangga yang juga berpendidikan tinggi untuk ukuran kala itu dikabarkan beberapa bulan kemudian ia ditangkap dan dibuang ke pulau Buru. Seorang teman guru Ibu, tidak lagi menjabat sebagai guru di tahun berikutnya. Ia kedapatan ikut main kethoprak (teater tradisional Jawa) yang dibina oleh LEKRA.

Semenjak ditanyai oleh nenek itu, Pak Lik Mukiyanto tidak kelihatan pergi-pergi keluar. Beberapa hari kemudian dari saat tanya jawab dengan nenek itu, ayah dan ibu (dan tetangga) menyaksikan sebuah jip datang memasuki pekarangan Mbah Sorbo. Dari jip itu keluar sepuluhan orang berseragam hijau-hijau. Kata ibu, itu tentara menggeledah rumah mbah Sorbo. Kata ibu, tentara itu tidak dapat menemukan bukti.

Namun waktu berikutnya, ayahku menghampiri ibuku dan bilang,

“Bune, mbok kowe cobo mrono tilik neng nggone dik Muk…” (Bu, cobalah kamu itu menengok ke tempat dik Muk..)

“Lha ngopo to?” (Lha memangnya kenapa sih?), tukas Ibu.

“Eee… yo mbokmenowo wae sesuk awake dhewe wis ora iso meruhi dik Muk meneh…,” begitu jawab ayah. (Eee…kalau-kalau saja besok kita tak dapat menyaksikan /menemui dik Muk lagi..)

… Hari demi hari berlalu. Berlangsunglah tumpes-kelor terhadap pendukung PKI itu di banyak wilayah. Pak Lik Mukiyanto tidak keluar-keluar rumah. Namun …, ternyata tidak ada lagi tentara yang mendatangi rumahnya.

Beberapa tahun kemudian PakLik Mukiyanto malah menjadi guru di sebuah SMA swasta di Pakem. Di situ ia menjumpai seorang murid perempuannya yang cantik, yang kemudian dinikahinya di sekitar tahun 1971-an dan sekarang kupanggil BuLik. Dari pernikahannya itu mereka berputra empat. Usia mereka sebayaan denganku. Dari pembicaraanku dengan mereka, tampaknya mereka tidak tahu akan riwayat ayahnya itu.

Suatu saat beberapa bulan atau tahun kemudian dari 1 Oktober 1965, ketika Ibu sedang berbelanja ke pasar Cebongan; Ibuku berjumpa dengan bekas teman gurunya yang dulu main kethoprak itu. Lelaki itu mengangkut panci-panci berukuran besar di atas kepalanya. Saat melihat Ibu, ia tersenyum-senyum. Mengapa mengangkut panci, Ibu tidak pernah tahu. Yang Ibu ketahui, senyum-senyumnya itu terasa aneh. Sekelebatan, ia tak terlihat lagi. Namun ibu selalu ingat senyum-senyumnya itu. Senyum-senyumnya itu terasa getir, sinis. Seperti menyeringai. Membikin bulu kuduk berdiri.
-o0o-

Lihat pula Tautan Terkait berikut ini:
Bali, Nopember 1965, di Bali yang lain, buku ttg di Bali itu
Pelurusan Sejarah
Kanigoro 1


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

oooo……
orang jogja juga tho mas?

apik ceritane?
aku juga punya cerita ttg korban PKI
dari sudut yang lain dari cerita mu tentunya…

Kang Nur :
lha ya mana ceritanya? ayo dibagi.. alamat blog-nya?

Komentar oleh pacarkecilku




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: