The Nurdayat Foundation


Kolomku: Al-Maghfurlah Kanjeng Kyai Kodok
Rabu, 19 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag: ,

Satire haru-tulus tentang bentuk2 pensakralan dari sisa2 budaya feodal.

Apa dan mana yang pantas kita sakralkan ?

oleh: Kang Nur

Al-Amin, 6 Juli 2002

Gamelan Sekaten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ada bernama (kalau tak salah) Kanjeng Kyai Guntur Geni dan Kanjeng Kyai Nogowilogo. Sepasang beringin di Alun-alun Lor bernama Kanjeng Kyai Dewandaru dan Kanjeng Kyai Jayandaru. Keretanya yang terkenal bernama Kanjeng Kyai Garuda Yeksa. Di “kebon rojo” Kraton Surakarta tinggallah kerbau bule klangenan raja-raja. Dia bernama Kanjeng Kyai Slamet.

Di kraton-kraton itu, barang-barang klangenan baik berupa benda mati maupun makhluk hidup diembel-embeli nama sesebutan “Kanjeng Kyai”. Budaya di lingkungan kraton (feodal) tampaknya mengimbuhkan sesebutan itu sebagai wujud puncak penghormatan terhadap barang-barang klangenan milik Ngarso Dalem. Ngarso Dalem adalah khalifatullah, penguasa yang mendapat amanat untuk menjadi kepanjangan tangan kekuasaan Tuhan dalam mengatur peri kehidupan para kawulo-Nya. Tapi, sesebutan “Kanjeng Kyai” itu ada kita rasakan juga sebagai sakralisasi yang berlebihan terhadap makhluk.

Terlepas dari pro-kontra tentang sakralisasi berlebihan, adakalanya kita justru ingin melakukan “sakralisasi” terhadap makhluk. Misalnya, seorang yang nyentrik, dan kalau berbicara seperti bukan kemauannya sendiri (koyo dudu karepe dhewe), akan kita anggap bahwa dia telah mendapatkan “ilmu laduni”, dan kita tempatkan sebagai orang yang kita hormati karena memiliki kemampuan supranatural. Begitu juga dalam hal-hal yang kita jumpai sehari-hari, sesuatu yang tampak apa adanya dilihat dengan mata kepala, mungkin akan terasa lebih asyik kalau juga dilihat dengan mata batin.

….

Tersebutlah di ruang mihrob Mushola Al-Amin ini, tinggallah seekor kodok. Kodok itu telah bermukim di situ selama bertahun-tahun. Aku tidak tahu berapa sebenarnya masa hidup seekor kodok. Yang kutahu dan kulihat hanyalah bahwa beberapa tahun lalu seekor “precil’ sering wira-wiri di situ, tapi kini yang selalu kulihat adalah seekor kodok dewasa. Aku pun tak dapat memastikan, yang sering mukim di mihrob itu memang hanya seekor kodok ataukah beberapa ekor tetapi silih-berganti. Apakah kodok yang sekarang ini adalah anak dari kodok yang dulu, apakah adiknya? Ataukah kodok itu memang yang itu-itu juga, karena memang hanya ada satu? Aku tak tahu. Aku tak dapat “niteni” satu per satu kodok yang kulihat itu.

Kodok itu sangat menarik perhatianku. Mengapa kodok itu selalu bermain-main di sekitar mihrob (pengimaman)? Adakah ia hanya seekor kodok biasa saja? Mengapa kodok ini tertarik untuk setiap kali kembali dan kembali lagi ke ruangan sekitar mimbar dan pengimaman itu? Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, di dalam siklus pergantian siang dan malam; itu dapat menjadi pelajaran bagi orang yang berakal. Di dalam kemunculan dan kehadiran seekor kodok di ruang terhormat sebuah mushola yang terus-menerus, tak adakah sesuatu yang dapat dikaji? Jamaah rutin mushola semua telah pernah menjumpai kodok ini. Seringkali kodok itu baru muncul entah dari mana, ketika iqomat siap dikumandangkan sebagai tanda akan segera dilaksanakannya shalat berjamaah. Saat jamaah sedang berdiri dalam rakaatnya, sering pula sang kodok hilir mudik ke kiri ke kanan di atas sajadah-sajadah para jamaah.

….

Tak seorangpun merasa jengkel dengan kehadiran dan ulah si kodok ini. Semua menghormatinya. Semua jamaah justru merasa bersahabat dengannya. Betapa indah perasaan para jamaah terhadap kodok ini, sehingga tak mudah untuk dilukiskan dengan kata-kata Seakan-akan para jamaah menganggap bahwa kodok ini adalah seekor makhluk yang sengaja diutus oleh Maha Pencipta untuk menjadi saksi bagi beberapa makhluk manusia yang sedang menyembah-Nya. Seakan kodok ini diturunkan sebagai teman bagi beberapa makhluk manusia yang sering merasa kekurangan teman dalam ibadahnya. Kodok ini justru menjadi hal yang dirindukan ketika beberapa lama ia tak terlihat muncul. Tak ada seorangpun yang berniat untuk mengusir kodok ini ketika ia hadir. Seringkali jamaah hanya menggerakkan tangan dan bilang “husy” bila ia terlalu dekat, agar si kodok tak mengganggu gerakan shalat nanti.

“Mas Kodok” atau “Mbak Kodok”, itu panggilan yang cukup tepat bila dilihat bahwa kodok ini masih muda; namun entah apa jenis kelaminnya. Tapi aku menyarankan satu panggilan yang lebih takzim kepadanya. Anggap saja ia berkelamin jantan, dan ia akan segera tumbuh semakin dewasa, tua dan ‘bijaksana’. Panggil saja ia “Kanjeng Kyai Kodok”. Aku harus menaruh takzim kepadanya. Di saat manusia belum banyak yang merasa terpanggil untuk hadir berkala beribadah bersama di mushola, kodok ini telah lama melakukannya. Di saat para muda-mudi hanya di saat-saat tertentu kala sadar saja mereka datang untuk berjamaah; kodok ini secara berkala hadir di kala suka maupun duka.

Di kala malam sepertiga akhir, dan syukurku saat itu aku kuasa bershalat lail, terdengar suara srek-srek dari belakang; ternyata sang kodok pun setia siap menemani sujud. Saat usai shalat rasanya seperti ingin kuhampiri dia, lalu kujabat tangan sang kodok ini dan kuucap ‘Assalaamu ‘alaikum’. ‘Wahai sang kodok, engkau adalah sesama makhluk Allah. Bila aku bergelimang dosa, mungkin kau justru terlepas dari dosa’. ‘Bila kau telah bermanfaat bagi sesama makhluk, mungkin aku justru belum mampu meng-optimal-kan manfaatku bagi sesama’. ‘Terima kasih kau telah hadir’. ‘Apa saja kebutuhanmu sebagai seekor kodok?’ Adakah kau juga memohon akan kebutuhanmu kepada-Nya?’…..Bila kedua biji mata melototnya itu membalas menatapku, aku belum tahu juga apa yang sebenarnya ingin ia katakan.

Semua makhluk di langit, di darat ataupun di dalam lautan; yang terbang, berlari, melata ataupun berenang; bertasbih me-Maha Suci-kan-Nya dengan cara mereka sendiri-sendiri. Burung berkepak terbang mencari makan, berkicau riang di kala terbit mentari, pulang sarang kala senja. Semua mendapat rizki mereka. Semua bertasbih dengan caranya. Kulihat pula pada diri sang kodok. Ia bertasbih dan bersaksi dengan caranya.

Si kodok ini tulus dengan niat sendiri datang ke mushola tanpa perlu ada yang memaksa-maksa. Tak pernah ia kecewa dengan kondisi jamaah mushola yang begitu-begitu saja. Dengan lugunya ia turut gembira. Dengan jujur ia bersaksi.

Bila si kodok dekat menghampiri kala jamaah sedang duduk iftirasy, sering timbul juga rasa khawatir kalau-kalau si kodok tiba-tiba meloncat ke pangkuan. Kalau jamaah sedang sujud, khawatir juga kalau si kodok nanti tak sopan melompati kuduk. Tapi, itu semua tak pernah ia lakukan. Mungkin kodok ini lebih tahu akan sopan-santun dan budi pekerti daripada anak muda masa kini.

….

Tak salah kalau dinilai bahwa kodok ini adalah seekor anggota jamaah yang santun. Tanpa banyak bicara ia memberikan banyak teladan. Saat duduk-duduk di ruang mushola kodok ini tak pernah menggunjingkan sesama kodok. Ia tak pernah gusar bila ada jamaah yang selalu datang terlambat. Ia tak juga gusar bila ada anggota jamaah yang sok tahu, sukanya menggurui padahal ia sendiri masih banyak keliru. Ia juga tak tertawa, ketika orang yang adzan, iqomat dan menjadi imam adalah orang yang sama.

…Hanyalah yang beriman yang mampu memakmurkan masjid. Bila kodok ini memang bermaksud memakmurkan masjid, mungkin ia memang makhluk beriman. Meski ia tak mampu memberi infaq shodaqoh, tapi mungkin ia sering seksama mendengarkan khutbah dan pengajian. Kalau saja kodok ini mampu berbicara, mungkin ia akan kuminta untuk memberikan kultum saat Ramadhan Bila ia punya kemampuan, mungkin ia mau aktif di kegiatan pengajian. Bila ia sehat, pasti ia rajin menghadiri undangan. Bila ada tetangga sakit, pasti ia perhatian untuk menanyakan dan menjenguknya.

….

Kalau saja kodok ini jadi muballigh, pasti akan selalu kucium tangannya saat ketemu. Lalu kusebut ia “Al-Mukarrom Kyai Kodok”. Kudatangkan dan kujemput ia dengan mobil agar ia bersedia memberikan ceramah. Akan kuorganisir suatu kepanitiaan untuk menyambutnya.

Fatwanya tentu akan sederhana saja. Tak mungkin ia berfatwa tentang kalau tikar mushola terinjak-injak kodok, itu najis apa tidak. Lalu cara mencucinya bagaimana, apakah tujuh kali air suci dengan salahsatunya dicampur debu? Tentu saja ia pun tak akan menerangkan tentang halal dan haramnya daging kodok. Toh seharusnya manusia bisa mencari banyak pilihan makanan selain itu.

Kalau saja ia pernah katut ziarah haji ke Mekah dan masih ada keturunan kraton, aku yakin ia tak akan membangga-banggakannya, lalu kemana-mana ingin dipanggil dengan nama “Kyai Haji Raden Kodok”.

Kalau saja ia mengajar para santri, tentu ia tak akan gusar bila santri-santrinya itu juga belajar kepada guru lain.

Entah ia akan meng-klaim dirinya itu menganut satu mazhab fiqh tertentu atau tidak, tapi jelas kalau saja ia anggota organisasi jamaah kodok yang membuat majlis “tarjih” untuk hukum-hukum fiqh; ia tak akan menjadikan fatwa majlis tarjih itu sebagai “berhala baru”.

Ia tak akan berlagak sebagai intelek, lalu me-rasional-rasional-kan segala hukum agama. Ia pasti peduli pada masalah-masalah sosial yang menimpa ummat, tapi tak terjebak untuk menjadikan hal itu sebagai komoditi politik.

Eh,…kok jadi ngomong nglantur.

….

Kebanyakan kodok mengambil secukupnya saja dari dunia ini, mungkin karena memang hanya sampai segitu-lah kemampuannya. Namun bila kodok ini diberi kemampuan lebih pun, kuyakin ia tak akan serakah. Ia tak akan bermimpi untuk mencicipi makan makanan restoran. Ia tak perlu membeli pakaian bermerk di butik. Ia tak bermimpi untuk berwisata dan menginap di hotel. Cukuplah serangga kecil sebagai makanannya. Cukuplah ia tidur di manapun ia suka. Asalkan tak diganggu dan diuber-uber oleh manusia.

….

Manusia punya banyak nama sebutan dan panggilan. Untuk yang dihormati mereka ada memberi nama: Paduka, Yang Mulia, Yang Terhormat, Yang Dipertuan dan sebagainya. Ada yang bertujuan untuk menjilat, ada pula yang tulus mendoakan. Sebutan “almarhum” pun sebenarnya mendoakan bukan hanya untuk yang telah mati, agar ia termasuk yang dicintai oleh-Nya. Tapi tak akan kuusulkan agar kodok ini ditambahi panggilan ‘almarhum’. Nanti dikira ia sudah mati.

Kuusulkan nama “Al-Maghfurlah” saja. Kalau tak salah artinya yaitu semoga ia mendapat pengampunan dari-Nya. Kita tak tahu mengapa kodok ini hilir mudik di mushola. Adakah ia bermaksud baik? Namun, kiranya kita perlu selalu bersangka baik (husnudhon), bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada semua makhluk yang kita jumpa. Kalau kita bersangka baik, akan kita syukuri kalau sangkaan kita itu nyata. Kita mintakan ampunan saja baginya. Kalau ia datang sebagai ‘pengingat’, semoga kita menjadi ingat. Semoga kodok ini mendapat ampunan-Nya. Ya,…Al-Maghfurlah Kanjeng Kyai Kodok!

o0o


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

waduh panjaaaaang … hehe

Kang Nur:
ya, maaf bila kepanjangan; krn sesungguhnya awalnya tulisan ini saya buat utk tujuan saya pasang di majalah dindingnya adik2 remaja muslim

Komentar oleh mantan kyai




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: