The Nurdayat Foundation


Profil Pesantren Tebuireng Pada Tahun 1977 dan Sejarahnya (1)
Jumat, 21 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag: , ,

Kompleks Pesantren Tebuireng terletak di desa Cukir, kurang lebih 8 kilometer di sebelah tenggara kota Jombang. Selain letaknya berdekatan dengan sebuah pasar yang cukup ramai, pesantren ini juga berhadapan dengan Pabrik Gula Cukir yang didirikan pada tahun 1853. Pabrik ini pada masa kini (1977-peng.) merupakan pabrik gula yang besar dan termodern di kawasan Jawa Timur. Didirikannya Pesantren Tebuireng di dekat sebuah pabrik gula ini merupakan suatu fenomena yang sangat menarik. Di zaman Belanda, gula pasir merupakan penghasil devisa yang besar bagi Pemerintah Kolonial Belanda dan pada waktu itu merupakan sebuah simbol dari kemajuan teknologi Barat, dan secara langsung mempengaruhi tingkah laku dan polapikiran para santri Tebuireng.

Kelurahan Cukir (jumlah penduduknya kurang lebih 7.000 jiwa pada tahun 1977) terletak di sebuah jalan propinsi yang menghubungkan Kediri dan Jombang dengan Surabaya, Madiun dan Malang; bis dan colt melewati jalan ini setiap 5 menit. Ada beratus-ratus rumah yang bagus di desa ini dan kebanyakannya dilengkapi dengan pesawat TV, yang hampir semuanya dimiliki oleh para pegawai pabrik gula, kyai, pedagang dan petani kaya. Sekitar 10 keluarga memiliki mobil. Namun demikian, mayoritas penduduk bekerja sebagai petani kecil dan pedagang-pedagang kecil. Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa ciri Kelurahan Cukir ini sangat spesifik dan kontradiktif. Di satu pihak kelurahan ini merupakan sebuah kampung, tetapi di lain pihak sangat bersifat urban. Sektor elite dari penduduk merupakan petani dan pedagang miskin. Pesantren Tebuireng itu sendiri kelihatannya memainkan dua peranan utama yang kelihatannya saling bertentangan (paradoxical). Sementara mempertahankan pikiran-pikiran Islam yang tradisional, di lain pihak ia telah menyumbangkan watak urban dari desa Cukir.

Sejak berdirinya, pesantren Tebuireng telah begitu berpengaruh dalam kehidupan politik di Indonesia, baik padatingkatnasional maupun lokal. Pimpinan tertinggi Pesantren Tebuireng hampir selalu merupakan bagian dari elitenasional, baik dalam Kabinet maupun dalam Parlemen.<!–[if !supportFootnotes]–>[i]<!–[endif]–> Para santri sebanyak 3.219 yang tinggal dalam tiga kompleks pesantren (Pesantren Tebuireng, Seblak dan Cukir) telah mengambil bagian dalam kehidupan sektorpasar. Para santri ini membelanjakan uang kira-kira sebanyak Rp 750.000,- sehari di pasar untuk keperluan makanan dan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Dari kenyataan inilah saya menyimpulkan, bahwa walaupun para kyai dan santri dari sudut latarbelakang mereka termasuk orang pedesaan, namun demikian mereka sangat terbiasa dan responsif terhadap kulturmetropolitan.

Saya (Zamakhsyari Dhofier-peng.) menyaksikan seorang ustad (guru) yang tinggal di sebuah kamar pondok di samping ruang pengimaman, memutar kaset-kaset ABBA dan The Beatles; padahal ustad tersebut seorang yang hafal Al-qur’an dan menjadi salah seorang khatib di masjid Tebuireng. Sejak meninggalnya Hadratus-Syaikh K.H. Hasyim asyhari (pendiri Pesantren Tebuireng) pada tahun 1947, kompleks ini merupakan wakaf. Status wakaf ini diikrarkan oleh Hadratus sebelum beliau meninggal. Ini berarti bahwa sejak waktu pengikraran tersebut, kompleks Pesantren Tebuireng telah menjadi milik Tuhan dan harus dipakai semata-mata untuk tujuan-tujuan keagamaan. Sebagai suatu badan wakaf, Pesantren Tebuireng kini memiliki 16 hektar tanah yang terdiri dari tiga blok yang terpisah.

Kompleks pesantren berada di atas sebuah blok yang seluas kurang lebih 2 hektar; blok kedua dipakai sebagai lapangan olah raga, di mana para santri bermain sepak bola dan bola volley. Blok yang ketiga berwujud persawahan; luasnya kurang lebih 9 hektar dan terletak kurang lebih 9 kilometer di sebelah tenggara kompleks pesantren. Blok ketiga ini merupakan sumber pembiayaan pesantren yang terpenting. Blok pertama dan ketiga disumbangkan (diwakafkan) oleh Hadratus Syaikh, sedangkan blok kedua dibeli oleh Pesantren pada tahun 1974.

Sekeliling kompleks Pesantren Tebuireng dipagari dengan tembok setinggi dua meter. Bagi para santri dan tamu yang ingin keluar dan masuk kompleks disediakan 2 pintu gerbang yang berada di sebelah depan dan sebelah kiri bagian belakang. Di sebelah kiri depan terdapat pula pintu khusus untuk Direktur dan keluarganya. Pintu gerbang para santri terbuka antara pukul 4.30 pagi sampai dengan pukul 8.00 malam. Mereka yang ingin keluar masuk di luar jam tersebut harus memperoleh izin dari penjaga pintu di depan. Penjaga malam ada sebanyak 10 orang santri yang diatur secara bergiliran.

Seluruh kompleks pesantren terdiri dari 4 unit gedung-gedung: 1. mesjid yang terletak di tengah-tengah kompleks, 2. rumah Direktur pesantren, 3. 15 unit pondok, dan 4. gedung-gedung sekolah dan universitas.

Kompleks pesantren ini mempunyai generator untuk penerangan listrik dan penyediaan air.

Kompleks pesantren ini masih belum cukup besar untuk menampung seluruh kegiatan pendidikan dan fasilitas akomodasi bagi para santri. Mesjidnya hanya mampu menampung sebanyak kurang lebih 900 orang jamaah, yang berarti bahwa tidak semua 1.350 santri mukim dapat mengikuti sembahyang berjamaah lima waktu. Gedung universitasnya baru mampu menyediakan ruang-ruang kuliah bagi kurang lebih 50 persen mahasiswanya. Para mahasiswa Fakultas Pendidikan Agama (Tarbiyah) mengikuti kuliah-kuliah di Pesantren Denanyar, sedangkan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Dakwah mengikuti kuliah di kota Jombang. Lima belas unit pondok yang ada, hanya memiliki kurang lebih 150 kamar, sehingga kamar-kamar pondok yang masing-masing berukuran kira-kira 2 x 2 meter harus menampung 9 orang santri.

…. (bersambung)

dikutip dari karya Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai; terbitan LP3ES, Jakarta 1982; cetakan keenam 1994. hal. 100 – dst. Yang tercakup dalam Bab IV: Profil Pesantren di Abad XX.

Lihat dari Situs Resmi Pondok Pesantren Tebuireng

<!–[if !supportFootnotes]–>[i]<!–[endif]–> Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asyhari, pendiri pesantren, adalah pimpinan tertinggi NU antara tahun 1926-1947,pimpinan tertinggi M.I.A.I. tahun 1937-1942, dan pimpinan Masyumi tahun 1943-1947. Ia juga ditunjuk sebagai Kepala kantor Urusan Agama oleh Pemerintah Pendudukan Jepang di Jakarta tahun 1944-1945. Anaknya, Kyai Wahid Hasyim, merupakan seorang tokoh nasional yang turut menyusun naskah pembukaan UUD 45. Yusuf Hasyim, Direktur Pesantren Tebuireng (197..-) adalah seorang anggota DPR Pusat.


6 Komentar so far
Tinggalkan komentar

insya Allah,jika tidak ada halangan kami akan membuat penelitian kami di pesantren tebu ireng,kami mahasiswa S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya.matur suwun,ngapunten.

Komentar oleh H.Abdul Muid,S.Ag,M.PdI

Pesanten tebuireng adalah salah satu pesantren yang tua di jawa timur,ia adalah salah satu warisan peradaban ummat islam yang harus mendapatkan pemeliharaan pemerintah.Karena dari situlah lahir para pahlawan nasional,yang terhormat dan berjasa pada agama,nusa dan bangsa.

Komentar oleh H.Abdul Muid,S.Ag,M.PdI

pesantren tebu ireng harus dipelihara keberadaannya moga-moga zduriyahnya bisa meneruskan perjuangan hadratussceh Hasyim Asa’ari pengurus mohon diadakan pengajaran Al-qur’an ( penghafal Alqur’an ) agar fungsinya sebagai benteng pertahanan peradapan Islam tetap kuat.

Komentar oleh Fatkhur Rakhman Drs

yes i like it.

Komentar oleh molet

Yes.. I like it, pengen ke sini

Komentar oleh izza izzatutt

tebu ireng ilike it

Komentar oleh nurul putriyah




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: