The Nurdayat Foundation


Keistimewaan Yogyakarta: Berpura-pura Bodoh atau Memang Bodoh ?
Minggu, 23 Maret 2008, 6:00 pm
Filed under: Yogyakarta | Tag: ,

Lihat dulu ini.

(pendapat mandiri seorang penulis-pengamat budaya Jawa dari Yogyakarta atas isu pemilihan-penetapan calon Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan dilema posisi kawulo Ngayogyakarta juga Ngarso dalem Sri Sultan sendiri untuk mengambil sikap dan menempatkan diri di dalam wacana tersebut)

oleh: Rudatan

dimuat aslinya dalam bahasa Jawa berjudul Mbodhoni Apa Pancen Bodho
dalam majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang, edisi no. 43 tahun XXXVII; Sabtu Wage, 22 Maret 2008

Moderator mengutip tulisan Rudatan ini justru karena tulisan ini termasuk pendapat yang “cukup berani” dan “lain daripada yang lain” di antara pendapat warga Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri. Istimewanya, tulisan ini dimuat di majalah berbahasa Jawa yang biasa dibaca oleh rakyat ‘kawulo Ngayogyakarta’ di pedesaan; yang mampu menjadi “opinion leader” bagi masyarakat pedesaan di Yogyakarta itu. Menurut moderator, tulisan Rudatan ini memang termasuk yang istimewa, justru karena penyederhanaan dalam analisa yang dipakainya.

Ngerso Dalem Sultan Hamengku Buwono X sudah jelas dan terang bersabda tidak mau dipilih sebagai Gubernur DIY, tetapi anehnya kok masih ada orang atau kelompok dan sejumlah parpol yang ingin mencalonkannya sebagai gubernur. Yang berdemo tidak kurang, yang sowan menghadap juga ada, apalagi warga DIY malah ada yang terus saja mendesak dan memohon kepada Ngarso Dalem agar mau dipilih sebagai gubernur DIY.

Sesungguhnya, mengenai ketidakmauan Ngarso Dalem untuk dipilih sebagai gubernur tersebut sudah merupakan hal yang sangat jelas. Bila ada yang membahas apalagi terus mendesak, sama saja dengan ‘meremehkan’ Ngarso Dalem Sri Sultan HB X. Pikir saja. Bila saja nanti Sri Sultan sampai mau berkenan lalu mengajukan diri sebagai calon Gubernur atau dipilih, berarti sabda Ngarso Dalem yang lalu menjadi batal. Atau dapat disebut plin-plan. Padahal Sabda Pandhita Ratu datan kena wola-wali. Bila sudah plin-plan demikian maka Ngarso Dalem kehilangan nilainya, kehilangan kharisma bahkan tidak dapat dipercaya lagi sebagai panutan. Apakah demikian, warga Yogya, warga DIY memiliki maksud demikian? Menjerumuskan NgarsoDalem? Masak, begitu … tega..?

Sesungguhnya warga Yogya memiliki simpanan ”masalah” yang jauh lebih penting untuk diselesaikan daripada berebut tentang hal pencalonanNgarso dalem menjadi gubernur. Yaitu hal mengenai RUUK (Rencana Undang-Undang Keistimewaan) DIY yang hingga kini masih terkatung-katung. Itu lebih perlu diusahakan, diperjuangkan.

Ngarso dalem Sultan Hamengku Buwono X memegang Jabatan Gubernur DIY mulai tahun 2003 dan akan habis tahun 2008 bersamaan dengan Sri Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur. Namun ramai-ramai tarik-ulur antara yang setuju gubernur DIY itu dipilih atau ditetapkan, itulah yang belum selesai.

Hingga sekarang tentang hal gubernur DIY dipilih atau ditetapkan itu masih menjadi pembahasan yang ramai di lingkungan DPRD DIY. Pihak yang setuju gubernur ditetapkan dari lingkungan Kraton Yogyakarta dan Kraton Pakualaman, artinya tidak melewati pemilihan menganggap DIY adalah daerah istimewa, hingga tidak ada alasan untuk menolak hal tersebut. Namun kenyataannya ada juga pihak-pihak yang menghendaki agar gubernur tersebut memang harus dipilih agar tercipta suasana yang demokratis. Apalagi warga DIY juga memiliki hak untuk dipilih, bukan hanya dari lingkungan kraton. Demikianlah alasannya.

Sebagaimana yang dulu sudah pernah terjadi, sekarang saja sudah ada pihak-pihak yang akan mencalonkan Ngarso dalem menjadi calon presiden. Yang demikian itu bila dipikir panjang dan bila nanti sampai Ngarso dalem menyanggupi untuk menjadi capres, bila kalah di dalam pemilihan, pastilah kharisma dan kewibawaan Ngarso dalem akan menjadi surut-suram. Bayangkan saja. Jago yang kalah. Bagi orang lain, Jussuf Kalla misalkan kalah dalam mencalonkan diri sebagai presiden, ya tidak apa-apa. Tidak ada resiko besar dalam hal kepatutannya. Namun bila Ngarso dalem? Tentu berbeda. Bagaimana perasaan batin warga DIY nanti?

Maka posisi kedudukan yang paling cocok (bagi Ngarso Dalem Sri Sultan-pent.) sesungguhnya ya Gubernur DIY itulah. Namun berhubung sudah tidak menyanggupi, berarti ya sudah. Tamat. Harus diterima dengan legowo (ikhlas-pent.). Terbawa dari hal itu saja sudah ada beberapa perkara yang muncul. Yang menjadi pembicaraan di lingkungan PemDa Propinsi DIY waktu sekarang ini adalah mengenai adanya gelagat majunya Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dilamar oleh sejumlah parpol. Memang benar hingga saat sekarang ini di beberapa daerah telah ada yang menyatakan akan mendukung Ngarso Dalem bila maju mencalonkan diri sebagai presiden. Namun tentang hal kelak akankah menang ataukah tidak, itu tergantung keadaan nanti. Tidak ada yang mengetahuinya. Namun sudah jelas pembahasan dan pembicaraan siapa kelak yang akan menduduki jabatan sebagai gubernur bila Sultan tidak bersedia, sudah jelas. Tentu orang lain. Ada yang menyebut bahwa ya Wakil Gubernur Paku Alam IX-lah yang tentunya akan maju menjalankan tugas untuk mengurusi segala tugas sebagai gubernur. Namun dari golongan lain juga terdengar, tidak akan terjadi masalah. Seperti saat Paku Alam VIII dulu, menjabat sebagai Wakil Kepala Daerah DIY.

Pembahasan sudah jelas. Ngarso Dalem tidak bersedia dipilih lagi. Maka bila masih ada yang menghendaki, mendesak dan memaksa Ngarso Dalem agar bersedia menjadi gubernur, sebenarnya orang tersebut berpura-pura bodoh atau memang bodoh?

Bagaimana jawabannya? Entah!*

-o0o-

Lihat pula Tajuk Rencana di harian Kedaulatan Rakyat ini.
Kembali


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Ini adalah komentar Rudatan pada satu babak dalam lakon “Keistimewaan Yogyakarta 2008” ini yang ditulis sebelum Ngerso Dalem pada satu kesempatan berikutnya lalu menyatakan bahwa: KETIDAKMAUANNYA UNTUK DIPILIH SEBAGAI GUBERNUR KEMBALI ITU ADALAH SATU MANUVER POLITIK.

Komentar oleh Kang Nur

oalaaah kang, segala silang sengketa soal ke-Istimewa-an Ngayogyokarto Hadiningrat itu khan tak dapat dipisahkan dari perjuangan hak privileges-nya bagi para pemangku tahta di Kasultanan Yogyakarta & di Kadipaten Pakualaman dalam kaitannya pemerintahan swapraja dengan jabatan Kepala Daerah bagi wilayah kekuasaan tradisionalnya (sekarang jabatan itu disebut sebagai Gubernur & Wagubnya).
Dari sononya memang sudah begitu, tak berubah dari generasi ke generasi berikutnya. Justru akan merupakan kegagalan bagi pemangku tahtanya apabila di masanya hal itu menjadi berkurang ‘kadar karat’-nya atau bahkan menjadi hilang.
Ngarso Dalem Kanjeng Sultan HB IX & Sri Paduka PA VIII juga begitu kok. Ya sangat wajar tho kalau seseorang yg duduk di dampar kencono sebagai Raja itu tugas utamanya adalah memperjuangkan eksistensi Kerajaannya & kelanggengan kekuasaan tahtanya ?.
Malah lucu kalau tidak begitu.

Jadi ?, sebenarnya poro kawulo itulah yg sedang ‘guyonan’ dengan mendesak & memaksa sesuatu yg memang dimaui & dihendaki oleh yg didesak. Lha apa itu bukan guyonan namanya ?, bener tho ?.

Cuma yg perlu jadi catatan kecil itu,
mengambil ibroh dari prinsip model perjuangannya Sri Sultan HB IX itu adalah beliau sebagai Raja melakukan berbagai manuver ‘politik tingkat tinggi’ yg cerdik untuk memperjuangkan kelanggengan keistimewaan swapraja bagi kerajaan & kekhususan posisi bagi tahtanya, kemudian dengan keistimewaan itu beliau wujudkan kedalam program pensejahteraan para kawulo di tlatahnya.
Bukan modelnya poro kawulonya rame-rame ber-‘politik praktis’ dalam bentuk mobilisasi massa untuk kepentingan memperjuangkan kelanggengan keistimewaan swapraja & kekhususan posisi bagi kerajaan & pemegang tahtanya.
Maka oleh sebab itulah, Sri Sultan HB IX tidak dicatat di sejarah sebagai Raja yg berprinsip Rakyat-(nya) untuk Tahta-(nya), namun lembaran sejarah mencatatnya dg tinta emas sebagai Raja yg berprinsip Tahta-(nya) untuk Rakyat-(nya).
Mungkin begitu ya kang ?.

Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Ulasan mas Salikh mBeling banyak benarnya saya kira, karena memang masuk akal.🙂
Tapi kita perlu mengemukakan bukti2, bukan prasangka2 semata.🙂

Komentar oleh Salikh mBeling




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: