The Nurdayat Foundation


Sejarah Yogyakarta
Minggu, 23 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: Sejarah, Yogyakarta | Tag: ,

Sejak VOC datang di Jawa, telah puluhan kali mereka membuat kontrak perjanjian dengan Kerajaan Mataram. Asal-mula perjanjian itu hanya memuat pasal-pasal mengenai perdagangan, sama sekali tak menyentuh lapangan politik sesuai dengan tujuan semula dari VOC. Tetapi lama-kelamaan dengan adanya kelemahan di pihak kerajaan, terutama dalam masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono II dan selalu ada pejabat-pejabat Keraton yang jiwanya “mudah dibeli”, masuklah unsur-unsur politik yang membuat VOC makin lama makin berkuasa.

Dalam masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono II, yang suatu waktu terus-menerus terjadi perang saudara, tercatat sebagai “pemberontaknya” adalah BPH Mangkubumi. Sesungguhnya pangeran ini berusaha melawan VOC yang makin lama makin menekan para raja.

Di Keraton Surakarta, Susuhunan Paku Buwono II dalam keadaan sakit parah berhasil dipaksa oleh VOC untuk menandatangani perjanjian yang pada pokoknya merupakan “penyerahan Negara Mataram seluruhnya kepada VOC hanya dengan syarat bahwa keturunan Baginda yang memang berhak naik tahta kerajaan menurut garis turun temurun akan dinobatkan menjadi raja di Mataram dan kepadanya akan diberikan pinjaman Negara Mataram oleh VOC.” Dengan terlaksananya perjanjian seperti itu, sesungguhnya tamatlah sudah riwayat Kerajaan Matarm, dan meskipun kemudian masih disebut-sebut pada hakekatnya itu adalah tinggal nama saja. Secara de facto dan de jure sejak itu sesungguhnya Mataram adalah hak VOC.

Ketika berita akan diserahkannya Mataram kepada VOC sampai di telinga Pangeran Mangkubumi, makin menyalalah amarahnya dan ia berniat membebaskan negerinya dari cengkeraman VOC. Kehendak ini belum berhasil dilaksanakan ketika Susuhunan Paku Buwono II menyatakan diri turun tahta, dengan maksud mbegawan dan seterusnya memakai gelar Kyahi Ageng Mataram.

Pada waktu Paku Buwono II telah turun tahta dan belum diangkat Sunan berikutnya, Kerajaan Mataram dalam keadaan vakum. Kemudian para pengikut Pangeran Mangkubumi mengangkatnya sebagai Raja Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwono juga. Tetapi karena penobatan yang berlangsung pada 11 Desember 1749 itu bertempat di desa Kebanaran, maka untuk selanjutnya Pangeran Mangkubumi lebih dikenal dengan sebutan Susuhunan Kebanaran. Walaupun kemudian VOC mengangkat Paku Buwono III dengan akibat timbulnya ketegangan antara dua pihak, VOC itu pula yang mengusulkan untuk “menghentikan perang saudara” dan mengikat sebuah perjanjian.

Usul ini kemudian melahirkan Perjanjian Giyanti, ditandatangani pada pada 13 Februari 1755. Sebuah perjanjian yang pada pokoknya “membelah nagari” atau membelah Negara Mataram menjadi dua bagian. Separuh diperintah oleh Susuhunan Paku Buwono III dengan ibukota Surakarta, bagian yang lain dikuasai oleh Susuhunan Kebanaran yang sejak itu berganti gelarnya menjadi Sultan Hamengku Buwono I, dengan ibukota Ngayogyakarta.

Sampai di sini perlu dicatat untuk kesekian kalinya betapa hebatnya peranan yang dipegang oleh para gubernur dalam pemerintahan penjajahan Belanda selama ratusan tahun yang silam. Betapa pandainya pimpinan VOC dan para pimpinan pemerintahan Belanda itu mendalangi perang saudara antara para raja dengan cara menyebarkan benih perpecahan secara terus-menerus. Apabila pada jaman Paku Buwono II Gubernur Van Hohendorff menyukai cara agak keras, Gubernur Hartingh yang mendalangi Perjanjian Giyanti selalu mengambil jalan sebagai “juru selamat” atau “duta pendamai”, mainnya halus tetapi penuh kelicikan untuk kepentingan VOC.

Cara Hartingh membagi Negara Mataram antara dua orang raja yang masih ada hubungan keluarga ini juga merupakan bukti betapa pandai ia melepaskan umpan, dengan tujuan utama agar selalu saja ada benih pertengkaran, agar antara kedua raja jangan sampai tercapai kerukunan. Misalnya ada daerah-daerah yang dimasukkan sebagai wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi letaknya terselip di tengah-tengah daerah Surakarta, atau sebaliknya. Tentunya hal seperti itu dalam jalannya pemerintahan sering mempertajam hubungan, dan pada waktu demikian gubernur Belandalah yang akan tampil sebagai pendamai, namun selalu dengan mendapat keuntungan bagi mereka sendiri.

-o0o-

dikutip dari sumber: buku Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, dari sebuah bab-nya tulisan Kustiniyati Muchtar Pak Sultan dari Masa ke Masa; terbitan Gramedia Jakarta 1982, h.117-120.


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Sejak kapan Pak Meister Soeltan ini ngasih tahta untuk rakyat mas? Wong rakyat Yogya adalah rakyat salah satu daerah yang paling semaput ekonominya di Jawa. Piye ?

Kang Nur:
Pertanyaan Anda mas Prio Utomo ini akan dijawab oleh Anda sendiri mas Salikh Mbeling berikut ini di bawah ini:😆

Komentar oleh Prio Utomo

Mas Prio, penisbatan ‘Tahta untuk Rakyat’ bagi Sultan HB IX itu (menurut subyektifitas saya lho) lebih cocok dikatakan sebagai disebabkan oleh kebijakan Sinuwun dalam mempergunakan ‘Tahta’-nya untuk melindungi ‘Rakyat’-nya. Sebagian contoh di antaranya ialah :

1. Sewaktu zaman mulai masuknya bala tentara Dai Nippon ke tanah Jawa, mempermaklumatkan Jogja sebagai ‘daerah terbuka’ dlm arti tidak dipertahankan secara militer oleh tentara Hindia Belanda, sehingga ndak di-bom oleh montor maburnya Dai Nippon. Masyarakatnya ayem tentrem ndak terganggu hiruk pikuk gelanggang colong playunya tentara Hindia Belanda (juga KNIL ?) yg gemetaran dikejar pasukannya Tenno Heika.

2. Sewaktu zaman pendudukan Jepang, beliau meluncurkan proyek ‘Selokan Mataram’ sehingga Rakyat-nya terbebas dari kewajiban menjadi Romusha. Dampak lainnya itu juga berarti membangun jaringan irigasi teknis yg mendukung program ‘intensifikasi’ pertanian.

3. Memberikan pinjam pakai tanah Bulak Sumur untuk kampus UGM, yg mana kebijakan itu merupakan pondasi berkembangnya Jogja sbg ‘Kota Pelajar’, shg berdampak nyata banjirnya pelajar/mahasiswa perantau yg membawa ‘Devisa dari Luar Daerah Yogya’ secara kontinu setiap bulannya, di mana itu menjadi pilar terpenting penopang ‘perekonomian’ kota Jogja, dengan dampak penyebaran manfaatnya yg merata ke semua strata masyarakatnya.

4. Memberikan pinjam pakai (BOT) tanah Ambarukmo untuk pembangunan Hotel Ambarukmo (dibangun pemerintah pusat dg dana pampasan perang) yg mana kebijakan itu merupakan pondasi berkembangnya Jogja sbg ‘Kota Pariwisata’, shg dampak selanjutnya Jogja menjadi DTW ke-2 stlh Bali. Imbas lanjutannya menggairahkan industri Budaya & memajukan industri Seni Kerajinan di kalangan rakyatnya.

5. Dan lain-lainnya.

Lha kalau mas Prio mengatakan bahwa ‘rakyat Yogya adalah rakyat salah satu daerah yang paling semaput ekonominya di Jawa’ itu berdasarkan data darimana ?. Memang sih, kalau dari data BPS, akhir-akhir ini Jogja merupakan salah satu ‘Daerah Tertinggi tingkat Inflasi-nya’ serta salah satu ‘Daerah Terendah tingkat UMR-nya’. Ironis ya ?, jika memang betul inflasi tinggi sedang UMR rendah, ya sangat bisa jadi akan membuat semaput rakyatnya.

Terlepas dari urusan semaput atau nggliyer atau semrepet, yg jelas strategi pemprov pd hari ini terlihat memang justru tak lagi selaras dg Jogja sbg Kota Pelajar & Pariwisata & Budaya juga pertanian yg padat karya. Justru terlihat menggemari industri Mal/Plaza juga industri Pertambangan yg padat kapital.

Ya bisa jadi memang benar, bahwa nantinya tak tertutup kemungkinan para Pelancong Turis dari Mancanegara itu akan semaput karena kecapean berwisata ‘menikmati’ jalan-jalan di Mal-Mal serta Plaza yg bertebaran di segenap sudut kotanya.

Komentar oleh Salikh mBeling

Hi there, I do think your site could be having web browser compatibility issues.
When I look at your website in Safari, it looks fine but when opening in Internet
Explorer, it’s got some overlapping issues. I merely wanted to provide you with a quick heads up! Aside from that, excellent site!

Komentar oleh Http://Www.Tiedribbon.Com




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: