The Nurdayat Foundation


Kolomku: Kisah Dua Anak Lelaki
Selasa, 25 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: Kolom | Tag: , ,

Catatan Hari Itu : Kamis, 24 Mei 2007

Kisah Dua Anak Lelaki

Hari ini aku bertemu dua anak manusia, mengikuti, mengamati, lalu terlintas di benakku; terdesir di hati niatan untuk sejenak merenungkan jalan hidup dua anak lelaki ini hingga saat ini. Satunya bernama Siswanto, usia 32 menjelang 33 tahun, ayah dari dua orang anak. Aku bertemu dengannya di depan gedung DPRD Kabupaten siang tadi saat aku ingin menyaksikan jalannya unjuk rasa yang berkaitan dengan nasibnya. Lalu yang satunya lagi adalah Candra, anak tetanggaku lain RT, usia sekitar 9 tahun. Aku duduk berhadapan dengannya di masjid sore ini saat aku mengajarinya membaca alif ba’ ta’ membaca huruf Al-Qur’an.

Ada persamaan di antara dua anak lelaki manusia ini, di samping tentu ada lebih banyak lagi perbedaan di antara keduanya. Persamaan utamanya yaitu keduanya adalah bukan anak orang berada, atau lebih tepatnya anak dari orang tidak berada atau orang biasa saja. Tentulah boleh aku bilang begitu, bukan untuk membeda-bedakan; karena toh aku hanya ikut-ikutan apa yang orang bilang. … Sedangkan tentang ayah Candra, yaitu Katiman, kutahu ia semenjak kecilku; karena aku dan dia tinggal dan dibesarkan di kampung yang sama, kampung yang kutinggali hingga saat ini.

Saat itu aku tengah mengajar Iqro’ si Luqman, 8 tahun, anak dari mas Saroji, tetanggaku juga. Kunilai si Luqman termasuk yang paling pintar dan rajin mengaji di antara 30-an anak tetangga di lingkunganku yang sering kuajar mengaji dengan beberapa orang teman. Saat ini ia duduk di bangku kelas 2 SD, namun mengajinya sudah sampai ke Iqro’ jilid 6. Ini sudah termasuk yang paling cepat di antara anak-anak yang kuajar mengaji. Ia juga pandai dan bagus melantunkan adzan. Saroji, ayahnya, dulu pernah beberapa tahun bekerja di Serang; dan menurut ceritanya sendiri kusimpulkan bahwa selama kerjanya sebagai karyawan pabrik di wilayah Banten itu, ia juga memanfaatkannya untuk banyak menimba ilmu agama dari lingkungan itu. Melihat sikap dan pemahaman beragama ayahnya yang cukup itu, tentulah tak mengherankan kalau Luqman si anak dapat mewarisinya. …Namun, aku bukan mau bercerita tentang Luqman, di sini aku mau bercerita tentang Candra.

Candra telah lama tidak bersekolah lagi. Sehari-harinya ia bermain-main saja di kebun-kebun, di pekarangan-pekarangan tetangga, di sawah, di antara kolam-kolam ikan, di tegalan jambu dekat tempat gedung sekolah anak-anak tetangga sebayanya. Adakalanya juga ia ikut ayahnya menebang bambu, bahan yang akan dipakai ayahnya untuk membuat gedheg. Atau saat musim buah ia lebih banyak ikut ayahnya meng-undhuh (memetik) buah-buahan, entah itu rambutan, duku, manggis; yang cukup banyak tumbuh ditanam oleh orang-orang di lingkungan tempat tinggalku yang masih cukup lahan. Sebagaimana ayahnya ia sangat pandai memanjat pohon, bahkan jauh lebih pandai. Ia sangat terampil memanjat, berayun-ayun dari dahan ke dahan, mirip seekor monyet. Wajahnya tidak terlalu mirip monyet, namun tungkai lengan tangan dan kakinya kulihat seperti tidak biasa, bukan seperti sebagaimana yang dimiliki anak-anak lain, seperti lebih lengket ketika sudah menempel di dahan pohon. Namun mungkin itu cuma kesan penglihatanku saja, mungkin karena tungkai-tungkainya itu begitu kurus, bahkan jemarinya seperti akan kelihatan bagai lekatan tulang-tulang kecil. Matanya besar di kepalanya yang juga besar ditumbuhi rambut yang tegak-tegak berdiri kemerahan dipotong pendek. Telinganya lebar caplang. Hidungnya kecil pesek sering kelihatan beringus. Namun matanya bening, putihnya kelihatan begitu putih, hitamnya kelihatan begitu hitam. Hampir tak pernah matanya terlihat merah, mungkin ia jarang menangis. Aku belum pernah menjumpainya menangis. Kata buLik-ku dan tetangga-tetangga lain, anak ini memang hampir tidak pernah menangis. Saat ia terjatuh, terpeleset, terantuk batu, terbentur, tersayat sesuatu yang tajam, atau mengalami kecelakaan-kecelakaan kecil lainnya; ia tidak pernah menangis. Hanya matanya itu saja berlinang-linang, menambah kebeningan matanya. Wajahnya selalu terlihat manis ramah, bibirnya selalu tampak menyunggingkan senyum, yaitu ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas. Bulu matanya panjang, gigi-giginya besar. Keseluruhannya tampak bagai boneka unik yang lucu sekaligus mengerikan. Saat senyumnya menyeringai, dan bolamata bening berbulu mata lebat itu mengerjap-ngerjap, pandangan orang yang menatapnya akan tercekat dan berdirilah bulu roma. Ia mirip alien.

Simbok Candra telah cukup lama pergi meninggalkannya; bukan meninggal, namun berpisah dan meninggalkan Bapak-nya. Seingatku, simbok Candra itu agak terganggu jiwanya. Maka akhirnya si Candra tumbuh hanya dalam asuhan Bapak-nya yang juga sangat kurus itu. Di rumah kecil berdinding gedheg bambu itu, ia tinggal hanya dengan Bapak-nya. Di depan dan juga di dalam rumah itu sering terlihat gulungan-gulungan anyaman gedheg buatan Bapak-nya. Seingatku, semasa bujang pak Katiman ini pernah jualan es buah dengan gerobag dorong, namun aku tak tahu mengapa ia tidak melakukan pekerjaan itu lagi kini. Mungkin tidak laku karena terlalu banyak saingan. Kini banyak model jajan minuman anak-anak buatan pabrik.

Aku senang dan cukup terharu melihat Candra ikut-ikutan teman sebayanya bermain dan ikut ke masjid. Ini berarti dia ingin ikut pergaulan dan peradaban yang wajar. Pergaulan dan peradaban? Yang wajar? Ah, itu kata-kata orang dewasa yang terlalu canggih namun malah dapat bertafsir banyak. Kukira dan kunilai, gambaran yang lebih tepat adalah ia sekedar ingin ikut bermain-main dengan anak-anak sebayanya. Mungkin selama ini ia telah sering melihat anak-anak tetangga sebayanya beriring berangkat ke masjid Ia sekedar ingin tahu dan ingin ikut-ikutan. Kalau anak-anak itu berangkat ke sekolah tentulah ia lihat hampir selalu memakai pakaian seragam, maka ia akan melihat anak-anak yang berangkat mengaji ke masjid ini kebanyakan tidak berseragam. Mungkin ia ingin tahu dan ingin ikut-ikutan Seperti tadi itu, ia ikut bermain, lalu masuk masjid melihat anak sebayanya mengaji, sementara ia hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Namun, tampak sekali kelihatan bahwa ia mengagumi Luqman saat Luqman sedang membaca Iqro’. Baru kusadari kemudian, bahwa Candra ternyata dalam beberapa menit itu betapa ia terfokus perhatiannya menyaksikan Luqman mengaji. Dan saat kutoleh dan kutatap wajahnya, sekali lagi aku menyaksikan kedua bola matanya yang bening itu berlinang-linang Meskipun duduknya seperti dalam gelisah sambil menyaksikan, ia tidak beringsut pindah dari tempatnya di sudut bersandar tembok itu.

Hatiku serasa tersentuh melihatnya. Tak dapat kutebak, kutafsirkan dan kupahami dengan mudah apa kira-kira yang sedang bergolak dalam benak dan jiwa anak ini. Aku belum tahu. Aku sekedar sempat melihat saja. Lalu begitu Luqman selesai membaca halaman-halaman Iqro’ yang ia maksud, kupanggil si Candra itu. Kuajak dan kusuruh ia membaca. Ia spontan mengikuti, seakan ia memang sudah menunggu untuk itu. Lalu ia membaca halaman awal Iqro’jilid 1. Ternyata ia sudah hapal a, ba dan ta. Namun saat mulai membaca ternyata ia duduk seperti orang jongkok, maka kusuruh ia untuk membetulkan duduknya. Kusuruh ia bersila. Biar lebih nyaman, kataku. Ia membaca dengan ucapan jelas. Matanya itu terlihat lebih berlinang-linang.

… Setelah Candra selesai membaca, tampaknya tak ada lagi anak yang antri ingin kusimak membaca. Ada tiga teman pengajar lain memang, di samping itu anak-anak kelas 6 ada pula yang mengajari anak-anak yang lebih kecil. Waktu luang itu memberiku kesempatan sejenak merenung tentang si Candra tadi.

Aku berpikir lagi; sebenarnya siapa dan pihak manakah yang salah bila anak seusia dan seperti si Candra ini tidak bersekolah? Di jaman sekarang ini? Apa anak ini memang tidak mau sekolah? Aku meragukan itu setelah melihat sendiri betapa ia tampak berminat sekali ingin belajar membaca. Sebelum ini aku juga telah pernah mengajar Iqro’ dua orang anak yang juga tidak bersekolah. Mereka tidak melanjutkan sekolahnya di SD, namun sekedar ia telah bisa membaca aksara latin dan berhitung sederhana. Saat itu di benak dan hatiku pun muncul pertanyaan yang sama. Aku tidak menemukan jawabnya hingga kini. Aku membatasi pikirku agar tidak membuatku bingung. Paling tidak, aku sudah memberikan kontribusi bentuk pendidikan ala kadarnya kepada anak-anak ini. Aku tidak ingin menggugat sistem dan perilaku kepedulian masyarakat. Dan tentu saja, aku tidak akan menyalahkan orangtuanya. Aku anggap saja bahwa anak-anak ini memang agak terlantar, namun aku tak dapat membantunya lebih jauh.

Melihat wajah Candra, aku juga seperti melihat bayangan wajah Siswanto. Siswanto juga adalah anak terlantar dalam sistem ini. Entah ia akan marah atau menerima bila kukatakan pandanganku ini kepadanya. Dua anak ini kurang mendapatkan cukup bimbingan dari sistem. Mereka terlantar dalam sistem. Kiranya, mereka telah menjadi anak sisa-sisa. Bila anak tumbuh seperti Candra ini tak memiliki kecerdasan melebihi Bapaknya, bukan mustahil saat dewasa nanti ia akan seperti Bapaknya yang kurus berjalan seperti sempoyongan dengan wajah pucat kuyu seperti kehabisan harapan itu. Namun bila ia memiliki kecerdasan yang lebih dari cukup, bukan mustahil pula mengingat masa kecilnya ini (bila ia mampu melampauinya), maka ia akan menjadi penentang-pemberontak terhadap sistem. Pemberontak yang akan terlihat mengerikan bagi orang yang menyaksikannya. Lalu kebanyakan orang yang tahu masa kecilnya akan menuduh bahwa pemberontakannya itu adalah balas dendamnya terhadap masa kecilnya. Ia akan dinilai sebagai pembenci kehidupan. Dan ia akan terus saja melanjutkan pemberontakannya, entah itu sampai kapan dan untuk apa. Aku belum tahu.

-o0o-

Kembali


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

byuhh… pnjang benerr mas nur, bisa dijadiin novel nih😀

Komentar oleh perempuan

setuju mba… jadiin novel aja mas…
he..he..he..
klik: http://simpanglima.wordpress.com/

Komentar oleh isdiyanto

Iya juga sih, padahal ini ‘cuma’ 1.386 kata lho. Soalnya tampilan halaman-nya juga sempit ya? … Tapi maklumi saja, orang namanya juga baru belajar; mau menceritakan dengan jelas harus memakai banyak kata. Belum bisa hemat kata. …
Ngomong2 komentari isinya juga, dong, please…

Komentar oleh Kang Nur

panjang bener mas.
maap, tolong spasinya di renggangkan ato jenis hurufnya diganti jadi lebih enak di baca😀

Komentar oleh eNPe




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: