The Nurdayat Foundation


Bali Road Map 2007
Rabu, 26 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: lingkungan | Tag: ,

Konvensi Kerangka Kerjasama Persatuan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCC) di Bali, Indonesia sudah selesai pertengahan Desember 2007 lalu. Konvensi yang disponsori PBB dan diikuti oleh 10.000 peserta, 330 NGO/LSM dan 185 negara ini diundur hingga hampir sehari semalam yaitu dari tanggal 3-14 Desember 2007 menjadi 3-15 Desember 2007. Diundurnya waktu konvensi ini karena masih kukuh sulitnya Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa menyepakati hasil konvensi. Hanya berkat kesabaran dan keuletan dalam jangka waktu 23 jam pemunduran penutupan akhirnya negara-negara Uni Eropa, China, dan Amerika Serikat (AS) sepakat terhadap Deklarasi Bali 2007 yang juga disebut Peta Jalan Bali (Bali Road Map) untuk menggantikan Protokol Tokyo yang berakhir waktunya tahun 2012.

Secara garis besar Bali Roadmap memuat delapan kesepakatan yaitu: 1. Respon penelitian ke-4 Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) bahwa keterlambatan pengurangan emisi CO2 (karbondioksida) menimbulkan perubahan iklim menjadi semakin buruk, 2. Mengakui bahwa tujuan yang utama adalah mengurangi emisi yang semakin banyak di seluruh dunia segenap penjuru, 3. Memutuskan pelaksanaan keputusan UNFCCC dengan konsisten, 4. Mengingatkan kewajiban negara-negara maju untuk melaksanakan kesepakatan perihal pengurangan (mitigasi) jumlah emisi, 5. Mengingatkan kesdiaan negara-negara berkembang (developing country) mengurangi emisi terkait pembangunan dengan didukung teknologi juga biaya, 6. Mengukuhkan kerja sama keselarasan dalam hal perubahan iklim, 7. Pengembangan teknologi untuk mendukung mitigasi dan adaptasi, dan 8. Mengukuhkan sumber-sumber dana serta investasi untuk mendukung pnerapan mitigasi atau adaptasi untuk mencangkok teknologi yang terkait dengan perubahan iklim.

Bila diamati seksama, antusiasme UNFCCC adalah terdorong oleh kekhawatiran karena akibat pemanasan global (global warming) yang menimbulkan sekian banyak ancaman. Dikarenakan banyaknya pabrik industri serta kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil (avtur gas, bensin, solar, minyak tanah, juga barubara), langit bumi terkepung oleh karbondioksida (CO2). Kondisi seperti ini menimbulkan Efek Rumah Kaca (ERK) yaitu munculnya kenaikan temperatur karena bumi terperangkap atau terkepung CO2. ERK terjadi karena panas matahari yang memancar ke bumi dan dipancarkan balik (dipantulkan) namun akan tertahan, tidak dapat menembus keluar atmosfer karena tebalnya CO2. Kondisi ini bagai diumpamakan berada dalam mobil dengan kaca tertutup rapat di bawah sorotan sinar terik matahari sehingga menimbulkan hawa gerah panas sekali.

Pemanasan global berakibat hebat terhadap alam seperti iklim menjadi berubah sehingga musim cuaca bergeser seperti hujan salah musim atau kemarau panjang; air laut memanas sehingga terjadi pasang karena es di kutub mencair, air laut bertambah sehingga daratan berkurang karena tenggelam, kota di pinggir laut atau pulau-pulau kecil tenggelam. Badai puting-beliung datang dan pergi sehingga menimbulkan banyak kerusakan. Perubahan iklim menimbulkan efek berantai seperti banjir dan kekurangan air (tawar/minum) sehingga banyak penduduk kekurangan pangan dan terancam banyak penyakit yang terdorong oleh perusakan alam lingkungan. Hutan ditebangi tanpa perhitungan (pembalakan liar), isi bumi dikeruk habis, laut diperas kekayaannya hingga tapis. Bila bumi semakin banyak orang, sumber pangan tidak mencukupi, lingkungan hidup rusak, hanya satu pengharapannya, … kiamat.

Mengingat gambaran kelabu kehidupan anak-cucu akibat pemanasan global tersebut maka pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2007 yang juga mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore meminta negara-negara maju termasuk AS menunjukkan tanggungjawabnya. Kritik keras dari Al Gore dan peserta konvensi serta kesabaran Indonesia membujuk delegasi negara-negara ”pembangkang” ternyata membuahkan hasil Peta Jalan Bali. Menurut rancangannya, perlu usaha serius mengurangi emisi CO2 antara 25-40 persen selambatnya tahun 2020. Untuk mempercepat aksi pencegahan menghebatnya pemanasan global pada tahun 2009 akan diselenggarakan konferensi di Denmark. Bersamaan dengan itu negara maju harus berani keluar uang untuk membantu negara miskin dalam hal mencukupi kebutuhan pangan dan alih teknologi. Hanya kemakmuran yang adil, tegaknya ketertiban, pemerintahan yang bersih, lingkungan alam yang terjaga, menjadi sarana penting bagi teraihnya kehidupan yang baik yang lestari untuk anak-cucu.

-o0o-


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: