The Nurdayat Foundation


Yogyakarta Mewarisi Jiwa Kejuangan Mataram
Kamis, 27 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: Yogyakarta | Tag: ,

Kerajaan Mataram kuno, berdiri tahun 732 M di Medang. Kota/desa Medang yang sebenarnya, hingga kini belum jelas di manakah tepat lokasinya (mungkin di sekitar wilayah Sleman barat daya?- penerj.). Sedangkan, rajanya adalah: Sanjaya, bergelar Rakai Mataram. Lebih dari 100 tahun, raja-raja dari wangsa Syailendra memegang kekuasaan Mataram yang subur-makmur, berkebudayaan tinggi sebagaimana yang tercermin dari peninggalan-peninggalan berupa candi Prambanan, Kalasan, Borobudur, Mendut dan lain-lainnya masih banyak.

Pada jaman Islam, muncul lagi kerajaan Mataram, didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586. Kita semua telah mengetahui darimana muasal didirikannya cikal-bakal kerajaan Mataram ini, yaitu dari Kotagede. Hingga jamannya Raden Mas Rangsang dinobatkan sebagai Sultan masih dalam usia 23 tahun, bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma, kraton/istana Mataram berpindah di Kerto, lalu pindah lagi di Pleret. Maka hingga sekarang orang-orang dan penduduk Yogyakarta merasa memiliki hak untuk mendapat sebutan sebagai “orang Mataram”. Hingga perkumpulan sepakbola pun, menggunakan nama Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM). Apalagi wilayah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini merupakan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memang asal-muasalnya adalah pecahan dari Mataram.

Bermusuhan dengan Kaum Penjajah

Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah dari th. 1613 – 1645) raja besar Mataram menguasai wilayah Jawa hingga beberapa taklukan di seberang. Namun saat itu maskapai dagang Belanda telah mulai datang, bahkan lalu mendirikan VOC tahun 1602, membangun benteng pertahanan di Batavia. Prajurit Mataram menyerbu ke Batavia berniat mengusir kekuasaan bangsa asing tersebut. Yang pertama pada tahun 1628, tidak dapat berhasil. Yang kedua pada tahun 1629 dengan kekuatan lebih besar. Meski demikian Mataram tetap kalah, karena diceritakan ada di antara prajurit Mataram itu yang “doyan roti, doyan keju”. Artinya ada di antara para prajurit Mataram tersebut, pasti ada yang ‘makan’ atau menerima bayaran bujukan dari Kompeni Belanda (sehingga berkhianat menceritakan rahasia kelemahan pasukannya sendiri –penerj.)

Perlawanan terhadap Kompeni Belanda tidak berhenti. Saat kraton Mataram telah pindah ke Kartasura jaman Sri Susuhunan Amangkurat II, Kanjeng Sunan memberikan suaka perlindungan kepada Untung Surapati yang menjadi buron Belanda. Untung adalah seorang budak belian dari Bali, namun akhirnya memberontak melawan Belanda di Batavia. Belanda melihat melihat bahwa Untung Surapati itu memang cakap dan dapat membahayakan, maka Batavia mengirim Kapten Tack bersama pasukannya untuk menangkap dan mengakhiri perlawanan Surapati. Namun di Mataram itu, Kapten Tack bersama prajuritnya semua kalah dan tewas. Untung Surapati akhirnya bergelar Pangeran Ario Wironegoro menguasai wilayah Pasuruan.

Mataram Kartosuro pada jaman Kanjeng Sunan Paku Buwono II muncul persengketaan antara Mataram dengan Kompeni. Mataram dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi (adik Sunan) beserta RM Said (putra Pangeran Mangkunegaran ?- penerj.) Dengan akal bulus kecerdikan Belanda, masalahnya dibelokkan: sehingga apa yang diperbuat oleh kedua bangsawan tersebut dianggap bermaksud melawan kekuasaan Sri Sunan. Apalagi setelah sepeninggal Sunan maka Sunan Pakubuwono III menggantikan kedudukan ayahnya, oleh Gubernur Jendral dipaksa menandatangani perjanjian kontrak; bahwasanya Mataram menjadi taklukan. Selanjutnya Belanda siap membela Sunan untuk mengalahkan Pangeran Mangkubumi.

Peperangan Mangkubumi tersebut terjadi hingga 11 tahun lamanya, semuanya menjadi lemah karena diadu-domba oleh penjajah. Setelah itu Belanda memprakarsai Perjanjian Giyanti yang berisi: Kerajaan Mataram dibagi dua (sigar semongko), sebelah timur melanjutkan pemerintahan Kanjeng Sunan Paku Buwono III dinamai Surakarta Hadiningrat, dan sebelah barat Ngayogyakarta Hadiningrat, diserahkan kepada Pangeran Mangkubuni yang selanjutnya bergelar Kanjeng Sultan Hamengku Buwono I. Nama Mataram menjadi hilang. Namun rakyat Yogyakarta merasa memiliki nama itu.

Kesultanan Yogyakarta Mewarisi Mataram

Kanjeng Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi dari Mataram Kartosuro), nyata menjadi lawan bagi kaum penjajah yang tangguh tidak bisa dianggap enteng. Gubernment (pemerintahan Penjajahan Hindia Belanda) mengakui pemerintahan Kesultanan tersebut. Hanya saja pemerintahan kolonial selalu mengawasi, serta sejak perjanjian Giyanti th.1755 ditetapkan bahwasanya siapa yang dinobatkan sebagai sultan diharuskan untuk menandatangani kontrak politik dengan pemerintah kolonial. Dengan demikian, Kesultanan, begitu juga Kasunanan, merupakan negara dan pemerintahan setengah jajahan, memiliki wewenang menjalankan otonomi, namun juga (dipaksa) mengakui kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda. Dalam menjalankan pemerintahan, meskipun yang melaksanakannya sepenuhnya adalah pemerintahan negeri/negara Yogyakarta, Gubernment menempatkan pejabat dari pemerintahan kolonial Belanda untuk mewakili Gubernur Jenderal Batavia di Yogyakarta, dengan sebutan minister. Lama-kelamaan sebutan itu berganti dengan sebutan Residen; sebagaimana demikian sebutan yang ada untuk pejabat Belanda yang membawahi wilayah Banyumas, Kedu, Madiun, Semarang, Pati, dan sebagainya.

Sepeninggal Sultan I, Sultan Hamengkubuwono II yang menggantikannya. Usianya masih muda, sehingga harus memiliki wali. Wali raja ketika itu yaitu kakaknya sendiri, Pangeran Notokusumo, yang sudah lebih dewasa, namun kebenciannya terhadap penjajah juga lebih tampak kelihatan. Belanda mencari cara. Sultan sendiri memang anti Belanda. Saat itu di kasultanan memang semakin banyak orang yang tidak suka dengan penjajah. Patih Danuredjo yang membantu penjajah, diberhentikan oleh Sultan. Daendels akhirnya bertindak keras setelah ada alasan untuk memadamkan pemberontakan di Jawa Tengah. Pangeran Notokusumo, dipenjara. Patih Danuredjo harus dikembalikan kepada kedudukannya. Sultan dijadikan Sultan Sepuh, sedang kedudukan raja digantikan oleh puta beliau, sebagai Sultan Hamengkubuwono III.

Kejadian diulangi lagi pada jaman Sri Sultan IV. Pemerintahan penjajah makin menindas. Saat itu Yogyakarta pecah lagi dengan berdirinya Praja Pakualaman yang diperintah oleh Adipati Paku Alam I, yaitu Pangeran Notokusumo. Sesungguhnya Pangeran Notokusumo anti penjajahan, namun karena kecerdikan penjajah, Sri Paku Alam dengan Sri Sultan dipisah, sebagaimana Sri Susuhunan di Surakarta juga dipisah dengan RM Said, menjadi Adipati Mangkunegara yang mendirikan pemerintahan sendiri: Praja Mangkunegaran. Dengan demikian Mataram telah pecah menjadi empat, yang selanjutnya dikenal dengan Praja Kejawen. Belanda menyebutnya: Vorstenlanden. Kesultanan Yogyakarta tidak hanya pecah. Selain ada Kadipaten Pakualaman yang berdiri sendiri, ada juga wilayah enclave (kanthong). Di Kotagede ada kecamatan yang diperintah oleh Kasunanan Surakarta. Begitu pula di Imogiri. Hal itu karena Kotagede dan Imogiri dianggap sebagai milik bersama Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan Ngawen, menjadi milik Mangkunegaran. Ini memang rekayasa dari penjajah untuk memperlemah Yogyakarta. Pada jaman Sri Sultan IV tersebut, Sultan wafat mendadak di gedung Kepatihan saat sedang menghadiri pesta. Rakyat Yogyakarta semua memiliki tuduhan bahwa itu adalah akibat perbuatan Belanda, menggunakan racun. Selanjutnya Sultan V yang menggantikan, padahal usianya baru 2 tahun. Kakandanya, yaitu Pangeran Diponegoro yang sebagai wali. Gubernment tentu saja tidak suka, karena segala sepak-terjang Belanda selalu diketahui oleh Pangeran Diponegoro yang memang benci kepada Belanda. Sehingga akhirnya pecahlah perang Diponegoro hingga 5 tahun lamanya, belum juga Pangeran Diponegoro dapat dikalahkan. Belanda kehilangan 8000 orang serdadu dan menghabiskan biaya 20 juta gulden. Pangeran Diponegoro dikelabui, diajak berunding berdamai namun selanjutnya ditangkap. Senapati (panglima) perang Dipanegaran, yaitu Sentot Prawirodirjo yang masih termasuk cucu keturunan Sri Sultan I yang usianya baru 16 tahun, dibujuk Belanda untuk diperlawankan perang melawan orang Aceh memadamkan perlawanan orang Aceh (Aceh atau kelanjutan Paderi di Sumatera Barat?-penerj.). Namun di sana, Sentot berbalik, malah membantu orang Aceh melawan Belanda. Belanda menjadi kewalahan.

Jurus Pamungkas dari Yogyakarta

Selama masa peperangan Diponegoro, kraton Yogyakarta pura-pura tidak mengetahui. Ini merupakan siasat. Demikianlah setelah Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh penjajah, Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kraton kesultanan, sebab tidak memiliki bukti yang dapat dijadikan alasan. Mereka hanya dapat senantiasa mencurigai.

Sultan Hamengkubuwono VII adalah seorang yang bijaksana. Saat itu kaum pergerakan telah mulai tumbuh. Sultan pun tanggap. Maka dari itu beliau menobatkan putranya yang masih muda dan dianggap lebih bisa menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Sedangkan Sultan HB VII lalu mengundurkan diri di kraton Ambarukmo.

Anehnya, setelah Sultan HB VIII dinobatkan, istri permaisurinya, tanpa sebab yang diketahui oleh para abdi dalem semua, mendadak ‘dipun kebonaken’ (‘dikebunkan’ = disuruh pisah ranjang?), keluar dari keraton. Sedangkan Gusti Darajatun, putra dari permaisuri yang menjadi putra mahkota, sejak usia 4 tahun harus keluar dari keraton, in de kost di rumah kepala sekolah Netral Belanda, tuan Mulder. Atas perintah Sultan, supaya Gusti Darajatun biasa prihatin, yang jelas, Sultan jelas memendam rasa tidak suka terhadap Belanda, dasar darah Mangkubumen (Sultan I). Sedangkan istri permaisuri Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom, semula RA Kustilah, sepertinya adalah masih darah Wironegaran (Untung Suropati). Maka dari pemikiran Sultan HB VII, ini semua perlu dirahasiakan, disamarkan, agar Belanda tidak terlalu menaruh kecurigaan yang berlebih. Meski demikian, di jaman Sultan HB VIII ini pula, petinggi residen Yogyakarta diganti menjadi Gubernur, yaitu Dr. Lucien Adam. Sejak itu di Jawa Tengah ada dua Gubernur, yaitu di Semarang dan di Yogyakarta. Tuan Mulder dengan ijin Sultan, menyekolahkan Gusti Darajatun ke Leiden Universiteit Nederland. Maksud Belanda, supaya calon Sultan ini dapat akrab dengan bangsa Belanda, malah di sana sudah ada gadis-gadis Belanda. Namun ketika mohon pamit untuk berangkat pergi belajar ke Belanda, Sultan HB VIII memberikan pesannya kepada Gusti Darajatun: Berangkatlah kamu, pelajarilah bangsa Belanda itu, karena di kelak kemudian hari kamu akan berhadap-hadapan dengan Belanda. Tahun 1940 Gusti Darajatun dinobatkan dalam tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono IX. Ketika akan menjelang penobatan, juga harus menandatangani kontrak politik dengan Gubernment, yang isinya memang membuat tidak suka, di antaranya menyebutkan bahwa Kesultanan tidak diberikan wewenang untuk memiliki serdadu prajurit perang. Yang ada hanyalah prajurit pengawal untuk upacara. Sedangkan Patih mendapatkan gaji dari Gubernment. Itu berarti bahwa Patih Danuredjo tetap menjadi antek Belanda. Maka setelah Perang Dunia II pecah, Jepang datang, Belanda pergi, Patih Danuredjo sudah tidak mendapat gaji lagi dari Gubernment, lalu dipensiun oleh Sultan. Sejak saat itulah ada raja tanpa Patih. Sultan HB IX memang berbekalkan pendidikan yang tinggi, memimpin pengelolaan pemerintahan sendiri di Kasultanan, setiap hari berkantor di Kepatihan. Pada jaman pendudukan Jepang tersebut, Kanjeng Gusti Paku Alam VIII yang memegang pemerintahan kadipaten yang membawahkan wilayah Adikarto (Kulonprogo), terpisah dari Kasultanan,mengadukan hal kepada Sultan (HB IX) bahwasanya terlihat tentara pendudukan Jepang tampak ingin mengadu domba. Ada menjelek-jelekkan Kasultanan, ada memuji-muji Pakualaman; atau sebaliknya. Maka dari niat Sri Paku Alam VIII, apabila disetujui Sri Sultan Hamengkubuwono IX,praja Pakualaman akan dikembalikan, digabungkan, kembali menjadi satu dengan Kasultanan. Ternyata Sultan tidak berkeberatan. Sejak itu Sri Paku Alam VIII berkantor menjadi satu di Kepatihan, melayani Sultan, memimpin pemerintahan Kasultanan. Gusti Paku Alam VIII mendapatkan tugas mengurusi bagian agraria, sejak tahun 1942.

Ketika (siaran) radio mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, mengumandangkan pidato Bung Karno, Sri Sultan HB IX dan Paduka Paku Alam VIII bersama di Kepatihan, dan seketika itu juga menetapkan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung menjadi satu dengan Republik Indonesia. Tekad menyatukan diri dengan RI tersebut segera disampaikan kepada Presiden Soekarno lewat telegram. Presiden Soekarno lalu memberitakan bahwa Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa di dalam Negara Kesatuan RI. Piagam untuk Sri Sultan dan Sri Paku Alam bertanggal 19 Agustus 1945 disampaikan lewat utusan Mr. Sartono. Sedangkan resmi menggunakan Undang-undang baru dapat dikeluarkan pada tahun 1950. Daerah Istimewa Yogyakarta terwujud dari Kasultanan Yogyakarta dengan Praja Pakualaman. Pemerintah Pusat (RI) bukan hanya sekedar menyambut bergabungnya Yogyakarta ke dalam RI, namun juga besar terimakasihnya terhadap rakyat Yogyakarta karena pengorbanannya terhadap RI. Sejak 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949 Yogyakarta menjadi ibukota RI dan menjadi pusat perjuangan melawan penjajah, hingga sampai tercapainya pengakuan kedaulatan.

-o0o-

(Judul asli: Penjajahan iku Satru Bebuyutane Mataram), terjemahan dari tulisan oleh: Drs. Sudomo Sunaryo, dimuat dalam bahasa Jawa di majalah Djaka Lodang edisi no. 12 th. XXXII Sabtu Kliwon, 17 Agustus 2002


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Tahun 732 M, Medang merupakan cikal bakal Mataram Kuno. Dicurigai/diperkirakan letaknya di Sleman arah Barat Daya. Ouph ….. itu Tanah Kelahiran Saya. Di Kecamatan Minggir, Kab. Sleman. Tapi di daerahku hanya sawah …. sawah …. dan sawah. Di Kecamatan tetangga: Moyudan, Godean, Seyegan, Tempel kondisinya hampir sama. Tak ada situs-situs sejarah atau prasasti atau tanda apa gitu. Tapi kalaupun benar, tentu Kita yang lahir di situ sangat bangga. Tapi kayaknya tidak masuk akal…. penasaran?

Kang Nur:
masak di kecamatan2 yg Mas Wahyu sebut itu tak ada situs2 peninggalan bersejarah? semacam batu2 candi gak ada? Padahal di Kecamatan Mlati yg saya tahu ada banyak lho…? batu2 candi, lingga-yoni dan semacamnya. ada yg disimpan di kecamatan, ada pula yg masih tersebar di dusun2. saya punya famili di sana.

Komentar oleh wahyu




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: