The Nurdayat Foundation


Dia, Pejuang Pemberani
Sabtu, 29 Maret 2008, 5:00 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag: , ,

Nurdayat, 14 Juni 2007

sebuah satire dakwah di desa pinggir kota

Entah darimana awalnya rasa permusuhanku ini. Seingatku, aku tak pernah memulai untuk memusuhi atau membencinya. Aku sekedar menjalankan apa yang aku yakini sebagai hal yang baik dan benar. Padahal aku juga tak pernah menganggap diriku ini sebagai telah baik dan benar. Kuanggap wajar bila kita sebagai manusia ingin berbuat baik dan benar. Kurasa aku juga tak pernah ingin menghakimi orang lain yang tidak berbuat seperti aku. Kurasa aku menyayangi semuanya sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya; di mana aku pun berkeinginan untuk mengenalnya, mengenal sikap, paham pemikirannya. Namun ia hanya menyatakan sikap dan paham pemikirannya itu bila aku tak ada. Tak pernah dengan sengaja ia bermaksud menemuiku untuk bertukar pikiran dan pandangan. Maka aku pun malas untuk mendatanginya, berkunjung bersilaturahmi kepadanya. Aku tidak merasa butuh dia. Aku merasa mampu untuk mencari kebenaranku dan kepuasan batinku sendiri tanpa pertolongannya.

Apakah dia itu beriman-beragama Islam atau tidak, aku tak tahu dan kini aku hampir tak mau peduli lagi. Kukira di kolom KTP-nya masih tercantum agama-nya = Islam. Namun, hampir dua puluh tahun aku menyaksikan berdirinya masjid ini dan turut berjamaah di dalamnya; aku baru melihatnya sekali saja bareng masuk masjid ini. Apa kau kira aku semestinya sering mendatanginya untuk menceramahinya agar mau sholat dan berjamaah ke masjid, di kala waktu senggang? Aku malas. Jangan-jangan aku malah diusirnya nanti. Dicaci-makinya. Kalaulah aku ajak-ajak sholat kepada orang-orang di desaku, tentulah tidak dari pintu ke pintu dan langsung dari orang ke orang. Salah-salah nanti aku malah ditamparnya atau ditampar mereka beramai-ramai. Aku nanti malah rugi dan dibenci orang banyak. Aku tidak mau itu.

Kukira ia masih percaya kepada Tuhan. Hanya saja ia tidak pernah ke masjid, ke gereja, ataupun ke mana-mana; di mana orang yang percaya kepada Tuhan beribadat, berdoa dan memuji-Nya. Ia hanya di rumah saja lalu ke tempat kerjanya. Kiranya ia hanya tidak beribadah, mengikuti ajaran agama mana pun. Mungkin ia pikir ia hidup di dunia ini mbrojol dari rahim ibunya adalah kecelakaan dari hasil iseng-iseng bapak-ibunya saja. Mungkin ia pikir alam semesta dunia ini ada dengan sendirinya.

Aku tak tahu; banggakah ia, ataukah putus asa? Ia kecewa dan tidak mau terima bahwa ia hidup dan ada? Pernahkah ia mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa? Sedurhaka itukah dia?

Aku belum pernah mendengar sendiri ucapan pengakuan dari mulutnya bahwa ia beriman atau percaya. Mungkin ia merasa malu atau sombong untuk mengakuinya, dan tidak ingin memperlihatkan pengakuannya itu kepada orang lain. Mungkin ia merasa gagah bila ia menunjukkan perlawanan, penentangan, ketidak-taatan. Sesungguhnya aku merasa heran mengapa ia musti melawan, … dan untuk apa? Sampai kapankah ia akan sanggup melawan terhadap kebenaran ini? Sampai matikah ia akan menolak untuk berpasrah kepada-Nya? Ingkarkah ia kepada Penciptanya sendiri?

Bahkan ia bukanlah hendak menipuku atau menipu orang-orang yang percaya. Sepertinya seakan-akan ia ingin terang-terangan menunjukkan ketidak-taatannya kepada ajaran agama. Mungkin ia bangga bila terlihat kuat dan berani untuk menentang. Bila datang ke tempat orang berdoa, ia kelihatan seperti malas, ia hanya merasa tidak enak kepada orang-orang lain bila tidak ikut; namun sepertinya ia bahkan tidak merasa takut kepada Tuhan.

Ia melawan dan menentang dengan berani. Entah ia termasuk orang yang percaya kepada-Nya dan utusan-Nya ataukah tidak, siapa yang mau menilai? Menilai bisa, tapi ukurannya apa? Yang jelas aku merasa bahwa ia seperti dengki, iri-hati dan dendam terhadap orang-orang yang percaya dan rajin memuja-Nya. Pernah sekali dua kali aku atau orang lain mendengar langsung bahwa ia mencela orang-orang yang beribadah kepada-Nya.

Justru kupikir ia bukanlah penipu atau pendusta. Ia jujur dan berani. Ia jujur dan berani dalam memperlihatkan sikap penentangannya terhadap kegiatan peribadatan. Ia tidak mau percaya terhadap apa kata orang lain dan nasehat orang lain. Tidak ada hal yang dipercayainya. Entah apa yang sebenarnya ingin ia raih, ia cita-citakan dan ia impikan. Mungkin memang ia tidak punya cita-cita sama sekali. Tetapi mengapa ia masih mau meneruskan hidupnya? Mengapa ia tidak bunuh diri saja?

Kukatakan ia bukan pendusta; ia jujur dan berani. Ia jujur dan berani untuk memperlihatkan sikap penentangannya terhadap ajaran agama. Bukankah itu berarti ia jujur? Bukankah itu bukan munafiq? Mungkin justru ia membenci kemunafikan. Maka dari itu ia jujur, berani dan terang-terangan untuk memperlihatkan ketidaktaatannya terhadap ajaran agama. Ia jujur dan pemberani.

Dengan terang-terangan ia mengajak orang untuk rame-rame meminum minuman keras yang memabukkan. Entah ia sungguh-sungguh atau hanya untuk meledek saja. Bisa saja ia meledek. Meledek siapa? Meledek sistem dan meledek anak-anak lelaki ABG yang menganggap bahwa minum minuman keras itu menunjukkan-membuktikan keberanian dan inisiasi kedewasaan. Meledek sistem karena nyatanya memang sistem budaya kampung tak mampu mencegah meruyaknya budaya mabuk minuman keras. Mungkin itu yang dimaksudkannya. Toh ia bukan termasuk yang sejak awal menggemari dan mempelopori kebiasaan minum minuman keras yang memabukkan. Ia baru melakukannya di saat akhir dan mengajak banyak orang secara terang-terangan. Mungkin itu didorong oleh rasa gemas dan geramnya terhadap kebiasaan mabuk yang meruyak. Bisa saja.

Jadinya kalau saja aku mendatanginya menasehatinya agar jangan berbuat kerusakan, ia akan menjawab; “Sesungguhnya saya ini mengadakan perbaikan.”

Maka kuanggap saja kesadaran, penalaran dan perhitungannya memang melebihi orang-orang biasa. Ia jujur dan pemberani. Mungkin kini ia dapat melihat mana yang mendatangkan manfaat dan mana yang mendatangkan kerugian. Diawali dari itu mungkin ia akan mulai percaya.

Ingat, dia pejuang pemberani.

-o0o-


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

semangat ya mas cayo cayo he he

Kang Nur @ mrengkel :
okey okey,🙂 🙂

Komentar oleh mrengkel




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: