The Nurdayat Foundation


Saya Sangat Ketakutan, Lindungilah Saya ! Jangan Ceritakan Saya pada Siapa-siapa!
Sabtu, 19 April 2008, 12:06 am
Filed under: Yogyakarta | Tag: , ,

Lindungilah Saya

Teriakanku meraung-raung. “Saya sangat ketakutan, lindungilah saya ! Jangan ceritakan saya pada siapa-siapa!” “Saya sangat ketakutan, lindungilah saya ! Jangan ceritakan saya pada siapa-siapa!” Raunganku membahana hingga Pagelaran, menembus kediaman para Sultan, bablas sampai Sasono Hinggil.



Sebelumnya

Saya sangat terkejut saat menemukan artikel tulisan yg menyatakan bahwa dari hasil polling yg dilakukan oleh beberapa lembaga survey menyatakan bahwa dukungan terhadap Sultan HB X utk maju (sbg cawapres) pada Pemilu 2009 y.a.d. adalah besar. Lalu apa yg saya lakukan? Bila diibaratkan profil Ngarso Dalem itu adalah gelas, maka gelas itu lalu saya jungkir-balik utk saya cermati segala sisinya, saya korek2 relung-lekiknya dengan batang lidi, saya usap2 segala sisinya sambil mulut saya ter-nganga2 dan mata me-lotot2, saya cuci ber-kali2 dgn sabun utk barangkali akhirnya dapat menemukan pecahan berlian mungkin ternyata menyatu-lebur dgn kaca gelas ini, saya ambil kaca pembesar lalu memaju-mundurkannya di depan mata. Tapi bagaimana? Sudah mata saya pedih karena me-lotot2 dan maju-mundur nyembung-nyekung menajamkan fokus, telapak tangan saya perih2 karena kebanyakan menggosok dgn sabun, liur hampir me-netes2 karena mulut ter-nganga2; akhirnya malah saya menjadi seperti kerbau yg ter-sengal2. Mungkin itu karena hidung saya tak pernah mau di-‘cocok’, karena ingin mewarisi semangat Ngarso Dalem Sinuwun Sultan Hamengku Buwono I. Semangat perlawanan, dab! Bahkan terhadap keturunan beliau. Sengguh ora mingkuh.

Saya geleng2 kepala, keringat saya bercucuran di sekujur badan, tubuh saya menggigil hebat. Saya benar2 ketakutan. Saya ketakutan bila nanti para pendukung dalam polling itu akan mendatangi saya dan memaksa saya utk meneriakkan kelebihan Sultan HB X, namun saya bahkan untuk mengejanya saja tak mampu. Mereka telah mengajarkan saya sedikit, namun akal sehat saya tidak mampu mencernanya. Dasar saya wong ndeso bodoh tidak berpendidikan! Ini tidak masuk akal. Saya ketakutan bila hingga nanti saya tetap saja tidak mampu meneriakkan kelebihan Sultan HB X itu. Saya membayangkan bila saya tetap tidak mampu, maka saya akan dibunuh, tubuh saya di-cincang2, daging tubuh saya akan disate.

Saya ini hanya orang miskin kurang berpendidikan yang tinggal di desa. Apa yg dapat dilakukan oleh orang semacam saya ini? Saya sangat ketakutan. Bahkan anak berandal yg suka mabuk di pos ronda pun lalu mau mengeroyok saya. Padahal saya sungguh2 tetap tidak mampu menyebutkannya, apalagi meneriakkannya. Bagaimana ini? Saya berniat mau sowan Mbah Marijan di Kinahrejo. Tapi sebelum itu saya lakukan, sudah lebih dulu saya lihat di koran Mbah Marijan ngendiko. Mbah Marijan bilang kalo Ngarso Dalem itu tidak usah njago presiden. Lha wong Sultan kok malah mau njago jadi presiden, itu malah turun derajatnya. Begitu Mbah Marijan bilang. ..Saya tercenung lagi. …Saya lalu memohon bantuan kepada para pakar senior di pawiyatan2 luhur (perguruan2 tinggi). Saat saya sudah menghadap sambil menggigil hebat, mereka malah hanya senyum2 malu2 lalu bilang: “Ya carilah sendiri ya Kang. Mungkin kelebihan itu memang ada.” Lalu mereka berlalu saja sambil tersenyum simpul.

Saya lalu pergi dan meng-garuk2 kepala tak henti2 kesana kemari. Tak terasa, karena saking kerasnya saya menggaruk kepala itu, ternyata kulit kepala saya sampai ter-kelupas2! Sesaat setelah saya sadar merasakannya, saya meraung-raung se-jadi2nya. “Hiyuuung…, hiyuuung, …hiyuung.” (Begitulah bunyi raungan kawulo Mataram). Petugas Tramtib rebut-dhucung berlarian menghampiri saya. Bukan mau menolong saya! Mereka malah nggebugi saya! Mungkin karena itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka. Saya dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban. Kebingungan menutupi anggota tubuh dari serangan penthungan mereka, kaki saya yg belum banyak kepenthung mampu terpincang membawa saya melarikan diri dari kepungan itu.

Kelelahan dan kesakitan saya ambruk di trotoar. Tubuhku ambruk tak tersadar lagi. Sudah matikah saya? Saya terbawa ke alam mimpi. Sayangnya bukan mimpi indah, namun malah mimpi yg rumit. Mimpi saya itu begini: Aku punya istri, sudah berumah tangga ber-tahun2, tapi ternyata belum punya anak juga; padahal selain aku dan istriku, sungguh banyak orang dalam keluarga kami yg mengharapkan agar istriku segera hamil, lalu melahirkan anak. Istriku tidak hamil2 juga. Tanpa aku lebih dulu berpikir di mana letak pokok masalahnya, sedangkan mertua(orangtua istri)-ku sudah sangat gelisah karena menginginkan cucu; aku dengan tidak bertanggungjawab malah membayangkan akan segera mengambil istri baru. Aku melihat janda sebelah rumah kok tidak terurus. Padahal ia montok, dan kelihatannya subur. Aku ingin menikahinya, apalagi tetangga2 lain me-manas2-i-ku. Aku yakin aku cukup kaya. Penghasilanku per bulan ber-lebih2an, jangankan untuk dua istri, tiga istri, empat istri pun aku mampu menafkahinya, kok. Apalagi aku juga cukup gagah-ganteng, dan aku adalah keturunan orang paling terpandang. Keturunan paling terpandang. Sudah seharusnya semua orang menghormatiku. Kuanggap bahwa si janda montok ini belum menikah lagi adalah karena tidak ada lelaki jantan yg berani dan merasa mampu menikahinya. Maka aku lalu mengumumkan pisah-ranjang dgn istriku yg pertama. Tidak peduli bahwa istri pertamaku dan mertuaku menghendaki tes kesuburan dilakukan, agar tahu di mana masalah kok tidak punya anak. Aku tak pernah berpikir ttg tes kesuburan, maka aku menolak utk melakukannya. Apa yg istriku dan mertuaku itu lakukan? Nyatanya mereka lalu akhirnya menangis mengemis-ngemis menghiba agar rencana pisah ranjang itu jangan dilakukan…. Jeblag!! …Suara mengejutkan membangunkanku. Ternyata seorang anak muda kurang hati2 mengendarai motornya hampir melindasku meloncat trotoar. Aku kaget. Badan perihku kugeliat, mataku kupelotot. Ia bilang maaf, namun pergi ngeri karena melihat kepalaku yg ter-kelupas2.

Aku menekur di atas trotoar. Mengelus lengan mensyukur tak jadi terlindas. Lalu kuingat mimpiku tadi. Dan…, itu malah semakin membuatku ngeri.

Pikiranku panik membakar kepalaku yg sudah terkelupas. Menyala berkobar-kobar. Jerit raungku menggegar langit. Tak tahan kubawa teriakanku untuk mempertakuti orang-orang pedagang kaki lima. Aku meraung-raung sepanjang Malioboro. Sirene mobil polisi mengikutinya mengejarku. Pedagang kaki lima terbengong-bengong. Mereka lalu menonton. Dengan gembira.

Teriakanku meraung-raung. “Saya sangat ketakutan, lindungilah saya ! Jangan ceritakan saya pada siapa-siapa!” “Saya sangat ketakutan, lindungilah saya ! Jangan ceritakan saya pada siapa-siapa!” Raunganku membahana hingga Pagelaran, menembus kediaman para Sultan, bablas sampai Sasono Hinggil.

-o0o-

Sebelumnya
Kembali


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Kakakakakak…
kena banget nih, Mas Nur..
tulisannya keren!

Kang Nur:
wah, yg kena itu apa kangmas kopdang? cuman emang saya pikir banyak hal yg lebih bagus ditulis dgn cara yg akan saya coba nyeni-nyastra (maunya :)). biar sulit dikritik balik ato dituntut.🙂😀

Komentar oleh Mas Kopdang

iya ati2 nanti sampeyan bisa disiram gudeg sama tukang gudeg selokan… dimana nanti ceceran kuah gudeg nyiprat kemana-mana, tetelan daging mambrah-mambrah, dan retakan kendhil yang menganga… ih ngeri aku mbayangno nek nganti ngono ik… jiah… wedi aku!

Kang Nur:😀 … lha iya, nanti Kang Kalangkabut berhenti sejenak, nonton, terus keplok-keplok…😀

Komentar oleh kalangkabut




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: