The Nurdayat Foundation


Kraton Ngayogyakarta: Cikal Bakal Daerah Istimewa Yogyakarta
Rabu, 23 April 2008, 3:53 pm
Filed under: Yogyakarta | Tag:

oleh: KRT Wasesowinoto

Kraton Mataram Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih dikenal dengan Kraton Yogya, yang selanjutnya menjadi cikal bakal Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak dapat dipisahkan dari prediksi, harapan dan visi Pangeran Mangkubumi yang bertahta pertama dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Saat itu kedudukan kraton Mataram ada di Kartasura. Yang bertahta HSK Sunan Pakubuwana II, yaitu putra Sunan Amangkurat IV (Amangkurat Jawa) yang lahir dari permaisuri Kanjeng Ratu Kencana. Pangeran Mangkubumi juga putra Sunan Amangkurat IV, yang lahir dari istri Mas Ayu Tejawati.
Saat tahun 1740-1743, kraton Kartasura turut tersulut menjadi medan perlawanan Geger Pecinan. Kondisi pemerintahan menjadi kalang-kabut. Banyak rakyat penduduk yang Sunan paku Buwana II. Susuhunan Paku Buwana II terpaksa keluar meninggalkan istana hingga ke Ponorogo. Geger Pecinan baru dapat reda dan rampung karena Sunan Paku Buwana II minta bantuan Kompeni dengan perjanjian Ponorogo tahun 1743, yang isinya intinya bahwa untuk memedamkan Geger Pecinan, Susuhunan PB II harus membalas jasa kepada Kompeni yang berupa: 1. Mengganti beaya perang. 2. Menyerahkan sebagian wilayah pantai utara Jawa kepada Kompeni. 3. Pengangkatan Patih harus sesuai dengan pilihan Kompeni. Susuhunan Paku Buwana II kembali ke istana Kartosuro tahun 1743. Karena kondisi istana rusak, maka lalu memerintahkan untuk membangun kraton/istana baru di desa Sala, yang selanjutnya dinamakan kraton Surakarta Hadiningrat (17 Februari 1745). Sedangkan yang mendapat tugas untuk melaksanakan pekerjaan itu adalah Tumenggung Tirtawiguna, Pangeran Wijil, Pangeran Mangkubumi dan lain-lain.
Dikarenakan banyak pangeran, kerabat dan pejabat istana, juga rakyat yang kecewa terhadap Kompeni Belanda serta terhadap Susuhunan PB II meskipun ibu kota kraton sudah pindah ke Surakarta, kondisi negara masih tetap kacau. Apalagi adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Said serta Martapura.
Tahun 1745 Susuhunan PB II memberikan perintah dengan maklumat 1745 yang berisi bahwa barangsiapa yang dapat mengalahkan RM Said dan Martapura akan mendapatkan hadiah berupa tanah Sukawati yang luasnya 3000 cacah. Tersebutlah bahwa tidak ada yang berani melawan RM Said. Pangeran Mangkubumi-lah yang terpaksa maju sendiri ke medan. Dengan pusaka kraton Kyai Plered, Pangeran Mangkubumi dapat unggul, dan menduduki bumi Sukawati.
Hadiah berwujud tanah seluas 3000 cacah, tidak disepakati oleh Patih Pringgalaya. Polah tingkah Patih Pringgalaya ini tidak hanya disampaikan-ditujukan kepada Susuhunan, namun juga diadukan kepada Gubernur Jenderal Van Imhoff.
Tahun 1746, Gubernur Van Imhoff datang ke kraton Surakarta. Sedangkan maksud tujuannya adalah untuk mengurus soal tanah di wilayah pantai utara Jawa dan minta tambah dari kekurangan biaya perang Geger Pecinan, yang dimuat dalam perjanjian Ponorogo 1743. Selain itu juga akibat hasutan dan pokal licik Patih Pringgalaya, Kompeni menuntut agar Susuhunan PB II membatalkan perihal pemberian tanah 3000 cacah, sebab dikhawatirkan dapat melemahkan Kasunanan Surakarta. Ini semua disebutkan dalam Perjanjian 1746. Hal tuntutan Kompeni ini menimbulkan resah Susuhunan PB II yang saat itu sesungguhnya telah dibantu oleh Pangeran Mangkubumi. Ditandatanganinya Perjanjian 1746 menimbulkan kekecewaan dan kemarahan Pangeran Mangkubumi. Perjanjian itu ditandatangani Susuhunan PB II dan Kompeni Belanda pada tanggal 27 Rabingulakir 1671 Jawa atau 19 Mei 1746 M. Tahun 1671 Jawa itu ditandai dengan candra sengkala “Rupa Swara Obahing Jagad”. Hal itu menimbulkan pecahnya Perang Suksesi Jawa III atau Perang Mangkubumen. Perang tersebut pecah mulai terhitung tanggal 19 Mei 1746 hingga tanggal 13Februari 1755, yaitu dengan adanya Perjanjian Giyanti. Setelah Pangeran Mangkubumi meninggalkan kraton. Kondisi kraton Kesunanan Surakarta kacau balau, Susuhunan PB II jatuh sakit.
Karena kecerdikan, juga ‘keuletan’ Kompeni Belanda, kondisi kacau balau itu dijadikan kesempatan dan alasan untuk melakukan bujukan selanjutnya. Kompeni mendapat bocoran kabar bahwasanya Susuhunan PB II menghendaki bahwa yang akan menggantikan tahta sepeninggalnya nanti adalah tidak lain putranya sendiri, putra mahkota-nya = Pangeran Adipati Anom. Perjanjian ini disahkan tanggal 11 Desember 1749. Mendengar akan adanya Perjanjian 1749 ini Pangeran Mangkubumi didukung oleh para pangeran kerabat serta pendukungnya tidak meyetujui akan hal tersebut. Betapa tidak, dalam masa 6 tahun, kraton Surakarta telah membuat 3 kali (1743, 1746, 1749) yang kesemuanya merugikan dan membuat lemah kedudukan kraton Mataram. Apalagi dalam Perjanjian 1749 oleh Kompeni Belanda diisyaratkan bahwa Susuhunan telah menyerahkan Mataram kepadanya. Artinya,dengan Perjanjian 1749 itu bumi Matarm telah menjadi wilayah kekuasaan VOC Kompeni Belanda, sedangkan Susuhunan PB II sebagai raja layaknya raja yang mendapatkan pinjaman.
Waktu itu Pangeran Mangkubumi telah berada di wilayah Yogyakarta. Tanggal 12 Desember 1749 Pangeran Mangkubumi didukung oleh para pangeran kerabatnya dan pengikutnya, memberikan pengumuman pernyataan untuk dinobatkan sebagai raja dengan gelar Susuhunan Hing Mataram Senapati Hing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama. Kompeni Belanda pun mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi telah diangkat sebagai raja. Selanjutnya dengan ringkas, untuk sekaligus mengukuhkan berdirinya kuasa Kompeni di Mataram, tanggal 15 Desember 1749 Hohendorf tanpa menunggu atau meminta ijin kerabat-kerabat Sunan lainnya, menobatkan Pangeran Adipati Anom putra Sunan PB II yang lahir dari permaisuri sebagai raja, dengan gelar Susuhunan Paku Buwana III; dengan catatan, penobatan raja selanjutnya harus dikonsultasikan dan disetujui oleh Kompeni Belanda terlebih dahulu.
Perang antara Pangeran Mangkubumi melawan Kompeni yang telah menceng-keram Kasunanan Surakarta semakin menjadi. Inti pemikiran Pangeran Mangkubumi adalah, kraton Mataram harus tetap berdiri tegak, lestari abadi di bumi pertiwi. Sedangkan Kasunanan Surakarta yang tidak dapat diharapkan kehendak kebaikannya, dibiarkanlah bila akan menemui jalan kehilangan jati hakikat dirinya. Perang berlangsung heboh (1749-1755), namun sebelum terlihat akan bagaimanakah akhirnya, Kompeni Belanda merasa kewalahan kerepotan dan menyadari tidaklah mudah untuk menundukkan Pangeran Mangkubumi.
Gubernur baru Nicolas Hartingh yang menggantikan Van Imhoff, mengganti langkah strategi, yaitu dengan cara menyelenggarakan perjanjian. Sedangkan caranya yaitu dengan bantuan Tuan Sarip Besar alias Syeh Ibrahim, rembug yang pertama diadakan pada bulan April 1754, bertempat di desa Padagangan Grobogan.
Akhirnya permusyawaratan diadakan di desa Giyanti masuk wilayah Karanganyar Surakarta yang selanjutnya dinamai Perjanjian Giyanti atau Perjanjian Palihan Nagari (pembagian negara-penerj.) Perjanjian Giyanti ditandai pada hari kamis Kliwon, 30 Bakdanulud – Be 1680 Jawa, dengan candra sengkala “Sirna Pujangga Winayang Janma”, ada juga yang menyebut “Tunggal Pangesthi Rasaning Janmi” atau bertepatan tanggal 13 Februari 1755 M. Pelaku yang menandatangani Perjanjian Giyanti yaitu: Susuhunan Pakubuwana III diikuti Nicolaas Hartingh dengan Pangeran Mangkubumi.
Untuk menjaga keluhuran budaya Mataram, setelah Perjanjian Giyanti, Susuhunan PB III dan Sri Sultan HB I mengadakan pertemuan di desajatisari yang lokasinya dekat Giyanti. Inti pertemuan Jatisari, Susuhunan PB III memilih membangun kebudayaan baru yang tetap berlandaskan budaya lama. Sri Sultan HB I yang belum memiliki keraton (istana), yang membawa, menjaga, melestarikan, merawat, serta mengembangkan tradisi adat istiadat kebudayaan Mataram sebelum palihan nagari.
Inti Isi Perjanjian Giyanti:
* Susuhunan Paku Buwana III tetap menjadi raja di kraton Kasunanan Surakarta turun-temurun, serta menerima separoh wilayah kuasa Mataram yang adadi tanah Jawa.
* Pangeran Mangkubumi menjadi raja dengan sebutan Sultan di kraton Mataram Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat turun-temurun. Gelarnya: Hingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Hing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Hingkang Jumeneng kaping Sepisan. Serta dengan membawahkan separoh wilayah kuasa Mataram yang ada di tanah Jawa. Wilayah tersebut lokasinya terpencar-pencar, ada yang terletak di Jawa Timur, ada juga yang terletak di Jawa Tengah wilayah barat daya.

Kemauan Kompeni Belanda, tempat kedudukan Kraton Mataram Kasultanan di wilayah Jawa Timur, dekat Surabaya. Namun P. Mangkubumi tidak menghendaki, kraton Mataram Kasultanan harus tetap kembali di wilayah Mataram Yogyakarta. Itu adalah karena visi pemikiran P. Mangkubumi untuk tetap akan menjaga lestarinya, pengembangan serta pengusahaan kebudayaan Mataram yang mengandung petunjuk ajaran luhur.

-o0o-

Sumber: diterjemahkan dari artikel berjudul serupa yang dimuat dalam majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang edisi no. 41 th. XXXV Sabtu Paing 11 Maret 2006, h. 42-43


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

sebenarnya istimewa itu diperoleh dari mana ya, apakah tradisi, kraton atau budaya orang yogyakarta yang istimewa atau apa

Kang Nur:
antara “istimewa” dgn “minta diistimewakan” itu juga sudah beda lagi lho, jeng Christina. jadi pertanyaannya dapat berkembang menjadi: “Yang ‘minta diistimewakan’ itu pihak yang mana sih?” Iya juga ‘kan?

Komentar oleh christina

Rahayu
Salam Kenal Mas Nur
Senang mampir di rumah anda…
numpang share

POTRET WAJAH INDONESIA DI MEDIA MASSA;
ANGKER
BERINGAS
MUKA PREMAN
BERAPI-API
TEBAR KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN
ANTI TOLERAN
BHINEKA TUNGGAL IKA DAN PANCASILA SEMAKIN TERASA LENYAP
ARABISASI SIMBOL-SIMBOL DAN BUDAYA
POLITISASI AGAMA

MARI KITA BANGUN NEGERI YG ADEM, TENTERAM, DAMAI, SEJUK, PENUH CINTA KASIH SESAMA

http://sabdalangit.wordpress.com

MEMBANGUN BUMI NUSANTARA YG BERBUDI PEKERTI LUHUR
BACK TO LOCAL WISDOM
Kejawen, serat Wedhatama, satria piningit, sabdapalon noyogenggong, syeh siti jenar, keblt papat lima pancer, guru sejati.

Kang Nur:
Terima kasih atas kunjungannya dan info-nya Pak.
Blog Bapak akan sering saya kunjungi sebagai referensi.🙂

Komentar oleh sabdalangit




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: