The Nurdayat Foundation


Makna Keistimewaan (DIY) Tersisihkan: Lagi, Sebelas Anak Muda Lakukan Aksi Bisu
Kamis, 24 April 2008, 4:05 pm
Filed under: Yogyakarta | Tag: ,

Yogyakarta; KOMPAS; Selasa, 22 April 2008
Substansi keistimewaan DI Yogyakarta yang lebih luas harus mulai dibicarakan bersama-sama seluruh elemen masyarakat DIY. Selama ini, keistimewaan DIY baru dimaknai dan disuarakan sebatas penetapan gubernur/wakil gubernur DIY dan belum menyentuh langsung pada kepentingan publik.

Hal itu disuarakan oleh Koalisi Masyarakat Penegak Keistimewaan (Kompak) Yogyakarta saat menggelar aksi bisu di DPRD DIY, Senin (21 April 2008). Aksi bisu yang diikuti 11 orang-orang muda itu dilakukan secara simbolik dengan menutup mulut memakai kain hitam. Mereka seluruhnya mengenakan pakaian tradisional Jawa lengkap, sambil masing-masing memegang poster berisi aspirasi mereka.
Mereka duduk berjajar di kursi yang telah ditata di halaman depan gedung DPRD DIY. Salah satu kursi di deretan tengah depan dipasang foto Sultan Hamengku Buwono X. Di bagian bawah kursi itu tertulis “Dari Rakyat untuk Rakyat”. Beberapa poster itu, antara lain bertuliskan “Jogja Istimewa = Jogja Demokrasi”.
Sofyan Ari S., koordinator aksi, menyatakan aksi bisu tersebut adalah simbolisasi bahwa masyarakat yang selama ini diam membisu bukan berarti tidak memiliki sikap terhadap keistimewaan.
“Perdebatan yang muncul atau yang disuarakan selama ini hanya soal penetapan/pemilihan gubernur, sedangkan substansi keistimewaan yang berdampak langsung kepada kepentingan publik tidak pernah muncul,” ujar Unang Shio Peking, juru bicara Kompak.
Unang menambahkan, masyarakat DIY selama ini tidak tahu RUUK DIY sehingga tidak tahu apakah RUUK DIY akan membawa manfaat bagi masyarakat DIY secara nyata. Karena itu, wacana keistimewaan tidak dipersempit sebatas suksesi saja, melainkan akses masyarakat terhadap pelayanan publik.

Kesejahteraan
UUK DIY, ungkapnya, haruslah membawa dampak langsung bagi perbaikan kesejahteraan masyarakat, seperti terbukanya akses pendidikan bagi seluruh masyarakat melalui pendidikan gratis maupun layanan kesehatan gratis. “Keistimewaan itu harus dirasakan langsung oleh masyarakat, kalau tidak apalah gunanya status keistimewaan itu,” ucap Unang.
Aksi bisu ini, menurut pandangan sosiolog dari Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada arie Sujito, dapat bermakna kultural dan politis. Secara kultural, aksi bisu sudah menjadi bagian dari kebudayaan.
“Diam adalah bentuk aspirasi yang lain, bukan berarti tidak bisa bersuara,” ujar Arie. Diam, dalam berbagai budaya juga menjadi bentuk artikulasi penyampaian pendapat. Namun, dalam konteks politik, aksi bisu bisa jadi dilakukan sebagai bentuk kritik di tengah komunikasi politik yang tidak sehat. (RWN/A11)

Tulisan terkait:
DPR Didesak Sahkan RUUK


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: