The Nurdayat Foundation


Gempa Besar Menerjang Kraton Yogyakarta:
Jumat, 25 April 2008, 10:38 am
Filed under: Yogyakarta | Tag:

Bangsal Trajumas Roboh

Gong Patigan Kyai Guntur Laut Pecah dan Sobek

Dikarenakan gempa 27 Mei 2006, Bangsal Trajumas yang terletak di dalam Kraton Ngayogyakarta roboh dan menimpa barang-barang peninggalan yang ada di dalamnya yaitu Gangsa (gamelan) Monggang Kyai Guntur Laut, Jempana (rumah-rumahan tandu-pent.), perlengkapan untuk upacara adat, Gangsa Kanjeng Kyai Kebo Ganggeng (Gamelan Cakrabalen) yang sudah ada sejak jaman Majapahit. Dan yang memprihatinkan sekali yaitu Gong Kanjeng Kyai Guntur Laut pecah dan sobek hingga tinggal separo. “Gangsa (gamelan-pent.) itu merupakan gangsa tinggalan jaman Majapahit saat Palihan Nagari Surakarta dan Ngayogyakarta. Gangsa-gangsa itu di Kraton masih dilestarikan,” demikian pernyataan GBPH Yudhaningrat Pengageng KHP Kridho Mardowo Kraton Ngayogyakarta di pelataran Bangsal Trajumas hari Rabu 30 Mei 2006.

Saat itu Gusti Yudha (GBPH Yudhaningrat) didampingi RM Rupatala Sekuriti Kraton, Kolonel Inf. Indrahidayat R Danmentar Akmil Magelang yang memimpin anak buahnya para Taruna membersihkan barang-barang kuno yang ada di dalam Bangsal Trajumas yang rusak. Gusti Yudha menyatakan Bangsal Trajumas itu bangunan ber-Saka Guru semua berjumlah enam Saka Guru sehingga dapat saling tarik-menarik (saat terjadi gempa –pent.) kalah kuat dibandingkan dengan bangunan joglo pada umumnya, sehingga mudah roboh. Meskipun Bangsal trajumas berwujud joglo sudah diberi pintu gantung tahan gempa dapat terlempar dan roboh. Ketika Jogja terkena gempa besar 178 tahun yang lalu (1828 M-pent.), Tugu Golong Gilig roboh namun Bangsal Trajumas utuh tanpa kurang suatu apa.

Bangsal Trajumas berkerangka kayu jati yang berasal sejak dari bangunan jaman SDISK Sultan HB I tahun 1755 M atau tahun Jawa 1682 Saka. Bangsal Trajumas merupakan bangsal pokok yang ada di Kraton Ngayogyakarta tidak berbeda dengan bangsal Srimanganti yang terletak di sebelah barat. Bangsal Trajumas yang roboh ini pada jaman SDISK Sultan Hamengku Buwono VII-VIII pernah digunakan oleh Sekolah Keputran dengan nama Sekolah Srimanganti. Sekolah itu muridnya terdiri khusus dari para putra dan putri Sentono Dalem (pejabat Kraton dan kerabat Sultan). Dan selanjutnya untuk kantor urusan pemerintahan. Bangsal Srimanganti digunakan untuk menerima tamu khusus Sultan.

Gangsa Kanjeng Kyai Patigan Guntur Laut yang gongnya pecah-sobek-krowak tersebut biasa dibunyikan untuk memberikan penghormatan bila Kraton ada perayaan. Penghormatan itu diadakan bila Ngarso Dalem jengkar (beranjak berangkat) dari Kraton Kilen menuju Bangsal Kencana. Juga bila menepati ada Hajad dalem Gunungan Garebeg yang dikawal prajurit Kraton menuju Alun-alun Lor (Alun-alun Utara) Masjid Gedhe juga ditabuh bila bertepatan di Kraton ada Khitanan putra Dalem.

Sedangkan tandu (Jempana) yang rusak dahulunya digunakan untuk menjemput calon istri Dalem Sultan. Juga untuk kirab Dalem ketika belum ada kereta. Dahulu pengantin (mempelai) putri ditandu sedangkan mempelai lelaki mengendarai kuda.

Dengan terjadinya gempa yang membuat berantakannya Bangsal Trajumas beserta isinya ini, untuk sementara waktu Kraton Ngayogyakarta ditutup dari kunjungan wisata mancanegara maupun domestik.

Suaranya Membikin Lega

Gong Kanjeng Kyai Patigan Guntur laut yang gong-nya pecah dan krowak separo ini menurut penuturan Gusti Yudha masih akan dilestarikan tidak dibuang. “Jadi Gong itu meskipun krowak tetap dilestarikan oleh Kraton. Karena bahannya dari Kyai yang kompeten berkait (kawogan),” demikian Gusti Yudha. Sedang kekurangannya yang hilang akan ditambal menggunakan bahan baru dari perunggu.

Gangsa Kanjeng Kyai Guntur Laut dan Kanjeng Kyai Maesa Kebo Ganggeng (gangsa Cakrabalen) wujudnya tidak halus sebagaimana gamelan jaman sekarang, namun istimewanya kedua-duanya bila ditabuh suaranya membikin lega. Apa karena buatan Majapahit. Maka untuk menyelamatkan gangsa-gangsa itu untuk sementara dipindah di papan Pecaosan yang ada di utara dan selatan Bangsal Trajumas.

Dengan terjadinya gempa besar 27 Mei 2006 ternyata menjadikan banyak bangunan Kraton Ngayogyakarta yang mengalami kerusakan; selain beteng roboh juga museum HB IX yang pecah kacanya. Belum lagi terhitung regol-regol yang ada di kawasan plengkung Gading, Regol Rotowijayan serta tembok Museum Kereta Rotowijayan serta tembok museum Kereta Ratawijayan Ngayogyakarta.

Saat dimintai keterangan perihal gempa besar yang telah menimbulkan kerusakan banyak bangunan di luar maupun di dalam Kraton ini, Gusti Yudha mengatakan bahwa kejadian gempa besar ini tidak berbeda sebagaimana kalau kita mendengarkan suluk yang disampaikan para dalang di Pakeliran (pertunjukan wayang). Jaman trontong-trontong (terbit cahaya menyembulkan warna di cakrawala –pent.) akan berganti dengan masa yang baru, namun jaman itu modelnya seperti apa belum ada yang mengetahuinya.

“Jadi ini seperti lakon Gara-gara di Pakeliran, lakonnya wong cilik yang menjadi korban,” demikian Gusti Yudha berkomentar mengenai gempa besar yang menimpa kota Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, Sleman dan Kulonprogo; yang menimbulkan korban tidak sedikit. Pihak Kraton akan memperbaiki terlebih dulu kerusakan yang ada di dalam Kraton. (Sab)

Sumber: Djaka Lodang no. 3 tahun XXXVI; Sabtu Kliwon, 17 Juni 2006.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: