The Nurdayat Foundation


Sengkarut Perebutan Kekuasaan Cucu-cucu Sultan Agung di Mataram
Sabtu, 26 April 2008, 10:47 am
Filed under: Yogyakarta | Tag: ,

Dalam sejarah tanah air kita, banyak para raja dan kaum bangsawan menjadi tokoh perlawanan terhadap kaum penjajah. Hal ini tentulah sesuatu yang wajar. Kekuatan asing yang datang menyerbu juga mengancam secara langsung kekuasaan para raja sendiri. Namun sebagai rakyat jelata (dan mungkin keturunan rakyat jelata sejak dulu pula, meski simbah kita merasa bangga kalau punya riwayat yang dihubungkan dengan silsilah keluarga kraton), kita dapat bertanya sejauh manakah sesungguhnya peran keluarga raja-raja dan para bangsawan itu dalam pertahanan dan ketahanan bangsa menghadapi penjajah. Benarkah mereka itu adalah para patriot pelindung rakyat bumi pertiwi dari cengkeraman bangsa asing? Ataukah justru mereka adalah orang atau kelompok kelas yang merasa berhak untuk menguasai rakyat bumi pertiwi ini, lalu mereka berebutan kuasa sendiri di antara sesama bangsawan kalangan kerabat raja itu? Dan (karena itu) sesungguhnya kenyataannya mereka mengorbankan kepentingan rakyat bumi pertiwi hanya untuk saling berebut bagian isi piring kekuasaan? Adakah mereka adalah para inspirator dan pemimpin menuju peraihan kesejahteraan rakyat bumi pertiwi? Ataukah mereka itu hanya kelas atas feodalis yang hampa visi? Secara obyektif, kita harus mengatakan bahwa para raja dan kerabatnya itu juga manusia. Raja-raja juga manusia. Bangsawan juga manusia. Dan budak-belian juga manusia. Untung Surapati adalah seorang bekas budak-belian, dan ia tidak lebih buruk daripada para kerabat raja itu dalam perjuangannya melawan penjajah. (Akhirnya si Untung ini mendapat bagian isi piring kekuasaan juga.) Amangkurat (pengganti Sultan Agung) tidak lebih baik daripada Untung Surapati.

Perlawanan-perlawanan orang-orang bumi pertiwi itu tidak ada yang berhasil karena visi perjuangan masa itu belum terlalu jauh-jauh amat. Mereka lebih bertujuan untuk melindungi kekuasaan mereka masing-masing. Bangsa kita yang besar dengan penduduk yang banyak, ditundukkan oleh kaum pendatang bangsa asing yang telah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi di atas bangsa kita. Sedikit demi sedikit kalangan bangsawan penguasa kita itu kepayahan, akhirnya hanya mampu melindungi secuil kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak lagi memiliki kekuatan tawar-menawar (bargaining position) menghadapi penjajah. Yang terjadi selanjutnya penjajahan berkembang. Tidak sedikit akhirnya terlihat pula betapa kekuasaan kolonial menjalankan kekuasaannya melalui penguasa-penguasa pribumi itu. Atau sisa selebihnya hanyalah kalangan bangsawan yang makan hati.

Pertentangan di dalam keluarga Kerajaan Mataram setelah Sunan (Susuhunan) Amangkurat II meninggal tahun 1703 memberikan peluang bagi VOC Belanda membantu Pangeran Puger, adik Amangkurat II, untuk merebut tahta menghadapi Sunan Mas, putra Amangkurat II yang menjadi Amangkurat III. Sunan Mas dikalahkan dan dibuang Belanda ke Sri Langka (Ceylon). Tetapi Pangeran Puger, yang dinobatkan menjadi Sunan Pakubuwono I, harus membayar harga yang mahal untuk bantuan VOC kepadanya. Dia kehilangan wilayah Cirebon, Priangan dan belahan timur Madura yang berada di bawah kekuasaan Mataram di kala itu.

Setelah Paku Buwono I meninggal, 1719, pecah lagi perebutan tahta di antara anggota keluarganya yang menentang penggantinya, Sunan Prabu atau Amangkurat IV. Kesempatan ini pun dipergunakan oleh VOC untuk menanamkan kekuasaannya di Mataram. Belanda mengirim pasukan militer ke Kartasura dan menumpas para penentang Sunan. Setelah Sunan Amangkurat IV meninggal, 1727, VOC juga mendukung putranya yang berumur 16 tahun yang naik tahta sebagai Paku Buwono II.

Akan tetapi perlawanan terhadap kekuasaan Belanda belum padam. Pada tahun 1740 pecah keributan antara orang Tionghoa dengan Belanda yang menjalar dari Batavia ke Jawa Tengah. Di Batavia lebih dari 10.000 orang Tionghoa mati terbunuh oleh Belanda. Banyak yang berhasil melarikan diri ke Jawa Tengah.

Patriot-patriot Mataram merasa tiba waktunya untuk mengusir kekuasaan Belanda. Mereka bekerja sama dengan pasukan Tionghoa yang melawan Belanda. Di Kartasura, Paku Buwono II berhasil merebut benteng Belanda dekat Keraton. Tetapi VOC dengan bantuan Panembahan Cakraningrat dari Madura Barat dapat mematahkan kepungan pasukan Jawa dan Tionghoa, dan Kartasura diduduki kembali oleh Belanda. Paku Buwono II menjadi bimbang, kemudian meninggalkan orang-orang Tionghoa dan kembali memihak VOC.

Tetapi para pendukung Raden Mas Garendi, cucu Sunan Mas, memproklamir-kannya sebagai Susuhunan yang sah, dan bersama pasukan Tionghoa menggempur Keraton. Namun ia dijatuhkan oleh pasukan Belanda dari tahtanya dan Paku Buwono II dipulihkan pada kedudukannya. Paku Buwono II harus membayar mahal pula untuk pertolongan VOC ini. Kekuasaan Belanda terpaksa diterimanya di seluruh Mataram, dan kepada VOC diberikan hak membuat mata uang sendiri di Pulau Jawa. Dan dengan biaya yang didukung oleh Paku Buwono II, Belanda boleh membangun garnisun-garnisun militer yang diperlukannya di Mataram.

Paku Buwono II meninggalkan Kartasura yang rusak berat akibat berbagai pertempuran, dan pindah ke Surakarta tahun 1744.

Sesudah itu masih terjadi lagi pemberontakan dipimpin oleh Raden Mas Said, yang kemudian dibantu oleh Pangeran Mangkubumi, adik Paku Buwono II. Daerah yang mereka kuasai semakin meluas ketika Paku Buwono II meninggal tahun 1749 dan digantikan oleh putra mahkota yang menjadi Paku Buwono III.

Tetapi karena timbul perselisihan antara Raden Mas Said dengan Pangeran Mangkubumi, perlawanan mereka menjadi lemah. Kesempatan ini digunakan oleh VOC untuk mengadakan perdamaian. Berdasarkan Perjanjian Giyanti, 1755, Pangeran Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I mendapat wilayah sebelah barat dan di sana didirikan ibukota Yogyakarta. Paku Buwono III mendapat wilayah bagian timur dengan ibukota Surakarta. Sedangkan Raden Mas Said, dengan gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro I, berdasarkan Perjanjian Salatiga (1757) memperoleh daerah yang disebut Mangkunegaran.

Demikianlah pandainya Belanda menjalankan peranannya sebagai pemecah dan pengadu domba, hingga akhirnya Kerajaan Mataram yang pernah merupakan sebuah kerajaan yang berarti di Nusantara akhirnya dipecah-pecah seperti yang kita lihat di jaman penjajahan Belanda.

-o0o-

Ket.: Artikel ini dikutip dan digubah dari Pengantar penulis & wartawan senior Muchtar Lubis dalam buku Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, terbitan Gramedia, 1982; h.ix-xi.


10 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Assalamualaikum. Saya ingin menyelidik sejarah keluarga saya yang menurut salasilah, kami berasal dari seorang ulama di kurun ke-17 bernama Ki Ageng Mertowidjojo @ Ki Singowidjojo @ Ki Ageng Kendil Wusi. Beliau dikatakan seorang Bupati di Kendal dari 1700 hingga 1725. Bolehkah saudara bantu saya dalam mengesahkan legenda ini? Jika saudara sudi, sila hubungi saya di: azlan _aziz68@yahoo.com. Terima kasih.

Kang Nur: Saya akan menghubungi Kang Aziz bila telah mendapatkan jawaban secukupnya. Apa pembaca2 yg lain juga dapat membantu? Namun sebelumnya mohon maaf bila kemampuan kami nanti kurang sesuai harapan; krn pengetahuan, pemahaman, referensi serta koneksi kami masih terbatas utk wilayah Yogyakarta.

Komentar oleh salasilahkiyaikendilwusi

Assalamu’alaikum, nyuwun ngapunten sa’derengipun(mohon ma’af sebelumnya)saya ingin melacak keberadaan silsilah keluarga saya yang dari buku silsilah konon dapat ditarik garis hingga ke Untung Surapati(bisa berbangga)tapi saya belum yakin dengan pasti soale banyak nama surapati dalam sejarah.Memang neneng sendiri(dari pihak ibu) ada trah Mataram tepatnya dari kasunanan (P.Singonegoro) tapi ga’ tertera angka tahun di buku silsilah. Keluarga dari pihak ibu sendiri dulunya adalah salah satu perajin Batik Tulis terkenal di Ponorogo, dikenal dengan nama ‘Batik Kapal Lajar’antara 1920-an sampai akhir 70_an.Dikelola oleh Eyang Putri Mbah H. As’ad (Alm).Itu sedikit keterangan dari saya, mohon kalau ada info mengenai pelacakan silsilah keluarga saya bisa kirim email langsung ke:catblackpucanganom@yahoo.com

Komentar oleh fibri iman santosa

Ass.. Wr.. Wb..
Sy telah d ceritakan oleh ayah sy ketika sy maseh remaja tetang keturunan yg berada d jawa tegah dan katanya lagi, jika km telah dewasa nanti km cari keturunan km d jawa sana. Sekarang ayah sy telah meninggal dunia setelah sy menengkat dewasa. Infomasi yg sy dapat dr
ceritanya sewaktu ayah sy maseh hidup dulu seperti berikut:

1) Keturunan km ada kereta kuda yg kuat.(sy telah letakan inat d dalam hati pada waktu itu setelah ayah sy megatakan yg keturunan sy ada kereta kuda yg kuat. Niat sy itu adalah, ” Jika benar apa yg d katakan ayah sy mau duduk d atas kereta kuda itu, tapi jika sy tidak dapat duduk pegang pun cukuplah buat sy.

2) Jika km ke jawa tegah km sebut satu nama saja orang2 d situ akan tau nama yg d sebutkan oleh km, km akan d bawak ke dalam dan kata ayah sy lagi, “ayah akan bagi tau nanti jika km benar2 mau ke sana unt mencari keturunan”.

3). Jika orang d dalam itu tau akan diri km siapa, mukin km akan d tahan d dalam.(sy gak gerti maksutnya).

Nama2 sy Jailani bin Amat bin Senguat bin Sotro bin Margoyo bin ???? bin ????

Sy mendegar cerita yg keluar dr jawa ke tanah melayu(Malaysia) pd tahun 1850an adalah Sutro dan istrinya bernama Kalasia. Setelah mereka bernikah d jawa Kalasia d tukar namanya sebagai Putri dan katanya lagi ayah Kalasia adalah orang dalam dan pakat ketua kampung dalam pada waktu itu.

Jika ada infomasi dr cerita sy yg d atas, sy mengharapkan dapatlah d bantu atau jk bisa d email langsung ke: jamesjai_007@yahoo.com

Komentar oleh jailani

Assalamu’alaikum,,,saya ingin banget tahu tentang silsilah keluarga besar Yogyakarta Mataram,karna,keluargaku ada kaitannya sama keluarga besar itu (alias saya keturunan/cucu dari anaknya keluarga besar itu),bolehkah anda bantu saya?
langsung aja kirim email ke
olivina_2006@yahoo.com

Komentar oleh Olivina

asalamualikum wr wb.. sy org medan, ibu saya adalah keturunan dr kerajaan surakarta.. ibu saya adalah cicit dr gondo puspito, kerabat kerajaan, dan terkenal sbg dalang kerajaan.. makam nya di pengging.. tapi saya tdk tau bgmn hub darah gondo puspito dgn kerajaan, mnurut kbar nya gondo puspito adalah keturunan pangeran samber nyowo (sy tdk tau ini siapa).. jk ada yg mngetahui silsilah pangeran sambar nyowo hingga ke buyut sy gondo puspito, sy harap bersedia mengirim info nya ke fadlinea@yahoo.com.. sebelumnya sy ucapkan terima kasih

Komentar oleh fadli

mas sy mo tnya… Mnrt crt klwrg sy, kami msh da ktrnn dr pb iv & ix, tepatnya putra pb ix. Kami ktrnn dr eyang satrio dr ngasem ambarawa, yg knn ktnya hengkang dr solo krn tdk mau krj sm dg blnd. Klo blh tau sy pngn tanya sorosilah eyang satrio dan prjlnn beliau… Jk ada lgsg email sy. Trmksh sblmnya…

Komentar oleh wisnu

assalamualaikum saudara,saya ingin mencari keluarga moyang saya dri seblah ibu tapi tidak tahu mau mulai dmana.Moyang saya bernama Raden Metali bin Raden Salih(Saleh??).Dia telah berhijrah kaPontianak dripada jajahan Belanda pada 1800+++ kemudian berhijrah kSabah Msia dan berkhwin dgn orang Sabah.Dengan membawa 3 orang anak perempuan berhijrah kBrunei.Sekira dapat dbantu carikan keluarga2 yg masih ada tolong email kan pada saya.trima kseh.

Komentar oleh rogayah

Mas Nurdayat, saya Agoes Tirto dari Malang, menurut Buku Silsilah Keluarga kita meski P.Aryo Balitar bukan putra Mahkota, tapi beliau putra kandung PB.II. Yang ingin kami tanyakan siapa nama ibu P.Aryo Balitar ? jadi adipati dimana P.Aryo Balitar tersebut ? siapa saja anak PB.II ?
Matur nuwun, mohon dibalas ke email saya.

Komentar oleh AGOES TIRTO

kekuasaan memang selalu membuat perselisihan, karena dari dulu sampai sekarang kelihatannya asyik kalau ngomongin kekuasaan… terimakasih artkelnya kang, buat referensi sejarah saya…

Komentar oleh brotoadmojo

Mohon maaf, saya hanya ingin tahu saja silsilah keluarga saya dari garis bapak saya. Menurut cerita Mbah2 saya dan bapak saya, keluarga kami masih keturunan dinasti mataram, yg saya dengar kami ada keturunan dari Roro Ireng dan Raden Rempak Boyo. Yang mau saya tanyakan apa kaitannya kedua nama tersebut dengan kerajaan Mataram? Kepada siapa saja yang mau membantu menjelaskan dengan detil saya sangat mengucapkan beribu-ribu terimakasih. Mohon dibalas via email saya, wassalam.

Komentar oleh eko priono




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: