The Nurdayat Foundation


Enam (6) Hal yang Mohon Menjadi Pertimbangan (atas Saran saya Wong Ndeso) Sebelum Menetapkan Sri Sultan HB X Menjadi Calon Presiden:
Rabu, 30 April 2008, 12:00 am
Filed under: Yogyakarta | Tag: ,

Saya ragu apakah di Pilpres 2009 nanti (bila masih diberi Tuhan hidup) akan menggunakan hak pilih saya. Hingga kini belum ada calon yang saya anggap cocok serta meyakinkan. Semoga saja bila saatnya tiba nanti, perbandingan profil dari para kandidat yang muncul itu menjadi lebih jelas; sehingga sebagai warga negara yang baik saya akan datang ke TPS dgn kemantapan untuk ikut menunaikan dan memberikan hak suara saya.

… Jujur, hingga kini saya memang justru menjadi heran bila disebutkan bahwa Sri Sultan HB X menduduki peringkat teratas atau terkuat dari hasil2 polling atau survey. Saya berpikir, apa sih keistimewaan Ngarso Dalem Sri Sultan HB X itu? Apa sih yang ada di benak orang2 yg disurvey atau di-polling itu; ttg performance kepemimpinan Sri Sultan HB X? Lha wong saya sebagai wong ndeso Yogya saja hanya menganggap Sri Sultan HB X itu sbg pemimpin yg biasa2 saja kok? Wah, ini sungguh aneh. Memang begitulah saya berpikir.

Perlu dan mohon diketahui oleh semuanya ya, … kalaulah Yogyakarta itu disebut Istimewa; maka yg istimewa itu adalah budayanya atau bahkan mungkin adalah rakyatnya itu sendiri ! Apakah kalian pikir yang istimewa itu adalah Sultan-nya, yang sekarang?

Sebelum kalian menetapkan untuk memilih Sri Sultan HB X menjadi Presiden, sebaiknya kalian memperhatikan poin2 yg saya tuliskan berikut ini :

1. Sri Sultan HB X selama menjabat sebagai Gubernur DIY maupun Sultan Kraton Ngayogyakarta selama ini, tidak mampu mencatatkan-menorehkan prestasi yang dapat dibanggakan

Yogyakarta sering disebut sebagai Kota Pendidikan, Kota Pariwisata, Kota Budaya, Kota Perjuangan. Apakah selama masa kepemimpinan beliau sebagai Gubernur maupun Sultan; ciri-ciri kelebihan serta citra Yogya itu mampu dipertahankan atau bahkan ditingkatkan? Tidak. Banyak hal telah bergeser, dan sayangnya tidak bergeser ke arah yang lebih baik. Itulah Yogya dalam masa kepemimpinan beliau.

Kang Donny Verdian dalam tulisannya menyatakan bahwa: .”..mempertahankan kemajemukan, tradisi serta budaya saja sudah merupakan satu prestasi yang baik, apalagi dengan kemajuan sisi modernisasi yang meskipun terkadang membikin orang kaget dengan kemajuannya yang sangat pesat, tapi look, bukankah itu semua adalah prestasi yang mau tak mau juga dinikmati semua orang,… ?

Menurut saya, kemajemukan Yogya adalah sesuatu yg sudah inheren, taken for granted (apakah penggunaan istilah saya ini benar?), akibat perjalanan masa yg panjang. Kemajemukan Yogya adalah sesuatu yang sudah menjadi peninggalan dari masa-masa waktu sebelumnya, jadi istilah mempertahankan itu kita sepakati. Jadi, kemajemukan, tradisi serta budaya; bukanlah sesuatu yg diciptakan pada waktu2 belakangan ini, apalagi pada masa kepemimpinan Sri Sultan HB X. Asset budaya Yogyakarta itu sudah ada sebelum Sri Sultan HB X menjabat sebagai Gubernur maupun Sultan, sudah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta. Kita tidak melihat adanya suatu ‘penciptaan’ (atas inisiatif Sultan, atau Gubernur) di situ, yang ada memang hanya ‘pertahanan’, bukan inovasi. Kalaulah ada inovasi, paling2 ya hanya penanaman modal dari luar utk bidang2 usaha bisnis itu. Dengan demikian, Yogyakarta dapat kita ibaratkan bagaikan “kerbau yang ter-sengal2”. Jadi, yg mirip kerbau yg ter-sengal2 itu adalah nilai2 budaya Yogyakarta, bukan kok malah saya.

Berkait dengan tanah2 Sultan Ground (atau selanjutnya juga Pakualam Ground): …Apabila Ngarso Dalem (dalam posisi sbg Gubernur) memiliki political-will untuk membereskan masalah2 pertanahan di Yogyakarta sehingga layak memenuhi syarat sesuai dengan per-undang2-an pertanahan yg berlaku di Republik Indonesia, semestinya hal ini sudah diurus. Tapi apa yang beliau lakukan? Beliau hanya membiarkannya ! Bila hanya demikian saja terus, saya kira di masa yang akan datang tanah2 berstatus Sultan Ground dan atau Pakualam Ground masih potensial untuk menyulut konflik. Jadi, harapan saya: Sebagai Gubernur semestinya Sri Sultan juga dituntut utk mampu menggunakan wewenangnya sbg Gubernur itu utk memberesi rumahtangga Kasultanan-nya. Wewenang dan anggaran dari Pemerintah Pusat utk mengurusi pen-sertifikasi-an tanah2 SG dan PG apakah tidak dapat dilakukan diminta? Untuk menuntutnya ke Pemerintah Pusat sbg bagian dari poin Keistimewaan? …Ini menyangkut bidang hukum memang, yg saya kurang paham. Namun apakah ada usaha dari pihak Kasultanan atau PA utk penyelesaian masalah pertanahan itu dari segi hukum, mengurusnya sesuai peraturan per-undang2an yg berlaku di negara RI? Apakah pihak Kasultanan dan PA merasa “gengsi” (dan malu?) kalau harus mengurusi hal itu sampai ke Pemerintah Pusat ? Padahal ini telah banyak menjadi kasus di tingkat bawah ? Dan juga akan tetap potensial menjadi sumber konflik kelak?

Yg terlihat sekarang adalah pihak Kasultanan dan PA itu glah-gleh (cuek, acuh tak peduli, ber-malas2, tak bersemangat krn pesimis merasa kurang mampu) dalam masalah pertanahan ini. Status yg kurang jelas dibiarkan mengambang terus begitu saja.

Kalau begitu caranya, itu namanya pihak Kasultanan dan PA berarti mau menangnya sendiri. Lho kok begitu? Lha iya. Wong kalo tanah itu tanah SG atau PG yg ada di pelosok atau pesisir yg kurang berharga -yg Kasultanan atau PA tak berkehendak mengelolanya- maka Kasultanan mempersilakan warga utk memakainya (padahal status kepemilikan juga tidak pernah diperjelas). Padahal itu juga tidak jelas bagaimana pembagiannya selanjutnya itu diatur. …Lha, sedangkan, kalau itu tanah2 situs budaya (yg tentu juga menjadi milik kekayaan sejarah budaya bangsa), namun strategis-ekonomis utk lahan bisnis; pihak Kasultanan (mungkin juga PA) menyatakan benarnya mengambil keputusan penuh atas namanya sendiri dgn awewaton (memakai dasar) bahwa itu memang hak-hak milik warisnya sendiri. Bukankah demikian yg terjadi?

2. Kiprah dan kapasitas-nya memang belum me-nasional, atau memang sudah terlanjur terlambat untuk go-nasional.

Tulisan ini memang opini subjektif saya; namun saya yakin 100 % bahwa saya tidak sendirian. Ada beratus-ratus orang yang saya yakini juga akan berpandangan sama dengan saya. Bila kini ada beberapa (tokoh) partai yang melamar Sinuwun Herdjuno Darpito (Sri Sultan HB X) untuk menjadi calon presiden atau wakil presiden pada Pemilu 2009 mendatang, saya berprasangka bahwa tindakan dari tokoh2 partai ini hanyalah merupakan OLOK-OLOK POLITIK belaka. Sesungguhnya harapan saya pribadi sejak semula itu adalah: agar Ngarso Dalem jangan ge-er atau kegatelan menanggapi ulah tindakan para politisi itu. Para politisi tentu sudah biasa lihai melakukan jurus-jurus mengotak-atik langkah-langkah bidak “permainan catur”-nya. Sebagai kawulo Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih punya rasa sayang kepada Ngarso Dalem Sultan-nya, saya khawatir bila Ngarso Dalem hanya akan menjadi “korban” dari permainan politik. Juga bila Ngarso Dalem muncul terlalu dini atau sekedar lebih dini daripada kandidat2 lain pun; bukan mustahil Ngarso Dalem menjadi SASARAN TEMBAK yang EMPUK bagi pihak2 yg berpandangan politik berlainan. Orang2 (seperti saya) akan kegatelan untuk segera membedah kekurangan2nya.

Buat saya bgmn ukuran kiprah dan kapasitas yg me-nasional itu marilah kita sederhanakan saja, sampai sesederhana mungkin, meskipun hingga benar2 terlalu menyederhanakan: Kalau Sri Sultan HB X benar2 berprestasi sbg Gubernur; mungkin ia sudah dipilih oleh bbrp Presiden terdahulu utk ditunjuk sbg Menteri Dalam Negeri! Tapi alangkah sayangnya memang mengapa Ngarso Dalem tidak pernah ditunjuk sbg MenDaGri dalam kabinet2 yg dibentuk oleh Presiden2 terdahulu itu. Kalau saja Ngarso Dalem ditunjuk sbg Mendagri tentulah itu jalur yg paling pantas, paling layak, paling “tepat pada jalurnya” sebagai anak tangga karier berkiprah mengembangkan sayap pada level nasional. Tapi bukankah Ngarso Dalem tidak pernah ditunjuk menjadi anggota Kabinet oleh Presiden2 terdahulu yg manapun? Mengapa para Presiden itu tidak mempertimbangkannya? Ya tidak tahu. Apakah karena dipandang kurang mampu? Apakah karena dipandang memang bukan domain yg pantas diberikan (artinya cukuplah Sultan menjadi simbol budaya saja)? Apakah justru karena ditakutkan akan menjadi pesaing politik yg potensial? Ya tidak tahu. ..Tapi, lha ini bagi saya sbg supporter Sultan dari Yogya juga agak menyayangkannya, kok. Lha tahun depan Ngarso Dalem sudah yuswo (berusia) 63 tahun, je. Kalau memang mau dipercaya di tingkat nasional ya ini waktunya. Bila tahun 2013 saat usia beliau 68 tahun apakah tidak terlalu lanjut?

3. Kecerdasan, kesigapan, kecermatan, ketegasan dan kebijaksanaan Sri Sultan HB X sebagai pemimpin kurang meyakinkan.

Poin ini sesungguhnya juga harus saya dan Anda kaitkan dengan poin no.1 (ttg prestasi sbg Gubernur). Bila saja Sri Sultan HB X itu adalah memang benar2 seorang pemimpin yg cerdas, sigap, cermat, tegas dan bijaksana; mungkinkah kepemimpinannya sebagai Gubernur DIY kemarin itu hanya menghasilkan sesuatu hal yg biasa2 saja? Bahkan ada beberapa kesalahan (perhitungan) dan kekeliruan pilihan kebijakan? Maka setelah turut memperhatikan dan mengikuti jalannya pemerintahan DIY di bawah kepemimpinan beliau selama beberapa periode ini, ijinkan saya sbg rakyat awam menganggap bahwa beliau ini sering kurang pas dalam menetapkan mana kebijakan yang prioritas, serta mana pula yang tidak prioritas. Tampaknya beliau juga sering kurang pas / kurang jitu menanggapi/merespon isu-isu yang muncul di masyarakat (kecuali melontarkan himbauan yg berdasarkan wangsit atas ramalan2 bencana alam, yg sering tidak pas pula itu). Mana2 pula kebijakan2 yg sesungguhnya benar2 dibutuhkan oleh rakyat Yogya, bgmn cara mengukur dan menetapkannya (itu juga perlu mjd hal yg dilakukan oleh pemerintahan model kini ‘kan?), komunikasi2 politik dan penjaringan aspirasi macam apa yg pernah dilakukan utk kesejahteraan rakyat (selain Pisowanan)?. Ukuran2 dan tonggak2 apa yg telah beliau letakkan untuk menjadi landasan bagi penerus beliau berikutnya setelah beliau tidak lagi menjabat sbg Gubernur dan Sultan (misal krn lanjut usia, lalu digantikan oleh puteri beliau misalnya; juga tidak jelas)? Saya tidak melihat komunikasi2 politik utk kesejahteraan rakyat Yogya telah dilakukan dgn optimal, ya selain model2 Pisowanan itu. Tapi mungkin bagi sebagian besar rakyat Yogya, kalau sudah dapat melakukan Pisowanan unjuk kesetiaan kepada Ngarso Dalem; dengan itu saja mereka memang sudah marem (puas) dan bahagia tiada tara. Ya memang seperti itulah Rakyat Istimewa Yogyakarta.

Sebagai tokoh nasional dalam ranah budaya (ijinkan saya menganggap menasional-nya beliau adalah dalam hal kebudayaan), beliau sering diundang menjadi pembicara dalam seminar2. Saya sesungguhnya benar2 ingin tahu: Apakah para peserta seminar itu benar2 mendapatkan ilmu dan pencerahan dari speech2 beliau itu? Apakah referensi dari orang2 asing yang beliau pakai dalam orasi2 beliau benar2 menampilkan pencerahan2 yang memadai, ataupun ketercerahan? Beliau diundang menjadi pembicara dlm seminar2 beliau itu karena makalah2 dan speech2 beliau memang berkualitas; ataukah karena beliau dianggap oleh penyelenggara seminar memang sepantasnya dihadirkan karena sebagai representasi tokoh budaya dan nilai tradisi?

4. Gaya Sri Sultan HB X dalam berkomunikasi dengan wartawan kurang simpatik.

Inti mengapa saya mengambil poin ini adalah juga karena didorong harapan saya sebagai kawula Yogya karena melihat realitas bahwa Ngarso Dalem adalah juga telah, sedang dan akan menjadi figur politik. Seorang ‘figur politik’ harus benar2 mengemas gaya komunikasinya dengan se-baik2nya. Setiap saat ketemu dgn wartawan, itu adalah juga sama saja dengan tampil di hadapan publik. ‘Strategi pencitraan’ harus sudah masuk dalam pemikiran Ngarso Dalem maupun orang2 yg mungkin akan ada di belakang beliau sebagai ‘tim sukses’-nya kelak bila benar2 akan maju sbg calon pada PilPres mendatang. ‘Brand-image’ sbgmn dalam pemasaran kiranya juga harus mulai dipikirkan. Dalam dunia politik; bukankah ‘pencitraan’ itu memang sangat penting? Persepsi dari rakyat pemilih adalah menjadi sesuatu yg dipertaruhkan dan diperebutkan, meskipun persepsi itu sifatnya subjektif. Sekali lagi, persepsi subjektif dari setiap benak kepala rakyat adalah sesuatu yang harus dimenangkan dan memang diperebutkan. Setiap kandidat memang akan diadili, termasuk oleh persepsi2 subjektif dari setiap benak kepala rakyat pemilih.

Persepsi subjektif saya, menangkap bahwa Ngarso Dalem tidak memiliki “nilai lebih” dalam cara beliau tampil di hadapan wartawan itu. Sekali lagi, ini memang subjektif. Kalo Ngarso Dalem ataupun poro kawulo lain tidak memperhatikan ini; saya masih menaruh pikiran baik (berprasangka baik), bahwa Ngarso Dalem memang priyagung yang berhati bersih, lugu dan tidak neko-neko punya pamrih; sehingga karena itulah maka dalam gaya komunikasi beliau ini maka memang tidak dipoles, polos, tidak di-buat2. Jadi, gaya berkomunikasi itu dilakukan apa adanya tanpa perlu dijaga persepsi2 negatif yg mungkin saja timbul di benak publik.

Tapi dari sekian banyak komentar yg masuk, nyatanya hanya Kang Donny yg membantahnya, dan itupun malah membelok dari substansi pokok yg mau saya angkat. Tentulah bukan penggunaan bahasa Jawa itu yg saya kritik, karena banyak juga (saya yakin saya ini termasuk) yg menjadi lebih simpatik ketika yg digunakan adalah bahasa Jawa. Saya ini adalah orang Jawa ndeso. Di kampung saya pun, saya adalah pelopor pengguna bahasa Jawa kromo inggil (utk tetap digunakan sbg bahasa utama) dalam rapat2 kampung; dgn tujuan agar tradisi luhur ini memang terus dilestarikan. Sedangkan, saya adalah seorang kawulo alit ndeso. Sama2 bahasa Jawa, yg digunakan dlm konteks saya dgn Ngarso Dalem tentunya bagaikan bumi dan langit. Ada sedikit problem dilematis juga mungkin saat Ngarso Dalem ketemu dgn para wartawan itu. Sementara ini yg sering saya lihat memang kalo pas beliau bertemu dgn wartawan2 Yogya/lingkup budaya Jawa. Kalo mau pake bhs Indonesia ya mungkin beliau menganggap bahwa para wartawan itu adalah kawulo2 Jawi, mengapa kok malah pake bhs Indonesia? Mungkin begitu.

Yang saya tuliskan di posting terdahulu adalah: “…Yang terlihat adalah ia memang sering memakai bahasa Jawa saat menanggapi wartawan itu; namun itu tidak menampilkan apa-apa, selain hanya terkesan bahwa beliau meremehkan wartawan!…” … Penggunaan bahasa Jawa saya kira memang berimplikasi kepada kompleksitas, termasuk kompleksitas dampaknya terhadap persepsi pendengarnya. Mungkin ini dikarenakan karena bahasa Jawa memakai tingkatan2 (ngoko, kromo, kromo inggil, juga Bagongan di dalam kraton) itu. Saya justru membayangkan aduhai eksotik-nya bila Ngarso Dalem kerso ngagem (mau menggunakan) bahasa Bagongan saat berbicara dgn wartawan itu. Namun bukankah itu juga hampir mustahil? Nanti kesannya malah lucu bila di luar kraton kok menggunakan itu. Tapi bahasa Jawa yg dipakai Ngerso Dalem (yaitu tentu saja ngoko), kesannya seperti menempatkan para wartawan itu bagaikan anak2 kecil rakyat di hadapan Sultannya betul2. (Tapi ‘kan memang begitu, ya? :D). Penggunaan bahasa Indonesia saya kira justru lebih mengurangi persepsi2 yg kurang pada tempatnya. Apalagi tidak jarang Sultan menghadapi wartawan adalah juga saat dalam posisi sebagai Gubernur, dan apakah yakin wartawan itu dari media di lokal Jawa dan orang Jawa maka tahu Jawa?

Saya hanya berharap agar gaya komunikasi yg beliau tampilkan adalah gaya/cara berkomunikasi yang anggun, penuh kewibawaan namun tetap rendah hati, mengasihi rakyat serta tetap tampil sederhana. Harapan ini saya ungkapkan justru karena saya masih punya rasa tresno dan ngeman kepada beliau.

5. Sri Sultan HB X banyak melontarkan idiom2 magis-mistis ke publik, seakan menyatakan dirinya adalah raja Jawa yang sakti yang selalu mendapat wangsit dari alam gaib, sekaligus mencobakan itu seakan mengetes kepercayaan dan kesetiaan rakyat Yogyakarta khususnya dan sekitarnya umumnya akan hal tersebut.

Sekali lagi saya harus mengakui bahwa ini sudah masuk ke dalam wilayah persepsi yang subjektif. Apa yg ditangkap di benak kepala orang yg satu sangat mungkin berbeda bahkan berlawanan dgn apa yg ditangkap oleh benak kepala orang lain. Namun ijinkan saya membela diri juga. Semua apa yg saya tulis itu memang adalah sebuah OPINI PRIBADI, yg dgn demikian memang tentu saja subjektif, sekedar menceritakan apa yg ada di dalam benak kepala saya semata. Kemampuan utk menjelajahi dan mencakupi berita2 yg beredar di media pada saat kejadian2 itu berlangsung, ternyata juga sangat mempengaruhi persepsi yg kita peroleh saat itu hingga sampai akhirnya kita memperoleh sumber berita yg lebih tepat sesuai kenyataan. Saya kini telah melakukan lagi ‘penyelidikan’ (=riset?) tambahan lewat internet ini juga; ttg berita2 apa dan bagaimana sesungguhnya yg dilakukan oleh Ngarso Dalem, dasar landasan beliau melakukan itu, serta maksud tujuan beliau utk keselamatan rakyat beliau yg beliau cintai, sekaligus juga menetapi amanat jabatan beliau selaku Gubernur.

Saya harus mengakui bahwa setelah membaca dan mencermati lagi bbrp berita yg berkait dgn itu, maka bbrp ‘prasangka buruk’ itu senyatanya memang semestinya saya tanggalkan. Apalagi mengingat bahwa sebagian dari prasangka adalah dosa. Tapi lihatlah betapa tidak semua orang juga membantah persepsi subjektif saya ini, bahkan ada bbrp yg menyatakan menyepakatinya.

Namun ada juga bbrp berita atau tulisan orang dlm forum2 yg menuliskan bahwa Sultan pernah memberikan pernyataan ramalan ttg bencana alam. Dan akhirnya yg terjadi tidaklah sesuai dgn ramalan beliau. Saya tidak jelas dlm hal ini.

Satu hal yg juga saya tekankan dlm hal ini adalah harapan terjaganya semboyan Sabdo Pandhito Ratu, datan keno wola-wali. Sabda seorang raja tidak boleh leda-lede (=plin-plan). Sekali seorang raja mengeluarkan sabda, itu pantang ditarik kembali. Ini berkait dgn wibawa Sang Raja. Bila Raja bersabda tidak konsisten, maka tentulah wibawanya berkurang, karena kepercayaan rakyat kepadanya menurun. Maka dari itu seorang Raja semestinya harus sangat ber-hati2 dalam mengeluarkan statement.

6. Putri kedua beliau hamil sebelum menikah.

Ketahuilah, bahwa ada banyak ‘cerita rakyat’ yg beredar di kalangan kawulo alit di ndeso-ndeso ttg hal2 yg menjadi kabar burung ttg hal2 yg rahasia di balik bilik2 dan tembok istana Kagungan Dalem dan rahasia2 para priyagung di masa lalu. Saya bilang, itu adalah ‘cerita rakyat’. Saya memiliki beberapa cerita yg saya warisi dari simbah2 saya di ndeso; lalu karena turun-temurun diceritakan, maka sampai kepada saya. Itu cerita ttg para Sultan atau putri (Mataram: Yogyakarta, Surakarta) dari abad2 yg lalu. Ada cerita yg menjadi tembang bocah yg mungkin mereka nyanyikan saat bocah2 itu dolanan. Ada yg dirangkai dalam tembang Wirangrong. Itu menyindir para Sultan atau putri. Sebagian dari itu tentu telah punah pula. Hal2 seperti ini tentu tidak akan terdokumentasikan, dan tidak ada yg berani mendokumentasikannya.

Banyak pembaca menyatakan bahwa masalah seperti ini tidak ada hubungannya dengan (gaya) kepemimpinan (Ngarso Dalem). (a.l: Tikabanget, Veta Mandrabros, Bah Reggae, Goenawan Lee?, Donny Verdian ikut pula). Saya menghargai itu, dan saya hanya berharap smoga yg berkomentar belakangan itu bukan hanya latah ikut2an kepada yg berkomentar lebih dulu. Di jaman post-modern ini (ijinkan saya utk memakai istilah ini, meskipun saya sesungguhnya juga belum begitu paham artinya) saya kira sangat wajar bila muncul perbedaan nilai2 dlm masyarakat; berlatarbelakangkan perbedaan tradisi budaya, adat lokal, filsafat, ideologi, agama, dsb. Maka dalam hal ini saya akan memakai “kerangka post-modern”; yaitu menerima keberagaman realitas, unsur, permainan; dengan logikanya masing-masing tanpa harus saling menindas atau menguasai.… J

Namun hendaknya pembaca semua juga mengingat bahwa kekuatan kepemimpinan Ngarso Dalem adalah karena berlandaskan latar kepemimpinan budaya. Bila ditanyakan: budaya yg mana? Ya budaya Jawa ‘kan? Apakah budaya Jawa ketimuran dengan warisan tradisinya kini juga telah bergeser sehingga tidak lagi menempatkan –putri yg hamil sebelum nikah- itu mjd semacam “aib bagi keluarga”? Dalam hal ini juga bukan berarti mjd tujuan saya utk menebar fitnah atau membuka aib keluarga priyayi luhur yg kita pepundhi. Soalnya ‘kan saya ini memang wong ndeso? Dalam berpendapat maka saya memang akan memakai nilai2 ndeso. Sbg wong ndeso saya bertanya: Apakah ini tidak berarti bahwa posisi Kraton dan Sultan sbg ingkang dipun pepundhi lan pun tuladhani (yg dimuliakan dan diteladani) mendapatkan sedikit cacat? Saya juga tak menganggap diri saya suci, namun masalahnya Ngarso Dalem beserta keluarganya adalah panutan.

Dari satu-dua forum yg saya baca, ada satu-dua anggota forum mengaku orang Yogya yg memang bahkan juga meragukan kepemimpinan Sultan karena hal yg dinyatakannya: putri(2) beliau Sultan education dan morality-nya kurang beres. Itu dia yg bilang. Tapi ada juga yg mengaku pernah jadi teman putri Sultan dan menyatakan bahwa putri2 Sultan sangat sederhana. Yg bilang pertama menyatakan begini: Kalau mengurusi keluarganya saja tidak bisa, bagaimana pula ia mau menjadi pemimpin. Saya kira hal seperti ini masih menjadi perhatian banyak orang Jawa, namun demikian orang Yogya memang baik hati dan pemaaf.

Sejak awal sesungguhnya saya tidak memaksudkan poin2 alasan kurang respek saya itu adalah khusus utk grand concept (mengikuti istilah Kang Donny) kepemimpinan. Yah, artinya; saya memang agak kurang respek saja; ..dan alasannya adalah poin2 tersebut.

-o0o-

Link Terkait Topik Ini: (up-dated)

Forum Detik: Apa Sih Hebatnya Sri Sultan Hamengkubuwono X?

Yogyakarta adalah Istimewa, Bukan Minta Diistimewakan


27 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Karena nama saya banyak disebut, maka saya berkomentar di sini.
Bagi saya posting ini adalah koreksi sedikit dari posting Anda sebelumnya kan?

Saya cuma mau nge test satu hal yang menurut saya cukup membuat saya enggan untuk melanjutkan tulisan Anda sesudahnya.

Yaitu tentang kemajemukan.
Anda bilang kemajemukan yang ada di Jogja itu sudah ada sejak dulu. Betul! Saya setuju!

Tapi yang jadi pertanyaan saya adalah, bagaimana Anda menjamin bahwa ketika Ngarso Dalem sudah tidak jadi gubernur (yang menurut Anda berprestasi biasa itu) maka kemajemukan itu tetap akan terjaga dengan baik?

Yakin tidak ada penggusuran tempat ibadah oleh oknum tertentu?
Yakin tidak ada pemaksaan terhadap satu etnis tertentu oleh oknum tertentu pula?

Kalau jawaban Anda “Yakin” jelaskan keyakinan Anda.
Kalau jawaban Anda “tidak yakin” maka saya katakan bahwa prestasi HB X salah satunya adalah dengan mempertahankan itu semua🙂

Saya mohon petunjuk Anda. Balaskan komen ini supaya saya punya semangat lagi untuk membaca tulisan Anda hingga bawah kali ini:)

Dan tolong, jangan pakai kata-kata Wong Ndeso atau ungkapan rendah diri lainnya. Di mata saya dan teman-teman (beberapa yang saya kenal) gaya pengungkapan rendah diri panjenengan itu malah kurang pada tempatnya dan seakan-akan menjadikan excuse terhadap kesalahan/kekhilafan Anda.

salam sejahtera dari saya.

Kang Nur @ Kang Donny Verdian:
Sebelumnya saya mohon maaf, Kang (smoga saja sampeyan berkenan dgn panggilan saya ini). Sesungguhnya setelah saya menulis ini, saya sudah memasang trackback/ping (atau apa pula namanya itu) di bawah fasilitas WordPress saya ini; link ke tulisan tanggapan Kang Donny itu dan juga ke blog bbrp pembaca lainnya yg juga sudah memasang trackback ke tulisan saya yg dulu itu. Dgn demikian saya maksudkan tulisan saya ini sudah otomatis akan terkutip di tulisan Kang Donny itu, di kolom komentar-nya, dan otomatis pula Kang Donny akan dapat melihatnya; bahwa saya sudah menulis tanggapan balik lagi. Jebul ternyata belum muncul. Mungkin krn tidak sama2 bernaung di fasilitas wordpress, apa ya?😀 Maaf. Bukan maksud saya menulis komentar panjang tanpa permisi memberitahu Kang Donny. Ini soal teknis yg saya sbg pemula maka mohon maklum bila belum begitu paham. Baru saja saya mau memeriksa ke blog Kang Donny, e e, ternyata komentar Kang Donny sudah tiba muncul. Maka saya akan datang ke blog2 ybs utk memberitakan bahwa saya sudah membuat tulisan baru sbg koreksi ini. Nha, ceritanya begitu.🙂 Dan saya memang sangat menghargai Kang Donny karena telah mau menulis tanggapan yg panjang atas tulisan saya tsb.🙂 …Tulisan ini memang sekaligus utk menanggapi dgn panjang pula tulisan Kang Donny tsb. Krn bila saya menulis panjang langsung di blog Kang Donny, tentu kurang sopan, dan me-menuh2i blog Kang Donny saja.
Jawaban saya atas pertanyaan Kang Donny adalah: …e e…, saya bertanya dulu: mengapa Kang Donny memakai kata “ketika Ngarso Dalem sudah tidak jadi gubernur …”? Tolong periksa lagi: Saya tidak pernah menyatakan bahwa Sultan bukanlah yg terbaik utk Yogya saat ini. Bukankah demikian? Saya memang mengkritik performance Sultan sbg Gubernur di periode yg lalu. Saya hanya berharap agar Sultan meningkatkan kinerjanya utk kesejahteraan, penyejahteraan warga Yogya. Bukankah saya juga tidak pernah menyatakan menuntut diselenggarakannya Pilkada di Yogya? Kalaupun Pilkada diselenggarakan, bukan mustahil kok saya juga tetep milih Sultan.😀. Lha kok begitu? Saya tidak konsisten? Ya bukan dong, jangan sebut saya tidak konsisten. Kalau ada Pilkada, ‘kan lalu kita ada kesempatan mem-banding-kan antar calon dgn lebih jelas dan terbuka? Visi-misi programnya semakin kelihatan ‘kan? Lha kalo calon yg lain tidak lebih baik, ya pilih saja yg dulu, ditanggung lebih aman tenteram, meskipun sebenarnya juga tidak puas. Begitu kan boleh to? …Dan juga, ..percayalah ini: Pilkada Yogya itu sudah jelas TIDAK AKAN DISELENGGARAKAN periode ini. Itu mustahil; ditinjau kelayakan dan kesiapannya dari segala segi. Maka marilah kita lepaskan pikiran kita dari belenggu bayangan Pilkada Yogya. Itu tidak akan ada tahun ini. Kita semua dapat nyicil ayem. Ya, to? Tidak akan ada hiruk-pikuk keributan, kampanye dan segala macem. Buat apa sih Pilkada sekarang? Saya juga hanya berharap agar program penyejahteraan warga Yogya dapat terlihat meningkat, kok.
…Tulisan saya ataupun pikiran orang yg membaca tulisan saya itu memang harus selalu men-cabang ke dua arah, yaitu: lokal Yogya, dan nasional RI. Saya hanya tidak setuju bila ‘prestasi’ Sultan mempertahankan kemajemukan, tradisi serta budaya Yogyakarta itu; dijadikan sebagai alasan untuk menjagokannya sebagai calon Presiden RI. Yogya adalah kota kecil, propinsi kecil juga. Saya mau dan rela mengibaratkan bahwa Yogya memang “rumah” Sultan. Dan saya juga mau dan rela pula mengibaratkan bahwa semua warga Yogya (termasuk saya), juga yg dari luar lalu menetap adalah kawulo-nya; lalu orang2 yg tinggal sementara utk sekolah, kuliah atau kerja adalah tamu beliau. Kawulo dan tamu yg baik tentu janganlah membikin keributan di rumah kediaman milik tuan rumah di hadapan hidung sang tuan rumah itu pula. ..Tapi, ..Indonesia adalah jauh lebih kompleks; dan bukan pula hanya merupakan halaman rumah perluasan dari rumah milik orang2 Jawa-Mataram.
..Sedangkan, kembali ke pertanyaan Kang Donny:”Bagaimana saya menjamin bahwa ketika Ngarso Dalem sudah tidak jadi gubernur (yang menurut saya berprestasi biasa itu;...kata sudah tidak jadi -sudah saya koreksi di depan) maka kemajemukan itu tetap akan terjaga dengan baik? … Maka, saya balik bertanya dulu: Apakah kemajemukan yg selama ini terjaga itu adalah se-mata2 berkat hasil usaha dari Sultan? Sedemikian besar itukah ketergantungan masyarakat Yogya terhadap figur Sultan sbg pengayom dan pemersatu? Kalau ‘ditinggal’ oleh Sultan maka pasti warga Yogya akan bercerai-berai dan dipastikan akan berkelahi satu sama lain? … Kalau misalkan Sultan bukan lagi sebagai Gubernur, apakah ia juga sudah bukan Sultan lagi? …Sebenarnya hal yg terkait dgn Pilkada sudah tidak relevan lagi utk dipermasalahkan; mari kita tenang saja. Kiranya Sultan masih akan ngayomi kita semua warga DIY sesuai prosedur nanti hingga th. 2013. Tenang saja, Kang. Ora2-ne tangga2ku wong Yogya ngrubut njenengan, mung mergo Gubernur-e Yogya tidaklah sama dengan Sultan-e.
Saya YAKIN itu. Masyarakat Yogya adalah masyarakat yg sudah dewasa. Masyarakat Jawa umumnya juga sangat dikenal sbg selalu bersikap menjaga harmoni, luwes, dan “sarwo mlebu” (semua dari mana2 bisa masuk dan menyatu). Sejak sebelum dan pasca-reformasi saya juga selalu merasakan itu di lingkungan tempat tinggal saya. Persaudaraan Antar Iman juga tercipta, atas kesadaran umat antar iman itu sendiri; bukan karena di-dhawuh2-i karo Ngarso Dalem. Tenang saja, Kang. Ora2-ne tangga2ku wong Yogya ngrubut njenengan, mung mergo Gubernur-e Yogya tidaklah sama dengan Sultan-e. Tahun iki ora ono Pilkada. …Saiki ayo mikir piye carane sak-upomo awake dhewe dadi Tim Sukses-e Ngarso Dalem supoyo biso dadi Presiden. (Kang Donny paham bahasa Jawa, ‘kan?)

Komentar oleh Donny Verdian

Terimakasih untuk pelurusannya, Kang Nur
Matur suwun sanget.

Ya kalau begitu saya setuju dengan panjenengan kalau konteks bicara Anda itu diletakkan dalam kerangka kepemimpinan nasional.

Mungkin saya terbawa pada pembicaraan orang-orang akhir-akhir ini mengenai penggantian gubernur dan lain sebagainya.

Saya sangat memahami penjelasan Anda, cukup bagus.
Saya akan teruskan membaca.
Kalau ada pertanyaan tentu saya akan bertanya lagi,
kalau tidak ada berarti saya anggap saya setidaknya “abstain” terhadap pendapat Anda🙂

Mekaten..
nanging aku yo wegah nek kon dhadi tim sukses-e, aku luwih seneng Ngarso Dalem neng Jogja wae.

Salam sejahtera

Komentar oleh Donny Verdian

Ya setuju dengan poin nomer 1. Sebagai orang Jogja, selama kepemimpinan HBX tidak ada terobosan baru yang meningkatkan Jogja.

Komentar oleh Si Buncit

Wah komentarku masih pake nickname si buncit.. malu aku..

Komentar oleh Dino

wah, bagus sekali tulisannya…

anyway,
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren

Komentar oleh chuanwei

kalo jadi presiden? gak lah yaw :D…..
kan masih pake wong ndeso, ini mah wong ndeso yang berintelektual tinggi😀. eh mas blog ini dimasukin ke projotamansari.com aggregrator blog wong mBantul, sampeyan rak mBantul to?

Kang Nur:🙂 Whualah iya itu.. saya tadi nengok ke projotamansari… lha kok ‘sampah2’ buatan saya ditaruh disalurkan ke situ? apa ya tidak ngotor2i projotamansari aja?🙂

Komentar oleh veta

Di posting revisi ini belum juga menjelaskan secara gamblang bahwa “Dari mana logika Kang Nur yang mengatakan kalau Putrinya hamil di luar nikah maka Bapaknya gak kapable jadi Presiden?”. Juga relevansinya dengan pendidikannya yang hanya “Lulusan Fakultas Hukum UGM?” Jelas juga dalam kerangka pembicaraan Kepemimpinan Nasional.
Yah kalau hanya dasarnya adalah budaya Jogja yang menilai negatif kehamilan di luar nikah, maka sebaiknya Kang Nur membahas tentang beliau dalam kapasitasnya sebagai mantan Gubernur Jogja. Dan tentu saja tanpa membuat analogi baru bahwa “kalo mengurus anak saja nggak becus ya apa mampu jadi mantan gubernur yang nyalon presiden”. Ndak relevan dengan lingkup pembicaraan Kepemimpinan Nasional.
Satu lagi, setahu saya juga bukan dari Jogja budaya mengulas panjang lebar borok orang lain ini (khususnya dalam hal aib), jadi jangan membuat Kang Nur sendiri tampak seperti anjing yang menggigit babi.
Oh iya satu lagi, dari mana Kang Nur tahu kalau lulusan luar negri itu PASTI lebih baik dari lulusan Fakultas Hukum UGM atau fakultas-fakultas dalam negri lainnya? Ada hubunganya ndak sama “Wong Ndeso”?.

Kang Nur @ Kang Roman:
Wah, kalimat Kang Roman tertata; dan panjang, tapi isinya kurang bermutu.
SAYA TIDAK MENYATAKAN BAHWA: HANYA ORANG2 YG PUTRINYA TIDAK HAMIL SAJALAH YG KAPABLE JADI PRESIDEN. Memangnya saya ngajak kalian2 untuk menghamili putri2 kandidat calon Presiden yg kurang kalian sukai (krn kalian anggap kurang kapable), agar orangtua mereka dianggap tak layak-mampu menjadi Presiden apa? Apa begitu?

Kalo Kang Roman membaca utuh semua jawaban2 saya atas komentar2 yg masuk, itu adalah lebih baik; dan tidak nambah2 tugas saya utk menjawab pertanyaan Kang Roman ini secara tersendiri. Sudah baca belum? Belum baca ya? Kalo Kang Roman belum berlatih ber-sabar2 utk membaca; jangan terlalu ter-gesa2 dan bersemangat utk ber-tekun2 menulis komentar. Nanti komentar Kang Roman menjadi kurang bermutu dan kurang nyambung dgn isi keseluruhan wacana yg sedang berlangsung.
Komentar Kang Roman yg panjang jadinya tidak banyak memperkaya perspektif, karena sudah ada dalam tulisan2 itu.
Soal hamil itu saya kira memang harus disendirikan. Itu saya akui.
Ki Ageng Mangir adalah orang Jogja juga ‘kan? Tahu Ki Ageng Mangir nggak? Tahu Wong Samin nggak? Kalo anjingnya adalah saya, siapa yang Kang Roman maksud dgn “babi” itu? Kang Roman me-ngata2-i … ya?
Soal UGM itu; lihat tanggapan saya pada komentar Andrias Ekoyuono. Ini adalah bagai “krn melihat sungai yg kering, maka saya akan men-cari2 dan meng-obok2 mata airnya”. Ikan2 sudah menggelepar, mata air harus bertanggungjawab. Paham tidak dgn pengibaratan ini? Apa semua harus saya terangkan harfiah?
Berpikirlah yg besar; jangan berpikir yg remeh2. Kang Roman mencari kesalahan yg remeh2, tapi tidak menghargai usaha besar saya. Kang Roman harus menghargai tulisan saya yg membawa resiko besar bagi saya ini. Paham nggak? Kang Roman sendiri sudah berbuat apa untuk bangsa ini? Utk masyarakat budaya Kang Roman? Kang Roman menganggap saya ini ber-main2 ya? Kang Roman hanya mempermasalahkan kata2, sedangkan saya memprihatinkan nasib kebudayaan masyarakat saya ke depan.
Kang Roman paham Problema Keistimewaan Yogyakarta nggak? Saya yakin Kang Roman bukan orang Yogya ‘kan? Dan belum pernah tinggal di Yogya ‘kan? Kelihatan, kok. Kalo nggak paham, jangan kebanyakan komentar. Silakan baca dulu posting2 saya yg lain di blog ini juga.
Kita tidak nyambung. Kang Roman hanya mengajak saya utk ber-main kata2. Sedangkan kami orang Yogya, bicara dalam keprihatinan, bahkan mungkin juga dengan kebingungan. Hargailah itu.
Sudah ya? Capek nih.

Komentar oleh Roman

Kalo orang Malang, bisa milih enggak ya.🙂

Kang Nur @ Kang Nongkrong:
Apa pula maksud komentar Kang Nongkrong ini? Ada-ada saja. Apa yang dimaksud dgn “bisa milih enggak” ini? Ini Serius? Menyindir? Mengacau? Apa gak paham krn cuman nunut absen koment di posting saya yg terbaru? Cuman mbalas kunjungan saya ke blog Kang Nongkrong, lalu Kang Nongkrong asal main tulis koment saja, ya? Kalo caranya begitu, bukan hanya saya yg terganggu; namun juga pembaca2 yg lain yg mengikuti wacana ini.

Komentar oleh Nongkrong

from malang to jogja with love😉

Kang Nur:
love you very much since the first sight😉

Komentar oleh perempuan

Mmg ada yg beranggapan begitu. Klo ngurusin kelg aja gak bisa, gimana ngurusin soal yg lebih gede lagi.

Tp juga ada yg menganggap “aib” itu semacam force majure. Ibaratnya di jalan. Udh ngati2, di jalur yg semestinya, ee masih ketabrak org lain juga.

Dalam keadaan begitu, jika yg terjadi benar spt itu, lalu gimana kita bisa memakainya unt menilai kemampuan seseorang dlm mengemudi?

Di samping itu, tentunya masih ingat juga kita kelebatan2 info soal “lembu peteng”, atau “inisiasi remaja” lewat “ngenger” pada mereka yg dianggap mumpuni agar diajarin hal2 yg bagi org lain bisa saja dianggap sbg tabu.

Artinya, jika itu benar, soal hamil itu bukan barang baru. Setidaknya soal lewat lembu peteng dan inisiasi itu akan menjadikan soal hamil itu sbg default. Dipersoalkan ok, nggak pun lebih ok lagi.

Ada lagi ini: Berbahagialah mreka yg tak beraib. Tapi, mreka yg beraib pun tidak harus mrasa — krn dirinya sendiri atau org lain — tak berhak lagi untk berbahagia.

Jadinya, aib/tak aib adalah urusan bahagia/tak bahagia. Hemat saya lho, menjadi agak dipaksakan jika soal itu dijadikan ukuran kapasitas seseorang unt memimpin.

Lebih dari itu, ngrasani lewat kapasitas, apalagi obyeknya sultan, memang riskan, untuk bisa mak nyus bagi bagi banyak orang. Pasalnya, sultan, bagi banyak orang, bukan sekedar soal kapasitas.

Karenanya, apa yg semula dimaui dpr dan hasil jajak pendapat sebelum pisowanan agung itu — tentang mekanisme jabatan gub/wagub — sekali bagi bagi saya lho, kok rasanya malah lebih kena. Njawani.

Kang Nur @ Bah Reggae:
Kemarin mBah Reggae bilang: “Wah, asyik. Lebih asyik lagi, hemat saya, klo soal hamil sebelum nikah gak usah dijadikan sorotan, bos.”
Trimakasih kalo mBah memang menganggap dan menyatakan bahwa tulisan saya itu benar2 asyik. (Bukan nglulu ‘kan ya? Bukan sinis ‘kan? He..he…). Lha soalnya saya baca di blog mBah, tulisan2 mBah itu banyak memakai kata2 dan kalimat2 yg bersayap, je. Kalo seperti itu, saya anggap ya kurang pantas memakai predikat “semprul sontoloyo”, dong. Itu mah namanya “sinyal2 bersayap”; soalnya tidak terlihat adanya keyakinan, sikap dan bentuk concern yg jelas di dalamnya. Referensi2 mBah sangat luas dan mendalam, namun hanya menuliskan tebak2an, teka-teki; membukakan jalan2 utk tumbuhnya ‘kreativitas2’ prasangka bagi pembaca. Keluasan wawasan mBah hanya dibungkus dgn “sinyal2” mlulu. Tohok aja to the point, mBah. Gitu aja kok repot. Nanti kalo gak to the point; jadi kalah semprul dan kalah sontoloyo dibanding saya, dong. ..Metafor2 mBah perlu kening berkerut utk memahaminya, apalagi bagi orang yg berpikir sederhana macam saya. (He..he..he.., maaf kalo saya malah jadi mengkritik blog mBah dan gaya tulisan mBah)
Begitu pula komentar mBah Reggae yg ini. Selalu memberikan persimpangan di setiap perhentiannya. Tergantung kita mau memilih persimpangan yg mana di tiap2 perhentian itu. Si mBah ini bagaikan orangtua yg membimbing anak2 kecil utk meneruskan melanjutkan menikmati permainan. Anak2 kecil itu ya antara lain: saya2 ini.
Kata2 dan kalimat2 dalam komentar mBah Reggae ini memberikan ‘PR’ besar bagi saya. Lihatlah, betapa setiap paragraf2 pendek itu memberikan pokok2 bahasan baru yg memang sangat bernilai utk dibahas tersendiri. …Justru untuk menghormati mBah, maka saya akan menjawabnya tidak di sini. Mungkin nanti dg posting tersendiri. (Saya pun akan berterima kasih bila ada pembaca lain mau juga membahasnya. Topik ini sekarang sudah menjadi milik publik. Hue..he..he… )
(Bukannya saya tak mau tanggungjawab, lho. Kalau kalian pada hamil, aku berjanji nanti aku pasti akan menikahi kalian semua. Ya, …semuanya.) 
Njenengan mboten sare mBah, kulo nggih mboten tilem; njenengan yo nduwe kewajiban nangekke wong2 sing podho ngorok sesenggoran ! :D:D:D

Komentar oleh bah reggae

sebagai tetangga sebelah dari kota loenpia,yang saya tahu gubernur jogya gagal dengan program JOGYA, NEVER ENDING ASIA. sama dengan walikota semarang yang gagal dengn Semarang Pesona Asia (SPA).
Kalo ingin mengimbangi dengan data valid, Kang Nur sorot aja sejauh mana Sultan berhasil dengan program kepemimpinannya.
Sultan sepertinya banyak menggunakan pendekatan kultural kepada masyarakt yang pada akhirnya mampu menumbuhkan loyalitas masyarakat kepada sosok beliau, Figuritasnya sangat tinggi.

Kang Nur @ Mbakyu Aprina:
Lha ini dia baru komentar dari orang yg sudah terbiasa-terlatih utk mjd watch-dog-nya pemerintah. Jadinya bukannya sekedar mengajak utk bermain kata2. Matur nuwun (terima kasih) lho ya Mbakyu Aprina. Jauh2 dari Semarang mampir ke Yogya smoga tidak mendapati hal yg mumet2 mlulu. Maunya ‘kan sedang akan cooling-down ‘kan ya? Terima kasih atas saran dan pandangannya. Kapan2 saya ingin belajar lebih banyak lagi dari Mbakyu Aprina.😀

Komentar oleh Aprina

Salam kenal kang. Donga dinonga nggih? Slamet sego liwet.

Komentar oleh bah reggae

@Aprina: Hati-hati Mbak berkomentar bahwa Ngarso Dalem telah gagal dengan program Jogja Never Ending Asia.
Kalau Anda bilang supaya pemilik blog ini mengimbangi dengan data valid, lha mbok sekarang saya minta Anda juga menggunakan data valid kenapa Anda berani bilang bahwa Ngarso Dalem telah gagal?

Atau jangan-jangan Anda cuma nyama-nyamain dengan keadaan di kota Anda.

Mohon lebih obyektif!

Komentar oleh Donny Verdian

wah, saya ga ikut2an masalah politik deh, hehehe
terima kasih mas atas kunjungannya ke blog saya,
info magang ke jepang bisa di lihat di ayo-ke-jepang.blogspot.com atau lsg ke web pemagangan disnakertrans
yang pasti, di jogja setahun 3 kali ujian mas(seleksi).
ini ntar kl ga salah sekitar juli/agustus sama sekitar oktober
semoga bisa membantu. terima kasih🙂

Kang Nur: trimakasih infonya, akan saya sebarkan kpd komunitas anak2 muda yg saya kenal

Komentar oleh Cah Watulawang

Kang Nur @ Kang Roman:
Wah, kalimat Kang Roman tertata; dan panjang, tapi isinya kurang bermutu. >>> hahaha Setidaknya lebih baik dari posting njenengan yang lebih panjang, Lebih tertata, dan lebih nggak bermutu.

Wes ah rugi sakkabehe melu koment neng kene, sek duwe kurang pendidikane.

Komentar oleh Roman

Itu sultan mantu lagi.
Saya memberitahu Anda, barangkali Anda tertarik untuk menghitung kira-kira berapa bulan/tahun lagi anaknya akan melahirkan.
Sapa tahu bisa dijadikan alasan dan pertimbangan yang “lebih nggak mutu” lagi seperti alasan-alasan lainnya sebelumnya

Kang Nur: Wah, Kang Donny ini bisa saja.🙂 masih gemes dg tulisan saya yg itu ya? Kang Donny ini ada2 saja.😀 masak saya disuruh ng-itung2 gitu? heh..heh..🙂 lagian yg dulu itu juga bukan saya kok yg ngitung. Saya tetap mendoakan yg baik2 dan terbaik utk keluarga sultan shg slalu dapat menjadi panutan dan pengayom kebangsaan di negeri kita. Saya mohon ampun kpd Tuhan, saya juga minta maaf kpd pembaca semua.

Komentar oleh Donny Verdian

@ Donny Verdian
saya berkata demikian karena sudah ada data pak Donny, bahkan banyak pengamat yang mengatakan program tersebut gagal. di media massa setahu saya begitu, bahkan sultan sendiri mengatakan demikian. program Yogya Never Ending Asia itu bahkan sudah dikonsultasikan ke ahli pemasaran kalo tidak salah Hermawan Kertajaya tapi setelah di evaluasi ternyata “GAGAL”.
mungkin mas dony bisa lihat-liha lagi beritanya,karena seingat saya begitu.

Komentar oleh Aprina

@Aprina:
Oh ya? Wah saya malah baru tahu kalau ada datanya…
Boleh minta satu Mbak, maaf saya orangnya agak kurang bisa terlalu percaya begitu saja..:)

Juga link berita kalau memang benar-benar ada.

Saya tunggu yah.. makasih

Komentar oleh Donny Verdian

Bravo Kang Nur.
Argumen sampeyan jauh lebih maju daripada posting pertama yang dulu itu. Yang dulu terkesan berani tapi dangkal. Sekarang jauh lebih bagus. Saya bukan orang Jogja, hanya pernah tinggal di Jogja 2 tahun, tapi beberapa poin saya sepakat koq dengan sampeyan.

Hanya poin terakhir, saya kira bukan ranah yang tepat sebagai indikator kepemimpinan seseorang. Ini wilayah privat yang ada di luar kontrol orang tua manapun. Zaman sudah mereduksinya.

Kang Nur:
Trimakasih atas perhatian dari kang Anus eh.. Anusapati. Ini mendorong saya utk terus menulis, meski mungkin tulisan saya banyak tidak disepakati pembaca. Trimakasih

Komentar oleh Anusapati

Kang Nur, untuk poin ke-enam, sebaiknya Anda lebih bijak di kemudian hari, baik untuk posting yang sebelumnya, sekarang ini maupun untuk posting yang akan datang, karena isi tulisan Anda dapat “dicondongkan” sebagai “tidak menyenangkan” atau bahkan “penyerangan” terhadap pribadi atau keluarga atau ketokohan seseorang. Mungkin Anda tidak bertujuan demikian, namun Anda juga tidak “aman” jika hanya menggunakan judul “panutan” untuk berargumentasi. Ungkapkanlah dengan cara yang menurut Anda lebih bijak.

Secara pribadi, saya keberatan akan tulisan Anda pada poin ke-enam😉

Saran saya, tulisan poin ke-enam secara keseluruhan seyogyanya tidak ditampilkan secara vulgar; dengan kata lain, simpanlah untuk diri Anda sendiri saja.

Untuk itu, dengan penuh rasa hormat dan penghargaan setinggi-tingginya pada wilayah pribadi setiap manusia, saya memohon agar Anda tidak menampilkan tulisan poin ke-enam tersebut di atas.

Berkah dalem😉

Kang Nur:
Saya hanya bisa bilang bahwa semua ini sudah terlanjur. Saya mengakui bahwa perbuatan saya ini kurang benar, namun ini sudah terjadi. Mengakui tentu lebih bijak daripada seterusnya membantah. Hanya hati nurani manusiawi dari semuanya sajalah yang saya harapkan dapat memberikan maaf kepada saya. Sedangkan Tuhan pun nanti juga akan mengadili saya. Saya sebagai manusia biasa tidak akan luput dari kesalahan. ..Bila Tuhan adalah Maha Pengampun, tentulah manusia semestinya dapat memaafkan saya.

Komentar oleh Donum Theo

maaf klo tiba2 nyelonong?tapi saya sependapat dngn anda.Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)anda tau maksudnya kan?sutu daerah yang istimewa bukan suatu pemimpin yang istimewa.jadi gak pantas orang jogja mengistimewakan HBX karna rakyat dan daerah itu sendiri yang istimewa.

from:GKB Nimas Dewi Hanum dan GKB Dewi Sekar Wangi.

Kang Nur:
Terima kasih banyak atas kunjungannya ke blog saya ini, apalagi tanggapannya di posting ini.
Terima kasih.🙂

Komentar oleh NIMAS DEWI HANUM

Ikut-ikutan nimbrung ya kang Nur. Boleh ya ?.

Pertama-tama saya ingin ikut nimbrung soal kaitan Keistimewaan Yogyakarta dengan jabatan Gubernurnya.
Konsisten dengan pendapat saya di komentar ttg RUUK Yogyakarta (postingan panjenengan yang berjudul : Rakyat Istimewa Yogyakarta) bahwa jabatan Gubernur & Wakil Gubernur dengan status keistimewaan propinsi Yogyakarta itu bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama, jika dilihat dari Maklumat bersama dwi tunggal pemimpin Yogyakarta saat itu yaitu Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII.

Jadi hakekat keistimewaannya ya disitu itu, inti keistimewaanya ya disitu itu.
Maklumat itu khan dimaksudkan oleh Sri Sultan HB IX agar Kasultanan Yogyakarta & Pakualaman agar tetap ‘eksis’ tetap ‘berswapraja’ tetap ‘berkuasa’ atas wilayah tradisionalnya sekalipun menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno & Hatta.
Hal-hal yang lainnya itu khan cuma aksesoris dari inti keistimewaan status ‘swapraja’-nya itu.
Gampangannya, Kasultanan Yogyakarta & Kadipaten Pakualaman itu adalah ‘Monarki/Kerajaan yang Otonom’ dengan status setingkat propinsi yang berada didalam sistim pemerintahan Republik. Mungkin bolehlah diistilahkan sebagai Monarki/kerajaan yang menjadi ‘negara bagian’-nya Republik Indonesia.
Jadinya ya akan tak lagi istimewa jika keistimewaan jabatan gubernur diprotoli dari RUUK.

Celakanya, arus utama tuntutan Demokratisasi tak dapat lagi dibendung. Selainnya itu (mohon maaf) ada andil dari ‘kekurang cemerlangan kinerja & prestasi’ kepemimpinan Sri Sultan HB X & Pakualam IX selama memimpin Yogyakarta. Jadi, ketika tuntutan demokratisasi itu merebak, ya goyah, karena rakyatnya merasakan pada era Sri Sultan X & Pakualam IX tidaklah merasakan manfaat nyata dari keistimewaan jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur yang selama ini dipunyai Yogyakarta itu.

Kedua, nah yang ini adalah kaitan poin yang pertama diatas tadi dengan niatan Sri Sultan HB X men-Capres-kan diri.

Saya mengistilahkan sebagai men-Capres-kan diri, bukan di-Capres-kan. Men-Capres-kan dengan digincuin agar terlihat di_capres-kan. Mengapa disebut begitu ?. Gaya berpolitik Sri Sultan HB X memang begitu, untuk mempertahankan jabatan gubernurnya saja harus selalu memolitisasi rakyatnya dengan mengerahkan dan memobilisasi rakyat dalam suatu pisowanan ageng, seolah-olah dia tak mau tapi dipaksa rakyatnya.
Ini khan hakikatnya secara tersirat menunjukkan gaya berpolitik yang menjadikan rakyat sebagai ‘tameng’ bagi kepentingan dirinya.
Sikap ini sungguh bertolak belakang dengan gaya Sri Sultan HB IX yang dengan percaya diri dan kesatria menempatkan ‘dirinya’ menjadi tameng bagi rakyatnya.

Hal-hal seperti penting dalam mempertimbangkan pilihan kita atas seorang pemimpin.

Ketiga, saya mendukung pendapat kang Nur yang menyatakan ‘jika’ Putrinya hamil di luar nikah maka Bapaknya gak kapable jadi Presiden.
Mengapa ?.
Karena itu berkait erat dengan prinsip bahwa jika belum mampu memimpin keluarganya sendiri maka gimana akan memimpin negara Republik Indonesia yang begitu besar ?.
Ini ‘jika’ lho, karena saya tidak tahu kebenaran dari berita soal putrinya telah hamil sebelum menikah.
Ini hal yang logis dan modern kok. Di Amerika Serikat pun seorang kandidat Presiden akan dikuliti sampai ke soal kehidupan pribadinya, karena itu adalah parameter untuk menggambarkan kapabilitas kepemimpinannya.

Begitu saja dulu kang Nur, lain kali disambung lagi. Gak enaklah kalau kepanjangan postingan komentarnya.

Matur Nuwun.

Kang Nur:
Ada bbrp statement dr kang ‘Salikh_Mbeling’ tsb di atas yg baru dan menarik utk dikaji lebih lanjut; selanjutnya juga cukup ‘menghebohkan’ bila terdukung data, fakta dan bukti. Saya ada baru memiliki sedikit bahan utk memperkuat statement kang ‘Salikh_Mbeling’ yg menarik tsb di atas, namun belum sempat tersusun. Ini menjadi bahan saya yg bagus juga.

Komentar oleh Salikh mBeling

mempengaruhi untuk tidak memilih dengan menjelek-jelekkan = black campaign from competitor…

Komentar oleh djugasvilli

Layakkah Sultan jadi Presiden atau Wapres ? :
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/29/164018/1076354/704/layakkah-sultan-jadi-presiden-atau-wapres

GKR Ratu Hemas suka Bulu Dada Rhoma Irama :
http://swaramuslim.com/posting/more.php?id=6080_0_19_0_M

Lha apa yg diatas itu juga termasuk Black Campaign ?.
Kebenaran kadang memang terasa Pahit…

Komentar oleh Salikh mBeling

saya setuju banget dgn tulisan kang nur,.saya seneng ngobrol2 dgn orang2 tua yg tau sejarah n mengalami masa lalu di jogja.setiap saya tanya tentang sosok HB IX mereka langsung cerita menggebu-gebu tentang semua kelebihan beliau (HB IX)n kyknya mereka begitu menaruh hormat pd beliau..tp setiap saya tanya tentang HB X “wah benten sanget mas” (wah beda banget mas) mboten enten nopo2ne..saya liat HB X kok ya kurang berwibawa ya.

Komentar oleh wong jogja

Sampai hari ing nggak ada prestasi apa apa…kosong…sepi…suwung…hanya gelegar seremonial belaka…sementara rakyat kecil tetap terpedaya…pada angan-angannya…terperangkap doktrin budaya Jawa…bahwa Sang Raja adalah segala-galanya…

Komentar oleh pasrah terus?

Hello there, You’ve done an incredible job. I will definitely digg it and personally suggest to my friends. I’m confident they will
be benefited from this web site.

Komentar oleh Manuela




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: