The Nurdayat Foundation


Arti “Wong Ndeso” Bagiku, Analogi dgn ‘Empat Mata’ Tukul, dan Gaya ‘Wiro Sableng’
Selasa, 6 Mei 2008, 6:30 pm
Filed under: Serba-serbi | Tag: ,

Kata “wong ndeso” tentu kini semakin dikenal setelah sering diucapkan oleh Tukul Arwana dalam acara “Empat Mata” di TV Trans 7 yang biasa ditayangkan Senin-Jum’at jam 21.30-23.00 WIB (bukan promosi acara TV, lho; hampir semua orang sudah tahu, kok). Tukul Arwana sendiri sih adalah orang Jawa asal dari Semarang, jadi ia tentu sangat paham dengan makna kata “wong ndeso”. Bahkan ikut istilah P4 dulu, tentu ia juga malah sudah “menghayati” dan “mengamalkan”-nya. Dan…, bahkan kini dalam acara yg tidak semua yg ambil peran di panggung adalah orang Jawa, mereka hampir semua juga sudah ‘fasih’ mengucapkan kata “wong ndeso”. Contohnya yaitu si Peppy kucir yang orang Sunda. (Entah kalo kata “wong ndeso” itu bahasa Sunda-nya apa ya?). Kata “wong ndeso” kini sudah meng-Indonesia. Orang Indonesia di manapun kiranya sedikit-banyak sudah tahu artinya.

‘Wong’ artinya = orang. “Ndeso” artinya desa. Sesungguhnya kata “ndeso” cara menulisnya dalam aksara Jawa pun juga DESO saja, tanpa N di depannya. Tapi cara pengucapan orang Jawa memang selalu begitu. Bantul ya mBantul, Bandung ya jadi mBandung, Bogor menjadi mBogor, Bali menjadi Mbali. Jadi, di depannya seolah diberi awalan me- dlm bahasa Indonesia. Deli juga menjadi nDeli, bahkan simbah (nenek) saya dulu menyebutkan bahwa paman saya tinggal di NDJOKARTO, bukan Jakarta.

Kelebihan Tukul dalam membawakan acara ‘Empat Mata’ adalah bahwa ia selalu mampu mentertawakan bahkan mengolok-olok profilnya sendiri. Saya jadi ingat kata bijaksana yg menyatakan: Dgn mentertawakan diri sendiri, kita menjadi lebih dewasa. Ya, dg mampu mentertawakan diri sendiri; kita dapat ikhlas menerima kekurangan diri kita apa adanya. Kita tentu sudah paham dan menerima bahwa manusia diciptakan Tuhan dg kekurangan dan kelebihan masing2. Tuhan Maha Adil. Kalo saya punya kekurangan, tentu saya juga dikaruniai kelebihan. Empat Mata-nya Tukul, selain ‘PLESETAN’ adalah juga ‘KATARSIS’; atau kalo boleh menuduh, bisa jadi juga itu menjadi ‘KOMPENSASI’ bagi Tukul. Kita melihat ‘Empat Mata’ itu mempelesetkan talk-show-talkshow sebelumnya yg bersifat serius. …Talk-show yg biasanya menghadirkan para pakar? Lewat. Talk-show analis politik? Lewat. Talk-show yg biasanya menempatkan narasumber yg diwawancarai menjadi penentu? Lewat. Talk-show Om Farhan? Apalagi. Semua tatanan prosedur dan standar baku formal serta arah pandang perhatian thd sebuah talk-show menjadi jungkir-balik runtuh berhumbalangan. Kalo biasanya sebuah talk-show itu yg ngoceh narasumbernya; lha ini yg ngoceh dan mjd pusat perhatian kok malah ‘host’-nya. Daya tariknya malah pada tanggapan balik sang ‘host’ yg malah ngaco, krn seringkali sesungguhnya ia memang tidak paham thd maksud dari pertanyaan yg ia ajukan sendiri. Hua..ha..ha…😀😀

Inilah PLESETAN KATARSIS itu, sebagai KOMPENSASI diriku, dan mungkin banyak orang juga. Pesona para selebritis dan kepakaran para profesor akhirnya disajikan dalam sebuah talk-show, hanya utk dijadikan BAHAN TERTAWAAN BARENG2. Hua..ha..ha… Segala ketenaran dan kepakaran itu tertungging-tungging merangkak di bawah kaki Tukul yg ‘ndeso katrok’; yg untuk membaca tulisan di laptop saja ia keliru-keliru melulu apalagi bila kata2 itu dlm bahasa Inggris. Ini A GREAT SHOW. Ini show baru. Ini baru show.

Kami rakyat kecil bodoh yg selama ini hanya menjadi obyek untuk disuruh mendengarkan ocehan para pakar yg pinter ngomong tapi tak banyak kami mengerti, telah diwakili oleh TUKUL. Ia bertanya seperti robot belaka, lalu si pakar menanggapi serius. Tapi bila omongannya serius, maka si Tukul yg tanya malah jadi bingung, lalu nanggapi nggak nyambung. Pembicaraan jadi kacau. Tapi kekacauan inilah pertunjukan yg sebenarnya dari show ini. Hua..ha..ha… Kita lalu menjadi ter-pingkal2 puas karena ber-sama2 kita jadi mampu mentertawakan diri kita ber-sama2.

Apa ya nilai yg ingin saya sumbangkan di sini? Yah, mungkin ternyata kita sebaiknya mempergunakan kemampuan pikiran dan pengetahuan kita seperlunya saja. Dan.., ya semampunya. Nha kalo kita banyak nyrocos (kalo di blog ya nulis), rasanya kita ini menjadi orang bintang tamu yang diwawancarai Tukul itu. Hanya namanya saja kita itu bintang tamu, padahal sesungguhnya kita itu hanya menjadi pelengkap (kembang2, kt org Jawa) dari pertunjukan kekacauannya si Tukul. Blogosphere ini sudah kacau, dan saya akan saya anggap kacau saja, karena memang tidak mudheng (paham). Jadi, daripada menjadi bintang tamu yg dipermainkan; mending saya jadi Tukul yg “ndeso katrok” saja. He..he..

Lha blogosphere ini lucu tapi seringkali kejam juga, kok. Saya sbg pemula sungguh tidak paham. Ada bbrp blog yg content2 tulisannya tidak bermutu, lha kok komentar yg datang muncul malah banyak sekali. Ada juga blogger2 selalu datang koment hanya karena di profil owner blog tertulis status single/jomblo, dan foto yg terpajang di profil memang cakep… Wuah. He..he..

Maka kalo tidak menjadi ‘wong ndeso’ ala Tukul, saya mau menjadi Wiro Sableng saja. Tapi bukannya dapat meniru sakti slalu menang berkelahi seperti ‘Pendekar 212’ itu; tapi yg saya tiru cuman tingkah-polah gerakan me-nari2 mengejek a la monyet sambil men-julur2kan lidah itu. Whuee…, whuee. Julur-julur lidah. Nanti kalo yg dihadapi, dlm hal blog ini yaitu para pembaca, sudah marah2 naik darah.., saya akan berbalik saja.., lalu lari pontang-panting. He..he..he… Ngacir! Berlagaknya serius duluan.

Tapi sayangnya rasa tanggungjawab sosial saya besar. Ya, ..sayang. Jadinya saya selalu ingin menanggapi hal2 yg saya anggap kurang benar di mata saya, deh. Dan “kebenaran-menurut-saya” adalah subjektif, tapi akan selalu saya pertahankan dulu. Sebelum ada yang mampu membuktikan bahwa yg saya nyatakan adalah salah, maka saya memang selalu benar.😀😀😀

-o0o-


6 Komentar so far
Tinggalkan komentar

sejauh mana seseorang yakin akan kebenaran maka sejauh itu pula ia akan memperjuangkannya..

kang Nur:🙂 lha iya Kang Hangga, tapi mana yang benar-benar benar itu?🙂 lha kalo saya ber-opini masak ya dituntut agar opini saya itu BENAR. lha itu…, temen2…😀

Komentar oleh hanggadamai

Kok kesannya mas Nur kecewa dengan respon-respon (atau mungkin kurangnya respon-respon) terhadap blog anda.

Menurutku blog anda bermutu, walaupun tidak semua hal yang anda katakan tidak saya setujui. Jarang-jarang ada blog bermutu dari Indonesia. So keep it up, dont be disheartened.

Kang Nur:🙂 bukan kecewa kok, mas Dino. soalnya saat sepi, saya terus lihat halaman2 tetangga; lha kok “rumput”-nya tumbuh subur dan hijau2🙂

Komentar oleh Dino

Lha blogosphere ini lucu tapi seringkali kejam juga, kok. Saya sbg pemula sungguh tidak paham. Ada bbrp blog yg content2 tulisannya tidak bermutu, lha kok komentar yg datang muncul malah banyak sekali

setuju dengan ini

KangNur: tapi ya itu semua adalah pilihan selera ‘kan ya? banyak motif orang nge-blog, banyak motif pula orang berkomentar. semuanya tak ada yg dapat melarangnya. org yg mo ‘hang-out’ (istilah apa sih ini?) buka2 blog utk ‘keep-in-touch’ dg komunitasnya? jadinya ada blog yg mirip chatting-room, deh. tak semua content bermutu-bermanfaat itu mndatangkan banyak kunjungan. yg banyak dibaca malah yg sensasionil-kontroversial… He..he🙂

Komentar oleh veta

acara 4 mata kadang tidak menarik lagi..
contoh waktu sang bintang tamu sedang serius malah dikit-dikit ada celetukannya..
sehingga informasi yang akan dikeluarkan bintang tamu malah terganggu dengan acara ejek mengejek antara host dan pendukungnya

Kang Nur: Tukul udah mulai narcis apa ya? Atau mungkin kelelahan? Soalnya kalo seminggu lima kali itu apa ya ia mampu memahami topik dan mengenali bintang tamu dgn baik? Jadinya bisa bukan lagi mewakili suara hati rakyat kebanyakan penonton TV, tapi di balik kesuksesannya itu mungkin Tukul perlu dikasihani krn telah mjd korban “pemerasan” budaya kapitalis?

Komentar oleh westnu

iya kang..minimal kita sekali sehari menertawakan diri sendiri😀
iya..sekarang udah jarang nonton tukul..bosen juga kali ya..tapi mungkin juga tukul sekarang udah enggak jadi wong ndeso katrok lagi, jadi wong koyok kita wes ora merasa terwakili..:)

Kang Nur:
saya kira humor yg sehat adalah memang yg bisa mengajak kita utk mentertawakan diri kita sendiri🙂 tapi ternyata tidak setiap hari juga kita dapat otomatis mentertawakan diri sendiri ituu .. kebanyakan hanya meringis2😀

Komentar oleh ngafandi

Sebelum ada yang mampu membuktikan bahwa yg saya nyatakan adalah salah, maka saya memang selalu benar

>> hahaha narcis akut…tapi bukannya mencela karena sy juga sama…membela diri sampai titik darah penghabisan (atau sampai terang benderang kesalahan sy)

Kang Nur:
hahaha..😀 ya boleh lah dibilang narcis.. tp sy mnggolongkn sbg upaya survival aja utk mmprtahankan, mnggali lagi nilai2 ‘kearifan lokal’ dgn percaya diri. sy qra mmg ada universalitas nilai2 itu, qta mnsyukuri dan mnypakatinya; namun semangat (filosofis) eksistensialis dr akar2 budaya qta dan jati-diri qta jangan sampai trgusur krn takjub oleh nilai2 globalism. sy qra bgitu, mski sy jg blum yakin dgn ketepatan istilah2 sy ini.🙂

Komentar oleh uwiuw




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: