The Nurdayat Foundation


Anjing Kami yang Setia (dan Teman-temannya) di Kampung Saya Dulu
Kamis, 8 Mei 2008, 7:11 pm
Filed under: Serba-serbi | Tag:

anjing kintamaniSbgmn blog ini saya maksudkan utk menuturkan dan mewadahi wacana dialog antar budaya di era post-modern (sejauh pemahaman saya); berikut ini saya ceritakan pengalaman saya sbg seorang Islam yg memelihara anjing. Bukan utk memancing perdebatan, apalagi dlm hal keagamaan, namun justru utk memahami antar budaya yg dilandasi oleh perbedaan adat-kebiasaan masyarakat lokal yg antara lain didorong oleh kebutuhan masyarakat setempat. Semoga maklum dan bermanfaat.

Keluarga saya, keluarga bapak-ibu beserta anak-anaknya adalah beragama Islam. Alhamdulillah kami juga telah mengerjakan sholat lima waktu sekemampuan kami. Subhanallah. Semua anak-anak bapak-ibu Insya Allah telah mengerjakan sholat minimal saat menginjak bangku SMP. Yah, untuk ukuran waktu dulu itu sudah kami syukuri lah. Namun, ada satu hal yang ingin saya bagikan kepada pembaca di sini, baik Anda orang Islam atau tidak; dan saya ingin mendapat komentar tentang itu. Yaitu, keluarga kami pernah memelihara anjing selama belasan tahun. Selama dua belasan tahun keluarga kami memelihara anjing.

Di sini saya tidak ingin memancing soal perdebatan fiqh (hukum agama) tentang itu, tentang hukum memelihara anjing bagi orang muslim. Saya hanya ingin menceritakan ‘kenyataan budaya’ dan hubungan kami dengan anjing (anjing-anjing) peliharaan kami. Seingat saya, ada 4 (empat) ekor anjing yang keluarga saya pernah memeliharanya dalam jangka waktu dua belasan tahun itu. Nama-nama mereka adalah: Macky, Blendy, Bruno dan Dino. Begitulah mereka kami beri nama. Dan begitulah urutannya sesuai dengan kefavoritan dan kuatnya kesan kenangan yang tertinggal dalam benak memori saya. Anjing-anjing itu kami pelihara dalam panjang jangka waktu yang berbeda-beda. Macky kami pelihara selama 12 tahun itu, Blendy sekitar 7 tahun, Bruno 3 tahun dan Dino mungkin hanya setahun. Maka Macky-lah yang paling saya ingat, karena ia memang paling lama kami pelihara.

Kampung kami memang bukan kampung muslim. Artinya, bukan kampung santri yang tradisi ke-Islam-annya kuat (paling tidak, waktu itu). Saat itu, banyak orang Islam yang tertulis pada KTP-nya beragama Islam, namun ia tidak tahu sholat dan puasa (Ramadhan), tentu saja juga zakat. Memelihara anjing tentu memang malah dapat dikatakan sudah menjadi kebiasaan sejak lama orang-orang di kampung kami.

Anjing-anjing yang saling ‘bergaul’ dengan anjing-anjing tetangga itu juga seringkali menjadi ‘sarana pergaulan’ bagi kami pemelihara-pemeliharanya. Saat berjumpa dan menjumpai anjing, kami dapat saling menyapa dan bertanya, “Itu anjing siapa?”; sehingga kebanyakan orang pun akhirnya tahu mengenal anjing-anjing itu, dan tahu pula siapa pemiliknya. .

… Ini adalah tentang kebiasaan atau budaya yang berkembang dalam masyarakat, tanpa adanya ujaran-ujaran atau wacana-wacana yang mengingatkan, menandingi atau meng-counter-nya. Memelihara anjing sudah menjadi budaya yang modis-trendy di kampung kami saat itu. Kalau seingat saya, sebenarnya ada juga satu-dua komat-kamit bisik orang dari kalangan Islam yang bersholat bahwa memelihara anjing itu kurang baik. Namun suara itu memang ‘nyaris tak terdengar’. Keluarga saya adalah termasuk yang tidak menghiraukan itu, meskipun dari membaca, kami juga cukup tahu tentang “repot”-nya memelihara anjing bagi orang berkepercayaan Islam. (Misalnya; kalo kulit kita sampai terkena air liur anjing / terjilat, maka musti membasuhnya dengan air sampai tujuh kali, dgn salah satunya memakai debu (air liur anjing biasa disebut najis mugholadhoh)).

Keluarga kami tetap suka anjing dan memeliharanya, sekaligus juga tetap menjalankan sholat. Nyatanya, saat itu kami memang tidak sendirian yang bersikap seperti itu. Cukup banyak orang2 Islam tetangga kami yang memelihara anjing. Sedangkan, warga non-Islam (=Katolik) yang jumlahnya sekitar 15 % di kampung kami; hampir semuanya memelihara anjing meski cuma seekor, tapi rata-rata lebih dari itu. … Begitulah kondisi kebiasaan kampung kami dulu. …Sedangkan di sebuah kampung santri yg masuk se-desa/kelurahan dgn kami, tidak satu pun anjing ada terlihat berkeliaran di situ. Sedangkan di kampung santri lainnya lagi yg beda kecamatan, saya mendengar bahwa bila ada anjing masuk kampung itu, ia akan dikejar-kejar diusir dilempari batu oleh penduduk warga kampung situ.

Mengapa orang memelihara anjing? Apa manfaat dan kesenangan yang didapat dari itu? Alasan pertama dan utama yang biasa dikemukakan adalah untuk membantu menjaga keamanan.

Hidup kami adalah di kampung pedesaan pinggir kota. Halaman, pekarangan, atau juga kebun belakang warga penduduknya cukup luas-luas. Luas tanah yang dimiliki dan tempat di mana rumah keluarga bapak-ibuku sendiri adalah sekitar 2500 m2. Saat itu selain masih cukup banyak pohon besar dengan tinggi di atas 25 meter juga cukup banyak rumpun bambu di belakang rumah dan juga rumpun kebun salak. Pohon besar yang paling banyak dimiliki adalah pohon nangka; mungkin karena selain buahnya dapat disayur dan dimakan, kualitas kayu nangka adalah juga salah satu yang terbaik di bawah kayu jati. Apalagi diameter kayu pohon nangka bisa mencapai lebih dari seperangkulan orang dewasa pada setinggi dada. Bambu juga banyak dimiliki karena bambu juga merupakan tanaman serba guna, selain dan setelah pohon kelapa; batang bambu dapat digunakan utk bermacam keperluan. Sedangkan, rumpun salak itu banyak juga yang letaknya adalah di depan rumah. ..Antara pekarangan milik warga yang satu dengan yang lain hanya berbatas pagar jalinan bambu atau pagar hidup dari jajaran rumpun perdu teh-tehan atau dondong laut, bahkan seringkali juga tidak berbatas apapun. Sedangkan dalam jangka dua belasan tahun itu listrik jaringan PLN memang belum masuk ke kampung kami. Pada malam hari lurung (jalan besar yang membelah kampung) dan juga jalan setapak yang menghubung ke pintu ke pintu rumah penduduk hanya berpenerangkan pelita kecil-kecil berbahan bakar minyak tanah. Dapat dibayangkan cukup gelapnya suasana pada malam hari. Rumah-rumah penduduk juga masih banyak yang berbahan dindingnya gedheg, anyaman bambu; dan lantainya tanah. Dengan kondisi seperti itu, dapat dibayangkan betapa maling-maling dan orang-orang yang bermaksud jahat dapat berkeliaran, berkelayapan, bergentayangan di antara kegelapan kebun-pekarangan rumah penduduk pada malam hari bila mereka menghendakinya. Pada kondisi seperti itulah anjing-anjing diperlukan.

Indera penglihatan dan pendengaran anjing sangat peka, lari mereka juga cepat. Mereka setia kepada majikannya. Di malam hari mereka tidak pernah dikurung sebagaimana juga pada siang harinya. Mereka bagaikan komunitas makhluk hidup tersendiri yang diakui keberadaannya di kampung kami. Kalau ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak pemuda remaja seringkali menyelenggarakan pertemuan arisan, lalu bapak-bapaknya bergilir kelompok ronda setiap malam; anjing-anjing itupun seperti saling mengenal dan punya arisan dan berkeliling meronda juga. Di malam hari anjing-anjing itu lebih banyak nongkrong-nongkrong di seputaran rumah majikannya masing-masing, namun adakalanya pula anjing-anjing itu punya ‘kegiatan bersama’. Dengan orang yang sudah mereka kenal, anjing itu bereaksi biasa-biasa saja; namun bila mendapati ada orang yang tak mereka kenal, mereka beramai-ramai menggong-gonginya.

Anjing-anjing itu hanyalah dari jenis anjing kampung biasa, bukan anjing ras yg mahal2 itu. Kalo diamati memang sekilas ada yg mirip herder, chihuahua, Kintamani, dobberman; ada pula bentuk tubuhnya, bulunya, mirip bulldog, pudel; tapi tentu saja tidak ada yang mirip Dalmatian, kecuali belang hitam-putih biasa. Mungkin saja anjing2 ini adalah anak2 haram hasil hubungan gelap atau perselingkuhan induk anjing kampung dgn pejantan anjing2 para boss kaya di kota.

Kini anjing di kampung saya tidak sebanyak dulu lagi. Jumlahnya menurun drastis. Malah dapat dibilang, kini jarang ditemui lagi anjing di kampung saya. Mengapa? Penyebabnya mungkin ada beberapa hal. Di halaman rumah orangtua saya itu, sejak kira2 dua puluh tahun yll didirikan mushola. Keluarga kami (bapak-ibu dan sepersetujuan kami anak2nya) mewakafkan sebagian tanah pekarangan untuk dibangun mushola/langgar. Kini berdiri mushola berukuran +- 9 x 9 m di pojok depan pekarangan rumah orangtua kami. Dan sejak bbrp bulan sebelum batu pertama pondasi pembangunan mushola itu diletakkan; kami melepas kepergian Macky, anjing kami yang setia.

Macky memang sudah tua, ia tidak kuat lagi berlari cepat. Matanya sudah rabun, dan ia semakin sering sakit2an. Satu-dua kali ia terkena penyakit kulit, tapi kami dapat mengobatinya. Makannya tidak selahap dulu, semakin lama ia semakin tidak doyan makan. Ia hanya berkeliaran di sekeliling rumah saja kini, tidak lagi sering pergi jauh2. Aku tak tahu sampai berapa usia-harapan-hidup wajar seekor anjing, tapi bila kuingat lagi itu kini, kukira dua belasan tahun lebih itu memang sudah termasuk uzur. Sampai suatu malam bapak-ibu dan kami anak2 berkumpul, bapak menyatakan gagasan bahwa sebaiknya Macky dijual saja, tidak usah kami pelihara lagi. Saya terharu hampir menangis mendengar usul itu. Bertahun sudah juga ia menjadi teman sepermainanku. Bila aku pergi bermain dgn anak2 sebaya tetanggaku, ia sering mengikutiku.

Suatu sore datanglah Pak Tris Nendhek beserta anak sulungnya membawa karung goni. Jantungku sebagai anak kecil berdegup kencang. Ia adalah seorang bakul sengsu (penjual tongseng anjing) dari dusun tetangga. Sebuah profesi yang tidak biasa, dan tetap dipandang ‘miring’ oleh masyarakat dusun-kampungku. Selain terkenal sbg bakul sengsu, ia juga banyak dikenal karena ia ‘aktivis’ jathilan. Bila ada pertunjukan jathilan di manapun di desa2 sekitar, ia selalu ikut ndadi (trance me-nari2). Tapi lucunya, dan ini juga yg membuat ia tambah terkenal, bila ia ndadi itu ia bukannya makan semprong / pecahan kaca atau apa; atau mengamuk menjadikan ngeri penonton; …ya memang menari tak terkendali sih, tapi habis itu lalu ia lari ke dapur dan makan banyak2 ..nasi dan lauk-pauknya. Hua..ha..ha… Yaa. Jadi kenyang, dong?

Tapi begitulah, sore itu Pak Tris Nendhek bersama anaknya membawa karung goni. Hatiku ber-debar2. Itulah goni yg akan membawa Macky ke akhir kehidupannya. Ke goni itu Macky setelah tertangkap akan diikat dan diangkut ke pembantaian, utk selanjutnya di-tongseng oleh Pak Tris Nendhek. Krn tak sampai hati, aku berlari menjauh menghindar dari melihat itu. Namun, aku sempat mengintip juga utk terakhir kalinya. Kakak2ku melihatku. Ibuku menghiburku.

Sejak itu kami tak satu pun memelihara anjing lagi hingga sekarang.

-o0o-

Gambar dari anjingkita.com

Lihat juga ini:
Sebuah Tinjauan Fiqh


15 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Wah anjingnya namanya sama dengan namaku. Namaku lebih cocok buat nama anjing kali ya hehe..

Kang Nur: whuaduh.., iya saya sempat lupa sekelebatan dg Kang Dino di pawiyatan luhur Delaware ini. Sorry, lho ya, Kang Dino. Nyuwun ngapunten. Soalnya mmg begitulah adanya. Yg menamai itu kakak saya, diambil dari nama satu merk sabun deterjen yg cukup populer saat itu.😀

Komentar oleh Dino

hmmmm suasana tempat tinggal yg nyaman …🙂

Kang Nur: iya.., tapi itu dulu KangmasMoemet. kini pagar2 mulai banyak dgn tembok batako. dulu, halaman milik orang itu rasanya seperti milik umum saja. anak2 kecil bisa ber-gilir ber-ganti2 main di halaman2 itu.

Komentar oleh masmoemet

hmmm..begitu ceritanya😀

KangNur:🙂 hammm-hmmm saja MbakYu eNPe ini..

Komentar oleh eNPe

wah postingan yg menggugah..

KangNur: “menggugah” ya?🙂

Komentar oleh hanggadamai

ya memang anjing sering disebut sebagai teman manusia
KangNur: ..dan cukup seru ya? krn ukuran tubuhnya juga pas ‘kali. mau diajak jalan2 bareng. kalo piara kucing itu kekecilan. jalan2 ia lari kepayahan.

Komentar oleh westnu

Di dunia barat, anjing dianggap sahabat paling setia. Anjing juga tergolong binatang yang cerdas. Kalau di kampung saya anjing merupakan pemburu babi yang handal. Harganya bisa mencapai berpuluh-puluh juta kalau sudah mahir berburu.
Kang Nur: wah, harganya bisa puluhan juta, ya Bang? Bisa jadi peluang usaha itu ya? Di kampung saya ada juga kini orang yg dalam keterbatasan ekonomi maka ia menjadi ‘semacam’ peternak anjing, krn anjing kampung pun juga cukup menguntungkan bila dijual.🙂

Komentar oleh Rafki RS

menyedihkan cerita ini…
anjing itu kawan yang menyenangkan.

Kang Nur:
weit, tapi maksud saya menulis ini tentunya bukan utk dikasihani lho..,🙂 karena dianggap “menyedihkan” itu pamantyo… semua macam keyakinan khusus saya kira akan dipandang aneh dan ‘menyedihkan’ bagi yg tidak meyakininya. setiap keyakinan menuntut konsekwensi dr keyakinannya itu. itu sbgmn saya yg masih suka makan daging akan menganggap orang vegetarian itu sbg berperilaku menyedihkan. lha ngapain susah2 tidak mau makan daging? bukankah daging (dr bermacam hewan2 tertentu) itu adalah karunia Tuhan yg sudah diberikan kpd kita, utk dapat kita syukuri dan nikmati? begitu juga kita tentu tidak dapat memandang suku Baduy dgn sgala tradisi keyakinannya itu adalah ‘menyedihkan’. semua itu adalah pilihan.

Komentar oleh Paman Tyo

Pak Tris asyik juga yak? Aktivis (? hahaha) jatilan dg gayanya yg khas. Klo pas nyerbu makanan itu, dikunyah gak ya? Atau, beliau pas gitu itu bisa mrasa kenyang? Siapa tau rasa kenyang itu bisa beliau “alihkan” ke org lain. Jadinya, makan terus. Org lain yg lenggek2 kekenyangan.

Kang Nur:😀 Hua..ha..ha.. Bah Reggae ini nambah lucu aja. Sejujurnya, saya hanya sempat pernah paling tidak dua kali menyaksikan sendiri ia ndadi (trance) lalu terbirit masuk ke dapur itu, di lokasi pentas yg berbeda. Tapi setelah ia makan itu, saya tak sempat menyaksikannya sendiri. Saya hanya dengar dari cerita orang2. Tapi kayaknya makannya dia itu memang terus jadi “serius” kok. Buktinya, setelah bbrp lama ia keluar dgn wajah yg ber-seri2 dan sehat. He..he..he🙂

Komentar oleh bah reggae

Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

cheers, Jape.

Kang Nur:
Thank you. By the way, are you really human or just machine? I’m not really sure. I see many comments like this appears in many blogs. Pardon me.

Komentar oleh Jape

Yang di foto tsb anjing Kintamani bukan ? Soalnya kemarin aku liat anjing seperti itu dihibahkan di situs http://www.anjingras.com

Kang Nur:
ya, betul. itu anjing Kintamani.

Komentar oleh Health Food Online

ya benar kang nur, logika dan nurani daya kok masih kontra ya. Kalau umpama seluruh non muslim ini lenyap di dunia, lantas apakah anjing sbg mahkluk ciptaan Tuhan jg akan terlantar. Sangat ironi.. ah.. tak tahulah😀

Komentar oleh perempuan

Having read this I believed it was extremely informative.
I appreciate you spending some time and energy to put this short article together.

I once again find myself spending a significant amount of time both
reading and commenting. But so what, it was still worth it!

Komentar oleh tips to help get pregnant

Hey! Quick question that’s totally off topic. Do you know how to make your site mobile friendly? My web site looks weird when browsing from my iphone. I’m trying to find a theme or plugin that might be able to fix
this problem. If you have any suggestions, please
share. Thank you!

Komentar oleh breast actives before and after

What’s up, its good article regarding media print, we all understand media is a fantastic source of information.

Komentar oleh green coffee extract weight loss does it work

anjing yg setia
shruz’ny jngn d’jual ke penjagal KAZIHAN

Komentar oleh yona kriztanto




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: