The Nurdayat Foundation


Ber-Boedi Oetomo
Jumat, 30 Mei 2008, 4:11 pm
Filed under: Sejarah | Tag:

Ber-Boedi Oetomo

oleh:

Lambang Trijono,

Sosiolog Fisipol UGM

Perkumpulan Boedi Oetomo berdiri tahun 1908. ‘Kelahiran’ ini dijadikan bangsa kita sebagai pijakan awal sejarah pertama kali lahirnya kebangkitan nasional Indonesia sebagai bangsa modern. Apa sebenarnya esensi dari pergerakan ini dan pelajaran apa yang harus dipetik generasi sekarang, untuk menjawab tantangan hidup bangsa sekarang dan di masa mendatang, memasuki abad 21 penuh tantangan ini?

Pergerakan ini merupakan pergerakan modern pertama kali lahir di zaman penjajah Hindia Belanda. Kata ‘modern’ di sini penting kita maknai. Gerakan ini dikatakan modern bukan hanya karena digulirkan oleh orang-orang kalangan terpelajar, kaum aristokrat, keturunan priyayi Jawa, atau kalangan mahasiswa terpelajar tergabung dalam Stovia, yang dipandang bergengsi dan berpenampilan modern saat itu. Bahwa pergerakan itu digagas kalangan priyayi terpelajar memang sudah sewajarnya, sebagai konsekuensi dari kesadaran kultural dan intelektual mereka, yang juga dapat kita temukan di mana-mana, seperti di Eropa pada abad pertengahan.

Lebih penting dari itu, dikatakan modern karena memang pergerakan Boedi Oetomo membawa ajaran dan memiliki substansi nilai pergerakan bersifat modern. Membangkitkan kesadaran politik rakyat, melalui pendidikan, perbaikan kualitas kesehatan, memperbaiki perikehidupan ekonomi rakyat, memajukan budaya dan sosial-kemasyarakatan, melalui cara-cara modern, membentuk perkumpulan, berserikat, berkumpul, berasosiasi dan berpolitik warga negara.

Kalau kita sejajarkan dengan konsepsi politik modern sekarang, gerakan ini barangkali dapat kita samakan dengan gerakan-gerakan untuk memperbaiki nasib hidup rakyat. Yakni dengan cara-cara berpolitik yang demokratis, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, memperjuangkan partisipasi politik rakyat untuk mengubah nasib hidup, memenuhi kebutuhan dan hak-hak dasar dalam hidupnya. Cara-cara berpolitik memperjuangkan nasib hidup rakyat dengan cara-cara yang demokratis, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menghargai harkat dan martabat rakyat dan warga bangsa, bisa disebut sebagai praktik atau laku ber-Boedi Oetomo pada zaman sekarang. Dalam tataran ideal konsepsional barangkali hal itu telah kita pahami bersama. Tetapi, dalam tataran praktik, berbudi, atau berlaku, barangkali masih jauh dari kenyataan.

Dari sudut pandang ini, kebangkitan nasional sesungguhnya adalah masalah watak atau karakter bangsa. Yaitu praktik kultural yang mencerminkan kesatuan, koherensi atau konsistensi idealisme dan praktik, konsepsi dan tingkah laku, dalam memandang dan memperlakukan rakyat dan warga bangsa. Memperjuangkan nasib hidup rakyat, dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga meningkatkan harkat dan martabat, menghargai pendapat dan aspirasi politik, menumbuhkan kebanggaan dan harga diri, menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak asasi mereka, adalah praktik, atau laku politik ber-Boedi Oetomo atau politik berwatak mulia.

Karakter demikian dibentuk oleh kesadaran kultural atau kesadaran akan kesejarahan, maka kita akan mampu mempertajam visi, pandangan kultural, wawasan kebangsaan kita ke depan, dari pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita petik dari sejarah yang melatarbelakangi lahirnya peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan hidup bangsa. Dalam perhelatan peringatan hari kebangkitan nasional kita sekarang ini, tampaknya kesadaran ini belum kita temukan benang merahnya.

Mengingat sebuah peristiwa besar, hari kebangkitan nasional, bukan hanya menapaki jejak-jejak langkah kaki pelaku sejarah, seperti napak tilas jejak-jejak langkah para pendahulu kita dalam jalan-jalan yang dilalui, rumah-rumah yang ditempati, alat-alat yang ditinggalkan, mencari benda-benda arkeologis, artefak-artefak yang mereka tinggalkan, untuk dijadikan monumen semata. Jiwa-jiwa suci para perintis kebangkitan, pelopor pergerakan nasional, pendiri republik pasti akan menjerit sedih dan menangis kalau kita hanya mengambil pelajaran sejarah hanya sebatas artifisial seperti itu.

Lebih dari itu, mengingat sejarah haruslah sampai pada penemuan arti dan makna sejarah, dari semangat dan spirit kejiwaan yang mendasarinya, mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa besar yang mereka ciptakan itu, untuk dipetik hikmahnya dalam mem-visi, menata dan meniti kehidupan bangsa ke depan. Mengingat, mewawas diri, mengambil hikmah pelajaran dari sejarah masa lalu kita sangatlah penting, karena hanya dengan itu kita bisa melakukan perubahan dan transformasi menuju kehidupan lebih baik ke depan.

Demikian itu penting, karena memasuki pertengahan abad 21 ini, tantangan kita sebagai bangsa sangatlah besar, khususnya dalam memajukan demokrasi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Demokrasi atau penguatan institusi politik kita secara demokratis, merupakan keniscayaan, harus kita kembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama menghadapi kekuatan pasar global, yang selama ini telah memperlemah institusi negara dan membuat rentan masyarakat kita. Sementara itu, di sisi lain, kita juga menghadapi tuntutan hidup rakyat yang semakin meningkat, dengan segala kebutuhan, kepentingan, hak-hak asasi, aspirasi, idealisme dan cita-cita mereka untuk hidup lebih baik, maju dan sejahtera, yang harus diakomodasi oleh demokrasi kita.

Menghadapi tantangan ini, dalam berbangsa dan bernegara ke depan, kita harus ber-Boedi Oetomo, berlaku utama, berkarakter mulia, memvisi, menata dan meniti kehidupan yang begitu berubah-ubah ini. Tentu dengan penuh antusias, optimis, dilandasi semangat, spirit kejiwaan dan etos kerja mendahulukan kebutuhan dan hak-hak dasar dalam hidup warga negara. Juga memajukan demokrasi dan kesejahteraan rakyat menuju kebangkitan dan kemandirian nasional kita.

-o0o-

dikutip dari: Kolom Analisis Harian “Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta,

Rabu Legi, 28 Mei 2008


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wah sebuah ajakan yg bagus nih…
Kang Nur: ya, memperingati satu hari besar seringkali kita latah pada seremonialnya saja.. ajakan2 yg beginian membawa kita ke pemahaman-perenungan yg lebih dalam🙂 dan selanjutnya berbuat sesuatu

Komentar oleh hanggadamai

apa yang dikatakan dedi mizwar di tv udah cukup,.. hehehe,. dari yang sesederhana itu bisakah kita memaknainya,.. salam kenal. please visite

Kang Nur: Ya itu bagus. saya kutip ya?
Bangkit itu susah…. Susah melihat orang susah.. senang melihat orang senang
Bangkit itu takut…. Takut korupsi.. takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri…. Mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah…. Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu malu…. Malu menjadi benalu.. malu karena minta melulu
Bangkit itu tidak ada…. Tidak ada kata menyerah.. tidak ada kata putus asa
Bangkit itu Aku… Untuk Indonesia-ku

Trims

Komentar oleh el_afiq

Ngomong-ngomong khabarnya Soetomo baru berumur 20 tahun ketika mendeklarasikan Budi Oetomo, kalau nggak salah. Sungguh luar biasa dan harus dicontoh kepeloporan di usia muda ini.

Kang Nur:
Wah, hebat ya? Betapa banyak keteladanan dari para tokoh pahlawan pendahulu yg belum saya ketahui..🙂

Komentar oleh Rafki RS

yang hebat dari pendiri BO, mereka sudah punya cita-cita ber-nation di awal abad 20-an.

Padahal, konteks saat itu rakyat masih jauh dari cita-cita merdeka sebagai sebuah Negara, dan, apalagi, utk ukuran mereka yang dari kaum priyayi.

Kang Nur:
Apa bukan krn mereka mulai mmbayangkan itu (nation-state) sbg prkmbangan jaman yg tak dapat dibendung, lalu mrk mulai me-reka2 di mana di hari esok nation-state itu mereka akan berdiri?

Komentar oleh rezco

sayangnya…para pemuda sekarang nampaknya lebih banyak meneladani limp bizkit, korn, miyabi, sinetron, metalika dlsbg ketimbang boedi oetomo…

*semoga saya salah*

Kang Nur: lha sy qra itulah budaya (seni) pop; wong ndeso bilang ada tontonan, ada pula tuntunan…🙂

Komentar oleh the hermawanov




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: