The Nurdayat Foundation


Dari Kios Buku Kompleks ‘Taman Pintar’ Yogyakarta: Menemukan dan Ingin Memahami Pandangan Joseph Stiglitz
Senin, 30 Juni 2008, 4:45 pm
Filed under: Pandangan Tokoh | Tag:

Joseph StiglitzJangan tertawakan saya bila nyatanya memang belumlah lama saya mengetahui nama Joseph Stiglitz dan sekedarnya tahu siapakah dia itu. Hal itu karena sebagai wong ndeso tentunya saya memang tidak begitu berkepentingan dengan pemikiran pakar-pakar ekonomi internasional. Saya pertama mengetahuinya justru karena saya membuka-buka buku tulisan Amien Rais berjudul “Agenda Mendesak Bangsa: SELAMATKAN INDONESIA” yang dijajakan di kios buku di kompleks utara Taman Pintar Yogyakarta baru beberapa minggu lalu. Baru setelah itulah saya mencari tahu lebih lanjut tentang Joseph Stiglitz dengan browsing di internet ini. 

Kios Pedagang Buku Yogya

Sejak deretan kios milik pedagang-pedagang buku di kompleks utara Taman Pintar Yogyakarta itu kios buku Shoppingbelum dibangun hingga lebih rapi seperti sekarang, saya sudah sering ke sana. Sejak saya remaja dan pemandangan tumpukan buku itu masih bercampur dengan lalu lalang sayur-mayur yang seringkali menguarkan bau karena busuknya lebih dari sepuluh tahun lalu; saya sudah terbiasa dan gemar sengaja meluangkan waktu membuka-buka buku, majalah, baik terbitan baru ataupun bekas di sana. Saat itu kawasan itu masih bernama kompleks Shopping Center, dan biasa dinamai orang dengan sebutan ringkas Shopping. Entah sejak kapan kawasan itu dibangun. Tahun 1977 kakak sulung saya pertama masuk SMA di Yogyakarta, sejak itu ia sering cerita bahwa ia adakalanya ke Shopping itu. Dulu Shopping tidak semata untuk kios pedagang buku, namun agaknya dimaksudkan sebagai semacam pusat belanja ala konsep orang jaman itu di kawasan lumayan pusat kota. Seingat saya kios penjual pakaian, sepatu, tas, juga arena ketangkasan dulu ada di situ. Dan yang tak dilupakan adalah bioskop, kalau tidak salah namanya ‘Yogya (Theatre)’. Saya pernah diajak kakak saya nonton film “Indiana Jones: The Last Crusade”-nya Harrison Ford di sana. Dulu jalanan di sekeliling bangunan gedung berlantai tiga itu berlubang-lubang. Di musim hujan berlumpurlah lubang-lubang itu bercampur bau-bau sayur dan ikan juga.

Kini kompleks kios buku itu tersendiri dan menempati tiga lantai juga, cukup luas, makin banyak, makin rapi; sehingga tidak memalukan wong-Yogya-yang-peduli lagi bila wisatawan asing maupun domestik mau berkunjung ke sana. Baru beberapa tahun lalu-lah Pemerintah Kota Yogyakarta di bawah Kang Herry Zudianto menyelesaikan pemugaran-pembenahan kompleks bangunan itu sejak dari kawasan Benteng Vredeburg, Taman Pintar untuk anak-anak, serta sampai ke Gedung Sociteit Militer tinggalan Belanda yang kini dinamai Gedung Taman Budaya; di selatan Pasar Beringharjo. Bila Anda pelajar-mahasiswa dari luar Yogya berwisata ke Yogya, jangan lupakan untuk mengunjungi kompleks di arah tenggara Malioboro ini.

 

Wong Ndeso Memaknai Globalisasi Ekonomi

Meski saya ini wong ndeso, namun alhamdulillah sempat sekolah dan selanjutnya juga suka membaca buku. Kalau ada wawasan-wawasan pengetahuan baru, saya juga ingin mengetahuinya, agar tidak terlalu katrok; maka dari itu saya selalu ingin membaca hal-hal yang masih berada dalam jangkauan kemampuan saya untuk dapat saya mengerti. Namun tentu saja saya juga tidak memaksakan diri untuk ingin memahami hal-hal yang sudah di luar kemampuan saya untuk dapat saya pahami.

Globalisasi dulu dalam pandangan saya cah ndeso yang tidak bersekolah tinggi adalah sesuatu yang menakjubkan dan canggih, sehingga sekedar untuk latah menyebutkan kata itu saja, dulu saya telah menganggap diri saya lebih pintar daripada tetangga-tetangga saya yang lulusan SD. Tapi kini, setelah tahun demi tahun berlalu dan himpitan ekonomi juga semakin terasa bagi saya; rasanya tidak nyaman lagi memang saya menyebutkan kata itu. Artikel-artikel dari orang-orang pandai yang dimuat di koran mulai satu per satu saya baca tentang ‘globalisasi’ ini.

Kini bagi saya, ini bagaikan orang leluhur kita berabad lalu yang masuk ke hutan rimba dan tidak lagi menyebut kata ‘harimau’ ketika ia telah benar-benar masuk hutan itu. Bila orang Jawa dulu masuk hutan mereka mentabukan diri mereka sendiri untuk menyebut kata ‘macan’ karena itu ora ilok. Dikhawatirkan si macan akan mendengarnya dan marah, lalu selanjutnya benar-benar datang menghampiri mereka. Mereka mengganti kata ‘macan’ dengan sebutan ‘kyai-ne’. Masalahnya nanti, bencana kerepotanlah yang harus mereka hadapi bila benar-benar berjumpa dengan macan. … Kini saya hampir men-tabu-kan diri menyebut globalisasi, karena dari waktu ke waktu, istilah globalisasi itu bagi saya menjadi makin serupa dengan istilah ‘bencana ekonomi bagi rakyat kecil’, tanpa saya dapat memahami faktor-faktor, (atau apa istilahnya) variabel-variabel (atau apa namanya) di balik semua itu.

Kyai-ne Globalisasi ini dari waktu ke waktu terlihat semakin mengerikan saja dalam pandangan dan bayangan saya seorang rakyat kecil ndeso. Yang saya tahu hanyalah harga BBM dinaikkan saja dari tahun ke tahun karena mengikuti pasaran harga minyak dunia. Pemerintah tidak lagi memberikan subsidi untuk harga BBM yang terjangkau bagi saya-saya ini orang kecil. Akhirnya untuk dapat membeli BBM karena butuh ya harganya kita usahakan kita jangkau-jangkaukan. Tapi yang itu mungkin lebih terkait ke krisis minyak dunia. … Istilah pasar bebas dunia atau free-trade area itu dalam pandangan-saya-yang-terbatas hanya saya komentari: Apa-apaan tuh? Masak sebuah negara harus membuka selebar-lebarnya terhadap arus barang dan jasa produk dari luar tanpa punya hak untuk melakukan proteksi sedikitpun juga demi warga negaranya? Saya membayangkan negeri kita akan kebanjiran produk-produk barang ataupun jasa dari luar negeri, lalu produk domestik kita sendiri akan kalah bersaing di negeri sendiri.

Saya tidak paham ilmu ekonomi dan hukum-hukum tentangnya; yang saya tahu hanyalah bahwa yang namanya keadilan itu harus ditegakkan dimanapun juga tempatnya. Dan demi menegakkan keadilan itu, yang lemah harus dilindungi dari nafsu serakah angkara-murka si kuat. Saya mulai meyakini bahwa kita semua bangsa Indonesia harus melawan cengkeraman kapitalisme-global. Pemerintah harus berani campur tangan demi melindungi kesejahteraan warganya. .. Kalau saya mau digolongkan, silakan Anda golongkan saya sebagai orang yang menganut paham sosialis-demokrat…. Atau golongkanlah saya sebagai sosialis daripada kapitalis, atau paling tidak mengikuti faham ekonomi Keynesian. Tapi saya tidak peduli dengan istilah-istilah penggolongan itu, karena sesungguhnya saya memang tidak paham serta takut dan malu kalau keliru sebut. Apa yang saya sebutkan tadi pun, saya yakin sudah membuat Anda tersenyum simpul, karena kebodohan saya sudah terungkap dan Anda ketahui. Saya tidak peduli orang mau menyebut saya apa, tapi yang saya tahu hanyalah bahwa saya memiliki hak berpikir dan berpendapat sekemampuan saya. Ya kalau saya salah, maka tolong dikoreksi saja.

Siapa dan Bagaimana Pemikiran Joseph Stiglitz

Globalisasi yang telah berjalan cepat pada sekitar 3 dasawarsa terakhir ini telah memunculkan kritik tajam yang membuka sisi-sisi gelap, bahkan negatif dan destruktif dari proses globalisasi. Yang menarik adalah bahwa kritik sangat tajam terhadap globalisasi itu justru berdatangan dari kalangan dalam, dari mereka yang pernah berada di “sarang penggerak” globalisasi. Di antara kritikus terhadap globalisasi itu, yang paling menjulang adalah Joseph Stiglitz, karena pemikirannya yang konsisten dan komprehensif, dengan didukung teori ekonomi dan praktik lapangan yang mengesankan.

Selain pernah mengajar di Yale, Duke, Stanford, Oxford, dan Princeton; Stiglitz kini mengajar di Universitas Columbia. Ia pernah menjadi wakil presiden Bank Dunia (1997-2000) dan menjadi Ketua Dewan Penasehat Ekonomi Presiden Clinton (1995-1997). Stiglitz juga mendapat Hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 2001. Di antara pemenang Hadiah Nobel yang masih hidup, Stiglitz adalah ekonom yang paling banyak menulis buku dan artikel di berbagai jurnal ilmiah.

Tiga bukunya yang menghantam globalisasi adalah Globalization and Its Discontents (2002), The Roaring Nineties: Seeds of Destruction (2003), dan Making Globalization Work (2006).

Dalam buku pertamanya, Stiglitz menunjukkan bahwa ekonomi pasar bebas tidak pernah menghasilkan efisiensi karena adanya informasi asimetris dari pelaku pasar. Tangan yang tidak kelihatan (invisible hands) yang “mengatur” pasar sejatinya tidak pernah ada. Yang ada adalah bahwa pelaku pasar yang menguasai informasi akan meneguk keuntungan atas kerugian mereka yang miskin informasi. IMF menjadi sasarn kritik Stiglitz karena pada dasarnya IMF memaksakan konsep pasar bebas terhadap negara-negara yang menjadi nasabahnya.

Keyakinan IMF bahwa keterbukaan ekonomi dan liberalisasi adalah panacea atau obat mujarab bagi keterbelakangan ekonomi dikoreksi oleh Stiglitz secara meyakinkan. Negara-negara yang membuka lebar dirinya terhadap perdagangan bebas, melakukan deregulasi pasar uang, dan mendadak menswastakan berbagai perusahaan milik negara dalam kenyataannya justru mengalami kemunduran sosial dan ekonomi. Bukan mengalami kemajuan. Liberalisasi pasar modal malah memukul pasar yang baru mulai bangkit di negara berkembang dan bukannya memeperkuat.

Keadaan yang menyusahkan bagi negara berkembang justru muncul sebagai akibat liberalisasi modal dan keuangan. Negara berkembang menjadi korban serbuan uang panas (hot money) yang masuk, yang pada gilirannya mengangkat kejayaan real-estate untuk sementara waktu dan menghasilkan boom atau lebih tepat bubble (buih). Namun begitu sentimen pasar investasi berubah karena ada perubahan sosial atau politik tertentu, uang yang masuk segera ditarik lagi keluar dan mengakibatkan kehancuran ekonomi (bust). Dus, ekonomi boom and bust.

Secara tersamar sesungguhnya Stiglitz juga membenarkan adanya mentalitas kolonialis di pihak IMF. Katanya, terlalu sering pendekatan IMF ke negara berkembang berbau penguasa kolonial. IMF menunjukkan semacam paternalisme terhadap negara berkembang dengan gaya khas: “Kami pihak yang sudah mapan paling tahu bagaimana cara mengelola pasar modal. Kerjakan saja apa yang kami perintahkan.” Tentu saja arogansi semacam ini cukup menyakitkan dan menunjukkan bahwa IMF sesungguhnya mengalami defisit demokrasi.

Pukulan Stiglitz terhadap Bank Dunia tidak sekeras terhadap IMF. Menurut Stiglitz, Bank Dunia adalah sebuah organisasi yang terus belajar (a learning organization), sedangkan IMF gagal belajar (learning impaired). Stiglitz menggambarkan IMF telah membabi buta mencengkeram ideologi fundamentalisme pasar bahwa pasar paling tahu apa yang paling baik dan tidak memerlukan debat publik dan tidak butuh suara kritis. IMF mendorong para stafnya untuk berpikir mekanis sesuai “financial programming model” yang diajarkan di berbagai seminar, yakni sebuah model di mana kebijakan moneter dan fiskal dipertahankan untuk menyeimbangkan antara penawaran dan permintaan dan di mana informasi asimetris tidak dikenal.

Kritik Stiglitz pada WTO juga tidak kalah telak. Baginya WTO adalah simbol yang paling jelas dari kesenjangan global dan kemunafikan (hipokrisi) negara-negara industri maju. Negara-negara maju terus saja berkhutbah, bahkan memaksa, agar negara berkembang membuka pasarnya bagi produk negara maju. Akan tetapi mereka menutup rapat pasar mereka sehingga produk negara berkembang tidak dapat masuk, terutama produk pertanian dan tekstil.

Negara maju tanpa henti berkhutbah supaya negara berkembang tidak memberikan subsidi di sektor industri, tetapi mereka terus menerus memberikan subsidi milyaran dolar bagi para petaninya, sehingga mustahil negara berkembang dapat bersaing dengan mereka. Demikian juga Amerika Serikat selalu berkhutbah tentang keindahan atau keutamaan pasar yang kompetitif, namun Amerika serikat-lah yang paling cepat membentuk kartel global untuk untuk baja dan aluminium ketika industri dalam negerinya mulai terancam oleh impor.

Pada dekade 1990-an pengaruh Amerika terhadap ekonomi global tidak tertandingi. Bukan secara kebetulan bila dalam dasawarsa tersebut krisis ekonomi yang sangat tajam terjadi beruntun di berbagai belahan dunia yang lain. AS memang bertahan, bahkan memetik keuntungan gara-gara harga barang impor yang rendah, dan sebagian besar keuntungan mengalir ke bank-bank investasi yang menjadi promotor pasar modal global.

Sayang sekali AS tidak mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi gejolak ekonomi internasional sebagai akibat percepatan dan pertumbuhan globalisasi modal. Di samping itu penyakit bawaan AS, yakni mau menang sendiri dan terus mengendalikan hegemoni ekonomi global, membuat nasib negara-negara berkembang semakin buruk.

Semua negara berkembang diminta membuka pasar mereka bagi seluruh wilayah ekspor, khususnya buat barang-barang Amerika yang paling kompetitif. Sedangkan Amerika mempertahankan tarif perdagangan tinggi serta menggelontorkan subsidi guna melindungi sektor pertanian dan berbagai macam industrinya sehingga pasar domestik Amerika tertutup rapih dari kompetisi produk pertanian dunia ketiga.

Stiglitz mencemaskan usaha hegemoni Amerika dan peranannya dalam sistem internasional. Amerika cenderung lupa bahwa dunia telah menjadi semakin interdependen. Satu-satunya cara untuk mewujudkan stabilitas global adalah lewat perjanjian/kesepakatan internasional yang setara dan adil. Hal ini menuntut kesediaan dan kerjasama Amerika agar tidak mudah menggunakan kekuasaan telanjang; tidak gampang mendiktekan kehendak yang tidak proporsional di tengah krisis; juga tidak memanfaatkan secara berlebihan kekuatan ekonomi Amerika untuk mempromosikan perjanjian perdagangan yang tidak adil; demikian juga tidak mengambil kebijakan perdagangan hipokrit.

Sebagai ekonom, Stiglitz berbicara tentang keadilan sosial yang tidak boleh dilupakan dalam proses globalisasi ekonomi. Keadilan sosial dalam arti luas, persamaan kesempatan, pemberdayaan rakyat, penciptaan kesempatan, kesetaraan yang lebih langgeng antar generasi, penguatan supervisi pemerintah terhadap pasar, karena market has no memory and no mercy.

Dalam bukunya Making Globalization Work (2006) Stiglitz, seperti dalam buku-buku sebelumnya, pada dasarnya tidak ingin mengubur kapitalisme, tetapi ingin menyelamatkan kapitalisme lewat antara lain reformasi pasar yang selama ini diagungkan oleh kaum neo-liberal. Kaum neo-liberal pada dasarnya berpendapat setiap restriksi yang dilakukan pemerintah terhadap perdagangan, industri manufaktur, dan penerapan tarif dan terhadap pasar pada umumnya hanya akan membuat ekonomi suatu bangsa makin terpuruk.

Sebaliknya bila kontrol atau restriksi itu dihilangkan, semangat individualisme akan melahirkan usaha bebas dan persaingan bebas (free enterprise, free competition) yang kemudian berarti bebas bagi para kapitalis untuk meneguk sebesar-besar keuntungan sebagaimana mereka inginkan.

Mengapa model globalisasi yang sedang berjalan dewasa ini tidak memberikan manfaat bagi kebanyakan masyarakat dunia? Jawaban stiglitz sangat sederhana, yakni karena ada lima kelemahan kunci:

  • aturan main yang ada tidak fair dan dirancang supaya menguntungkan negara-negara kaya dan korporasi;

  • globalisasi mengunggulkan nilai-nilai material di atas nilai lainnya, sehingga tidak ada perhatian terhadap lingkungan hidup;

  • aturan perdagangan dunia cenderung menenggelamkan kedaulatan negara-negara miskin;

  • pertumbuhan ekonomi berdasar hukum-hukum pasar hanya menguntungkan sebagian orang dan memperlebar kesenjangan; dan

  • model atau resep Amerika yang dipaksakan atas negara-negara miskin cenderung merusak dan menimbulkan kebencian atau perlawanan.

Dari berbagai pemikiran Stiglitz yang disampaikan dalam Making Globalization Work, yang sangat penting untuk dicermati yaitu “kutukan sumber daya alam” yang harus dihilangkan dari negara-negara berkembang. Kita semua diingatkan bahwa sumber daya alam yang kita miliki pada hakekatnya dapat menjadi berkah, tetapi dapat juga menjadi kutukan. Sayang sekali; di negara-negara berkembang sumber daya alam seperti minyak dan gas, juga mineral atau non-mineral, lebih menjadi kutukan daripada kurnia dan berkah Tuhan.

Resource curse, kutukan sumber daya alam atau curse of oil, kutukan minyak di berbagai negara berkembang menunjukkan adanya paradox of plenty. Paradoks antara sumber daya alam yang melimpah di sebuah negara dan kemelaratan rakyat yang merata di dalam tubuh bangsa bersangkutan. Sumber daya alam yang melimpah seringkali justru membuat sebuah bangsa menjadi miskin, tidak produktif, cenderung malas, dan memerosotkan industri manufaktur, industri pertanian, dan pada gilirannya menurunkan kemampuan ekspornya. Bukan itu saja. Korupsi yang dilakukan pemerintah juga semakin menggila karena kekayaan melimpah yang tersimpan di perut bumi.

Stiglitz memperingatkan bahwa dengan kekayaan alamnya yang melimpah, negara berkembang seharusnya lebih berhasil dalam membangun masa depannya, apalagi bila negara maju bersedia membantu proses pembangunan itu dengan resep ekonomi yang benar. Yang diperlukan oleh negara berkembang dengan kekayaan alam yang melimpah bukan bantuan atau hutang asing. Namun yang diperlukan negara-negara berkembang adalah

“Pertolongan lebih besar agar mereka memperoleh harga/nilai penuh bagi sumber daya alam mereka dan dapat membelanjakan uang yang mereka peroleh dengan cara yang benar”.

Stiglitz mengingatkan bahwa strategi perusahaan-perusahaan minyak, gas, dan tambang (korporat multinasional –peny.) adalah berusaha meyakinkan pemerintah negara-negara berkembang agar mendapat bagian sesedikit mungkin, sambil membantu pemerintahan yang bodoh itu menemukan alasan dungu, mengapa memperoleh bagian yang sedikit justru lebih baik. Mereka mengatakan bahwa diperlukan keuntungan sosial, sehingga banyak kawasan harus dibangun. Lewat perolehan pajak dan royalti tertentu pemerintah sudah dapat memetik keuntungan. Tidak perlu menyiapkan modal, teknologi dan tenaga ahli untuk menggarap pertambangan. Serahkan saja semuanya, termasuk operatorship-nya ke perusahaan asing, pemerintah negara berkembang tahu beres.

Bahwa dengan sikap pemerintah seperti itu di mana bagian terbesar keuntungan pertambangan diangkut keluar, sementara negara tuan rumah hanya mendapat bagian kecil keuntungan, hakekatnya negara berkembang seperti Indonesia tidak memiliki masa depan. Kekayaan alam yang seharusnya dinikmati oleh bangsa secara keseluruhan, justru “dihibahkan” kepada perusahaan-perusahaan asing. Dan inilah yang telah terjadi di Indonesia dari masa ke masa. Bahkan bisa dikatakan keadaannya semakin parah.

 

Pendapat Amien Rais dalam bukunya: “Agenda-Mendesak Bangsa: SELAMATKAN INDONESIA

Banyak korporasi asing yang mengerjakan kegiatan pertambangan di negara kita, begitu bebasnya dan begitu serakahnya dalam menjarah sumber daya alam kita, sehingga mereka bukan lagi bagaikan negara di dalam negara (a state within a state), tetapi sudah seperti negara di atas negara (a state above a state). Kita hanya menjadi sekedar penonton yang membisu, karena kita tidak berani berteriak, suka atau tidak suka.

Seluruh kontrak karya pertambangan yang kita buat dengan berbagai korporasi asing, seluruhnya lebih menguntungkan pihak asing dan merugikan bangsa sendiri. Nampaknya kita sudah di-“brainwash” bahwa kontrak karya itu kita anggap sacrosant alias suci, tidak mungkin dinegosiasi ulang, dengan alasan pacta sunt survanda, perjanjian yang sudah disetujui tidak boleh diotak-atik. Perjanjian itu harus dilaksanakan.

Kita memegang teguh doktrin pacta sunt survanda tetapi melupakan klausul hukum yang tidak kalah penting, yaitu klausul rebus sic stantibus (‘things thus standing’) yang berarti bahwa sebuah perjanjian menjadi tidak berlaku lagi (inapplicable) bilamana ada perubahan fundamental dengan konteks situasinya. Bila jelas-jelas sebuah perjanjian ternyata merugikan salah satu pihak maka pihak yang dirugikan dapat mengusulkan negosiasi ulang terhadap perjanjian tersebut. Namun bila keberanian itu tidak pernah kita miliki, maka sampai kapan pun perjanjian yang merugikan tersebut –dalam hal ini seluruh kontrak karya pertambangan- akan terus berlaku dan proses penjarahan sumber daya alam kita terus berlangsung sampai berakhirnya kontrak tersebut. Kita lebih bodoh dari keledai.

 

Saran Stiglitz

Ketika Stiglitz berkunjung ke Indonesia pada bulan Agustus 2007, ia mengingatkan supaya Indonesia keluar dari kungkungan pemahaman yang keliru terhadap globalisasi. Selama ini kelemahan kita adalah ‘kebodohan” dan “kepengecutan” kita sendiri sehingga seluruh mantra globalisasi seperti difatwakan oleh IMF, Bank Dunia dan WTO kita telan semuanya tanpa daya dan nalar kritis yang diperlukan.

Stiglitz mengingatkan bahwa liberalisasi pasar modal seperti kita praktikkan bukanlah sebuah solusi. “Bukti-bukti memperlihatkan bahwa di banyak negara berkembang, liberalisasi modal, pasar keuangan tidak menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi bahkan menciptakan ketidakstabilan. India dan China yang pertumbuhan ekonominya tinggi terhindar dari krisis Asia tahun 1997 tanpa melakukan liberalisasi”.

Indonesia perlu agenda baru”. Ini adalah usulan terpenting Stiglitz yang seyogyanya kita dengarkan dengan cermat dan obyektif. Di antara agenda baru itu adalah land reform dan investasi yang lebih berkaitan dengan pendidikan. Di samping itu ada semacam agenda mendesak, yakni melakukan negosiasi ulang terhadap seluruh kontrak karya pertambangan yang pada intinya merugikan Indonesia sendiri dan memberikan keuntungan eksesif pada korporasi asing. Jika pemerintah berani, yaitu berani menegosiasi ulang kontrak karyapertambangan yang merugikan rakyat, Indonesia kan memperoleh keuntungan jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh para investor asing.

-o0o-

Baca pula posting terkait berikut:

Stiglitz, Politik HKI Amerika Serikat dan Posisi Indonesia

 


9 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Stiglitz emang lebih didengarkan semenjak dia meraih nobel.

Tapi mas Nur, mbok kita juga diceritakan tentang pemikiran para ekonom yang pro perdagangan bebas. Karena ada yang bilang: Kita belum memahami sebelum kita mengerti dari dua sisi.

Kang Nur:
Waduh, pendidikan dan ilmu saya ini sangat terbatas je, Kang Dino. Tentu lebih pas bila orang berkapasitas seperti Kang Dino yg menjabarkan “ilmu2 tinggi” beginian. Mungkin di luar kemampuan saya bila menceritakan pemikiran ekonom lain itu. Tulisan di atas kebanyakan saya hanya main kutip mentah2 saja kok.🙂 Saya tertarik karena ini berkait dgn globalisasi khususnya di bidang ekonomi. Bgmn hal itu berpengaruh kini dan nantinya thd kehidupan wong2 ndeso macam saya. Saya akan berterima kasih bila Kang Dino berkenan menuliskan-menjelaskan ttg hal yg berkait dg itu. Di blog Kang Dino juga pun pasti akan saya baca.

Komentar oleh Dino

[…] tentang ekonomi.. ada tulisan tentang pemikiran Stiglitz (ekonom peraih nobel) di blognya Kang Nur yang menurutku […]

Ping balik oleh Dino’s Journal » Orang China Semakin Kaya

Teori dualisme mengatakan bahwa ketimpangan ekonomi di dunia ini memang sengaja dibentuk untuk memperkukuh kedudukan negara-negara poros terhadap upayanya mengeksploitasi negara-negara satelit (baca: negara berkembang). Dan globalisasi ekonomi adalah salah satu alat utamanya.

Kang Nur:
Qta senang bila Bang Rafki brknan mnjelaskn ‘Teori Dualisme’ itu.🙂

Komentar oleh Rafki RS

Ada ekonom yang memperbaiki dunia, ada juga yang terlibat merusaknya, namun kebanyakan ekonom masih sibuk bikin model ekonometri tentang kemiskinan dan tak hirau pada orang-orang miskin di dekatnya.

Salam dari kampus kerakyatan..

Kang Nur:
Apa itu berarti pendekatan sains saja tidak cukup, namun juga dgn spiritualitas?

Komentar oleh Zuchrivious

hmmmm kira2 saran Stiglitz dilaksanakan gak ya oleh pihak berwenang di sono??😀

Kang Nur:
Se-besar2 Stiglitz, sy qra temannya blumlah cukup banyak. Kebijakan dr pemilik-pemegang kuasa sy qra tak cukup skedar diingatkan oleh (seorang) saintis. Ada banyak faktor lain lagi. Di negara besar demokratis (katanya) sperti AS atau lainnya; se-demokratis2nya, dan se-bebas2nya suatu pendapat dikemukakan, bukankah itu masih merupakan suara yg kecil saja? Lagipula bukankah “saran Stiglitz” pd artikel di atas lebih ditujukan kpd pemegang kebijakan di negara kita sendiri, Indonesia?

Komentar oleh eNPe

Tolong listkan nama-nama kios buku dan pemiliknya serta nomer telpun HP nya yang ada kompleks Pintar ini untuk dikontak

Kang Nur:
kalo tidak mendesak dikejar waktu, akan saya usahakan utk saya daftar dan tampilkan, krn itu saya kira akan brmanfaat bagi banyak orang; namun mohon maaf bila belum sempat.. akan saya tampilkan dr waktu ke waktu

Komentar oleh MURSITI

Howdy I am so glad I found your weblog, I really found you by accident, while I was browsing on Digg for something else,
Anyhow I am here now and would just like to say thank you for a tremendous post and a all round exciting
blog (I also love the theme/design), I don’t have time to look over it all at the moment but I have book-marked it and also included your RSS feeds, so when I have time I will be back to read more, Please do keep up the fantastic work.

Komentar oleh travel trailer blue book

I go to see everyday some blogs and websites to read articles or reviews,
however this web site gives feature based posts.

Komentar oleh Read the Full Document

Admiring the hard work you put into your website and detailed
information you present. It’s nice to come across a blog every once in a while that isn’t the same outdated rehashed material.
Great read! I’ve saved your site and I’m adding your RSS feeds to my Google account.

Komentar oleh myspace color codes




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: