The Nurdayat Foundation


Pribang-pribang Satu
Senin, 25 Agustus 2008, 6:15 pm
Filed under: Serba-serbi | Tag:

Garuda Pancasila

Akulah pandu kamu

Satriyot proklamasi

Sadiya barkoba untukmu

Pancasila dasar negara

Rakyat adil makmur santosa

Pribang-pribang satu

Ayo maju maju ayo maju maju

Ayo maju.. maju

Beberapa orang pembaca dari wilayah Yogyakarta (propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) mungkin langsung paham dengan apa yang saya maksud dengan judul “Pribang-pribang Satu” tersebut di atas. Tentu sambil tersenyum simpul agak malu. Ya, itu adalah syair lagu ‘Garuda Pancasila’ yang terjangkit “virus taqlid tradisionalisme” (he..he.., istilah apa pula ini). Melenceng dari ‘pakem’ yang benar, karena semata-mata ikut-ikutan. Dalam bahasa Jawa-nya dapat pula disebut “rubuh-rubuh gedhang” (rubuh-rubuh pisang), yaitu sekedar ikut-ikutan dengan apa yang sudah biasa tersebar luas dilakukan orang lain menjadi kebiasaan, tanpa upaya kritis untuk benar-benar memahaminya dengan upaya sendiri. Bolehlah saya sebebasnya mengistilahkannya begitu ya? Kenyataan yang saya maksud dan tampilkan yaitu betapa banyak siswa-siswa SD di jaman saya dulu (tahun 80-an) di sebuah desa pinggiran Yogyakarta ternyata tidak pernah diajari menyanyikan lagu ‘Garuda Pancasila’ dengan benar oleh guru-gurunya sampai mereka kelas 4-5 SD. Anak-anak usia SD jaman saya itu banyak menghapal dan tahu lagu-lagu “wajib” (begitu dulu diistilahkan untuk lagu-lagu kebangsaan dan atau perjuangan dan atau cinta tanah air) hanya dari asal mendengar saja dari kakak-kakak mereka atau teman sepermainan yang lebih tua.

Mari kita lihat satu per satu kata-kata dalam syair lagu yang telah “menyeleweng tersesat” itu. Kata Garuda Pancasila tentu saja masih benar, kebangetan-lah bila itu sampai salah. Baru pada bait kedua muncul kata “pandu kamu” dari syair aslinya yang seharusnya pendukungmu. Mungkin saja ini agak rancu-rancu sedikit dengan syair dari lagu ‘Indonesia Raya’: Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku. Jadi memang masih mending penyelewengan kata syair yang ini masih mengandung makna. Seingat saya, teman-teman saya se-SD dulu itu memang relatif sudah benar dalam menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’. Kata pendukungmu mungkin tidak lebih dipahami daripada kata pandu. Pramuka (scout) dulu ‘kan dinamakan pandu?

Selanjutnya syair yang mestinya berbunyi Patriot proklamasi yang artinya kira-kira adalah ksatria pembela bangsa yang siap mempertahankan cita-cita proklamasi kemerdekaan ’45. Lha bagaimana kok jadi Satriyot itu? Jadi ya tidak tahulah bagaimana konsonan P pada patriot kok bisa berubah menjadi S. Tapi mungkin kira-kira begini: anak-anak dulu teman saya itu pada berpikir; apaan itu patriot? Kalau satriyo sih mereka malah pada tahu, satriyo adalah ksatria, pahlawan yang gagah. Ksatria sendiri mungkin memang berasal dari bahasa Sansekerta yang telah diadopsi ke dalam bahasa Jawa satriyo (atau dapat ditulis pula dengan satrio), lalu juga bahasa Indonesia itu. Kata satriyo banyak mereka dengar dari cerita wayang atau kethoprak. Tapi kalau Patriot, itu kata apaan? Dari bahasa mana itu? Kan lebih enak bilang Satriyot daripada Patriot? He..he.. Ya seeenak kami sajalah apa mau kami bilang. Mungkin begitu pikir mereka.

Lalu syair selanjutnya yang mestinya sedia berkorban untukmu, menjadi sadiya barkoba untukmu. Masih mending kata untukmu tidak terpeleset menjadi untumu, yang artinya gigimu. Ya mungkin mereka punya pakdhe yang namanya Sadiyo, lalu bahasa Indonesia mereka anggap mudahkan dengan mengubah vokal “o” (o seperti pada kompor) menjadi “a”. Entah bagaimana pula kata berkorban kok menjadi barkoba. Wah, ini ngawur. Untung bukan menjadi narkoba, meski saat itu kata narkoba belum populer. Bayangkan bila syair itu menjadi SEDIA NARKOBA UNTUKMU??? Apa mereka mau mendaftar jadi bandar?

Yang beda dari bait selanjutnya yaitu kata sentosa menjadi santosa. Kalau ini mungkin hanya karena ada teman mereka yang namanya Santoso.

Dua bait berikutnya itu sudah benar, tapi bait selanjutnya sangat parah dan tanpa makna. Pribang-pribang satu ! Apa pula makna kata ini? Tidak ada. Sama sekali kosong. Hanya untuk bunyi-bunyian belaka. Dalam bahasa Jawa pun itu tidak punya arti. Apa anak-anak ini sengaja main bunyi-bunyian? Mungkin lagu wajib ini dimirip-miripkan irama-gayanya dengan tembang dolanan yang sering mereka dengar. Kata penting “pribadi bangsa” tidak muncul di situ. Mungkin selanjutnya guru-guru mereka juga tidak sempat pernah menerangkan apa itu arti “pribadi bangsa”. Seingat saya, kami memang tidak pernah mendapatkan penjelasan yang cukup tentang arti kata “pribadi bangsa” dalam syair lagu Garuda Pancasila itu. Jadi tinggallah mereka menyanyikan itu sebagai bunyi-bunyian belaka.

Baru setelah kelas 4 – kelas 5, pelajaran lagu wajib ada lebih perhatian. Di saat pelajaran kesenian menyanyi, acara menyanyi bebas termasuk ada beberapa murid yang menyukainya, meskipun mungkin juga beberapa anak pemalu pada tidak suka. Saat menyanyi bebas di depan kelas itu, guru mendapati bahwa beberapa muridnya keliru menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Barulah itu dibenahi.

Saya termasuk yang agak beruntung karena ibu-bapak saya adalah guru. Meski demikian saat itu saya juga ke sekolah bertelanjang kaki (dlm. Bhs. Jawa = cekeran) sebagaimana hampir semua teman-teman lainnya. Karena bapak-ibu saya adalah guru itu, di rumah kami memiliki buku-buku bacaan yang kiranya tidak dimiliki oleh teman-teman saya. Bahan-bahan ajar dari ibu-bapak sering kami anak-anaknya ikut membaca, bahkan bersama-sama. Begitu pula beberapa lagu wajib itu. Saya mampu menyanyikan beberapa “lagu wajib” yang teman sekelas-seangkatan saya belum tahu dan mampu menyanyikannya, karena saya banyak diajari oeh ibu saya.

Salah satu lagu yang masih saya kenang karena membuat saya bangga teringat hingga kini adalah lagu “Rayuan Pulau Kelapa”. Di salah satu saat pelajaran menyanyi bebas itu, saya mampu tampil di depan kelas memukau semua teman-teman saya, bahkan juga bu guru (nama beliau adalah bu Saniyem, asalnya dari Godean Sleman); karena saya mampu menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” dengan penuh penghayatan. Apalagi bukankah lagu ini memang cukup panjang? :

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau Kelapa nan amat subur

Pulau Melati pujaan bangsa sejak dulu kala

Melambai-lambai nyiur di pantai

Berbisik-bisik raja k’lana

Memuja pulau nan indah permai

Tanah Air-ku Indonesia

Pada diri saya sendiri muncul rasa haru-menggelora saat menyadari betapa teman-teman saya itu, yang semuanya putra-putri bertelanjang kaki itu, seakan terkesima menikmati mengikuti dengan hikmat nyanyian saya. Aku sungguh mencintai tanah-airku, itulah yang saya rasakan. Sebagai anak umur 10 tahun, saya bangga saat itu, apalagi selanjutnya Ibu Saniyem mengajak semua teman bertepuk tangan begitu saya menyelesaikan lagu itu.

Itulah sekelumit cerita saya saat masa kecil dulu, berkait dengan lagu-lagu “wajib” yang menggelorakan semangat cinta tanah-air.

-o0o-


17 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Wah ternyata jago nyanyi to.. Ikutan Indonesian Idol aja Kang.. Nanti aku kirim sms hehe..

Kang Nur:
Wah ya tidak juga kok mas Dino. Seingat saya ya cuman sekali di masa kecil itu saja kok saya tampil nyanyi dg PD juga puas. Slanjutnya misalnya pas lomba2 karaoke di kampung memperingati 17-an, sya juga tidak ikut.🙂

Komentar oleh Dino

hehehe. saya juga waktu sd pake kata kata satriot dan pribang pri bangsaku, hayah. uopo meneh itu…

Kang Nur:
lha ya pokoknya yg pake abang-abang itu ‘kan disukai anak2😆

Komentar oleh idiotz

wah, le nganalisa lagu kaya roy suryo nganalisa poto porno😀 detil banget😀

Kang Nur:
apa saya berbakat nganalisa poto porno juga apa ya?😀 saya akan coba deh😆

Komentar oleh bakuljangan

hehe..nuansanya kayak kembali ke jaman kompeni belajar PS,

Kang Nur:
wah ini kritik tajam tapi bagus krn terus-terang, mas. skarang memang ‘kan banyak kompeni model baru, maka saya memilih jadi Wong Samin saja.🙂 gaya yg saya pilih utk blog saya ini memang gaya-gaya jadul (=jaman dulu). mungkin ada yg nyebut gaya retro itu, lho mas. krn di masa kini ketika blog telah menjadi be-ribu2 jumlahnya ini, maka saat membikin blog sy brpikir bahwa blog ini perlu memiliki satu ciri khas yg membedakannya drpd blog2 lainnya. saya qra gaya retro blum banyak dipake orang. juga blog ini sengaja ingin menampilkan nilai2 lokal-tradisional yg memiliki nilai nostalgik, serta lintas-budaya nusantara. secara kerangka lebih besarnya lagi, (maunya) blog ini berpola-pikir post-modernis, jadi memang sudah bukan modernis lagi. banyak hal yg maunya memang menggali nilai2 masa lalu. ada bbrp nilai ndeso yg ingin kita angkat lewat blog ini, yaitu kesederhanaan, keluguan, dan kejujuran, serta menghormati keragaman. begituu.. mas ngAmron.😆 apalagi saya ‘kan asli wong ndeso, shg ktika saya playing role sbg wong ndeso, memang begitulah saya aslinya.😆

Komentar oleh ngamron

Wah… waktu dulu… zamannya TVRI masih menjadi satu2nya stasiun TV di negeri ini, setiap malam sehabis berita jam 7, pasti mau nggak mau dengerin itu “Garuda Pancasila” dan nggak bisa pindah ke channel lain! Huehehe….

Btw… kalau anak2 sekarang gimana ya?? Anak saya SD juga nggak hafal lagu Garuda Pancasila tuh… huehehe…..

Kang Nur:
Tapi jaman dulu itu kebanyakan teman2 saya itu orangtuanya memang pada belum punya TV kok Bang Yari. Nonton TV saat itu seperti nonton layar tancep. Dusun saya nonton rame2 kalo pas ada acara kethoprak. Pasti deh nggak banyak yg mperhatikan ucapan syair yg benar.🙂

Komentar oleh Yari NK

Matur nuwun sudah berkunjung ke blog saya,
dan maturnuwun juga karena sudah mengkoreksi…
Ini balas berkunjung, eh… malah saya langsung nyanyi pribang-pribang-saku je Kang Nur…
Lha penak le ngucapke pribang2 saku e🙂
Nuwun, salam kenal kembali Dab…

Komentar oleh ariefmas

gile bener….. NASIONALISMEnya tinggi banget……
sukses dah……
kok gak ikutan audisi penyanyi kang nur…….
keep smile kan abis ini puasa….

Kang Nur:
Yes, wish smile keep U 2 Kang Maman😀

Komentar oleh ma2nn_smile

Sama Kang Nur, saya bukan dari Jogja tapi Magetan. Banyak teman kecil yang menyanyikan lagu garuda pancasila salah tetapi maaf tidak separah itu yang saya ingat adalah “pribang-pribangsaku” kalau ngak salah saya pernah berdebat sama teman kecilku bahwa yang benar adalah “pribadi bangsaku” tapi karena saya sendiri dan yang salah banyak, saya kalah Kang Nur. Benar kalau sedikit dan Salah kalau banyak dan PD bisa menjadi benar. thanks

Kang Nur:
Whualah.. kalo gitu brarti virus ‘pribangsatu’ ini mewabah ke wilayah-wilayah berbahasa Jawa ya? Yaa.. salah kalo sudah terbiasa mungkin dianggap biasa2 saja juga Bu Yulis🙂

Komentar oleh yulism

wew partiot sejati laaah

Kang Nur:
whualah, lha wong patriot kok ya partiot, mbak ini..😀

Komentar oleh hidayanti

Top markotop mas. Salut buat orang-orang seperti anda yang mau dan mampu mempertahankan nilai2 budaya Indonesia….

Kang Nur:
Do’ain aja mbak🙂

Komentar oleh iis sugianti

wow.. serius.. keren

Kang Nur:🙂 keren itu dalam bahasa Jawa berarti mudah geli bila dikilik-kilik, kang

Komentar oleh kw

deneng padha jaman cilikanku nang cilacap ya kang? pada baen nyanyine pribang-pribang satu….hi..hi..

Kang Nur:
lhah terbukti sudah bahwa sejak Magetan sampai Cilacap memang terkena wabah virus ‘pribangsatu’ ini..🙂

Komentar oleh gambarpacul

hehe… ancene aneh² kok…

dulu kalo seingat saya masih ada lagu yg diplesetkan menjadi bahasa jawa… tapi saya lupa.. hahay..

ah, kepolosan anak².. begitu bahagia…

Kang Nur:
Memang itu ada Kang R1do, saya ingat dikit di t4 saya begini: .. Garuda capil ng-gunung.. kathok abang ditambal sarung.. begitu.. tapi seterusnya saya lupa. Mungkin bila ditanyakan ke teman2 yg masih sebaya mereka ada yg ingat🙂

Komentar oleh r1d0

garuda pancal kucing😆
*nambah plesetan 1 neh kang

Kang Nur:
weh.. kalo asal pake kata ‘panca’, jangan2 nanti di Sunda muncul Garuda Pancalongok..😆

Komentar oleh ariebp

Versi saya sedikit berbeda kang….

Garuda Pancasila
Aku la pandukumu
Patriot mota mati
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur santosa
Pribang pribang saku
Ayo maju maju ayo maju maju
ayo maju maju…

Kang Nur:🙂 wa la aku juga pandukumu, tapi smoga saja tidak mota mati😆

Komentar oleh bootdir

wiw, saya dulu nyanyinya juga gituh, pribang pribang saku

ada versi di pancal kucing mecahne piring

Kang Nur:
hwa?😆 lha versi pancal kucing itu memang ada to? kalo gitu anak2 dulu mmg sudah kreatip plesetan juga ya?

Komentar oleh Cebong

hahahahahha,,
tulisannya lucuw, kocak, seruw..
bahasanya ringan dan gk ngebosenin…
tp klo boleh bagi cerita dikit nich kang..
dulu pas sd ec jg prnh maju k depan kelas dengan bawain lagu yang sama..emank lagu ituw klo dinyanyiin sepenuh ati meresaaaaaappppp sekali yagh kang…
hohohoh…
Tp turut prihatin jg klo inget anak2 Jaman Sekarang..
klo jaman Dulu tw lagu tapi lirik salah yagh mungkin bisa dimaklumi..
tp klo jaman Sekarang..
adowwww… anak2 kecil hapalnya malah lagu peterpan ato nidji..
hihihi..
SetujuKah???

Oiya..
Salam kenal yagh Kang..
^^

Kang Nur:
bener bahasa yg saya pake di sini gak ngebosenin nih? trims ats statement-nya. soalnya saya masih men-cari2 bentuk utk gaya penulisan sih🙂
ya.. saya setuju kalo anak2 sekarang perlu diajari lebih baik lagi utk lagu2 ‘wajib’ itu. karena, itu saya qira mmg akan berkesan hingga mereka dewasa nanti. smoga dgn upaya kecil itu, paling tidak generasi itu akan malu kalo bikin rugi negara dan bangsa.🙂

Komentar oleh ec




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: