The Nurdayat Foundation


Serial Ramadhan dari Padukuhan Pondasen (1) : Saya Berketetapan Hati untuk Berani Mengumumkan Awal Ramadhan Itu
Jumat, 5 September 2008, 9:26 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag: ,

Bukan mustahil perkembangan di era internet ini akan menjadikan orang-orang Islam Indonesia menjadi semakin terbuka juga dalam hal mencari sumber rujukan untuk mengaji dan mengkaji ajaran agamanya, serta fatwa-fatwa yang berkait dengan tuntunan ibadah yang akan dilaksanakannya. Bahkan wong ndeso seperti saya pun sudah lima tahunan ini selalu mencari rujukan sumber lewat internet saat menjelang Ramadhan ataupun mengakhirinya demi mencari situs-situs yang menerangkan tentang penentuan awal bulan. Semua itu telah membawa perubahan besar bagi diri saya, seorang wong ndeso. Bukan mustahil sebuah revolusi metode pengkajian pemahaman keagamaan segera akan terjadi karena perkembangan internet ini. …Berikut ini adalah kisah saya tentang pemahaman dan sikap saya tentang hisab, ru’yat dan penentuan awal tanggal Qomariyah untuk keperluan ibadah. Satu hal yang mungkin juga dialami oleh orang-orang lain. Bagaimana pengalaman Anda sendiri?

Pada hari Jum’at Wage, 29 Agustus 2008 yang lalu, saya melakukan sesuatu yang saya anggap ‘bersejarah’ bukan hanya terutama bagi diri saya sendiri dan ‘pola model’ keberagamaan saya, namun mungkin itu satu hal baru juga bagi kebiasaan keberagamaan Islam di lingkungan padukuhan saya khususnya. Apa yang saya lakukan itu adalah siang itu pada sekitar jam 13.00, saya mengumumkan lewat corong pengeras suara masjid kecil di depan rumah saya, kepada orang-orang di padukuhan saya, bahwa: “Sesuai dengan perhitungan hisab, maka kita jamaah masjid Al-Amin (jamaah masjid kecil kami itu) akan menyelenggarakan sholat Tarawih pada malam Senin (=Minggu malam), 31 Agustus y.a.d. Dan Senin Pahing y.a.d., 1 September 2008 adalah hari pertama puasa.” Demikian saya umumkan.

Saat itu beberapa orang masih di ruang dalam masjid. Mereka itu adalah Bapak (=ayah) saya, Kang Jono, Kang Budi, dan 3 orang adik-adik dari remaja masjid yang laki-laki. Kami sedang membuka kotak(-kotak) infaq masjid dan menghitung uang yang terkumpul di dalamnya. Alhamdulillah, ternyata setelah kami hitung terkumpul sejumlah lebih dari 200 ribu rupiah. …Tapi itu adalah hasil dari 6 (enam) minggu! Ya, rata-rata per minggu/Jum’atan di infaq masjid kami hanya terkumpul Rp 35 ribu-an. Ya, maklumlah. Masjid kecil. Di dusun pelosok lagi.

Setelah saya umumkan itu, saya bilang ke Kang Jono yang Ketua Takmir: “Bagi yang meyakini ru’yat, apa yang saya lakukan ini, yaitu memberikan pengumuman ini sesungguhnya adalah ora ilok (=tidak patut, kurang pantas, tidak sopan; melanggar adat shg dapat berakibat kurang baik).” Ia bertanya, “Mengapa?” Meski ia adalah seorang sarjana pendidikan dari IKIP Negeri (dulu), ia memang kurang paham dengan urusan-urusan ushul fiqh. Selama ini, terutama juga sebelum dua tahunan lalu, ia sangat percaya dengan hasil perhitungan hisab yang biasa diumumkan oleh Muhammadiyah lewat media koran. Maka kujawab, “Lha ‘kan ya kalo lebih meyakini metode ru’yat, maka memang masih menunggu pengumuman dari orang-orang yang melakukan ru’yat dan berkesaksian benar-benar melihat hilal?” “Wuaah.” Hanya begitu tanggapannya. Sebelumnya tadi memang saya telah minta ijin darinya untuk mengumumkan.

Sesungguhnya juga dasar saya berpikir adalah begini: Bila saja Allah swt menghendaki perjalanan bulan mengelilingi bumi ini berhenti atau melambat beberapa lama saja, maka apa yang saya umumkan itu bukankah dapat saja meleset dari kenyataan yang sebenarnya? Apa yang saya lakukan itu sesungguhnyalah telah ndhisiki kersaning Allah (lancang mendahului kehendak Allah). Dengan pertimbangan agar kita ini sebagai makhluk janganlah lancang mendahului kehendak Tuhan ini pula, maka sesungguhnya saya adalah penganut dan meyakini metode “imkanur-ru’yat” dalam hal penentuan awal Ramadhan ataupun Syawal ini, sejak tiga tahun lalu. Metode imkanur-ru’yat saya yakini paling mengikuti kepada harfiah tuntunan teks-teks syari’at, namun juga paling menerapkan ilmu pengetahuan – teknologi mutakhir.

Maka, saya memang adalah penganut imkanur-ru’yat dalam metode penentuan awal bulan qomariyah, yang berkait dengan ibadah ini. Ya, minimal itu sejak tiga tahun lalu. Sejak beberapa tahun sebelumnya lagi, kepercayaan penuh saya kepada pengumuman hasil hisab-haqiqi-semata telah mengendor. Itu setelah saya banyak mengkaji teks-teks hadits Rasulullah saw. Dalam hal berkeyakinan-beragama, saya menjadi berpikir bahwa kita tidak dapat mendasarkan kepada ilmu-pengetahuan rasional semata. Setinggi-tinggi dan sehebat-hebat pencapaian ilmu-pengetahuan dan teknologi yang telah diraih peradaban manusia, tetaplah itu musti ditujukan untuk mengabdi dan tunduk kepada dhawuh dalem Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw. Itu lebih baik bagi seorang Muslim, saya kira.

Namun kalaulah saya adalah pengikut paham imkanur-ru’yat, apa artinya bahwa saya merasa perlu untuk memberanikan diri mengumumkan awal Ramadhan kepada khalayak umum tetangga kiri-kanan saya? …Tidak harus begitu. Itu sekedar kebutuhan khalayak tetangga saat itu menurut pertimbangan saya. Dan juga, itu adalah setelah dari banyak sumber, a.l. berita di koran, tulisan-tulisan di internet; saya mendapatkan info bahwa tinggi hilal pada Maghrib hari Minggu malam Senin Pahing, 31 Agustus 2008 itu telah mencapai lebih dari 5 (lima) derajat. Dengan perhitungan hisab yang menyatakan bahwa hilal sudah akan setinggi itu, kemungkinannya untuk dapat di-ru’yat adalah besar. Info itu adalah bersumber dari para ahli-nya, yang menguasai ilmu-pengetahuan astronomi dan atau juga ilmu falaq, maka saya wajib meyakininya. Namun itu juga setelah saya membuat perbandingan di antara beberapa info itu. Justru selanjutnya sampai kepada Jam-J Menit-M tenggelamnya matahari pada senja hari Minggu Legi tanggal 31 Agustus 2008 itu dan sidang itsbat (kalau masih sempat) saya akan memantau terus perkembangan laporan ru’yat dari orang-orang yang terdiri dari para ahli, ulama dan unsur pemerintah itu.

Kalau saya mengumumkan awal Ramadhan lewat corong pengeras suara di masjid depan rumah saya itu, saya mendasarkan pada pertimbangan bahwa ini adalah demi untuk kepentingan umum. Tetangga kiri-kanan akan lebih mantap dan tenang memulai Tarawih dan puasanya bila telah ada sikap dan pemberitahuan yang dikeluarkan oleh pengurus masjid. Paling tidak, ini adalah usaha. Namanya juga usaha.

Tahun lalu mereka menggerutu mengapa saya sebagai salah seorang yang cukup aktif di masjid dan cukup sering juga didengar pendapatnya malah mengambil sikap yang berbeda dari kebanyakan tetangga ini. Kebanyakan mereka mendasarkan pada pengumuman hasil hisab, sedangkan tahun lalu itu bahkan sebelumnya juga, nyatanya saya telah lebih mantap untuk mengikuti paham imkanur-ru’yat. Tapi setahu saya, kebanyakan ibu-ibu tetangga itu memilih mengikuti hisab, lebih karena mereka ingin kepastian tentang waktu gendhuren Syawal (=kenduri malam 1 Syawal). RT tetangga yang cenderung ikut menunggu pengumuman sidang itsbat dari pemerintah, ibu-ibu gelisah menyiapkan kenduri, mau jadi kenduri kapan.

Semoga awal Ramadhan ini dan terlebih lagi akhir Ramadhan untuk menentukan awal Syawal nanti, mereka tidak menggerutu lagi. Kalau saya sih, Insya Allah tidak akan pernah menggerutu lagi, karena saya kini adalah penganut imkanur-ru’yat. Paling-paling ya sedikit menahan rasa bila nanti keponakan saya pada datang di hari yang sudah mereka tetapkan sebagai 1 Syawal itu sudah makan-makan, sementara saya sendiri masih berpuasa karena saya yakini itu masih tanggal 30 Ramadhan. Tapi itu tentu jarang bahkan langka akan terjadi lagi.

Wallahu ‘alam bish shawab… Ya.., wallahu ‘alam bish shawab.

-o0o-

Lihat link posting terkait:

Visibilitas Hilal Awal Bulan Ramadhan 1429 H

Tarawih 1 Ramadhan 1429 H di Masjid Istiqlal

Berita2 Terkait

Klub Sumber Rujukan: Rukyatul Hilal Indonesia


12 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Sekarang mudah kok….. dengan software yang cukup sederhana, dapat dilihat kapan bulan baru (new moon) dari setiap bulan. Jika konjungsi atau ijtima’ udah lewat maka first crescent atau hilal pertama dapat juga dengan mudah dicari…..

Kang Nur:
wa.. nama software apa.. dapat di-donlod (gratis?) di mana ni, bang?.. soalny kan kita2 juga pengin lebih tahu dikit2. soalny jua saya sudah coba banyak cari lewat search-engine tapi belum tahu memilih mana yg bagus tp sederhana saja..🙂

Komentar oleh Yari NK

Kalau saya termasuk golongan kaum awam jadi mengikuti yang ditetapkan oleh para ahli yang saya anggap berkompeten. Semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmatnya untuk para Cendekiawan dan alim ulama.

Kang Nur:
hwalah, Bu.. kalo soal awam sih ya kita ini sama saja ‘kan?. kan semua orang muslim wajib untuk belajar, terutama mempelajari ilmu2 yg akan berguna-bermanfaat.. mungkin kita orang muslim mestinya memang rata2 harus cukup punya pngetahuan ttg astronomi. qta anggap penentuan awal bulan ini sbg ‘tantangan’ yg diberikan oleh agama qta.. tapi bila qta berpikir ttg spesialisasi, mungkin memang mending qta serahkan kpd ahlinya saja ya?🙂

Komentar oleh yulism

waduh…yang penting berpuasa aja deh…berpuasa perut, hati dan pikiran agar bisa dekat dengan Yang Di Atas….:)

Kang Nur:
setuju sih bang Andre.. tapi seringkali kita ini maunya jadi orang2 awam saja yg tak perlu memikul amanat-kemasyarakatan.. lha kok ya oleh orang2, kita ini dipercaya sbg pengurus masjid (misalnya), lalu orang2 itu malah menjadikan kita jadi tempat utk bertanya? lha ini gimana? lha saya orang bodho e malah ditanyai.. he..he..😀

Komentar oleh Andre

memang betul mas. masyarakat kita sebagian besar masih mengikuti ‘jadwal’ puasa takmir masjidnya. jadi seharusnya memang harus berhati-hati sekali dalam menetapkan kapan puasa dimulai (awal ramadhan) dan diakhiri (akhir ramadhan).

Kang Nur:🙂 Setuju banget deh, (mbak?) Irna.

Komentar oleh irna

Betul, perhitungannya mo ikut kemajuan tekhnologi atau yang awam.
Boleh saja, asal jangan ngeyel mencari pembenaran.
salam kenal

Kang Nur:
Kalo saya piqir ada 4 (empat) macam orang lho dlm hal ini, Pak Octa:
1. Orang yg Tahu teknologi-astronomi juga Tahu Ushul-Fiqh (istinbatul-ahkam).
2. Orang yg Tahu teknologi-astronomi tapi Tidak Tahu ushul-fiqh.
3. Orang yg Tidak Tahu teknologi-astronomi tapi Tahu Ushul-Fiqh.
4. Awam = Orang yg Tidak Tahu teknologi-astronomi, juga Tidak Tahu ushul-fiqh.
Orang yg meyakini metode ru’yatul-hilal bukanlah (hanya karena) orang (itu) tidak tahu teknologi-astronomi dan meyakini ilmu-pengetahuan modern; namun juga karena berbeda manhaj istinbatul-ahkam ushul fiqh-nya dgn orang yg meyakini metode hisab-haqiqi. Saya qira begitu. Buktinya orang yg memakai ru’yat justru lebih hobby dan ahli dlm hal mengamati bulan.

Komentar oleh cenya95

ikut komentar nih, soal awal puasa saya termasuk yang ikut pengumuman pemerintah yang seharusnya sudah disaring dari pendapat ahlinya gitu.
ajaran agama tuh yang penting istiqomah kan, lha sekarang yang pake ru’yat apa ya bener2 bisa istiqomah ya (cuma tanya aja lho).
mari kita bandingkan dengan jadwal sholat, awalnya kan nggak pake jam kan? contohnya subuh adalah terbit fajar (bisa dibedakan antara benang putih dan hitam), dzuhur adalah waktu tergelincir matahari dst….
kemudian sekarang pake patokan jam, praktis dan ndak ada yang protes (barangkali?).
kembali kepada waktu awal romadhon/syawal, yang masih setia pake manual (ru’yat) apa ya konsisten kalo mau sholat (setiap waktu) juga mengamati tanda2 alam (matahari) secara manual, jadi nggak plin-plan artinya istiqomah.
demikian pendapat orang awam, mudah2an umat islam diberi Allah kekuatan untuk beramal secara konsisten (istiqomah).

Kang Nur:
Pendapat Kang Jalu ini mirip banget dgn pendapat Kang Hendri Setiawan, S.Sos., MPA; tetangga saya, PNS di PemDa.
Tapi kita perlu mengingat bahwa tuntunan penentuan awal bulan (Ramadhan/Syawal/utk Dzulhijjah) -terkait ibadah ini memiliki hadits2 tersendiri, selain dan agak lain ceritanya dgn alur cerita jadwal sholat yg kini dgn jam. Scr sains juga peredaran matahari (semu-krn sesungguhnya krn rotasi bumi 24 jam) lebih mudah dihitung dan tetap, sedangkan peredaran bulan lebih rumit, tidak tetap setiap bulannya.

Komentar oleh Jalu

saya juka penganut hisab, kang. salam kenal dari saya. semoga silaturrahmi kita tetap terjalin meski hanya lewat blog, Billahi Fi Sabilil Haq Fastabiqul Khairot

Kang Nur:
ya, ok. kalo saya imkanur-ru’yat mungkin memang juga dapat dimasukkan lebih cenderung ke hisab; karena hisab dijadikan patokan lebih dulu. trims.

Komentar oleh Achmad Sholeh

Hisab maupun ruyat asalkan puasanya tenanan..😛

Kang Nur:
hwalah.. ya betul itu Mas Kopdang. kalo puasanya tenanan (=serius), nanti pas bukanya bisa puas. bisa minum kopi sambil goyang ndangdut😛

Komentar oleh Mas Kopdang

Setau saya pangkal permasalahan bukan di hisab atau rukyat. Tetapi pada persepsi tentang telah terjadinya ‘bulan baru’. Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki (kalo tidak salah istilah) dimana kalo bulan baru terbentuk di atas horison maka bulan telah ‘baru’. Tidak peduli setengah atau seperempat derajat.
Sedangkan untuk dapat ‘dilihat’ harus 4 derajat. Kalo pake alat bisa 2 derajat. (CMIIW)
Ini masalah persepsi dan keyakinan, tidak bisa dg argumen kenapa waktu sholat di’hisab’ semua setuju.
Sebenarnya semua juga menghitung, bahkan perbedaan pun sudah terhitung. Tahun ini dan tahun depan insya Allah sama. Tahun 2010 baru beda. Jadi bukan masalah software atau alat hitung juga.

Kang Nur:
hwa jawaban Kang Bootdir ini tepat sekali, jitu dan akurat. Tepuk tangan untuk Kang Bootdir :lol::lol:
Keterangan Kang Bootdir ini saya qira sekaligus tepat juga untuk menjawab pendapat Kang Jalu di atas, juga yg lainnya. Lha.. seperti ini-lah Kang Bootdir.. tadinya saya ‘kan memang juga mau bilang seperti Kang Bootdir bilang ini😆

Komentar oleh bootdir

salah satu favorit saya adalah MoonCalc, atau SunClock. Silahkan cari di Google, pasti dapet. Banyak juga freeware2 yang lain yang bertebaran di Internet ini…..😀

Kang Nur:
wa terimakasih Bang Yari. Akan saya coba. Smoga info ini juga bermanfaat bagi teman2 (yg belum tahu macam kayak saya ini sih😀 )

Komentar oleh Yari NK

kang Nur, terima kasih atas tulisannya yang ‘mengail ikan begitu banyak’.
mudah2an keterangan kang Nur juga kang Bootdir menambah wawasan yang awam macam saya ini.
mengenai perhitungan yang rumit macam gerakan bulan atau gerakan (semu) matahari ya harus dipelajari serius apalagi dengan semangat ibadah, artinya bukan kuat2an tetapi taat2an, lebih karena mau atau tidak mau (bukan bisa atau tidak bisa apalagi bodoh atau pintar).
juga ilmu dari kang Bootdir, mengingatkan kita agar persepsi dan keyakinan yang kita pakai adalah sesuai tuntunan Rosulullah dgn tetap menjaga persatuan.
saya pribadi pengen lulus IAIN (Ilmu Amal Ikhlas dan Nurut tuntunan Nabi), belajar terus he he he..

Kang Nur:
setuju Kang Jalu🙂 saya kira kita semua tetap harus belajar tanpa henti, dan jangan sampai kita masing2 menganggap bahwa yg sudah kita pahami dan yakini adalah sudah yg paling benar. semua orang/manusia akan berproses dalam niatnya utk taat itu, dg ilmu2 yg dicarinya

tambahan saya utk keseluruhannya:
Dari yg saya baca2; Berkait dgn penentuan wilayah2 yg berbatas tanggal (penanggalan bulan) sama, itupun dalam fiqh ada 3 (tiga) paham:
1. Imam Hanbali: kesamaan tanggal qamariah ini harus berlaku di seluruh dunia, di bagian bumi yg berada pada malam atau siang yg sama.
2. Imam Hanafi dan Maliki: penanggalan qamariah ini harus sama di dalam satu wilayah hukum suatu negara. Prinsip ini disebut wilayatul hukmi.
3. Imam Syafi’i: penanggalan qamariah ini hanya berlaku di tempat2 yg berdekatan, sejauh jarak yg dinamakan mathla’.
Pemerintah (paling tidak, dulu) menggunakan prinsip wilayatul hukmi, Muhammadiyah juga cenderung demikian.
+ bila kita melihat irisan garis cahaya bulan yg berbentuk ellips/elliptikal dalam situs2 astronomis ttg penampakan hilal tanggal 1 ini, kita akan lebih mudah memahaminya.
Saya membayangkan bahwa prinsip imkanur-ru’yat yg saya pilih dan yakini kini adalah penetapan batas tanggalnya paling sesuai dgn kondisi nyata gambaran elliptikal itu, juga memenuhi sabda2 Rasulullah SAW.
Prinsip imkanur-ru’yat ini mempersyaratkan setiap orang di setiap tempat di muka bumi benar2 tepat memakai perhitungan hisab yg paling tepat, juga benar2 meyakini bahwa dalam besaran derajat2 hitungan itu memang bulan tanggal 1 itu dapat dilihat. Memang agak repot juga sebenarnya, sih.

Komentar oleh Jalu

Ikutan urun rembug ya kang Nur.
Metode Imkanur-Ru’yat (saya meyakininya) sebagai yang paling bijaksana dalam ‘memodernkan’ subtansi dari perintah Kanjeng nabi SAW perihal perintah untuk melakukan Ru’yat.
Kalau tak salah, dahulu Muhammadiyah pun juga memakai metode ini, namun kemudian (tahun 2000-an ?) kemudian merubahnya.
Namun saya kira ada hal yang paling ‘elementer’ diatas segala polemik tentang Hisab atau Ru’yat, yaitu siapakah ‘pemegang otoritas’ yang berwenang menetapkan awal Ramadhan dan 1 Syawal ?.
Saya kira hal yang paling elementer inilah ‘biang keladi’ dari perbedaan pelaksanaan awal puasa dan 1 syawal menjadi semakin sulit disatukan.

Kang Nur:🙂 BTW, OOT; saya sudah kirim e-mail ke karyo_rumekso@yahoo.com. Silakan dibaca. Tapi saya juga akan kirim ke yg ini.🙂
Saya setuju dgn pendapat mas Salikh ttg metode Imkanur-Ru’yat.

Komentar oleh Salikh_mBeling




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: