The Nurdayat Foundation


SERIAL RAMADHAN DARI PADUKUHAN PONDASEN (2): SEMILIR HARUM KEMENYAN DI DALAM KETEKUNAN HALAQOH TADARUS QUR’AN DI KAMPUNG MERAH-PUTIH
Selasa, 9 September 2008, 7:56 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag:

Awalnya posting ini mau saya beri judul: “Revitalisasi Esensi Tradisi Agamis Islam yang Dulu Pernah Kabur, Menggapai Eksistensi Ummat dalam Kesatuan Bangsa”. Keren ‘kan? Padahal mungkin saya sendiri nggak paham dengan apa maksud dari judul yang saya tulis itu?🙂

..Yah, namanya juga ekspresi. Saya ingin agar pembaca tidak salah paham dengan mengira bahwa saya (tulisan saya dalam blog ini) telah membelok, dari yang semula banyak memuat tentang budaya Jawa dan Yogyakarta khususnya, dan nasionalisme; kok lalu mengangkat tentang Islam, bahkan dakwah Islam.

Bagi Anda yang bukan orang Jawa; mungkin saja selama ini, bahkan hingga kini, Anda menganggap bahwa budaya Jawa itu identik dengan klenik. Saya ingin mengangkat bahwa budaya Jawa (atau Yogya) itu sophisticated, beberapa agak hipokrit (=munafik), halus, sulit berterus terang; namun tentu saja bukan hanya klenik. Yogyakarta adalah ‘pelangi’ Indonesia Mini, dan sebagai salah seorang warga di dalamnya, saya bangga dan ingin mempertahankan ke-‘warna-warni’-an itu. Secara pribadi, saya ingin menyatakan bahwa dalam jiwa saya semacam tercetak bintang bersegitiga seperti logo Mercedez-Benz itu (atau logo Partai Demokrat-nya SBY ‘kali?), yang masing-masing sudutnya adalah mencerminkan: Ke-Jawa-an, Nasionalisme, dan Islam. Ya, …NASIJO-lah (Nasionalis, Islam, Jowo)

Begitulah kondisi budaya masyarakat di lingkungan tempat saya dibesarkan, dan begitu pula angan-angan (visi) saya terhadap negara dan bangsa besar Indonesia yang kita cintai ini. Menjadi orang Indonesia saya pahami bukanlah berarti saya harus meninggalkan Ke-Jawa-an saya. Menjadi orang Indonesia bukan pula berarti bahwa saya harus bermalas-malasan dalam mengikuti ajaran agama yang saya yakini. Saya meyakini bahwa ummat dari agama yang saya yakini ini juga berkontribusi sangat besar bagi muncul, tumbuh, bangkit dan lahirnya bangsa ini; dan selanjutnya juga kelangsungan keberadaan bangsa ini nanti ke depan.

Tulisan ini semoga bisa menjadi pengantar untuk tulisan-tulisan saya terkait Ramadhan berikutnya yang Insya Allah semoga dapat saya susulkan di tengah suasana kesibukan ini. Terkait Ramadhan ini, rasanya tak lengkap bila saya tak menyertakan cerita-cerita dari sudut ‘slempitan’ Nusantara ini, dari lubuk jantung Padukuhan Pondasen ini.

….

Mengapa saya menulis “Revitalisasi Esensi Tradisi…?”. Karena saya tinggal di desa, dengan banyak macam tradisi-nya yang telah ditinggalkan oleh simbah-simbah para leluhur. Sejak kecil saya dididik oleh orangtua saya untuk selalu menghormati itu, bahkan mereka tekankan bahwa saya perlu mempelajarinya sebagai sebuah ‘keadaban’, yang musti saya mengerti sebagai seorang anak Jawa. Apabila saya tidak memahami serta menghormati adat, sebagaimana orang-orang tua dulu memandang, maka saya akan dipandang sebagai anak yang durung Jowo (=belum Jawa). …Jawa, dalam artian positif yang dikesankan oleh simbah-simbah leluhur itu, berarti: tahu adat, tahu sopan-santun, etika, tata-krama. Maka, saya ingin menjadi Jowo, dalam artian tahu adat dan menghormati para leluhur itu.

Islam dan Ke-Jawa-an yang yang saya gambarkan ini biasa tersimbolkan dalam sosok figur personil seorang tokoh anggota Wali Songo; beliaulah Kanjeng Sunan Kalijogo. Begitu pula kiranya kesan bagi sebagian besar orang Jawa. Setiap kali bila saya mengucapkan nama beliau ini, spontan bersamaan dalam dada saya berdesir sebuah rasa kecintaan dan kekaguman, sebagaimana menyebutkan nama seorang tokoh idola sekaligus teladan, bahkan Pelindung terhadap paham agama yang saya anut. Bolehlah ada orang menyebut paham yang beliau pengaruhkan itu sinkretis (semacam meramu campur-aduk mungkin?), namun di sinilah saya merasakan nyaman-nya memeluk agama Islam, sekaligus mempertahankan budaya Jawa dari simbah-simbah leluhur ini.

Mungkin saya pun masih akan meneruskan kebiasaan membakar kemenyan untuk pengharum, meski itu pengharum ruangan dalam saat-saat biasa. Bukankah kemenyan itu memang harum? Salah seorang guru ngaji pernah memberi cerita bahwa Kanjeng Sunan bilang begini tentang kemenyan itu, “Bila kemenyan itu memang satu bahan pengharum yang paling disukai oleh orang Jawa, apa salahnya?” Tentunya si kemenyan itu memang tidak salah, kan?

Akan saya biarkan harum bakaran kemenyan ini tetap semilir berhembus menyusupi kisi jendela masjid depan rumah saya, di saat saya tengah mengajarkan Iqra’ kepada anak-anak tetangga. Lihatlah, di depan rumah ini pun selalu terkibar Sang Merah Putih. Di saat anak-anak ini istirahat dari mengaji dan bermain, satu-dua anak Katolik anak tetangga saya lainnya ikut bermain bersama mereka. Saya biarkan mereka datang, karena di sinilah mereka mendapatkan teman bermain yang banyak. Bahkan mereka pun sering ikut mendengarkan cerita saya tentang Kanjeng Nabi Mohkamad, saat saya ingin memberikan ajaran tentang akhlaq (budi-pekerti) kepada anak-anak yang lucu-lucu ini. Saya ajarkan kepada anak-murid ngaji saya ini untuk selalu menyayangi semua teman mereka, meskipun berbeda keyakinan.

RT sebelah pernah memiliki seorang hafidz Qur’an, tapi itu di tahun 1950-an. Namanya Mbah Tanu, ia telah meninggal saat saya belum lahir. Anak-cucunya tidak ada yang mewarisi kemampuannya itu.

Dulu anak-anak di tahun 1930-1940-an, menurut cerita orang-orang tua, mengaji di rumah Mbah Kromo Yadi. Mereka mengaji di sebuah langgar yang ia dirikan, di RT sebelah itu juga.

Di RW saya pada tahun 1970-an pernah berkembang populer kesenian shalawat-an Laras Madyo. Di tahun 1990-an kendang rebana yang pernah dipakai itu tersangkut saja saya lihat di belakang pawon (dapur) Mbah Budi Rebin, bolong-bolong…. Pada tahun 1996-an saya mengundang kesenian shalawat Laras Madyo dari lain padukuhan. Saya pikir saya dapat membangkitkan nostalgia orang-orangtua akan kesenian yang pernah mereka sukai.

Beberapa tahun memang saya pernah sempat menjadi guru ngaji. Subhaanallah. Beberapa anak bimbing saya berhasil khatam Qur’an.

Guru ngaji saya semasa kecil kebanyakan adalah dari kalangan Nahdhiyyin, dan saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mereka, yang telah mengajarkan saya sholat dan membaca huruf Al-Qur’an.

Sejak saya menjadi pemuda; saya bangga bila dalam kesempatan musyawarah-musyawarah Pemuda Muhammadiyah yang saya ikuti, kami menyanyikan lagu kebangsaan kita: Indonesia Raya. Ya.., semua ini tetaplah dalam kerangka kebesaran bersama bangsa kita. Inilah Indonesia Raya.

Bagaimana pula pendapat Anda tentang trilogi yang akan dibawakan oleh blog ini: Nasionalisme, Islam dan Jowo? = NASIJO ?🙂😀😆
Mohon komentar dan tanggapannya untuk pengembangan blog ini selanjutnya.

-o0o-


9 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Ikut mendukung….

Kang Nur:
trims atas dukungannya🙂

Komentar oleh Rafki RS

zaman udah banyak berubah mas…

dulu ulama diijazahkan dari guru yang membimbing langsung, tapi sekarang cukup dengan kuliah ke mesir eh pulang udah jadi ulama tanpa kita tau gimana tingkahnya selama di mesir.

Kang Nur:
saya kurang dapat menangkap jelas apa yang Bang Syamin maksud ini.. maaf lho.. maaf kalo tanggapan saya ini nanti mungkin kurang pas.. tapi pembimbingan langsung itu memang saya kira perlu ditingkatkan dan disadari di kalangan umat islam sendiri ini. pertimbangan saya: mengingat bahwa agama diturunkan adalah untuk menjadikan akhlak/budi-pekerti manusia itu menjadi semakin baik. dan ini memang tidak cukup dgn pemahaman tekstual atas teori ataupun juga sekedar ditambah meyakininya; selanjutnya dari seorang pembimbing agama akan dituntut keteladanan juga keluwesan (mampu memahami-menyelami pola pikir masyarakat yg dibimbingnya dg segala adat-tradisi juga kecenderungannya). dalam bahasa Jawa-nya yaitu ngemong (=mengasuh). namun demikian saya tetap melihat baik orang yg bertekad belajar dg tekun utk nantinya dapat disumbangkan utk kemajuan masyarakatnya.

Komentar oleh Syahmin. S

Gimana kabarnya, Kang Nur ??
Artikel Kang Nur ini pemikiran baru yang bagus dan rasional, bisa menjadi penengah antara islam tradisional, islam modern, dan islam abangan.
Tapi apa nggak masuk bid’ah itu, Kang ????
Nuwun.

Kang Nur:
Baik2 Mas Arief, alhamdulillah… Sebaik-baik urusan adalah yg di tengah2. Bukankah itu ada dituntunkan? Bila kita berlemah-lembut kepada orang2, semoga orang2 itu merasa nyaman. Saya justru menganggap ini bukan baru. Saya yakin cukup banyak para pembimbing umat di desa-desa yg melakukan ini, hanya saja mereka adalah orang2 yg tidak suka publikasi. Bukan mustahil bahwa ini adalah sikap the silence majority-nya para pemimpin umat yg tinggal di pelosok2. Mereka adalah orang2 yg hidup sederhana dan bersikap ikhlas. Saya menulis di sini mungkin justru utk memberikan gambaran kpd para pembaca bahwa sikap seperti ini memang ada di desa2 Jawa.
Saya kira ini adalah lebih kepada sikap-metode pendekatan dan pola pikir dalam pembinaan kemasyarakatan, bukan membawakan hal2 ajaran baru yg menyimpang dari tuntunan asli agama.

Komentar oleh ariefmas

Saya setuju banget Kang, karena di sana banyak yang bisa dikaji, jangan sampai terjadi pertentangan tradisi Jawa dengan Agama yang kita yakini. salam.

Kang Nur:
Trimakasih. Ya, saya membayangkan bahwa perpaduan/dialog budaya antara Islam di Indonesia dgn tradisi2 lokal di nusantara tentu adalah sedemikian kaya. Di lingkungan blogosphere ini belum banyak yg mengangkatnya dgn sikap2 kerendah-hatian dan kejujuran akan realita budaya itu. Kebanyakan ketika menulis ttg agama;banyak yg tekstual-skriptual. Saya ingin membawa kpd yg berkait budaya tradisi.

Komentar oleh Achmad Sholeh

Sore-sore jelang buka puasa, baca ginian ra mudheng blass… ra kuat mikir… postingane sing entengan wae kang!… gek ngelih kok ndadak mikir nasijo…

Kang Nur:
lha kalo sekarang masih ngelih (=lapar), komentarnya bulan depan😉 juga boleeh.. nggak ada yg maksa kok🙂

Komentar oleh Andy MSE

ita setuju dgn trilogi yang ada di blog ini, malah akan menjadi ciri khas Kang Nur😀

Kang Nur:
trimakasih mbak ita, smoga harapannya dapat saya penuhi

Komentar oleh eNPe

Nasijo. Sebuah kombinasi yang mempertautkan pengutuban lama “santri dan abangan” (“santri dan kejawen”?) Tapi istilah santri itu sendiri kan dari tradisi pra-Islam juga ya? Soal lain, nggak mudah kayaknya mengotakkan mana “modernis” dan mana “fundamentalis”. Ah saya orang awam, bingung juga…

Kang Nur:🙂 sebenarnya ada unsur2 plesetan-nya juga kok, paman. jadi ya tidak serius2 amat lah. kalo Boeng Karno dulu ada pernah bikin nasakom, lha semua warga negara Indonesia saya qira boleh bikin nas-nas-an apa yg lain-nya juga gitu lho. ya utk kreatip2an saja. Nasinya Paijo.🙂 saya juga tidak mau terjebak dgn istilah2 buatan orang yg bikin saya pusing. kalo di sini ada istilah2 yg saya bikin, itu adalah dari yg saya rasakan dan alami, lalu saya mikir2 istilah apa yg tepat utk itu. jadi, istilah2 yg saya pake, mungkin tidak tepat menurut standar akademis-nya orang pinter

Komentar oleh paman tyo

Kang Nur, bau kemenyan opo nggak bikin nggliyeng ?? gimana kalo kemenyane diganti pake dupa ratus manten yang bentuknya segitiga wae. Beli-ne di toko bah gemuk jalan malioboro selatan dw kulon ndalan… Tapi ojo salah sing bitingan lho…🙂

Kang Nur:
lhah.. segala macam dupa2 dr sgala macam jenisnya saya qira kan semuanya juga bikin nggliyeng? tapi kalo mas Arief promosi toko HIO itu, kapan2 saya siap ke sana😆 sing segitiga karo sing bitingan iku bedane apa mas?

Komentar oleh ariefmas

setuju aja kang nur, saya pikir semangatnya
tetap menjunjung bendera merah putih di atas apapun bendera kita.
saya sih mau nanggapin santai aja, kita ini ber-agama Islam di negara Indonesia dan dalam tradisi jawa (eh maaf buat yang bukan orang Jawa).
sebenarnya kalo kita tengok, tradisi itu kan dah ada sebelum agama masuk ke pulau jawa ini.
selanjutnya setelah agama (Islam) banyak dipeluk orang Jawa, tradisi dipadukan dengan agama terus dijalankan ber-sama2.
dengan mengacu pada pepatah “agama dijunjung tinggi, adat dihormati” sebenernya nggak perlu ada pertentangan dengan adat (tradisi), artinya harus dikaji lebih dalam apakah tradisi tsb sesuai dengan tuntunan Islam atau ndak, kalo sesuai berarti membuat ritual Islam jadi indah karena pas dengan tradisi kita.
mari kang nur, gali lagi dari sumbernya untuk dikaji bersama terutama yang berkompeten.
Islam itu luwes kok dan pastinya adalah rahmatan lil ‘alamin meski diramu jadi NASIJO.

Kang Nur:
betul, Insya Allah begitu Kang Jalu. bukankah Tuhan menciptakan manusia menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa itu adalah untuk saling mengenal? tentunya juga saling mengasihi. sedangkan yg menjadi ukuran mulia-tidaknya di sisi-Nya adalah berdasarkan takwa (iman dan taat) pada-Nya. agama diturunkan tentunya bukan dgn tujuan utk menghapus-bersihkan adat-budaya manusia yg bermacam-macam itu. sbgmn perilaku watak karakter suku2 bangsa2 itu dapat ber-beda2 krn sesuai lingkungannya, penyesuaian diri mereka; maka budaya yg mereka bentuk dgn bermodal akal budi (karunia Tuhan jua) itu dapat bervariasi. namun, nurani fitrah setiap makhluk sesungguhnya adalah me-Maha Suci-kan-Nya.

Komentar oleh Jalu




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: