The Nurdayat Foundation


RAMADHAN DI JAWA DALAM PANDANGAN ANDRE MOLLER (1)
Senin, 15 September 2008, 5:56 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag:

Buku “Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar” karya Andre Moller
Penerbit Nalar, Jakarta 2005
xi + 309 hal.; 14 x 21 cm
Penyelaras bahasa: Salomo Simanungkalit
Buku ini saya jumpai di Kios Buku Murah Kompleks Taman Pintar Yogyakarta berada dalam tumpukan buku yang dijual obral-an seharga Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) ! Beruntunglah saya wong ndeso pinggiran Yogya, adakalanya bisa membeli buku dari kios-kios ‘ajaib’ ini. Di situs BukaBuku.com buku ini ditawarkan seharga Rp 39.950,-. Saat saya membelinya pada Rabu sore 3 September 2008, di kios yang letaknya di sebelah utara hall masuk lantai I hadap selatan, buku ini masih ada sekitar 5 biji. Entah kini, masih ada tersisa atau tidak.

 

Buku ini merupakan terjemahan dari tesis S3 Andre Moller berjudul asli Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting. Karena edisi berbahasa Indonesia ini juga diperpendek, dapat dikatakan bahwa buku ini merupakan ringkasan dari edisi Inggrisnya (demikian disebut sendiri dalam pengantar penulisnya).

Buku ini menyajikan ‘pandangan dari luar’. Sesuatu yang cukup unik kita dapat rasakan saat membaca paparan dalam buku ini, di mana sesuatu yang bagi kita orang Indonesia asli (apalagi muslim-Jawa) mungkin kita anggap sebagai satu kebiasaan yang ‘biasa-biasa saja’ karena sudah terbiasa dengannya; diamati dan diceritakan oleh sarjana antropolog dari luar yang memandang hal-hal tersebut sebagai hal-hal yang ‘eksotis’ dan patut dikaji.

Namun sebagai orang awam (bukan ilmuwan) satu pengalaman baru juga kita dapatkan ketika dengan buku ini kita dapat ‘melontarkan diri kita ke ketinggian yang cukup’, menjaga jarak yang tepat darinya, lalu mengamati dan mengkaji diri dan kebiasaan-kebiasaan kita sendiri dengan kacamata yang bukan sehari-hari kita pakai.

Sedangkan manfaat terbesar kajian ini mungkin sesungguhnya akan didapat oleh orang Barat non-Muslim yang berminat atas studi budaya Islam-Jawa kontemporer dari edisi Inggris-nya. Mungkin untuk kebutuhan pemahaman antar-budaya.

Andre Moller mendapatkan informasi dengan berpartisipasi dalam kehidupan orang Jawa-Islam sejauh mungkin, dan cenderung menggunakan –istilah Tord Olsson(?)- pengertian melalui partisipasi dan pengalaman melalui praktik.

Saya (Nurdayat) tidak berkapasitas untuk menilai positif-negatif metode yang dipakai Andre itu, namun mungkin karena Andre Moller tak banyak melakukan wawancara ke banyak orang untuk urusan asal-muasal tradisi-tradisi yang dimaksud kepada orang-orang tua di lingkup lokal yang ditelitinya, juga tidak memperluas sampling wilayah pengkajian, saya kira ada beberapa hal yang terlewat. Entah bagaimana akurasi penerapan metodologi ini untuk kasus kajian ini dalam pandangan dan penilaian cendekiawan akademisi (Indonesia khususnya, karena orang luar mungkin tak peduli karena ini merupakan trial. Akademisi dari kalangan muslim-Jawa sendiri, karena ikatan emosional dengan materi kajian mungkin masih dapat merasakan ada sesuatu yang kurang). Saya sendiri sebagai orang awam masih merasakan bahwa tradisi budaya Ramadhan di lingkungan Padukuhan Pondasen tempat saya tinggal belum cukup terwakili di sini.

Hal-hal yang terlewat itu yaitu a.l.: macam-macam jenis tradisi di Jawa (bahkan Yogyakarta) dalam masa Ramadhan itu sendiri, riwayat perkembangan tradisi ataupun praktik ibadah yang dimaksud dalam kurun waktu; dan selebihnya saya kira karena Andre bukanlah seorang penghayat Islam (minimal tidak) sejak lama. Andre sepertinya tidak melihat atau sengaja tidak menggarisbawahi bahwa tradisi-tradisi yang ia paparkan itu adalah hasil dari proses dakwah dan juga merupakan sarana dakwah yang masih berlangsung untuk dikembangkan dan ‘dimodifikasi’. (Bahkan setelah tuntas membaca buku ini pun saya tetap tidak tahu dan yakin kalau Andre Moller sudah memeluk agama Islam meski ia mengikuti beberapa ibadah dan menikahi seorang muslimah). Maka begitulah karena buku ini memang buku antropologi; bukan buku agama, apalagi kajian strategi dakwah.

 

Andre Moller dan Kedalaman Keterlibatannya untuk Menulis Buku Ini

Andre Moller

Andre Moller

Andre Moller lahir di Jonstorp, Swedia, pada tahun 1975. Kuliahnya di Universitas Lund diawali pada tahun 1996 meliputi mata kuliah seperti perbandingan agama (atau sejarah agama), bahasa Indonesia, kesusasteraan Asia Tenggara, bahasa Arab untuk penelitian ke-Islam-an, antropologi dan studi Timur Tengah. Pada tahun 1999 Andre hijrah ke Indonesia menuntut ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), didukung oleh beasiswa dari Kedutaan Besar Indonesia di Swedia. Keberadaan di Indonesia berlangsung selama kurang-lebih tiga tahun. Sepulangnya ke Swedia Andre memutuskan mengambil kuliah S3. Pada pertengahan tahun 2005 pendidikan S3-nya ia selesaikan dan disertasi mengenai bulan suci Ramadan di Jawa diterbitkan.

Sebagaimana diakuinya sendiri, ia awalnya datang ke Yogyakarta bukan dengan niat utama untuk melakukan penelitian demi meyelesaikan tesis S3-nya (hal. 32-33), namun lebih untuk merasakan hidup dalam kebudayaan non-Barat yang dirasanya akan sangat menarik. Untuk masa mengikuti kuliah di UNY, ia malah tinggal di sebuah losmen dekat jalan Malioboro, lalu pindah ke sebuah rumah kontrakan di sebelah selatan Kraton. Ia mengira kedekatan dengan Kraton sebagai suatu yang baik karena ia tertarik kepada bahasa dan kebudayaan Jawa. Saat itu ia belum mengerti akan adanya “Jawa yang jauh dari Kraton”. Cukup jauh juga ia naik Vespa ke kampus setiap hari. Baru setelah sebulan, ia pindah ke Yogyakarta bagian utara; yang lebih menarik lagi, dengan sawah-sawah, kerbau, udara yang lebih bersih, dan dekat kampus. Tak lama, ia kenal dengan tetangga-tetangga dan pengurus masjid. Ia pindah pas Ramadan, dan lalu menghabiskan banyak waktu di masjid untuk mengikuti shalat. Karena kedekatan kampung tempat tinggalnya dengan beberapa kampus di Yogya utara, itu mempermudah hubungannya dengan lingkungan yang banyak mahasiswanya, yang umumnya juga cukup terbuka dan ramah. Ia juga serumah dengan mahasiswa hukum Islam dari Thailand.

Di kampusnya sendiri ia bertemu banyak orang dan menghabiskan banyak waktu membahas macam-macam hal: kehidupan, perempuan, calon istri, kebudayaan, dan agama. Karena kebanyakan mahasiswa di jurusannya adalah perempuan, kebanyakan temannya itu perempuan. Ia bertemu dengan seorang perempuan yang ia anggap hebat dan menarik, juga baik hati. Saking baik hatinya, ia mengundang Andre dan seorang mahasiswi Thailand ke rumahnya di Blora pertama saat akan ada pernikahan di keluarganya. Dan lalu kebetulanlah selama beberapa tahun ke depannya Andre menghabiskan banyak waktu di Blora, terutama pada akhir pekan dan hari raya. Tak lama perempuan hebat dan sangat menarik itu menikah dengan Andre di Blora. Dengan demikian, Andre mendapatkan jaringan teman dan keluarga di Blora dan sekitarnya.

Informasi etnografis dalam bukunya ini secara garis besar berdasarkan kehidupannya bersama kedua kelompok itu, yaitu Kelompok Pertama yang terutama terdiri dari mahasiswa di Yogyakarta, dan Kelompok Kedua di Blora yang terdiri dari keluarga-keluarga. Kedua kelompok ini didominasi oleh orang Islam “biasa” (ordinary Muslims): bukan cendekiawan, politikus, atau tokoh agama.

 

(bersambung)

 


8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Sebuah pengamatan yang cukup bagus kang dari sebuah buku, dari orang di luar Islam dalam memahami Islam ditunggu sambungannya ya

Kang Nur:
bukan mustahil Andre Moller menganut Islam. (saya tidak tahu). tapi ‘di luar’ di sini memang di luar dari lingkup budaya yg dia miliki (di Swedia, atau Eropa umumnya). di akhir tulisan, Andre juga menyelipkan bbrp cerita ttg Ramadhan di negara mayoritas muslim lain, yg ternyata ber-beda2

Komentar oleh Achmad Sholeh

aku belum bisa komentar Kang. mesti baca buku dia yang lain lagi. (wong yang ini juga lum baca…)

Kang Nur:
ya baca saja yaa? saya kira buku ini bermanfaat🙂

Komentar oleh h a b i b

salut! ini sih namanya lagi review buku yah…😀

Kang Nur:
biar kita2 melanjutkan minat baca, bang

Komentar oleh Andre

nice review. ditunggu review2 berikutnya.

Kang Nur:
Insya Allah kita lanjut

Komentar oleh LDK AMAL

bagus sekali reviewnya…
kayaknya kang nur ini benar2 pembaca sejati, salut…🙂

Kang Nur:
sekedar menceritakan yg saya serap dan cerna dari yg saya baca, bang.🙂 smoga bermanfaat

Komentar oleh vizon

wahh, bisa jadi inspirasi bagi kita untuk menulis dan mengamati. orang luar aja mampu berkarya tentang Romadlon yang jadi amalan kita

Kang Nur:
betul, Pak. orang luar saja bisa bikin karya tulis ilmiah ttg amalan kita, kok. masak dari kita sendiri belum ada yg nulis cukup lengkap ttg tradisi2 Romadlon di nusantara ini. sudah ada belum sih?
*btw, Pak, itu kemarin saya ngambil pinjam gambarnya belum ijin😆 , maaf ya Pak?*

Komentar oleh Mawardi

wah kang nur, saya gak habis pikir, orang luar aja mau menghargai budaya bangsa kita yah, kenapa masyarakat kita minim sekali kemauannya untuk menghargai dan mempertahankan budaya bangsa,… sungguh aneh,.. salut deh buat Andre Moller,…

nic postingan kang !!

Kang Nur:
ya khawatir juga bila penerus kita sampai kehilangan jati diri, tak tahu lagi siapa dirinya.. mmg ada perlunya ‘kan kita menengok ke dalam? semestinya kita dapat menceritakan diri kita sendiri dgn bangga dan percaya diri, bukan hanya menjadi cerita bagi orang luar?🙂

Komentar oleh yuhendrablog

kang kamu dapat Tag award sempatkan mampir ke blog ku ya

Kang Nur:
whualah Mas Achmad Sholeh ini kok bisa2nya saya masuk ke blog yg Mas kategorikan pantas dapat award. Terimakasih se-tinggi2nya saya ucapkan atas penghargaannya. Semoga isi blog ini tidak bikin malu🙂 Mas yg sudah beri award.🙂

Komentar oleh Achmad Sholeh




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: