The Nurdayat Foundation


SERIAL RAMADHAN DARI PADUKUHAN PONDASEN (3): MUNGKIN KAMI TELAH “OVER-ORGANIZED”
Senin, 15 September 2008, 4:41 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag:

Menjadi panitia Ramadhan mungkin pernah Anda alami, atau malah Anda jalani juga sekarang. Entah itu di kampus, di masjid terdekat lingkungan tempat tinggal, di kantor, dan sebagainya. Namun bayangkanlah macam ragam yang dialami kepanitiaan Ramadhan ini di wilayah pelosok-pelosok sudut nusantara ini. Dari mereka yang bertempat tinggal di gunung-gunung, lembah-lembah, dekat pasar, di tengah gedung bertingkat, hingga di pesisir pantai. Tentulah warna-warni pengalaman mereka itu. Berikut ini satu hal kecil yang saya alami di masjid lingkungan tempat tinggal saya, di lingkungan wong ndeso, di sebuah desa pinggiran kota.
Saya tuliskan pengalaman saya di sini agar mendapat masukan tanggapan dari Anda yang mungkin benar-benar lain latar-belakang kehidupan Anda daripada saya. Sehingga dengan membaca apa yang saya alami ini memberikan satu nuansa sudut pandang baru yang mungkin belum pernah Anda dapatkan dan bayangkan, dan hal baru ini akan bermanfaat bagi Anda. Dan selanjutnya Anda pun akan dapat memberikan masukan kepada (tulisan) saya (ini) dari sudut pandang Anda sendiri, sehingga secara keseluruhan tulisan yang terpampang di sini akan memberikan manfaat juga bagi siapapun yang sudi mampir membacanya.

‘Perjalanan menuju Tuhan’ (dan meraih keselamatan di hari-hari akhirat nanti) adalah suatu pengalaman yang subjektif, yang masing-masing orang akan menjalani sesuai dengan situasi dan kondisi latar-belakang di mana ia dilahirkan-dibesarkan, selanjutnya juga profesi, posisi dan peran yang dilakukan dalam hidupnya dan masyarakatnya. Di situlah saya meyakini, bahwa selain ada ‘tafsir besar umum’ terhadap ‘teks besar’ suatu agama; maka akan ada pula ‘tafsir-tafsir kecil’ milik orang-orang kecil seperti saya dengan ‘cerita-cerita kecil’-nya. Dan di situ saya yakin pula, bahwa Allah adalah Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Dia akan mengampuni segala kebodohan saya, selama saya masih tetap berusaha ingin tahu bagaimanakah sesungguhnya yang Dia ridhoi itu.  Dia akan mengampuni keterbatasan saya, selama saya berusaha sejauh yang saya mampu.

Masyarakat di Padukuhan Pondasen, tempat di mana saya tinggal ini sesungguhnya kalau saya nilai memang adalah masyarakat yang masih berlatar-belakangkan kepercayaan kejawen. Sepanjang yang pernah saya lihat dari kecil hingga sekarang, maka memang ada anggota masyarakat yang masih percaya pada kekuatan-kekuatan gaib, dari benda-benda pusaka, menghormati roh-roh, dan, guyubrukun (=harmoni) itu lebih dianggap penting daripada menjalankan syariat agama dengan sebaik-baiknya.

Jadi, padukuhan ini sama sekali bukan berbudaya santri, sejak dulu. Mayoritas profesi penduduknya adalah tukang, petani, buruh. Ada beberapa karyawan swasta, PNS (t.d. guru dan pegawai kantor PemDa). Tidak ada pengusaha di sini. Ini adalah desa pinggir kota. Ada dua orang yang berusaha bengkel; satu bengkel mobil, satu bengkel las; tempat usahanya tidak di sini. Keduanya bukan orang asli sini, mereka menantu dari orang sini, beristri di sini. Eh, ada satu lagi dhing bengkelnya, dia juga menantu orang sini yang tinggal di sini. Jadi jaman dulu belum ada profesi bengkel di padukuhan ini. Ada beberapa sopir truk, tapi kebanyakan sopir truk ini tidak full-time.

Saat saya masih kecil dulu, di dalam gendhuren (=kenduri), mbah rois Tomokariyo yang memimpin masih menembangkan syair-syair kuno yang saya tidak tahu apa maksudnya. Sedangkan kini, mbah rois Karyowiyadi selalu menyatakan bahwa ini adalah shodaqoh, dan doa yang dia baca adalah tidak menyimpang dari apa yang diajarkan Rasulullah saw.

Sepanjang yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua dan ingat, jamaah tarawih di padukuhan ini baru pertama kali diselenggarakan pada tahun 1978. Sebelumnya, orang yang mau berjamaah tarawih harus pergi ke padukuhan-padukuhan sebelah yang mungkin lokasi yang ditempati itu berjarak satu kilometeran. ..Penyembelihan Qurban yang pertama kali diselenggarakan di padukuhan ini seingat saya adalah baru pada tahun 1988. Sebelumnya, orang belum pada ber-qurban. Shalat Id-nya pun dulu harus lima kilometeran jauhnya menuju lokasi, baru ada diselenggarakan. Shalat Id di tanah lapang baru pada tahun 1980, begitulah yang di seputaran padukuhan ini. Sebelumnya shalat Id hanya ada di masjid-masjid besar padukuhan yang berbudaya santri. Perkembangan dari budaya kejawen menuju menjadi orang Islam yang ingin memahami dan melaksanakan ajaran agamanya memang terlihat meningkat.

Saya sendiri sebagai seorang anak yang dibesarkan di sini cukup bersyukur dan bangga akan perkembangan ini. Tetangga-tetangga saya yang dalam KTP-nya mencantumkan dalam kolom agama-nya tulisan: Islam, kini memang lebih banyak yang mau mengaji dan belajar melaksanakan ibadah dan amalan sesuai dengan tuntunan ajaran Rasulullah saw.

Saya bersama beberapa teman generasi muda yang peduli dan mau menyumbangkan apa yang kami mampu untuk mendukung perkembangan ini, selain terlibat langsung dalam proses perkembangan ini, juga memantaunya. Saya kira, kami menganggap bahwa ini juga dapat dibilang sumbangsih kami untuk lingkungan masyarakat. Paling tidak, sebagai generasi muda yang sudah mendapatkan pendidikan lebih baik daripada simbah-simbah kami, kami ini lebih memiliki kesadaran berorganisasi. Dengan tujuan untuk mengawal semua perkembangan ini demi kemanfaatan masyarakat, kami menyadari bahwa kami harus berbagi tugas dan peran (sekecil apapun tugas dan peran itu) sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Inilah paling tidak ‘kesadaran berorganisasi’ yang dapat kami pahami sebagai wong ndeso.

Menghadapi Ramadhan ini, setiap tahunnya kami selalu berembug untuk merencanakan kegiatan-kegiatan di dalamnya. Selain memikirkan bagaimana agar pelaksanaan ibadah-ibadah pokok dan amalan secara berjamaah itu dapat terlaksana dengan lancar, model-model kegiatan yang baru (yang inopatip, begitulah) juga kami rembug untuk untuk memeriahkan Ramadhan. Hal-hal yang ‘sepele’ pun juga kami jadwal. MC/pembawa acara kultum tarawih pun kami jadwal. Pelantun adzan kami jadwal.

Namun apa yang terjadi? Remaja-remaja adik-adik kami ternyata tidak mematuhi jadwal-jadwal ini. Mereka melarikan diri, dari tanggungjawab yang dibebankan itu. Kami malah menjadi malu sendiri. Apa yang kita putuskan ternyata tidak ditaati dan dilaksanakan oleh adik-adik remaja. Dengan begitu, kami malah menjadi malu di hadapan seluruh jamaah. Di malam awal Ramadhan kami telah mengumumkan bahwa ada pembagian jadwal itu, untuk memberikan kesempatan kepada adik-adik remaja berlatih bertanggung-jawab dan mengembangkan kemampuannya. Ternyata mereka malah melarikan diri. Kami merasa bahwa kami telah “over-organized”. Bila semua diatur-atur, mungkin mereka menjadi merasa tidak nyaman lagi. Mereka tidak bebas berekspresi sesuai kemampuan yang mereka rasa mampu. Mungkin begitu. Mungkin kami telah membebani mereka dengan hal-hal yang terlalu berat untuk mereka. Mereka telah juga kami bagi tugas untuk mengasuh pengajian anak-anak TPA. Mungkin itu sudah cukup. Mungkin kami telah “over-organized”. Semua hal-hal terlalu kami atur-atur.

Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini? Apakah kami telah terlalu mengatur-atur? Bagaimana dengan yang terlaksana di tempat Anda?

-o0o-


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

terima kasih sharing info/ilmunya…

pengalaman adalah guru terbaik… bukankah kita diingatkan agar berdakwah disesuaikan dg kultur/pemikiran/pendidikan/adat orang yg kita dakwahi…?

saudaraku,
selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

mengapa kita masih didera malas beribadah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah…? untuk itu saya membuat tulisan tentang
“Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”

silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

Komentar oleh achfaisol

seringkali dalam berorganisasi, kita menganggap semuanya mau dan mampu. Mungkin sebagian kita berpikir, apa toh susahnya ngemsi? Soal adzan, toh hampir semua bisa…

Tapi Kang, pernahkah membayangkan groginya adik-adik kita waktu mau tampil dan memegang mic? Mereka pasti punya bayangan, ngemsi, grogi, terus salah, ditertawakan jamaah. Pokoke ndak enak banget! Daripada malu, mending kabuur!:mrgreen:

Saya rasa, bukan perkara over organized, tapi kurangnya pendampingan dan pelatihan, juga kepercayaan yang berlebihan. Kita percaya pada mereka, melebihi kepercayaan mereka pada diri sendiri.

Kang Nur:
wa, masukan bas Hamid ini sangat berarti, dan saya kira benar adanya. Trims.🙂

Komentar oleh idiotz




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: