The Nurdayat Foundation


Kami Takjub, Ya Akbar
Rabu, 1 Oktober 2008, 3:26 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag:

Para imam sembahyang, ketika mengimami shalat Id, suaranya menjadi lain. Ada getaran khusus, mungkin oktafnya meninggi, atau seperti ada pekikan, meskipun suaranya pelan dan rendah. Maka, bunyi Allahu Akbar, yang tiap hari terdengar, mencapai ekstasenya pada shalat Id. Maka, betapakah runtutan ekstase suara terdalam makhluk Allah itu dari tempat ke tempat di seluruh permukaan bumi, pada pagi hari pertama bulan Syawal?

Musik Mahaagung.

Mengapa shalat Id mesti kita lakukan bersama bangkitnya matahari? Allah saja yang mempertimbangkannya, adapun kita hanya tahu satu jawaban: Allahu Akbar yang menggetarkan itu bergaung sesudah kegelapan malam berlalu.

Kegelapan dan malam. Kita mafhum betapa luas artinya.

Kegelapan malam dihapus oleh cahaya pagi hari. Pagi itu abadi. Berjalan melata di bumi sepanjang waktu. Pagi tak pernah siang. Yang mengalami perubahan menuju siang hanyalah kita, yang bertempat tinggal di suatu tempat, yang tidak bisa membawa darah daging ini untuk terus mengejar pagi kehidupan.

Maka, setiap kali pagi akan lewat kembali dari hidup kita, menuju siang dan ambang senja, kemudian membusuk ke cengkeraman malam, untuk menemukan kembali pagi Allahu Akbar kita. Maka memang hanya rohani kita yang sanggup mengabadi, bagai pagi.

Tetapi anggaplah pada pagi Idul Fitri ini kita berada di angkasa raya. Duduk di sisi matahari. Memandangi gerak lambat putaran dan edaran bumi. Kita dekatkan mata ke permukaannya. Maka kita dapat menyaksikan dataran ombak maha luas, yang gerak gelombangnya terdiri atas beribu-ribu orang berukuk bersujud, yang bergiliran sesuai dengan tempat demi tempat yang berurutan garis, warna-warni, sapuan-sapuan dan getaran. Keagungan apa gerangankah ia?

Teater mahabesar.

Teater bukan dalam arti sandiwara atau pertunjukan, melainkan semacam estetika keilahian yang sudah berangkat merdeka. Kesenian sejati yang sudah tidak mempertunjukkan diri, karena itu bernama tauhid. Tauhid bukanlah “men-satu-kan” Tuhan. Tauhid ialah menggerakkan diri, menggabung, ke Allah yang Esa.

Pada setiap Idul Fitri, kita pandangi permukaan bumi dipenuhi oleh gumpalan-gumpalan yang lebih besar dari kumpulan manusia untuk mentauhid, meleburkan egonya ke Mahaego yang –kita tahu- tidak egoistik itu.

Allahu Akbar. Idul Fitri menjadi puncak ekstase tauhid kaum muslimin, namun bukan lantas telah selesai. Setiap orang akan “terengah-engah” sesudah ekstase itu dan kembali belajar menyebut Allah sebagai kabir –berarti Mahabesar- untuk kemudian di setiap penghujung Ramadan, dan menyebut-Nya Akbar, yang berarti Maha Lebih Besar. Ekstase yang ia alami adalah tergeleparnya Musa di Gunung Tursina.

Itu adalah puncak ketakjuban, dan pingsan.

Setiap hari, setiap muslim mengasah “radar” ketakjuban itu. Umpamanya dengan berwudhu: membersihkan, memfitrikan seluruh anggota tubuh, menyiapkan wajah, tangan, rambut, telinga, kaki, dan segala indera untuk turut sembahyang dan memiliki kesadaran mengabdi kepada Allah.

Kemudian seluruh anggota badan dan jiwa itu berjamaah memasuki shalat: Allahu Akbar yang ia ucapkan adalah ungkapan ketakjuban terhadap Allah beserta semua ide-Nya. Ketakjuban tanpa histeria. Ketakjuban yang “dingin”, yang membawanya berikrar bahwa segala shalat, hidup, dan mati ini hanya untuk Dia yang ia cintai kepati-pati.

Kemudian setiap tahap dari shalat adalah Allahu Akbar demi Allahu Akbar, ketakjuban demi ketakjuban, yang didahului oleh penghayatan, evaluasi, introspeksi, pensucian diri.

Puncak pencucian diri itu adalah Ramadan. Puncak ketakjuban itu adalah Allahu Akbar Hari Raya. Maka, suara para imam itu gemetar.

Kita menjadi “demam panggung” di hadapan Allah yang Maha kita kagumi. Kita salah tingkah, sehingga untuk mengatasinya kita melonjak-lonjak, bermabuk gembira, dan mungkin berfoya-foya. Karena itu, Idul Fitri menjadi bersifat kultural. Kita menyebutnya Hari Raya, bahasa Arabnya Yaumul Haflah, hari pesta.

Tapi what’s wrong? Itu adalah bagian dari fitrah manusia. Bukankah sebandit-banditnya kita, rohani kita tetap tergetar? Tetap masyuk dalam keagungan Allahu Akbar?

Bahkan “dualisme” itu pun tetap menakjubkan. Allahu Akbar, wahai, Allahu Akbar!

Tiap hari kita begitu sibuk dan “lari” dari-Nya. Justru karena itu kita tergetar untuk ber-‘id, untuk pulang kembali ke fitri. Apalagi fitrah manusia itu ialah tidak ada. Hanyalah Allah, Si Akbar, yang ada.

-o0o-

Cak Nun, 1 Syawal 1408 H


13 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Indahnya idul Fitri dengan saling memaafkan..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
MOHON MAAF LAHIR & BATHIN
OK!

Kang Nur:
habis lebaran, berpetualang & poto2 lagi di mana ni?🙂

Komentar oleh ardianzzz

mohon maaf lahir bathin

Kang Nur:
..hir thiin…😆

Komentar oleh hmcahyo

Semoga Cak Nun juga menjadi Imam yang menggetarkan, yang memberi pencerahan. Kita jadikan tiap hari adalah Hari Raya…

Kang Nur:
tul, pak. kita doakan dan kita berusaha..🙂

Komentar oleh marsudiyanto

sebelume, selamat lebaran Kang. maafkan saya kalo ada yang bikin ngganjel di hati.

suasana pagi saat Idul Fitri memang selalu membuat saya merinding…

kang Nur:
lhah emang di blogosphere ini kan kita niatnya mau ganjel2an?🙂 maksudnya saling menyumbang ide utk saling mengisi gitu loh..🙂
betul ttg merindingnya, saya tidak tahu maka ingin tahu juga dgn apa yg dirasakan oleh orang2 berstatus Islam yg tidak pernah berkunjung ke masjid meski Ramadhan, lalu entah mereka puasa dan shalat atau tidak, tapi lalu saat shalat Id mereka hadir. saya tidak tahu bgmn yg mereka rasakan.🙂

Komentar oleh idiotz

Gerakan di akhir Shalat adalah : Ucapan Assalaamu ‘alaikum, menoleh ke kanan dan ke kiri, adalah konsep peduli dengan lingkungan terdekat, menyapa, memperhatikan dan komunikasi… Subhanallah, demikian mulia dan Maha Mengetahui Engkau Ya Allah.. sehingga setiap perintah dan anjuran-Mu sangat bermakna bagi kehidupan manusia.
Taqobbalallahu minna wa minkum…maaf lahir batin

Kang Nur:
Betul, Bu. Tapi sayangnya, maaf, ada pula yg saya rasakan menoleh salam kaya ngipatke juga lho Bu. Saya sempat ada melihat ada pula yg menoleh salam seperti melengos. Betul, Bu. Saya wadul bukan gawe-gawe. 🙂

Komentar oleh dyah suminar

Jadi teringat iklan telkom terbaru..
Salam kenal kembali, kang!

Kang Nur:
di waktu2 tertentu memang ada iklan yg arif. masarif mau iklan apa nggak?🙂

Komentar oleh masarif

Cak Nur Bener Bener Kritis melihat Kehidupan.
Salut …
Salam Kenal Kang…

Kang Nur:
Ini Cak Nun, masDan, Cak Nuunn…
Bukan Cak Nur, apalagi Kang Nur🙂

Komentar oleh masDan

Indahnya Ramadhan, dan puncaknya di hari yang Fitri.
Mohon maaf lahir batin

Kang Nur:
lahir batin, Bu🙂

Komentar oleh edratna

wah memang enak lebaran ayh. Kita serasa kembali fitri.
kembali ke awal. kembali ke sebelum kita punya masalah, bikin masalah, atau ketiban masalah hahahah
minal aizin wal faizin mohon maaf lahir dan batin

Kang Nur:
hir tin🙂

Komentar oleh uwiu

serius itu di fotonya ada pelanginya ya? subhanallah..

Kang Nur:
Foto ini bukan milik saya, tapi dari album flickr Chandra Marsono yg asli Klaten. Silakan klik di foto-nya utk link langsung.🙂

Komentar oleh fauzansigma

Minal aidin walfaidzin.
Mohon ma’af lahir batin.🙂

Kang Nur:
Taqobalallahu minna wa minkum
Ja’alanallahu wa iyyakum..
Sama2, Pak🙂

Komentar oleh Herianto

tulisan kang nur ini juga tidak kalah “menggetarkan”… selamat lebaran kang… maaf lahir batin🙂

Kang Nur:
Tulisan ini karya Cak Nun, Bang. Emha Ainun Nadjib. kalo saya sih, belum mampu menulis sebagus ini.🙂

Komentar oleh vizon

Sebuah postingan yang menggugah. Memang betul dengan mendengar namaNya saja kita sudah ‘takjub’. Belum lagi, jikalau kita perhatikan apa yang terjadi di alam semesta ini. Banyak ciptaanNya yang begitu mengesankan, dengan ketepatan dan konsistensi yang luar biasa, dengan kerumitan yang luar biasa, dan dengan ‘keajaiban’ yang luar biasa. Allahu Akbar.

Kang Nur:
Robbanaa maa khalaqta hadzaa bathiilaa. Subhaanaka fa qiina ‘adzabannaar.

Komentar oleh Yari NK




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: