The Nurdayat Foundation


Dari Padukuhan Pondasen: Tahlil Itu Penting dan Wajib
Jumat, 10 Oktober 2008, 3:04 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag: , ,

Ritual tahlil memang tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw, maka ia memang bukan satu bentuk ibadah mahdhah, bukan ibadah khusus. Ritual tahlil ini sekedar amalan baik yang memiliki keutamaan dan faedah. Bila faedah dari amalan tahlil ini dapat menghantarkan warga untuk tergerak menjalankan syariat-syariat wajib, bahkan lalu menjadi sarana utama dan pertama juga agar warga tergerak; bukankah bila ditinjau dari strategi dakwah ini dapat dianggap penting bahkan wajib ? Sebagai sarana ?

Tahlil itu penting dan wajib.

Tadi malam saya hadir di kumpulan tahlil di tempat Kang Marjono. Padukuhan Pondasen ini memiliki kelembagaan berupa kumpulan tahlil yang biasa diselenggarakan setiap selapan (= 35 hari) sekali, yaitu tiap malam Jum’at Wage. Periode selapan kali ini, diundur seminggu karena masih hari-hari Idul Fitri, setelah selapan sebelumnya libur Ramadhan. Sudah lima belasan tahun acara latihan tahlil selapanan ini berlangsung, yang dulu muncul lahirnya justru atas inisiatif spontanitas dan antusiasme warga awam sendiri yang menghendakinya. Dulu sebelumnya, untuk acara slametan memperingati tiga hari, tujuh, empat puluh, seratus hari, setahun, dua tahun dan seribu hari meninggalnya anggota kerabat; masih biasa mengundang ‘santri’ dari padukuhan lain yang lebih ‘santri’. Karena merasa butuh untuk mencukupi kebutuhan kerabat sendiri itulah yang setahu saya mendorong antusiasme warga untuk menyelenggarakan kumpulan tahlil. Untuk mencukupi kebutuhan penghormatan atas arwah kerabat yang sudah meninggal dan ritual doa bersama memohonkan ampunan atas mereka dari para tetangga dan kerabat terdekat.

Ritual tradisi mengadakan doa bersama atas arwah anggota keluarga itu menjadi satu kebutuhan yang akhirnya nyatanya menjadi faktor pengikat kebersamaan dan rasa memiliki atas ajaran agama. Saya tidak dapat membayangkan bilamana faktor pengikat ini justru tidak ada atau bahkan sengaja ditentang dan mau dihilangkan. Tentu faktor pengikat itu menjadi tercerai-berai dan warga tidak memiliki kebersamaan lagi. Sebagian besar warga setahu saya belum/tidak biasa melakukan shalat lima waktu, mereka juga tidak terbiasa mengaji dan mengkaji ajaran agama. Paling tidak, dengan ber-tahlil ini mereka masih memiliki ikatan identitas bahwa agama mereka itu adalah masih atau sudah Islam. Dengan ber-tahlil ini pula mereka paling tidak sekali dalam 35 hari mereka membaca dan mengucapkan kalimah-kalimah thoyibah, ucapan-ucapan yang mereka tidak sempat ucap karena sehari-hari telah tersita untuk membanting tulang mencukupi kebutuhan hidup mempertahankan nyawa diri dan anak-istri. Paling tidak selapan sekali mereka ingat bahwa mereka nanti akan mati.

Karena Kang Marjono adalah Ketua Takmir Masjid kini dan terutama sudah berbelas tahun juga yang menangani ‘kepanitiaan’ kumpulan tahlil ini, maka hampir semua bapak-bapak warga sini hadir. Ikatan kebersamaan warga desa muncul di saat seperti ini. Rasa ingin guyub juga solidaritas warga masih kental untuk hal kemasyarakatan. Bapak-bapak ini jelas memandang bahwa kumpulan tahlil ini adalah event yang sangat perlu mereka hadiri atau kurang pantas atau ‘beresiko’ bila mereka tinggalkan. Rukun-guyub adalah hal satu nilai yang masih dijaga dipepundhi oleh warga desa. Mereka masing-masing ingin terlihat hadir terlibat ikut-serta di acara pertemuan ini. Sebagaimana mereka ikut kerja-bakti juga terdorong oleh rasa takut agar tidak terkena sanksi sosial bila tidak hadir, maka kehadiran mereka di acara latihan tahlil ini juga begitu. Bagi warga desa, sanksi sosial adalah kutukan yang mengerikan dari sesama warga masyarakat sendiri. Tuduhan dianggap tidak mau berukun-rukun itu saja sudah merupakan tuduhan serius yang membikin pusing.

Saya kira bapak-bapak ini juga sudah senang dapat ikut (latihan) tahlil ini. Mau beragama atau tidak beragama bukankah sesungguhnya juga hak masing-masing mereka sendiri yang berwenang menentukannya ? Masih mending mereka mau beragama. Apakah dengan beragama dapat menjamin mereka menjadi lebih sejahtera ? Dengan ikut tahlilan mereka merasa senang sudah dianggap bagian dari orang Islam. Dengan begitu cantuman agama di kolom KTP mereka ada buktinya sedikit. Dengan ber-tahlil mereka merasa guyub dalam kebersamaan sebagai orang Islam, meski saat Ramadhan kemarin mereka sebagian besar tidak pernah ikut tarawih di masjid. Bagaimana mereka mau ikut tarawih kalau bagaimana tata-cara bershalat saja mereka tidak tahu ? Bagaimana pula mereka dapat tahu tata-cara ber-shalat kalau mereka memang tidak mau ? Lha wong memang tidak mau kok disuruh belajar. Lalu, misalkan pasal 29 UUD 45 mau ditambahi dengan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, apakah itu lalu menjamin bahwa mereka terus mau shalat ? Shalat dengan paksaan dari negara ? Mau shalat atas paksaan dari negara ? Lalu polisi-polisi mau dikerahkan untuk menangkapi warga-warga masyarakat yang ber-KTP Islam yang tidak mau shalat ?

Maka di sinilah maka tahlilan ini menjadi penting bahkan mungkin wajib. Mashlahah mursalah. Maa laa yatimmul wajiibu illa bihi, fa huwa wajiibun. Tasharraful imam manutun ‘alaa ra’iyatihi. Begitu kaidah-kaidah fikih yang saya tahu karena sering dipopulerkan oleh Gus Dur. Saya sering ikut kegiatan Pemuda Muhammadiyah, namun gemar mempelajari, juga mengikuti kaidah-kaidah fikih yang banyak dimiliki oleh orang-orang NU. Saya ingin banyak belajar kaidah-kaidah fikih dari orang NU karena saya rasa itu sangat perlu, serta saya menyadari dan mengakui bahwa saudara-saudara NU lebih banyak yang paham tentang kaidah fikih. Saya juga ingin mempelajari kitab-kitab karya ulama klasik dari saudara-saudara NU, karena saya tahu mereka lebih banyak yang menguasai ilmunya.

Tahlil itu penting. Demikian itu pula yang saya sampaikan pada kultum di kumpulan tahlil tadi malam. Bukankah kalimat tahlil “Laa ilaaha illallah” itu adalah Tauhid inti ajaran Islam? Maka hakikat tahlil adalah untuk selalu mengingatkan semua orang Islam ini bahwa: “Tidak ada yang pantas disembah dan diper-Tuhan-kan selain daripada Tuhan (Allah) itu sendiri” Itulah modal utama dan pertama bagi orang Islam untuk menghadapi Mati.

Ritual tahlil memang tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw, maka ia memang bukan satu bentuk ibadah mahdhah, bukan ibadah khusus. Ritual tahlil ini sekedar amalan baik yang memiliki keutamaan dan faedah. Bila faedah dari amalan tahlil ini dapat menghantarkan warga untuk tergerak menjalankan syariat-syariat wajib, bahkan lalu menjadi sarana utama dan pertama juga agar warga tergerak; apakah bila ditinjau dari strategi dakwah ini tidak dapat dianggap penting bahkan wajib ? Sebagai sarana ?

Tahlil itu penting dan wajib.

-o0o-

ket.: gambar orang tahlil diolah dari poto dari blog-nya Ollie


32 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saya dari keluarga NU, dan setiap bulan diadakan tahlilan di rumah saya. Tapi saya sering cabut kalo lagi ada tahlilan hehe.
Tahlilan adalah keindahan budaya Indonesia yang suka kumpul. Di negara barat hal seperti ini gak ada kalo tidak ada keuntungan keuangan di baliknya.

Kang Nur:
Lha kirain kalo orang Godean itu ‘Kamandiyah’ semua, je… Nha kalo gitu memang betul kalo kini orang2 ‘Kamandiyah’ banyak yg suka tahlilan, pdhal mungkin dr keluarga NU ada yg malah sudah bosen.🙂
Ya, betul Mas Dino. Tahlilan adalah kekayaan budaya yg menunjukkan orang Indonesia suka guyub. Putra Indonesia yg sedang abroad tentu dapat mengamati lebih jelas, krn dapat merasakan perbedaannya dgn tempat tinggalnya kini di luaran sono.

OOT BTW: PR-nya akan saya garap, tapi belum jadi😀

Komentar oleh Dino

Saya orang Islam, cuma terus terang saya sampai saat ini sibuk dengan urusan duniawi. Saya teringat ketika saya masih di kampung dulu, setiap ada saudara yang mengalami musibah kematian, pasti selalu diadakan tahlilan sampai tujuh hari. Dan sampai saat ini saya tidak tahu persis apa hukumnya dalam Islam wajib apa sunah, karena sebagian Aliran berpendapat berlainan. Kalo menurut saya Pribadi, selagi Tahlil tidak memberatkan seseorang bagi saya bagus-bagus aja, tapi bagaimana dengan sodara kita yang notebene sedang dirundung duka, malah harus menyiapkan makanan untuk orang2 yang datang bertahlil, bahkan ada sebagian di kampung saya harus memberi amplop untuk yang tahlil sampai 7 hari… Maaf kalau ada comment yang kurang berkenan

Kang Nur:🙂 Kang Budi di Kebumen ya? Jadi masih dalam lingkup pengaruh budaya dan kesejarahan budaya lokal yg sama dgn Yogyakarta. Konteks budaya-nya banyak yg sama. ..Ritual tahlil tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw ! Bahkan dlm bbrp hal, Rasulullah melarang kegiatan2 yg masuk kategori ‘meratap’. Maka kalau sudah sama2 diyakini demikian, tentu saja dari tinjauan hukum fikih, ritual tahlilan ini jangankan wajib, bahkan sunah saja tidak.
Bila orang kampung sbg kerabat ahli waris yg meninggal merasa WAJIB menyelenggarakan ritual tahlilan krn menganggap ini sbg ibadah yg tidak boleh ditinggalkan; tentu saja itu salah-kaprah. Sudah repot harus menyiapkan makanan, apalagi harus menyiapkan amplop? Maka dalam banyak hal, budaya tahlil ini harus disederhanakan agar tidak memberatkan keluarga ahli waris yg meninggal.🙂

Komentar oleh Budi

Kalau pendapat saya sederhana Kang, walau tidak bermaksud menyederhanakan persoalan. Kalau itu baik dan kita yakini baik, tak perlu kita cari landasan hukumnya atau tuntunannya. Tahlil juga ajang silaturahmi, sedangkan silaturahmi jelas2 ada tuntunannya dan sangat dianjurkan. Ukurannya gampang. Baik mana, orang baca Tahlil atau orang tidak melakukan apa2.

Kang Nur:
Ya. Daripada orang maunya berjudi dan mabuk2an melulu, maka kalau mau ikut Tahlil berarti itu sudah mendingan. Namun mencari landasan hukum juga perlu.

Komentar oleh marsudiyanto

@ mas budi
setahu saya, kalau dari keluarga kurang mampu, pada tahlilan pertama, memberikan gandhulan besek untuk dibawa pulang para pentahlil. nha, di besek itu ada janur atau apanya saya lupa –mbesok saya tanyakan bapak– pertanda, keluarga itu tidak mampu lagi mengadakan tahlilan keesokan harinya. dan para pentahlil kebanyakan sudah pada maklum

Kang Nur:
Masukan info dari mas Hamid “idiotz” ini saya kira sangat berharga bagi siapapun yg membaca posting berikut tanggapan2nya terkait topik Tahlilan ini. Saya pribadi juga baru tahu dari mas Hamid ini ttg adanya kebiasaan gandhulan besek ini. Ini sangat berpengaruh signifikan thd pertanyaan: Apakah ritual tahlilan utk peringatan 3, 7, 40 hari dst itu tidak memberatkan ahli waris? Inilah saya kira jawabannya. Ahli waris tidak perlu malu2 utk menyatakan sampai sejauh mana mereka masih mampu. Semestinya tetangganya-lah yg membantu orang yg kesusahan. Bukan keluarga dr org yg meninggal malah ditambahi beban yg menyusahkan.

Komentar oleh idiotz

Saya sangat jarang mengikuti ibadah tahlilan. Dan pengetahuan saya tentang fikih sangat cekak.😀

Kang Nur:
Trims atas kunjungan dan koment-nya Bang Rafki. Namun memang posting saya ini lebih ke tinjauan budaya-nya, Bang; bukan ke hukum fikih; yg saya pun tidak akan lancang merambah ke wilayah yg bukan menjadi otoritas dan kemampuan saya.

Komentar oleh Rafki RS

Di desa saya kegiatan tahlil masih rutin dijalankan. Ada jenis tahlil kumpul rutin mlm jumat dan tahlil memperingati kematian. Menurut saya sama sekali tidak ada hal negatif dari kegiatan tersebut. Justru dg begitu, itulah sarana pengikat kerukunan. Terlepas dr ada atau tidaknya dasar, bisa saya katakan tahlil itu penting, ibadah mana lagi yg bisa mengikat warga apalagi yg di desa yg seharian membanting tulang…*nggolek duit sepuluh ewu ning ndeso ki angel* Akan sangat aneh kl tahlil dilarang dg alasan tdk ada dasar yg jelas.. pdhl smw hal baek kan pasti bisa dirunut alasan dan dasarnya. Kali ini… manut sama pendapat kang nur

Kang Nur:
Weh🙂 manut ya? Tahlil yg sukarela utk guyub2=rukun2 itu tentu baik. Yg kurang baik adalah … ?🙂

Komentar oleh cebong ipiet

tambahan:

@Mas Budi
Namane “Takir Ponthan”, bentuknya adalah takir (seperti sudi, tapi besar) dan dipinggirnya diberi janur.

Kang Nur:
TAKIR PONTHAN. Mari kita ingat ini. Perlu dipelajari, dikaji, diterapkan sbg ‘jalan tengah’.

Komentar oleh idiotz

menarik juga analisa anda, tapi saya lebih condong mengikuti pendapat yang membid’ahkan tahlilan, karena lebih kuat analisanya. coba buka:

http://www.4shared.com/file/56836292/c81a1041/Tahlilan_dalam_Perspektif_Islam.html

sedikit kesimpulannya yang diambil dari halaman 15.

Kesimpulan
Pertama, hukum tahlilan apabila diniatkan sebagai ibadah dan bertaqarrub kepada
Allah maka hukumnya bid’ah. Karena bid’ah adalah melakukan perbuatan dengan niat
ibadah dan taqarrub kepada Allah yang tidak ada tuntunannya, (dasar dalil syar’i nya).
Tahlilan dalam menyikapi kematian sama sekali tidak memiliki dalil syar’i.
Kedua, apabila tidak diniatkan ibadah namun tetap dilakukan pada waktu yang
sudah di tetapkan yaitu hari pertama, ke 3, 7, ke 40, 100 ke 100 dan haul (satu tahun
sekali), maka hal ini merupakan tasyabuh lil kufar. Yakni menyerupai hadharah (tata cara
kehidupan yang berdasarkan pada keyakinan atau persepsi) agama lain, dalam hal ini
adalah animisme, agama Hindu, dan Budha. Dan hal ini adalah haram.
Ketiga, amalan dalam tahlilan seperti dzikir, berdo’a atau mengirimkan pahala
bacaan kepada mereka yang telah meninggal, hukum asalnya boleh dilakukan. Asal tidak
dilaksanakan dengan niatan ibadah kepada Allah dalam menyikapi kematian, dan juga
tidak dilakukan pada hari-hari kepercayaan dari agama lain. Akan tetapi bila dilakukan
untuk mengikat kecintaan masyarakat kepada Islam, dengan membaca ayat-ayat al
Qur’an, berzikir dan berdo’a memohon ampunan dan pertolongan dari Allah serta
memanfaatkannya untuk menyampaikan dakwah Islam dengan ceramah dan kajian
(sedang waktunya tidak terikat pada waktu-waktu tertentu) maka ia boleh dilakukan.

Wallahu’alam.

Daftar Bacaan

Abiy Muhammad ‘Izuddin Abdul ‘aziz bin Abdus Salam as-Sulami, t.t. Qawa’id al ahkam fi Mashalih al-
Anam, juz II. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Ad Dimsyaki, Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi’i. 1993. Rohmatul Ummah (Rahmatul Ummah Fi
Ikhtilafil A ‘immah). Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk Rodliyah. Cetakan Pertama.
Surabaya: Al Ikhlas
Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. Al-Fiqh ’Ala Al-Madzhahib Al-Arba’ah. Cetakan I. (Beirut: Darul Fikr).
Ali Muhyidin Al Qarhudaghi. 1992. Hukm Ijra’ Al Uqud. Beirut: Mu’assah Ar Risalah.
As-Suyuthi.t.t. al-Jami’ash-Shaghir, Juz I. Jedah : Dar Tha’ir al-‘ilm.
Ash Shan’ani.t.t. Subulus Salam. Juz II. Bandung: Maktabah Dahlan.
Asy Syawkani. 1973. Nayl al-Awthar. Beirut: Dar al-Jil
Asy Syawkani. 1994. Fath al-Qadir, Juz IV. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Ibnu Hajar, Ahmad bin Ali bin Hajar as-Asqalani. 1986. Fathul Bari Starh Shahih Al-Bukhari, Cet. I.
Kairo: Dar ar-Rayyan lil Turats.
Ibnu Katsir. 1997. Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, juz IV. Riyadh: Dar ’Alam al-Kutub.
Karkono Kamajaya Partokusumo. 1995. Kebudayaan Jawa, Perpaduannya dengan Islam. Yogyakarta:
IKAPI Cabang Yogyakarta.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN. Balai Pustaka.
Mulyadi dkk. 1984. Upacara Tradisional Sebagai Kegiatan sosialisasi DIY. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1982-1983
Taqiyuddin an-Nabhani. 1953. Asy-Syakhsiyah al-Islamiyyah, cet. Ke-2, Juz I. Al-Quds:min mansyurat
Hizb at-Tahrir.
http://www.petra.ac.id/english/eastjava/culture/ident.htm

Kang Nur:
Saat saya memulai menulis posting ini bbrp minggu lalu, sengaja saya tidak mencari referensi lagi. Saya pernah bbrp kali membaca bbrp tulisan/maqalah terkait ini baik dari majalah, buku ataupun artikel di internet; namun itu tidak saya lakukan saat saya mulai menulis kemarin. Sengaja saya lakukan demikian, agar yg muncul adalah semata ORISINIL, OTENTIK (authentic); apa yg saya rasakan dan pikirkan dari KONTEKS PENGALAMAN YG SAYA HADAPI DI LAPANGAN SAAT BERTEMU DGN MASYARAKAT. Kajian tekstual-literer banyak didapat dgn searching lewat Google atau lainnya. Saya memuat pengalaman asli saya, sekedar utk berbagi (beban juga). Ada beban psikologis pribadi saat saya melakoninya, namun saya sadar bahwa saya juga perlu ikut menanggung beban dakwah. Pemahaman thd masyarakat hanya dapat dilakukan sedikit demi sedikit.🙂

Komentar oleh al-Muharir

Memang masalah tahlilan ini, harus dilihat dari banyak sisi. Saya pribadi berpendapat bahwa tahlilan adalah bid’ah, tidak perlu saya jelaskan di sini karena terlalu panjang.

Tetapi bagaimanapun juga, saya menghormati pendapat orang lain, seperti halnya orang lain harus bisa menghormati pendapat saya. Di sinilah yang terpenting, kita tidak saling memaksa pandangan satu sama lain……..

Kang Nur:🙂 Krn demikianlah maka posting saya di atas mencoba menampilkan sebuah KONTEKS-HISTORIS-BUDAYA LOKAL-SOSIOLOGIS, bukan sekedar TEKSTUAL-LITERER. Kebanyakan kajian ttg tahlilan ‘hanya’ mengupas dasar2 hukum tekstual-literer, sehingga kesejarahan-kemasyarakatan di masing2 lokal komunitas budaya setempat dianggap tidak ada (= ditiadakan) sama sekali, seakan argumen kesejarahan pendekatan dakwah pun tidak dapat dijadikan alasan ‘pembelaan’ akan adanya tahlilan masih terselenggara.

Komentar oleh Yari NK

saya cenderung menilai tahlilan sebagai peristiwa sosial. karenanya saya menyetujui konteksnya. soal anggapan bahwa tahlilan itu ngirim pahala atau nransfer pahala dr yang hidup kepada yang meninggal rasanya di titlk ini yang perlu pencerahan lebih teliti dan detail dari mas Ustadz Nur kepada khalayaknya

Kang Nur:
Setuju. Event/momentum sosial. Bukan satu bentuk peribadatan. Bila ada ahli waris dr yg meninggal mengundang tetangga utk ber-sama2 mendoakan bagi sang mendiang, apa ya tidak boleh ? Tidak pakai waktu2 tertentu. Lalu kalau tetangga-nya memilih utk TIDAK menghadiri undangan mereka, apa ya itu lebih baik ? … Soal nransfer/ngirim pahala saya tidak tahu dan memang kurang dapat meyakininya sejauh ini, bahkan cenderung tidak percaya. Namun hanya sekedar bahwa dalam berdoa tentu ada adab2nya, a.l. disertai kalimat2 pujian kepada Allah swt, sholawat, tentu baik adanya.

Komentar oleh gus

Kalau saya, melihat manfaat dan mudharat dari tahlilan itu sendiri, banyak manfaatnya. Jadi tidak apa-apa untuk dijalankan. Meskipun banyak kalangan berpendapat itu bid’ah, kalo bermanfaat masa ya dosa, melakukan sesuatu yang bermanfaat?

Nah, dalam opini saya, yang ilmunya masih cekak, tahlil saya kategorikan sebagai doa. Sedang doa sepertinya bukan bid’ah. Kalau dinilai caranya yang bid’ah, lalu apakah doa yang kita ajukan dalam bahasa bukan arab juga bid’ah, yang mesti dilarang? Khotbah Jum’at yang disampaikan dalam bahasa non arab apakah juga bid’ah?

Mohon kejelasan nya…

Kang Nur:🙂 Ya. Lewat posting ini, saya (Nurdayat) hanya mengajak para pembaca utk meninjau tahlilan justru bukan semata dari sudut pandang fiqh. Ttg hal fiqh, itu adalah bagiannya ulama fuqaha atau ulama tarjih.
Tahlilan adalah sebentuk ekspresi budaya, maka jangan dihakimi melulu dg pertanyaan: Ini sebenarnya dituntunkan atau tidak? Kalaupun kita semua sudah dapat menjawab tegas: TIDAAK!, memangnya lalu mau apa? Berkampanye utk penghapusan budaya tahlilan?

Komentar oleh idiotz

ayo nyebut tahlil di setiap hembusan nafas

Kang Nur:
Lha ini pak ustadz kita juga mengajak utk hal yg lebih ke arah ‘batin’. Amiin, pak ustadz.

Komentar oleh Mawardi

selalu ingat Allah

Kang Nur:
Amiin.

Komentar oleh andy

kalau emang baik kenapa mesti dilarang!

Kang Nur:
Betul, Bang. Nggak ada yg berani melarang.

Komentar oleh qizinklaziva

Mari Tahlilan-nya Dimulai …

Ilaa khadrotinnabiyyi Muhammad SAW
Tsumma Ilaa Khadroti Sayyidi Sayyid Syech ‘Abdul Qadir Jaelani, Wa ila khadroti Sayyidi Syech Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali, wa ila khadroti sayyidi Syech Habib Abdullah bib Alwi al Haddad
al Faatikhah …

Kang Nur:
Dari koment mas Dan ini kita jadi ingat dan muncul tanya: Darimana sih sebenarnya asal-muasal munculnya tahlilan ini? Apa betul dari Syaikh ‘Abdul Qadir Jaelani sbg syaikh mursyid tarekat Qadiriyah? Katanya di Yaman sana juga ada tahlilan? lalu bgmn pula di negara2 Islam lain? ..Kalo di Indonesia, khususnya Jawa, banyak yg bilang bahwa ttg 3, 7, 40, 100, setahun, dua tahun dan 1000 hari itu adalah tradisi Hindu? lalu Walisongo melanjutkan tradisi ini namun diisi dgn kalimat2 thoyibah? …disebutnya para syaikh sebelum rangkaian tahlilan dimulai tentu ada artinya.. apa?

Komentar oleh masDan

Waduh Kang Nur hebat pisan euy… ;p
tapi kok ngewajibin yang bukan wajib ;(
Sederhana saja sih bagi saya, Islam itu sudah sempurna, So, ibadah ga usah ditambahkurangi.
Amalan yang diajarkan Islam yang lain masih banyak yang belum dilaksanakan. Hehehe, lebih baik mari kita senyum untuk saudara kita sembari bersadaqah gratis. Bukankah senyum itu hal yang inherent dan hakiki dalam silaturrahim. :p Daripada niat silaturahimnya dibelakang niat tahlilannya. ?!@?

Hal yang perlu diingat adalah bid’ah merupakan proses pemusnahan ke-Islam-an seseorang secara pelan-pelan.

Salam dan Sukses selalu kagem mas Nur

Kang Nur:
Assalaamu ‘alaikum, Mas Adam. Wa piye kabare? Saiki logate wis kaya wong Sunda?
‘Wajib’ yg saya pakai di sini ada bbrp maksud dan pengertian: 1. Mmg pilihan kata yg hiperbolik saja utk grabbing attention. 2. Tentu bukan dalam arti fiqih yaitu= bila meninggalkannya kita akan terkena dosa. Bukan begitu. Seperti ‘kawasan wajib helm’ atau lalu bahkan ada ‘kawasan wajib senyum’ itu lah. Mana berani saya meng-utik2 fiqh. 3. Wajib di sini lebih berarti necessary scr strategik dakwah. Ada bbrp orang yg berprinsip “ruju’ ilal Qur’an wal hadits” ttp dg hujjah dalam rangka strategi-dakwah ternyata ber-tasamuh utk tetap membiarkan tahlilan ini berlangsung.
Maka, sbgmn dapat dirunut lagi; bahkan saya juga tak menganggap tahlilan ini sbg ibadah. Karena mmg semestinya tahlilan jangan dilihat apalagi dianggap sbg ibadah. Saya lebih melihat dari sudut peserta-nya saja, dan manfaat bagi mereka. Sedangkan bagi penyelenggara, yaitu ahli waris yg meninggal bila dgn waktu2 tertentu itu; kita semua melihat bahwa ini memang kebanyakan akan membebani. Kalaupun masih diselenggarakan dg alasan2 dakwah, tahlilan tetap perlu disederhanakan.
Semoga sukses di Bandung dan cepat kembali🙂

Komentar oleh Adam Jerusalem

wow, enaknya tahlilan, banyak doa dibaca…

*dapat makan pada akhirnya, wekekeke..*

Kang Nur:
Makan aja yg dipikirin!😆

Komentar oleh ndop

tahlil itu khan berdoa secara berjamaah. kenapa kok bisa ada yang bilang bid’ah ya??

omaigaaat….

Kang Nur:
ya karena di jaman Rasulullah saw dan para shahabat dulu, memang tidak ada diselenggarakan…

Komentar oleh ndop

Sampe kapan tahlilan di ‘wajìbkan’ kang?

Kang Nur:🙂 Ya, menurut saya sih (mungkin subyektif); ya sesuai kebutuhan konteks situasi-kondisi setempat dalam hal tingkat pemahaman keagamaan warga.
Kalo mau diteruskan ya; didudukkan-lah posisi tahlilan ini scr proporsional, berkait kedudukannya juga dibandingkan ibadah mahdhah yg jauh2 lebih penting.
Penghapusan total, menurut saya tidak ada gunanya/manfaatnya.
Saya menyarankan satu penyederhanaan saja dlm kaitan agar tidak membebani keluarga ahli waris yg meninggal.

Komentar oleh Husein

Saya kira ‘tuduhan’ yang mengait-kaitkan Tahlilan dengan ritual Tradisi Hindu adalah suatu bentuk ‘pelecehan’ terhadap kapasitas keilmuwan agama dan kadar keimanan para Walisongo.

Akar masalah yang mendasari silang sengketa soal Tahlil ini adalah penisbatan Thoriqoh sebagai aliran pelaku bi’dah. Thoriqoh dipandang hanya karya rekayasa dari para Masyayikh saja, teristimewa ditujukan kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani QDS. Pandangan dan tuduhan ini sangat logis karena kejumudan dari para penuduhnya saja.

Thoriqoh itu sumber awalnya berasal dari Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW yang diturunkan melalui dua Sahabat dari empat Sahabat Utama Beliau Nabi SAW, yaitu Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Ali RA. Kemudian dari beliau berdua diturunkan melalui ‘rantai emas’ salsilah para Syekh Mursyid Thoriqoh Mutahbaroh yang Khirkoh sebagai Syekh Wilayatul Akbar sampai dengan hari ini.

Di setiap waktu dan di setiap tempat diutamakan untuk mengamalkan Wiridan, dan Wiridan itu adalah Zikirullah. Jadi apa salahnya mengisi setiap kegiatan dengan amalan Wirid yang bermakna Zikirullah ?. Jadilah acara walimatul safar bagi mereka yang mau berangkat haji juga diisi dengan Ratiban, yang jika dicermati tak berbeda dengan Tahlilan.

Selain itu, juga disebabkan oleh pandangan bahwa doa itu tak dapat dikirimkan kepada orang mati. Memang orang yang telah mati telah putus segala amalnya karena sudah tidak bisa melakukan segala perbuatan amal, tetapi bukan berarti doa yang kita kirimkan tak akan bermanfaat baginya khan ?. Bukankah kita seringkali melantunkan …wal muslimin wal muslimat al ahya iminhum wal ahwat… apakah itu tak berarti kita hakikatnya sedang berdoa kepada Allah SWT yang kita mohonkan agar pahalanya ‘dihadiahkan’ kepada mereka para saudara seiman yang masih hidup maupun kepada yang sudah tiada ?.

Padahal dalam beberapa riwayat hadits disebutkan bahwa sesudah ruh dicabut dari jasad akan ada step-step perjalanan yang akan dijalani ruh termasuk dengan bagaimana ‘psikologi’ yang sedang melingkupi ruh itu di dalam perjalanannya di alam barzakh sana.

Jadi, di saat sanak kadang kita sedang mengalami perjalanan ‘sulit’, maka kita sebagai sesama saudara seiman wajiblah mengirimkan doa sebagai ‘peringan’ bagi ‘kesulitan’ yang sedang dialami oleh ruh saudara seiman kita itu.

Ya, kalau referensinya hanya yang bersumber kepada Mazhab Wahabiyah memang akan begitu, sedikit-dikit bi’dah, yang nggak bi’dah cuma Wahabiyah saja. Dianggap yang Ahlul Sunnah Wal Jamaah hanya Wahabiyah saja, sedangkan yang selainnya dianggap Ahlul Bi’dah Wal Jamaah.

Padahal pandangan Wahabiyah itu hanya karena mereka terbelenggu oleh Jumudul ‘Ain saja.

Wallahu’alambishshawab.

Kang Nur:
Terima kasih atas komentar Pak Salikh Mbeling. Komentar ini semakin melengkapi pemahaman saya terutama, semoga juga para pembaca lain.

Komentar oleh Salikh_mBeling

[…] Padukuhan Pondasen: Tahlil Itu Penting dan Wajib diambil dari: https://nurdayat.wordpress.com/2008/10/10/tahlil-itu-penting-dan-wajib/ […]

Ping balik oleh Tahlilan, Tinjauan Sosial Budaya « Catatan harian seorang muslim

wheleh wheleh ternyata masalah tahlil masih ‘menjaring’ aneka ragam pendapat, saya sendiri ndak berani komentar, takut keseleo lidah.
mudah2an saling silang pendapat ato perdebatan kecil bertujuan untuk mempertajam ‘kebenaran’ bukan untuk ‘pembenaran’.
ada riset kecil kawan2 saya, beberapa ulama yang menjalankan amalan tertentu kemudian mendapat petunjuk bahwa amalan tersebut salah atau harus dikoreksi maka mereka ngotot bertahan karena takut kehilangan harga dirinya, murid atau santrinya. subhanalloh! mudah2an kita dijauhkan dari sifat dan orang2 seperti itu.

Komentar oleh Jalu

Menurut saya tahlilan boleh saja dan insya Allah bermanfaat dan ada pahalanya sesuai niat masing-masing. Tahlilan kan hanya masalah teknis & sosio budaya masyarakat di Indonesia saja. Saya setuju bahwa masyarakat Indonesia perlu diberi pencerahan bahwa tradisi tahlilan itu sebaiknya jangan memberatkan keluarga yang terkena musibah. Kalau perlu warga sekitar yang membantu sekaligus menghibur dengan sarana tahlilan tsb. Tahlilan bukan ibadah mahdhah hanya tradisi yang menurut saya baik dan perlu dipertahankan, tetapi insya Allah bernilai ibadah juga dan mendapat pahala jika diniatkan untuk berdzikir, mendoakan sesama muslim, silaturahmi, menghibur ahli waris. Contoh mendoakan muslim lain yang sudah meninggal kalau tidak salah banyak kok contohnya dari Rasul CMIIW. Jadi apa salahnya?

Komentar oleh Praditya

terlalu banyak membenarkan diri tidak baik, apalagi saling menyalahkan, cuma jadi penonton itu artinya pemalas he he he bercanda gitu looohc…yahc selama kita semua tetep berpegang pada sumber aslinya tanpa maksud yang buruk tentu Allah akan menilai sebagai ibadah Insyyaallah amiiiin….

Komentar oleh aliidolaku

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :
Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

REFERENSI :

 Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
 Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

Kang Nur :
Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Pak Sandhikusuma yg telah sudi berkunjung ke pondok saya yg terbengkelai ini dan berkenan utk memberikan ilmunya. Saya kira tinjauan dari Bapak ini akan sangat bermanfaat bagi diri saya sendiri, juga bagi para pembaca posting ini semua. Terimakasih.

Komentar oleh sandhi

Rasanya Nabi hanya mengajarkan kita dalam mengurus jenazah adalah: memandikan, mengkafani, mengsholatkan dan menguburkan.. dan satupun tidak pernah ada satupun hadits nabi beliau dan sahabatnya mengtahlilkan sahabat Ahli Badar, Uhud, dll yg meninggal… kalau setiap amalan yg penting baik, bagaimana kalau ada yg beranggapan membaca Al Fatihah kan baik maka nanti saya baca saat ruku atau sujud.. kan baik… atau saya sholat subuh empat rokaat atau lebih kan baik daripada hanya 2 rokaat dan lagi Nabi nggak ngelarang tuh kalau kita tidak boleh sholat subuh lebih dari 2… Karena itu Imam Syafii melarang kita istihsan atau menganggap baik suatu perbuatan…karena ukuran siapa yg kita pakai anggapan baik tsb????

Kang Nur:
Pandangan Anda sangat bagus dan sangat penting untuk diperhatikan dan dipikirkan.

Komentar oleh IWAN ABU NAUFAL

@mas sandi. saya tahu tulisan anda 100% kutipan.. dan hampir 100% sudah sy ketahui. tapi malangnya mas tidak tahu dari mana asalnya.,alangkah lebih baik telusuri dulu,jangan sampai anda ikut ikutan berbohong.

allah ta’allah berfirman berfirman:dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin dan mukminat tampah kesalahan yang mereka perbuat, sesunggunya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata(al-ahzab:58)..

jika ada orang yang berkata tahlilan adalah bid’ah itu tak lebih karena pemahaman islamnya msh sangat dangkal,refensi mrk hanya dari serpihan pendapat salah satu ulama saja. bkn pada sumber asli.yaitu pada al-qur’an dan al hadist. sehingga saat menemui satu dua hadist mrk memahaminya masih scr textual tanpa tahu sejarah dan kandungan hadist di dalamya(seharusnya paragraf ini menjadi motivasi spy mrk belajar lbh giat tentang agama).

sedikit tentang tahlil

di situ ada pengiriman pahala apakah nyampe?

tentang mengirimkan pahala:

Dari Aisya ra. bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Nabi saw : sesunggunya Ibu saya meninggal dunia secara mendadak dan saya kira seandainya ibu sempat berbicara ia akan bersedekah, apakah ia akan mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya “beliau menjawab: ” ya”.
(HR.Bukhori dan Muslim)

kenapa dzikir harus berjama’ah,ada hadistnya tidak?
hadistnya di riwayatkan oleh Muslim:
Dari Abu Hurairah ra,. Dari Said ra,. keduanya berkata: ‘” sekelompok orang yang duduk berdzikir kepada allah, pasti di kelilingi para malaikat, di liputi Rahmat, di turuni ketenangan, dan di sebut-sebut Allah di kalangan Mahluk yang ada di sisinya”
(HR.Muslim)
lebih jelas anda bisa langsung kesumber aslinya yaitu pada kitab : Riyadhus Shalihin karya Al-imam Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf An-Nawawi, atau pada terjemahannya Riyadhus Shalihin jilid 2 pada bab keutamaan majlis dzikir, penerbit pustaka amani Jakarta…

sedikit tambahan, karena rujukan mereka dlm membid’ahkan berasal dari syaikh ibnu bazz, blh dong aq mengambil drnya juga.

di sebutkan dalam kitab Ad da’wah juz 1 hal 215 syaikh ibnu bazz di akhir tulisanya menerangkan bahwa “Adapun bersedekah atas nama si mayat dan mendo’akan bisa berguna baginya dan sampai kepadanya menurut ijma kaum muslimin, hanya allahlah yang kuasa memberi petunjuk dan hanya Allahlah tempat meminta”

Komentar oleh ahmad

wa mas IWAN ABU NAUFAL, ada yg ketinggaln,pendapat pribadi ya?. ada yang lebih penting setelah proses penguburan selesai:
“dari Abu Amir, ada yang memanggilnya dengan Abu Abdullah, ada juga yang memanggilnya dengan Abu Laila Usman bin Affan ra, ia berkata apabila Nabi Saw telah selesai menguburkan mayat maka beliau berdiri dan bersabda “mintalah ampun untuk saudaramu dan mohonlah kepada Allah agar ia di beri ketetapan hati karena sesunggunya ia sekarang sedang di tanya”(HR.Abu Dawud).

nah kata yg terakhir itu yang di namakan bid’ah. menambah namba dalam urusan beribadah kepada allah. krn hukum asal ibadah adalah haram jika tidak ada dalil perintahnya. sedangkan selain itu hukum asalnya adalah mubah ataw boleh selama belum ada dalil yang melarang(kaidah fiqih)

Komentar oleh ahmad

bapakq tukang imami tahlilan, sapa yang gak setuju dengan tahlilan disuruh kerumahq… biar diajari,

Komentar oleh arie

sepertinya.. ke depan ibadah dalam agama islam akan berdasarkan dari pemikiran – pemikiran yg baik aja ( dari manusia ), bukan ketentuan ( hukum ) dari Allah SWT ( al-qur’an ) & Utusan Nya ( Hadist )….

Komentar oleh fish

This piece of writing is truly a good one it assists new net visitors,
who are wishing in favor of blogging.

Komentar oleh Pawn Star Married

sy suka membaca sejarah apa saja, termasuk sejarah

kehidupan Rosululloh SAW. Beliau memiliki 6 anak.

Pertama laki2 bernama Qosim (meninggal sewaktu

masih kecil), yang empat orang perempuan, termasuk

Fatimah dan yg terakhir Ibramim (meninggal sewaktu

masih kecil).
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do’akan

sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

yg sangat mulia.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH….,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

(menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan…
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan….
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

TAHLILAN Gus..”
sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

daharan e…”
mereka menjawab: “nggih Gus…”.

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

wajib…??
dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

masalah…
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

dll.

Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

shaf…

Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

dalam berpendapat…
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

khusus sholat jama’ah…
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

do’akan saja yg baik…
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

berkenan…
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
Amin ya Robbal Alamin

Komentar oleh gusjan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: