The Nurdayat Foundation


ANDRE MOLLER DAN PARA PENGAMAT YANG TERLIBAT
Jumat, 17 Oktober 2008, 5:00 pm
Filed under: Budaya Islam | Tag:

(sambungan Ramadan Di Jawa Dalam Pandangan Andre Moller)

Paparan Fenomenologis para Sosiolog dan Antropolog atas Realita Masyarakat dan Keberagamaan

Ramadan in Java

Ramadan in Java

Melihat diri kita sendiri dengan pandangan dari luar, itulah yang menarik dari buku Andre Moller, Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar.  Saya wong ndeso yang bertempat tinggal di depan masjid dapat menikmati bahkan menggemari buku yang mengupas kebiasaan beragama masyarakat saya dalam tinjauan sosiologi-antropologi. Ini semacam kesempatan untuk bercermin, untuk melihat wajah dan tubuh kita sendiri dengan cermin yang disodorkan orang lain. Ini kesempatan saya untuk menjauhkan diri sejenak dari keterlibatan saya yang mendalam, dalam ‘ritus-ritus’ yang telah mentradisi itu secara emosional; lalu dapat saja saya terhenyak sadar lalu tersenyum simpul atas beberapa di antaranya, sementara sebagian lagi benar-benar saya banggakan dan maka akan saya pegang terus kuat-kuat.

Saya ingin memiliki buku-buku karya Martin van Bruinessen, Mitsuo Nakamura dan tentu saja Clifford Geertz (tentu saja yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia J). Buku Martin van Bruinessen tentang tarekat (Naqsyabandiyah atau lainnya) tentu akan memahamkan saya tentang kenyataan kekayaan itu. Dari Mitsuo Nakamura saya ingin memiliki tulisan The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Java Town-nya. Dan dari Clifford Geertz tentu saja The Religion of Java, karyanya yang fenomenal yang sering menjadi rujukan -meski bukannya tanpa kritik- itu. Saya juga sangat menikmati dan bersyukur memiliki terjemahan karya Zamakhsyari Dhofier The Pesantren Tradition: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java. Terkait sejarah, contohnya saya suka buku Ahmad Adaby Darban yang saya beli dari loakan juga: Rifa’iyah: Gerakan Sosial Keagamaan di Pedesaan Jawa Tengah tahun 1850-1982. Saya ingin buku Sartono Kartodirdjo tentang pemberontakan petani Banten… Begitu dan seterusnya. Saya ingin menyimak keyakinan beragama saya dan umat seiman Islam di ndonesia ini dalam tinjauan (yang katanya) ilmiah dari segi kebudayaan, sosiologi, antropologi, sejarah, dst.

Mereka para pengamat itu menyajikan hal ‘fenomenologis’ kepada kita, menjadikan kita tidak berhenti berpikir atau merasakan akan hal-hal yang ada pada kita. Untuk itu selanjutnya kita akan dapat tersenyum atasnya, memahami diri kita lebih dalam, juga mensyukuri atas itu semua.

Pengamat Yang Terlibat

Mereka adalah pengamat yang terlibat. Hal gambaran lebih jelas terkait ini saya dapatkan dari pengantar Abdurrahman Wahid dalam buku Mohammad Sobary: Kang Sejo Melihat Tuhan. Gus Dur menyatakan bahwa Sobary adalah peneliti ilmiah dari pendekatan antropogis, tetapi juga pengamat “non-disipliner”. Sobary berangkat dari kesadaran akan masalah-masalah kemanusiaan yang dihadapi masyarakat. Kesadaran itu dapat saja muncul dalam berbagai wujud keterlibatan. Sobary sering merasakan diri terlibat dalam pergulatan orang kecil untuk memahami kehidupan dari etika tertentu.

Selanjutnya dialog antara Sobary dan kemapanan hidup beragama itu menyembulkan sesuatu yang sangat menarik: vitalitas kehidupan yang sudah melampaui batas-batas konvensionalitas agama itu sendiri. Seolah-olah Sobary menyimpulkan, bahwa agama adalah alat menuju kepada Tuhan, bukan tujuan hidup itu sendiri.

Gus Dur dalam pengantarnya tentang ‘pengamat yang terlibat’ itu mencontohkan beberapa orang lain a.l.: dua reporter BBC; Alistair Cook yang biasa mengupas berbagai hal yang bersangkut-paut dengan kehidupan di Amerika Serikat, Mark Tully dengan laporannya yang bagai menyatu dengan kehidupan masyarakat di India; lalu Frank Moraes dengan buku Report from China-nya pada tahun lima puluhan atau karya mutakhir V.S. Naipaul, India: A Country of A Million Mutinies.

Alistair Cook melaporkan mulai dari soal-soal politik kenegaraan hingga soal-soal kecil seperti kebiasaan makan daging ayam kalkun di hari besar Thanksgiving Day. Yang menarik adalah pendekatan simpatik yang digunakan Cook, seorang warga negara Inggris, terhadap kehidupan di negeri Paman Sam itu. Pendekatan itu membuatnya mampu menangkap nuansa kehidupan yang tidak terjangkau para pengamat lain.

Mark Tully melalui laporan-laporannya dari India memperlihatkan bagaimana ia telah menyatu dengan negeri besar anak benua Asia di Selatan itu. Namun, semuanya itu dilakukan tanpa kehilangan obyektivitas, karena ia memang menjaga jarak dari masalah-masalah yang diamatinya.

Buah hasil dari pendekatan Cook dan Tully itu sama: kemampuan membedah sasaran pengamatan, tanpa membunuhnya. Begitu pula kiranya Moraes atau Naipaul. Kunci dari pendekatan simpatik itu adalah rasa keterlibatan yang dimiliki para pengamat tersebut. Cook dua puluh lima tahun berada di Amerika Serikat. Tully mungkin sama lamanya tinggal di India. Dan Naipaul berkeliling kian-kemari mengamati sasarannya dari waktu ke waktu.

Tradisi pengamatan seperti ini sebenarnya juga sudah dimiliki para antropolog yang meneliti masyarakat-masyarakat yang ada, termasuk Clifford Geertz tentang “agama orang Jawa”. Atau Mitsuo Nakamura dengan gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Dan Martin van Bruynessen dengan sasaran pengamatan kaum tarekat sufi.

Terlibatlah, tapi Juga Mengamati

Adakalanya, sebenarnya mungkin tidak terlalu berdosalah sekali waktu kita mencoba menjadi semacam ‘orientalis’ bagi diri lingkungan  kita sendiri.  Setahu saya,  istilah ‘orientalis’ adalah diperuntukkan bagi ahli-ahli dari Barat yang mengkaji atau melakukan studi atas kekayaan budaya ‘Timur’ (Islam dan Asia?). Semacam itulah. Koreksilah bila saya salah. …

Maksud saya, kita mencoba mengkaji budaya-budaya di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, bahkan tempat kita lahir dan besar; dengan menggunakan ‘kacamata yang lain’ daripada yang biasa kita gunakan sehari-hari. Dengan begitu, budaya yang kita miliki sendiri ini bukan hanya menjadi obyek bahan kajian bagi orang luar, namun mari kita sendiri menjadi subyek penyuguh yang bangga. Orang Barat atau orang dari luar mungkin akan menyebut hasil kajiannya itu dengan “Indonesian Studies”, “Islamic Studies”, atau “Javanese Studies”. Namun, marilah kita bayangkan sesuatu yang sama sekali berkebalikan dari itu; kita menjadi subyek pengkaji diri kita sendiri. Akan terbit bunga rampai raksasa berjudul “Indonesian Javanese Moslems: Ourselves Studies”. Kita bercerita tentang diri kita dengan cara kita dan atas nama diri kita sendiri. Inilah kami !

Lalu, bagaimana pula saran Anda?

-o0o-


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wah, blog unik. penuh history. jadi inget pelajaran sejarah waktu sekolah dulu.

Kang Nur:😆

Komentar oleh fatamorgana




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: