The Nurdayat Foundation


RIWAYAT MATARAM ISLAM-‘KEJAWEN’ SEJAK DARI DEMAK
Selasa, 21 Oktober 2008, 2:30 pm
Filed under: Sejarah | Tag: , ,

Leluhur: Orang-orang dari Sela

Dikutip oleh HJ de Graaf<!–[if !supportFootnotes]–>[a]<!–[endif]–> bahwa Jan Pieterzoon Coen menguraikan bahwa kakek buyut Raja Mataram ketika itu (=Sultan Agung Hanyakrakusuma) –yaitu Ki Gede / Ki Ageng Pemanahan- adalah “seorang rakyat biasa dari Desa Mataram… seorang pembawa sirih Raja Paty -yang- karena keberaniannya dalam penggunaan senjata dan akal, mengalami nasib mujur sehingga bisa meloncat dari kedudukan yang rendah dalam masyarakat menjadi orang yang berkuasa atas rakyat banyak dan kerajaan….”<!–[if !supportFootnotes]–>[b]<!–[endif]–>

Ki Ageng Pemanahan adalah ayahanda Panembahan Senapati, pendiri kerajaan di Yogyakarta (Kotagede), wafat tahun 1584 M. Ia adalah salah satu dari ‘Tiga Tokoh dari Sela’, orang-orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya / Mas Karebet / Jaka Tingkir di istana Pajang. ‘Tiga Tokoh dari Sela’ tersebut yaitu:

  1. Ki Gede Pemanahan, putra dari Ngenis (Ki Ageng Ngenis), menikahi sepupunya, putri dari bibinya Nyai Gede Saba.
  2. Ki Juru Martani, adalah putra dari Nyai Gede Saba. Jadi Ki Juru Martani adalah sepupu sekaligus saudara ipar Ki Gede Pemanahan.
  3. Ki Panjawi, seorang keluarga sederajat, juga putra angkat Ki Ageng Ngenis. Ia diperlakukan sebagai kakak oleh Pemanahan maupun Juru Martani. Kelak saat Panembahan Senapati awal membangun Mataram, ia menjadi Adipati Pati, dan akan berputra Adipati Pragola (I).

Serat Kandha menyebutkan bahwa Ki Ageng Ngenis dengan seluruh keluarganya mendapat pekerjaan pada raja Pajang (Sultan Hadiwijaya) yang begitu senang padanya, sehingga ia diberi tanah Laweyan (di Surakarta, ada hingga kini) sebagai hadiah. Ki Ageng Ngenis meninggal di sana. Setelah meninggalnya, Ki Pemanahan dan Ki Panjawi menjadi lurah para prajurit tamtama Pajang.

Ki Ageng Ngenis, kakek Panembahan Senapati (=Danang-Sutawijaya) adalah berasal dari Sela, karena ia adalah putra Ki Ageng Sela. Jadi, Ki Ageng Sela adalah kakek buyut Panembahan Senapati. Nama-nama Ki Gede (=Ki Ageng) adalah menunjukkan bahwa ia adalah pembesar dari wilayah tersebut. Namun perlu diketahui, bahwa Sela yang disebut di sini bukanlah wilayah Sela yang terletak di antara gunung Merapi dan Merbabu, melainkan Sela yang ada di wilayah Grobogan. Ki Ageng Sela kakek buyut dari Panembahan Senapati inilah yang diceritakan dalam cerita legenda turun-temurun memiliki kesaktian mampu menangkap petir itu. Saya masih ingat sedikit di masa kecil orang tua-tua cerita bahwa kami sebagai orang Mataram bila saat petir menyambar dapat menyahutnya dengan bilang, “Gandrik! Putune Ki Ageng Sela!” (Astaga! (Saya) cucu Ki Ageng Sela!). Dengan begitu, petir akan menghindar.

Tiga Tokoh dari Sela

Ki Gede Pemanahan, putra Ngenis, diberi nama sesuai dengan daerah yang dikuasakan kepadanya oleh raja Pajang. Daerah itu masih dapat ditemukan kini, yaitu Manahan, suatu daerah di sebelah barat Solo. Di sana juga terdapat pemandian Ki Gede. Nama sebenarnya Ki Gede Pemanahan tidak disebutkan dalam Babad Tanah Djawi. Dari Sadjarah Dalem (Padmasoesastra, 1912) juga dari Van der Horst (1707) kita dapat mengenal sebuah nama kecil: Bagus Kacung.

Fungsi militer Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi dengan demikian tidak perlu menimbulkan keheranan dalam suatu masyarakat seperti di Jawa ketika itu. Sedangkan tugas khusus yang terletak di atas pundak Ki Juru Martani, ialah seperti yang biasanya diceritakan oleh dongeng tradisional, yakni sebagai penasehat yang bijaksana. Mungkin peranan ini tetap dimainkan Ki Juru Martani sampai ia meninggal (kira-kira pada tahun 1613 M, Kraton Mataram di Kotagede berdiri pada th. 1577 M).

Ikatan para tokoh dari Sela tersebut dengan Pajang menjadi lebih erat dengan diangkatnya putra Ki Gede Pemanahan Raden Bagus Srubut, yaitu Senapati di kemudian hari, sebagai anak oleh Raja (=Sultan Hadiwijaya). Maksud Raja dengan demikian ialah untuk menggunakannya sebagai lanjaran, sehingga kelak ia sendiri juga akan mempunyai anak laki-laki.

Raja (Sultan Hadiwijaya) mengangkat Raden Bagus Srubut menjadi Raden Mas Danang (Sutawijaya). Danang atau danar adalah berarti kuning muda yang indah. Raja juga menghadiahkan kepadanya sebuah payung kuning keemasan. Begitu sempurnanya pendidikan yang diperolehnya dalam masalah-masalah militer dan kenegaraan sehingga ayahnya sendiri memanggilnya “Gusti”.

Beberapa waktu kemudian Raja mendapatkan seorang putra laki-laki, Pangeran Benawa.

Setelah dewasa, Raden Bagus Srubut = Raden Mas Danang ini barulah diangkat sebagai Ngabehi dengan gelar Raden Ngabehi Sutawijaya, yang mempunyai hubungan dengan nama raja sendiri: Hadiwijaya. Suta berarti putra. Karena ia mendiami dalem (=rumah) di sebelah utara (=lor) pasar, ia juga dinamakan Ngabehi Loring Pasar. Menurut Babad Tanah Djawi, ia bahkan menjadi pemimpin para tamtama.

Demak Sepeninggal Sultan Trenggana

Raden Patah, pendiri Demak berputra-putri beberapa orang, yaitu: 1. Pati Unus = Pangeran Sabrang Lor, meninggal saat muda ketika masih belum mempunyai anak pada tahun 1521 M. 2. Pangeran Sekar Seda Lepen berputra Aria Penangsang (=Adipati Jipang di Bojonegoro) 3. Sultan Trenggana berputra Sunan Prawata 4. Ratu Kalinyamat di Jepara. 5. Seorang putri yang dinikahi Karebet/Jaka Tingkir/Hadiwijaya. 6. Pangeran Timur, selanjutnya nanti ia akan menjadi Panembahan di Madiun.

Sepeninggal Raden Patah, karena putra sulungnya meninggal dalam usia muda itu, ternyata bukan urutan putra berikutnyalah yang menggantikannya, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen. Yang menggantikan Raden Patah memimpin Demak adalah ia yang nanti disebut sebagai Sultan Trenggana. Pada masa Sultan Trenggana ini Demak mencapai kejayaannya, antara lain sampai menyerang Pelabuhan Sunda Kelapa untuk mengusir Portugis. Sultan Trenggana memimpin Demak hingga ia terbunuh (?) di depan benteng Panarukan (perang dengan Blambangan?) pada tahun 1546 M (Babad Tanah Djawi menyebutkan Sultan Tranggana meninggal di tempat tidur).

Pinto, orang Portugis, memberitakan bahwa dengan meninggalnya Sultan Trenggana, timbul kekacauan yang sangat besar di kerajaan Jawa Demak ini, sehingga Pinto tidak lagi merasa dirinya aman, lalu meninggalkan pulau Jawa yang indah ini. Pinto khawatir bahwa keadaan demikian akan berlangsung terlalu lama sebelum menjadi tenang kembali. Dan ketakutannya ini memang beralasan.

Jaka Tingkir sebagai menantu Sultan Trenggana memperoleh tanah di Pajang. Dalam kepemimpinannya daerah ini menjadi semakin luas dan sejahtera. Menerima kabar bahwa mertuanya, Sultan Trenggana, sakit keras; Jaka Tingkir bergegas pergi ke Demak. Tetapi kunjungan ini ternyata tidak lagi dapat membantu raja yang sakit keras itu. Sultan Trenggana meninggal tidak lama kemudian, dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Demak. (Serat Kandha)

Pewaris Trenggana yang sah, Pangeran Aria (=yang nanti disebut sebagai Sunan Prawata), dikatakan tidak mau naik tahta; dan dengan sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan yang keramat di Prawata. Dalam hal ini, tentang kepewarisan tahta kepemimpinan Demak, terlihat ada dua orang yang telah dilalui atau dilewati begitu saja. Ini memang mengherankan. Mereka yang dilewati itu adalah Pangeran Sekar Seda Lepen dan putranya, Aria Penangsang. Ini tentu menimbulkan penasaran bagi Aria Penangsang, orang yang merasa hak-nya telah dilangkahi. Kejengkelannya bertambah besar saat ia mengetahui bahwasanya sebelum Pangeran/Sunan Prawata menjadi susuhunan yang keramat, Pangeran Prawata ternyata telah menyuruh pesuruhnya Surayata membunuh ayah Penangsang, Pangeran Seda Lepen.

Maka, mudah dimengerti bahwa sejak itu Penangsang menggunakan jalan apa pun, bukan hanya untuk membalas dendam, tetapi juga untuk merebut kekuasaan. Karena itu, Penangsang berusaha agar semua keturunan dan kerabat Sultan Trenggana yang bisa menuntut hak untuk turut memimpin negara dihancurkan, terutama yang berkerabat paling dekat. Dalam hal ini ialah putra-putra dan menantu-menantu Sultan Trenggana, yakni Pangeran/Sunan Prawata yang tinggal di Demak atau sekitar itu; Pangeran Kalinyamat, suami Ratu Kalinyamat di Jepara; akhirnya Jaka Tingkir, raja Pajang. Percobaan-percobaan pembunuhan atas diri mereka dilakukan memang berdasar urutan itu. Semuanya berhasil kecuali terhadap Jaka Tingkir. Justru puncak peperangan Aria Penangsang dengan pasukan Jaka Tingkir-lah yang nanti membawanya kepada kekalahan, bahkan kematiannya.

Peperangan Melawan Jipang

Setelah gagalnya percobaan pembunuhan terhadap Raja Pajang Hadiwijaya oleh Aria Penangsang, keadaan menjadi tidak menentu. Diceritakan bahwa yang dikirim oleh Aria Penangsang untuk membunuh Hadiwijaya di Pajang adalah empat orang penjaga keputren. Hadiwijaya sedang tidur berselimut dodot (kain batik yang biasa dikenakan untuk pakaian bagian bawah). Para pengawal keputren itu mencoba menikam Hadiwijaya, tetapi sia-sia. Bahkan dodot-nya pun ternyata kebal. Hadiwijaya tidak saja memberi ampun kepada calon-calon pembunuh itu, tetapi juga memberi uang dan pakaian. Mereka pulang dan menyampaikan laporan kepada gustinya, Penangsang.

Hadiwijaya berkunjung kepada Ratu Kalinyamat di Jepara yang bertapa berkabung atas kematian suaminya. Hadiwijaya mendapat kesan yang lebih baik karena terharu melihat penderitaan Ratu Kalinyamat, dan berjanji akan segera menolongnya.

Pulang melapornya dan gagalnya keempat penjaga keputren itu membuat Aria Penangsang khawatir. Ia meminta nasehat Sunan Kudus. Ia memohon agar Sunan Kudus memanggil Raja Pajang itu. Setelah pertemuan tegang yang terjadi, keduanya kembali ke pesanggrahan masing-masing. Penangsang di sebelah timur dan Hadiwijaya di sebelah barat Bengawan Sore.

Hadiwijaya berjanji akan menghadiahkan tanah Mataram dan tanah Pati kepada barangsiapa yang dapat mengalahkan Penangsang. Tidak ada seorang pun yang berani, kecuali Pemanahan dan Penjawi. Esok harinya Ketiga Tokoh dari Sela itu mengumumkan akan menyerang Aria Penangsang. Mereka hanya memohon ijin untuk membawa serta putra angkat raja, Sutawijaya. Maka berangkatlah keempat orang Sela itu dengan 300 orang pengikut ke tepi barat Bengawan Sore. Mereka menangkap seorang penyabit rumput pemelihara kuda dari Jipang, melukai sebelah telinganya dan menggantungkan surat tantangan di sebelah telinganya lagi.

Kedatangan pekathik (pemelihara kuda) yang teraniaya beserta surat penghinaan itu benar-benar menimbulkan kemarahan luar biasa bagi Aria Penangsang. Karena marahnya, tangannya yang sedang mengepal nasi memukul piringnya sampai pecah.

Penangsang lari ke atas kudanya, melecutnya keras-keras. Setelah mengeluarkan kata-kata ejekan dan tantangan, Raja Jipang itu menyeberangi kali. Terjadilah pertempuran sengit. Yang termuda dari keempat orang Sela itu, Sutawijaya, berhasil melukai perut Aria Penangsang dengan tombak Kiai Plered. Ki Juru Martani dengan cerdiknya melepaskan seekor kuda betina, sehingga Gagak Rimang kuda jantan Aria Penangsang menjadi liar. Luka perut Aria Penangsang terbuka, isi perutnya keluar sehingga membawa kematiannya di tahun 1558 M itu.

-o0o-

(bersambung)

Lihat artikel/posting terkait di situs/blog berikut:

Kerajaan Mataram Islam

Mataram Islam

Islam di Mataram

Kerajaan Mataram: modul

Sejarah Ringkas Kerajaan Mataram Islam

Sejarah Indonesia Modern by M.C. Ricklefs, p. 97

Kabut Membara di Lereng Merapi : sebuah cerita roman sejarah yang akan terbit.

Membaca Mitos Aryo Jipang google search eyword :” sejarah pajang” sampai hal.4

Orisinil ditulis lagi oleh Kang Nur berdasar sumber rujukan:

Dr. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati, Penerbit PT Grafiti Pers, Jakarta, 1985.

Judul asli: De Regering van Panembahan Senapati Ingalaga, KITLV, Leiden, 1954.

<!–[if !supportEndnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[a]<!–[endif]–> Hermanus Johannes de Graaf lahir di Rotterdam pada 2 Desember 1899. Meraih gelar sarjana sejarah dari Universitas Leiden, ia lalu memutuskan bekerja di Indonesia. Ketika bertugas di Batavia, 1927-1930, ia juga memanfaatkan waktunya untuk belajar bahasa dan kebudayaan Jawa pada Purbatjaraka. Lima tahun kemudian, De Graaf mempertahankan disertasinya, De Moord op Kapitein Francois Tack, 8 Februari 1686, di universitas yang sama. Sesudah itu ia kembali ke Indonesia sebagai guru sejarah di Surakarta sampai ia diinternir Jepang dalam Perang Dunia II. Usai Perang ia mengajar pada Universitas Indonesia sampai 1950.

<!–[if !supportFootnotes]–>[b]<!–[endif]–> Coen, Vertoogh: – Coen, Jaan Pieterzoon, Vertoogh van den staat der Vereenigghde Nederlanden in… O-Indien. Utrecht, 1355.

UNTUK MELIHAT TULISAN-TULISAN TTG JAKA TINGKIR:

Sejarah Jaka Tingkir -Karebet

Jaka Tingkir: Jalan (Kurang) Berliku Menjemput Wahyu


27 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Salut dengan cerita sejarahnya. Menarik sekali.

Kang Nur:
Trima kasih. Saya sekedar mencoba meringkas menyusun ulang dari sebuah buku kajian sejarah saja. Syukur kalo pembaca mendapat manfaat dari ini. Skaligus juga utk memenuhi rasa ingin tahu saya sendiri. Smakin saya ingin tahu dan mncoba belajar mngkaji dr bbrp sumber, smoga pembaca lain dapat memberikan tambahan ttg yg sebenarnya ttg yg saya sampaikan ini.🙂

Komentar oleh kellyamareta

makasih atas kunjungannya ya, Sejarah emang banyak sekali asyiknya karena semakin banyak yang membicarakan dan membahas dan menulis maka semakin banyak pula hal-hal yang berbeda, dan inilah yang diharapkan sehingga dengan saling melengkapi dan terjadilah pendapat yang terbaru dan kemungkinan terdapat sejarah baru karena dukungan sumber-sumber baru.
Mari kita bersama diskusi dan menciptakan cerita sejarah yang berbobot. Thanks

Kang Nur:
Sbg orang awam saya ber-hati2 agar yg saya tulis tidak salah dan menyesatkan, tentulah orang2 yg berprofesi sbg pendidik harus lebih ber-hati2 lagi krn akan menjadi acuan bagi anak didiknya. Ttg Panembahan Senapati (pendiri Mataram) tidak ada satu pun bahan sejak saat itu juga hingga kini yg menyebutkan bahwa beliau adalah keturunan langsung Sultan Trenggana dr Demak. Itu sudah jelas sekali. Panembahan Senapati bukan keturunan Trenggana. Trenggana bermenantukan Karebet/Jaka Tingkir/Hadiwijaya. Hadiwijaya ini mengangkat Sutawijaya (selanjutnya disebut P. Senapati) sbg anaknya. Itulah jalur yg senyatanya.
Barulah di kemudian hari saat menaklukkan Madiun, P. Senapati memperistri Retna Dumilah. Retna Dumilah adalah cucu Trenggana. Perkawinan P. Senapati dg Retna Dumilah ini mengangkat kedudukan P. Senapati kpd tempat yg lebih terhormat dlm jalur keturunan.

Komentar oleh Yoyok Putra Muria

kata bapak, saya masih keturunan mas karebet…

–nice writing—

Kang Nur:
Tentu saja bukan mustahil bila Bangpay memang adalah keturunan Mas Karebet🙂
namun, sayangnya memang Karebet/Hadiwijaya berperan tidak terlalu lama dan juga tidak dominan lagi keturunannya dalam masa2 selanjutnya🙂 krn telah diambil alih oleh keturunan Pemanahan/Senapati

Komentar oleh bangpay

Wah… anda seorang sejarahwan sejati nih….

Kang Nur:
saya bukan sejarawan🙂 saya hanya orang awam yg punya minat utk meng-kaji2 sejarah
justru krn keawaman saya itu, saya akan ber-hati2, agar tidak menulis hal yg salah🙂

Komentar oleh indra1082

Jatuhnya Demak menurut saya melemahkan Nusantara secara keseluruhan. Mengapa? Karena Pajang maupun Mataram “tidak tertarik” mengembangkan kekuatan maritim. Itu menyebabkan hanya Makasar dan Aceh Darussalam sahaja yang bertarung melawan VOC di laut. Itu memudahkan VOC menjajah seluruh Nusantara karena baik Makasar maupun Aceh Darussalam tidak memiliki SDM semumpuni Mataram yang ironisnya terkunci di daratan “djawa dwipa”…

Kang Nur:
“Jatuh”-nya Demak saya kira adalah karena perebutan kekuasaan di antara cucu2 Raden Patah itu. Terutama krn Aria Penangsang lalu melakukan pembunuhan2 politik (demikian paling tidak menurut Babad Tanah Djawi), meski ia juga sesungguhnya utk membalaskan dendam. Namun, sepertinya, sebelumnya memang tampaknya Demak yg kuat di maritim itu juga sesungguhnya kekuasaannya kurang menjangkau daerah2 daratan di lain2 tempat. Jipang di bawah Penangsang tampaknya juga cukup otonom sejak sebelum terjadi peperangan.
Jepara sendiri di bawah Ratu Kalinyamat – Pangeran Hadiri juga cukup mandiri sejak Trenggana. Tampaknya Demak tidak melakukan sentralisasi.
Mataram melakukan sentralisasi dan memprioritaskan bidang agraris terutama dg komoditi padi-nya. Padi/beras Mataram juga diekspor sampai ke Malaka. Memang benar maka bila dikatakan bahwa pengembangan maritim di bawah Mataram tidak sebagus di jaman Demak.
Selain Makasar dan Aceh, sesungguhnya masih ada pula Banten.

Komentar oleh TENGKU PUTEH

Sangat menarik Mas Nur. Bertambah pemahaman saya ketika membaca ulasan ini.

Kang Nur:
Trima kasih Bang Rafki. Sbg orang awam anak desa yg lahir di lingkungan budaya Mataram, saya sekedar ingin mem-verifikasi sejarah leluhur lokal di sini. Bila setiap anak bangsa Indonesia memahami sejarah etnis suku bangsa-nya, saya kira itu juga dapat menambah kekayaan wawasan kebangsaan kita sbg bangsa Indonesia scr keseluruhan. Kita juga musti mau melakukan otokritik atas leluhur2 kita.🙂

Komentar oleh Rafki RS

Dasar orang Jawa, penuh intrik dan kelicikan politik😆

Kang Nur:
Ya. Saya kira periode ini memang termasuk yg kelam dlm sejarah orang Jawa. ;( Meski selanjutnya yg kelam2 juga masih ada lagi.😦

Komentar oleh bootdir

Saya terkesan dg kepedulian KIang Nur terhadap sejarah & kebud. Jawa, boleh tau ltr belakang kepedulian ini Kang? O iya saya sampai skrg mencari bhn bacaan ttg Babad Madiun…. apa Kang Nur bisa bantu saya, selamat terus berkarya ya kang

Kang Nur:
Ibu saya asli Sleman, Bapak saya asal Kulonprogo, saya tinggal di sebuah desa di pinggiran Yogyakarta. Meski tumbuh di lingkungan budaya Jawa, saya melihat ada nilai2 yg luhur namun telah banyak ditinggalkan dan kurang dihidup-hidupkan oleh generasi sekarang.
Yogyakarta bukanlah kota besar, namun dalam sejarah perkembangan bangsa kita, telah banyak pemikiran yang muncul berkembang dan digodog berpusat di kota ini dan meng-inspirasi maujud dalam gerakan-gerakan sosial yang berperan berarti dalam perkembangan bangsa kita.
Nation-character building perlu berpijak kuat kepada pemahaman sejarah dan akar kebudayaan kita sendiri. Jangan sampai generasi mendatang kita menjadi generasi yang kehilangan identitas, tidak mampu mengenal jati-dirinya yg sebenarnya.
Juga menjadi harapan saya bbrp tulisan yg termuat di sini menjadi ajang saling mengenal dan mencintai di antara sesama anak bangsa, anggota dari bangsa kita yg besar, bangsa Indonesia.

Saya tidak punya banyak literatur, bbrp hanya mengambil dr majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang. Kalau Babad Madiun itu sebatas cerita terkait Panembahan Senapati – Retno Dumilah; semoga nanti mampu saya dapatkan. Selebihnya saya tidak punya.
Terima kasih atas kunjungan dan perhatiannya.

Komentar oleh dita

Ceritanya menamabah wawasan..klo ga salah aria penangsang jg dimakamkan di komplek masjid agung demak kan?klo mba bisa bntu,siapa aja sh yg dimakamkan dimasjid agung demak?apakah ada tokoh bernama sutopo yang dimakamkan disana.

Komentar oleh Richo

Lupa ningglin pesen nh kang,semisal kang nur tahu tentang tokoh sutopo dimakamkan di demak atau tidak bisa hubungin saya di 085883347610

Komentar oleh Richo

senang bisa mampir blog yang mengulas sejarah.. dimana banyak generasi sekarang yang lupa atau melupakan sejarah.

@Richo.. sutopo itu siapa ya.. dari blog sebelah anda menanyakan nama yang sama.. jadi penasaran nih.

Komentar oleh muntaha ihsan

@ihsan..di blog sebelah saya sudah menjelaskan siapa sutopo.karena tidak ada info tentang tokoh sutopo di internet akhirny saya ke demak.disana saya menemukan makam beliau melalui petunjuk hati saja,walupun di batu nisan beliau tidak ada namanya saya yakin itu makamny.setelah pulang dari demak saya bertemu dengan orang asaL pekalongan di dekat rumah saya bernama mas yanto,saya menunjukan hasil foto makam yg saya anggap makam sutopo kepada orang itu ternyata orang itu tahu sedikit tentang tokoh sutopo.

Komentar oleh Richo

@ihsan..lanjutan yang di atas.menurut cerita mas yanto sutopo ini adalah keturunan ninggrat bernama raden sutopo yg hidup tahun 1600an(kurang jelas pastiny),mas yanto juga mengatakan kalau saya tidak salah makam,makam yang saya kunjungi benar makam dari raden sutopo.saya masih mencari info lengkap tentang beliau,mungkin mas ihsan dapat membantu saya karena setelah saya liat tulisan mas,mas menulis tentang sejarah kesultanan demak.mungkin mas tnggal d demak ya?saya sangat berterima kasih klo mas dpt membantu

Komentar oleh Richo

salam saudara pengarang..
saya ini masih baru,,
tapi kepingin sekali membaca naskhah tentang leluhur orang dari sela..
saya ini melayu malysia..tapi teruja mengenali sejara indonesia,,kerna bagi sya karya disana puitis sekali..izinkan saya berkongsi sama teman disana

Komentar oleh nur halida

20th Teater Jubah Macan mempersembakan
Pagelaran kolosal “Opera Sutawijaya”
Skenario : B.W Purbanegara
Sutradara : Bagus Suitrawan

pukul 19.00- selesai
9 dan 10 April 2010. Konsert Hall TBY Yogyakarta.

Komentar oleh Bob Maulana Singadikrama

cuma sekedar ikut nimbrung dan bertanya…
dilihat dari silsilah keturunan kerajaan mataram itu berasal dari keluarga petani kan…?jaman doeloe “ki ageng” itu julukan untuk golongan petani kan? maka dari itu untuk melegitimasi kekuasaannya, mereka membuat silsilah sendiri yang dikaitkan dengan brawijaya 5. tapi yang lebih aneh lagi, makin keatas silsilahnya masak mereka masih keturunan wayang…(silsilahnya lucu). pernah baca tentang silsilah mataram gak kang?

Komentar oleh murrung

kata NYA saya keturunan ke tujuh, dari sutawijaya

Komentar oleh budisukmara

gerangan siapa yang waskita tentang semua ini..?
tolong semua yang berkompeten di mata rantai ini, segera merapat
segera merapat
segera merapat
negeri ini harus segera di selamatkan..!!!!!!!

Komentar oleh budisukmara

mungkin ada 1 lagi tokoh selo yg terlupakan, yaitu : Ki ageng Giring.

Komentar oleh widodogb

Sangat bersyukur, ada priyayi yang masih mau nguri-uri sejarah. Saya termasuk generasi yg sangat mencintai hal itu. Tak banyak koq orang seusia dg saya, sama-sama orang jawa( Jogya-Solo dsk ), tapi sdh tak mengerti sama sekali tradisi, budaya, dan unggah ungguh jawa. Menurut Bapkku, aku ini masih Trah Pajang, entah yg ke berapa. Aku juga pernah napak tilas, mencari tempat/makam para leluluhurku. Sampai hari ini aku masih penasaran, karena belum semua bisa kutemukan. Aku senang sekali jnika melalui media ini ada yg bisa bantu beri info ke aku. Saya ingat benar nama nama trah Pajang yg menurunkan aku. Benar atau salahnya aku gak ngerti. Tetapi aneh, aku sangat bangga, dan entah karena apa, saya selalu terdorong, termotivasi untuk mempelajari dan mengetahuinya. Nama-nama leluluhur yg aku kenal adalah : Sultan Hadiwijaya, Pengeran Benowo, BRA. Jungut, R. potro Nonggo, Kyai Bardani, Rono Pawiro, Pawiro Dikoro, Pawiro Mujono, Pringgohadiwarsito(ayahku, sampai sekarang masih sehat )trus saya ( Albertus Nurhadi Purwaka). Dari semua itu, saya belum bisa menemukan dan belum mendapat info, di mana BRA. Jungut, Kyai Bardani, Potro Nonggo dimakamkan. Ada yg tau,…..?

Komentar oleh Nurhadi Purwaka

YS, 061110

Komentar oleh YAYAT S. JAYASANTIKA AD DWANY

Mas, apakah mas punya info siapa Permaisuri dari Pangeran Benawa? Karena tokoh yg 1 ini sangat minim infonya….hanya ada penjelasan ttg ayah-ibunya dan keturunan2nya. Gak diketahui siapa istri/permaisurinya…matur nuwun

Komentar oleh Gatri

salam kenal…

mau belajar ilmu kejawen….?

http://ajianleluhur.wordpress.com/

Komentar oleh saiful hadi

Panembahan Senopati itu jelas-jelas masih keturunan raja2 Majapahit lewat jalur Ayahnya Ki Ageng Pemanahan, dan dilain pihak juga keturunan Rasulullah lewat jalur ibunya hingga ke sunan giri. Apabila ada sekelompok masyarakat yg mengatakan bahwa leluhur dari dinasti mataram islam adalah orang biasa alias bukan trah ningrat maka sekelompok masyarakat tsb iri hati dan dendam kpd trah mataram, sehingga mereka menjelek-jelekannya, padahal saya yakin-seyakinnya bahwa leluhur dari Panembahan Senopati adalah trah ningrat majapahit dan juga para wali songo!!! karena apa..? karena saya adalah salah seorang keturunan dari trah mataram!! dan leluhur saya mustahil membohongi catatan nasab! apa untungnya membohongi catatan nasab keturunan? itu tdk boleh ! jadi kesimpulannya bahwa trah mataram islam adalah sebaik-baiknya manusia yg berasal dari ras-ras unggul di muka bumi ini!!

Komentar oleh Ningrat boy

.

Komentar oleh Panembahan Mataram

Panembahan Senopati Si Danang Sutawijaya aANAK SELINGKUHAN Hadiwijaya Djaka Tingkir sama istrinya Ki AAgeng Pemanahan???????? bener nggak sih

Komentar oleh Panembahan Mataram

apakah jaka tingkir memiliki anjing peliharaan?

Komentar oleh Irfai Bachtiar




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: