The Nurdayat Foundation


Nilai Ilmiah Riwayat Sejarah di Jawa Dari Abad Ke Abad dan Sindrom Masa Lalu
Senin, 3 November 2008, 4:47 am
Filed under: Filsafat Sejarah, Sejarah | Tag: ,

Setelah beberapa minggu saja saya membolak-balik halaman beberapa buku sejarah dan searching artikel sejarah di internet, menerjuni suatu minat yang semoga bukan sesaat, saya membuktikan sesuatu: Bangsa kita memang sangat gemar cerita-cerita legenda, mitos, takhayul. Catatan-catatan sejarah hasil karya bangsa kita sendiri, misalnya di Jawa yaitu biasa disebut Babad, banyak sekali dibumbui dengan legenda, mitos dan pemitosan serta dongeng-dongeng kurang masuk akal. Ketika bahan-bahan yang saya kaji sementara ini adalah untuk mencari info tentang abad 16 dan 17 Masehi, maka dapat saya simpulkan bahwa hingga abad-abad itu bahkan sesudahnya, bangsa kita belum memiliki kebiasaan keilmuan yang baik. Peristiwa-peristiwa sejarah tidak dicatat dengan baik, namun hanya dibiarkan saja dalam cerita tutur yang berkembang di masyarakat, yang selanjutnya cerita-cerita itu dibesar-besarkan, ditambah-tambahi dan dibumbui dengan dongeng-dongeng yang mereka sukai.

Alur proses kejadian peristiwa sejarah serta karakter tokoh-tokohnya bukan mustahil mereka buat-buat mengikuti selera dan kecenderungan simpati dukungan mereka terhadap pihak masing-masing tokoh itu. Penyelewengan riwayat sejarah itu bukan (hanya) dilakukan oleh otoritas politik yang berkuasa, namun menggelikan juga bila didapati itu diseleweng-selewengkan oleh rakyat jelata sendiri berdasarkan kecenderungan pemihakan politik mereka atas pihak-pihak tokoh pemimpin yang mereka dukung (dalam keterpaksaan) itu. Dengan demikian, misalkan cerita rakyat di lingkungan wilayah Kediri, Mojokerto, tentang suatu peristiwa sejarah tertentu, bukan mustahil bertolang belakang dengan cerita rakyat yang berkembang di wilayah Pasundan untuk satu peristiwa yang sama.

Di samping itu, penulisan Babad tentu dapat kita pahami sebagai sebuah ‘proyek’ yang berada di bawah pembiayaan dan perlindungan suatu otoritas kekuasaan yang memang sedang dominan memegang kekuasaan pada masa itu. Dibutuhkan seorang ahli atau sekelompok orang ahli dengan tingkat kemampuan tertentu untuk mampu menulis riwayat sejarah itu. Karena hanya dengan fasilitas yang diberikan oleh otoritas kekuasaan itulah maka dia/mereka itu dapat menulis; maka yang mereka tulis akhirnya mau tidak mau harus mengikuti versi yang disarankan dan menguntungkan legitimasi otoritas kekuasaan yang sedang membawahi dia/mereka itu.

Dari riwayat perjalanan sejarah Jawa, Ken Arok dari abad 11 M di Jawa Timur adalah salah satu tokoh pertama yang kita jumpai banyak ‘ditempeli’ dengan kisah-kisah dongeng; misalnya dikatakan bahwa ia adalah putra dari Dewa/Bathara Brahma. Kisah itu bisa didapat dari Kitab Pararaton.

Riwayat sejarah dinasti Syailendra di Jawa Tengah dari abad ke-8-9 M, dan dinasti Sanjaya di Jawa Timur dari abad ke 10-12 M; justru tidak terlalu banyak dibumbui dongeng. Mengapa? Karena bahan tertulis yang tertinggal memang sangat sedikit.🙂 Hanya prasasti-prasasti batu.

Abad ke-12 M setelah Airlangga meninggalkan cerita Panji, tapi tentu itu adalah rekaan orang-orang di abad-abad sesudahnya. Dapat kita jumpai karya sastra di masa itu benar-benar karya sastra bermutu, tidak mengacaukan reportase realita yang berjalan dengan fiksi-imajinasi, contohnya kitab Arjuna Wiwaha. Sedangkan riwayat sejarah dapat kita runut. Cerita Calonarang dari masa itu juga kita lihat sebagai cerita realistis.

Sedangkan, dari akhir abad ke-13 hingga abad ke-14 M, Majapahit meninggalkan beberapa riwayat realistis dan alur yang jelas. Juga, kitab seperti Negarakertagama / Kutaramanawa memberikan tinggalan ilmu pengetahuan yang berharga.

Abad ke-15 di Jawa adalah abad gelap keruntuhan Majapahit karena perpecahan-perpecahan dari dalam dirinya sendiri. Tidak ada peninggalan riwayat dari abad ini yang berharga dalam nilai sejarah. Cerita Damarwulan-Menakjingga kiranya muncul pada masa ini. Apakah dongeng cerita Panji (seperti Ande-Ande Lumut dsb) muncul berkembangnya juga di abad ini ?

Masa Demak di abad ke-16 M adalah masa awal mulai kontak dengan orang asing (pertama yaitu Portugis). Riwayat yang bersumber dari orang Portugis mulai dapat dijadikan sumber sejarah. Masa Demak sendiri tidak meninggalkan banyak dongengan; namun peralihan politik pasca-Demak yang disertai dengan pembunuhan-pembunuhan hingga persaingan pengaruh kekuasaan dari banyak pihak dan jalur keturunan menimbulkan lagi “ledakan” munculnya dongeng-dongeng mitos sejarah yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana lautan mitos itu terjadi hingga ‘menenggelamkan’ kita? Dan mengapa itu terjadi? … Dapat kita duga bahwa: … Banyak dari mitos-mitos itu memang sengaja dibuat! Siapa yang sengaja membuatnya? Untuk apa?

Dapat kita katakan bahwa integritas-ke-ilmu-pengetahuan-an pada masa dongeng-dongeng itu muncul, telah tertundukkan oleh hasrat-hasrat kepentingan politis dari beberapa pihak yang bersaing dalam peraihan kekuasaan itu. Para cendekia di masa itu pun mungkin memang telah dengan sadar dan sengaja, tega mengkhianati kebenaran yang sejati. Dan, di sini saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa: Masa-masa pengkhianatan para cendekia itu adalah pada masa-masa peralihan dari pengaruh Hindu-Budha kepada pengaruh Islam.

Abad ke-16 M di Jawa menyajikan hal yang demikian itu. Sehabis masa abad ke-8-9 M Borobudur mencerminkan kemajuan peradaban Budha-Hindu; Majapahit hanya menyajikan kegemilangan peradaban tidak lebih daripada satu abad lamanya di abad 14 M. Setelah itu adalah kegelapan. Sisa-sisa kejayaan Majapahit selalu dengan nuansa romantik ditempelkan dalam riwayat sejarah sejak abad ke-16 M itu. Kerinduan akan kejayaan peradaban masa lalu Hindu-Budhis ini bahkan nyatanya berlanjut hingga hari ini masih menjangkiti banyak orang. Setiap silsilah jalur keturunan tokoh penguasa politik juga dicari-carikan kaitan hubungannya dengan raja-raja terakhir Majapahit. Sebuah riwayat sejarah yang cengeng dan tidak percaya diri. Self-determinisme yang tanggung. Keburu lagi orang asing telah datang merecoki.

Bukankah demikian itu yang terjadi? Benar kan pendapat saya?

-o0o-

Posting Artikel terkait ini:

Pararaton: Tanpa Penulis, Memandu Sejarah

Blog Ki Demang


12 Komentar so far
Tinggalkan komentar

menurut informasi kejayaan islam di akhir zaman akan bermula dari sebelah timur. perkiraannya malaysia dan indonesia. Dan indonesia pernah mengalami puncak kejayaan dengan 3 kerajaan.
Kerajaan hindu, budha dan islam.

saya juga ingin bikin foundation. rencananya Madinatussalam Foundation / Indonesia Madinatussalam Foundation.

apa ya bedanya dengan LSM ?

Kang Nur:
Bahwa Islam akan tetap mewarnai peradaban nusantara saat ini maupun mendatang, saya kira tidak ada seorangpun warga negara dan bangsa ini yg akan dapat memungkirinya. Itulah realita. Masalahnya adalah, Islam yak kayak apa? Seperti apa? Islam moderat lebih dapat diterima.
Ttg arti Foundation yg saya pakai di sini dapat dilihat di halaman Tentang Kami blog ini. Sebenarnya ini ada juga unsur plesetan-nya, jadi tidak 100 % serius. Foundation saya di sini artinya = PONDASI.😆

Komentar oleh Muhammad Rachmat

wadoh,,, hmmm hehee.. saya orang jawa tapi kagak tau hehehe… pengen seh baca serat centini yang katanya di terjemahkan ke dalam bahasa prancis… gilee orang prancis ajah suka kenapa sy gag…

Kang Nur:
anak muda sekarang kebanyakan gitu ya..? kalo saya sih ‘kan memang sudah agak tua, juga wong ndeso..🙂 jadi saya lebih enjoy kalo bisa lebih tahu ttg warisan leluhur..
ttg Surat Centhini, setahu saya itu bikinan abad ke-19 M, jadi belum terlalu tua; berisikan banyak hal sehingga menjadi semacam ‘ensiklopedi Jawa’; jadi ada nilai ilmiahnya cukup tinggi juga memang.

Komentar oleh alid abdul

hmm. sangat menarik memang keajaiban sejarah jawa dengan segala romantisisme nya.. tapi sayang kebanyakan orang tidur saat pelajaran sejarah.. pada males…

Kang Nur:
Agar pelajaran sejarah tidak hanya bikin tidur bagi siswa pendengarnya, saya kira guru jangan hanya memberikan segi kognitif (=hapalan)-nya saja namun juga nilai2 afektif-nya. Krn nilai penting sejarah saya kira memang di situ, utk menumbuhkan karakter kebangsaan, rasa memiliki thd perkembangan bangsa kita di masa lalu, sehingga lebih cinta.🙂

Komentar oleh ardianzzz

aku wong Jowo……hehehhe

Kang Nur:🙂

Komentar oleh indra1082

Sangat maklum kalo pada jaman dulu Penguasa membuat cerita untuk mengamankan posisi mereka..

wong belum lama ini (belum 50 tahun) Penguasa juga begitu hehehe.. pdhl kan dah banyak orang pinter

Kang Nur:
Betul mas TriJokoBs. Masalahnya mmg adalah sampai sejauh mana sebuah sejarah itu memang telah memenuhi syarat ilmiah, sesuai fakta. Lha jadi masuk wilayah epistemologi juga.
Ttg sejarah diselewengkan ato tidak, saya kira bukan masalah ada orang pinter ato tidak; namun adalah masalah integritas moral. Bila orang pinternya berkhianat, maka habislah kebenaran yg sejati. Mungkin betul kata org dulu (entah Aristoteles ato siapa): Bila semua orang menganggap yg salah itu sebagai benar, maka memang yg salah itu akan dianggap benar.
kalo sudah begitu, kebenaran yg senyatanya sesungguhnya tidak pernah kita dapatkan.😦

Komentar oleh trijokobs

Mas Dayat, menurut Anda kejayaan dan nilai2 tradisi jawa apakah akan tetap bertahan di tengah globalisasi dan maraknya pengenalan budaya-budaya agama yang notabene juga bukan asli buatan Indonesia ?

Kang Nur:
Wa.. banyak kerangka acuan yang harus disamakan dulu utk mendasari sambungnya pertanyaan Mas Donny dgn jawaban yg semampu saya akan saya berikan, meski mungkin itu juga baru subyektif saya. Menurut saya, pertanyaan mas Donny yg seberat ini, baru cukup bila dijawab dengan minimal 500 kata. Ya, anggap saja saya memang tidak mampu menjawabnya, mas Donny.🙂 Ini jujur. Daripada saya menjawab salah, lebih baik pertanyaan mas Donny ini saya floor-kan saja kepada para pembaca yg mampu menjawabnya.🙂
Mohon dari pembaca lain utk menjawab pertanyaan mas Donny ini. Monggo. Silakan.

Komentar oleh Donny Verdian

emang dari dulu rakyat tuh sering diglembuki oleh itu para penguasa, diciptakan legenda dan mitos yang begitu mengukuhkan kekuatan penguasa, karya seni adalah alat untuk melanggengkan kekuasaan

ya, jaman orde baru pun seperti pernah kita alami banyak propaganda dan pembodohan dengan menggunakan kesenian untuk melanggengkan kekuasaan,

sayangnya sampai kini pun karya seni lebih banyak yang hanya bertujuan melanggengkan kekayaan..

Kang Nur:
Wa? jadi memang betul begitu ya mas Heru? lalu yg menjadi pertanyaan saya adalah: apakah peran para sejarawan bangsa kita ini masih terlalu lemah ya?
kalau dulu kesenian apa dibiayai pemerintah, tapi juga diberi beban utk jadi “corong”-nya pemerintah apa ya? lalu kini krn pemerintah tak membiayai, seniman perlu membiayai sendiri, lalu prinsip mereka pokoknya kini ‘membela yg bayar’ saja?😆

Komentar oleh grubik

wow..topiknya berat euuy…baca nanti aja yah…🙂

Kang Nur:🙂

Komentar oleh Andre

Kang Nur, dari pertanyaan Mas Donny di atas saya kok malah jadi malah ingin balik bertanya hehehe.

Yang dimaksud dengan nilai-nilai tradisi Jawa itu tradisi yang mana?

Menurut saya tradisi Jawa saat ini adalah hasil dari proses asimilasi dan adaptasi dari “serbuan” agama dan budaya sejak “budaya” Jawa bersentuhan dan berkenalan dengan budaya-budaya tersebut ribuan tahun yang lalu.

Namun karena kemampuan adaptasi dan kelenturan menerima “hal-hal” baru tanpa meninggalkan akar budayanya inilah yang membuat “tradisi” Jawa masih eksis hingga kini. Meskipun di satu sisi kita kesulitan untuk memilah-milah manakah “budaya” asli Jawa dan manakah budaya yang merupakan hasil dari proses asimilasi tersebut.

Pendapat subjektif saya, nilai budaya dan tradisi Jawa yang masih murni adalah rasa tepa slira (tenggang rasa) dan gotong royong. Suatu hal yang masih sangat kental dan bertumbuh kembang di desa.

Kang Nur:
Wa.. menurut saya betul sekali apa yang ditulis mas Wied ini. Terima kasih telah membantu saya utk menjawab pertanyaan mas Donny.🙂 Bila saja punya kemampuan cukup, tentulah saya juga akan menjawab mirip seperti mas Wied ini.😀
Saya kira memang ada bbrp istilah kunci dlm hal ini, a.l.: asimilasi, adaptasi, akulturasi, dsb; lalu juga ‘kelenturan’.
Ada satu hal menarik saya baca dr buku Sejarah Nasional Indonesia II; bahwa masuknya pengaruh India ke Nusantara/Jawa juga mengalami ‘adaptasi’ di sini, yaitu dgn adanya fenomena kepercayaan Syiwa-Budha seperti juga terlihat pd jaman Majapahit, sementara hal itu tak terjadi di tempat asal aslinya sana, India.
Ada bbrp teori muncul terkait masuknya ajaran Hindu dan Budha ke Indonesia di abad2 awal ini, yaitu: teori ksatria, teori waisya, dan teori brahmana. Itu satu hipotesis ttg manakah golongan(=kasta) yg menonjol membawa pengaruh India itu ke Indonesia. Dan selanjutnya ada pua muncul sintesis berupa teori yg dinamakan teori penyuburan.
Selanjutnya, dlm hal agama, maka saya juga mempunyai pendapat, bahwa kepercayaan asli Indonesia adalah animisme-dinamisme.
Wallahu a’lam

Komentar oleh wied

sebenarnya dari abad 11 sampai 15 m jadi kira2 400 tahun Indonesia itu gak ada sejarahnya. Kenapa? Karena memang terjadi pemotongan kalender yang dimulai oleh Paus Pope 13, tahun 1528. Kelender Jawa yang dibuat Mataram menyesuaikan dengan kalender masehi bikinan Paus ke-13 itu. Peninggalan yang ditemukan di Indonesia bukan dari abad 11 – 15 M, mestinya ditempatkan sekitar abad 6 sampai 10 M. Jadi, sejarah kosong atau Dark Ages itu dibikin cerita berdasarkan rereuntuhan yang ditemukan. tentunya ceritanya ngawur karena tujuannya memang membuat linglung. Majapahit juga fiksi sejarah sebagai fondasi masa depan. Coba lihat2 kemungkinan seperti itu, ada yang menyunat sejarah di seluruh dunia. silahkan cari topik “Phantom Time”.

Kang Nur:
Wuahh..??? Itu info baru. tapi saya belum percaya sebelum membacanya sendiri.😆 Akan saya search. 🙂

Komentar oleh ngisah

hitam–>putih–>ungu
ilmu kesucian-ilmu kesempurnaan
nabi adam–nabi ibrahim–nabi muhamad saw
air-api-angin-bumi–>bathin, 4 + 1
matahari-bulan-bintang-langit-mega
sukma sejati akan selalu hidup
sejarah akan terus terulang sampai akhir
hubungan manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam
perubahan global warming;manusia-rumah-pohon-binatang berkaki empat dan burung
jangan mencari orangnya, carilah ilmu nya

Komentar oleh yusron

If with the classic version, you only get
to play the same game over and over again, with Simon 2
game, you get to play more games with more challenges ad game highlights.
This means to sell your mods would be considered the same as pirating the game itself.
Moreover, there you could also play Scrabble in the internet, TV game shows or
game consoles.

Komentar oleh Kristian




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: