The Nurdayat Foundation


Jangan Bangga Memiliki Sejarah Yang Goblog !
Minggu, 9 November 2008, 8:37 am
Filed under: Sejarah | Tag: ,

Abdi Dalem Kraton YogyaApakah Anda mengira bahwa saya sedang membangga-banggakan tinggalan sejarah (kerajaan) Mataram dengan posting-posting saya di blog ini? Begitukah? Karena Anda melihat blog saya ini banyak saya isi dengan tulisan tentang sejarah kerajaan Mataram? Begitukah? … Jangan salah ! Saya tidak akan membangga-banggakan hal-hal yang goblog ! Tinggalan dari para leluhur Mataram yang goblog-konyol dan memalukan serta menjijikkan, tentu saya juga menyadarinya. Ada beberapa kejadian sejarah yang membuktikan bahwa kekuasaan Mataram itu memang goblog. Visinya sempit, bahkan melacurkan diri. Amangkurat I Tegalarum jelas adalah Sunan Bajingan! Amangkurat I adalah Raja Bajingan !

         Saya gemas ketika Sri Sultan HB X pada saat berbicara di depan korban gempa di Bantul dua tahun lalu membawa-bawa nama Kanjeng Sultan Agung dengan aroma kebanggaan. Itu saya lihat di TV, di siaran berita TVRI Yogya. Saat itu Cak Nun (budayawan Emha Ainun Nadjib) juga ikut hadir bersama para korban gempa, mimik wajahnya sukar diterjemahkan. Padahal dari yang saya dengar di Yogya sini, Sri Sultan HB X bukanlah pemimpin yang dibanggakan oleh rakyat dalam hal bagaimana ke-cepat-tanggap-an beliau terhadap penanganan korban gempa. Memang bolehlah Sultan Agung dibanggakan. Namun bila Sri Sultan menyatakan sebagai keturunan Sultan Agung, bukankah itu berarti juga mengakui bahwa beliau adalah juga keturunan Amangkurat I? Juga Amangkurat II? Bukankah itu jalur langsungnya? Apaan yang dapat dibanggakan dari Amangkurat I dan Amangkurat II selain hal-hal yang keji, menjijikkan dan memalukan? 

        Maka dengan memajang posting tentang sejarah Mataram di blog saya ini, bukan berarti saya menganggap bahwa kerajaan Mataram Islam-Kejawen ini adalah unggul, lebih unggul daripada kerajaan-kerajaan lain di Nusantara pada masa lalu. Tidak begitu. Saya tidak menganggap bahwa Mataram berperan paling besar dan paling baik dalam sejarah perkembangan bangsa. Saya tidak pernah menyatakan demikian. Kalau saya memuat posting tentang Mataram, itu hanya karena: hanya itulah yang paling saya tahu dan saya kenal; sekaligus juga saya sadari bahwa itulah sejarah yang paling wajib untuk saya ketahui dan saya kenali dari kerajaan di masa lalu. Saya tidak mungkin mengingkari identitas yang saya peroleh sejak lahir ini. Saya tidak minta dilahirkan di lingkungan budaya Mataram ini. Namun apa hendak dikata bila demikianlah yang saya dapat, sebagai jatah pemberian Tuhan bagi saya dalam hidup di dunia ini?

Saya justru juga merasa pekewuh (=sungkan kurang enak), itulah yang saya rasakan, ketika pada tahun 1999, saat Sri Sultan HB X diberi kesempatan memberikan ceramah pada satu peringatan hari besar Islam (di Istana atau Masjid Istiqlal); Sri Sultan HB X tampak sekali kesan menggurui-nya. Entah itu peringatan Isra’ Mi’raj atau Maulud Nabi saya lupa. Di depan para pemimpin nasional, politikus dan pejabat tinggi negara saat itu, Sri Sultan HB X menyajikan ceramahnya dengan pilihan topik, cara dan gaya; seakan-akan itu adalah wejangan dari pemegang warisan tradisi kepemimpinan politik tradisional yang paling dihormati dari segenap kerajaan di Nusantara. Bagaikan warisan hikmah kebijaksanaan dari raja-raja di masa lalu diwejangkan kepada anak-anak kemarin sore dalam kepemimpinan negara. Ya, ini memang persepsi saya yang subyektif; namun demikianlah persepsi yang saya tangkap. Seakan Sri Sultan HB X menempatkan dirinya terlalu tinggi hanya karena beliaulah pewaris langsung yang paling eksis dalam politik dari tradisi Mataram. Lalu Sri Sultan HB X menggurui Habibie dkk. ? Sekali lagi, untuk yang ini, memang sekedar persepsi saya.

Tradisi Mataram tidak memiliki warisan filsafat politik yang berharga selain daripada kode etik Hasta Brata untuk pemimpin, dan omong kosong slogan Manunggaling Kawula-Gusti. Sejarah politik Mataram, secara umum, adalah sejarah yang goblog ! Para raja atau anak-anak raja itu hanya berebutan kekuasaan saja tanpa memiliki landasan visi filsafat politik. Visi para raja anak keturunan Sultan Agung ini hanya pendek-pendek dan sebatas halaman istana mereka saja. Agama dan gelar-gelar keagamaan yang menempel pada gelar raja hanyalah alat legitimasi bagi kekuasaan mereka. Sedangkan, inspirasi-inspirasi tentang moral kekuasaan yang ada pada agama tidak mereka kaji dan kembangkan. Mereka memang sengaja memilih pandangan yang goblog-goblog.

Saya tidak akan bangga bila sejarah leluhur saya yang saya miliki hanyalah sejarah yang goblog. Saya ingin menyelidiki apakah dari semua kegoblogan ini, masih ada satu-dua butir mutiara yang cerdas dan bijak. Kalau saja ada.

-o0o-

Keterangan: Foto abdi dalem dipinjam dari Blog Adi KSP



48 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Masih ada satu-dua butir mutiara yang cerdas dan bijak ?. Kalau saja ada.
Masih ada kang Nur, bahkan banyak.
Salah satunya adalah sikap ideologi Pluralisme yang dipertunjukkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Itu kata para pendukungnya lho…..

Kang Nur:
“Sikap ideologi Pluralisme” yg dimaksud itu misalnya dgn menentang RUU Pornografi krn menganggap bahwa RUU itu akan mengancam keberadaan seni2 pertunjukan tradisional…, seperti itu ? Itu sikap ‘keberpihakan berayun’ yg sangat mudah dilakukan.
Sdg-kan ttg pluralisme Yogyakarta, itu menurut saya juga sesuatu hal yg sudah ‘taken for granted’, siapapun Sultan-nya, ditinggal tidur pun sejak dulu Yogyakarta memang sudah menghormati kemajemukan, kok. Tidak butuh cawe2-nya Sultan.

Komentar oleh Salikh mBeling

wah baru tahu nichh..

Kang Nur:
meski opini saya yg saya tulis dlm posting2 di blog ini sudah merupakan ‘hasil’ dari sebuah ‘penyelidikan’; bukan semata ber-opini tanpa argumen; namun saya tetap mengakui bahwa ini tetap sifatnya adalah opini-subyektif, jadi jangan langsung dipercaya…🙂

Komentar oleh ciwir

yah namanya juga raja masss..

Kang Nur:
Ya.., raja kaitannya adalah dg tahta.
Sri Sultan HB IX dulu berbuat dulu untuk rakyat dan Republik.., selanjutnya pantaslah bila buku memoar 70 th yg juga berisi bunga rampai kesan2 dr banyak orang yg pernah berjuang bersama beliau diberi judul “Tahta untuk Rakyat”.
Sri Sultan HB X, pidato penobatan beliau berjudul “Tahta untuk Kesejahteraan Rakyat”, kinerja kepemimpinannya sbg guberbur tidak cemerlang.
Namun, saya di sini juga ingin mengangkat bahwasanya sistem/struktur pembagian kekuasaan di Kasultanan Yogyakarta atau sebelumnya sesungguhnya tidak lebih baik drpd jaman Majapahit dulu. Pd jaman Majapahit dulu ada bbrp unsur yg merupakan ‘Dewan’, shg tidak semata tertumpu pada satu orang, yaitu Raja.

Komentar oleh ardianzzz

Apa Indonesia perlu berubah dari republik ke kerajaan ?!

Kang Nur:
maka saya mengangkat posting2 terkait Mataram adalah utk menggugah pandangan dari saudara2 sebangsa-senegara (:)) dalam kaitan dgn monarki yg berada di dalam republik ini, Yogyakarta ini. lalu selanjutnya bgmn pula bila raja dari monarki ini mau maju sbg calon presiden republik kita.
ada hal2 yg harus dikaji dr bidang sejarah dlsb, sejak dr akar2nya dulu..🙂

Komentar oleh Muhammad rachmat

Masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV adalah Masa ke-Emas-an masuknya pengaruh budaya Eropa di Jawa. Pada 16 Desember 1822 selagi makan Sultan HB IV meninggal secara mendadak. Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengangkat RM Menol yang masih berusia 2 tahun sebagai Sultan Hamengubuwono V.

Tiadanya kepemimpinan yang kuat dan disegani telah membuat wibawa keraton menjadi hilang sehingga tingkah laku para pejabat pemerintahan Hindia Belanda semakin menjadi-jadi, semakin mudah keluar masuk keraton dan mengadakan hubungan gelap dengan puteri-puteri keraton. Skandal seks dan perselingkuhan merebak di kalangan keluarga para bangsawan dan keluarga kalangan keraton. Korupsi, penyalahgunaan jabatan dan pemerasan rakyat meluas. Tanah-tanah milik kerajaan (Kroonsdomein) yang subur disewakan kepada orang Eropa atau orang Cina yang mendapat dukungan dari para bangsawan keraton serta Residen pemerintah kolonial Belanda. Pungutan pajak dan pungutan bea lainnya semakin ditingkatkan – tanpa mengindahkan akibat yang semakin membebani kehidupan rakyat – dengan semakin memperbanyak gerbang pajak (Tol Poorten) yang disewakan kepada orang-orang Cina.

Hal ini membuat prihatin Pangeran Diponegoro, sehingga menginspirasikan dirinya untuk membentuk balad Islam. Pangeran Diponegoro ini merupakan anak tertua dari Sultan Hamengkubuwono III. Pangeran Diponegoro menolak diangkat menjadi Pangeran Adipati / Putera Mahkota, sebagai penggantinya dia menunjuk RM Ambyah. Penolakan dinobatkan menjadi putera mahkota ini dikarenakan Pangeran Diponegoro kecewa terhadap ayahandanya (Sultan HB III) yang dinilainya telah melakukan perbuatan durhaka terhadap orangtuanya sendiri. Pangeran Diponegoro tidak menyetujui sikap Sultan HB III yang melakukan pemakzulan terhadap kakeknya (Sultan HB II) dan bersikap lemah terhadap tekanan pemerintah Hindia Belanda serta mengadopsi gaya hidup sekuler yang kebarat-baratan.

Masa muda Pangeran Diponegoro dijalaninya dengan berkelana dari masjid ke masjid dan berguru dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Pengembaraannya di kalangan komunitas santri disertai pendalamannya atas sejarah Nabi Muhammad SAW telah mengubah sikap dan gagasan serta gagasannya tentang masyarakatnya. Situasi dan kondisi masyarakat Jawa masa itu dipersepsikannya identik dengan masyarakat Arab jaman pra Islam. Sehingga ia merasa berkewajiban mengubahnya menjadi masyarakat Islami yang berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW. Gagasannya itu hanya dapat dicapai melalui perang Sabil (suci) terhadap kafir. Pendirian Pangeran Diponegoro semakin teguh dan secara simbolik untuk menegaskan idealisme sikapnya itu ia mulai menanggalkan pakaian Jawa dan menggantinya dengan pakaian jubah dan surban yang serba putih.

Pangeran Diponegoro selama 12 tahun mempersiapkan diri seandainya terjadi perang Sabil yang dicita-citakannya. Mempersiapkan gua Selarong sebagai tempat awal untuk konsolidasi kekuatan laskar tempur para pengikutnya, membangun pabrik-pabrik mesiu yang tersembunyi dan tersebar di beberapa tempat, antara lain : desa Geger di sebelah selatan kota Yogyakarta, daerah Gunung Kidul, desa Parakan, desa Kembangarum di daerah Kedu, dan beberapa tempat lainnya. Menyebar telik sandi yang menyamar sebagai abdi pembantu rumah tangga, pekatik pemelihara kuda peliharaan, di lingkungan Keraton maupun di kediaman Patih Danurejo, Residen, Sekretaris Residen, Asisten Residen, para Ningrat yang dianggap sebagai sahabat para pejabat pemerintah Hindia Belanda, dan orang-orang lain yang dianggap sebagai lawan (musuh) dari cita-citanya mendirikan Balad Islam.

Kemudian pada pertengahan Juli 1825, terjadi insiden pemancangan patok batas rencana pembebasan tanah untuk pembangunan infrastruktur transportasi jalan rel kereta api Trans-Jawa jalur Lintas Tengah Jawa dan penutupan jalan masuk ke kediamannya di Tegalrejo. Insiden itu membuat Pangeran Diponegoro merasa sudah tiba saatnya bagi dirinya untuk mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu dengan memobilisasi kekuatan pasukan laskar tempur sebagai awal Perang Sabil merebut kembali pulau Jawa yang tujuan akhirnya mendirikan Balad Islam.

Perang kemudian berkobar meluas ke segala penjuru tanah Jawa. Laskar tempur pengikut Pangeran Diponegoro tak mudah ditaklukkan, sebab di dada mereka terpendam Bara Api Semangat Perang Sabil. Tak kurang usaha licik untuk menundukkannya dengan menawarkan tahta dan status tanah perdikan kepada Pangeran Diponegoro. Namun bujuk rayu tawaran tahta dan uang yang terbukti ampuh dalam menyelesaikan pemberontakan Ningrat Jawa pada masa-masa sebelumnya ini tak membuat bergeming pendirian Pangeran Diponegoro dari tujuannya mendirikan Balad Islam.

Pada pertengahan tahun 1827, Jenderal De Kock mulai merintis jalan perundingan dengan menugaskan seorang pengusaha berkebangsaan Inggris (William Stavers) dan seorang pengusaha keturunan Arab (Ali Chalif) untuk berunding serta menawarkan kepada Pangeran Diponegoro untuk memilih tanah di mana saja yang diinginkannya asal bersedia menghentikan peperangan.

Menjawab tawaran Jenderal De Kock itu, Pangeran Diponegoro menjawab ia mau menghentikan peperangan dengan syarat : Pertama, semua orang Belanda harus memeluk agama Islam. Kedua, wilayah pesisir utara Jawa dikembalikan kepada Kesultanan. Ketiga, orang Belanda boleh tinggal di Jawa tetapi tidak boleh melakukan aktivitas perdagangan. Tujuan peperangan tidak lain untuk memuliakan agama Islam.

Selepas pertemuan itu, Stavers menulis surat ke Gubernur Jenderal De Kock dan Komisaris Jenderal Du Bus. Dalam surat yang tertanggal 13 Agustus 1827, antara lain ia menuliskan bahwa : …The Sultan Diponegoro wish that will make him Radja Islam. All priest and all my family and all people proclaim him Sultan, and ask it of God, and if possible do also ask of God to make clean the religion of Islam on Java… …if you think it good to stop all operation of war that we may the better consult on the present business…

Perang perlawanan rakyat semesta yang dipimpin Pangeran Diponegoro ini pun terus berkobar. Perang yang panjang dan melelahkan bagi kedua belah pihak.

Selama perang berlangsung pemerintah Hindia Belanda terpaksa harus membangun lebih dari 250 buah benteng untuk mendukung strategi perang Stelsel Benteng. Menerapkan strategi politik berupa Blokade Politik, Isolasi Politik, politik Belah Bambu (Stick and Carrot), Politik Adu Domba (Devide Et Empera). Dibarengi penelitian sosio budaya untuk menguak titik kelemahan kekuatan Laskar Diponegoro yang dilakukan oleh ilmuwan orientalis ahli urusan Pribumi dan orang Jawa (Roorda van Eysinga).

Mendatangkan bala bantuan pasukan koninklijke leger expedisi (Expeditionaire Afdeling) yang didatangkan langsung dari negeri Belanda. Memobilisasi pasukan bantuan prajurit Pribumi dari berbagai daerah (Hulptroepen), antara lain : Legiun Mangkunegoro, Pasukan Kasunanan Surakarta, Manado dan Gorontalo (pimpinan Hasan Monwarfa), Buton (pimpinan Raja Haji Sulaiman), Alfoeren Halmahera, Tidore, Ternate, Sumenep Madura, Badung Bali, dan dari beberapa daerah lainnya.

Perang ini menguras keuangan pemerintah Hindia Belanda yang mengeluarkan biaya perang hingga tak kurang dari 25.000.000 Gulden. Biaya perang yang sangat besar untuk ukuran masa itu

Akhirnya, pada tanggal 28 Maret 1830 pukul 10.00’ pagi, melalui cara licik berupa perangkap jerat tipu muslihat, Pemerintah Hindia Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, selanjutnya perlawanan Laskar Diponegoro menjadi lumpuh. Dengan demikian berakhir sudahlah Perang Sabil yang direncanakan secara cermat, rahasia, dan lama oleh Pangeran Diponegoro.

Akhirulkalam, dalam ranah sejarah strategi militer, perang Diponegoro ini meninggalkan jejak sejarah yang monumental. Penerapan taktik strategi militer Stelsel Benteng yang memadukan antara manuver kolone dengan pembangunan benteng, disertai dengan strategi Blokade Politik, Isolasi Politik, politik Belah Bambu, Politik Adu Domba, dibarengi penelitian sosio-budaya oleh ilmuwan orientalis, oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk selanjutnya terus dipakai untuk memandamkan perlawanan pemberontakan di berbagai pelosok Nusantara. Termasuk pula di antaranya untuk menjinakkan perlawanan rakyat Aceh.

Selain itu, Pangeran Diponegoro dalam menyusun struktur organisasi, hirarki, susunan tugas, dan kepangkatan militer, tidak meniru dan tidak mengadopsi model negara Eropa. Dia meniru dan mengadopsi sistem militer kerajaan Turki Usmani pada abad ke-16, dipadukan dengan ciri dan sistim organisasi tentara kerajaan Jawa pada masa itu. Pangkat militer tertinggi yang dipakai adalah Alibasah, ini setara dengan pangkat Panglima Divisi Janissari, pasukan elite kerajaan Turki Usmani. Pangkat ini antara lain diberikan kepada : Alibasah Kerto Pengalasan, Alibasah Sumonegoro, Alibasah Kyai Kasan Besari, Alibasah Muhammad Ngusman. Pangkat selanjutnya adalah Basah, pangkat ini antara lain diberikan kepada Sentot Prawirodirjo. Pangkat selanjutnya adalah Agadullah (Dulah), setara dengan pangkat Komandan Detasemen Janissari. Selanjutnya adalah Seh, setara dengan pangkat Komandan Kompi Janissari.

Perang Diponegoro ini pada hakekatnya adalah manifestasi dari konflik laten di antara bangsawan Jawa, sebuah Permanent Warfare yang beraspek politik dan budaya. Kekalahan Pangeran Diponegoro bermakna ideologis di mana gagalnya realisasi gagasan Pangeran Diponegoro membentuk Balad Islam dan menjadi Khalifah Islam di tanah Jawa.

Wallahu’alambishshawab.

( diresensikan dari = disertasi ilmiahnya Saleh As’ad Djamhari di program Pasca Sarjana bidang Ilmu Pengetahuan Budaya UI tahun 2002 yang diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Stelsel Benteng : Strategi Menjinakkan Diponegoro dengan penerbit Yayasan Komunitas Bambu Jakarta )

Kang Nur:
Terima kasih atas referensinya yg lengkap atas hal yg belum banyak diungkap ke publik ini. Semoga bermanfaat kepada pembaca semua.🙂 Banyak hal yg lebih lanjut dapat dikembangkan atas temuan kajian tsb di atas utk diperdalam, untuk memahami situasi yg benar2 terjadi masa itu dan faktor2 yg berpengaruh. Mari kita kembangkan.

Komentar oleh Salikh mBeling

lho kok.. ujung2 postingan ttg Mataram-nya kok..

pa kabar Kang Nur?

Kang Nur:
Saya memang sedang agak demam, karena gerahnya cuaca yg berseling dgn lebatnya hujan.🙂
Ya, kita manusia sbg pribadi atau masyarakat sering ber-ayun2 bagai ujung bandul jam, adakala terlempar ke titik ekstrim terjauh-tertinggi di kiri namun selanjutnya juga sebaliknya ke ujung kanan. Begitu kan? Saat kita merasa sudah terlalu jauh ke kanan, kita ingin ke kiri. Yg dicari adalah keseimbangan.🙂 tentu juga yg lebih obyektif…

Komentar oleh cahpesisiran

yang goblog sejarah atau kita yang anak sejarah, atau kita sama2 goblog karena sama2 tahu mana yang lebih goblog, sejarah atau kita. tapi boleh juga dengan tulisan ini, jarang2 ada kritikan (analisis) sejarah yang kayak gini, he.. slm kenal kang Nur.

Kang Nur:
Yang terparah adalah bila sejarah yg goblog dipahami secara goblog oleh kita anak2 sejarah yg juga goblog2.😆
Jadinya kita tidak memiliki landasan utk berpijak, dlm merangkai visi yg betul utk masa depan.
Bila kita tidak memahami masa lalu kita dgn benar; berarti kita juga tidak dapat memahami siapa diri kita di masa kini dgn se-baik2nya.
Lalu, apa yg akan kita bangun utk masa depan jadinya juga kabur…, wah…😦

Komentar oleh zaini

Walah, kok postingnya penuh dengan emosi, Mas…
Sabar…

Mungkin dari banyak yang goblok masih ada satu yang pinter, salah satunya mungkin pemilik blog ini…🙂

Kang Nur:
wua.. jangan mengalihkan permasalahan, dong… saya kan GoBlog juga🙂

Komentar oleh sapimoto

asyik postingan ini.

Kang Nur:🙂

Komentar oleh bah reggae

Kang Nur, pada kesempatan ini ijinkan saya ngaturaken panyuwun mugi kang Nur krenan lan kerso maringi agungipun samudro pangaksami dumateng kulo ingkang tindak tanduk kulo sampun ndadosaken mboten remen penggalihan kang Nur.
Ananging kulo nyuwun pangapunten ugi, kulo mboten saged ‘nahan diri’, kepengin nimbrung malih, amargi blog kagunganipun kang Nur meniko sanget ‘unik’ lan saestu ‘asyik’ sanget.
Menopo dipun idini kang Nur ?.
Maturnuwun.

Kang Nur:
Temtu saestu suwalikipun kawula ugi nyuwun pangapunten dhumateng mas Salikh, mbokbilih anggen kula ‘ngemutaken’, ugi ndadosaken kirang renaning penggalihipun mas Salikh. Kepara saestu menawi mas Salikh kepareng, kawula malah nyuwun supados mas Salikh kersa dados penulis wonten ing blog gadhahan kawula menika sesarengan kaliyan kawula. Kesagedan kawula namung winates, menawi kawula estu badhe tetep puguh njagi blog menika wonten ing topik sejarah, kawula mbetahaken rencang ingkang saged mbiyantu kawula. Saklajengipun kawula kepengin sesambetan kaliyan mas Salikh medal jalur privat ing alamat e-mail-ipun mas Salikh menika. Mugi menika valid. Valid to mas?
Kawula nggadhahi ‘visi’ bilih blog kawula menika badhe pun garap kanthi sesarengan. Mas Salikh dados salah setunggaling tiyang ingkang kawula wawas kagungan minat lan kemampuan ingkang trep kaliyan kebetahan menika.🙂

Komentar oleh Salikh mBeling

weleh…sabar kang, sabar… ;p hm…emang seh, bener banget pendapat kang Nur

Visi para raja anak keturunan Sultan Agung ini hanya pendek-pendek dan sebatas halaman istana mereka saja. Agama dan gelar-gelar keagamaan yang menempel pada gelar raja hanyalah alat legitimasi bagi kekuasaan mereka.

berarti kang Nur ini termasuk yang gak mendukung sultan jadi presiden ya? heheh…sama dong *nyari temen*

Kang Nur:🙂 Bila motif politik telah ikut ‘main’ dlm penyusunan maupun publikasi (ilmu) sejarah, maka nilai obyektivitas-nya seringkali menjadi diragukan, atau memang perlu kita ragukan.. Mengapa? Krn sejarah akan menjadi ‘aksesori’ kemasan komoditi dan ‘dekorasi’ citra belaka.
‘Para raja’ yg saya sebut di atas itu adalah sejak dari Amangkurat I hingga raja2 yg terpecah ke dalam empat ‘Vorstenlanden’ setelah Perjanjian Giyanti th. 1755, tentu tidak semuanya. Kita perlu mengupasnya satu per satu utk memahaminya.
Dlm hal pen-Capres-annya Sultan, saya katakan: Kita semua, khususnya warga Yogya kawula Mataram, menjadi repot.🙂 Belum urusan RUUK DIY tembus, ini malah ada kerjaan baru lagi.🙂

Komentar oleh tika

sendiko dhawuh sinuwun

Kang Nur:😆

Komentar oleh suwung

Menurut analisis saya, sebagai orang Sumatera. Paska Demak, Djawa Dwipa seperti takut memandang lautan dan menarik diri ke pedalaman. Itu melemahkan. Karena walau Pajang atau Mataram memiliki pasukan infanteri yang paling besar secara kuantitas. Tapi terpenjara di Pulau Jawa. Terus angkuh karena tanpa lawan tanding. Akhirnya dengan mudah dipecundangi VOC.

Kang Nur:
Mataram jadi ‘jago kandang’ di daratan ya Bang? ..Tapi lebih jauh, tampaknya teknologi VOC saat itu memang belum dapat ditandingi oleh Mataram saat itu. Jadinya, pilihan pahit memang terpaksa diambil oleh Mataram.

Komentar oleh tengkuputeh

semua hanyalah eksploitasi manusia oleh manusia lain

Komentar oleh tomyarjunanto

bung Nur.. Ummat Islam ini harus dibangunkan untuk melihat kembali sejarah mereka. Walaupun itu pahit, amat pahit.
Saya setuju dengan bung Nur… Untold history harus diangkat dan disebar luaskan…

Komentar oleh muftialy

Nuwun sewu, saya wong sudra tidak mudheng keningratan.Tapi apa jadinya jika priyayi punya kawruh ngendikane misuh?

Kang Nur:
Apa jadinya? Wah belum tahu nantinya, PakDhe… Bagi saya, wong sudra yang selalu dipinggirkan oleh orang ningrat itu semestinya malah harus misuh-misuh terus…😆 Karena hanya misuh-lah yang dapat diperbuatnya😆 Saya memang wong ndeso pengagum wong Samin.

Komentar oleh Sudradiningrat

weee lha kok ngene? jarene ngono?
yo wis…..aku numpang ngiyup methik opo sing biso dadi kemelethik e pikir lan ati…

nuwun….

Komentar oleh okno

Mbok yao yang masih muda jangan merasa bisa
kalau mau bahasa sejarah dengan jamu politik kalau tak pakai sandal ilmunya dan kasunyatan kok ya begini yo? hehehehe

Komentar oleh okno

Nuwun Sewu…
siapapun panjenengan…yang punya Blog ini…
saya sebagai ketuurunan suku ato trah goblog yang sampean katakan, hanya sekedar ingin ngaturi pirso…
apa bedanya sampean bicara goblog,ato mengatakan orang goblog…tapi dengan cara dan sikap yang menurut saya lebih guoblog lagi….
kalimat anda,penyampaian saudara tidak lebih cerdas dari yang saudara katakan sehingga…yang ada hanya orang goblog mencaci kegoblogkannya sendiri melalui blognya.

sampun mugi2 sampean lebih arif dimas depan.

Prawirodirjo

Komentar oleh Haryo

menawi panjenengan ngaken pengagum wong samin ingkang remen misuh lan misuhi wong liyan..mboten esah matur mawi boso kang alus kados wonten komentar2 panjenengan..ngaku wong samin sing kudu misuh isane mung misuh…
wah..kok le cekak men pikiranipun sampean…
njih pisuhana awakmu dewe…sak durunge..misuhi wong liyo…
ingkang panjenengan sawang dereng temtu saknyatanipun…dados ngatos2 menawi mungel…
matur nuwun..

Prawirodirjo

Komentar oleh Haryo

Trah Mataram dari Brawijaya tampaknya menuju dua spesifikasi, yakni politik dan agama (Islam). Jalur politik menjadi kerajaan sedang jalur agama menjadi pesantren. Intrik politik terutama terjadi di lingkungan kerajaan, sedang jalur agama belum banyak diungkap. Yang jelas ada di antara trah utama kraton yang lalu keluar istana menjadi pemimpan keagamaan atau spiritual, misalnya Pangeran Singosari Mataram atau KR Santri Muntilan, Ki Ageng Suryomentaraman, Pangeran Notokusumo atau Eyang Santri Cidahu, Sukabumi, dan lainnya.Kalau sejarah jalur ini bisa diungkap mungkin banyak pelajaran yang bisa dipetik dibanding jalur kraton yang penuh intrik.

Komentar oleh waone

Ya saya bangga dsebagai keturunan orang Mataram..apapun itu baik ato buruk mereka leluhur saya..karena tidak ada yang sempurna didunia..kenapa malah malu dan mencaci maki dengan demikian kasarnya leluhur kita sendiri..jangan keblinger dab.mawas diri sebelum bicara untuk kepentingan umat ato masyarakat banyak jangan malah menjerumuskan dengan cacian bodoh tiada guna itu….sekali lagi YA SAYA BANGGA DENGAN LELUHUR MATARAM.

PRAWIRODIRJO

Komentar oleh prawirodirjo

Jika keadaan sejarah yang kurang bagus kita harus selalu menghargai apa yang mereka lakukan pada masa itu

Komentar oleh Sewa Projector Murah

monggo mana mas yang sangat pinter yang menulis dan mencaci maki keraton Yogyakarta ato sejarah Mataramnya saya tunggu penjelasan panjenengan kenapa dengan rasa keminternya kok mencaci leluhur dan budayanya sendiri..MOnggo mas saya tunggu betul panjelasan anda beserta alasan dan maksud tujuan anda bicara seperti itu.silahkan mas Nurdayat ato siapapun yang menulis diatas mendukung mas Nur yang bijaksana ini…saya tunggu…

Komentar oleh Prawirodirjo

Betul,..betul… Sebaiknya keduanya duduk bareng satu meja (sambil ngopi, ses, lan pijet-pijetan). Setelah itu bicarakan dengan baik-baik. Kalau ternyata tidak ada kata sepakat, apa boleh buat: Tangkap, jiret, seret ke kereta, bawa ke Semarang, lalu ke Standhuis Batavia, lalu ke Manado! (Biar sejarah Diponegoro yang bicara) ;p

Komentar oleh Wiryo

Bagaimana: Pangeran dan Jendral, agree?

Komentar oleh Wiryo

Saya pikir kok yang bernama Kang Nur ato para sedherek2 lainnya yang suka bicara tanpa suka mengindahkan orang disekitarnya ini kok keliatanya jenis pengecut njih…apa sampean gak berpikir kalo tulisan sampean itu bisa dibaca adik2,anak remaja yang belum paham betul..memilih dan memilah suatu kejadian…kalo mereka sampai berpikir sama ngawurnya dengan sampean..menilai sejarah hanya dari kulitnya…dari satu sisi saja..kok saya pikir sampean sungguh keterlaluan ya…Kang…kasihan sedikit dengan para penerus bangsa.jadi korban kepentingan orang seperti sampean…Sekali lagi saya sudah mencoba berkomunikasi..tapi kok ya mung cuma ditinggal gelangang colong playu..ngoten.
monggo sekali lagi sampaikan penjelasan sampean seperti sampean menjawab komen dari teman2 yg lain…ato kalo anda masih punya roso kabudayan dan ngrungmangsani ya dihapus saja tulisan anda diatas itu..sungguh sangat merancukan pola pikir sehat dan jernih bagi orang banyak…nuwun..

Prawirodirjo

Komentar oleh Prawirodirjo

Banggalah dg Sejarah yg Cerdas! Banggalah dg Sejarah yg Pintar! Mungkin kalimat2 inilah yg perlu saya susulkan mngikuti tulisan saya di atas. Itu sbg prtanggungjawabn moral saya, maka perlu menulis posting baru yg memotivasi pembaca ‘tuk memahami sejarah dg benar. Tapi saya belum sempat menuliskan susulan itu.😀
(Raden) Mas Ongki Sasongko ‘Prawirodirjo’, spertinya Panjenengan sgt marah dg tulisan saya ini, shg Panjenengan sampe mluangkn waktu br-kali2 mmberikn komentar minta pnjelasn lbih lanjut atas tulisan ini. Den Mas, smakin sering Panjenengan minta jawaban dg ngasih koment, maka makin banyak prhatian org yg akan trtuju kpd tulisan ini. Sdgkan saya pikir, kalo Panjenengan mbiarkn saja tulisan ini, mungkin org juga tak akan banyak menengok tulisan ini. Sperti Panjenengan saged mriksani, kalo Panjenengan menulis koment, tanda ikon koment Panjenengan akan muncul di pojok kiri atas halaman blog ini; dan org yg brkunjung akan penasaran untuk meninjau posting tulisan yg Panjenengan komentari. Begitulah, maka smakin banyak org yg minta ditanggapi atas sbuah posting, maka posting itu akan smakin banyak dibaca pngunjung yg lewat.
Bila Panjenengan minta ditanggapi hanya karena Panjenengan merasa bahwa Panjenengan adalah salah satu anak keturunan bangsawan Keraton yg merasa wajib membela leluhur2 Panjenengan, maka saya memang tidak akan terlalu me”reken” prmintaan Panjenengan itu.🙂
Namun bila Panjenengan mngingatkn saya bahwa generasi2 muda perlu mendapatkn pemahaman dan apresiasi sejarah yg benar, barulah saya memperhatikannya. .. Saya maklum hampir tak ada s’orang pun di dunia ini yg rela / tidak marah bila leluhurnya dituliskn kejelekannya; namun saya juga ingin mngingatkn bahwabila ada satu-dua leluhur panjenengan yg brbuat tidak baik, toh itu juga bukan kesalahan panjenengan. Mnurut iman-kpercayaan saya, dosa-kesalahan itu ditanggung oleh org yg brbuat itu sendiri, tidaklah diwariskn kpd anak-keturunannya. ..Namun, justru sgt bagus dan patut diteladani bila anak-cucu keturunan, sbg rantai generasi; mau melakukan introspeksi atas apa2 yg telah dilakukan leluhurnya, dan dia/mereka/kalian mau melakukan perbaikan sikap juga penyempurnaan prestasi, sehingga kluarga besar ‘dinasti’ itu scara keseluruhan namanya akan mengharum dan dapat dibanggakan lagi. Bila itu yg dilakukan,seluruh rakyat jelata akan turut bangga dan menjadikan kalian sebagai panutan.

Komentar oleh Kang Nur

Nuwun inggih…dalem tampi kanthi jembaring manah..saya terima atur panjenengan diatas…Tapi satu hal yang perlu panjenengan mulai coba pelajari dan pahami..siapapun saudara..darimanapun asal sukunya…coba pelajari lagi tentang budaya dan falsafah jawa sejak sebelum ada mataram sampai sekarang …bukan saya hanya sebagai trah keturunan mataram tapi sebagai anak bangsa pasti merasa tidak nyaman dengan cara penyampaian dan penyajian panjenengan..apapun topiknya.la ini justru malah tentang sejarah Mataram yang pasti menyangkut nilai moral,budaya,politik dll..
monggo saya aturi..endapkan dulu hati panjenengan yang tampaknya sedang meluap2 tapi ngawur tak terarah…saya kok juga melihat ada semacam sentimen tersembunyi dari pola pikir panjenengan.mungkin saudara bukan orang jawa..tapi itu tidak penting.yang penting sebagai anak bangsa ini saya tegaskan sayapun mau dan wajib mengakui segala kelebihan dan kekurangan leluhur kita..kalo ada yang tidak pas ato ada kekurangan ya namanya juga sejarah,dan dilakukan oleh individu2 yang berbeda karakter juga.perbedaan kebijaksanaan pemerintahan oleh tiap2 individu raja2 juga pasti berbeda..pasti itu mas…jadi jangan cuma karena sampean membaca buku2 pinggiran yang belum tentu jelas kebenarannya lalu sampean nggebyah uyah…bahwa kerajaan Mataram punya sejarah yang goblog.Rajanya Goblog-Goblog…Gelar agamanya cuma simbolis..dll..wah..wah…mas..mas..sampean itu sebetulnya kalo mau memperdalam falsafah,ajaran dan kebudayaan yang Adiluhung yang benar dan dari sumber yang lebih baik pasti gak mungkin ngendiko seperti orang yang tak berilmu…masih banyak sekali ajaran ajaran budaya jawa,Mataram pada khususnya yang masih jadi tuntunan hidup dan ajaran budi pekerti manusia pada umumnya wong Jowo pada khususnya…ini saya bukan karena sbagai trah ato apapun…ini saya sebagai anak bangsa..anda bicara seperti itu tentang kerajaan Bali ato manapun jika begitu caranya saya ato orang lain juga pasti merasa tidak nyaman,karena tidak memakai tata etika berbicara untuk didengar dan dibaca orang banyak…kalo sampaen punya komunitas yang sepemikiran dengan sampean ya silahkan tapi jangan buka blog ini untuk umum dong…coba liat banyak saudara2 yang lain juga merasa gak nyaman “apa jadinya..priyayi kok isane ngendikane misuh…”nah sampe ada yang nulis seperti itu..
monggo kita bersama saling mempelajari sari budaya kita sebagai anak bangsa yang beraneka ragam Suku,Kerajaan..dll…dari hal yang buruk pasti masih ada banyak yang lebih baik..yang buruk gak usah dipake..yang baik diteruskan dan dikembangkan…mekaten kisanak.

Prawirodirjo

Komentar oleh Prawirodirjo

Sy sependapat sejarah kerajaan di Jawa khususnya (Mataram) dan Nusantara pd umumnya pasca Majapahit adalah sejarah yg paling kelam. Di lingkungan Istana tdk mewarisi tradisi yg yg bisa dibanggakan, kecuali hanya koflik2 perebutan kekuasaan, dan raja2 yg suka kawin. Mungkin hanya satu tinggalan sejarah yg bisa dibanggakan yaitu Sejarah Perang Diponegoro, sekaligus menutup sejarah perlawanan thd dominasi Asing/Eropa.Kita tdk perlu menyesali sbg pewaris sejarah kelam selama lbh dr 5 abad tsb, yg perlu kita cari penyebab yg paling mendasar mengapa kita tdk kunjung menjadi bangsa yg mampu mewarisi budaya unggul. Kl ini sdh ditemukan dan sy yakin sesungguhnya bibitnya sudah mulai bersemi di negara nusantara ini, maka tdk ada halangan kedepan bangsa kita bakal menjadi bangsa yg kuncoro ing bawono, menjadi bangsa yg unggul sejajar dengan bangsa2 lain yg unggul di dunia. Amin.

Komentar oleh Panggah

Sejarah… dilihat dari logika merupakan bagian dari sebuah proses hukum alam yang didalamnya terukir jelas merupakan karya bahkan hajat ALLAH Swt dalam kerangka membina umatnya supaya berkarakteristik dinamika dan berilmu. Seorang berilmu semakin hari tentu akan berubah dan terlihat semakin arif karena paham benar isinya sementara Anda masih dalam perjalanan mencari tahu dan tentu saja ilmu Anda saat ini masih sebatas covernya saja. Tapi Insyallah Anda kedepan akan menyampaikan segala keilmuan anda dengan adil, seimbang, tanpa sedikitpun terkesan takabur, sombong, seakan anda paling benar, paling pintar, paling suci, bahkan meraca menjadi makluk Allah yang paling mau masuk surga lupa bahwa segala yang terjadi dialam jagat raya ini adalah didalam genggamn Allah Swt termasuk lahirnya jabang bayi seperti anda dan jabang bayi2 lainnya pendahulu kita semua. Sampaikan pengetahuan anda tidak kelewat batas…..

Komentar oleh IR.CHAIRWANTO

Ir.Chairwanto sudah memperingatkan tentang pola pikir anda agar lebih banyak mawas diri lagi…saudara Nur…,
” menyampaikan segala keilmuan anda dengan adil, seimbang, tanpa sedikitpun terkesan takabur, sombong, seakan anda paling benar, paling pintar, paling suci, bahkan meraca menjadi makluk Allah yang paling mau masuk surga lupa bahwa segala yang terjadi dialam jagat raya ini adalah didalam genggamn Allah Swt termasuk lahirnya jabang bayi seperti anda dan jabang bayi2 lainnya pendahulu kita semua. Sampaikan pengetahuan anda tidak kelewat batas…..
pahami itu baik..baik Njeh…jangan sakiti hati orang lain jika tidak mau hati anda tersakiti juga.

Komentar oleh ongky Sasongko Prawirodirjo

Hi there! I just wanted to ask if you ever have
any issues with hackers? My last blog (wordpress)
was hacked and I ended up losing months of hard work due to no data backup.

Do you have any methods to stop hackers?

Komentar oleh how to quit smoking cigarettes naturally

Ngapain juga nyalahin keadaan masa lalu…masa lalu adalah sejarah, jika tidak ada masa lalu kan juga gaka ada jaman sekarang. jika masa lalu kelam…maka tugasnya generasi masa datang yang mencerahkan. dari semua yang anda sampaikan kok terkesan semua salah to…kan gak bisa semua digebyah uyah…jelek semua. Pemimpin itu pribadi masing2 dan punya pemikiran masing2. La contoh anaknya nabi aja ada yang kafir kok..apalagi anak manusia, bapake kiai anake maling. Begitu juga dengan para sultan..jika pendahulunya baik..maka belum tentu keturunannya juga baik..nek anaknya jelek jangan slahkan bapaknya juga dong…semua da kelebihan ada kekurangan…harus objektif lah memberikan opini…ada saat jaya ada saat terpurk….itu sudah menjadi putaran roda jaman…gak bisa disangkal.. dan dihindari…

Komentar oleh Mas Alit

A fascinating discussion is worth comment.
There’s no doubt that that you should write more on this subject matter, it might not be a taboo matter but typically folks don’t discuss such subjects.

To the next! All the best!!

Komentar oleh Power Ecig

Amangkurat I tidak goblog, melihat kekuatan VOC tidak mungkin menang melawannya, sehingga ia memilih politik koperatif. Sedangkan amangkurat II, bukan orang politik, ia humanis, tidak kaku sikapnya. Waktu ngeliat kraeng galesong orang makassar gak punya tempat tinggal, dikasih padahal bapaknya nggak berani ngasih pertolongan (takut belanda), melawan bapaknya karena bapaknya kejam, walau banyak menyerahkan tanahnya ke VOC, akhir hidupnya juga melawan VOC. Pangeran Puger itu orang politik juga berpamrih jabatan, awalnya melawan VOC akhirnya pro VOC demi jabatan.

Komentar oleh cahwit

ada mutiara-mutiara, yaitu Pangeran Bei (putra Sri Sultan HB II), Pangeran Diponegoro (putra Sri Sultan HB III) dan orang-orang seperti mereka. Mereka adalah putra-putra raja, namun mereka tidak terlena dengan keadaan itu. Silakan baca sebagian sejarah mereka di Untold History of Diponegoro 1-44 di eramuslim.com

Komentar oleh Yoko nur khairi

Nurdayat, kalo leluhurnya goblog. saya yakin anda lebih goblog dari para leluhurnya.
semoga beberapa yang salah tidak digebyah uyah semua menjadi salah.

salam

Komentar oleh adhimukti

Lima ratus tahunan sebelum masehi Konfusius pernah berkata pelajari masa lalu kalian jika akan menentukan masa depan anda. Saya punya tesis bahwa semenjak perjanjaian “sigar semongko” tordesilas, maka bumi nusantara tidak pernah sepi dari pengaruh dan dijadikan bancaan tangan-tangan asing meski baju mereka gonta-ganti, kadang peranggi, kadang pe-o-se, kadang kumpeni, kadang raffles, kadang clinton….Dengan semangat mikul dhuwur menjem jero kita memiliki dan dihadapkan dengan tugas, tanggungjawab dan panggilan sejarah juga…gusti hanya bisa disambati dan disuwuni namun jangan pernah berpretensi menjadikannya kuli …gusti itu memang maha lucu (innamaa amruhuu idzaa araada syai-an ay-yaquula lahuu kun fayakuun)…nuwun!

Komentar oleh sarwi notoatmodjo

Sejarah adalah sejarah,….
Benar dan tidaknya juga banyak terpengaruh oleh si penulis,.. apakah dia ada motif pribadi atau tidak… juga apakah semua bisa diketahui, dan sempat di tulis atau tidak… sengaja disemubyikan atau tidak… mestinya kita malah harus bersyukur bisa mendapatkan tulisannya … semakin tua sejarah – semakin sedikit yang bisa kita ketahui,… baik fakta maupun kebenarannya…
Justru kita sebagai penerus, selain bertugas mengisi dan menuliskan sejarah selanjutnya dengan benar dan obyektif sebagian dari kita tentu ada yang suka bertugas menelusur kebenaran, membuka yang belum pernah ditulis dll….
Semua itu tentunya adalah sudah menjadi garis kehidupan, dan untuk introspeksi kita supaya sejarah kita ke depan lebih baik… namanya kita manusia ,… bukan nabi atau malaikat… tentu ada kesalahan, kelemahan dan segala kekurangan serta kelebihan… yang penting sekali lagi “terbuka”…dan “jujur apa adanya” … meski pahit kadang harus dibuka…
Yang tidak kalah penting selain bagaimana menulisnya dalah “cara penyampaian” nya termasuk analisanya…. agar kita yang membaca menjadi mudah mengerti, paham.. dan akhirnya bisa meneruskan kembali ceritanya kegenerasi berikut dengan cara yang etis, sopan, santun dan enak pula…
Apapun aku bangga dengan Sriwijaya, Majapahit, Mataram dan seluruh kerajaan nusantara…. serta Indonesia…

Komentar oleh Sastrogambar

si Nur memang mBeling…… MANCING dengan “UMPAN” yang Tengik……!

Komentar oleh Budi Yuwono

INTINYA YANG PUNYA BLOG INI MASIH KETURUNAN ANJING DAN BABI, KLO MASIH KETURUNAN MANUSIA DAN BUKAN KETURUNAN ANJING ATAU BABI PASTI PUNYA ETIKA ketika menulis…… Salam hai BABI KURAP YANG SOK TAU TENTANG URUSAN KEJAWAAN…..

Komentar oleh Narendro Joyokusumo

menurut saya,kalimat yang anda gunakan ini kurang pas.karena,para pembaca yang merpakan trah kesultanan jawa pastinya juga akan merasa tersinggung.perbaikilah kata kta anda.banyak sekali jasa kesultanan jawa bagi indonesia

Komentar oleh rr.choirun nisaa

kalimat anda benar benar menyinggung perasaan saya.saya adalah cucu KRT wiroyudho.ayah kakek saya merupakan buyut kj.sin.pr mangkurat.

Komentar oleh rr.choirun nisaa

SETUJU, ORANG-ORANG KERATON MEMANG HARUS DISINGKIRKAN DARI JOGJA, MEREKA NGOTOT MEMPERTAHANKAN KEISTIMEWAAN UNTUK MEMPERKAYA DIRI, TANAH-TANAH KERATON YANG DULU SUDAH DIBERIKAN KE NEGARA SEKARANG DI-CLAIM OLEH
HB X, PAKUALAM DAN KRONI-KRONINYA UNTUK KEPENTINGAN BISNIS PRIBADI

Komentar oleh BIBO JOGJA

aslm salam wr wb salam buat saudara sebangsa dan setanah air,..saya setuju dengan mas nur sangat setuju bahwa untuk apa membanggakan keturunan mataram membela sampai entek amek kurang golek toh pada kenyataanya mataram tidak bisa menjadi rumah yang memberikan ketentraman pada penghuninya,…para bangsawan hanya memikirkan harta tahta dan wanita dan prilaku mereka yang membuat garis keturunan amburadul.di mata saya pribadi baik itu kraton kasunanan surakarta,yogyakarta hadiningrat,mangkunegaraan,hanya berisi orang orang yang takut kehilangan kekuasaan dan BERMUKA DUA ? kenapa mangkunegara perang lwn voc di kasih tnh untuk jadi adipati miji yoh manut dan di kemudian hari pasukan mangkunegara di jadikan alat pemukul musuh musuh kompeni,…p. mangkubumi gYny SOK MELAWAN VOC di kasih yogyakarta y uwes wes oleh sek tak golek i dan di kemudian hari yogyakarta dan priyayinya di jadikan alat untuk menghsap rakyat oleh kompeni serta sudah tidak memiliki harga diri,..kasunanan surakarta udah ancur ancuran karena amangkurat yang terhormat :buat keturunanya yang akan membela namanya setelah membaca postingan ini” ,…secara garis besar sikap raja raja mataram itu:.tidak berani terang terangan jadi kalau kira kira akan rugi atau kalah masih bisa menyelinap lempar batu sembunyi tangan ingat untung sropati,p. diponegoro ,raden ronggo…>>lbih berwibawa sejarah raja raja di luar pulau jawa buat keturunanya ; yang rela sampai hancur lebur kerajaanya g bisa bangkit lagi demi mempertahankan dan memperjelas sikap permusuhanya terhadap musuh.seperti kerajaan gowa . dan diatas itu semua raja adlah perwujudan rakyat atau pendukung fanatiknya nah para pendukung fanatik partainya yang berada dalam panji “blangkon” inilah penyebab usaha pengembalian harga diri tanah jawa oleh orang orang yang berhati teguh gagal total dan “sebagian besar” rakyat jawa menderita..dan orang orang tadi masih berlanjut garis kturunanya hingga kini.apakah itu anda???

Komentar oleh susuhunan azazil

Kok judul pakai goblok maz kalau bisa diganti agak sopan kan bagaimanapun seseorang punya kelebihan dan kekurangan.

Komentar oleh shidiq

yang goblok itu sejarah nya atau yang buat judul JANGAN BANGGA MEMILIKI SEJARAH YANG GOBLOG !

Komentar oleh faisol




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: