The Nurdayat Foundation


Bila Saja Orang Sejenius Ibnu Khaldun Pernah Lahir di Majapahit atau Pajang
Jumat, 14 November 2008, 11:08 am
Filed under: Sejarah | Tag:

Ibnu Khaldun dlm perangko TunisiaGerbang Istana Majapahit?Sebagaimana juga Anda mestinya, saya sebagai salah seorang anak bangsa Nusantara ini  merasa bergelora saat kecil dulu maupun hingga kini, bila mendapatkan cerita tentang kejayaan Nusantara di masa lalu. Di saat kini ketika jaman telah memasuki globalisasi, rasa kebangsaan atau kesatuan sebagai satu bangsa itu tentulah tetap menjadi modal utama untuk membangun kejayaan bangsa di masa depan. Kita membutuhkan falsafah kebangsaan yang terbaharui, dengan pencapaian-pencapaian keilmuan kita. Bukan hanya pencapaian ilmu itu dalam teknologi, tentulah juga warisan kekayaan pemikiran. Sejarah dan pemikiran politik adalah bidang kajian yang masih tertinggal, karena sejarah kita banyak hanya berisi dongeng2 dan hapalan, tanpa analisa, tanpa jiwa. Maka berikut ini saya menampilkan Ibnu Khaldun, seorang teladan.

Ibnu Khaldun (1332-1406 M (74 th)) lahir di Tunisia, selama usianya ia hidup berkeliling ke beberapa negara di Afrika Utara juga Granada di Spanyol. Ibnu Khaldun adalah salah seorang ilmuwan yang paling dibanggakan dalam sejarah dunia Islam. Ia dikenal sebagai pakar kenegaraan, pemikir sejarah dan akhirnya juga ahli hukum dari madzhab Maliki. Bagi para sosiolog, ia adalah seorang tokoh yang termasuk paling awal turut menancapkan tonggak ilmu Sosiologi. Bagi para ekonom, ia adalah salah seorang bapak ilmu Ekonomi.

Nenek moyang Ibnu Khaldun dari keturunan Arab Hadramaut yang hijrah ke Spanyol pada abad ke-8 M bersamaan dengan gelombang penaklukan Islam ke Semenanjung Andalusia. Keluarga moyangnya itu pernah menetap di Seville, Italia, dan Spanyol; namun keluarganya akhirnya pindah dan menetap di Afrika Utara, khususnya Tunisia, semasa pemerintahan Hafs Abu Zakariyya.

Pada masa abad ke-14 M itu, kekuasaan Muslim Arab di Afrika Utara telah jatuh. Tanah air Ibnu Khaldun dalam kondisi mengalami kemandegan pemikiran dan kekacauan politik. Banyak negara bagian melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Banyak pertentangan, intrik, perpecahan dan kericuhan dalam kehidupan politik. Setiap orang ingin meraih kekuasaan. Kondisi itu tidak menghalangi pemuda Ibnu Khaldun menuntut ilmu. Saat itu Tunisia masih merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dan sastra Arab. Sejak kecil ia telah mendapat pendidikan berbagai ilmu Islam, seperti Al-Qur’an, Hadits, hukum Islam, kesusasteraan, falsafah, bahasa dan mantik (logika).

Pada tahun 1350 M, saat ia mencapai usia delapan belas tahun, terjadi peristiwa yang memaksanya berhenti dari fokus menuntut ilmu. Tahun itu terjadi wabah kolera yang juga menyerang banyak bagian dunia. Wabah itu meminta banyak korban jiwa, termasuk orang tua dan guru-gurunya. Setelah malapetaka wabah itu, banyak ilmuwan dan budayawan berbondong mengungsi meninggalkan Tunisia. Dia terpaksa berhenti belajar dan mengalihkan perhatian kepada upaya mendapatkan tempat dalam pemerintahan dan peran dalam percaturan politik di wilayah itu.

Sementara itu, di Majapahit; Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) wafat tahun 1309 M. Digantikan Jayanagara yang tewas dibunuh Tanca pada 1328 M. Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani memerintah sejak tahun 1328 hingga 1350 M. Tahun 1350 M Hayam Wuruk dinobatkan, bertahta hingga meninggalnya pada tahun 1386 M. Seharusnya yang menggantikan Hayam Wuruk adalah putrinya, Kusumawarddhani, namun yang selanjutnya yang memerintah adalah suaminya, Wikramawarddhana, berarti menantu Hayam Wuruk yang juga keponakannya, sejak tahun 1389 hingga 1401 M. Pada tahun 1403 Laksamana Cheng Ho sampai ke Jawa memimpin perutusan atas perintah kaisar Cheng-Tsu. Tahun berikutnya ia menyaksikan perang antara Wikramawarddhana dengan Bhre Wirabhumi. Dalam suasana perang saudara yang berlarut-larut, Suhita putri Wikramawarddhana memerintah hingga tahun 1447 M.

The Majapahit EmpireKarya tulis yang menjadi rujukan juga peninggalan dari jaman Majapahit ini, selain Kitab Pararaton adalah Kakawin Negarakertagama. Kakawin Negarakertagama merupakan sebuah kakawin pujaan (puja sastra) untuk prabu Hayam Wuruk. Pararaton dan Negarakertagama adalah karya sastra yang menjadi sumber pokok riwayat sejarah dari jaman abad ke-14 dan 13 M di Jawa. Negarakertagama memberikan banyak keterangan tentang pola pemerintahan dan tata negara Majapahit.

Dari usia hingga 74 tahun yang dikaruniakan Tuhan terhadap Ibnu Khaldun nanti, lebih dari dua pertiga umurnya dihabiskan di kawasan Afrika Barat Laut; yaitu kini meliputi wilayah Tunisia, Aljazair dan Maroko, serta Andalusia yang terletak di ujung selatan Spanyol.

Muqaddimah; dlm sebuah edisi terbitan barat mutakhirKarya monumental Ibnu Khaldun Muqaddimah dengan kitab Al-‘Ibar-nya merupakan perasan dari renungan teoretisnya, plus pengalaman empirisnya sebagai tokoh yang terlibat langsung dalam pergolakan dan intrik-intrik politik di Afrika Utara dan Granada. Pengalamannya dengan beberapa penguasa yang punya karakter dan visi sempit telah memperkaya persepsinya tentang perlunya pengetahuan yang mendalam dalam soal-soal politik dan kemasyarakatan. Ibnu Khaldun ingin melihat lahirnya figur raja-filosof yang memegang tampuk kekuasaan, sebagaimana yang dirindukan oleh Plato, salah seorang guru spiritualnya.

Muqaddimah, mencatat pemikirannya tentang penduduk menetap dan penduduk gurun, dinasti, kekhalifahan dan pekerjaan yang menguntungkan. Karya ini menjadi sumber dari berbagai ilmu sosial, seperti: sejarah, sosiologi, psikologi, ekonomi, dan sebagainya.

Pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun yang tertuang dalam Muqaddimah diakui merupakan dasar inspirasi bagi teori pajak yang dikenal dengan nama Kurva Laffer (Kurva penawaran). Muqaddimah juga dianggap satu di antara enam monograf penting dalam sosiologi umum setelah Positive Philosophy dan System of Positive Polity karya Comte, Principles of Sociology karya Spencer, Philosophy of History karya Hegel, dan buku Principles of New Science karya Vico (dari Fuad Baali & Ali Wardi: Ibnu Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, 1989).

Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa dia mendirikan ilmu baru, ‘ilm al-‘umran (ilmu tentang organisasi sosial). Hal ini diamini Heinrich Simon, sarjana Jerman yang menyatakan bahwa “Ibnu Khaldun adalah orang pertama yang mencoba merumuskan hukum-hukum sosial”.

Beberapa dasawarsa sebelum ditulisnya Muqaddimah, Ibnu Battutah –seorang musafir masyhur- menerbitkan laporan perjalanannya. Dari usahanya memahami nilai-nilai berbagai kelompok masyarakat yang dikunjunginya, boleh dikata Ibnu Battutah tidak mengalami “konflik batin”. Artinya, pikirannya terperangkap ikut ke dalam nilai-nilai masyarakat itu. Sedangkan, Ibnu Khaldun benar-benar dapat dianggap sebagai ‘manusia marginal”, orang yang hidup di antara dua masyarakat dan di dalam dua kebudayaan yang tidak hanya berbeda, tetapi saling bertentangan. Dia dibesarkan oleh konflik batinnya hingga dia berpegang pada posisi pertengahan antara peradaban (hadharah) dan hidup mengembara (badawah).

Salah satu tema menarik di dalam kitab itu adalah konsep ‘ashabiyah (solidaritas sosial) yang dinilai sebagai inti pemikiran Ibnu Khaldun tentang badawah (nomadisme-ruralisme), hadharah (urbanisme), dan tegak serta runtuhnya negara. Mendirikan negara adalah tujuan ‘’ashabiyah. Teori Ibnu Khaldun memaparkan dan menganalisis berdiri, berkembang, kematangan, kemunduran, serta kejatuhan negara. Dalam beberapa hal, ‘ashabiyah sebagai kekuatan pemersatu, analog dengan konsep modern: nasionalisme. Seperti ‘ashabiyah, nasionalisme bukanlah kesadaran identitas saja, aspirasi dan kesetiaan juga merupakan prasyarat bagi kelestarian kelompok.

Pararaton, Negarakertagama hingga Babad Tanah Djawi (apalagi yang ini) tidak melakukan pemikiran mendalam juga analisa sejarah politik. Kitab-kitab itu hanya memberikan rangkaian cerita riwayat para raja, yang banyak di dalamnya memberikan cerita-cerita mitos dongeng untuk menambah legitimasi para raja yang diceritakan itu. Cerita-cerita tentang pola kehidupan perekonomian, perdagangan, yang dilakukan rakyat di masa itu; juga perkembangan teknologi-nya tidak kita dapatkan dari kitab-kitab itu. Tentu saja Negarakertagama tidak mengulas dasar filsafat politik yang mendasari sistem dan struktur politik Majapahit. Apalagi Pararaton, yang sebagian besar hanya cerita mitos untuk Ken Arok. Tentu saja ini sangat jauh bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Khaldun di Afrika Utara, pada masa yang sama. Peradaban di mana Ibnu Khaldun dibesarkan memang telah mengenal pemikiran Plato dari Yunani yang telah digali lagi oleh Ibnu Rusyd di Granada. Rasionalitas Yunani dilandasi kemurnian teologi Tauhid dari Islam telah membangun pemikiran yang maju. Mitos dan dongeng mampu dipilahkan oleh Ibnu Khaldun sehingga tidak mengganggu pemikirannya yang cemerlang.

Bila saja orang sejenius Ibnu Khaldun pernah lahir di Majapahit atau Pajang, dan lalu mengembangkan pemikiran sosial, ekonomi, sosiologi dan terpenting adalah filsafat sejarah dan filsafat politik; bukan mustahil sebelum Nusantara kedatangan bangsa asing yang mau menjajah; Nusantara telah memiliki konsep politik yang cukup matang. Namun yang dimiliki oleh orang Jawa pasca Demak hanyalah dongeng-dongeng cengeng yang memalukan anak-cucu hingga berabad-abad.

-o0o-

 

 

Sumber Rujukan Penulisan:

  1. Ibnu Khaldun, Bapak Sosiologi Dunia; dimuat dalam rubrik Tokoh di majalah Hidayah edisi no 58 bulan Mei 2006, hal. 116-121. PT Varia Pop Group, 2006.
  2. Ibn Khaldun dan Kontribusinya di Bidang Sejarah; tulisan Dr. Ahmad Syafii Ma’arif dalam buku bunga rampai –nya Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, hal. 61-69. Penerbit Mizan, 1993. Tulisan ini berasal dari makalah yang disampaikannya dalam Simposium tentang Ibnu Khaldun yang diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta di Masjid Istiqlal, 25 Mei 1984.
  3. Pemikiran Politik Islam pada Zaman Klasik dan Pertengahan: Ibnu Khaldun satu uraian dari banyak ulasan dalam buku Dr. H Munawwir Syadzali; Islam dan Tata Negara : Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, hal. 90-110. Penerbit Universitas-Indonesia Press (UI-Press), 1993.
  4. Sejarah Nasional Indonesia III, editor oleh Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penerbit PN Balai Pustaka, 1984.

10 Komentar so far
Tinggalkan komentar

berkunjung aja😀

Kang Nur:🙂

Komentar oleh hmcahyo

baru tahu bahwa masa Ibnu Khaldun sama dengan Majapahit
seandainya beliau mampir di Majapahit

Kang Nur:
Yaa, ini saya cuman mengajak pembaca utk ber-imajinasi memang..🙂
Saya kira orang2 dari Hadramaut (Yaman dan sekitarnya) pd abad ke-14 itu juga ada yg pada berlayar ke kepulauam Nusantara. Namun, krn Ibnu Khaldun di Maghribi, ia malah banyak bergaul ke Eropa Selatan, tidak mampir2 ke Majapahit. Jadi,.. ya dua (tingkat) peradaban ini memang benar2 terpisah ruang dan waktu (fase).

Komentar oleh suwung

😀 assalamualekum mas? salut ama web anda karena walaupun ramenya kayak pasar sleman kalo gi paingan tapi tetep kosong iklan, moga semakin rame aja yha jgn cuma kalo paing lo hihihi

Kang Nur:
hihihi🙂 kalo masih kosong iklan itu kan krn akun gratis wordpress ini memang tak memungkinkan dipasang iklan pake skrip2 yg saya juga gak tahu itu?🙂.. lha kok mbak Lovely ini juga niteni kalo bbrp kali saya posting pas pasaran Paing?😆 lha saya ke warnet kan memang sekalian sama belanja ke pasar?🙂 kalo misal saya mentarget sebulan mosting 6 kali, berarti tiap 5 hari sekali. itu = sepasar pisan = pas Paingan😆

Komentar oleh aquamarine

Saya percaya kok….. di Nusantara ini banyak yang lebih jenius dari Ibnu Khaldun, bahkan Newton ataupun Einstein. Masalahnya mereka sering tidak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai bidangnya. Contoh, kita telah melahirkan banyak juara2 olimpiade Fisika tingkat dunia. Namun ketika mereka bekerja kelak, mereka lari ke luar negeri karena di dalam negeri, kesempatan berkembang sebagai ilmuwan sangat terbatas karena keterbatasan ini itu. Kalau sudah begitu, bagaimana kita tidak kehilangan putra-putri terbaik kita???

Kang Nur:
wa.. lha itu kan problema masa kini, bang Yari? wa,, ini agak OOT😆
posting saya di atas lebih menekankan kpd concern yg terkait dgn metodologi penulisan sejarah, di mana di negeri kita perkembangannya memang sangat ketinggalan. barulah para ilmuwan dr Belanda pd masa penjajahan kolonial yg memperkenalkan sejarah sbg satu disiplin ilmiah. sebelumnya, bangsa kita terlalu banyak menceritakan dongeng2..😦🙂

Komentar oleh Yari NK

Bila saja negeri ini tidak kebanyakan “bila saja”-nya..🙂

Lha nama anak saya itu apa miripnya dg anaknya Melly? Wong namanya bukan Lanang Anak Bangpay lho.. Hehehe…

Kang Nur:
Bila saja nama anak Bangpay adalah Lanang Anak Bangpay, maka nama anak Bangpay itu memang mirip anak Melly Goeslaw…😆 … Bila saja lho, Bangpay..

Komentar oleh bangpay

IBNU KHALDUN memang sosok yg berhasil memperlihatkan relasi antara kejeniusan dan konsep Islam.
Kita juga harus berhasil.🙂

Kang Nur:
Betul, pak. Tapi, ..”kita” itu siapa, pak?😆

Komentar oleh Herianto

kondisi nenek moyang kita secara kondisi dan tradisi memang berbeda dengan kondisi dan lingkungan tokoh tsb , apalagi dulu belum ada modem jadi sharing ilmu pengetahuan / pemikiran harus melalui kontak phisik langsung

btw, salam kenal Mas …ini warga baru sedang jalan2..

Kang Nur:🙂 Betul sekali apa yg Bang RJ bilang ini. Saya setuju. Posting saya di atas memang sengaja mengajak pembaca utk ber-“imajinasi liar” keluar konteks ruang dan waktu, mencoba meng-hubung2kan ruang dan waktu yg memang kenyataannya tidak/belum terhubung. Memperbandingkan perjalanan perkembangan peradaban2 di dunia ini.
Salam kenal juga. Terima kasih kunjungannya.

Komentar oleh RJ

hehe… bila saja di Tunisia ada jambu biji..
eh nggak ding kolera kan parasit, bukan diare biasa.. tapi coba ada jamu.. gimana ya?

Kang Nur:
wuah..😆 mas Ardianzzz ini kok malah ngebahas soal wabah kolera-nya..🙂
bila saja“-nya malah mengajak OOT nih🙂
lha kalo saat itu kolera telah dapat diatasi mungkin Ibnu Khaldun tidak terjun ke bidang politik, dan malah tidak bisa menghasilkan ilmunya yg warisan-nya itu dapat kita lihat kini itu…🙂

Komentar oleh ardianzzz

Saya juga pengagum Ibnu Khaldun sama kang Nur…
Kalau kitab Mukadimah saya sudah punya sedang Al-Ibarnya belum. Punya referensi tempat dimana memperolehnya…

Kang Nur:
wah.. bagus sekali tuh Bang. Lha.. hi..hi.. *malu deh* saya yg banyak ngomong gini, malah belum punya..🙂 ke-dua2nya malah😆
saya cuman mbaca2 dr sumber2 sekunder dan internet😆
Saya sudah muter2 Yogya belum ketemu, padahal Yogya juga gudang buku kan? Terbitan mana dan kapan tu Bang?
gimana kalo bang Tengkuputeh menulis juga ttg Ibnu Khaldun ni?

Komentar oleh tengkuputeh

Opo iyo to kang?prasaku “dimana langit dijunjung,disitulah bumi dipijak”.orang sana ilmunya menuju kemajuan kemakmuran,orang sini ilmunya menuju kehadapan TUHAN.kalou mengacu pada sejarah.nusantara adlh nenek moyang peradaban dunia cuma……..saking tuanya terkubur n terbelokkan oleh pemburu-pemburu dunia.coba tanya aja ma orang jepang,india,dllsiapa nenek moyangnya….ampe2 orang belanda mengusung aset budaya nusantara,soale ngakoni kang ikilho sumber peradaban………
Ko dikira dongeng sabdopalon itu ada!?karna kearifan itulah creritera itu tdk dijelaskan scra gamblang.kyak anak bayi dung makan aja diambilin,dibukain eh ngunyah aja dikunyahin.itulah kang leluhur kita…mengajarkan dalamnya ilmu itu tidak terukur dan tingginya tidak terbatas samapai batas akhir dunia,makanya kang anak cucunya diajari menggembangkanya hingga tak terbatas lewat dongeng2.dongen makna n khasanahnya ta terhingga kan jangkauanya,kalau ga bisa sperti yg diharapkan lbh dari pendahulunya se ya bukan anak cucunya x.wkwkwkwk prasaku ngunu kang.,,,,

Komentar oleh Gatholocho




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: