The Nurdayat Foundation


Psikoanalisa Politik Publik: Empat Model Adaptasi Mental Keturunan Anak Bangsa Terjajah
Minggu, 30 November 2008, 9:23 am
Filed under: budaya politik | Tag: , ,

 

Petruk Dadi RatuSaya sendiri sebagai orang Jawa juga sering penasaran, gemas dan gusar melihat dan merasakan bagaimana masyarakat (saya) -tempat saya lahir dan tumbuh- ini memahami “kekuasaan”. Orang Jawa Jogja itu nrimo, namun juga memegang keangkuhan. Seperti keras kepala fanatik dengan kepicikannya sendiri, lalu menganggap nilai-nilai yang berasal dari luar itu selalu lebih rendah. Merumitkan (to sophisticate) sesuatu kekalahan telak dan keterpecundangan dengan menganggapnya sebagai ke-adiluhung-an dan kebesaran jiwa. Diam halus tenang namun juga menyimpan aliran dendam. ..Begitu kesan saya sendiri. ..Apakah ini bukan termasuk akibat dari penjajahan yang lamanya lebih dari tiga abad oleh bangsa asing, lalu karakter ini adalah kompensasi dari keterjajahan itu ? Semacam ‘onani’ pelampiasan saja dari keterkungkungan keterjajahan yang nyatanya kami/kita tidak pernah kuasa mampu membebaskan diri darinya ? Jadi, lalu kita ini bersikap ngemong saja terhadap penjajah. …Ngemong penjajah. Lha, penjajah kok diemong? Opo tumon ? ..Hua..ha..ha…

Ini saya anggap memang semacam ekspresi bawah sadar dari ketertindasan abadi. Masyarakat tindhihen, kata Cak Nun yang saya ingat selepas Reformasi dulu. Setahu saya, tindhihen adalah kondisi tidak mampu bergeraknya fisik pasca mimpi buruk yang dialami. Mimpi buruk itu sedemikian mengerikan, namun saat terbangun justru lebih ngeri lagi, karena tubuh kaku seperti tertindih runtuhan tembok besi. Maka, daripada bangun, mungkin lebih memilih tidur lagi saja meski yang akan dijumpai adalah mimpi buruk itu lagi. Whueeh…

Gejala sikap aneh terhadap Kekuasaan itu ada beberapa macam saya lihat. Ini adalah sikap yang biasa ditunjukkan oleh orang jelata tuna-kuasa terhadap Penguasa yang biasanya memang Tidak Bermoral. Saya akan mengemukakan beberapa yaitu: Masochism Kekuasaan, Abdi Dalem Pemeras, Punokawan Togog Sarawita, dan Petruk (Kepeksa) Dadi Ratu.  Ini saya urutkan sesuai fasenya dalam gambaran saya.

 

Masochism Kekuasaan

Istilah ‘masochism’ ini saya ambil dari istilah satu model hal penyimpangan perilaku seksual itu, sado-masochisme. Bila sadisme adalah penyimpangan yang hanya bisa memperoleh kepuasan bila melakukan penyiksaan terhadap pasangan seks-nya, masochisme adalah sebaliknya. Masochist justru hanya akan menggapai puncak kepuasan bila mendapatkan penyiksaan dari pasangannya. Hanya dengan cara disiksa, dinjak-injak, dicambuk, dipukuli, ditampar-tampar, dijepit-jepit besi; penderita masochism ini bisa mendapat kepuasan. Inilah gambaran jelata yang justru merasakan kenikmatan tiada tara justru hanya bila ia dijajah, diperas dan diinjak-injak. …

Jadi, masochis ini  lebih daripada sekedar fatalis, atau yang dalam teologi Islam disebut faham Jabariah. Ini adalah akibat daripada kenyataan keterjajahan dari abad ke abad yang telah menjadikan keputus-asaan. Jelata merasa tidak mampu lagi mengubah keadaan. Merasa lemah tak kuasa, mereka menyerah kepada apa adanya. Perihal kekuasaan dan sistem-nya, mereka tak peduli lagi.

Jabariah berpaham bahwa manusia dalam melaksanakan perbuatannya dalam hidupnya adalah dalam keadaan ‘terpaksa’. Ini seperti menghindar dari perbuatan dan keadaan, yang hakikatnya berasal dari manusia sendiri, lalu menimpakan kesemuanya itu kepada Tuhan, kuasa adi kodrati.

Paham seperti ini dapat muncul maujud dalam berbagai gejala dan fenomena. Misalnya; berbondong-bondongnya rakyat mendaftarkan diri sebagai ‘budak’. Bukan hanya karena himpitan ekonomi, namun menjadi budak memang lebih mudah. Serahkan saja nasib kita kepada ‘Penguasa’, dan tidak usah berpikir lagi lainnya. Toh, pengalaman menjadi majikan memang tak pernah punya.

Menurut pendapat saya, sekularisasi politik Jawa -dalam sejarahnya- adalah benar-benar berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan sejarah sekularisasi politik Eropa. Bagi  Jawa/Nusantara, kolonial Belanda mengarahkan anak bangsa pribumi ke arah sekular setelah juga atas rekomendasi ilmuwan Snouck Horgrounje.

Jadinya yang selanjutnya yang berkembang, inti ‘Masochis Kekuasaan’ ini adalah: Dijajah mlumah-mlumah malah bungah (dijajah secara terang-terangan dan terbuka hingga terkapar telentang, namun justru senang menikmatinya).

 

Abdi Dalem Pemeras

Dunia ini sejak lahirnya telah terbagi ke dalam dua kelas, yaitu: Kelas Raja dan Kelas Abdi Dalem (Demikianlah dasar pandangan umum tak terlawan yang mendasari orang yang bersikap Abdi Dalem Pemeras ini). Abdi dalem tidak mungkin akan pernah menjadi Raja. Jangan pernah berpikir untuk melawan Raja. Menempatkan diri dalam posisi yang berlawanan dengan Raja saja tidak boleh. Kualat nanti. Ini hukum alam asali. Hukum alam asali tidak akan terlawan. Yang melawan hukum alam justru akan terdepak dari kehidupan ke lapisan yang lebih hina lagi. Satu-satunya pilihan untuk abdi dalem hanyalah menghamba kepada Raja. Memperoleh kedekatan dan disayangi oleh Raja, itulah puncak pencapaian prestasi abdi dalem.

Maka abdi dalem tidak pernah bilang ‘tidak’, paling-paling hanya “ya,ya, sendika Sinuwun, ..akan tetapi..”. Tak akan ada ketidak-setujuan saat berhadapan muka; bilalah ada lain maksud dan kepentingan, maka paling-paling hanya akan cari jalan samping atau lewat jalan belakang tanpa sepengetahuan Raja. Muka pasti manis di hadapan Raja, meski di belakangnya bersungut-sungut. Raja akan memberi, bila abdi dalem mampu bikin Raja senang. Asal Raja senang, = ARS. Dijunjung-junjung dan didukung-dukunglah Raja itu sekuat-kuatnya selama-lamanya, karena Raja memang harus dibikin senang. Bagaimana-lah caranya agar Raja selalu merasa senang dan tersanjung. Tersanjung ? Masih butuhkah Raja akan sanjungan ? Kebutuhan Raja akan sanjungan adalah tidak terbatas.

Didorong-doronglah raja itu sampai ke puncak, meski abdi dalem tahu bahwa di puncak situ mungkin Raja akan tergelincir. Yang penting Raja senang. Yang penting duit datang. Yang penting bisa kenyang. Raja yang sudah besar kepala-nya dipompa terus oleh abdi dalem ini. Tak peduli nanti kepala Raja meledak. Yang penting uang mengalir. Dicari-carilah macam proyek kerjaan untuk diusulkan kepada Raja, katanya itu demi kemuliaan Raja dan kebesaran namanya. Sesungguhnya abdi dalem yang cerdik-cerdik ini hanyalah penjilat dan pemeras. Merekalah abdi dalem pemeras.

Tapi jangan sinis dan marah. Mana sense of humor-mu ? Bukankah ini kecerdikan yang jenaka ?

 

Punokawan Togog-Sarawita

TogogDi dalam wayang purwa, ada punokawan. Punokawan adalah abdi-pengawal yang mengasuh para ksatria. Para punokawan ini selalu mengikuti kemana para ksatria pergi; mengawal, mendampingi, memberi penghiburan, saran-nasihat kepada ksatria. Punokawan terbagi menjadi dua kelompok; kelompok Semar-Gareng-Petruk-Bagong, satunya lagi adalah kelompok Togog-Sarawita/Mbilung. Awalnya hanyalah Semar dan Togog; sedangkan teman-teman atau anak-anak, atau yang mendampingi lainnya itu baru datang kemudian

Semar dan Togog dulunya sebenarnya adalah dewa, tiga bersaudara dengan Bathara Guru. Semar adalah tertua, lalu Togog, dan Bathara Guru adalah adik bungsu mereka.

Sang Hyang Wenang (Dewa Penguasa Tertinggi) menguji mereka bertiga untuk menentukan siapa yang akan mendapat hak berkuasa di Kahyangan Suralaya. Mereka disuruh untuk memakan rembulan, dikatakan bahwa yang dapat menghabiskannya sekali telan-lah yang akan dinyatakan sebagai pemenang. Mereka mencoba, Semar dan Togog begitu bernafsu. Semar makan rembulan, rembulan menyangkut di pantat. Jadilah pantat Semar melembung. Togog mengangakan mulut selebar-lebarnya untuk makan rembulan itu, sampai mulutnya robek. Bathara Guru bersabar. Semar dan Togog dinyatakan kalah, Bathara Guru-lah yang menang. Karena Semar dan Togog kalah, mereka diperintahkan untuk turun ke alam mayapada, membimbing para ksatria di alam dunia. Semar membimbing ksatria yang berwatak dasar baik, Togog membimbing para ksatria yang berwatak dasar jahat.

Meskipun mendapat tugas untuk membimbing para ksatria yang berwatak dasar jahat, bukan berarti Togog selalu mendukung sikap perbuatan para ksatria itu. Ia tetap bertanggungjawab untuk mengarahkan ksatria jahat itu ke arah kebaikan. Maka dapat dibayangkan betapa berat tugas yang dipikul oleh Togog ini. Ksatria yang dia bimbing ternyata cenderung untuk selalu berbuat jahat, sehingga si Togog pun kewalahan selalu. Bagai nanny yang mendapat anak asuhan yang sangat nakal. Togog tanpa lelah selalu mengarahkan ke arah kebaikan, dan mencegah tuannya dari berbuat jahat. Namun karena ternyata ksatria itu tetap memperturutkan nafsunya untuk berbuat jahat, hubungan antara tuan dan abdi pengasuh ini selalu diwarnai perdebatan dan pertengkaran. Karena ksatria jahat tak dapat diingatkan lagi, adakalanya Togog karena saking gemasnya lalu sengaja menjerumuskan tuannya sekalian.

Namun dalam konteks wacana metaforis yang saya bikin ini, kita sebelumnya belum tahu bahwa kita ini adalah Togog. Kita mungkin masih menyangka bahwa diri kita adalah Semar dkk. Kita hanya berniat dan siap sedia untuk menjadi punokawan, jelata buruk rupa titisan dewa yang bertugas mengawal para ksatria. Kita adalah punokawan. Baru tahulah kita, apa kita ini Semar atau Togog, setelah mengetahui dan membuktikan perilaku dari tuan ksatria yang kita kawal itu. Bila tuan ksatria yang kita kawal itu ternyata jahat, maka terbuktilah bahwa kita ini adalah Togog. Bila sudah seperti itu, maka berbuatlah sebagaimana Togog harus berbuat. Kamu adalah Togog, bukan Semar. Atau mungkin kamu adalah Mbilung, bukan Petruk.

SarawitaBila kamu Togog, jangan bermimpi bahwa kamu akan mampu ‘membangun kahyangan’. Yang ada juga lakon Semar Mbangun Kahyangan; tidak ada itu Togog Mbangun Kahyangan. Lalu juga bila kamu Mbilung; maka jangan bermimpi bahwa kamu akan dadi ratu (menjadi raja). Karena yang ada hanyalah lakon Petruk Dadi Ratu, tidak ada itu Mbilung Dadi Ratu.

Satu-satunya hal terakhir yang dapat dilakukan oleh Togog cs memang hanyalah: menjerumuskan tuannya.

 

Petruk Dadi RatuPetruk Dadi Ratu gaya Cirebon

Saat ksatria tidak dapat dapat lagi diharapkan, tidak dapat lagi menjadi tumpuan harapan rakyat; punokawan pun akhirnya harus tampil sendiri. Itu hanya terjadi karena perkembangan situasi memang telah menjadi darurat. Negara dalam keadaan darurat, dan karena para ksatria tidak mampu lagi menjalankan amanat dan melindungi rakyatnya; punokawan tampil sebagai wakil suara rakyat yang mendapat berkah Tuhan.

Petruk pun Dadi Ratu.

Tapi bila kau adalah Arjuna yang menyeleweng, janganlah kau menyamar menjadi Petruk, untuk  menyiasati agar kamu mendapat simpati rakyat dan berkah Tuhan, lalu berharap dapat Dadi Ratu.

-o0o-


28 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wah, sebuah analisis yang tajam mengenai gaya dan kekuasaan versi jawa. tulisan yang mencerahkan ini, mas. salut banget. begitulah, agaknya pertarungan dan perebutan kekuasaan akan terus ada dan berlangsung sepanjang peradaban umat manusia.

Kang Nur:
Betul, Pak Guru. Terima kasih atas kunjungannya, komentarnya, dan pinjaman gambar-nya.😆
Wah, terima kasih lho pujiannya, Pak. Ini kan pujian dari seorang penulis blog senior. Sangat berharga bagi saya.
Pak Guru, saya baru belajar menulis. Tapi saat saya mem-publish tulisan ini, saya memang cukup puas melepas-nya, meski belum dibaca orang. Seperti seorang ibu yang melahirkan ‘kali. Untuk menulisnya tidak membutuhkan waktu terlalu lama sih, namun ‘pengendapan2’ ide-nya sudah saya rasakan dan renungkan cukup lama. Terima kasih juga saya ucapkan pada Mas Salikh Mbeling yg rajin berkomentar dan sesungguhnya “telah turut membangun” ide ini. Saya tinggal sedikit me-milah2nya dan menyusunnya dalam kata2 utk saya sajikan kpd pembaca.
Smoga ada benarnya dan manfaatnya.🙂 Utk otokritik budaya politik Jawa.🙂

Komentar oleh Sawali Tuhusetya

kadang kadang, nalar sirna dening panarima lho kang…

Kang Nur:
???😆 berarti panarima itu menjadikan orang jadi malas berpikir dan tidak kritis kan ?

Komentar oleh bocahmiring

Wah, ulasan yang tirik2 dan seakan mewakili apa yg ada di benak sebagian kita yg merasakan hal tersebut. Memang benar Mas, terkadang kita mengagung2kan sesuatu yang sakjane ndak agung2 banget, dan lalu memvonis kebudayaan lain itu negatif. Juga kebiasaan nrimo dan munduk2 pada sesiapa yg mestinya malah harusnya yg melayani kita. Apalagi di era otonomi, banyak bermunculan pelayan masyarakat yg malah berubah fungsi menjadi raja kecil.
Selamat Berjuang,
Sukses buat Mas Nur.

Kang Nur:
Reformasi belum selesai ya Pak? Dan siapkah kita menerapkan demokrasi?🙂

Komentar oleh marsudiyanto

Rumit. perlu pemahaman pewayangan dan antropologi yg mendalam… Buat sebuah kritik ttg kebudayaan dari dasar kebudayaan itu sendiri…

Kang Nur:
Ini baru ‘uji coba’ saya, Tengku. Otokritik kepada budaya sendiri utk menguji pemahaman saya thd budaya sendiri. Kalo para ahli budaya Jawa meng-koreksi-nya, maka saya akan memperoleh pemahaman yg lebih tepat. Kalo ahlinya tidak ada yg meng-kritik, ya mari kita anggap bahwa tulisan saya ini memang sudah tepat sesuai kenyataannya.🙂

Komentar oleh tengkuputeh

kisah pewayangan meskipun sdh berabad2 lampau, namun ternyata bisa trjadi di masa depan, seperti deja vu ajah😀

Kang Nur:
Ya🙂 saya kira itu karena pembuat kisah wayang sudah benar2 memahami watak dasar manusia, maka kisah dalam wayang sesungguhnya menjadi perlambang/simbolisasi dari apa yang terjadi dalam kehidupan nyata manusia. dan hasrat2 manusia sejak dulu hingga kini, sesungguhnya tak beranjak jauh2.🙂

Komentar oleh perempuan

Kabegjan dalam kelemahan. Andai Semar nggak mampu makan rembulan? Akankah Semar yang jadi penguasa kahyangan. SALAM

Kang Nur:
Setahu saya begitulah cerita pakem-nya.🙂 Memang begitu kok cerita yg diakui oleh pedalangan yg baku/standar/pakem itu.
Saya sendiri dulu membacanya dari buku tjetakan lama sekali, milik orangtua saya, sayang kini sudah hilang, berisikan cerita pakem wayang sejak Semar masih di kahyangan itu, hingga Jumenengan Parikesit… Maka saya tak mau ber-andai2.🙂
Namun bila kita lihat, ini mirip turunnya Adam (&Hawa) dari surga (pertama dulu). Kesalahan Adam hanya sekedar ‘mempercepat’ turunnya ke bumi alam dunia, karena sejak semula ia memang diciptakan Tuhan utk mengelola dunia. Begitu pula ada miripnya dgn Semar dan Togog itu, bukan mustahil sejak awal mereka telah diciptakan utk diarahkan menuju tugas membimbing para ksatria itu.
Sedangkan dewa2 di kahyangan memang tidak mati atau menjadi tua, namun mereka juga ada berbuat kesalahan. Dalam hal itu maka Bathara Guru juga bukanlah tokoh panutan yg paling patut ditiru dan bahagia. Bila Bathara Guru berbuat salah, Semar masih akan mengingatkannya. Bathara Guru pun tetap memanggilnya ‘Kakang Semar’.🙂

Komentar oleh lovepassword

Tulisan yg suangaaat bagus kang, bravo kang Nur. tapi mungkin (sekedar usul) seyogyanya judulnya diganti saja kang, jadi : Potret Diri…!!!, atau Cermin Diri…!!!.

Maksudnya untuk bercermin diri buat kita yg membacanya, buat memperbandingkan wajah kita, agar kita merasa (repotnya, kita tak pernah merasa, kalaupun merasa ya cuek aja, egp aja ah) kita ini Petruk atau mBilung, kita ini Semar atau Togog.

Juga buat mengingatkan, bahwa selama ini kita salah dalam memperbandingkan diri. Selama ini selalu saja kita memperbandingkan rupa wajah dan kelakuan kita dengan Janoko, Gatotkoco, Wrekudoro. Dada tengadah muka mendongak, merasa kita ini keturunan kastanya poro Satrio, merasa kelakuan kita itu sebagai sebuah Dharmaning Satriyo yg tanpa pamrih.

Eh, gak tahunya kita ini memang keturunannya kasta Kesatriya tapi satriyo yg kelakuannya seperti kastanya poro Punokawan. Potret kelakuan kita sama seperti leluhur-leluhur kita, lebih cocok diperbandingkan dengan Togog, Semar, mBilung, Petruk, bahkan mungkin yg lebih paling pas perbandingannya justru dengan Limbuk.

Para Leluhur kita itu sesungguhnya hanyalah segerombolan poro satriyo dg kelakuan Punokawan, yg diJajah Mlumah-Mlumah Malah Bungah…!!!.

Begitu kang ?.

Tapi ada satu catatan kang, menurut saya rasanya semua itu bukanlah akibat dari keterjajahan kita selama lebih dari tiga abad oleh bangsa asing.

Tapi justru memang dari sononya sudah seperti itu, kemudian oleh bangsa asing dibaca kelemahan kita itu, sehingga mereka mampu melanggengkan penjajahannya terhadap kita sampai lebih dari tiga abad.

Jadi, janganlah buruk muka lalu cermin dibelah.
Enakan ‘Belah Duren’ agar dapat menikmati yg Mlumah-Mlumah nGawe Bungah…!!!.

Kang Nur:
Whuaa lha iyaa…..😀
Lhah ya apa kalo diberi judul ‘Potret Diri’, berarti saya jelas2 masuk, bahkan menjadi bagian pokok dari itu, dong?🙂 Begitu pula bila ‘Cermin Diri’.😆 Saya ‘kan masih punya rasa risih juga menjadi bagian dari ini semua??🙂 Jangan sampai juga tulisan ini menjadi semacam ‘serangan’ saya kepada saudara2 saya sendiri dong.. Maka ambil judul yag lebih obyektif, sok-ng-ilmiah saja deh. Maka tulisan ini adalah hypothesis. Kalau ada ‘saudara2 saya’ yg membantah dg argumen yg kuat, mungkin saja isi tulisan saya ini salah. Tapi bila tak ada yg membantahnya, silakan saja boleh dianggap bahwa ini pengakuan ‘kami’ bareng2.😆

Kebanyakan warga awam termasuk saya, sejak awal memang secara sadar dan bangga menempatkan diri sbg punokawan, mas Salikh. Punokawan adalah posisi yg sangat terhormat dlm pewayangan, tidak paralel dg kasta2 di luar dunia wayang, saya kira. Punokawan adalah orang merdeka, karena ia/mereka adalah makhluk ‘luar biasa’ yg khusus dititahkan oleh Sang Hyang Wenang sendiri utk tugas mengawal ksatria. Dlm hal ini maka memang punokawan dan ksatria itu memiliki tugasnya sendiri2 yg berbeda. Punokawan adalah ‘suara rakyat’ sekaligus ‘suara Tuhan’. Kesederhanaan tanpa pamrih macam2. Ini sekedar meluruskan konteks wayang-nya.🙂 Jangan sampai para pecinta wayang nanti marah kepada mas Salikh.🙂

Soal bahwa model2 mental ini adalah akibat keterjajahan, saya kira ini ada bbrp dikupas oleh Rendra sastrawan kita, Cak Nun,; dalam bbrp tulisan mereka yg saya dapat (bisa kita dapatkan). Ada digambarkan di situ bahwa karakter orang Jawa sebelum Mataram Amangkurat berkuasa itu agak lain dgn karakter orang Mataram Jawa kini. Feodal-agraris dr sebelumnya Demak yg maritim-egaliter, ada kaitannya dg ini juga kiranya.

Pokoknya Bungah deh.😆

Komentar oleh Salikh mBeling

hahaha.. saya jadi ingat novel “manyura” tapi lupa siapa yg nulis..
hei sekedar masukan. kalau menurut saya yang diulas di atas bukanlah adat ‘jawa’ tapi adat kerajaan-kerajaan atau feodalisme di tanah ‘jawa’.
setahu saya orang jawa yang benar2 kuno dulu tidak memiliki yg namanya raja atau apalah.. entah yang jelas setahu saya di jawa sudah ada yang namanya kebudayaan sejak jaman sebelum kerajaan-kerajaan pertama..
mungkin..
heheh…

Kang Nur:
wa krn koment mas Ardianz ini saya lalu search Manyura itu. Saya mendapatkan posting artikel menarik berikut:
Novel Dystopia dari Indonesia ?
Penggambaran Pemerintah di dalam Fiksi
Berbicara ttg Jawa, memang perlu disiapkan pertanyaan: “Jawa yg mana?”. Orang Samin juga Jawa ‘kan ya? Tapi justru Samin inilah yg paling ‘eksistensialist’ dan fenomenal karenanya. Agama-Adam sedulur-sikep ini adalah contoh keteguhan keyakinan utk bersikap merdeka.🙂

Komentar oleh ardianzzz

Sudut pandang analisanya tajam banget, Kang Nung. Bernas!

Namun tentu saja ini dalam konteks ke-Jawa-an.

Kang Nur:
Trims atas support-nya Bang Daniel. Lha inilah yg saya coba dalami Bang, konteks ke-Jawa-an.🙂

Komentar oleh Daniel Mahendra

Hebat..Bener-2 faham Pewayangan walo di tengah hiruk pikuknya Grup Band Ungu dll.
Salut Mas…

Kang Nur:
ya saya ini wong Jawa Yogya ndeso, mas🙂

Komentar oleh humorbendol

Di mana-mana dan dari zaman dulupun yang namanya penjilat telah ada, apapun budayanya tak berpengaruh, penjilat tetaplah penjilat.

Yang membedakan adalah kebijaksanaan (dan juga kecerdasan) sang tuan untuk berfikir rasional dan teliti dalam mengidentifikasi si penjilat. Sebaliknya di setiap diri seseorang ada potensi untuk menjadi seorang penjilat. Namun mereka yang bijaksana dan berwawasan jauh (dan cerdas), jilatan mereka adalah untuk kejayaan dan kebesaran bersama, sementara mereka yang picik dan sangat egois, jilatan mereka hanyalah demi kepentingan pribadi semata-mata…..

Kang Nur:
koment Bang Yari menegaskan sinyalemen saya🙂

Komentar oleh Yari NK

diriku terilhami dari petruk mas
kantong bolong… dadine suwung gak ono opo-opone

Kang Nur:
ya Mas Suwung. Petruk itu punokawan yg cerdas.🙂 ‘Kantong’-nya ‘bolong’ lagi.

Komentar oleh suwung

ck ck ck ck jian uwapik kang
tulisane kok bisa ya rapi runut tapi sarat makna

Kang Nur:
wa.. trimakasih dik Cebong. berarti situ sudah baca ya?😆

Komentar oleh cebong ipiet

wah tulisan yang luar biasa dan pencerminan carut marutnya kepemimpinan atau kekuasaan yang saling diperebutkan dan dibudayakan hahaha
salut analisanya
salam kenal salam hormat dan terima kasih

Kang Nur:
berarti selain budaya-perebutan, ada juga perebutan-budaya di sini ya mas Kelir?
wa.. koment mas Kelir ini meski singkat tapi menambah perspektif🙂
terimakasih juga utk mas Kelir🙂

Komentar oleh genthokelir

KAGET BANGET,,,TERNYATA PEREBUTAN KEKUASAAN ITU TELAH ADA SEJAK LAMA….THANKS ATAS TULISANNYA PAK…SALAM KENAL

Kang Nur:
wa duh😆 bikin mbak Dona jadi kaget ya?🙂
ini sekedar hypothesis kok, mbak. saya lebih senang bila orang2 Jawa semacam saya mau membantah tulisan saya di atas. bila tak ada yg membantah, maka memang saya juga takut kalo sinyalemen saya di atas itu memang benar2 nyata.🙂

Komentar oleh donapiscesika

Kulanuwuun..kang Nur
Seru dan kritis tulisannya, bagus untuk otokritik.
Selama ini memang banyak stigma terhadap Manusia Jawa, terutama soal nrimo ing pandum, dan lambat. Adapula stereotip yg kontradiktif; misalnya orang Jawa itu keras kepala, tapi di sisi lain dianggap terlalu toleran..?? Lepas dari hal itu, adanya stigma, stereotip, yang menjadi biangnya adalah adanya distorsi akan ajaran atau falsafah Jawa sendiri. Tetapi yg lebih mengagetkan, stigma, stereotip, distorsi budaya Jawa tidak semata-mata kurangnya informasi akan “kasunyatan” ngelmu jawa, tetapi lebih dari itu, secara sengaja atau tidak, budaya Jawa Tengah mengalami cultural assasination. Begitulah istilah sopannya, jika tak boleh dikatakan sbg cultural cleansing. Masyarakat harus jujur; lihat saja sekarang ini gencar sekali kearifan lokal digulung oleh westernisasi (bukan modernisasi); eropanisasi, amerikanisasi, termasuk pula gejala mutakhir yakni; arabisasi. Justru yg terakhir ini yg paling berbahaya, sebab bukan kebaikan yg diajarkan, tetapi POLITISASI AGAMA. gejalanya semakin menjadi-jadi; coba cermati apa saja maunya MUI dgn fatwa-fatwanya; fatwa kharam !! Masih beruntung tdk semua keinginan hawa..(rasaning karep) para “oknum”nya berhasil diwujudkan. Kharam merokok…kharam golput, jilbabisasi (di suatu sekolah Tangerang bahkan termasuk untuk non-muslim). Apakah lama-lama bisa mengkharamkan PANCASILA dan BHINEKA TUNGGAL IKA..? Dengan kata lain dasar ideologi negara dirubah. Bubarlah nusantara !
Memang kita sadari, pendidikan ngelmu jawa secara formal semakin ditiadakan, dianggap tdk layak buat cari makan, menghambat laju ekonomi dan teknologi, menjadi aral bagi niaga dan int’l commerce..bahkan ajaran Jawa dianggap sumber syirik dan musyrik. Ini seperti halnya orang buta pegang buntut gajah. Gajah itu buruk, kecil panjang kayak ular. nggak punya mata dan kuping.
Atau sama saja mengatakan Islam itu tidak bagus, lantaran menteri agama kok menyelewengkan duit jemaat puluhan milyar. pak haji-bu haji kok suap menyuap, berjilbab kok selingkuh dan mesum. Kyai kok menghamili santriwatinya. Begitulah manusia diajari oleh alam untuk lebih bijak.

Kenyataan bahwa masyarakat Jawa sendiri sudah ilang jawane (kajawan rib iriban). Hanya mengenal kulitnya, daripada hakikat ajaran Jawa.
Apa yg dimaksud nrimo ? Orang salah tafsir, sehingga muncul custom baru yg distortif, sikap nrimo berubah menjadi fatalis !! Yah ini salah gede. Jauh panggang dari api, kasihan para leluhur nenek moyang kita dulu, susah-payah merumuskan ngelmu jowo,
padahal “Nrimo” itu bentuk “topo ngeli”, menghanyutkan diri ke dalam energi Tuhan. Di dalamnya tetap berusaha “berenang”, agar tidak tersangkut batu-batu kali. Berusaha sekuatnya agar tidak memaksakan kemauan diri. Mengerahkan energi untuk tidak dikuasai kehendak nafsu, karena nafsu hanya akan membebani tubuh ini sehingga menenggelamkan diri di dasaran sungai…lalu menjadikan hidup ini bagai mati (bangkai) hilang sifat kemanusiaannya.
Hakekat sikap nrimo..sesungguhnya merupakan energi dahsyat (full power) dalam mengendapkan nafsu, lalu membiarkan diri berada dalam arus “sungai” kekuatan dan kehendak Tuhan. maka, pasti sampailah diri ini pada MUARA di DALAM SAMUDRA KABEGJAN.
rahayu

Kang Nur:
Pak SabdaLangit, terimakasih banyak atas tulisan tanggapannya di sini yg dgn begitu menjadikan tinjauan ini scr keseluruhan menjadi lebih utuh, lengkap, dr lebih banyak sudut pandang.
Tapi utk melengkapinya lagi, ijinkan saya mengusulkan satu rangkai pertanyaan yg kiranya ini patut kita ajukan bersama, yaitu: Di dalam ‘pasar bebas’ budaya ini, di manakah peran orang Jawa itu sendiri? Sebagai produsen budaya atau sekedar konsumen budaya-kah? Sebagai
subyek atau sebagai obyek semata? Orang2 Jawa itu adalah orang2 merdeka yg berhak memilih, ataukah orang2 teraniaya yg dipaksa utk memilih sesuatu di bawah tekanan? Kalau teraniaya dan tertekan, siapakah yg telah menganiaya dan menekan itu? Apakah orang2 Jawa sendiri menganggap mereka sbg orang yg terjajah? Mereka/kami/kita mengambil nilai2 dr luar itu sbg orang merdeka yg bebas memilih atau tidak?
Bila orangtua/leluhur memang tidak memiliki semacam ‘mekanisme’ utk mewariskan nilai2 yg sesungguhnya juga dibutuhkan oleh generasi penerusnya, juga tidak jelas macam apakah nilai2 yg mau diwariskan itu; generasi muda penerus memang akan selalu mencari nilai2 yg ingin mereka jadikan pegangan itu darimanapun sumbernya.
Terimakasih atas penjelasan ttg arti NRIMO. Ini meluruskan ttg pengertian NRIMO.
Peace.
Salam.
Rahayu.

Komentar oleh sabdalangit

Matur sembah nuwun kang atas penisbatan sebagai ‘telah turut membangun’ ide tulisannya panjenengan tsb diatas.
Kehormatan besar buat saya, dadi gede sirahku, he3x.
Sesungguhnya ‘kegatelan’ tangan saya nulis komentar ndak sejauh itu pengaruhnya, saya yakin ide itu ya karena kang Nur yg kreatif & inovatif saja.

Kang Nur:🙂 Bagi setiap pemilik sekaligus penulis di blog, pembaca tetap yg antusias adalah partner; komentar2 yg masuk adalah ‘bahan bakar’ penyemangat utk tetap menulis dan menulis, sekaligus inspirasi utk ide penulisan baru. Trims.

Komentar oleh Salikh mBeling

Ini asyik. Thx. Utamanya soal Togog/Mbilung yg gak bisa mbangun kayangan/dadi ratu, kecuali njlomprongke.

Kang Nur:🙂 Saya hanya bisa senyum, mBah.🙂

Komentar oleh bah reggae

Togog/mBilung pancen senengane njlomprongake, ananging satriyone ugo seneng di-jlomprongke lan malah njaluk di-jlomprongke, jarene ora mung njaluk ananging malah mrentahke Togog mBilung gawe ukoro sing ketoke deweke di-jlomprongake, trus kepiye yen ngono hayo ?.

Kang Nur:
wah, saya tidak tahu ini🙂

Komentar oleh Salikh mBeling

betul2 mengena kang…
petruk dadi ratu tidak sama dengan kere munggah bale lha yaw…

Kang Nur:😆 kalo sepengetahuan saya sih mas Tjiwir.. kere munggah bale adalah satu frase cercaan/umpatan yg sinis terhadap orang yg berkedudukan tapi tidak kuat mental dlm jabatan-kedudukannya itu, lalu dilihat flashback-lah latar belakang orang tsb, yg ternyata memang dr jelata hina-papa. Jadi diungkitlah latar belakang masa lalu si pejabat yg tak kuat mental itu, yg dr jelata hina papa itu.
(Kere = orang miskin jelata hina papa; munggah = naik; mbale = tempat kedudukan / bangunan yg lebih tinggi dan terhormat). Karena tidak terbiasa berkedudukan tinggi, dalam posisinya itu ia menjadi salah tingkah dan menggila.
Kere munggah mbale lebih tepat diterapkan kepada kejadian yg bersifat musibah, sedangkan Petruk Dadi Ratu itu saya kira lebih mirip kepada: datangnya Ratu Adil berwujud si Petruk itu (jadi= berkah). Petruk yg punokawan menjadi pahlawan yg tidak terlalu kesiangan, krn kalangan satriyo memang sudah tidak ada yg mampu lagi.
Begitu sepengetahuan saya.🙂 Bagi yg lebih tahu silakan meng-koreksi bila saya salah.🙂

Komentar oleh ciwir

di tunggu postingan selanjutnya dah kangen analisa dan kemerdekaan berpikirnya hahaha
salam salut dari gentho ndeso

Komentar oleh genthokelir

tulisan yang sangat mencerahkan Mas, saya cuma bisanya nggrundel nglor-ngidul sambi nulis puisi seperti ini

GEDIBAL

Bahasa yang indah adalah bahasa Tuan
Bahasa kami gonggongan anjing liar
Pikiran yang mulia adalah pikiran Tuan
Pikiran kami pikiran otak udang

Kami bangsa taklukan
Diperbudak di tanah moyang
Para perempuannya pemuas zakar
Lelakinya penjilat pantat
Kaum muda layu tunas tidak berakar
Kaum tua lapuk kayu dimakan ngengat

Jangan minta kami berjuang
Kemerdekaan cuma bidaah besar
Upah kami surga di tangan
Kau bilang fatamorgana ?

Enyah kau setan !!!
Lolonganmu tak kami butuhkan
Kami dilahirkan dari kebohongan
Kami dihidupi oleh kebohongan
Jangan pernah kau ambil dari kami
Karena hanya itu …
Sisa-sisa hajat untuk kami makan

Komentar oleh tomyarjunanto

sebuah tantangan integrasi nasional.
Atas nama kemanusiaan
perduli
lah terhadap lingkunganmu.

Salam

Komentar oleh cenya95

Asal Bapak Senang = Asal Raja Senang = Raja adalah Wakil Tuhan setingkat Dewa = Raja boleh berbuat apa saja asal atas nama tuhan, walau berakibat kerajaannya hancur.
Wayang = budaya yang hidup dalam cerita mini, yang berisi nasehat agar bisa bersikap nerimo dan dunia tidak hancur.

Komentar oleh sulaiman

analisanya bagus…lanjutkan dengan real action untuk merubah doktrin yang salah…anda berharap jadi semar?padahal orang2 yg anda anggap ksatria adalah mereka2 yg hampir2 out of control…jadi mau tidak mau, anda adalah togog alias mbilung…jika anda berharap menjadi semar…sebaiknya anda juga double peran sebagai Adipati Karno…

Komentar oleh arstiani

Manthap kang 🙂

Komentar oleh abh3s

Pun to kalo memang sudah gak bisa digagas dibahas bangsa ini mari kita kembalikan semua kepada YANG PUNYA….. arepo dikoyo opo ae kayae ndak tahu kpd kebenaran kok

Komentar oleh Pakne Nuril

kurban mimpi buah (nanam) demokrasi.apa saja deh…

Komentar oleh lhakok




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: