The Nurdayat Foundation


Contreng dan Substansi Pemilu
Rabu, 11 Maret 2009, 3:39 pm
Filed under: budaya politik | Tag:

contreng

Sebenarnya siapa / pihak mana sih yang pertama kali mengusulkan bahwa Pemilu Legislatif 2009 mendatang ini tanda pilih yang dipakai di kertas surat suara adalah dengan cara mencontreng ? Lalu tujuan sebenarnya dan manfaat dari penggunaan cara contreng ini sebenarnya apa sih ? Jangan-jangan hanya karena menganggap bahwa memilih dengan cara mencoblos itu primitif dan ‘kurang terpelajar’ ? Sebagaimana pernah saya baca di satu media berbulan lalu, WaPres JK menyatakan bahwa negara di dunia ini yang masih menggunakan cara coblos pada cara menandai pilihan pada kertas surat suara Pemilu-nya, hanyalah tinggal dua negara, yaitu Indonesia dan satu lagi negara mana gitu. ..
Pertanyaannya: Apakah opsi teknis ini dilakukan hanya karena agar jangan sampai dianggap ketinggalan jaman tentang hal teknis seperti itu ? ..Wah. Lalu lebih naif dan parah lagi bila kemajuan demokrasi kita lalu hanya dinilai dari opsi cara teknis penandaan pilihan yang dilakukan pemilih pada kertas surat suara. Memangnya nggak ada aspek-aspek substantif lain yang perlu dijaga dan dimantapkan selain daripada urusan teknis penandaan macam gituan ? Kurang kerjaan betul. Mencoblos diubah mencontreng, tidak substansial, hanya menambah-nambah PR untuk sosialisasi ke masyarakat yang pendidikan politik yang diperolehnya masih sangat kurang.

Setiap perubahan sekecil apapun tentu tetaplah membutuhkan penyesuaian terhadapnya. Perubahan dalam hal teknis memilih ini, dalam pandangan saya -yang juga ada beberapa kali terjun langsung bersosialisasi tentang Pemilu ke masyarakat umum-, memberikan beban tambahan yang seringkali saya rasakan justru menjauhkan dari isu-isu yang lebih substansial dalam Pemilu kali ini. Alih-alih daripada banyak membicarakan berbagai pilihan kebijakan pemerintah yang ingin diperbaharui, para caleg yang terjun langsung bersosialisasi tatap-muka ke masyarakat pun akan lebih banyak ditanyai tentang soal sah-tidaknya cara pencontrengan. Ini menjadi menjengkelkan. Isu contreng menjadi lebih diperhatikan daripada isu-isu kebijakan publik yang akan diperjuangkan oleh partai-partai dan caleg-caleg ini. Bukan mustahil Pemilu pun menjadi ritual kenegaraan yang makin merepotkan bagi rakyat kebanyakan. Tentang cara memilih saja menjadi lebih sulit.

Sementara budaya masyarakat pemilih sendiri masih banyak yang irasional -juga kurang memahami fungsi Pemilu dan Partai-; yang diurusi malah dalam hal cara penandaan pemilihan pada kertas surat suara. Sepertinya ini masyarakat kebanyakan telah menjadi korban, karena Penyelenggara Pemilu malah mengejar sebuah kemajuan-teknis. Akhirnya isu-isu substansial dan nurani pewujudan keterwakilan rakyat ini sendiri justru terpinggirkan oleh isu cara mencontreng.

Saat para caleg bersosialisasi dengan warga masyarakat calon pemilih, poin-poin visi-misi-program yang akan mereka perjuangkan bila terpilih menjadi wakil rakyat justru tenggelam, atau justru mereka tenggelamkan sendiri, dengan lontaran berbusa-busa dari mulut mereka tentang cara mencontreng agar jangan sampai menjadi gugur/tidak sah. Mungkin bila Anda adalah orang kota-terpelajar, Anda tidak banyak menemui ini. Namun saya yang tinggal di desa, juga memantau ‘gerakan’ sosialisasi para caleg, hal ini saya rasakan di lingkungan saya.

Lalu masyarakat pemilih menjatuhkan pilihannya kebanyakan berdasarkan caleg manakah yang telah memberikan sumbangan uang yang lebih besar atau paling besar ke kas RT-RW-Kampung/Pedukuhan mereka. Itulah yang terjadi. Apakah itu bukan money-politics? Siapa yang peduli? Toh saling menguntungkan? Transaksi suara besar-besaran telah terjadi sampai lingkup nasional.

Selama ini partai-partai dan anggota-anggota legislatif yang telah pernah duduk telah menelantarkan rakyat-rakyat yang mereka wakili. Katanya mereka itu ‘wakil rakyat’, tapi mereka tidak pernah melaporkan pertanggungjawaban mereka atas tugas amanat perwakilan mereka dengan para rakyat yang telah memilihnya. Mereka itu dulu telah melarikan cek-cek kosong dari rakyat yang telah memilih mereka, lalu mengisi cek-cek itu semau-mau mereka. Rakyat telah jengkel akan itu. Kinilah waktu untuk membalas dendam itu telah tiba.

Rakyat yang pandai pun tidak sedikit yang berpura-pura bodoh, “membodohi” para caleg yang merasa pintar. Biarkan saja para caleg ini mulutnya berbusa-busa menerangkan tentang sah-tidaknya suara nanti dengan contreng-contreng apaan ini. Hak memilih adalah hak kita masing-masing. Tidak memilih pun juga adalah hak kita. Biarkan saja para caleg ini mulutnya berbusa-busa, yang penting uang mereka bisa kita poroti untuk dana pembangunan desa.

Hua..ha..ha..ha….

-o0o-


11 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Maunya sih dibilang modern dengan cara mencontreng, tetapi kalau sarana2 pendukungnya dan juga sistem2 pendukungnya nggak beres, ya sama aja oblong. Kita ini aneh, selalu ingin dianggap modern dalam hal2 yang tidak perlu…..

Mengenai kualitas para caleg?? Nggak usah dibahas lagi deh… huehehehe……

Kang Nur:
selalu ingin dianggap modern dalam hal2 yang tidak perlu.....😆 betul itu, bang

Komentar oleh Yari NK

Karena ada UU pornografi, maka dilarang mencoblos di sembarang tempat dan sembarang orang, hueheheheh. Salam kenal kembali.

Kang Nur:😀 mencoblos apaan nih..?😆 kalo mencontreng dengan barang2 yang tidak semestinya apa boleh? dengan barang yang digunakan untuk mencoblos misalnya.. ?😀

Komentar oleh ubadbmarko

hallo kang… suwe gak mampir…
heheeh menurut saya bagusan nyoblos.. betah betahan sama negara yag satu lagi.. biar jadi ciri khas indonesia yg selalu melestarikan budaya… trus indonesa jadi satu satunya negara yg pemilunya nyoblos.. dibayar lg.. hehehe

Kang Nur:
kalo gitu ini mas ardianzzz setuju dg pendapat saya kan..? lhah mau pake cara nyoblos ato nyontreng, itu kan hanya urusan yg sangat2 teknis? ngapain urusan gituan diberi perhatian prioritas sih.. apa ndak ada urusan lain yg lebih perlu utk dibenahi?

Komentar oleh ardianzzz

mencoblos diganti dg mencontreng? hmmm… secara teknis sebenarnya hal ini malah menimbulkan masalah, terutama bagi para pemilih sepuh. jangan2 spidolnya bukan utk mencontreng, tapi utk mencoblos, wakakaka … malah jadi repot, haks.

Kang Nur:
lha iya to pak.. bagi yg tremor (= buyuten, gemetaran), nanti malah tercoret sana, tercoret sini, jadi coreng-moreng-lah itu surat suara…😆

Komentar oleh sawali tuhusetya

mencontreng itu identik dengan alat tulis, padahal bagi masyarakat Indonesia ada lho yang seumur-umur belum pernah memegang alat tulis, apa tidak kesulitan mereka nanti?

Kang Nur:
mungkin Penyelenggara Pemilu memang ingin membuktikan kepada dunia, bahwa rakyat Indonesia memang sudah banyak yg bisa nulis..🙂

Komentar oleh joe

saya berpesan sama Bapak Ibu & Simbah saya untuk tidak lupa membawa kacamata saat pilihan nanti
buat mencari kenalannya yang nyaleg *kalau kebetulan ada*

Kang Nur:
Simbah: “… ini sepertinya kok kenalanku yaa?”.. lalu mencontrenglah Simbah. “..e..e.., sepertinya ini kok juga kenalanku, anaknya teman..”.. contreng lagi. ..”lha yang ini kan cucunya ipar tetanggaku itu..” lalu contreng lagi. setelah lima belas menit, Simbah nyontreng tiga!!😆 belum lagi coretan2 di sana-sini ..

Komentar oleh tomyarjunanto

Halo priyayi ndeso, pripun kabare.:)
Contreng nggak contreng, tetep nggak nyoblos!! (ya jelas karena contreng kan bukan nyoblos ya) hhahahahha!

Kang Nur:
sekali ndeso tetap ndeso, mas!🙂
nyoblos nggak nyoblos, yang dihitung contrengnya, mas..😆

Komentar oleh DV

saatnya sukseskan pemilu legislatif 2009… saatnya mencontreng///

Kang Nur:
contreng adalah jalan menuju sukses???🙂

Komentar oleh isdiyanto

yah mz !!!
saya lebih mengusulkan, kalo pemilu 5 tahun mendatang pake sistem stempel aja deh,….

jadi waktu milih, tinggal di stempel aja pake stamp ke kertas surat suaranya, trus lagi, menurut saya, cara stempel ini pasti efektif, jangankan orang yang pelajar, orang buta huruf sekalipun bisa menggunakannya,.. manula juga pasti bisa dengan cara stempel ini.

dibandingkan dengan contreng, masih banyak warga kita yang tidak bisa menggunakan spidol ataupun pena, jadi jumlah suara yang tidak sah lebih banyak kemungkinannya,….

begitu !!!
gmana mz? makyos gak usulan saya !!
ekekekekek

salam kenal
-sigonda-

Kang Nur:
whuaaa?? ya lebih mudah cap jempol dong! tapi jangan ‘cap jempol darah’ lho..🙂

Komentar oleh sigonda

anggota KPU-nya ‘kan baru, jadi pake cara baru biar beda. hasilnya seperti sekarang ini.

DPT memang bermasalah. untuk itu, segera Daftar ke Sekretariat PPS di Kantor Desa guna Pemilu Presiden nanti. oke!

oh iya, liputan Pemilu Legislatif ditempatku bisa ditengok di sini ni…

Komentar oleh day...

hmmmm.. pemilu masih tetap membingungkan bagiku…

Komentar oleh yudishtira




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: