The Nurdayat Foundation


Membangun Civil Society Agar Demokrasi Ada Gunanya (2)
Selasa, 19 Mei 2009, 8:49 pm
Filed under: budaya politik | Tag: ,

Tulisan sebelumnya

Bongkar dari Atas, Bangun dari Bawah

Sesungguhnya kalau dipikir-pikir ngapain juga orang seperti saya ini, wongCivil Society in Asia ndeso wong cilik kok ngomongin tentang civil-society. Namun saya ingat satu ujaran itu; “Membongkar itu mestinya memang dari atas, namun tentu sebaliknya makanya bila ingin membangun maka memang mestinya harus dari bawah.”  Dibutuhkan peran manusia-manusia kecil jelata yang melata di desa-desa untuk membangun jaman baru ini.

… Otoriterisme rezim Orde Baru tends to corrupt tentu memang dari kepalanya. Minimal karena si kepala biang keladi malah melindungi cecurut-cecurutnya yang korup, tidak mau mengejar dan menuntutnya dan membongkar borok anak-anak buahnya -Begitulah dulu yang terjadi. Ikan membusuk dari kepalanya-. Maka lalu sang kepala pun memang harus benar-benar  dipotong. Bongkar dululah mulai dari atas. Pemberantasan korupsi pun mestinya harus dicontohkan dengan menuntut pelaku-pelaku korupsi kelas kakap dan melemparkan mereka kepada kepengapan penjara. Mestinya.

Namun ketika kini ketika bangunan rezim Orde Baru itu telah dirobohkan (memangnya sudah benar-benar roboh belum sih bahaya laten Orde Baru ini?); kita semua harus menegakkan bangunan baru di atas puing-puing kerjaan ulah rezim Orde Baru itu.Tommy&matre Remah-remah puing perlu disapu disingkirkan dulu. Tidak semua remah puing mau disingkirkan, memang. Mereka juga manusia. Ada mental dan pemikiran yang tidak sekaligus bersih meski sudah disiram air segar baru. (Bahkan sampah-sampah masyarakat nomer satu macam anak-anak Soeharto pun yang laki-laki punya duit banyak juga masih dikejar-kejar oleh perempuan-perempuan matre. He..he…)

Hukum Sejarah yang Bagaikan Pendulum dan Spiral

Saya percaya bahwa sejarah politik memang bergerak semacam pendulum = bandul jam.

pendulum(A pendulum is loosely defined as something hanging from a fixed point which, when pulled back and released, is free to swing down by gravity and then out and up because of its inertia, or “tendency to stay in motion”.)

Suatu kali ujung bandul itu mengayun bablas ke ujung kiri, lalu saat telah tiba di puncak ujung itu dan mulai kehilangan moment gaya-nya; ia lalu membalik mengayun ke kanan, untuk sampai ke ujung titik ekstrim yang berlawanan. Begitu, lalu saat mulai kehilangan moment gaya lagi, ia membalik berlawanan arah lagi. Begitu seterusnya.

Jam BandulBukanlah kiri dan kanan di sini adalah cap ideologi politis, bukan. Kiri dan kanan di sini hanya menunjukkan ujung-ujung titik ekstrem pilihan politik kekuasaan. Dan.., keseimbangan baru itu harus selalu dicari dan didapatkan. Ketika keseimbangan baru itu dicapai tidak lewat cara-cara yang gradual-evolutif, maka yang terjadi memang revolusi. Revolusi itu terjadi ketika moment-gaya telah mencapai titik-titik ujung puncak bandul itu. Banyak unsur dan faktor yang akan ternyata akan mencapai ‘kematangan’ tiba waktunya ketika revolusi itu memang harus meledak. Dhuarrr !!!! … Dan rakyat jelata pun berjatuhan menjadi korban… dan segelintir penguasa akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di alam baka sana untuk keadilan.

Ini menjadi semacam sunnatullah, suratan dari Yang Maha Kuasa, meski tentu bukannya untuk menjadi ‘permainan-olahraga’ atau just leisure untuk-Nya. Hukum sejarah. Mestinya manusia dapat mengambil pelajaran. ..Guru sejarah saya di SMA pun dulu mengajarkan bahwa sejarah itu tidak bergerak dalam garis lurus linier, namun maju berputar bagaikan spiral. Ada beberapa yang membalik dan berulang.

Spiral Pendulum

Apa kaitannya pendulum dan spiral ini dengan civil-society dan demokrasi? Adalah karena saya percaya bahwa pengertian Demokrasi itu sendiri belumlah selesai dan belum akan berhenti. Arti Demokrasi itu belum selesai disepakati. Itu hanya merupakan niatan bersama yang telah dinyatakan untuk menegakkan nilai-nilai Persamaan, Keadilan, Kebebasan.

Dalam rangka tak dapat lepas dari turut membangun LeninStatueBucharest-1991tata-dunia di mana mereka hidup; manusia akan berkelompok-kelompok untuk mengajukan gagasan-gagasan yang mereka tawarkan kepada kelompok-kelompok yang lainnya. Itu gagasan adalah tentang bagaimana menjalankan kekuasaan. Sejumlah gagasan pemikiran yang tersusun relatif sistematis dengan memakai latar-belakang dan warna asumsi masing-masing itulah, yang disebut ideologi.

Macam-macam warna ideologi akan terus bersaing untuk menjemput kejayaannya atau mendapati ajal kematiannya; untuk membuktikan sebagian kebenarannya, juga untuk menyadari sebagian kesalahannya. Toh ideologi juga bukanlah batu patung yang hanya akan diam meski hujan lebat atau panas terik menimpanya. Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri.

Sudah Tunggal-kah Pemahaman terhadap Demokrasi itu ?

Demokrasi-nya-USAIstilah demokrasi sendiri kini memang telah mayoritas diterima di seluruh bagian dunia kita, dan juga hampir telah menjadi ukuran standar nilai tentang sesuatu yang ideal dalam hal penyelenggaraan kekuasaan negara. Namun, bukankah itu berarti kini jadinya demokrasi itu telah menjadi satu ideologi yang “meng-hegemoni” dunia? Apakah kini demokrasi telah benar-benar memiliki tolok-ukur yang telah dibakukan dan disepakati oleh segala bangsa?

Demokrasi - Sebuah PengantarGambar di samping ini adalah gambar-sampul sebuah buku yang saya miliki; terbitan Niagara, Yogyakarta, 2004; dari aslinya berjudul What is Democracy terbitan New York, 1955.  Meskipun buku ini tidak terlalu tebal (339 hal. isi, ukuran 13×20 cm), saya akui buku ini telah menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan demokrasi dan harapan-harapan yang ditawarkan oleh (para penganjur) demokrasi, terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II.  Buku ini menguraikan perkembangan wacana atas model kekuasaan, wacana demokrasi; disertai foto-foto ilustrasi membeberkan visi-visi demokrasi, kebijakan kekuasaan pemerintahan di berbagai negara seiring perkembangan yang semuanya menawarkan sebuah Dunia Baru. Perang Dunia II baru sepuluh tahun berakhir dari terbitnya buku ini, maka buku ini semacam menawarkan wawasan-wawasan baru bagi seluruh dunia oleh sang pemenang perang itu. .. Wawasan yang diberikan buku ini sangat bagus. Kalaulah ada kekurangan sedikit, itu adalah karena terlalu optimis dan bersemangatnya memberikan gambaran-gambaran ideal mimpi-mimpi dunia baru itu dalam perspektif yang sangat USA (Amerika); sekaligus di beberapa tempat sengaja menyodorkan cela eksperimentasi komunisme yang berkembang di Blok politik dunia yang akan berkembang kemudian menjadi pesaing blok USA itu. ..

Begitulah Demokrasi seringkali menjadi silang-sengkarut dipahami orang, sering bergantung pada apa yang di benak orang yang memahami dan menjalankannya. Kita, bangsa Indonesia juga pernah disihir oleh demokrasi a la Indonesia yang dipopulerkan Presiden Soekarno dengan sebutan Demokrasi Terpimpin (guided democracy). Suatu istilah, dan juga mungkin jargon politik, yang terkandung di dalamnya semangat untuk mengadopsi gagasan politik yang nyaris meng-universal dan mewabah ini, tetapi pada saat yang sama ingin tetap berpijak pada nilai-nilai lokal yang ada, atau bahkan juga bertaut dengan sebersit kepentingan sang penguasa demi melanggengkan nikmat kekuasaannya.

Begitu pula pada masa Orde Baru-nya Soeharto, rezim memperkenalkan sistem yang dinamakan ‘Demokrasi Pancasila’ di mana anggota-anggota MPR ditunjuki dan diangkat sendiri oleh Soeharto. Rezim ini juga menggunakan militer dan birokrat untuk turut mendukung kelanggengan kekuasaan bagi partai yang semacam partai tunggal, yaitu Golkar. Pada masa itu kebebasan berpendapat dan kebebasan pers juga terjerat dan terbungkam.

Maka dari itu, dalam perkembangan pemahaman saya, demokrasi memang lebih absurd daripada yang pernah saya pahami semula. Ini semua masih selalu berada dalam pergulatan hegemoni, juga hegemoni atas makna demokrasi itu sendiri.

Dan.., maka tentu saja, bukan mustahil bahwa  civil-society adalah sesuatu yang lebih riil untuk dapat kita bangun (daripada sebentuk “demokrasi” itu sendiri, yang dengan imbuhan keterangan-keterangan macam apa dapat saja ditempelkan kepadanya oleh penguasa yang menjalankannya). .. Demokrasi, dalam sejarahnya bahkan telah kita temui dapat saja hanya sekedar klaim; sedangkan, civil-society adalah akan kita jalani.

Konsep Civil Society dan Masyarakat Madani

Pidato Presiden RI tiap tanggal 16 Agustus di depan Sidang Pleno DPR sudah menjadi konvensi kenegaraan di republik kita ini, sekaligus sebagai rangkaian Peringatan Kemerdekaan. Dalam Pidato Kenegaraan-nya di depan Sidang DPR  pada tanggal 16 Agustus 2000, antara lain Presiden Gus Dur bilang demikian: bahwa Civil Society adalah masyarakat yang mampu menolong dirinya dan menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri, masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan intelektual. .. Mungkin ini satu definisi yang sudah cukup merangkum tentang apa itu civil society.

Meskipun saya sendiri kurang mempercayainya, Dawam Raharjo pernah pula menulis pada kata pengantar dari sebuah buku begini: “..Istilah civil society sendiri pertama kali dikemukakan (??) di Indonesia oleh M. Amien Rais dalam simposium di Universitas Brawijaya yang mengantar kepada berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sebelum itu, civil society baru menjadi topik pembahasan di luar negeri, yaitu ketika dilakukan seminar di Australia National University (ANU) di Canberra, pada tahun 1989…” Begitu kata Dawam. Benarkah itu? Masak LSM yang banyak itu sebelumnya tidak pernah mewacanakan civil society?

Dawam RaharjoLebih lanjut Dawam menyatakan demikian: “Kalangan keagamaan cukup cepat melakukan respons terhadap wacana baru ini. Tetapi hal itupun timbul karena rangsangan dari luar. Sebagaimana kita ketahui, pembahasan mengenai civil society dengan istilah “masyarakat madani”, pertama kali dikemukakan oleh Anwar Ibrahim, ketika Wakil Perdana Menteri Malaysia,  dalam acara Temu Ilmiah Festival Istiqlal, pada tahun 1995. Penemuan istilah “masyarakat madani” tersebut sangat membantu penerimaan wacana civil society. Untungnya istilah tersebut tidak menimbulkan kecurigaan dari kalangan agama lain, sehingga istilah itu sekarang diterima secara umum.”

“Namun agaknya, konsep masyarakat madani ini tidak identik dengan civil society. Pertama-tama, civil society dinilai berasal dari sejarah Eropa Barat dan Amerika Utara. Kedua, civil society mengimplikasikan pengertian sekularisme. Memang sebenarnya, konsep civil society ini erat kaitannya dengan sekularisme. Dalam pandangan ini, civil society dianggap akan kuat jika dapat keluar dari cengkeraman negara. Civil society akan menjadi kuat di pangkuan masyarakat sendiri. Demikian pula agama akan menjadi kuat jika dapat keluar dari cengkeraman negara. Karena itu maka agama harus diserahkan kepada masyarakat sendiri. Namun kalangan Islam tidak menyetujui konsep pemisahan agama dan negara. Civil Society bisa dipisahkan dari negara. Tetapi nilai-nilai agama harus dapat bermain baik pada tataran masyarakat maupun negara. Konsep masyarakat madani dianggap membebaskan civil society dari sekularisme. Karena itu gagasan dasar civil society dapat diterima dengan istilah masyarakat madani.”

“Dalam konsep masyarakat madani ini, civil society mendapatkan justifikasi. Sebenarnya kepentingan wacana civil society lebih menjurus kepada proses demokratisasi ini. Jika kalangan agama menyetujui wacana civil society, meskipun memakai istilah lain, hal itu tidak menjadi persoalan, karena yang dipentingkan adalah dukungan gerakan keagamaan dalam proses demokratisasi. Hal yang dipersoalkan adalah, mampukah organisasi-organisasi kemasyarakatan menjadi pilar civil society. Dari sinilah timbul gagasan untuk “memberdayakan” gerakan keagamaan sebagai pilar civil society. Ternyata, gerakan keagamaan memang telah memulai kegiatan yang kelak bisa memperkuat civil society. Salah satu tandanya adalah menonjolnya konsep keswadayaan dalam hampir semua gerakan keagamaan. Namun suatu hal perlu diperhatikan ialah bahwa jika civil society itu mengutamakan nilai individualisme dan kompetisi, maka gerakan keagamaan lebih mengutamakan egalitarianisme dan kooperasi. Agaknya perbedaan tersebut akan tetap menjadi perbincangan abadi dalam wacana masyarakat madani.”

“Hal lain yang perlu diperhatikan adalah masyarakat madani itu cakupannya lebih luas dari civil society. Konsep masyarakat madani juga mencakup political society atau negara. Selain itu, jika civil society merupakan ruang hidup yang telah meninggalkan individu dan keluarga, masyarakat madani ingin menghidupkan kembali peranan individu dan keluarga. Dengan demikian, masyarakat madani adalah sebuah masyarakat ideal, dimana civil society, yang hingga kini masih sulit ditemukan terjemahannya yang tepat itu, adalah merupakan bagian saja dari masyarakat madani. Di sini civil society diartikan sebagai suatu “ruang publik” yang independen dari negara sebagaimana didefinisikan oleh Habermas. Tapi ruang publik bebas ini merupakan bagian yang esensial dari masyarakat madani, bahkan merupakan ciri utamanya. ”

Demikian kata Dawam.

Bagaimana pula pendapat Anda tentang Civil Society ini ? Berikan tanggapan Anda!

Catatan untuk pembaca:

Tulisan di atas banyak memberikan taut (=link). Bila memerlukan tinjauan lebih lanjut, silakan klik taut-taut tersebut pada gambar-gambar atau kata-kata bertaut yang bersangkutan.



15 Komentar so far
Tinggalkan komentar

lama nggak ke sini, haruskah aku bilang salam kenal kang

Kang Nur:
waa.. tentu tiidak.. tidak perlu bilang salam kenal, dong. meski saya tidak menjawab ‘award’ dr mas acmad Sholeh, saya tidak pernah lupa dong.. smoga hubungan kita bersambung lagi.🙂

Komentar oleh achmad sholeh

Waduh…hebat banget..uraiannya puanjaaaang…
hehe….
Sip bang.

Kang Nur :
Whualah.. bisa aja. Kalo puanjaang itu kan berarti tak mampu menulis hemat kata yg bernas?😉

Komentar oleh HumorBendol

wawww panjangggg mas…keren…

salam kenal ya..

Kang Nur :
Terima kasih banyak sudah mau mampir sini dan bila saja sudah mau sedikit mbaca..🙂

Komentar oleh casual cutie

peradaban masyarakat sipil konon memang akan sangat besar pengaruhnya terhadap demokrasi. peradaban semacam ini akan terwujud jika nilai2 feodalisme itu sudah bisa ditanggalkan. masyarakat sipil yang berbasiskan masyarakat madani mengondisikan masyarakat yang egaliter. setiap rakyat memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi. entah kapan peradaban masyarakat sipil di negeri ini bisa terwujud.

Kang Nur :
“civil civilization”? berpengaruh besar thd demokrasi? o..o.., ya..ya.., pak. Saya kira demokrasi itu kerangkanya to ya Pak? lalu isinya adalah civil society. Keseluruhannya hanya akan kuat bila isinya juga kuat. Ttg feodalisme/ budaya feodalis; sepertinya memang ada “evolusi yg tidak runtut’ dialami oleh anak2 bangsa kita ini, bila dibandingkan dg negeri lain yg pernah punya kerajaan/monarki; seperti Perancis, Inggris, Rusia, mungkin juga Jepang dsb. Orang2 feodal kita sesungguhnya pernah beberapa di antaranya jadi bonekanya kolonial; namun beberapa juga masih dianggap sebagai pengayom budaya kearifan lokal. Katanya.

Komentar oleh Sawali Tuhusetya

Mas Nur, menurut saya civil society tak kan pernah terwujud selama pemerintahan dipimpin oleh orang-orang yang mengutamakan persamaan suku, golongan dan agama.

Civil society dan demokrasi tak bisa dipisahkan, bagai api dengan kayu, bagai airlaut dengan pantai dan barangkali sejak sekarang kita sudah mulai bisa menakar, sejauh mana demokrasi diberlakukan, sejauh itu pula civil society berlaku bagus.

Salam hangat, lama ndak kontak ya..:)
Pripun kabare?

Kang Nur :
Penerimaan akan kenyataan pluralitas, dan penyadaran-pemahaman pluralisme; kiranya memang tak dapat terpisahkan dari upaya membangun civil society, mas Donny. Apalagi di negeri yg sedemikian bhinneka seperti Indonesia kita ini. Saling memahami pandangan2 di antara segenap unsur anak bangsa terhadap konsep civil society itu sendiri tentu akan bermanfaat bila dilakukan sejak sekarang atau kemarin2.
Bukannya berharap demokrasi itu akan diberlakukan lalu berharap pula civil society akan terwujud berlaku, mas Donny. Apa bukan sebaliknya? Yaitu mengupayakan pembangunan civil society itu sendiri oleh anak bangsa (tentu juga include di situ penerimaan pluralitas dan pemahaman pluralisme), sehingga mau tidak mau demokrasi substansial selanjutnya akan terwujud karenanya?
Kita jumpa tak terlalu sering, tapi smoga sama2 slalu bermanfaat bagi kita semua, mas.
Insya Allah tetep slamet, mas. Nuwun.🙂

Komentar oleh DV

Perubahan adalah mutlak dalam kehidupan…
penentang perubahan juga selalu ada di setiap zaman…

Kang Nur :
Masalahnya, mau berubah menjadi seperti apa, Tengku?🙂 Perbaikan memang perlu perubahan, tapi toh tidak semua perubahan diyakini akan membawa kepada perbaikan?

Komentar oleh tengkuputeh

komplet banget bos penjelasannya, makasih ya
salam kenal nich

Kang Nur :
smoga brmanfaat. ma kasih.
salam kenal juga

Komentar oleh dhimas

Kenyataan hidup harusnya membawa perbaikan, namun faktor kesalahan manusialah penyebab kerusakan. Bukan agamanya maupun politiknya.

Kang Nur :
kalo yg salah perilakunya, jangan teori-nya yg disalahkan ya?🙂

Komentar oleh pututik

Civil society seringkali memang sering dijadikan cerminan bagi tegaknya demokrasi di suatu negara. Namun begitu, civil society juga harus dilengkapi dengan kedewasaan dan kematangan berfikir baik oleh si pemimpin dan juga oleh rakyatnya. Dan jangan lupa tentu juga mentalnya. Dengan begitu, civil society dapat berfungsi dengan lebih baik dan terarah…..

Nah, bagi saya, apakah itu individualisme ataupun egalitarianisme, masing2 pada fitrahnya ada tempatnya sendiri2. Kita tidak perlu mengkotak2an individualisme atau egalitarianisme, karena di setiap masyarakat pasti ada kedua sifat tersebut. Terkadang individualisme juga dapat memberi kontribusi pada kemasyarakatan juga egalitarianisme diperlukan untuk membuat tatanan masyarakat menjadi lebih harmonis…..

Kang Nur:
Wah, ini pandangan yg bagus dan memperkaya Bang Yari. trima kasih.

Komentar oleh Yari NK

perubahan itu abadi

Kang Nur :
Tidak ada yg tetap di dunia ini kecuali perubahan ya?🙂

Komentar oleh abhe

salam kenal
wuah panjang banget, tapi paling menarik mengenai bandul mirip di istilah jawa jongko, jangkah, setiap jongko pasti ada titik tengahnya, itu mengapa para pujangga bisa memprediksi masa depan karena sudah sampai di titik tengah(titik henti), sedangkan lingkaran adalah kejadian masa kini dan lalu yg selalu berputar

Kang Nur :
Tambahan yg bagus dan melengkapi dari mas Tono. Trima kasih.🙂 Saya mau mengkaitkan dg konsep Jawa, tapi belum begitu paham. trima kasih mas Tono sudah memberi penjelasan.

Komentar oleh m4stono

duh hebad analisanya

Komentar oleh suwung

Aswrwb. Salam kenal dan salam hangat dari saya. Mohon ijin untuk menggunakan foto “spiral pendulum” untuk saya pasang dalam company profile kantor saya, M. Luthfie Hakim & Partners Law Firm.

Terimakasih, wswrwb.

Kang Nur:
Silakan Pak. Itu gambar juga hasil browsing saya saja dr halaman bebas hak cipta. ^_^

Komentar oleh M. Luthfie Hakim

“Membangun Civil Society Agar Demokrasi Ada Gunanya (2) The Nurdayat Foundation” in fact got myself simply
hooked on ur blog! I actuallydefinitely will wind up being returning even more often.
Thanks a lot ,Akilah

Komentar oleh http://google.com

Mandarin Oriental has put Four Seasons out of business downtown but the location
for the top floors of Mandalay Bay remains operational.
The Las Vegas hotels usually have accommodations for numerous
people. Las Vegas is without a doubt most well-known
for the incredible hotels.

Komentar oleh Carey




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: