The Nurdayat Foundation


VISI JUSUF KALLA
Rabu, 24 Juni 2009, 5:57 pm
Filed under: Ekonomi | Tag:

Jusuf-KallaKini televisi telah dapat marak menampilkan dan mengulas visi-misi dari paket-paket pasangan Capres-Cawapres. Hal seperti ini tidak terbayangkan pada 15 tahun yang lalu, saat membicarakan ttg suksesi saja (istilah halus utk niat menjungkalkan Soeharto dari kursinya krn sudah terlalu membosankan), sepertinya dianggap tabu.

Tapi karena menyangkut alasan menjaga citra dan tata-krama; bolehlah kita maklumi bahwa yang namanya “DEBAT” sekalipun, maka baru akan tampil jadi “DEBUT” sajalah. Sudah bagus, kok. Bandingkan saja dengan lima belas tahun yang lalu itu tadi. Dulu itu, Menteri Penerangan saja selalu “minta petunjuk Bapak Presiden”.

Kini di jaman internet, Blog dapat menjadi pelengkap, menjadi ‘perekam’ media lain, lalu menyajikannya bagi orang-orang lain yang tak sempat menonton atau membacanya langsung.

Maka setelah ‘rekaman’ penampilan Prabowo dan wawancara dengan Boediono saya tampilkan, tidak lengkap rasanya bila tidak menampilkan sosok dari paket pasangan yang satunya sekalian. Maka berikut ini adalah ‘rekaman’ wawancara wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) dengan Jusuf Kalla, yang dimuat di Harian Jogja; Rabu, 9 Juni 2009:

Bagaimana visi dan misi bila jadi Presiden?

Semua tujuan negara tertuang dalam konstitusi yaitu UUD 1945 di mana tujuan negara; Pertama; untuk mensejahterakan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua; pemerintahan yang demokratis dengan mengubah model emerintahan sentralistis ke desentralisasi dengan otonomi daerah. Tidak mungkin untuk kembali lagi pada model pemerintahan yang sentralistis.

Ketiga; meningkatkan kemampuan negara.

Adapun semua itu perlu ada indikator, salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi. Nah, bagaimana cara mencapai pertumbuhan itu, sekitar 6%-8%? Saya lebih yakin pertumbuhan ekonomi pada 6%-8%.

Bapak selalu mengatakan, kenapa bangsa ini memiliki kemampuan yang tinggi tetapi belum seimbang dengan pencapaian selama ini?

Hal ini perlu investasi pemerintah dan swasta. Investasi pemerintah melalui APBN yang hampir Rp 100 triliun, tetapi sekitar 40% untuk membayar bunga, utang dan subsidi. Adapun sekitar 60% sisanya, terdiri dari 50% untuk gaji pegawai negeri. Jadi, anggaran belum maksimal sehingga perlu untuk mengurangi beban yang tidak memberikan efek kepada pertumbuhan.

Subsidi yang besar ada pada sektor listrik dan bahan bakar minyak (BBM). Pada 2010, beban subsidi akan semakin berkurang dan sudah dimulai sejak saat ini. Nah, kalau anggaran diperbaiki, anggaran pemerintah akan jauh lebih baik.

Apa yang membedakan program anda dengan dua kandidat lainnya dengan strategi yang efektif?

Tadi strategi sudah saya sampaikan bahwa apa yang dibuat untuk meningkatkan investasi pemerintah dan secara bersamaan mendorong investasi swasta dan mendorong ekonomi. Bunga bank dapat diturunkan dari 17% menjadi 12%. Kalau bunga deposito turun, bunga juga akan turun sehingga ekonomi lebih efisien dari sektor finansial.

Sektor listrik, berbagai proyek sudah mulai jalan, proyek mega 10.000 megawatt akan selesai pada 2010, sehingga tidak ada lagi kekurangan listrik dan harga menjadi lebih murah. Fasilitas dan infrastruktur saat ini sudah lebih bagus.

Mengingat latar belakang Anda seorang saudagar, apakah bisa memisahkan dua kepentingan itu, terutama kerabat dan kolega bisnis Anda?

Saya akan katakan menjadi pengusaha adalah pekerjaan mulia, dengan membayar pajak dan menggaji karyawan. Tidak ada negara yang maju tanpa dunia usaha. Kalau perusahaan rugi, akan merugikan masyarakat dan sebaliknya. Sekitar 30% saham pemerintah ada di pengusaha.

Dari sisi agama; Nabi Muhammad itu seorang pedagang, apalagi kita ini. Justru setelah saya masuk birokrasi, usaha saya tidak semaju dulu. Hampir 90% usaha saya tidak ada hubungannya dengan pemerintah, hanya 5 % yang ada hubungannya.

Tidak ada hubungannya dengan presiden. Tidak ada pengaruhnya. Tender tetap dilakukan secara murni, tidak ada lagi tender gelap-gelapan. Jangan khawatir-lah. Jangan mencurigai saya.

Seumur saya ini tidak lagi hidup untuk mencari uang dan butuh uang tetapi pengabdian untuk bersama agar hasilnya baik. Saya bilang manusia punya kehidupan sendiri. Keluarga saya pengusaha.

Akhir-akhir ini ramai masalah ideologi ekonomi kerakyatan dan dan neo-liberalisme. Lalu apa ideologi Bapak?

Hidup banyak perubahan; kalau ada sosialis tentu ada kapitalis, dan juga ada moderat, yaitu penggabungan paham sosialis dan kapitalis. China saja yang sosialis, sistem perekonomiannya kapitalis.

Sebaliknya AS yang kapitalis, membantu dunia usaha dengan bail-out. Jadi, tidak ada yang ekstrem. Kita ada di tengah-tengah dengan ekonomi pasar yang terkendali.

Bagaimana visi Anda terhadap pasar modal?

Pasar modal itu penting, tetapi lebih penting Pasar Tanah Abang. Pasar modal hanya berputar-putar di situ saja. Ada satu joke; Suatu hari di pasar modal ada orang menjual ikan dalam kaleng. Pembelinya menjual lagi saat harga naik, ke pihak ketiga. Kemudian dijual lagi ke pihak ke empat saat harga naik lagi.

Nah, yang terakhir membeli dengan harga paling mahal tetapi saat dibuka ternyata ikan di dalamnya sudah busuk. Saat ditegur, penjualnya mengatakan; Ini kan bukan untuk dimakan, tapi hanya untuk dioper-oper saja?

Maksud saya, kalau tidak ada unsur spekulasi, pasar modal itu bagus. Wall Street hancur karena banyak siluman yang bermain di situ yang menggerogoti pasar modal. Jadi kita inginnya bukan free-trade tapi fair-trade.

Bagi saya, pasar tradisional itu lebih penting. Saya memberikan statement pasar tradisional itu penting di pasar modal. Jangan selalu menyatakan berdasar pasar ini menolak atau pasar ini mendukung. Maksudnya, pasar yang mana? Pasar apa dulu? Kalau pasar tradisional yang minta, saya kasih. Saya ingin mengetahui denyut ekonomi di pasar tradisional.

Pertumbuhan ekonomi terganggu krisis. Bagaimana dengan pembangunan sosial?

Kondisi ekonomi saat ini relatif lebih baik, ekonomi tetap jalan. Beberapa indikator ekonomi masih baik. Kita hanya turun 2% dibandingkan dengan tahun lalu, sedangkan China turun hingga 6%.

Perekonomian kita tidak galau, hanya saja pertumbuhan yang lebih tinggi belum tercapai, karena terlalu banyak kebijakan masa lalu yang politis yang menyebabkan beban pemerintah jadi lebih berat.

Jadi pembangunan ekonomi tetap penting tanpa meninggalkan pembangunan sosial. Dua-duanya harus tetap jalan, pembangunan sosial tidak akan jalan jika pembangunan ekonomi gagal.

Apakah program Bantuan Langsung Tunai (BLT) akan dilanjutkan?

BLT itu program yang saya gagas, yaitu saat harga BBM dinaikkan pada 2005. BLT hanya program sementara dan bukan program permanen seiring dengan naiknya harga BBM.

Waktu itu saya mengundang seluruh pimpinan untuk membahas langkah kebijaksanaan yang akan diambil untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM. Aturan itu melalui keputusan presiden, dan bukan kepwapres.

Jadi, saat harga naik, kami memberi BLT untuk masyarakat kurang mampu yang terkena dampak kenaikan harga BBM. Kenaikan harga BBM otomatis membuat rakyat harus membayar lebih banyak, kalau masyarakat yang mampu tidak masalah. Jadi, BLT itu program bersama.

-o0o-


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Janji.. tinggal Janji.. bulan madu.. dadaaaaaah ajaaaaa..
Salam Sayang

Komentar oleh KangBoed

Hmm… jawaban politis.
Tidak ada konsep yang mengembangkan potensi yang ada di bumi NKRI.
salam superhangat.

Komentar oleh cenya95

yang harus dipilih yang mana nih?

Kang Nur:
ya salah satunya to Mas Soewoeng? soalnya tidak ada bumbung kosong, je. lha kalo memilih ke-tiga2nya malah tidak ada artinya, ng-habis2in tenaga tuk nggerakkan tangan di bilik dan datang ke bilik..😀

Komentar oleh suwung

Semalam saya liat ulangan debat final capres kl saya melihat seperti ini kang nur, saya kurang tertarik dengan janji pasangan megawati kesannya hanya memberi impian2 kepada wong cilik, dan untuk JK dia keliatan terlalu berambisi, Nurut saya yang paling cocok untuk saat ini hanya SBY Lanjutkan…….

Komentar oleh budi

yang penting memang ekonomi sendiri dahulu, kalo ngarepin dari atas seperti para tokoh tersebut sepertinya ya… tinggal janji.. deh😀

Kang Nur:
setuju, tapi konsep2 dasar yg menjadi pegangan masing2 tokoh yg akan kita pilih tentunya ada manfaatnya juga tuk kita ketahui🙂

Komentar oleh suryaden




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: