The Nurdayat Foundation


Ekspedisi Militer Sultan Agung Mataram

Sultan AgungSultan Agung (memerintah 1613-1646), raja terbesar dari Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda (ing) Krapyak, setelah ayahandanya ini wafat pada tahun 1613. Dalam kenyataannya dia tidak memakai gelar sultan sampai tahun 1641; mula-mula dia bergelar pangeran atau panembahan dan sesudah tahun 1624 dia bergelar susuhunan (yang sering disingkat sunan, gelar yang juga diberikan kepada kesembilan wali). Namun demikian, disebut Sultan Agung sepanjang masa pemerintahannya dalam kronik-kronik Jawa, dan gelar ini biasanya dapat diterima oleh para sejarawan. Dia adalah yang terbesar di antara raja-raja pejuang dari Jawa. Tidak semua peperangan yang tertulis dalam kronik-kronik Jawa dapat dicek kebenarannya dalam sumber-sumber VOC, tetapi gambaran umum tentang penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh Mataram tampaknya tepat.

Pada tahun 1614 Sultan Agung menyerang Surabaya bagian selatan; Ujung Timur, Malang, dan kemungkinan juga Pasuruhan. Tentara Surabaya tampaknya berusaha menyerang tentara Mataram di dalam perjalanannya kembali, tetapi dapat dikalahkan oleh tentara Mataram.  Pada tahun 1615 Sultan Agung menduduki Wirasaba (di dekat kota Mojoagung sekarang) yang sangat strategis, karena Wirasaba menguasai pintu gerbang ke muara Sungai Brantas, dan mungkin juga penting dalam arti psikologis karena itu artinya Sultan Agung menguasai daerah yang pernah menjadi lokasi Majapahit. Kemenangan atas Wirasaba itu dianggap begitu pentingnya sehingga Sultan Agung pribadi memimpin tentaranya di sana. Kronik-kronik menyebutkan bahwa persekutuan Surabaya menjadi lemah dalam peperangan yang menentukan ini karena adanya rasa saling curiga-mencurigai antara Surabaya dan Tuban. Akan tetapi, ancaman yang nyata yang diperlihatkan oleh kemajuan yang dicapai Sultan Agung mendorong para sekutu Surabaya untuk bersatu lagi. Lalu mereka berusaha untuk melakukan serangan dari pantai utara menuju Pajang, di mana mereka mengharapkan penguasa setempat bergabung dengan mereka. Sultan Agung menjamin loyalitas Pajang untuk sementara; seorang mata-mata Mataram di Tuban tampaknya mengelabui tentara dari pantai supaya tidak mengikuti rute yang terbaik; dan di Siwalan (di Pajang) tentara Surabaya dikepung oleh musuh tanpa memperoleh dukungan dari pihak penguasa setempat. Dalam bulan Januari 1616 Sultan Agung membinasakan ekspedisi Surabaya ini.

Sekarang Sultan Agung melaju dengan kemenangan-kemenangannya di Lasem pada tahun 1616 dan di Pasuruan pada tahun 1616 atau 1617.  Akhirnya Pajang berusaha memberontak pada tahun 1617 tetapi saatnya sudah terlambat. Sultan Agung menghancurkan kotanya dan memindahkan penduduknya ke Mataram; penguasa Pajang melarikan diri ke Surabaya. Pada tahun 1619 Sultan Agung menaklukkan Tuban, salah satu unsur terpenting dari persekutuan Surabaya. Hal ini juga memberinya kekuasaan terhadap daerah-daerah pantai yang terpenting yang menghasilkan kayu jati bagi pembangunan kapal. Sekarang muncullah sebuah angkatan laut Mataram yang mengancam kekuasaan Surabaya di lautan. Pada tahun 1620 hanya tinggal Surabaya saja yang menjadi perintang Sultan Agung dalam usaha mencapai tujuannya di Jawa timur.

Dari tahun 1620 sampai 1625 secara periodik Sultan Agung mengepung Surabaya dan membinasakan hasil-hasil panennya. Akhirnya, Sungai Brantas dibendung dan jatah air untuk kota diputus. Selama masa itu tentara Sultan Agung disibukkan oleh penaklukan-penaklukan lain. Pada tahun 1622 sekutu Surabaya di seberang Laut Jawa, Sukadana, berhasil ditaklukkan sehingga terputuslah salah satu sumber suplai ke kota Surabaya. Pada tahun 1624, setelah melakukan serangan yang melelahkan dan menderita kerugian yang besar, tentara Sultan Agung berhasil menaklukkan Madura yang mengakibatkan Surabaya terputus dari sumber suplai penting yang lain. Sebelumnya, Madura terbagi-bagi di antara beberapa penguasa lokal, tetapi sekarang Sultan Agung memerintahkan supaya pemerintahan pulau itu dipersatukan di bawah satu orang dari garis kepangeranan Madura dengan ibukotanya di Sampang. Sesudah tahun 1678 para pangeran ini menggunakan nama Cakraningrat, dan mereka akan memainkan peranan yang penting dalam politik Jawa sampai tahun-tahun 1740-an. Akhirnya, pada tahun 1625 Surabaya sendiri berhasil ditaklukkan, bukan karena diserang melainkan karena mati kelaparan. Penguasanya, yang dalam tradisi Jawa dikenal dengan nama Jayalengkara, dikatakan diijinkan untuk tetap tinggal di Surabaya sebagai vasal Sultan Agung, sedang putranya, Pangeran Pekik, diperintahkan untuk menempuh kehidupan petapa di makam suci Sunan Ngampel-Denta di dekat Surabaya. Dikatakan bahwa Jayalengkara meninggal sesaat sesudah kejadian itu.

Sekarang perlawanan dari pihak penguasa di pantai dan Jawa timur terhadap Sultan Agung telah berakhir secara definitif. Blambangan tidak berada di bawah kekuasaannya, dan meskipun Cirebon tampaknya menyatakan kesetiannya kepada Sultan Agung, namun Banten di Jawa barat tetap merdeka. Bagaimanapaun juga, Sultan Agung telah sangat berhasil dalam meletakkan kedaulatannya di seluruh jantung Jawa tengah dan Jawa timur yang rakyatnya berbahasa Jawa, dan juga di Madura. Akan tetapi, kehancuran kekuasaan militer di daerah pantai tidak dapat menghentikan permusuhan yang sangat mendalam antara pantai dan pedalaman, yang akan timbul lagi pada masa pemerintahan penggantinya. Permusuhan itu timbul sebagai perbedaan loyalitas politik dan kepentingan ekonomi antara kedua daerah tersebut. Pelabuhan-pelabuhan pantai tidak pernah diyakinkan sepenuhnya bahwa kemakmuran mereka, yang terutama mendasarkan diri pada perdagangan laut, dapat dicapai dengan membayar pajak dan tunduk kepada dinasti yang berkuasa di daerah pedalaman. Pada tahun 1625 sudah muncul juga suatu kekuatan baru di Jawa, yaitu VOC di Batavia. Sultan Agung jelas-jelas lebih mengutamakan perhatiannya terhadap musuh-musuhnya orang Jawa daripada VOC, tetapi perhatiannya akan segera beralih menghadapi orang-orang Eropa ini.

Kekuasaan Sultan Agung di Jawa tengah dan Jawa timur tidak hanya mendasarkan diri pada kekuasaan militer saja. Garnisun-garnisun yang tetap dan pemerintahan secara langsung dari pusat sangat sulit untuk dilaksanakan. Tentu Sultan Agung kembali pada metode-metode yang dilakukan penguasa-penguasa Jawa lainnya mengenai masalah itu. Dia menindas pihak lawan, jika ada, dengan kejam, tetapi dia juga mendambakan suatu budaya kemegahan dan kekayaan untuk menarik loyalitas orang-orang kuat lainnya. Tampaknya Sultan Agung jauh lebih baik daripada sebagian besar pengganti-penggantinya dalam memelihara keseimbangan antara legitimasi yang terpusat dan administrasi yng di-desentralisasi, yang keduanya bertumpu pada  dasar kekuatan militer.  Sekitar tahun 1614-1622 dia membangun sebuah kompleks kraton baru, suatu pernyataan yang jelas dari legitimasinya, di Karta  (kira-kira lima kilometer  di sebelah selatan Kotagede). Setelah penaklukannya  terhadap Madura pada tahun 1624 dia memakai gelar kekaisarannya, susuhunan. Tradisi-tradisi Jawa menyebutkan bahwa, seperti Senapati, Sultan Agung mengadakan hubungan dengan Ratu Kidul, yaitu Dewi dari Lautan Selatan. Rentetan penaklukan yang telah dilakukan sejak masa pemerintahan Senapati telah membawa pengrajin-pengrajin istana dan para pujangga dari pusat-pusat yang jauh lebih tua masuk ke Mataram, yang tampaknya membawa pengaruh peradaban terhadap wangsa yang baru ini. Sejak waktu itu raja-raja Mataram telah belajar bagaimana harus memerintah seperti raja-raja dalam tradisi Jawa.

Dalam tahun-tahun 1625-1627 Sultan Agung berada di puncak kekuasaannya. Akan tetapi, kehancuran sebagai akibat ulahnya untuk mencuat tentu besar. Banyak dari daerah pantai telah hancur, penduduk dipindahkan. Berapa banyak rakyat yang mati dalam peperangan dan karena penyakit serta kelaparan yang disebabkan oleh kerusakan pertanian tidak dapat dihitung. Dalam tahun-tahun 1625-1627 timbul epidemi yang dahsyat, dan dokumen-dokumen VOC menyebutkan bahwa dua pertiga dari penduduk di beberapa daerah telah meninggal. Akan tetapi, Sultan Agung tidak berhenti sampai di situ.  Memang tidak mungkin baginya untuk berhenti. Bagaimanapun juga kerajaannya bergantung kepada keunggulan tentaranya. Keampuhan Sultan Agung harus selalu didemonstrasikan karena takut jika kepentingan regional dan orang-orang kuat akan mencoba bersikap terlalu bebas.  Pada tahun 1627 Pati berusaha memberontak dan Sultan Agung menindasnya dengan menderita kerugian besar. Satu-satunya yang dapat menggoyahkan kerajaannya yang keropos adalah kekalahan; inilah yang harus dihindarinya betapapun besar biaya yang harus dikeluarkannya. Akan tetapi, Sultan Agung akan segera menderita kekalahan di tangan VOC.

Hubungan Sultan Agung dengan VOC sejak awal mula memang sudah sulit. Pada tahun 1614 pihak Belanda mengutus seorang duta untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya atas pengangkatan dirinya sebagai raja, dan Sultan Agung memperingatkan duta itu bahwa persahabatan yang mereka inginkan tidak akan mungkin terlaksana apabila VOC berusaha merebut tanah Jawa. VOC sangat memerlukan beras Jawa, sehingga mengharapkan dapat dilakukannya perdagangan dengan daerah-daerah pantai pengekspor beras. Akan tetapi, peperangan-peperangan yang dilancarkan oleh Sultan Agung menghancurkan tanaman padi, dan pada tahun 1618, ketika terjadi paceklik, dia melarang penjualan beras kepada pihak VOC. Hubungan pribadi VOC-Mataram sangat buruk. Konon orang-orang Belanda telah menyamakan Sultan Agung dengan seekor anjing, dan mereka mengotori masjid Jepara, ada tuduhan-tuduhan mengenai dirampoknya kapal-kapal Jawa oleh pihak VOC. Akhirnya, permusuhan pun meledak. Pada bulan Agustus 1618 orang Gujerat yang memerintah Jepara atas nama Sultan Agung menyerang pos dagang VOC yang ada di kota itu. Tiga orang Belanda tewas, sedangkan yang lain berhasil ditawan. Pada bulan November 1618 VOC melakukan pembalasan dengan membakar semua kapal Jawa yang sedang berlabuh di pelabuhan serta sebagian besar dari kota. Pada bulan Mei 1619 Jaan Pieterszoon Coen menghentikan sebentar perjalanannya untuk merebut Batavia guna membakar Jepara lagi (termasuk pos Maskapai Hindia Timur Inggris).

Penaklukan Coen atas Batavia pada tahun 1619 merupakan titik balik yang menentukan. Pihak Belanda kini telah melakukan apa yang telah diperingatkan oleh Sultan Agung untuk tidak mereka lakukan, mereka telah merebut suatu bagian Pulau Jawa yang ingin diperintahnya sendiri sebagai penguasa tunggal. Selama sepuluh tahun Sultan Agung memberikan prioritas pada usaha penaklukan lawan-lawannya bangsa Jawa yang lebih dekat dengan Mataram. Di pihaknya, Coen sementara mempertimbangkan dijalinnya sebuah persekutuan dengan Surabaya pada tahun 1619-1620, tetapi gagasan itu ditinggalkannya. Sementara di satu pihak Sultan Agung memusatkan perhatiannya terhadap Surabaya, di pihak lain dia mengajukan beberapa tawaran kepada pihak VOC. Pada tahun 1621 personel VOC yang ditawan dipulangkan ke Batavia dan beras pun juga dikirim. VOC mengirimkan perutusan-perutusannya kepada Sultan Agung pada tahun 1622, 1623, dan 1624, tetapi permintaan Sultan Agung akan bantuan angkatan laut VOC dalam rangka peperangannya melawan Surabaya, Banten, maupun Banjarmasin ditolak mentah-mentah oleh pihak VOC. Oleh karena VOC tidak bersedia memberikan bantuan. …

Sumber: dikutip apa adanya dari buku M.C. Ricklefs (Monash University, copyright 1981),  Sejarah Indonesia Modern, terbitan Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1991. http://gmup.ugm.ac.id


22 Komentar so far
Tinggalkan komentar

sudah terlalu banyak kisah sultan agung yang dibredel oleh VOC, sehingga kadang tidak puas membacanya…

Kang Nur :
betulkah demikian? dibredel? disensor-disaring ya? kalo yg sudah sempat saya baca a.l.: ttg kematian J.P. Coen; oleh VOC diberitakan karena kolera; adakah kemungkinan karena serangan prajurit Mataram saat menyerbu ke sana?
namun dlm bbrp hal, riwayat dr Belanda/VOC saya kira juga melengkapi, karena riwayat dr kita sendiri masih belum lengkap n trcatat rapi

Komentar oleh suryaden

salah satu raja favorit saya kang…

Kang Nur :
yaa.. saya juga.. krn sepertinya ya (cuman) ini raja Mataram yg
paling pantas dibanggakan.. meski ada kontroversi pula bila menyangkut penaklukan2 ke wilayah2 lain di Jawa itu.. namun dapat dipahami pula bila pada saat itu ‘penakluk’ ‘kan memang juga berarti ‘pemersatu’? ..mungkin saja saat itu belum ada konsep2 kenegaraan yg canggih ttg ‘persatuan n kesatuan’ Jawa itu sendiri, apalagi Nusantara.. pasca-Majapahit saya kira belum ada yg mampu melebihi kebesaran Majapahit.. dari riwayat2 yg kita terima, Majapahit memiliki ‘wawasan Nusantara’, sementara Mataram sepertinya belum mencapai sbgmn Majapahit..
Slanjutnya, hingga kini kita masih sepertinya kekurangan penulis yg mau menuliskan secara cukup lengkap ttg perjalanan hidup Sultan Agung ini.. smoga saja ada penulis novel sejarah yg mau segera menggarapnya..

Komentar oleh dreamin

maklum sejarah tidak 100% benar

Kang Nur:
sulit tuk benar 100%, apalagi bila sumber otentik tidak diketemukan.. adanya juga cerita2 dg berbagai versi.., namun usaha tuk menggalinya tentu akan ada manfaatnya

Komentar oleh pasang iklan baris gratis

menelusuri kembali sejarah bangsa ini demi menemukan kebenaran sejati adalah wajib hukumnya

Kang Nur:
setuju, mas Ciwir.. bagi saya, jati diri kebangsaan mustahil dapat diperkokoh bila kita tidak memahami sejarah

Komentar oleh ciwir

Masa lalu berbeda dengan sejarah…..

Kang Nur :
Sejarah kan memang bukan “sekedar masa lalu”? Masa kini dg segala sifat2nya adalah hasil bentukan dr masa lalu juga. Dg tahu sejarah, brarti tahu akan faktor2 pembentuk masa kini kita ini. Sejarah bukan hanya mengandung nilai nostalgik-romantik. Dlm bbrp hal dlm prjalanan hidup kita pribadi, seringkali ada benarnya kata2 “Ah, sudahlah; lupakan saja, itu ‘kan masa lalu?”; namun dalam perjalanan kehidupan sosial, tentu tidaklah demikian.

Komentar oleh Wh

hadoh, sejarah..
mumet aku🙂

Kang Nur:
Kebanyakan orang bisa pusing dg sejarah, bila yg dilihatnya dari sejarah hanyalah hapalan2 tahun2, tokoh2nya dan kronologi kejadiannya. Namun, sesungguhnya akan lebih mengasyikkan bila yg dinikmati dr ‘Sejarah’ adalah kenyataan ‘lukisan’ bgmn orang2 pada masanya itu saling berinteraksi dg segala kondisi-nya di masa itu utk mempertahankan keberadaan (eksistensi) mereka masing2, beserta harapan2 dan impian2 mereka (pada masa itu).

Komentar oleh AzzaaM

Wah..itu yah fotonya Sultan Agung? baru pertama kali lihat tuh..sangar bener..hehehe..

Kang Nur:
Saya kira tentu saja sulit untuk menentukan bagaimana wajah Sultan Agung yg sesungguhnya. Beliau meninggal tahun 1676? Saya kira tidak ada dokumentasi dalam bentuk apapun yg benar2 dapat dipercaya dari masa itu ttg wajah seseorang. Ini mirip sbgmn halnya wajah para Wali Songo dr abad sebelumnya, bgmn bisa wajah mereka itu digambarkan? ..Yg saya tahu, ada jg pelukis skaligus paranormal yg melukis bagaikan cenayang; seakan bertemu dg tokoh2 dr masa lalu itu.

Komentar oleh Andre

blognya mantap kang..
tpi isinya ga bisa tuk nyante nih…
terlalu ruwet kaya’na he.he..

tapi mantapp.. mantapp….

Kang Nur:
trims atas kunjungan ‘n koment-ny. saya siap ‘tuk belajar. ttg topik, ini memang sebuah pilihan saya yg agak berat ‘tuk diolah ‘n disajikan dg nyante ya mas? tapi ini satu konsekuensi dr pilihan topik,.. ya apa hendak dikata

Komentar oleh p3ny0

Nice post..

Jas Merah Gan!!!

Salam Anak Bangsa..

http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/08/celoteh-perubahan/

Kang Nur:
Ya, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Trims. I’ll follow.

Komentar oleh celotehanakbangsa

tulisannya terlalu kecil, padahal saya senang baca sejarah……….
Indonesia dari dulu memang selalu berperang yah ??

Kang Nur:
Mmg ada satu-dua komplain ttg pilihan ukuran font, Pak. Akan saya pertimbangkan, namun ini mmg sudah dr sono-ny utk pilihan ‘theme’ ini. Jd kalo mau bikin font agak besar harus saya reka2 butuh waktu, pdhal saya tetap ingin memilih ‘theme’ ini.
Pertempuran antar sesama anak-bangsa sebelum kedatangan bangsa asing ke negeri Nusantara; tentulah karena wawasan Nusantara saat itu sedang tengah dibangun juga. Memang sayang ketika bangsa asing datang; belum ada persatuan yg benar2 kokoh di antara kerajaan2 di Nusantara.

Komentar oleh komuter

bahkan jaman dulu sudah ada ekspedisi militer….

Kang Nur :
Ttg pilihan istilah-nya tentu adalah dari masa kini, to? Namun selain yg saya pakai di sini, istilah ‘ekspedisi’ juga sudah umum dipakai misalnya pada moment : penyerbuan Raja Kertanegara dari Singasari ke tanah Melayu pada abad ke-13 M dg pasukan2ny naik armada laut, dgn oleh para ahli sejarah disebut sbg “Ekspedisi Pamalayu”. Para penguasa jaman dahulu pun mendambakan kebesaran2 diperoleh oleh kerajaan yg mereka pimpin. Impian2 utk berkuasa; ada beberapa bernilai positif utk memajukan wilayah2 yg ingin dikuasainya itu, ada pula yg berdasar keserakahan belaka.

Komentar oleh javanese

Sejarah memberikan pelajaran bagaimana kita harus menyikapi masa lalu dan menatap masa depan. Dan pemerintahan Sultan Agung adalah salah satu pelajaran bagi bangsa ini untuk mengelola negeri. Ya militernya, pantainya, pertaniannya. Yang paling penting penduduknya.

Kang Nur:🙂 Trims support-nya

Komentar oleh mas8nur

SELAMATKAN GENERASI BANGSA

Salam karaharjan, salam tresno asih, teruntuk para pembaca, diskuser, para sanak kadhang ingkang dahat kinurmatan dan semua yang mampir di pondok ini.
Dua hari ini saya benar2 berkabung dan sedih melihat nasib bangsa ini yg kian terpuruk oleh ulah sebagian orang berduit, aktor politik yg gelap nuraninya.
Celakanya, org-org yg banyak belajar agama secara TEKSBOOK, ekonomi yang sangat menghimpit, namun kurang berbekal ilmu pengetahuan, SEHINGGA terlalu mudah dijebak oleh situasi yang menjebak diri, dan MUDAH dimanfaatkan oleh siapapun SI RAJA TEGA, atau aktor politik yang oportunis dan egois.

Agama tanpa ilmu pengetahuan yg luas, akan mudah diombang-ambing, lalu terpuruk dan mudah dipermainkan oleh situasi politik kacau. Sebaliknya ilmu pengetahuan tanpa agama akan menjadi mesin penghancur peradaban dan alam semesta. Ilmu dan agama idealnya bersanding saling melengkapi dan mendukung. Dan selalu mencari sisi positifnya hubungan keduanya. Agama harus lebih terbuka, karena norma agama mengatur tata moral dalam diri (inner world) untuk masing2 individu, alias pengendalian dari dalam diri. Karena agama sebagai WADAH NORMA (norma agama) agar tidak kacau (A=tidak, Gama=kacau) dalam kehidupan dunia yg serba DINAMIS.
Agama ada untuk menata moral dan batin (dalam jagad kecil) agar selaras dengan hukum alam semesta. Serta TIDAK untuk menyerang dan mencelakai orang lain. Sanksi norma agama berupa “dosa/neraka”. Berbeda dengan NORMA SOSIAL dan HUKUM. Walau norma sosial dan hukum banyak mendapat inspirasi dari norma religi, namun kedua norma tsb orientasinya diterapkan utk implementasi ke lingkup tata moral masyarakat dengan konsekuensi sanksi sosial dan sanksi hukum.

MAKA DARI ITU SAYA PRIBADI MENGAJAK PARA PEMBACA YG BUDIMAN, PARA SANAK KADHANG, PARA RAWUH DAHAT KINURMATAN di gubuk sederhana ini UNTUK TIDAK TERPANCING DAN TERPENGARUH OLEH TRAGEDI MARIOT II & RITZ. Biarlah di tingkat elit berkecamuk dan terjadi perpecahan, namun jangan sampai terjadi FRAGMENTASI di tingkat ARUS BAWAH.
Kita semua harus tetap harus SOLID menjalin kerukunan, ketentraman, dan kedamaian GENERASI bangsa. Semua itu tergantung pada diri kita masing-masing. Kita pertahankan tradisi BERSAMA dalam PERBEDAAN.

Oleh sebab itu perlu dan sangat perlu kita semua meningkatkan kesadaran setinggi-tingginya, agar supaya KESADARAN KITA LEBIH TINGGI dari segala macam SITUASI BURUK yang barusaja melanda negeri. Sehingga kita tidak mudah terpancing emosi. Sebaliknya MENJADI MUDAH menganalisa dan MEMAHAMI apa SESUNGGUHNYA yg terjadi. Kita tidak meraba-raba lagi, kita tidak berspekulasi, dan kita tidak berprasangka buruk yg salah kaprah. Jika kita SALAH BERSIKAP, hanya akan menambah keadaan semakin runyam.

PALING UTAMA adalah, kita tingkatkan sikap eling dan waspadha, memasuki bulan AGUSTUS dan SEPTEMBER ’09. Bila alam pun akhirnya menjadi murka lagi, semoga kita semua, bangsa ini, selalu diberikan keselamatan jiwa raga, dan mampu melewati masa-masa sulit saat ini dan di saat yang akan datang. Semoga kesadaran kita semakin tinggi, seiring waktu berjalan detik demi detik.

salam hormat,
salam karaharjan,
salam asah asih asuh,
salam sih katresnan
selamatkan generasi bangsa
Jayalah NKRI

Komentar oleh SABDå

hahah, kalau saya tertawa dengan pendapat Pramoedya ananta toer yang menyebutkan bahwa Sultan Agung adalah raja pedalaman terbelakang yang hanya tahu kekuasaan… (dapat dilihat di karyanya yg berjudul jalan raya pos)

Komentar oleh ardianzzz

Sultan Agung memang raja terbesar tetapi kenapa ia salah mewariskan tahtanya ke anak yang jadi jagal bagi sodara-sodaranya semdiri. Dan punya jiwa pengekor ke VOC. Apa mungkin karena Amangkurat 1 dak rabi ama nyu ratu kidul ko jadi melempem ama VOC.

Komentar oleh utomo

Bagus, Mas. Lanjutkan menulisnya!!!

Komentar oleh yusandi

Kang Nur, sabotase benteng Batavia direncanakan dengan baik dari sebuah wilayah di Tapos Depok oleh satuan kecil mata-mata Mataram yang sudah 4 tahun ditanam di dalam benteng, salah seorang pelaku adalah Nyi Utari Sandijayaningsih, penyanyi VOC sahabat eva Ment istri Jan Pieterz Soen Coen, Nyi utari adalah cucu dari Pembayun yang makamnya ada di Kebayunan Tapos Depok, sejarah berulang, pemenggalan kepala JP Coen dilakukan pada saat kekacauan perang 1629, ini bisa dilakukan karena salah satu asisten JP Coen adalah Wali Mahmudin, utusan sultan Iskandar Muda Aceh yang ternyata intelejen Mataram. Kenapa Sultan Agung begitu membenci JP Coen, karena JP Coen adalah salah satu keturunan kestria Templar, darah biru pasukan Salib, salah satu penyebab kariernya melesat adalah karena JP Coen dinyatakan sebagai pemegang kunci ke V The Dragon ( Orde Naga )maka dia resmi tercatat sebagai komandan perang Salib negara Vatikan.

Komentar oleh Hasnan Habib

J.P. Coen mati tertembak Pasukan Mataram. Itu versi Mataram. Kalo mati kolera itu versi de Graf dan ilmuwan Belanda lainnya. Kalo kita baca tulisan ilmuwan-ilmuwan Belanda, akan tampak bias ideologi dan keberpihakannya. Sekalipun mereka selalu didengung-dengungkan obyektifitasnya. Saya lebih percaya Coen mati tertembak. Sebenarnya lebih heboh lagi kalo ditulis Coen mati karena AIDS.

Komentar oleh Tohpati

Sumbernya dari mana Pak Habib?

————
Hasnan Habib:
Kang Nur, sabotase benteng Batavia direncanakan dengan baik dari sebuah wilayah di Tapos Depok oleh satuan kecil mata-mata Mataram yang sudah 4 tahun ditanam di dalam benteng, salah seorang pelaku adalah Nyi Utari Sandijayaningsih, penyanyi VOC sahabat eva Ment istri Jan Pieterz Soen Coen, Nyi utari adalah cucu dari Pembayun yang makamnya ada di Kebayunan Tapos Depok, sejarah berulang, pemenggalan kepala JP Coen dilakukan pada saat kekacauan perang 1629, ini bisa dilakukan karena salah satu asisten JP Coen adalah Wali Mahmudin, utusan sultan Iskandar Muda Aceh yang ternyata intelejen Mataram. Kenapa Sultan Agung begitu membenci JP Coen, karena JP Coen adalah salah satu keturunan kestria Templar, darah biru pasukan Salib, salah satu penyebab kariernya melesat adalah karena JP Coen dinyatakan sebagai pemegang kunci ke V The Dragon ( Orde Naga )maka dia resmi tercatat sebagai komandan perang Salib negara Vatikan.

Komentar oleh Radityo Djadjoeri

What’s up everybody, here every one is sharing these experience, thus it’s nice to read this web site, and I used to pay
a quick visit this website everyday.

Komentar oleh a debt consolidation refinancing and home improvement loan

Bersumber dari buku H.J de Graaf : Sultan Agung menarik pasukannya pada tahun 1629, sementara penasihat militernya yaitu Pangeran Purbaya menyarankan agar Sultan segera mengirimkan pasukan tambahan karena kekuatan VOC di dalam benteng sudah sangat lemah dan kehabisan peluru. Namun saran itu ditolak karena Sultan merasa kasihan terhadap pengorbanan rakyat dan para prajuritnya yang kelaparan dan terserang wabah penyakit. Dan lagi menurutnya, VOC hanya ingin berdagang dan menurut ramalannya suatu hari kelak VOC akan membantu anak keturunannya dalam perang.

Komentar oleh inggar susanto

My brother recommended I may like this website.
He used to be totally right. This publish truly made my day.
You can not consider simply how a lot time I had spent for this
info! Thank you!

Komentar oleh home renovation




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: