The Nurdayat Foundation


Punahnya Budaya Ekonomi Rente Gula Kelapa di Dusun-ku
Selasa, 21 Juli 2009, 2:29 pm
Filed under: Budaya | Tag: , ,

Teh PociTersebutlah ada sepasang suami-istri (kakek-nenek) ‘orang kaya lama’ yang masih hidup di kampungku hingga tahun-tahun 1990-an. Mereka adalah Mbah X sekaliyan. Mbah X kakung (juragan gabah) meninggal sekitar tahun 1995, sedangkan Mbah X putri (juragan gula kelapa) baru meninggal sekitar tahun 2004. Mbah X adalah juragan gabah jaman dulu. Dia punya banyak sawah, luas; dan sungguh-sungguh juragan gabah dan beras. Tipikal seperti itulah yang disebut orang kaya di desaku sampai sebelum tahun 1980-an atau awal 1980-an.

Ada satu pola hubungan ekonomi yang dikendalikan oleh juragan-juragan gabah seperti Mbah X sekaliyan ini pada tahun-tahun sebelum 1970-an dan sebelumnya lagi. Banyaknya buruh tani yang hanya menjadi petani penggarap dan tidak punya sawah yang cukup (kalaupun punya hanya terlalu sempit), menjadikan bila suatu saat mereka butuh beras/gabah untuk makan, maka mereka akan berhutang kepada si juragannya yaitu juragan si pemilik sawah atau juragan gabah itu (yang mungkin/kemungkinan besar sawahnya digarapnya). Mereka belum tentu mampu mengembalikan hutang berasnya itu (dengan beras, apalagi uang) dan mereka juga tidak mau / tidak punya barang/harta berharga untuk jaminan.

Kebetulan, mereka punya sambilan kerja membuat gula kelapa (gulo jowo, demikian biasa disebut) dari nira kelapa.

kelapa

Rangkaian proses kegiatan membuat gula kelapa ini merupakan satu rangkaian kegiatan khas tersendiri, yaitu sbb: Pertama-tama, dengan wadah-wadah dari bumbung bambu, di sore atau pagi hari pekerja pria mengiris bunga (disebut manggar) kelapa (kegiatan ini disebut nderes) dan meletakkan bumbung bambu itu untuk mewadahi tetesan air nira kelapa itu. Maka orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan ini disebut “wong nderes”. Air nira yang terwadahi bumbung itu disebut legen. Sebelum dibawa naik ke pohon, bumbung itu diisi beberapa keping ‘laru‘. Laru adalah potongan kulit manggis yang secara kimiawi akan turut memproses air nira di bumbung. Air nira yang dikumpulkan mulai sore akan diambil keesokan harinya, yang dikumpulkan mulai pagi diambil sore harinya (jadi sekitar 12 jam).

Selanjutnya; tukang nderes mengambil legen-legen itu diturunkan dibawa pulang ke rumah untuk dimasak/direbus dalam kuali/pengaron (kuali besar).

Merebus legen dengan kuali besar ini disebut “genen badheg” atau “ngebluk”. Genen (vokal e diucapkan seperti pada ‘pasar ‘Senen” gitu) berasal dari kata geni berarti api, jadi ‘genen’ berarti berdiang (memasak sesuatu) dengan (kobaran) api. Sedangkan badheg (vokal e juga diucap seperti pada kata ‘paten’) adalah sebutan atau nama baru untuk legen yang diproses dalam perebusan. Sedangkan, istilah ‘ngebluk’ kiranya dipakai karena pada saat merebus legen itu, cairan yang mengental harus diaduk-aduk, dan pada saat mengaduk itu timbul suara “bluk bluk”.

Proses merebus legen menjadi badheg atau jladren (larutan adonan kental) gula ini memerlukan waktu lama, sehingga membutuhkan bahan bakar untuk perapian yang banyak. Bahan bakar itu berupa segala macam sisa-sisa kayu/bambu ataupun sampah dari dedaunan kering. Sampah (terutama dari dedaunan kering itu) biasa disebut uwuh (artinya secara umum adalah sampah). Uwuh itu menjadi bahan bakar utama perapian genen badheg. Maka, perempuan ibu rumah tangga pembuat gula jawa ini mempunyai kegiatan rutin untuk “golek uwuh” (mencari sampah), maka sering disebut “wong tukang golek uwuh”.

beras… Kembali ke masalah cara membayar hutang para petani kecil penggarap itu; maka di sinilah ekonomi rente gula kelapa ini menjadi muncul. Untuk membayar hutang beras/gabah itu, para tukang genen badheg/nderes/golek uwuh ini menyerah-kan ber-tangkep-tangkep atau ber-lirang-lirang gula kelapa hasil buatannya kepada si juragan beras; dengan dihitung nilai harga gula kelapa tersebut senilai beras/gabah yang dihutang ditambah bunga pinjaman-nya. Barter atau transaksi kredit beras dengan gula kelapa ini disebut dengan nama ‘TEMPAH’. Orang yang berhutang beras/gabah lalu membayar cicilannya dengan gula kelapa disebut nempahke (me-nempah-kan).

Sang juragan akhirnya akan mendapatkan keuntungan ganda dari komoditi ganda yang dikendalikannya, yaitu; beras/gabah dan gula kelapa. Tumpukan beras/gabah yang dimilikinya dapat dikreditkan, lalu ia dapat mengumpulkan gula kelapa. Lalu gula kelapa itu dijualnya pula. Inilah salah satu bentuk monopoli dagang yang dilakukan oleh orang dusun jaman dulu.

Tanpa bermaksud menggunjingkan orang yang sudah meninggal, saya akan menceritakan segi lain mbah X sekaliyan. Orang tua bilang lepasno parane, jembarno kubure (semoga tersampaikanlah mereka ke tujuan perjalanannya, dan perluaskanlah di alam kuburnya). Ini saya ceritakan sekedar untuk memberi wawasan betapa berwarna-warninya kondisi sosial di lingkungan kita. Ceritanya sbb:…

Tersebutlah bahwa pasangan suami-istri mbah X ini tidak mempunyai anak kandung yang hidup hingga dewasa. Konon kata Ibu-ku, mbah X putri pernah melahirkan beberapa (sekitar 5?) anak, namun semua anaknya itu meninggal ketika masih usia bayi. Hal ini tentu merupakan kejadian yang cukup luar biasa. Banyak orang bisik-bisik membicarakan dengan tuduhan bahwa anak-anaknya itu telah menjadi “tumbal pesugihan”. Disebut diceritakan bahwa memang mbah X sering ziarah ke Gunung Kawi, Jawa Timur; sebuah tempat ziarah yang hampir identik dengan tempat mencari pesugihan. Aku sendiri seingatku pernah tahu betul di masa kecilku; suatu saat mbah X kakung sedang tidak di rumah, dan diceritakan bahwa ia sedang ziarah ke Gunung Kawi.

Satu ingatan kecil lagi tentang mbah X putri: Dulu sewaktu kecil aku sering disuruh Ibu-ku untuk membeli gula kelapa ke tempat mbah X. Gula-gula hasil ‘tempahan’ itu dijual lagi oleh mbah X kepada tetangga yang membutuhkan. Perputaran beras dan gula menjadi satu usaha tersendiri bagi orang-orang semacam mbah X. Dari setiap tahap di lingkaran transaksi itu ia dapat mengambil untung. Tapi yang paling kuingat saat kecil itu yaitu tiap disuruh membeli gula ke tempat mbah X itu, ia dengan ramahnya hampir selalu memberiku oleh-oleh/gratisan bonus berupa kembang gula (candy-permen). Mungkin hal itu juga dilakukannya kepada semua anak-anak kecil yang lain, dengan demikian anak-anak kecil menjadi suka bila disuruh membeli gula ke tempat mbah X, … meskipun bagi orangtuanya harga gula di tempat mbah X juga tidak murah. ….

… Kini tidak ada lagi wong nderes, wong genen badheg, atau wong golek uwuh di dusunku. Tidak ada lagi orang yang membuat gula kelapa. Tidak ada lagi orang tua juragan beras. Tidak ada lagi tempah-tempahan. Banyak orang jadi buruh pabrik. Cukup banyak yang beli beras di luar. Sedangkan bila butuh uang mendesak, mereka mendatangi para pensiunan…, seperti bapak-ibuku. He.. he. (soalnya koperasi dusun nggak jalan, banyak yang utang tapi nggak nyaur; ada bunganya lagi).

-o0o-

Sumber2 foto : Teh Poci, KelapaBeras.


10 Komentar so far
Tinggalkan komentar

saya suka sekali gua kelapa dicampur kopi

Komentar oleh hmcahyo

kang… aku mung moco penutupe hehehe biasane tak woco nganti khatam

Komentar oleh cebong ipiet

Wah… saya belum pernah nih mengkonsumsi gula kelapa. Bentuk akhirnya bubuk atau cairan ya?? Terus manis mana sama gula pasir?? Atau lebih mirip gula aren ya??

Komentar oleh Yari NK

Waduuuuuh..
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang

Komentar oleh KangBoed

aji baru tahu, makasih …

Komentar oleh aji

berkunjung…..
mari saling kunjung-mengunjungi

Komentar oleh javanese

ha..ha…nderes, genen, golek uwuh, sangat…lekat dalam ingatan ku karna waktu kecil, sing momong aku orangnya juga membuat gula jawa…..Kisah nyata sederhana disekitar kita yg disajikan menarik….dg hikmah….tersembunyi…~riba~ tanah kuburan~

Komentar oleh Wh

mas, insya allah aku sesuk skripsi tentang gula klapa… tp digawe gulo pasir.. moga sukses ya.. nyuwun do’a🙂

Kang Nur:
Wo? Gula ‘semut’ itu ya? Di Kulonprogo ada yg mbuat to? Ya.smoga sukses.😀

Komentar oleh ardianzzz

susahnya menjaga tradisi

Komentar oleh Rian

Mas, daerah dimana gula kelapa ini anda ceritakan ada di mana? Matur nuwun sudah dibantu infonya.

Kang Nur:
Ini di daerah Mlati barat, Sleman, Yogyakarta; pak.

Komentar oleh samuel kusuma




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: