The Nurdayat Foundation


Ketika Bapak-bapak Kita Masih Dipanggil Bung
Senin, 17 Agustus 2009, 7:03 pm
Filed under: Sejarah

foto proklamasiTanggal 17 Agustus ini kita genap 64 tahun merdeka. Berikut ini beberapa petikan peristiwa yang terjadi pada awal masa kemerdekaan;  masa di mana orang merasa bangga dengan CARA HIDUP SEDERHANA.

 

Kemeja Dr. Leimena Cuma Dua
LeimenaDokter Johannes Leimena baru saja diangkat menjadi menteri oleh Presiden Soekarno.
Tetapi waktu itu ia bukan diplomat profesional, cuma dokter desa saja. Selama dua tahun dalam masa pendudukan Jepang, ia hanya memiliki sebuah celana dalam. Sekarang tiba-tiba ia mewakili negaranya dalam suatu delegasi diplomatik. Dia hanya punya dua helai kemeja; yang satu dikenakannya, yang satu lagi sedang dicuci. Untuk setiap resepsi resmi ia meminjam dasi dari temannya.
Waktu mendadak diangkat menjadi diplomat ia berkata: “Baiknya saya tinggal sekamar dengan rekan yang ukuran badannya bersamaan. Ia mempunyai jas yang bisa saya pinjam. Jas itu tidak pas betul, tetapi saya hanya perlu mengenakannya beberapa jam saja sekali pakai. Saya kira saya bisa menyelesaikan soal ini. Jangan khawatir. Saya tidak akan memalukan negara kita”.
(Sukarno, An Autobiography; as told to Cindy Adams, New York, 1965, p. 239)

Baju Tambalan Moh. Natsir
Agus Salim“Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri,” kata Haji Agus Salim pada suatu hari dalam bulan Agustus 1948 ketika saya (George Mc Turnan Kahin) hendak meninggalkan kantornya di Yogyakarta. “Namun demikian dia seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran; jadi kalau Anda hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam republik, Anda seharusnya berbicara dengannya.”
Mohammad Natsir“Ketika keesokan harinya saya mengunjungi kementerian Penerangan untuk bertemu dengan Muhammad Natsir, maka saya menemukan seorang sederhana dan rendah hati yang pakaiannya sungguh tidak menunjukkan bahwa dia seorang menteri dari suatu Pemerintahan. Malah ia memakai kemeja yang paling banyak bertisikan, yang belum pernah saya lihat pada pegawai mana pun dalam suatu pemerintahan di mana kesederhanaan berpakaian berlaku sebagai suatu norma. Kemudian barulah saya ketahui bahwa beberapa dari stafnya merasa perlu patungan agar menteri mereka dapat memperoleh barang satu setel pakaian yang pantas dipakai pada saat-saat penting.”
(George Mc Turnan Kahin, Muhammad Natsir, p. 330)

Bung Karno Makan Sate Di Kaki Lima
Setelah dipilih untuk menduduki jabatan tertinggi negara -Presiden baru- Bung Karno pulang berjalan kaki.
“Di tengah jalan aku bertemu dengan seorang penjual sate di pinggir jalan, makanan nasional, yang merupakan salah satu kegemaran kami.” Yang Mulia Presiden Republik Indonesia memanggil tukang sate yang tak beralas kaki itu lalu mengeluarkan perintah eksekutifnya yang pertama: “Bang, bakarkan 50 tusuk sate ayam”. “Aku berjongkok di tepi jalan dekat selokan dan sampah, lalu makan; dan itulah seluruh pesta besar untuk merayakan pengangkatanku.”
(Cindy Adams, p. 222)

Sahardjo SH Pulang Balik Solo-Yogya Bersepeda
Dr. Sahardjo SH sewaktu masih menjadi pejabat tinggi pada Kementerian di ibukota RI Yogyakarta tidak mampu menyewa rumah di kota itu, sebab sewa rumah membubung karena pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Yogya. Keluarganya ‘dititipkan’ di paviliun keluarga seorang saudagar batik di Surakarta, sedangkan Pak Sahardjo sendiri menyewa kamar di Yogya. Tiap Sabtu siang seusai kantor, ia pulang menjenguk keluarga ke Solo naik sepeda. Minggu petang kembali ke Yogya dengan cara yang sama. Jarak Yogya-Solo 65 km.
Untuk menambah penghasilan yang sangat minim, Ibu Sahardjo membuka warung di paviliun-nya. Pak Sahardjo ikut membantu di warung itu pada hari-hari libur, kadang-kadang hari Minggu ia berkeliling kota Solo naik sepeda untuk ikut menjajakan dagangan istrinya.
SaharjoTahun 1959 Sahardjo SH diangkat menjadi Menteri Kehakiman. sampai tahun 1962, ia belum menempati rumah sendiri. Ia numpang di rumah mertuanya di Jalan salemba Tengah, seperti sejak tahun 1938. tahun 1962 baru menempati rumah dinas di kompleks Kehakiman Utan Kayu, yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk seorang menteri.
(Zaidir Djalal, Dr. Sahardjo SH)

 

Utusan RI di Filipina
Gaji utusan diplomatik kita di Filipina enam dolar seminggu. “Kedutaan”-nya adalah rumah tukang cukur tempat dia dan istrinya mondok. Untuk menghadap Presiden Filipina ia meminjam stelan jas tukang cukur itu.
Pada suatu hari seluruh keuangan sang “Duta Besar” itu tinggal 20 sen. Ia dan istrinya membeli tiga buah apel. dengan apel dan air minum itu mereka hidup selama tiga hari.
(Cindy Adams, p. 240)

Istana Meminjam Taplak Dari Tetangga
SoekarnoTamu-tamu pemerintah ditempatkan di sebuah wisma dan tiga kali sehari seorang ajudan presiden memuati mobil Cadillac kepresidenan dengan makanan untuk para tamu penting itu. Begitulah cara kami bekerja waktu itu. Kami tak tahu apa-apa tentang tatacara protokol. Sejalan dengan cara segala apa diurus, pejabat yang mengurusi masalah protokol adalah orang yang secara logis cocok untuk menduduki jabatan ini karena pengalaman kerjanya. Mutahar ini seorang bekas pelaut.
Ketika India dan Cina membuka kantor konsulat mereka di Yogya, saya ingin menjamu mereka di istana. Sebuah istana bercat putih dikelilingi dengan tembok tinggi yang dulunya pernah dihuni oleh Gubernur Belanda di jaman kolonial, kemudian Komando Tinggi Jepang di masa Revolusi, hanya merupakan gedung kosong (Gedung Agung – peng.). “Bagaimana kita bisa mendapat piring?” tanya saya kepada Mutahar. Istana ini tidak mempunyai perlengkapan apa-apa. Jepang merampok segalanya sebelum angkat kaki. saya hanya mempunyai seperangkat cangkir plastik murahan berwarna hijau dengan tatakannya yang diselundupkan dari Manila.”
Mudah saja, senyum Mutahar dengan tenangnya. Mutahar orangnya selalu tenang. “Saya akan pergi ke Toko Oen, restoran Cina di kota, untuk meminjam barang pecah belah berikut sendok garpu peraknya.”
fatmawatiKemudian ia berkeliling ke para tetangga untuk meminjam taplak meja. waktu Fatmawati bertanya apakah dia tahu jenis mana yang harus dipakai, ia menjawab “yang putih saja”.
“Pandai benar, rupanya kau tahu banyak tentang seni menata meja,” pujinya. “Mengapa kaupilih yang berwarna putih saja?”
“Putih itu suci”, jawabnya. “Putih melambangkan kemurnian, kebersihan, kekudusan. Lagi pula, ini warna yang paling mudah didapat.”
(Cindy Adams, p. 240-241)

dikutip dari: majalah bulanan INTISARI no. 217 bulan Agustus 1981


12 Komentar so far
Tinggalkan komentar

kita memang tidak harus meniru cara hidup para pemimpin masa lalu itu, toh era-nya sudah berbedea. tapi yang terpenting adalah spirit dan jiwa mereka harus kita teladani…

Komentar oleh vizon

Mas Nur kayaknya sibuk sekali, sampai2 update postingannya sebulan sekali…

Atau sekarang sudah jadi Bung Nur???

Komentar oleh marsudiyanto

Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

Komentar oleh KangBoed

memang menarik kejadian yang terjadi di zaman dahulu
saat ini sudah sangat langka kejadian seperti itu
berbagai macam barang sudah membanjiri di pusat perbelanjaan

selamat menjalankan ibadah puasa mas

Komentar oleh annosmile

meskipun Beliau2 hidup sederhana[kurang sejahtera] tapi semangat mereka mengabdi kepada rakyat punya rasa tersendiri…..layakkah betapa malunya[seharusnya] petinggi2 kita yg masih juga korupsi

Komentar oleh Wh

Saya kira bukan di Indonesia saja, kesederhanaan pemimpin hadir. Dalam negara2 yg baru lahir, hal serupa juga terjadi. Kalau memakai teori sosiologi Ibn Khaldun, itulah masa di mana para pemimpin masih lekat dgn rakyatnya. Tantangan justru muncul ketika negara menjadi kaya, saat itulah para pemimpin bangsa mulai tergoda oleh manisnya kekuasaan.

Komentar oleh Hp

Diawal, kita melihat betapa ikhlasnya para pendiri bangsa ini. Bersama perjalanan waktu ada yang masih bertahan dalam kesederhanaan, namun ada juga yang berubah menjadi angkara. Dan sampai di hari ini, perbedaan itu sudah amat jauh…

Komentar oleh tengkuputeh

tentu saja yang patut kita teladani adalah semngat dan kepribadian mereka yah bukan gaya hidupnya hehehe sekarang udah kuno hehehehe
selamat

Komentar oleh genthokelir

Dari seorang Simbah bekas tapol PKI dulu yang kini masih hidup saya banyak menimba kesederhanan & kemuliaan hidup. Betapa segala miliknya sebenarnya hanyalah titipan & ikhlasnya untuk membaginya bersama orang lain yang membutuhkan.

Komentar oleh tomy

Assalamu’alaikum wr.wb

Sruuuuput kopi di pagi hari
Silaturahmi eratkan hati
Saling berkunjung rasa tersanjung
Kalo mengeluh rejeki menjauh
Keluh kesah membuat susah

Sruuuput kopi di pagi hari
Lihat mentari senanglah hati
Mencari rizki ikhtiar diri
Mencari Ilmu bekal mengabdi

Sruuuput kopi di pagi hari
Maknyooos bisa nyeroscos
Sok sanaos ngan ukur waos
Nyarios modal pribados teu sawios dianggap bodooos

*Pagi jelang siang .. menantang sampe petang*

SEMANGAAAAAAAAAT😉

Komentar oleh kopral cepot

menengok kebelakang itu perlu untuk introfeksi diri kedepannya, slm kenal rudis blog ayaran

Komentar oleh rudis

sejarah, oh sejarah…

Komentar oleh blognya dian sahid




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: